Januari 2007


Saya, lahir dan dibesarkan di Cilincing. Salah satu desa yang diklaim oleh (mantan) Gubernur Jakarta, Wiyogo (yang saya lupa nama belakangnya), sebagai desa IDT. IDT adalah singkatan Inpres Desa Tertinggal. Sebagaimana ada kalimat ‘Inpres’. Maka itu adalah sebuah instruksi langsung dari presiden. Toh, inpres artinya Instruksi Presiden.

Waktu itu presiden RI adalah Pak Harto. Bayangkan, seorang Pak Harto memperhatikan desa saya? Wuhuuyyyy!!! (*teriak gembira campur bete*)

Cerita lebih lanjut mengenai Cilincing, akan saya sambung kapan-kapan. Saya hari ini, hanya mau cerita musik yang ada di Cilincing.

Di Cilincing, hanya dikenal dua jenis musik. Yaitu dangdut dan bukan dangdut.

(lebih…)

(*Sebelum menulis, saya mau berdoa dulu untuk Kang Adhi: “selamat jalan Kang Adhi. Semoga beliau yang anda cintai selalu mendapat rahmah Allah SWT. Dan semoga perjalanan anda tiba sampai selamat di negeri tercinta. Amiin ya rabbal Alamin”*)

.

.

.

Tulisan saya yang berjudul “Haruskah Saya Harus Membenci Israel?” Dikomentari oleh saudari Ninoy dari Bandung. Komentar itu berbunyi begini, ini penggalannya;

“oh yah dan satu lagi knapa anda begitu membenci FPI?!? apakah anda tau kenapa mereka bisa dikatakan begitu arogan? karen orang/pihak yang mereka serukan untuk menjadi baik tidak memperhatikan seruan mereka, setau sayah dalam islam itu diajarkan kalo tidak bisa di beritahu secara halus yang paling maksimalnya itu adalah dengan menegur secara keras..so i think thats what FPI`s do )

Hehehe… Komentar yang baik. Saudari Ninoy melihat FPI dari sudut pandang yang berbeda (daripada pandangan pribadi saya serta pandangan lebih dari 4500 masyarakat internasional lainnya). FPI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Front Pembela Islam.

Yang jadi pertanyaan adalah… Apakah saya anti FPI?
Jawabannya, ternyata tidak sesimpel ya atau tidak saja. Karena Ninoy yang baik, secara terang-terangan mengatakan, bahwa dalam Islam terdapat konsep teguran berlapis. Dan FPI mengamalkan ajaran Islam dengan teguran berlapisnya itu?

Benarkah FPI mengamalkan teguran berlapisnya. Kalau sudah mentok, pakai cara yang keras?
Loh, sekeras apa?
Apa definisi teguran yang keras?
Apakah teguran yang menggunakan megaphone gituh, agar dianggap personifikasi masjid?

Setahu saya, massa FPI jarang sekali menggunakan teguran halus. Sekali-kalinya FPI menggunakan nasihat adalah ketika mereka menasihati kehidupan artis Cut memey dan Jackson Perangin-angin. Selain itu… nothing euy!

Sekali-kalinya, melihat massa FPI berbuat kebajikan dengan menolong sesama, adalah ketika massa mereka mengangkat mayat-mayat korban gempa di Aceh. Selain itu…, nothing euy! 

Pada kenyataannya, praktik-praktik FPI tidak memakai teguran yang halus dan lembut. Pada kenyataannya, mereka menyerbu, merusak, menghancurkan tempat publik. Bahkan tidak segan-segan menghakimi orang-orang yang berseberangan pendapatnya, dengan bogem mentah hingga tongkat rotan (Baca disini untuk aksi keterangan mereka).

Apakah itu kekerasan yang dimaksud?
Setahu saya yang berpengetahuan sedikit ini, sebagaimana cinta,  perbedaan pendapat adalah rahmat dan anugrah dari ilahi. Mengapa FPI harus memukul dan menyiksa warga lainnya karena mereka berbeda?
Yang nasrani, dipukul.
Yang bukan ahlussunah, dipukul.
Bahkan hingga Kyai Idris dari Cirebon pun mau dipukuli.

Apa maksudnya?

Kalau memang mereka adalah Front Pembela Islam, garis depan pejuang umat Islam di muka bumi. Maka berlakulah seperti perilaku para pejuang. Benar-benar memperjuangkan umat yang mereka bela.

Mengapa FPI  berdemo sambil merusak warung-warung pinggir jalan menentang Amerika. Mengapa mereka tidak berdemo, agar anak-anak yang belajar di madarasah-madrasah dan pesantren-pesantren Islam di seluruh Indonesia dapat memperoleh ilmu IT dan akses internet gratis?

Mengapa FPI menghancurkan seluruh buku-buku yang berisikan pemikiran ‘kiri’ bahkan menghancurkan serta memukuli tukang bukunya. Mengapa mereka tidak menulis buku mengenai Islam dalam versi mereka. Apakah jihad harus memakai pentungan dan C4… tidak boleh melalui tulisan?

Mengapa FPI ribut memusingkan goyangan Inul daripada memikirkan nasib TKW-TKW Indonesia yang digoyang-paksa, dicambuki, diperlakukan lebih buruk daripada binatang di Timur Tengah?

Mengapa FPI yang mengaku organisasi internasional, tidak melakukan konsolidasi dan lobi internasional ketika Islam dijadikan bulan-bulanan dalam agenda politik sayap kanan di Eropa dan Amerika?

Mengapa FPI lebih memilih menghancurkan majalah playboy ketimbang membuat sebuah majalah yang berdisain baik dan berisikan akhlak mulia untuk konsumsi kalangan anak muda Islam?

Mengapa FPI lebih memilih menyerbu kontes waria daripada mengadakan reshuffle yang demokratis sesuai Islam dalam organisasi mereka?

Mengapa FPI tidak banyak membantu Jogja yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk Islam disaat mereka butuh bantuan ketika gempa?

Mengapa FPI lebih banyak punya pemukul rotan dan para anggota bersenjata-tajam ketimbang punya website atau para penulis blog?

Saya menulis ini dengan amat subjektif sekali. Semuanya dinilai dari kacamata saya pribadi. Tapi, kalau FPI adalah para pembela Islam mengapa kelakuan mereka tidak mirip sama sekali?

Sebagai salah seorang umat Islam (*KTP saya ada tulisan islamnya, Je. Hehe*), saya malu, nama agama saya dicatut-catut oleh preman-preman yang tidak bertanggungjawab. Dengan menggunakan jubah putih agama, preman-preman itu menganggap dirinya messias, juru selamat di muka bumi.

Bagi saya, FPI bukan hanya organisasi fasis. Menganggap diri mereka dan golongan merekalah yang paling benar di dunia ini. Namun, bagi saya, mereka juga bertindak terlalu jauh. Kadang-kadang mengatasnamakan tuhan. Dan lebih sering seperti Firaun, berlaku seperti tuhan, menghukum mereka yang ia anggap bersalah.

Okay, balik lagi ke atas. Di mana topiknya adalah, peneguran keras.
Kalau begitu… That’s what FPI’s do?
Astaga!
Apakah anda setuju kekerasan ala Firaun menyelesaikan masalah?

Kekerasan, apapun bentuknya, suatu saat akan melahirkan anak yang bernama kebencian.

Sebelum terlalu jauh, hentikanlah kekerasan. Hentikanlah kebencian.

.

Akhirnya, setelah artikel ini ditulis, saya lebih mudah menjawab pertanyaan mengapa saya Anti FPI. Hehehe

Bagaimana caranya agar persepak-bolaan Indonesia menjadi lebih maju?

.

Sudah beberapa hari memikirkan jawaban atas pertanyaan ini.
Sampai buka-buka kitab lama persepakbolaan Indonesia.
Kok yaaa ndak ketemu-ketemu juga.

.

.

Ada usul?

(Kemajuan dunia internet memang luar biasa. Nampaknya sepak terjang blog saya sudah mulai dilirik oleh para sekolah-sekolah maupun instansi/lembaga militer di Indonesia. Surat-surat dari Hamba Allah yang tidak mau disebutkan namanya mulai berdatangan ke inbox-mail. Allhamdulillah, bagus, ternyata INTELPAM nggak makan gaji buta… hehe…)

Pada awal tahun 2000-an, di sebuah sekolah tinggi militer di Pulau Jawa terjadi skandal yang cukup menghebohkan (bagi segelintir manusia yang mengetahuinya). Seorang perwira tinggi yang dipanggil dengan nama gubernur (sebutan bagi kepala sekolah militer. bintang dua) karirnya hampir terguncang kena badai.

Mengapa?

Seorang taruna (sebutan bagi para pelajar sekolah tinggi militer) baru… angkatan muda… Dipukuli oleh senior-seniornya. Namanya anak baru, yaa diam, ndak membalas. Apalagi militer. Mbalas, yaa dikemplangi rame-rame. Hingga beberapa hari kemudian ia harus terbaring tak berdaya di rumah sakit. Ternyata (kalau tidak salah, beberapa) tulang rusuknya patah.

Akibat ancaman sang senior (atau tradisi diam itu emas selamat), si anak baru ini tidak bicara kepada siapa-siapa mengenai pemukulan itu. Walaupun rontgen menunjukkan hasil yang berbeda. Ternyata tulang rusuk yang hancur itu menancap pada organ tubuh dan daging bagian dalam. Luka tancapan tulang yang patah itu menghasilkan infeksi. Si taruna muda demam dan sering pingsan.

Ternyata, bapaknya si taruna muda ini seorang militer yang pangkatnya lebih tinggi dari sang gubernur. Selain itu, beliau adalah salah seorang selebriti militer di republik tercinta. Nah looo? Kacau kan?

Sang bapak, yang walaupun mahfum dengan tradisi militer, tentu saja tetap seorang ayah. Mana ada ayah yang melepas anaknya untuk belajar, eh pas anaknya kembali, malah dikasih bonus infeksi internis organ dalam kronis?

Akhirnya… Gimana dong?

Namanya orang Indonesia. Militer atau bukan, jalan musyawarah dan mufakat tetap saja dipakai.

Akhirnya, inilah jalan musyawarah dan mufakat yang dipakai. Sang taruna muda korban kebrutalan seniornya di beri pengobatan hingga sembuh oleh sekolahnya. Sementara, sang ayah, diberi ‘oleh-oleh’ dari institusi yang mencetak banyak pemimpin republik tercinta ini. ‘Oleh-olehnya’ adalah, ‘penindak-lanjutan’ terhadap beberapa perwira taruna yang melakukan aksi tersebut. ‘Penindak-lanjutan’ itu berupa pemecatan terhadap beberapa perwira taruna…
(*Dipecat?! Aahh, masak seeh?!*) …
maaf, saya salah… ‘ehem, ehemm’
Beberapa perwira taruna itu diundur kenaikan pangkatnya.
(*mengapa paragraf ini banyak tanda kutipnya?*)

Lau bagaimana dengan Sang Gubernur?

Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan militer di Indonesia?

Lalu bagaimana, apabila sang korban pemukulan bukanlah anak pejabat tinggi yang nama, wajah dan ucapannya sering muncul di media massa konvensional?

Jujur saja, untuk pertanyaan diatas, saya ndak tahu jawabnya. Selain karena database saya sedikit. Analisa saya yang payah. Kurangnya narasumber dunia militer Indonesia. Juga akibat beberapa telepon “Bangaip, jangan ngegosipin ring 1 yaaa?“. Hehehe…

Hingga detik ini, ketika tulisan ini dibuat. Masih ada tradisi antil-antilan dan Sikap Tobat dalam dunia pendidikan militer.

Antil-antilan adalah istilah yang dipakai, ketika para taruna saling bertemu. Entah mereka taruna Magelang, taruna Jogja… atau malah taruna Bumimoro. Ketika bertemu, akan saling mengantil. Saling memukul. Antil mungkin artinya adalah pukul.
Apabila ada student gathering, Sekumpulan taruna, memilih salah satu yang badannya terbesar dari mereka. Mengadu antil dengan sekumpulan taruna lain. Mirip gorilla kalo becanda. Hehehe…

Lalu ada lagi Sikap Tobat.

Sikap Tobat adalah, sebuah perintah, dari senior kepada junior. Apabila sang junior berbuat kesalahan, maka Sikap Tobat adalah hukumannya.

Sikap tobat adalah posisi. Dimana sang terhukum. Harus push-up dengan menggunakan kepala. Posisi tubuh sama seperti layaknya push-up biasa. Bedanya, push-up Sikap Tobat, tidak memakai tangan. Tangan diletakkan di belakang tubuh.

Sikap Tobat dapat dilakukan dimana-mana, dalam lokasi pendidikan sekolah. Namun yang paling sering, dilakukan di jalan aspal. Ketika tengah hari bolong. Pas matahari memancar dengan panas-panasnya.

Para taruna, yang jidatnya item, bukan gara-gara rajin shalat tahajjud. Melainkan karena terlalu sering diperlakukan Sikap Tobat oleh senior-seniornya. Jidat menghitam, karena ketika Sikap Tobat selesai dilaksanakan…, kulit kepala dan daging dahi…, menempel di aspal yang panas.

.

.

.

Mau dibawa lari kemana republik ini, kalo dipimpin oleh manusia yang kelakuannya seperti itu?

“loh itu guru-gurunya nggak tahu?”

Masak guru nggak tahu kelakuan siswa-siswanya? Emang makan gaji buta?

(beberapa hari ini, sangat sibuk. Karena migrasi OS dan mengurus rencana liburan. Saya bongkar-bongkar harddisk. Eh, ketemu tulisan jadul. Ini tulisan saya beberapa tahun yang lalu. Masih mengenai human trafficking. Maaf, gaya bahasanya culun. Hehee. Walaupun saat ini gaya bahasa saya masih tetap culun. Tapi saya pasrah saja untuk tetap d0-blog. hehe. Selamat menikmati)

 

Kami tidak mengarungi awan melintasi matahari

Untuk melewati hari-hari pedih dan sunyi

Namun angin tetap membawa kami

Dari tanah tempat para lelulur berkebumi

Dengan tangan terkepal dan darah mengental

Melangkahlah kaki ini

….

Dan bumi pun ditetesi keringat dan airmata

 

Beberapa tahun lalu, saya tinggal di Den Haag. Salah satu kota terbesar di Belanda. Kota yang terkenal sebagai pusat pemerintahan Belanda. Salah satu kota dengan ciri multi kultur, selain Amsterdam dan Rotterdam. Sebuah kota yang dipenuhi oleh buitenlander, alias orang asing. Mayoritas dari mereka adalah masyarakat Turki, Maroko, Suriname, Eropa Timur dan Asia.

 

Sebagai salah satu kota multi kultur, maka Den Haag dipenuhi pula oleh orang-orang dari Indonesia. Dan saya mengenal beberapa dari mereka.

Ini cerita mengenai mereka.

 

 

KETUT

Seorang pemuda Bali berusia 30 tahun. Bekerja sebagai karyawan Pemerintah Daerah Denpasar, Bali. Punyai banyak teman yang bekerja di kapal pesiar luar negeri, yang ketika pulang kampung, ke Denpasar, memperlihatkan kocek mereka yang berisi pundi-pundi dollar US.

 

Dan seperti halnya manusia normal lainnya… Ketut pun iri.

 

Dengan modal menjual rumah warisan neneknya seharga 75 juta rupiah. Ketut mempercayakan seluruh uang itu kepada orang yang ia kenal, yang akan membawanya ke Belanda. Dengan perasaan bangga tak terkira, Ketut pun pergi ke Belanda. Membayangkan bahwa bukan hanya teman-temannya saja yang akan pulang kampung dengan pundi-pundi dollar, ia pun bisa seperti itu, pulang kampung dengan membawa pundi-pundi Euro.

 

Sampai di Belanda… Ketut menyadari, bahwa ternyata ia ditipu. Uang yang ia percayakan kepada orang yang dikenalnya di Bali, ludes dibawa lari ke meja judi.

 

Ketut terlunta-lunta di Den Haag.

Satu tahun sudah menjadi pengangguran. Rambutnya memutih kebanyakan pikiran.

 

Ketut terkena Insomnia.

 

 

ASEP

 

Lahir di Bandung 29 tahun yang lalu. Bercita-cita ingin menjadi programer komputer. Sebuah profesi yang akan menjaminnya hidup sejahtera di masa tua. Dengan cita-cita itulah, akhirnya Asep memberanikan diri memasuki perguruan tinggi Gunadarma di Depok.

 

Enam tahun pas, Asep pun lulus sudah. Namun setelah lulus. Asep menyadari bahwa Jakarta terlampau ganas untuknya. Ibukota negara yang sedang terombang-ambing krisis ekonomi itu tidak menawarkan kesempatan apapun baginya.

 

Asep menyadari betapa susahnya mencari pekerjaan di Jakarta bagi seorang programmer muda lulusan swasta dengan nilai biasa. Lalu Asep pulang ke Bandung dengan niat di dada, akan meminjam uang sebanyak 100 juta dari tetangga, sebagai syarat salah satu iklan mini di harian ibukota POSKOTA yang akan membawanya ke Belanda.

 

Asep akhirnya pergi ke Belanda, dengan iming-2 bahwa ia akan bekerja di PHILIPS, sebuah raksasa pabrik teknik di Belanda. Namun Asep akhirnya sadar, bahwa ia ternyata adalah salah satu bagian korban penipuan. Tak ada kerja di PHILIPS. Tak ada gaji 30 Euro per jam. Tak ada pekerjaan.

 

Asep ditipu.

 

 

EKO

 

Setelah 22 tahun lahir ke dunia ini. Eko menyadari bahwa ia harus mencari hidup baru, lepas dari sempitnya ekonomi Gresik, kota kelahirannya. Kota yang panas dan penuh debu semen itu tidak menawarkan masa depan baginya.

 

Dengan sebuah penawaran dari misi agama, Eko pun memantapkan niatnya ke Belanda. Eko lalu pindah agama, sebagai syarat mengikuti para pengkhotbah itu untuk pergi ke Belanda.

 

Sebab apa lagi yang harus ia berikan? Uang berjuta-juta ia tidak punya. Tidak ada tetangga atau sodara yang ia punya sebagai penjamin di Belanda. Tapi ia masih punya agama, yang dengan rela ia tukarkan dengan iming-iming pergi dan kerja di Belanda.

 

Eko lalu pergi…, dengan tatapan haru menyesakkan dada keluarganya.

 

Sampai di Belanda, Eko sadar, ia tidak punya keahlian apa-apa, kecuali modal nekat dan niat cepat kaya. Eko pun terlunta-lunta. Namun ambisinya akan materi mengantarkannya ke pelukan seorang pengacara homo di Den Haag.

 

Kini, Eko menikmati hari-harinya di sebuah apartment mewah. Melalui malam dengan hati dan pantat yang sakit menahan nyeri.

 

 

 

 

Begitu banyak cerita pedih. Begitu banyak cerita duka. Begitu banyak kisah tentang harapan yang hancur sia-sia begitu saja.

 

Para pemuda, meninggalkan negeri yang morat-marit ekonomi. Menuju tempat yang tidak pernah mereka sangka dan bayangkan sebelumnya. Menuju surga dalam bayangan mimpi-mimpi mereka. Namun… apa yang terjadi, kenyataan bicara dalam wujud kelam.

 

Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali memberi sekedar tumpangan dan teh manis. Seraya mendengarkan kisah mereka dengan bulu merinding. Membayangkan, betapa beruntungnya hidup saat ini apabila dibandingkan dengan liku dan kerasnya hidup mereka.

 

Pekerjaan yang berat, iklim yang keras dan tatapan mata yang tidak bersahabat adalah bukan apa-apa dibandingkan cerita mereka.

 

Saya hanyalah saksi, yang hanya bisa menuliskan cerita ini dan mungkin akan membebani pikiran yang membaca. Tapi toh ini sebuah pengalaman, yang lebih baik dibagi daripada ditelan sendiri.

 

Arif, pada sebuah titik di The Hague,
Netherland, 22 September 2003

 

Ini cerita Jadul… jaman duluu banget. Ketika saya masih sekolah di Jatinangor, Bandung.

Setiap akhir bulan, pada masa weekend, saya suka pulang kampung, ke Cilincing, Jakarta.

Dari Bandung, kami biasanya konvoy ke Jakarta. Empat motor. Setiap motor 2 orang. Kalau capek bisa gantian ‘mbawanya’. Di depan, biasanya Gugun, adek saya, dan Odoy, tetangga saya. Paling buncit, bagian belakang, selalu saya dengan Jumari, anak paling pinter di kampung kami. Ketika yang lain masih sekolah, dia sudah jadi guru.

Tidak biasa-biasanya. Kali ini kami benar-benar jauh tertinggal. Bikers selalu peduli satu sama lain. Mereka sms menanyakan keadaan kami. Kami jawab “qt ok. Lo jln aj. Ga usah nunggu“. Sialnya, karena mencoba mencari jalur alternatif. Kami kesasar di antara Purwakarta dan Cikampek.

Kami berkendara diantara sawah-sawah yang menghitam. Waktu itu sedang kemarau. Parah. Kemiskinan makin merajalela antara jalur Purwakarta-Cikampek.

Saya sudah mulai bete, “Jum, dimana kita nih?
Jumari, “Mana gua tau!”
+ “Jum, kok banyak sawahnya gini?”
“Jangan-jangan kita di kesasar men?”
+ “Yee, kacau lo ah. Emang kita udah kesasar, bo!”
- “Men, ngopi yuk. Sekalian numpang nanya.”
Saya setuju sekali. Kalau kesasar, yaa nanya. Paling enak, sambil nanya, sambil ngopi. Lebih enak lagi…, sambil makan. Hehehe.

Kami bingung menentukan lokasi target ngopi. Di kiri kanan penuh warung. Mending kalo warung padang atau warung tegal. Ini mah, warung ga jelas. Atapnya rumbia… dindingnya gedhek, dari kayu-kayu nggak jelas gitu deh pokoknya. Banyak banget warung di kiri kanan jalan. Tapi sepi… nggak ada pengunjungnya.

Akhirnya saya nekat. Membelokkan motor ke salah satu warung.

Warung itu, kelihatannya nggak minat jualan. Atau sudah kekurangan modal mendekati kebangkrutan. Isinya hanya beberapa toples yang berisikan jajanan pasar. Beberapa chiki-chiki-an dan kacang sukro bergelantungan manja minta dicowel-cowel.

Kami nunggu agak lama. Yang punya warung nggak ada, entah kemana?

Tiba-tiba seorang bapak-bapak muncul. Pakaiannya pakaian petani. Masih belepotan lumpur. Lalu berkata “Punten aa… Saya teh tadi masih di sawah. Maaf agak lama”. Oo, ternyata yang punya warung ini merangkap petani juga tho.

Jumari memesan mie instan. Saya memesan kopi.

Abis makan, kenyang dan bahagia. Baru deh kami nanya, jalan menuju jalan utama. Si bapak tani merangkap pedagang mie, memberikan alternatif tercepat. Sambil mengucap terimakasih saya lalu membayar makan plus kopi kepada si bapak. Tidak ada uang kecil. Terpaksa membayar dengan uang pecahan 50 ribuan.

Si bapak melihat saya dengan tatapan mata memelas “De, maaf… nggak ada kembaliannya. Saya tukerin dulu yaa”.

Saya jadi nggak enak hati. Ngerasa bersalah, tidak membayar pakai uang pas. Mau diikhlasin ga usah ngambil kembalian, bingung juga, itu uang terakhir. Ntar beli bensin gimana dong? Akhirnya saya menjawab dengan tidak kalah memelasnya “Iya deh Pak… Maaf yaa…”. Si bapak langsung pergi.

Kami menunggu si bapak.
5 menit berlalu…
10 menit berlalu…
15 menit berlalu…
Saya sudah mulai curiga… “Jum, kok si bapak ga balik-balik yeee? Jangan-jangan doski (dia) nggak niat balikin?”
Jumari menatap saya dengan kesal, “Lo to yee nggak tahu diri. Udah bayar pake uang segede godam. Giliran nunggu kelamaan… Protes! Huh!”.
Saya malu “Maaf Jum… Maaf…”
Jumari mash kesal, “Maaf ke si bapak. Su’udzon lo. Doyan buruk sangka ama orang”.

Tiba-tiba si Pak Tani datang. Kali ini didampingi seorang anak kecil. Anak perempuan, kira-kira berusia 14 tahun. Anak itu kurus. Tangannya kurus… mukanya kurus… kakinya kurus. Terus-terusan menyedot ingusnya. Sepertinya sedang pilek.

Pak tani tatapan matanya makin menghiba. Lalu berkata, “Dek…, saya teh sudah cari kemana-mana. Tidak ada yang punya uang kembali. Ini desa orang susah, Dek”
Saya bingung, “Lah, terus gimana dong Pak?”
Pak tani itu menggandeng si bocah perempuan, mengangsurkannya ke saya. “Ini dek… bawa anak saya”.

Saya makin bingung… “Pak, sebelumnya saya minta maaf. Karena tadi saya buruk sangka kepada bapak. Saya kira bapak mau melarikan uang kami. Tapi ini, emang anak ini kenapa Pak?”

Si Pak Tani menangis, “Ini, saya nggak ada kembaliannya. Bawa anak saya sebagai kembaliannya… Ini… Bawa anak saya. Terserah, anak saya mau adek apain juga ga apa-apa”.
Ia makin menangis.

Saya antara kesal amarah, karena si Pak Tani ‘menjual’ anaknya. Dibawah harga 50 ribu rupiah. Ditambah lagi bercampur bingung. Kenapa ia melakukan itu?

Jumari bertanya, “Pak memangnya ada apa?”

Si pak tani sambil menangis… cerita… bahwa mereka miskin. Miskinnya sudah sampai taraf susah hidup. Mau makan saja susah.

Sawah kering. Kemarau panjang dan sistim irigasi yang tidak baik, membuat petani mati kutu. Satu-satunya cara bertahan hidup, yaa minjem pada lintah darat.

Ketika hujan mulai turun. Kesialan tidak berhenti. Jenis padi IR5 yang dibanga-banggakan Orde Baru, dan dipakai oleh para petani Pantura sejak puluhan tahun, ternyata diserang sejenis hama khusus. Hama itu hanya bisa dimatikan oleh pestisida. Ketika Orde Baru mati, pemerintahan berganti, subsidi pestisida ditarik. Harga pestisida melambung tinggi.

Bagaimana cara membeli pestisida? Yaa minjem lintah darat lagi. Hutang semakin membengkak. Namun, para petani nan lugu itu berfikir… ‘ahh, nanti ketika musim panen tiba. Pasti aku bayar’ seraya berfikir akan pesta untuk mengawinkan anak-anak mereka.

Nyatanya, ketika panen tiba. Dunia bergerak ke arah globalisasi. Seumur-umur para petani itu ndak tahu apa artinya globalisasi. Hingga suatu hari… di pasar kampung mereka ada beras Thailand. Lebih sehat, tanpa pestisida. Lebih besar bijinya, karena perkawinan hybrid… dan lebih murah.
Para petani itu tiba-tiba dipaksa melihat kenyataan pahit.
Utang semakin membengkak. Biaya hidup semakin tinggi. Jangankan sekolah… makan saja susah!

Anak-anak gadis mereka… Lari ke Jakarta. Entah jadi buruh pabrik… Entah jadi babu… Bahkan jadi pelacur.

Sudah bukan rahasia, di kampung miskin, yang rumahnya terbuat dari batu dan semen… adalah orangtua yang anaknya menjadi pelacur di Jakarta.

Lalu saat ini… anak itu… anak perempuan… 14 tahun… Di jual bapaknya kepada saya… Dengan harga dua bungkus mie instant, dua gelas kopi… dan beberapa puluh ribu rupiah.

Gila!

Akhirnya, yaa sudahlah … ikhlasin saja uang kembaliannya. Saya dan Jumari melanjutkan perjalanan menuju Cilincing. Di Bekasi… Saya sms Gugun, adik saya. “Tolong Jemput. Bensin abis. Pom Bensin Harapan Indah. Mayday. Emergency”. Hehehe.

Di perjalanan pulang… Jumari berkata kepada saya… “Men…, untung lo bukan germo”.

Saya membatin, “Iya yaaa. Untung gue bukan germo! Kalo gue germo, gimana ceritanya?”

(*Kalo saya germo. Ini pasti web porno…. Pasti… Pasti! …. hehehe*)

Saya geleng-geleng kepala mbaca tulisannya Mbak Vera disini, mengenai KBRI di Hesinki, Finlandia. Mbak Vera, bercerita, bahwa ia dimaki-maki oleh staff local KBRI Helsinki tanpa alasan yang jelas. Kasihan Mbak Vera.

KBRI adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia. (Seharusnya) Rumah bagi bangsa Indonesia yang ada di perantauan. Namanya rumah, seharusnya ya hangat, damai, tentram dan selalu dapat dijadikan tempat berlindung. Sebuah sanctuary. Tempat dimana kita (orang Indonesia) dapat merasa aman.

Staf KBRI, termasuk Duta Besarnya, adalah duta Indonesia. Mata dunia tidak hanya melihat Indonesia dari berita-berita yang ada pada media konvensional maupun nasional. Melainkan juga pada KBRI. Mengapa? … Jawabnya simpel… Itu adalah satu-satunya rumah negara yang berani-beraninya memakai nama negara.

Orang yang bekerja dalam KBRI, adalah orang yang merpresentasikan Indonesia. Kalau tidak merepresentasikan Indonesia… Ngapain ada di rumah resmi negara Indonesia?

(Mantan) Pekerjaan saya (*hmhm, maaf, model, hehe*), mengharuskan saya berkunjung ke beberapa negara dalam jangka waktu tertentu. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, (walaupun males luar biasa) saya selalu mematuhi anjuran pemerintah. Kalau ke luar negeri, jangan lupa lapor diri di KBRI.

Lapor diri, adalah sebuah istilah, dimana kita datang ke KBRI negara setempat, lalu paspor di stempel. Sebuah cap KBRI setempat beserta tanggal pelaporan diri. Mirip dengan plang-plang lokal kampung yang bertuliskan “Tamu 2×24 jam diharap lapor RT/RW”.

Apa gunanya lapor diri?

Ada tiga:
– Satu, sebagai alat pendataan manusia Indonesia yang ada di Luar negeri. Dulu waktu jaman ORBA, data ini digunakan sebagai database penelusuran musuh politik RI.
– Dua, kalo paspor ilang, gampang ngurusnya.
– Tiga, sarana nyari orang Indonesia lain yang ada di negara tersebut. Lumayan, fasilitas HELP dan Manual Book berbahasa Indonesia.

Gimana caranya lapor diri?
– Ke KBRI ajah, kalau bisa, paspor sudah di fotokopi. kalau tidak, biasanya di sana (KBRI) sudah ada mesin fotokopi.
– Ndak bayar… kecuali bayar ongkos ke KBRI untuk pelapor. Kalau KBRI minta bayaran… bilang sama petugasnya “Pak, kelurahan saja sudah mencoba anti-korupsi, masak di sini masih sih?

Balik lagi ke KBRI…
Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi KBRI Den Haag di Belanda. Beberapa teman sekolah saya mengajak reuni. Mereka janjian ketemuan di KBRI Den Haag ketika lebaran. (*Gila, reuni ajah jauh banget, nggak tahu diri!*).

Akhirnya kami ketemuan. Salam-salaman dengan Dubes yang sama sekali nggak saya kenal. Sepertinya acara lebaran ini adalah sarana mempopulerkan wajahnya pada publik Indonesia. Setelah salaman, agen saya, meminta saya berfoto bareng Pak Dubes. Beliau dengan ramahnya menyanggupi.

Ketika pemotretan, saya bertanya “Pak Duta Besar, banyak yaa orang Indonesia di sini?“.
Beliau menjawab “Iya banyak, dek” (*sejak kapan bapak menikah dengan kakak saya? Berani-beraninya manggil saya adek?*)
Bapak Duta Besar, kenal semuanya?
Wah, yaa ndak toh, dek. Orang Indonesia di sini ada sekitar 200 ribu orang yang terdata. Yang ndak terdata, mungkin lebih banyak
Saya menggumam, “Wahh, banyak yaa… Tapi bapak Dubes kenal semua orang Indonesia yang ada di kedutaan pada saat ini?
Bapak Duta Besar yang baik hati itu mukanya sudah mulai bete. Sepertinya beliau menangkap tendensi kalimat-kalimat pertanyaan saya. Pertanyaan saya ndak dijawab. Hehehe.

Ok, akhirnya saya juga males. Lalu, keliling-keliling ruangan. Say hi kanan kiri. Mengucapkan minal aidzin, yang menjadi sekedar basa-basi. Karena memang ndak kenal banyak orang. Ah ndak apa-apalah…

Akhirnya sampailah saya ke ruangan yang amat cocok dan saya cintai, dapur. Letaknya di lantai bawah. Di dapur KBRI ini, ternyata telah berkumpul manusia-manusia yang sejiwa dengan saya… doyan makan… makanan gratis.

Ternyata, kucing-kucing dapur itu… adalah para pegawai KBRI. Ada pengawal (*sebutan untuk KOPASSUS yang bertugas khusus mengawal duta besar*), ada admin IT, ada sopir, ada tukang masak… dan ada yang lain-lainnya.

Ngobrol berapa menit… yang berlangsung hingga berapa jam, amat menyenangkan. Saking senangnya, tiba-tiba diantara mereka ada yang nyeletuk… “Kamu mau ga kerja di sini?”

Astaga, kaget sekali saya? “Loh, bukankah untuk kerja di KBRI itu ada sekolah khusus?“. Si penanya tersenyum, “Iya benar… tapi kan nggak semua.. hehehe“.
Saya makin bingung. Terutama ketika ketawa, ia mengerling ke arah teman-teman lainnya. Yang dibalas dengan tertawa oleh teman-temannya.

Ia lalu menjelaskan, bahwa perekrutan di KBRI kadang-kadang tidak melalui Departemen Luar Negeri. Melainkan, proses pemilihan suka-suka si penguasa KBRI. Kalau suka, yaa disuruh kerja… setelah itu pulang ke Indonesia, disuruh kursus di Kementrian Luar Negeri. Lalu balik lagi ke luar negeri.

Yang parah, kalau langsung saja diterima kerja. Karena si penguasa suka orang tersebut. Nepotisme banget.

Penguasa KBRI bukanlah Duta Besar Republik Indonesia. Sang dubes yang baik, hanyalah orang yang bekerja selama 5 tahun. Selama itu pula masa dinasnya di KBRI. Penguasa KBRI adalah orang yang bekerja paling lama dengan pangkat paling tinggi. Seorang sesepuh yang dituakan. Benar-benar konsep feodalisme.

Kalau KBRI/Konsulat Jenderal masih begitu-begitu juga, gimana mau becus ngurus orang Indonesia?

Banyak kasus yang terjadi, surat-surat penting diplomat kepada menteri khusus, bocor di tengah jalan. Ternyata sebabnya, karena ketidak-tahuan sang diplomat menggunakan software pengirim surat Thunderbird. Si diplomat maen asal pencet. Surat-surat penting itu, tiba-tiba bisa diakses di milis-milis. Malu-maluin ajee bo!

Ya sudahlahhh… Kalo mau ngomongin borok KBRI, ga bakal ada habisnya. Sama seperti kalau saya merenungi borok sendiri. Ga ada habisnya.

Saat ini, yang paling baik, saya rasa adalah gotong-royong. Antara staf KBRI dengan WNI/WNA yang masih peduli Indonesia. Bersama meningkatkan kemampuan KBRI di lokalnya masing-masing.

Ayo KBRI/Konsjen RI… tingkatkan kemampuanmu.

Ayo orang Indonesia di luar Indonesia, jangan segan-segan membantu/mengkritik-membangun KBRI/Konjen untuk meningkatkan kemampuan rumah Indonesia.
.

.

Doa saya malam ini, “Ya Tuhan yang baik Tuhan bangsa Indonesia, semoga KBRI adalah rumah sebenar-benarnya rumah bagi rakyat Indonesia di perantauan… Amin

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.