Januari 2007


Saya, lahir dan dibesarkan di Cilincing. Salah satu desa yang diklaim oleh (mantan) Gubernur Jakarta, Wiyogo (yang saya lupa nama belakangnya), sebagai desa IDT. IDT adalah singkatan Inpres Desa Tertinggal. Sebagaimana ada kalimat ‘Inpres’. Maka itu adalah sebuah instruksi langsung dari presiden. Toh, inpres artinya Instruksi Presiden.

Waktu itu presiden RI adalah Pak Harto. Bayangkan, seorang Pak Harto memperhatikan desa saya? Wuhuuyyyy!!! (*teriak gembira campur bete*)

Cerita lebih lanjut mengenai Cilincing, akan saya sambung kapan-kapan. Saya hari ini, hanya mau cerita musik yang ada di Cilincing.

Di Cilincing, hanya dikenal dua jenis musik. Yaitu dangdut dan bukan dangdut.

(lebih…)

(*Sebelum menulis, saya mau berdoa dulu untuk Kang Adhi: “selamat jalan Kang Adhi. Semoga beliau yang anda cintai selalu mendapat rahmah Allah SWT. Dan semoga perjalanan anda tiba sampai selamat di negeri tercinta. Amiin ya rabbal Alamin”*)

.

.

.

Tulisan saya yang berjudul “Haruskah Saya Harus Membenci Israel?” Dikomentari oleh saudari Ninoy dari Bandung. Komentar itu berbunyi begini, ini penggalannya;

“oh yah dan satu lagi knapa anda begitu membenci FPI?!? apakah anda tau kenapa mereka bisa dikatakan begitu arogan? karen orang/pihak yang mereka serukan untuk menjadi baik tidak memperhatikan seruan mereka, setau sayah dalam islam itu diajarkan kalo tidak bisa di beritahu secara halus yang paling maksimalnya itu adalah dengan menegur secara keras..so i think thats what FPI`s do )

Hehehe… Komentar yang baik. Saudari Ninoy melihat FPI dari sudut pandang yang berbeda (daripada pandangan pribadi saya serta pandangan lebih dari 4500 masyarakat internasional lainnya). FPI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Front Pembela Islam.

Yang jadi pertanyaan adalah… Apakah saya anti FPI?
Jawabannya, ternyata tidak sesimpel ya atau tidak saja. Karena Ninoy yang baik, secara terang-terangan mengatakan, bahwa dalam Islam terdapat konsep teguran berlapis. Dan FPI mengamalkan ajaran Islam dengan teguran berlapisnya itu?

Benarkah FPI mengamalkan teguran berlapisnya. Kalau sudah mentok, pakai cara yang keras?
Loh, sekeras apa?
Apa definisi teguran yang keras?
Apakah teguran yang menggunakan megaphone gituh, agar dianggap personifikasi masjid?

Setahu saya, massa FPI jarang sekali menggunakan teguran halus. Sekali-kalinya FPI menggunakan nasihat adalah ketika mereka menasihati kehidupan artis Cut memey dan Jackson Perangin-angin. Selain itu… nothing euy!

Sekali-kalinya, melihat massa FPI berbuat kebajikan dengan menolong sesama, adalah ketika massa mereka mengangkat mayat-mayat korban gempa di Aceh. Selain itu…, nothing euy! 

Pada kenyataannya, praktik-praktik FPI tidak memakai teguran yang halus dan lembut. Pada kenyataannya, mereka menyerbu, merusak, menghancurkan tempat publik. Bahkan tidak segan-segan menghakimi orang-orang yang berseberangan pendapatnya, dengan bogem mentah hingga tongkat rotan (Baca disini untuk aksi keterangan mereka).

Apakah itu kekerasan yang dimaksud?
Setahu saya yang berpengetahuan sedikit ini, sebagaimana cinta,  perbedaan pendapat adalah rahmat dan anugrah dari ilahi. Mengapa FPI harus memukul dan menyiksa warga lainnya karena mereka berbeda?
Yang nasrani, dipukul.
Yang bukan ahlussunah, dipukul.
Bahkan hingga Kyai Idris dari Cirebon pun mau dipukuli.

Apa maksudnya?

Kalau memang mereka adalah Front Pembela Islam, garis depan pejuang umat Islam di muka bumi. Maka berlakulah seperti perilaku para pejuang. Benar-benar memperjuangkan umat yang mereka bela.

Mengapa FPI  berdemo sambil merusak warung-warung pinggir jalan menentang Amerika. Mengapa mereka tidak berdemo, agar anak-anak yang belajar di madarasah-madrasah dan pesantren-pesantren Islam di seluruh Indonesia dapat memperoleh ilmu IT dan akses internet gratis?

Mengapa FPI menghancurkan seluruh buku-buku yang berisikan pemikiran ‘kiri’ bahkan menghancurkan serta memukuli tukang bukunya. Mengapa mereka tidak menulis buku mengenai Islam dalam versi mereka. Apakah jihad harus memakai pentungan dan C4… tidak boleh melalui tulisan?

Mengapa FPI ribut memusingkan goyangan Inul daripada memikirkan nasib TKW-TKW Indonesia yang digoyang-paksa, dicambuki, diperlakukan lebih buruk daripada binatang di Timur Tengah?

Mengapa FPI yang mengaku organisasi internasional, tidak melakukan konsolidasi dan lobi internasional ketika Islam dijadikan bulan-bulanan dalam agenda politik sayap kanan di Eropa dan Amerika?

Mengapa FPI lebih memilih menghancurkan majalah playboy ketimbang membuat sebuah majalah yang berdisain baik dan berisikan akhlak mulia untuk konsumsi kalangan anak muda Islam?

Mengapa FPI lebih memilih menyerbu kontes waria daripada mengadakan reshuffle yang demokratis sesuai Islam dalam organisasi mereka?

Mengapa FPI tidak banyak membantu Jogja yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk Islam disaat mereka butuh bantuan ketika gempa?

Mengapa FPI lebih banyak punya pemukul rotan dan para anggota bersenjata-tajam ketimbang punya website atau para penulis blog?

Saya menulis ini dengan amat subjektif sekali. Semuanya dinilai dari kacamata saya pribadi. Tapi, kalau FPI adalah para pembela Islam mengapa kelakuan mereka tidak mirip sama sekali?

Sebagai salah seorang umat Islam (*KTP saya ada tulisan islamnya, Je. Hehe*), saya malu, nama agama saya dicatut-catut oleh preman-preman yang tidak bertanggungjawab. Dengan menggunakan jubah putih agama, preman-preman itu menganggap dirinya messias, juru selamat di muka bumi.

Bagi saya, FPI bukan hanya organisasi fasis. Menganggap diri mereka dan golongan merekalah yang paling benar di dunia ini. Namun, bagi saya, mereka juga bertindak terlalu jauh. Kadang-kadang mengatasnamakan tuhan. Dan lebih sering seperti Firaun, berlaku seperti tuhan, menghukum mereka yang ia anggap bersalah.

Okay, balik lagi ke atas. Di mana topiknya adalah, peneguran keras.
Kalau begitu… That’s what FPI’s do?
Astaga!
Apakah anda setuju kekerasan ala Firaun menyelesaikan masalah?

Kekerasan, apapun bentuknya, suatu saat akan melahirkan anak yang bernama kebencian.

Sebelum terlalu jauh, hentikanlah kekerasan. Hentikanlah kebencian.

.

Akhirnya, setelah artikel ini ditulis, saya lebih mudah menjawab pertanyaan mengapa saya Anti FPI. Hehehe

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.