Desember 2006


(Catatan ini sebenarnya untuk saya pribadi -atau bisa juga untuk dibagi-. Agar mencoba untuk selalu menulis dengan hati)

Saya ini anak bawang dalam dunia persilatan Blog. Saya ndak tahu apa itu Blog Seleb, Gerakan Jangan Komen di Blog Seleb, Komunitas Gajah-gajahan atau Komunitas Masak-masakan hingga ketika pertengahan bulan Desember, pada saat saya menemukan wordpress.

Bagi saya, Blog itu banyak artinya. Bisa jadi curahan hati, sarana berbagi ilmu, membudayakan sebuah gerakan atau sekedar bercerita mengenai pengalaman. Namun yang pasti, Blog adalah Blog, untuk dibaca dan untuk ditulis.

Membaca, bagi saya bukan hanya sekedar hobi, melainkan juga sebuah kewajiban religi. Toh, kepercayaan yang saya anut mewajibkan saya untuk membaca. Maka itu, saya membaca, termasuk membaca blog, saya anggap adalah salah satu bagian dari ibadah saya.

Sementara menulis, bagi yang sudah bisa belajar menulis, bukanlah sebuah pekerjaan yang sulit. Hal yang sulit dari menulis adalah; Apa yang akan ditulis? Bagaimana penyampaian tulisannya? Bagaimana agar pembaca tulisan mengerti apa yang akan disampaikan? Hingga yang paling sulit adalah, menebak, bagaimana reaksi pembaca tulisan.

Para penulis yang mampu menebak reaksi pembaca tulisannya itu tidak banyak. Mereka biasanya terkenal karena tulisannya. Entah dipuja… Entah dicerca… Yang pasti, banyak yang membicarakannya. Stephen King, Salman Rushdie hingga (alm) Pramudya AnantaToer termasuk diantara golongan manusia yang mempunyai bakat tersebut.

Menurut saya yang amat subjektif ini, menyalin itu beda dengan menulis. Menyalin adalah tindakan yang dilakukan dengan cara menggandakan tulisan/karya orang lain. Apabila dilakukan dengan memberitahu sumbernya, ia disebut penyebar. Namun apabila tidak memberikan sumbernya, si penyebar disebut juga plagiator atau penjiplak.

Akhir-akhir ini (*atau mungkin sudah lama yaa? Saya saja yang sudah basbang kali, hehe*) , banyak sekali pertentangan-pertentangan yang terjadi di dunia Blog. Ahh, ndak apa-apalah. Hidup jadi lebih berwarna. Dunia Blog jadi seperti pelangi. Indah.

Namun, untuk beberapa penulis Blog, tampaknya lupa. Bahwa yang membaca tulisanya adalah dunia. Dan dunia akan menilai, sebermutu apakah tulisan dan isi hati si penulis blog. Dunia melihat, siapa itu Mas Faiz, Harry Sufehmi, Enda, Luigi Pralangga, Paman Tyo dan Ndobos dan para penulis Blog yang terkenal lainnya. Dunia melihat, arsip-arsip menggunung setiap bulan di Blog mereka, adalah karya yang luar biasa. Duh Gusti, rajin sekali mereka menulis dan pandai sekali mereka merangkai kata-kata.
Lebih jujur lagi, saya menulis ini dengan jujur, tanpa niatan kissin ‘em ass.
(*Walaupun tulisannya bagus dan bermutu, saya tidak mau mengkultuskan Priyadi. Saya khawatir apabila Mas Pri kawin lagi, saya ikut-ikutan komen di infoteinment. Atau malah, bikin halaman khusus buat beliau, judulnya “Priyadi Poligami?”, hehehe*)

Setiap manusia punya warna. Saya amat percaya hal itu. Maka itu, ketika dua orang anak kembar yang sama-sama ke dunia fantasi, lalu disuruh nulis pengalaman jalan-jalannya di Blog, pasti akan menulis hal yang berbeda. Itu kalau menulis jujur…, kalau mencontek, lain lagi ceritanya.

Menulis dengan hati… Apa sih susahnya?
Kadang-kadang memang susah, apalagi kalau hati penulisnya jahat.
(*Tapi kalau hati penulisnya jahat, ia bakal berbuat jahat juga dong? Orang jahat masuk penjara tau… Udah gitu, masuk neraka pula! Maka itu ati-ati kalau mau jadi orang jahat yang memulai karir sebagai penulis jahat*)

Menulis dengan hati…, sama seperti bicara dengan orang yang kita cintai… Apa adanya… Jujur dan tidak terpaksa.

Menulis Blog dengan hati.

Menulis komen dengan hati.

Ahhh…, indahnya dunia Blog ini.

Saya ini orang Betawi. Kakek nenek saya orang Betawi. Bapak ibu saya orang Betawi. Katanya (alm) Pak Uka, secara otomatis, saya dan adik-adik saya juga orang Betawi.

Sebagaimana orang Betawi normal lainnya, kami mempunyai motto, tiada hari tanpa ketawa dan tiada hari tanpa ceng-cengan (baca: saling ledek bergurau) lalu saling mentertawakan gurauan itu. Beberapa orang Betawi yang tidak normal tampaknya tidak mempunyai motto yang sama. Terbukti dengan banyaknya keluhan warga terhadap mereka.

Dulu, ketika masih sekolah, saya sering nge-cengin adik saya, Fahmi, dengan kalimat, “Dasar lo anak bulaksumur, sekolah kagak punya pager. Mentang-mentang makanannya nasi kucing, begitu lulus, ngelamar kerja, kalo minta gaji, pasti dah standar UMR”. Adik saya membalas dengan santainya “Daripada lo anak Depok, sekolah ORBA. Begitu lulus, jual nama doang. Mendingan tukang sablon, jual kartu nama dapet duit”.

*Maap buat yang tersinggung, ceng-cengan kami memang geblek…, hehehe…*

——————————————————–

Dalam dunia disain underground (ceille, kesannya saya anak underground gitu. Padahal mah bukan euy!) dikenal istilah ‘Harga Jogja’. Ini sudah menjadi rahasia umum sebenarnya, namun beberapa pihak enggan saja mengakuinya. Harga Jogja adalah harga dibawah rata-rata. Sesuai dengan namanya, harga ini memang berawal dari Jogja.

Harga Jogja berawal dari outsourcing yang dilakukan beberapa freelancer maupun profesional. Contohnya begini; A adalah sebuah perusahaan yang meminta dan membayar Rp 1000 kepada B sebagai disainer, untuk membuatkan web perusahaan mereka dalam waktu 3 hari. Saat itu B sedang banyak kerjaan/sedang malas/sedang sibuk pacaran/merasa uangnya terlalu sedikit atau sedang melakukan hal yang lain yang membuat ia tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. Lalu ia memberikan pekerjaan itu kepada C. Nah, si C ini, tinggalnya di Jogja.

Ada yang salah?

Tidak, sama sekali tidak ada yang salah dalam cerita diatas.

Namun salah ketika:

  1. A membayar B sebanyak Rp 1000, lalu B membayar C sebanyak Rp 100. Sementara ongkos produksi adalah Rp 90. B salah, karena tidak memperhitungkan aspek manusia yang mengerjakan produksi, yaitu si C.
  2. A sudah mengetahui, bahwa dengan Rp 1000, disain tidak akan selesai dalam waktu 3 hari. Namun ngotot, memaksakan kehendak. Dalam kasus ini A salah, karena ia tahu, harga berbanding setara dengan kualitas.
  3. C mengetahui, bahwa Rp 90 tidak cukup untuk biaya produksi. Dan Rp 10 tidak cukup mbayar gaji karyawannya. Namun karena prinsipnya ‘biar dikit asal selamat, lama-lama toh akan menjadi bukit’ ia tetap mengerjakan hal tersebut. C menjadi salah, karena ia membudayakan etos tidak menghargai karyawan dan dirinya sendiri.

Harga Jogja, tidak mempermasalahkan tiga kriteria kesalahan (menurut saya, amat subjektif) diatas. Hasilnya adalah, berbondong-bondong penerbitan/advertising lari ke Jogja. Bahkan hingga ada pameo “terbitin saja di Jogja, pasti bisa!”. Kultur Jogja memang amat mendukung budaya, kreatifitas dan ilmu pengetahuan berkembang subur. Wong, anak mahasiswa kebanyakan ada disini.

(Sialnya, selain kultur tersebut, ada pula aspek kemiskinan (campur iseng) pula yang begitu permisif terhadap script kiddies, carder dan para black hat lainnya. Contoh kasus: beberapa tahun lalu, TemplateMonsterDotCom kebakaran jenggot habis-habisan, pasalnya beberapa disain template mereka dijual oleh beberapa situs yang setelah di track berasal dari Jogja. Ternyata usut punya usut, template tersebut dibeli oleh carder asal Jogja melalui credit card colongan. Template colongan tersebut dikompilasikan dalam bundel CD, yang kemudian di jual kepada para Black Hat yang mencari sumber kartu kredit dengan cara membuat website yang menjual template colongan dari TemplateMonsterDotCom.
*hehe, cah Jogja iku emang pada pinter-pinter, nduk*)

“What the h**l!!!” (*loh, ini kok ada seleb blog disebut-sebut je?*)
“Siapa yang peduli?”
“Yeahh, Who cares?”
“Kalau ongkos produksi bisa ditekan seminimal mungkin, kenapa tidak?”
“Kalau masih ada yang mau mengerjakan dengan biaya murah, kenapa tidak?”
“This is capitalism world, do you know what it means?”

Yeah.., I know what you mean.

Tapi yaa, kalo mau dagang atau ketika kerja… mbok , yaa jujur gitu.

Hargai kerja keras manusia lain.

Hargai ide-ide kreatif orang lain.

Berfikir sedikit laah, bahwa kualitas itu sebanding dengan kuantitas.

Hargai manusia lain yang mencari nafkah secara jujur. Di Bandung, Jakarta, Surabaya, Denpasar, bahkan di Jogja sendiri atau kota-kota besar dan kecil lainnya di Indonesia, masih banyak orang jujur, yang mencari nafkah dengan jujur. Jangan sakiti hati mereka.

(*Carding memang sudah basi. Tapi, saat ini imbasnya masih terasa. Website e-commerce Indonesia jarang yang dipercaya dunia Internasional. Andaipun ada, sedikit jumlahnya*)

Iseng-iseng, saya nanya si Fahmi adik saya yang sudah ber KTP Jogja, “Mi, kenapa sih harga disain di Jogja murah-murah? Malah sering dibawah rata-rata?”

 

Adik saya menjawab dengan santainya “wong, disainernya makannya nasi kucing, yaa murah, to!”

 

Next Page »