Mei 2007


Katanya, hidup di Jakarta susah. Lebih susah lagi kalau tinggal di daerah susah. Seperti Cilincing misalnya. Desa ini tetap saja jadi sahabat akrab sensus IDT, Inpres Desa Tertinggal. Setiap tahun! Seakan tidak pernah ada kapoknya menjadi desa miskin. Duh gusti!

 

Saya pulang kampung, ke Cilincing, untuk menjadi guru. Menjadi salah satu staff pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

 

Ternyata tidak mudah menjadi staff pengajar di perguruan tinggi negeri. Staff baru, harus menjalani beberapa tahun (percobaan) dalam rangka dinas mengajar. Pada tahun-tahun (percobaan) itu, si pengajar disebut sebagai staff sementara. Artinya simpel, penghasilan dan fasilitas tidak sama seperti staff tetap. Namun, pekerjaan (umumnya) dua kali staff tetap. Yaitu, pertama, harus mengajar para mahasiswa. Kedua, harus jadi asisten gelap staff tetap (istilahnya: kacung dosen senior).

 

Waktu itu, saya berfikir baik. Sebab toh mimpi saya masih tetap terkabulkan. Saling berbagi ilmu dengan anak muda generasi baru ini. Namun ketika uang tabungan sudah mulai menipis, disedot biaya hidup hari-hari Jakarta. Saya sadar, hidup tidak bisa hanya dengan mimpi.

 

Nugi, teman sekaligus tetangga saya, menawarkan solusi jitu. Mungkin bosan dengan curhatan saya akan kerasnya ibukota, suatu hari ia berkata “Bang, lo kan punya motor! Ngojek aja. Mau ga?”. Saya menjawabnya dengan senyum dan langsung mengiyakan usul gemilangnya itu. Toh ngojek itu halal. Bukan kriminal.

 

Akhirnya, sejak saat itu, saya menjalani kehidupan ganda. Pagi hari sampai sore, menjadi dosen. Malamnya menjadi tukang ojek. Mangkal di pintu masuk komplek perumahan karyawan. Mirip Batman. Bedanya, saya masih tahu diri, tidak memperlihatkan kancut kepada publik seperti Batman lakukan.

 

Inilah sepenggal kisah ketika saya menjadi tukang ojek.

Sebuah dunia, yang saya lihat ketika bulan bertahta tengah malam. Ketika manusia-manusia lain tertidur lelap di pembaringan. Dunia di mana terlihat wajah-wajah kuyu menahan kantuk untuk tetap bertahan hidup.

Sebuah dunia… di mata seorang tukang ojek.

 

  (lebih…)

(* Ternyata Bu Dokter mbaca Blog saya dengan topik sebelumnya yang agak ‘serius’.. walhasil diomelinlah saya oleh Ibu Dokter yang manis itu. Ga boleh serius katanya. Hahaha. Ya udah, nulis yang enteng-enteng aja deh. Penontoon.. silahkan mampirrr. Tapi hati-hati loh. Tulisan ini panjang sekali*).

Sebelumnya, ijinkan saya memperkenalkan pada anda para pemain lakon yang akan menjadi korban tulisan kali ini. (*Tentu saja bukan nama sebenarnya. Sebab saya belum rela digebukin orang sekampung ketika pulang ke Cilincing nanti*)

Pelaku:

Ipul : 21 tahun. Jauh-jauh dari Flores, merantau ke Jakarta sebagai tamtama. Pangkat Prajurit Dua. Tampangnya lumayan oke lah. Biar kulitnya item, katanya item-item kreta api. Biar item banyak yang ngantri.

Junah: 19 tahun. Salah satu kembang desa Cilincing. Manis, cantik dan jago kosidah. Rebutan ABG Cilincing. Suaranya sungguh aduhai. Kalau berjalan pinggulnya bergoyang. Membuat para ABeGe jantungnya empot-empotan.

Udin Petot: Tokoh idola kita semua. Apabila ada orang ini disamping anda, maka dapat dijamin anda akan mengalami hari dan pengalaman yang cukup aneh. Walaupun bejat, cabul dan aneh, tingkat kesetiakawanannya lebih tinggi daripada teman-temannya Cliff Muntu, yang ketika temannya dikeprukin hingga mati, mereka malah memilih bungkam.

Bek Soip: Bapaknya Junah. Ganas, sadis, kumisnya baplang, mirip tokoh bandit dalam pelem-pelem 70′an dikala Rano Karno masih memulai karir jadi aktor. Cilincing aseli, tapi kelakuannya malu-maluin orang betawi. Ngaku-ngaku betawi, tapi jadi preman, memeras pedagang kecil. Kemana-mana bawa golok. Selain akibat masa mudanya bekerja sebagai jagal sapi, ia mengaku apabila bawa golok terlihat gagah perkasa. Padahal mah buat nakut-nakutin warga.

Arif alias Bangaip: Biasalah… pelengkap penderita.

Pak RW: Pensiunan perwira militer. Tokoh ini biasanya muncul belakangan. Mirip kiai dalam pelem-pelem horor Indonesia. Ketika hantu sudah merajelala, kiai dateng, baca-baca doa, hantunya bubar ketakutan. Menancapkan imaji pada anak-anak kecil bahwa kiai-kiai adalah penyelesaian instan semua masalah. Bedanya dengan kiai, Pak RW engga pake jubah, sorban, jenggot dan ga bawa tasbeh. Persamaannya= sama-sama dari instansi yang berkuasa di Indonesia, militer dan agama. (*kenapa yaa yang jadi penguasa kampung, kalo nggak tokoh agama… ya tokoh militer?*)

Haji Amir: Tokoh yang tidak kalah anehnya dengan Udin Petot. Bukan haji aseli. Tapi kemana-mana selalu pake sorban, peci putih, baju koko putih, dan sarung putih. Serba putih, niru-niru rumah sakit. Walaupun bukan haji, beliau selalu mengenalkan namanya kepada orang baru yang tak dikenal sebagai “Nama saya Amir… Haji Amir”. Begaya mirip James Bond kalo kenalan ama cewek cakep.

Ini cerita selengkapnya.
(lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.