Adik saya si Gugun, kadang-kadang suka bicara yang aneh-aneh. Pada suatu hari, ia berkata, “Bang, lo tau ga? Di dunia ini ada tiga profesi yang punya tanggung jawab langsung ama Tuhan”.
Saya yang sedang makan nasi uduk menjawab dengan santainya, “Siapa Gun?… satu… pelacur… kedua… germonya … ketiga… yang make tuh pelacur… hehehe!”
Gugun cengar-cengir, “Bego lo, mikir pake selangkangan! Kambing dong piara.. jangan bego dipiara…!”
“… Kalo gitu, sapa dong?”
“Mereka adalah… Dokter… Hakim…. Dan guru!”
*hmhh, saya emang bego, hehe*
Karena ibu kami adalah guru SD, maka kami tidak membahas dua profesi lainnya. Melainkan hanya membahas guru. Kami sepakat, kalau seorang guru mengajarkan sebuah kesalahan, akibatnya bisa fatal.
Contoh kasus fatal: Seorang guru adalah salah apabila mengajarkan muridnya, meneriakkan nama tuhan sambil membawa peledak tingkat tinggi seperti C4. Kemudian meledakkan di keramaian. Mati sambil tersenyum karena berharap ada 40 bidadari semlohay di surga menantikannya.
Contoh kasus fatal lainnya: Seorang guru mengajarkan bahwa 2×2=4 sebagai kebenaran tunggal. Menafikkan kenyataan bahwa angka empat bisa didapat dari banyak hal, misalnya 4=16:4 atau 1+3=4 atau 145.689-145.685=4. Guru tersebut salah, karena angka empat dapat berasal dari banyak faktor hitungan lain. Tapi karena bagi si guru, kebenaran angka empat adalah mutlak, dua kali dua, sejak jaman dahulu kala… maka tidak boleh ditawar-tawar… kalo ditawar, dosa! (*hehehe, gampang amat bikin dosa*)
Gugun dan saya akhirnya sepakat, bahwa kami tidak menyukai guru yang galak. Dan jadi guru yang galak adalah sebuah kesalahan fatal lainnya.
Hingga hari ini, Gugun tidak menyukai Pak Mujib, guru di pesantrennya dulu. Karena Pak Mujib suka menghukumnya berlari turun ke sungai terus balik lagi ke masjid. Hanya karena beberapa kesalahan bacaan dalam nahwu atau sharaf, tata bahasa Arab.
Hingga hari ini, saya tidak pernah menyukai Ibu Pasaribu, guru matematika SMP saya dulu. Sebab suatu hari, Ibu Pasaribu memukul Deni, sang ketua kelas, karena kelas kami ribut sekali (*sama sekali bukan kesalahan Deni*). Deni digampar habis-habisan di sudut depan kelas, hingga berdarah. Hingga saat ini, saya sering menyesal, kenapa tidak mengadukan hal tersebut ke dewan sekolah atau polisi.
Gugun dan saya sepakat, menjadi guru yang galak adalah kesalahan fatal. Sama sekali tidak mendukung siswa untuk maju. Malahan melahirkan bibit dendam dan sakit hati.
Guru yang galak adalah gerakan kontraproduktif. Gerakan tersebut sama sekali tidak membuahkan sebuah usaha untuk memajukan siswa atau anak didik.
Sebengal, …seancur …sekurang-ajar apapun anak didik, apalagi anak-anak, yang masih dibawah umur… tetaplah anak-anak… butuh perhatian dan kasih sayang. Ketika mereka dewasa, dan menjadi mahasiswa, perhatian dan kasih sayang pun tetap dibutuhkan.
Karena siswa/mahasiswa/anak didik adalah manusia. Mereka punya bapak, punya ibu, punya adik, kakak, saudara… yang mengharapkan mereka menjadi orang yang berguna. Dibelakang seorang siswa, terdapat jutaan harapan dari orang-orang yang mencintainya.
Untuk membantu dan mendorong siswa, beri nasihat dan contoh yang baik,
Janganlah makian yang diberikan, melainkan cinta kasih dan pujian.
(*sebuah catatan terhadap saya pribadi dan rekan-rekan guru sekalian*)
Januari 11, 2007 at 12:23 am
Kadang proporsi itu harus, kapan pujian dan hukuman mesti diberikan, namun niat tetap untuk mendidik yang harus melandasinya. Saya yakin jika niat mendidik yg melandasinya semua akan berlangsung indah, meskipun hukuman yg harus diberikan.
Karena guru juga manusia kadang temperamennya berubah seketika, lalu hukuman tidak lagi didasari niat yg baik, malah kejengkelan/emosi yang melandasinya… ini yang disebut hukuman yg tidak mendidik.
Semoga bapak ibu guru selalu ditetapkan niat untuk bisa mendidik.
Januari 11, 2007 at 3:25 am
Banyak hal yang mempengaruhi guru jadi mudah marah. Diantaranya pendapatan yang minim dan nakalnya anak didik. Tentang nakalnya siswa, saya merasakan perbedaannya jauh sekali dibanding jaman saya. Dulu saya termasuk siswa yang nakal. Tapi nakal-nakal yang kreatif
Semoga guru kesejahteraannya menjadi perhatian pemerintah!
Januari 11, 2007 at 5:45 am
jadi ingat ..
dulu, pernah ada seorang anak yang masih bingung soal rumus luas bujursangkar. mindsetnya masih terpaku pada konsep keliling bangun bidang. makanya dia bingung, kok orang-orang isi soal “berapakah luas bujursangkar dengan sisi 6 cm?” dengan jawaban “36″ trus dibenerin sama gurunya. sedangkan dia yakin banget kalau jawaban yang benar 24. berhubung mindsetnya masih terpatri ke arah konsep keliling.
nah, jadi ntu anak bertanyalah pada wali kelasnya (di SDnya dulu, wali kelas ngajar semua matapelajaran).
si anak (A): “bu, masa’ luas bujursangkar yang bersisi 6 cm adalah 36?”
bu guru (B): “loh, ya iya lah nak..”
A: “bukannya 24, bu?”
B: “bukan, nak. 36.”
A: “wah bu, kalo gitu aturan bujursangkarnya lebih besar dong ya …”
B: *bingung*
A: “gimana, bu?” *dasar dari kecil udah hobi salah tapi ngeyel*
B: “…. kamu tuh ya, jangan ngelawan guru! dosa!”
heheheheheheheheh.
Januari 11, 2007 at 9:15 am
Tanggung jawab besar, kalo dijalankan dengan benar, maka rewardnya juga tinggi loh….Insyaallah.
Januari 11, 2007 at 9:17 am
Setuju sekali. Di Belanda,tempat saya tinggal sekarang, kata-kata mantra seorang guru adala “Prima”, “Fantastik”, untuk sekecil apapun kemajuan yang dicapai muridnya. Dan Mereka mendengar kata itu sejak kecil. Mereka sangat pelit dalam mencela, dan mengejek menghukum murid. Itu yang membuat mereka terus maju.
Januari 11, 2007 at 10:17 am
Jadi inget, rekor saya digampar guru paling banyak adalah 12 kali dalam satu hari, sampai sedikit mimisan. Untung aja ga jadi budeg. Pelakunya adalah guru kesenian yang wali kelas saya. Bapak Edi Hidayat. Ada yang kenal? Udah mampus belum ya itu orang…
Januari 11, 2007 at 10:32 am
berjasalah untuk sekolah, maka guru-guru pun akan jadi segan, kekekekeke!
yah, pokoknya tulisannya bagus. sebuah bekal renungan buatku besok kalo sudah jadi guru
Januari 11, 2007 at 11:01 am
kalo guru matematika saya yang orang padang ngajarin gini:
2+2=6. kok bisa? bukannya sisa 2??
katanya: yang 2 kan untung!
Januari 11, 2007 at 11:12 am
@Helgeduelbek: Saya ikut mengamini. *Aduh hebat euy, mbah para guru-guru blog langsung terjun ngasih komen, hehe*
@asf: Mas… dulu nakalnya ngintip orang mandi yaa?… sekarang nakalnya, sembunyi-sembunyi nonton BF… hehehe
@Kikie: loh 36! bukannya 24? *ngacirr*
@Arman: setuju mas: From bigger power comes bigger responsbility.
@Kang Adhi: Betul mas. Anak jadi lebih termotivasi dengan pujian.
@Wadehel: Edi Hidayat nggak kenal… Kalo Topik Hidayat kenal… Pebulutangkis yang gemar memukulkan ‘raketnya’ kepada para wanita.
@Joesatch: Kamu sudah jadi guru sekarang. Blog kamu adalah sarana pendidikan untuk dunia. Dan kamu adalah gurunya.
Januari 11, 2007 at 1:40 pm
Kekejaman dan kesewenangan guru. Hmmm… apahkah mereka sebagai pandidik tak sadar bahwa itu melukai jiwa murid?
Tidakkah mereka sadar bahwa tindakan mereka itu mencetak calon teroris gaya 70-80-an, yaitu mereka yang mendendam guru, ayah, dan pemegang kebenaran lainnya lantas memindahkan sasaran kepada industrialis dan pemerintah?
Saya pernah mengalami itu. Menyakitkan. Untung ada pengimbang, karena ada saja guru yang memahami saya, menyayangi saya. Sampai sekarang saya sangat menghormati guru yang menyayangi saya.
Januari 11, 2007 at 4:18 pm
teman saya pernah kena lempar penghapus papan tulis yang dilempar sang guru bahasa inggris saya… herannya sebenarnya yang disasar adalah saya…
Januari 11, 2007 at 7:00 pm
guru yg galak itu perlu.. tp kalo udah main fisik.. itu keterlaluan bang.. parah amat.. :S
Januari 12, 2007 at 2:32 am
Guru sebagai panggilan jiwa dan guru sebagai profesi, itu beda banget bos…
Terkadang kita lupa, banyak guru profesi saat ini yang merasa terjebak dalam kerjaannya. Guru, kerja iya kaya kagak…
Kalo sudah begitu, guru kadang galak karena stress. Dan itu yang salah.
Tapi guru galak dengan tujuan mengarahkan siswanya ke jalan yang lebih baik, that’s never been wrong…
Januari 12, 2007 at 3:09 am
Jadi inget acara survey interaktif beberapa minggu lalu..ngomongin kesejahteraan guru..he3 masa ada guru tk di bayar cuma 50rebu..-geleng2-
jadi guru itu panggilan,,jangan asal bisa ngajar..trus jadi guru..
mama nya temen saya yang guru ampe bilang sama anak2nya ..jangan mau jadi guru..gajinya kecil he3..~
intinya sie setuju ama mas manusiaSuper ekekekekek~
Januari 12, 2007 at 10:53 am
@Paman Tyo: Untung ada yang mengimbangi Paman… Kalau tidak, apa jadinya seorang Paman Tyo saat ini?
@Ardho: Emang parah dho… makanya ditulis. Kalo nggak ditulis… makin parah… hehehe
@manusiasuper: Orang stress, bukan cuma guru… pemakai jalan di JKT pada jam sibuk, juga terkena dampak ini… hehhee.. Lebih kasihan, sudah jadi guru… eh ternyata juga pemakai jalan di JKT ketika sibuk. Huehuehue…
@chie: hehehe, kalo mau galak mah… lebih baik jadi guru karate! Doyan mukul.. doyan teriak… tapi nggak pernah diprotes.. hehehe
Januari 13, 2007 at 9:58 am
Dulu, saya punya guru. Waktu itu saya KM (Kacung Murid), terus ada teman saya digampar sama itu guru yang galak (sebenarnya nggak jarang marah, tapi nasib saja diemosional).
Sejak itu, saya tidak anggap lagi dia guru. saya anggap dia pengajar saja.
Waktu perpisahan, semua guru saya salami, kecuali beliau itu. Dia bukan guru saya, tapi dia hanya sekedar pengajar saja. Begitu kata saya, ke teman-teman. Seorang guru kagak nempeleng murid sampai merah begitu.
Sekarang saya menyesal tidak menyalami, tapi juga semoga guru itu juga menyesal mempunyai murid seperti saya.
Ada teman saya juga, dia diusir dari kelas belajar agama Islam, karena emang bandel. Terus dia masuk ke kelas agama berbeda. Dia bilang, kalau saya pindah belajar, karena guru agama saya emang juga nyebelin. Guru itu kemudian minta maaf, nggak mau muridnya lari pindah keyakinan.
Kesadaran harus kedua belah pihak. Juga membedakan antara marah, galak, dan disiplin.
salam untuk para guru selalu.
Januari 13, 2007 at 6:41 pm
[...] Jadi Antek2 w a d e h e l Januari 13th, 2007 Wadehel itu anak bengal. Dalam sebuah komentar dia cerita: di jaman sekolah dulu, ia pernah dalam sehari 12 kali digampar guru keseniannya, Pak [...]
Januari 14, 2007 at 11:30 am
Waktu masih berstatus murid, seakan lumrah ada berbagai sebutan untuk guru, dari tingkat TK dan seterusnya. Dan biasanya kesadaran muncul saat para murid sudah “jadi orang”.
Beliau-beliau yang rela berpanas hujan untuk mendidik murid, mengelus dada melihat murid bengal, kadang menuai cacian para orang tua murid hanya karena bekas cubitan.
Saya juga punya ibu guru matematika yang perfect. Tak segan menjewer telinga, tapi juga memuji ketika murid menjawab benar.
Jeweran beliau dan guru lainnya serasa buaian seorang ibu dan ayah, ketika sebagian dari kami masuk PT begitu mudahnya, beberapa tanpa test di ITB, IPB dll.
Seorang dokter tetangga saya, membebaskan biaya dan obat kepada anak-anak gurunya semasa sd hingga sma, padahal anak-anak tersebut sudah berputra … buah didikan mulia seorang guru, walau beliau-beliau tidak pernah meminta.
Guru kami, dosen kami … terimakasih.
Januari 16, 2007 at 8:55 am
Dahulu kala yang namanya profesi guru, terus terang adalah profesi yang sangat saya benci,kebetulan saya emang langganan digampar dan dipanggil guru karena katanya sih “bandel”, sampai sekarang saya masih ingat guru yang pernah nyakitin hati saya…Namun seiring dengan jalannya waktu, eh sekarang… saya justru malah jadi GURU!!!!,udah begitu jadi Guru BP lagi!!!. Yang lucu lagi kawan saya di SD s/d SMA gak percaya kalau saya jadi guru, apalagi baik sama anak muridnya. Maka dari itu semenjak saya jadi guru, saya berjanji dengan dendam yang “MEMBARAAAAA” murid-murid saya harus saya “manusiakan” sesuai dengan kodrat dan fitrahnya… sedangkan guru guru harus kembali kehabitatnya sebagai pendidik, pengajar, pengayom, atau menjadi teman buat mereka, bukan sebagai “POLISI atau JAKSANYA GURU”.
Januari 19, 2007 at 11:54 am
Saya guru –> termenung membaca tulisan mas Arif.
terima kasih
Januari 19, 2007 at 12:57 pm
@argosiloku: Hebat gurunya… Habis ngegampar… minta maaf.. terus berkata… Pokoknya kita yang paling benar. Hehehe.
@fulan: iya benar… saya juga terimaksih euy.
@Om Ione: Terimakasih, guru BP mau mampir, dan membagi pengalamannya pada kita semua.
@Zube: Saya juga (mencoba jadi mantan) guru. Dan sering termenung juga. Hehehe
Januari 21, 2007 at 4:02 pm
“Contoh kasus fatal: Seorang guru adalah salah apabila mengajarkan muridnya, meneriakkan nama tuhan sambil membawa peledak tingkat tinggi seperti C4. Kemudian meledakkan di keramaian. Mati sambil tersenyum karena berharap ada 40 bidadari semlohay di surga menantikannya.”
Kalau ditengah keramaian serdadu ISRAEL di Palestina bagaimana …
Fatal nggak ya ? FATAL kali ya …
April 3, 2007 at 6:51 am
wah untungnya saya ga pernah ngalami kaya gitu…guru jaman 90an masih adakah yg seperti itu?
btw salam kenal…
salam kenal juga
Juni 2, 2007 at 5:33 pm
setuju abis
Juni 8, 2007 at 3:56 am
Mang Kalau Gurunya kelewatan Galak anak2 akan jadi Kesel and maunya gebalasin Perbuatan siguru itu.
Dulu gw pernah dihukum gara2 gak bisa jawab perkalian yang ditanyakan secara Acak dari perkalian 2 sampai 9.
ceritanya>
Gw Kesel karena gara2 dihukum dikurung dalam kelas selama jam istirahat.
nah pas bel lonceng masuk berbunyi… pintu kelas kan di bua, gw bersembunyi di belakang pintu dan setelah Si Bapak Matematika ini masuk kelas, gw langsung Totokin kepalanya dari belakang, taku gak si bapak puyeng2 dan pada akhirnya Jatoh dilantai,,, dan kata2 yang dia ucapkan sebelum siyup@agak sadar adalah Muaaaaffff nak saya gak tahu kalau loe yang anak bandel yang ditakutin dikelas ini…
Bukan nya gw seneng, eh malah gemetaran dan pingsan bareng ama Bapak Gurunya.
Hahahaha… akhirnya gw dan Bapak Guru diangkat ke ruang Osis dan setelah kami berdua sadar dari pingsan,,, dan saling memandang satu ma lainnya… dengan serentak kita teriak Aoowset,,,,
Hehehehe…..
Juni 17, 2007 at 8:36 pm
Dulu, sewaktu SD, SMP, sampai SMA saya juga punya guru-guru yang galak, ditakuti oleh kebanyakan siswa.(Tapi emang sih galaknya ga sampai main gampar-gampar segala, paling cuma ngebedaki siswanya yang nakal pakai kapur tulis). Tapi, anehnya justru guru yang galak itulah yang menjadi guru favorit saya. Ga tahu kenapa? Sekarang, saya jadi “guru”. Tapi, saya ga niru-niru guru favorit saya dalam hal kegalakannya, tapi yang saya tiru adalah kedisiplinannya (disiplin waktu, tanggung jawab, dst).