(Lagi-lagi cerita zaman baheula. Waktu saya masih ngganteng. Hehehe)
Dalam dunia foto model, dikenal istilah audisi. Sebenarnya, istilah ini hanyalah penamaan belaka.
Audisi pertama bagi seorang model adalah ketika sang model ditentukan layak atau tidaknya, masuk kedalam sebuah agensi.
Agensi sendiri, sebenarnya adalah semacam manajemen yang akan mengatur jadwal pemotretan, atau berapa kali sesi pemotretan dalam sebulan, hingga bayaran seorang model. Biasanya, dalam agensi ini ada beberapa manajer yang membawahi/’mengasuh’ model-model.
Sementara audisi kedua, seringkali disebut dengan “bertemu client“. Bertemu client, adalah peristiwa dimana sang model akan bertemu produsen iklan/event/dll serta pemilik produk. Pada saat ini, sang produser akan menaksir, apakah karakter sang model cocok dengan produk yang akan diiklankan. Mirip pembeli daging di pasar. Liat-liat dagingnya dulu sebelum dimasak. Kalau perlu, dicowel-cowel, meyakinkan kesegaran dan kekenyalannya. (*iih jijay*)
Sebenarnya proses ini memuakkan. Sebab kadang-kadang diwarnai dengan prostitusi terselubung. Tapi, biasanya agensi mewajibkan hal ini, karena termasuk dalam kontrak kerja.
Salah seorang manajer agensi yang saya kenal dalam dunia permodelan adalah Jeff. Nama aselinya sih Jupri. Anak Rawabelong, betawi aseli. Tapi karena ia menganggap nama Jupri sering dianggap tidak menjual, kampungan, dan tidak mencirikan ‘gaulisme’ (Faham/aliran yang menganggap anak-anak gaul di Jakarta adalah segalanya, jadi harus diikuti, mulai dari bahasa hingga merek baju). Maka Jupri mengganti namanya menjadi Jeff.
Suatu hari Jeff menelepon saya, “Rif ada audisi. Lo harus ketemu client”.
Saya menjawab, “Males ahh Jeff. Lagi musim ulangan umum nih. Nanti sekolah gua kacau”.
Suara diseberang sana berubah jadi tajam, “Are you stil wanna be in this business or not? Kalo nggak mau, masih segudang noh orang yang mao posisi lo saat ini”
Saya jadi bimbang. Ini pertanyaan yang sulit. Apapun jawaban saya, pasti ada konsekuensinya. Namun akhirnya saya menjawab, “Ok deh, kapan dan dimana?”
Dari Jeff, saya mendapatkan informasi, bahwa saya harus bertemu seorang klien dari negeri tetangga. Tidak jelas, apa produk yang harus saya iklankan.
Eng… ing… enggg… Akhirnya saya bertemu juga dengan klien tersebut. Kami makan malam di sebuah restoran di dekat gedung wakil rakyat di Jakarta. Anehnya, ia sendirian. Biasanya, apabila makan malam resmi, produser dan fotografer pasti ada.
Aneh, kenapa ia sendirian?
Ia, lelaki setengah baya. Bewokan. Mirip koboi. Sebut saja namanya Jinggo-San. Sebab ‘San’ adalah panggilan orang yang lebih tua di negaranya. Ia memanggil saya Arif-Kun.’Kun’ adalah panggilan sayang dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
Walahh, kenapa ia memanggil saya dengan sebutan kesayangan?
Malam semakin larut. Jinggo-San semakin banyak minum-minuman keras. Bahasa inggrisnya makin kacau. Saya memanggil taksi, untuk mengantarkannya ke hotel tempat ia menginap. Dan harus setengah memapahnya untuk masuk ke kamar hotel.
Di kamar hotel, Jinggo-San muntah. Baunya minta ampun. Lalu meletakkan tangannya ke pundak saya.
Astaga, mengapa ia meletakkan tangannya di pundak saya?
Saya sudah gemetar. Dalam hati sudah membatin bahwa akan terjadi kejadian yang amat tidak diharapkan. Lalu mulai berdoa. Segala macam doa mulai saya rapalkan. Mulai dari Ayat Kursi hingga An-Nas. Parahnya, karena panik, yang keingetan dan keluar dari mulut hanyalah doa sebelum tidur.
Waduh, saya tambah panik. Saking takutnya diperkosa, airmata mulai menggenang. Dalam hati, saya semakin membatin, “Apa kata dunia apabila daku dicabuli lelaki bewokan setengah baya?”
Lalu, saya berandai-andai, 5 atau 10 tahun kedepan. Ketika saya dan teman-teman akrab reuni. Lalu mereka saling bertanya ‘pengalaman pertama’ alias pengalaman ketika kehilangan keperjakaan.
Nday, akan menjawab “Ama Dini dong, waktu SMA”. Lalu Bengki dengan istrinya yang tercinta. Atau Oco dengan bangganya akan menceritakan setiap detil lekuk tubuh janda muda sebelah rumahnya.
Namun, ketika giliran saya menjawab, akankah saya berkata sambil menunduk terisak, “Men, gue disuruh nungging, dicoblos paksa oleh bapak-bapak buncit mabok di kamar hotelnya!”
Huh! Tidak mungkin!
Itu tidak mungkin akan terjadi!
Emangnya gue partai pemilu, doyan dicoblos!
Huh, tidak mungkin!
Dengan keberanian yang saya paksakan. Saya menatap wajah si Jinggo-San. Lalu berkata, “Mister, don’t touch me ok! Saya masih perjaka nih! Kamu bukan istri saya. Don’t touch me, okay!”
Jinggo San marah. “Hey, Arif Kun. Saya tidak mau kamu. I want gurul… GURULLL… not you!”
Wah apaan tuh gurul?
Saya makin bingung.
“Eh mister… gurul itu apa?”
Sambil sempoyongan ia menjawab, “Gurul… GURUL… perempuan… you know?”
Ooo ternyata, gurul itu masudnya girl. Perempuan, dalam bahasa Inggris. Si Jinggo-San ini ternyata kesusahan melafalkan kalimat tersebut.
Saya lalu lari ke WC, menelepon Jeff dengan amarah yang luar biasa. “Hey Jupri…, kunyuk lo. Bajingan. Lo mau menjual pantat gue sama babon bewokan ya?”. (*aduhhh, bahasanya*)
Jeff menjawab, “Rif, maaf gue juga nggak tahu. Yang gue tahu, lo kan punya banyak temen cewek, nah temen-temen cewek lo lah yang disuruh menemani si Jinggo-San itu. Lo cuman jadi pancingan doang”
Saya tambah emosi, “Eh Jupri, sundel lo. Lo kira muka gue ada tampang germonya?! Lo kira di jidat gue ada stempel mucikari! Yang bener ajah dong lo! Ah sudah lah, pokoknya gue cabut dari sini!”
Suara Jeff menjadi memelas, “Rif, bapak yang ada di kamar lo itu penentu keputusan sebuah project besar di transportasi Indonesia. Biaya untuk servis dia saja sekitar 15% dari anggaran total project. Lo bakal dikasih duit gede. Namanya duitnya ‘anggaran entertaintment’. Itu sudah ada dalam proposal loh. Wuih pokoknya duitnya guedhe deh, Rif. Dan lo tau ga kenapa dia ada di Senayan. Karena dia official adalah tamu resmi Indonesia. Ayo berbuatlah sesuatu untuk Indonesia?”.
“Najis lo Jeff. Atas nama Indonesia, pantat gue harus berkorban! Kenapa bukan lo yang disini? Kenapa gue yang harus jadi tumbal?”. Lalu telepon saya matikan dengan semena-mena.
Ketika hendak mengambil tas untuk pulang. Suara Jinggo-San menggelegar “Arif-Kun, kamu tahu… Kalau tidak ada gurul malam ini. Tidak ada kereta api baru untuk Indonesia. Tidak ada bis baru untuk Jakarta. No gurul… no trein… no bus…!”.
Saya tidak peduli.
Di bangku sekolah, kami tidak pernah diajarkan, bahwa Bung Karno dan Bung Hatta harus mengangkang atau membuat orang lain mengangkang agar Indonesia bisa merdeka.
Saya pulang. Membelah malam dengan taksi. Menuju Cilincing tercinta.
Beberapa hari kemudian, di koran ramai diberitakan, hibah kereta api baru lintas JABOTABEK (Jakarta Bogor Tangerang Bekasi) dari negara tetangga.
Beberapa hari kemudian, di tivi, para pejabat negara, mencoba bis baru hadiah untuk Jakarta dengan senyum terkembang.
Saya hanya meringis, sambil bertanya-tanya,
“siapa gurul yang telah dikorbankan untuk mengangkang?”
Februari 5, 2007 at 4:03 pm
kok baru cerita skrg oom?
Kok baru ganti poto skrg, ponakan?
Februari 5, 2007 at 4:17 pm
harta..tahta..dan wanita…
emang satu paket…
ya..ya..ya…
untung ya mas arief bukan yang mengangkang..ups!kalo iya sih aku cuma mau bilang tengkyu abis bos…
hehe..
Haduh, kamu mau ngeliat saya mengangkang. Istigfar Nto! Istigfar…
Februari 5, 2007 at 5:59 pm
wah judulnya misleading nih
.
Malu-maluin tapi begitulah faktanya. Kalo disimpulkan semena-mena: Indonesia punya sarana transportasi dari selangkangan perempuan? (semena-mena abisss, tapi betul?).
Lagian negara San-Kun itu fantasi seksualnya serem lho, SM melulu! Temen gw kemaren itu nanya, “Tumben lo kagak liat film Jp?” (pas IFFR). Gw bilang: “Dih kagak deh makasih, SM semuaaaaa.”
P.S.: komentar loe di tempat gw kok bisa kesaring Akismet yak?
P.S.2: Cilincing ikut kebagian air gratis gak?
p.s: Bang Jaja makan batu. Maap nggak tau
p.s2: Iya, sedih euy. Saya coba telepon Cilincing, tapi ga ada jawaban. Dari tadi sore, mau nangis ajah bawaannya. Takut ada apa-apa ama keluarga dan kampung tercinta.
Februari 5, 2007 at 7:04 pm
Ada aja. Untung selamat.
Soal escort service dan sejenisnya untuk proyek, yeahhh… sekarang juga masih ada. Eh kabarnya lho. Yang lain jangan nanya saya, soalnya saya nggak tahu. Kabur ahhhh!
BTW soal posko, coba hubungi anak2 pos offroad Jakut: Hendrik 0818906563. Semoga masih operasional.
Terimakasih Paman. Saya coba hubungi. Tapi belum ada jawaban. Mungkin karena saat ini tengah malam waktu JKT. Terimakasih atas fast replynya.
Februari 5, 2007 at 11:24 pm
kakakkkakakkka aku dari tadi gak bisa nahan ketawa, sampe kastemerku nanyak. tapi, ah kepanjangan buat diceritain…lagian, susah pake bhs inggris kekekkek
Salam buat kastemernya. Hehehe
Februari 6, 2007 at 12:35 am
Hampir aja saya mau simpulkan kalo u yang yang jadi tumbal Rif, hehehe…
Cerita yang menarik!
Aduh Mas, jangan menarik kesimpulan dulu. Bahayyaaa… Hehehe
Februari 6, 2007 at 12:35 am
Loh emang kang arif ada tampang untuk jadi guruul-guruul po?
Yaahh Pak Guru… nasib wong cilik. Ada tampang atau ndak ada tampang mah…, tetap saja jadi korban. Hehehee
Februari 6, 2007 at 1:02 am
rindu soekarno!
Ada tuh, megawati soekarno putri. Mau?
Februari 6, 2007 at 1:32 am
untung dia maunya gurul, bukan elu yak? kikikik..
Iya, coba kalau dia mau saya? Pasti munculnya di yellow news kayak Koran POSKOTA. Dan judulnya mungkin dirubah “Seorang Model, Dicabuli dengan Imbalan Bus dan Kereta Api”.
Februari 6, 2007 at 2:30 am
jadi mo promosi nih rif?
ada jomblo berkualitas tinggi ya?
xixixi….cewek²..ayo pada nglamar arif
si Tipi (Tipi Jabrik) baru bisa disebut Jomlo Kualitas Tinggi. Aye? Laahh, aye mah belom sanggup memenuhi standar tinggi ISO gurul-gurul, Mpok. Hehehe.
Februari 6, 2007 at 2:51 am
Cocok.. orang memang bisa kehilangan keperjakaan kalau masih “ngganteng”.. HAHAHAHA..
Maka berbahagialah mereka yg tidak ngganteng
BTW, tuh si Jeff lemot juga ya? Kok nggak bisa “memasok” sesuai pesanan. Pesan “gurl” dikasih “boooi”..
BTW, si Jupri masih idup. Parah deh, sekarang jadi penyiar radio. Kasian banget orang JKT. Udah kebanjiran, dapet penyiar radio yang salah otak.
Februari 6, 2007 at 4:51 am
wah aku ngira ceritanya dengan tema “pengorbanan demi negara”, ternyata endingnya tidak, hehehehe….
Hmhhh.. maunya! Dasar… Hmhh… Tak uk uk yeee.. emang daku cowok murahan… huh!
Februari 6, 2007 at 5:00 am
wakakakakak…..antara ketawa dan sedikit berpikir, dari tampang si jinggo-san hingga bayangin sang proklamator ngangkang *maap lho!* sumpah, ketawa gw!!
………
eh, tp bener juga yach! “GURUL” dimana-mana jadi korban….
Dulu Jugun-Ianfu… Sekarang GURUL… 20 tahun lagi apa yaaa? Apa ini bangsa cuman bisa disuruh ngangkang doang?
Februari 6, 2007 at 5:17 am
wuih..ngeri bgt…gurul di lego demi kereta dan bus…makanya setiap naik transjakarta serasa naik gurul..*kabooorr*
Hei, jangan kabur dulu kamu… Bayar ongkosnya hoi!
Februari 6, 2007 at 6:13 am
Kalo sekarang, masih perjaka gak Rif?
*mikir-mikir, njawab ga yaaa?*
Februari 6, 2007 at 6:36 am
masih, jidatnya… halah!
Jidat saya, sudah diperawani sejadah… Hehehe
Februari 6, 2007 at 7:49 am
Ceritanya serem nih….
Lebih serem lagi, kalau saya yang ‘berkorban demi negara!’
Februari 6, 2007 at 8:19 am
Itu berarti om brewok tersebut suka yang istimewa. Istimewa artinya telurnya dua. ( kalau martabak lho, gak tau kalau gurul ? ).
Terimakasih dan salam eksperimen.
Kalau telurnya tiga, apa namanya Paijo?
Salam Experimen juga antara sesama Lelaki Experimen (Lerex atau Lereks)
Februari 6, 2007 at 8:25 am
Cerita nyata atau fiktif ya? .. kalo nyata, emang mas Arif sering muncul di iklan? so .. ya mana ya? kalo fiktif, boleh juga tuh ceritanya.
Hehehe, pasti Mas Erander ndak baca halaman Arif Kurniawan. Semua cerita saya nyata, Mas. Saya sering muncul di iklan? Mana ada bintang iklan yang namanya Arif Kurniawan… Ndak menjual, tidak gaulisme! Hehehe.
Februari 6, 2007 at 9:44 am
ha ha ha ha GURUL…this is a new name for girl. Jadi ngakak….
Yah, keseleo lidah dikit. Maapin ajah. Kalau keseleo selangkangan… jangan dimaapin.
Februari 6, 2007 at 9:57 am
Kalo nanti ada bantuan untuk pembangunan kanal banjir di jakarta kira2 hasil ngangkang atau nungging ya?
Haduh jangan deh mas. Jangan ngangkang…
Februari 6, 2007 at 10:28 am
ayo mas arif yang maju (menyelamatkan bangsa dari banjir)…
itu tuh pertanyaan dari orangindonesia…
wekeke…
*kaburrr*
Kamu kayak si Jupri saja. (lagi-lagi) Saya yang disuruh maju tak gentar!
Februari 6, 2007 at 10:55 am
hmm..dibikin novel aj gmana kang
hehehe….
Apanya yang dibikin novel? Si Jinggo-San? Hehehe
Februari 6, 2007 at 11:03 am
mas mending kowe kudune pasang spiral neng jero silit mas…
demi Endonesah tercinta…
Hahaha, saya baru tau, spiral bisa dipasang di lubang belakang. Terimakasih Mas, telah berbagi pengalaman pribadi.
Februari 6, 2007 at 11:12 am
jadi intinya, masih perjaka ka?
Hehehe… Penasaran nih yeee (mirip lagunya Oma)
Februari 6, 2007 at 4:28 pm
salam kenal rip.. nice story..
Salam kenal juga Kang
Februari 6, 2007 at 4:43 pm
ternyata cerita ini tho latar belakangnya kenapa sampeyan suka hunting bokep gay di pertingaan itebe
Bukan ini Joe… ada lagi ceritanya… Hehehe… Nanti ajah deh, kapan-kapan saya ceritain…Hehehe
Februari 7, 2007 at 1:41 am
dowo tenan …
Hehehe, sip lah kang bahtiar
Februari 7, 2007 at 2:11 am
eh bang aip teh fotomodel tho
Hussssttt… jangan bilang-bilang. Ntar ketauan, malu atuh!
Februari 7, 2007 at 3:59 am
-ngakak ampe koprol-
masih untung, daripada ngakak sampe nenek-nenek ikutan salto
Februari 7, 2007 at 4:07 am
astaghfirullah….
aladzim… (saya tambahin biar lengkap)
Februari 7, 2007 at 6:51 am
Ngakak juga…
Februari 7, 2007 at 9:09 am
anjrit! untung indoensia banyak gurul-nya…
kalo nggak, gimana dong?
NO BUS…. NO TREIN….. !
(kalo yang baru sih, NO GURUL … NO MONEY FOR BANJIR!)
Februari 7, 2007 at 9:32 am
mengangkang???? bukannya mengkangkang ta?
Maap yee, bahasa saya memang tidak bagus. Saya sudah menjelaskannya di halaman Arif Kurniawan. Tapi terimakasih atas kunjungannya
Februari 7, 2007 at 9:58 am
taon berape nih cerita kejadian? Bujug deh..
Buset dah, udah lama pisan. Yang pasti, para mahasiswa yang kampusnya ada di sepanjang jalur Jabotabek menikmati hasil kangkangan itu juga. Hehehe (Apa kabar fusilkom?).
Februari 7, 2007 at 10:08 am
hueheuheuheuehuehe
Ngakak kie
hehe, saya juga bingung sih. Sebenernya cerita saya nggak lucu (menurut saya). Orang-orang kok pada ketawa yaaa? Hehehe
(*ketawa bingung. karena nggak ngerti, mendingan ikut-ikutan ketawa*)
Februari 7, 2007 at 5:44 pm
gurul..ha ha,..masih banyak agency yang ‘ lurus’ kok, dan biasanya kalau memang harus bertemu klien, diset up meeting bersama klien yang lain atau bersama sutradara atau advertising agencynya. Agak ‘ mencurigakan’ kalau ketemu berdua duaan begitu. Tinggalin aja si Jeff, dia sih germo he he
Jeff emang germo. Parahnya sekarang jadi penyiar radio. Mengumandangkan aliran kepercayaannya ke segenap telinga pemirsa JKT. Hehehe
Februari 7, 2007 at 10:06 pm
Jinggo-san mau nggak sama gurul mengangkang di klinik bersalin. Dijamin dia muntah. hehehe.
Pak Dokter, gimana caranya anda tidak muntah ketika melihat pasien yang berdarah-darah dalam dunia nyata?
Apakah anda jadi terbiasa, karena setiap hari ngeliat darah, jadi berdarah dingin gitu? Hehehe
BTW, terimakasih Dok sudah mampir.
Februari 8, 2007 at 2:22 am
gurul sebagai sesembahan demi aydonis bayak ditemai di waray rimay-rimay. Demai aydoniss.
Rupanya, kita kagak pernah beranjak dari cita-cita luhur bangsa. Berbagai profesi dijalani dengan penuh heroik.
Komennya pake bahasa simbolis nih yeee ceritanyee.. hehehe
Februari 8, 2007 at 3:19 am
#38 dok saya nggak muntah tuh waktu nongkrongin istri ngelahirin
yang muntah malah Ibunya istri saya.
(eh jadi ngejawab komen, lupa kirain ini teh blog sayah)
Huehuehue… geuleuh… hehe
Februari 8, 2007 at 7:38 am
halah…telat kereta berapa gerbong neh…udah urutan ke 41…ck…ck….
doyan bener ya org2 sama cerita yg beginian heuheuheu…
walah baru tehe ane, kalo om arief mantan model juga kakakaka….
potonya dong….
tapi om, ga semua agency kudu ngangkang kho…ada juga yg bae2….hehehe…
(*mana….mana….coba tunjukin….!! hihihi….*ngabuurrrr aahhh)
Huehuehue… Teh, nu namina XXX mah selalu dikejar-kejar pemirsa. Walaupun hujan badai, banjir setinggi langit. Kalau tidak jauh-jauh dari selangkangan. Pasti menyedot perhatian bangsa. Huehuehue
Februari 8, 2007 at 2:06 pm
Perasaan dirimu dikira germo terus Rif..?
Yang salah orang yang ngira, atau memang tampang – bekas – modelmu yang mesum..?
*KABUUUR, Arif lempar C4!!*
*ambil kaca, membuktikan kalimat supermen*
Februari 8, 2007 at 6:38 pm
Pak Arif…busyet, rekornya kok banyak banget ya?
Dulu ada mahasiswa yang curhat kalau dia gay, terus Pak Arif juga sempat ‘kencan’ sama si Irwing, eh pas nyasar malahan ditawarin anak gadis sama yang punya warung kopi…eh sekarang malahan ‘kencan’ sama Jinggo San. Besok ‘kencan’ sama siapa lagi Pak? hehehe
Memang resiko jadi (mantan) model kayak gini ya Pak? Untung saya dulu sempat nolak jadi model dan bintang iklan hehehe (iklan obat cacing cuman kelihatan perut saja)
BTW salam kenal dari saya (di Utrecht)
Pak Arif di Amsterdam?
Kadang-kadang di Amsterdam. Kadang-kadang di kota-kota lain di dunia. Tapi lebih sering di Cilincing. Hehehe. Salam kenal juga King
Februari 8, 2007 at 11:55 pm
@de King waks anak Utrecht tahun kapan??? (yang lagi kangen Domstad)
Februari 9, 2007 at 2:46 am
Hik hik…lucu om, ceritanya…salam kenal aja
Salam kenal juga Adam.
Februari 9, 2007 at 3:52 am
Sangat menyentuh. Selamat u/ anda yg sudah memerdekaan harga dr org indon dr ‘penjajahan kaum nippon gila’…
hehe, caelaahh, segitunyeee
Februari 9, 2007 at 7:57 am
emange kalo lho kagak mau masih jaka kene, …..
lho harusnye biaren dulu aja deh ………..
Hehhee, biarlah itu tetap menjadi misteri… hehhee
Februari 9, 2007 at 1:34 pm
Soekarno – Hatta memang nggak pake ngangkang waktu mau merdeka tapi kabarnya untuk menyogok Kepal Suku di Irian pada masa Dwikora ada sukarelawati yang disuruh ngangkang. Benar tidaknya, wong-wong tuwek yang harus menjlentehkan hal itu. Terutama wong-wong tuwek yang ikut Operasi Dwikora itu.
Ada nama Kang? Nanti saya wawancara deh mereka.
Februari 9, 2007 at 1:50 pm
Ha ha asyik juga tu … Salam. Ternak ok-ok aja. Ternak ‘menyumbang’ kemampuan menulis he he. Tu tulisannya tinggal poles jadi buku deh
Hehehe, makasih atas mampirnya Pak EWA. Jadi buku? Hehehe, belum kepikiran Pak.
Februari 9, 2007 at 5:33 pm
Dah kerjaannya Pak, dimuntahin, dikencingin, belepotan darah dll, dibayarin juga sih, eh ngga usah disebut ya.
@ Biho,
Suami teladan. Nungguinnya pakai kacamata item ya ? Darahnya jadi warna kecap, hehehe.
Maaf Pak Arif, kirain blog saya. *niru pak Biho*
Ga papa, silahkan saja, hehehe
Februari 10, 2007 at 4:26 am
Jadi bener yaa Adagium “maju mundurnya negara tergantung dari perempuannya” he..he..he..
No comment ahhh, takut dikemplangi pembaca wanita, Hehehe
Februari 13, 2007 at 12:58 pm
haiyah… mas Arif nih rasa nasionalismenya masih payah, cuma nungging saja kok ndak mau… wakakaka
Kalau soal hidup, mas Arif sudah jauh lebih banyak mencicip asam garamnya nih. Sharing terus ya mas. Thanks.
Iya, pak, nasionalisme saya memang payah, Pak Harry. Seharusnya saya lebih banyak ikut penataran P-4 (biar jago nungging kayak wakil rakyat). Hehehe.
Februari 14, 2007 at 4:50 am
Pesan Buat Artikel Kehilangan Keperjakaan: Benar, bangsa ini ga perlu mengorbankan keperjakaannya buat negara lain, apalagi negara ini sebenarnya keperjakaannya atau keperawanannya sudah sering diperkosa oleh bangsa lain maupun musuh dalam selimut.
Musuh dalam selimut? Dari kapan ngumpetnya? hebat, kok saya nggak dikasih gosipnya seehh…
Februari 14, 2007 at 8:26 am
Hmm.. tragis, menyentuh, lucu..
Tapi salut ma sikap kamu..
Nuhun atuh Teh. Salut juga dengan template yang teteh kerjakan dan disebarkan kepada publik.
Februari 16, 2007 at 7:10 am
Wah boss, kerjaan saya didaerah Cilincing niy. Sukapura. Paman Tyo pernah nyindir tuh di postingnya, ada yang tahu Rorotan nggak
.
BTW, kerjaannya syerem amat ya. Untung nggak kejadian
Rorotan tetanggaan ama Cilincing. Perbatasan dengan Bekasi. Industri yang ada kebanyakan adalah industri kapal, tekstil, pengolahan sampah. Lokasi juga tidak jauh dari lokalisasi pelacuran. Tingkat kriminalitas agak tinggi. Kalau siang, hati-hati dengan polisi Rorotan. Kalau malam, hati-hati dengan bajak motor. Baca harian POSKOTA untuk lebih lanjut mengenai keamanan Rorotan.
Februari 17, 2007 at 1:53 am
Huaaa…
Serem amat daerah kerja saya ya….
Alhamdulillah, selama ini sih baik-baik aza. Datang sesudah orang lain datang, pulang sebelum orang lain pulang
.
Hehhee, pasti situ bos gila yaaa… hehehe
Februari 20, 2007 at 5:14 am
ngumpetnya dari sejak Indonesia belum merdeka, nama musuh dalam selimut itu macam macam, ada bangsat bin koruptor, ada bangsat alias pembalak liar. Ada juga si bangsat berjuluk illegal miner in illegal mining
Kalau ada nama…, turunin dong tulisannya. Keren tuh. Hehehe
Februari 21, 2007 at 5:07 am
pantesan kmaren kereta mati lampu. gurul nya kurang kali ya?
Hehehe… Mati lampu akibat permintaan copet. Hehehe
Februari 22, 2007 at 2:17 pm
Yah, kirain jadi dikangkangin bulek jepun? Gag yah? *kuciwa*
*aku ra sudi memuaskan imajinasi sampeyan… hehe*
Maret 5, 2007 at 2:57 pm
walah critanya gitchu aja toh? gw kira ada malah Jinggo-San nya yang abang suruh ngangkang, ihik…ihik….
Masyampuunnn.. teganya dirimu! hehe
Maret 5, 2007 at 3:01 pm
hm……………… knapa kagak u aja yang jadi jinggo-san nya om? wekekwekekwekek uenak tenan…………… tatuttttttt…..
Roy ama True orangnya sama yaaa? Hehehe
Maret 5, 2007 at 4:06 pm
bussset…….. enak aja brur!!!!!!!!!!!!!!!!!
Hehehe… abis IP nya sama seh… Hehehe. atau nggak, pacaran gitu kali yaa? (*maksa banget ngehubungin-hubungin*)
Maret 6, 2007 at 7:11 am
ga yakin klo ini ending nya:
Saya pulang. Membelah malam dengan taksi. Menuju Cilincing tercinta.
jangan2 ending nya……… hwm hwm….
wah..wah.. ini yang namanya su’ujon. Artinya, berburuk sangka kepada pemuda manis.
Hehehe
Maret 11, 2007 at 7:48 am
mas arif ini teh kisah tentang apa seh
Hehehe, bingung yaaa… Ayo baca lagi.. hehe
Maret 27, 2007 at 3:21 am
[...] mafia dan para aparat yang bertebaran di negara Indonesia ini. Disini juga kita bisa menuangkan cerita cerita dan pengalaman menarik, sekaligus curhat. Maupun berbagi ilmu pengetahuan. Disini juga bisa [...]
April 4, 2007 at 7:10 am
bner g tuh critaX? mbok klo syarat dPet sumbnGn biz ama kereta api musti mekangkang dulu y mndingn g sah mank qta ngeri pa’an bwt ndaptIn hibahAn biz ma Kereta musti mekangkang dulu.cPek dEcH!!!!
Saya juga capek membaca gaya tulis kamu. Hehehe
April 9, 2007 at 10:46 pm
Mekangkang?
April 17, 2007 at 9:06 am
Ah, elu Rif, ketemu juga tongkrongan loe. Sukses toh bro!
Iya Bung… ini tongkrongan gue yang baru. Ga ada elo Bung, ga ada Boni, ga ada Cafe Buku. Mendingan gue nulis aje disini. Hahaha. Pakabar PANTAU?
Oktober 11, 2007 at 7:24 am
vrginitas ama aja dgn kprjakaan, alias ama pentingnya. tergantung stiap individu yang mengartikan sie, but stelah dpertimbangkan sbg seorang manusia yang sdikit banyak mnjalani hidup, timbul pertanyaan dibenakku apakah penting seseorang mengorbankan harga dirinya hanya walaupun buat negara,ak yakin msh bnyak pngorbanan yang lebih baik dari itu. kasian bgt org itu, mngorbankan harta dunia akhirat, kasian bangsa kita kalau harus merasakan sisa knikmatan seorang penjajah dari kpedihan bangsa kita. so, Mr.4rif, anda trmask org yg brntung donk..
Februari 23, 2008 at 9:09 am
jadi sekarang lo masih perjaka ga nih?? n then, who’s your “gurul” now?
Perlu dijawab?
Maret 26, 2008 at 9:08 pm
helo… bang alif ngetop… kok baru tau sih ceritanya…. waku kita diuber hantu Belanda kok gw ngk lo criit…. aiiiinn…