(* Ternyata Bu Dokter mbaca Blog saya dengan topik sebelumnya yang agak ’serius’.. walhasil diomelinlah saya oleh Ibu Dokter yang manis itu. Ga boleh serius katanya. Hahaha. Ya udah, nulis yang enteng-enteng aja deh. Penontoon.. silahkan mampirrr. Tapi hati-hati loh. Tulisan ini panjang sekali*).
Sebelumnya, ijinkan saya memperkenalkan pada anda para pemain lakon yang akan menjadi korban tulisan kali ini. (*Tentu saja bukan nama sebenarnya. Sebab saya belum rela digebukin orang sekampung ketika pulang ke Cilincing nanti*)
Pelaku:
Ipul : 21 tahun. Jauh-jauh dari Flores, merantau ke Jakarta sebagai tamtama. Pangkat Prajurit Dua. Tampangnya lumayan oke lah. Biar kulitnya item, katanya item-item kreta api. Biar item banyak yang ngantri.
Junah: 19 tahun. Salah satu kembang desa Cilincing. Manis, cantik dan jago kosidah. Rebutan ABG Cilincing. Suaranya sungguh aduhai. Kalau berjalan pinggulnya bergoyang. Membuat para ABeGe jantungnya empot-empotan.
Udin Petot: Tokoh idola kita semua. Apabila ada orang ini disamping anda, maka dapat dijamin anda akan mengalami hari dan pengalaman yang cukup aneh. Walaupun bejat, cabul dan aneh, tingkat kesetiakawanannya lebih tinggi daripada teman-temannya Cliff Muntu, yang ketika temannya dikeprukin hingga mati, mereka malah memilih bungkam.
Bek Soip: Bapaknya Junah. Ganas, sadis, kumisnya baplang, mirip tokoh bandit dalam pelem-pelem 70′an dikala Rano Karno masih memulai karir jadi aktor. Cilincing aseli, tapi kelakuannya malu-maluin orang betawi. Ngaku-ngaku betawi, tapi jadi preman, memeras pedagang kecil. Kemana-mana bawa golok. Selain akibat masa mudanya bekerja sebagai jagal sapi, ia mengaku apabila bawa golok terlihat gagah perkasa. Padahal mah buat nakut-nakutin warga.
Arif alias Bangaip: Biasalah… pelengkap penderita.
Pak RW: Pensiunan perwira militer. Tokoh ini biasanya muncul belakangan. Mirip kiai dalam pelem-pelem horor Indonesia. Ketika hantu sudah merajelala, kiai dateng, baca-baca doa, hantunya bubar ketakutan. Menancapkan imaji pada anak-anak kecil bahwa kiai-kiai adalah penyelesaian instan semua masalah. Bedanya dengan kiai, Pak RW engga pake jubah, sorban, jenggot dan ga bawa tasbeh. Persamaannya= sama-sama dari instansi yang berkuasa di Indonesia, militer dan agama. (*kenapa yaa yang jadi penguasa kampung, kalo nggak tokoh agama… ya tokoh militer?*)
Haji Amir: Tokoh yang tidak kalah anehnya dengan Udin Petot. Bukan haji aseli. Tapi kemana-mana selalu pake sorban, peci putih, baju koko putih, dan sarung putih. Serba putih, niru-niru rumah sakit. Walaupun bukan haji, beliau selalu mengenalkan namanya kepada orang baru yang tak dikenal sebagai “Nama saya Amir… Haji Amir”. Begaya mirip James Bond kalo kenalan ama cewek cakep.
Ini cerita selengkapnya.
Hari sabtu sore, ba’da ashar, saya dan teman-teman nongkrong di pinggir musolah. Junah lewat. Nampaknya baru pulang latihan kosidah. Udara Cilincing yang pengap, bau, plus ditambah panas dan berdebu itu tiba-tiba terlupakan. Sosok Junah sungguh begitu menggoda. Semua yang ada di halaman musolah nampak terpesona.
Hanya sepasang mata yang terus menunduk. Matanya Ipul, anak baru. Entah kenapa, bisa sial, ditugaskan oleh komandannya ke Cilincing. Di pos penjagaan logistik. Ipul menunduk… Saya mengerti, Ipul sedang istigfar. Matanya tak kuasa menatap godaan pinggul Junah.
Ipul adalah prajurit idaman. Ganteng, gagah perwira, rajin sholat, jujur dan ga pernah lepas dzikir. Sayangnya, ia prajurit dengan urutan paling bawah. Artinya simpel, gaji kecil, tanpa tunjangan perumahan, dan masa depan yang suram. Sebab mereka-mereka inilah yang biasanya dikirim pertama ke garis depan pertempuran. Mempertaruhkan nyawa dengan bayaran tiga ratus ribu perbulan.
Ipul, walaupun gajinya kecil, tetap menjunjung tinggi kode etik yang ia percayai. Ia tidak menjadi beking diskotik, judi koprok, apalagi lokalisasi pelacuran liar yang banyak bertebaran di Cilincing. Sebagai gantinya, Ipul lebih memilih puasa senin kemis. Ipul adalah tentara yang luar biasa.
Tapi… persetan dengan Ipul. Lamunan saya sedang tertuju pada Junah.
Saat ini hanya ada Junah.. dan Junah seorang. Oh Junah… tiada hari yang indah tanpa kehadiranmu. Andai Iwan Fals pernah bertemu denganmu, pasti kau akan dijadikan tema salah satu lagu cintanya.
Disaat lamunan saya sedang berasyik-masyuk dengan Junah. Tiba-tiba Udin Petot datang, tangannya menyenggol-nyenggol lengan saya. “Bang… Bang… Cakep banget tuh anak yaa. Siapa bang? Kenalin dong?”
Astaga… Wajah Udin Petot meruntuhkan sudah semua angan-angan indah yang saya bangun sore ini.
Belum sempat saya menjawab (dan mengusir) Udin Petot. Haji Amir muncul dari serambi dalam musolah. “Rip… Din… Beliin lampu neon untuk tempat wudhu. Kalo malem gelap tuh!”.
Astaga! Haji Amir seperti tidak pernah muda saja deh! Kan saya sedang cari cara mendekatkan diri pada Junah?
Ahh tapi… Tak kuasa saya menolak permintaan Haji Amir. Kemaslahatan umat lebih utama (*ceileee, boong banget! Padahal ngarepin uang kembalian lampu buat jajan*).
Udin Petot cengar-cengir, “Bang, ayo bang. Kita ke JAYA, beli neon! Saya ikut ama abang, dibonceng dibelakang motor. Sekalian jalan-jalan sore”.
Saya sebenarnya enggan pergi ke JAYA bersama Udin Petot. Sebab JAYA adalah bioskop satu-satunya yang ada di Cilincing. Maslahanya, tidak jauh dari bioskop ini, menuju ke arah selatan, adalah lokalisasi pelacuran yang amat terkenal di Jakarta, Kramat Tunggak. Saya khawatir, niat suci Udin Petot membeli neon musolah tergelincir jatuh ke pelukan wanita penghibur.
Sesampainya di JAYA, kami ke Toko A Hong, penjual elektronik terlengkap di Cilincing. Toko ini terletak di seberang bioskop. Saya masih memilih merek lampu neon yang daya listriknya kecil dan tahan lama ketika Udin Petot tiba-tiba menyenggol lengan saya:
+ “Ada apa sih Din? Cowal-cowel gue melulu. Emangnya gue sambel?”
- “Bang…, di samping toko A Hong ada toko bagus, Bang. Sumpah deh!”
+ “E-eeh… Lo mao maen lonte lagi yaa? Insap Din! Insaap!”
- “Bang, jangan kenceng-kenceng dong. Malu nih gua”
+ “Gue udah ga mao jadi korban lo. Cukup sekali ama Chyntia Putri!”
- “Demioloh deh Bang. Sumpah. Burut dah gue kalo maen lonte!” (*Burut=hernia*)
+ “Eh bocah, ti-ati lo. Sumpah bawa-bawa nama oweloh. Emang toko apaan sih”
- “Ga tau, Bang. Tapi didepannya ada tulisan gede RAHASIA KEJANTANAN PRIA”.
Wah… Yang namanya rahasia, selalu menarik untuk diungkap. Apalagi yang berbau kejantanan pria. Naluri abege saya terusik. Naluri ingin tahu. Namanya juga abege, pasti selalu mau tahu hal-hal yang membuat ia nampak lebih perkasa dibanding abege lainnya.
Segera setelah membayar neon untuk musolah. Saya dan Udin Petot nyelonong masuk ke toko tersebut. Toko tersebut tidak terlalu besar. Ukurannya 4 x 5 meter. Nampak beberapa meja dan bangku mengisi sebagian besar ruangan ini. Seperempat bagian toko, di bagian sudut ada bar. Di bar tersebut. tertampang botol-botol beraneka warna dan toples-toples berisi cairan-cairan aneh. Seorang mas-mas penjaga nampak duduk dibelakang bar. Sementara, kipas besar menggelantung di langit-langit toko, mengusir lalat-lalat Cilincing yang beterbangan kian-kemari.
Di dinding yang berwarna biru buluk itu, terpampang tulisan ajaib bercat kuning:
RAHASIA KEJANTANAN PRIA
- Tangkur Buaya, penambah stamina pria. Asli Kalimantan. Rp 500
- Anak Menjangan, pemuas selera wanita. Asli Irian. Rp 500
- Empedu Kobra, membuat garang di ranjang. Rp 1000
- Ginseng Korea, terbukti ampuh sejak zaman dulu kala. Rp 300
Saya melirik Udin Petot dengan tatapan mata menyelidik. Udin Petot langsung mendehem dan berbisik ke telinga saya, “Demioloh deh, Bang. Abis nyoba ini gue ga bakal maen lonte. Dan abang jangan takut, gue traktir, Bang!”. Saya manggut-manggut, meniru lagak pejabat yang sidak di lapangan ketika dijelaskan oleh pimpinan pelaksana proyek.
Karena ditraktir, jelas saya harus tahu diri. Saya memesan Ginseng Korea. Paling murah sih. Tidak lama kemudian, mas-mas penjaga itu mengambil toples besar yang berisi cairan dan akar berwarna coklat tua. Menuang isinya ke gelas. Lalu menyodorkan gelas tersebut pada saya. Saya memandang jijik ke arah cairan coklat di gelas saya. Senyum Udin Petot yang mengembang, membuat saya harus menelan ludah. Dan pelan-pelan meneruskan cairan aneh itu melewati tenggorokan. Meminumnya hingga tandas.
Di samping, saya lihat, Udin Petot sudah memulai eksperimennya. Tidak tanggung-tanggung, empat gelas warna-warni berdiri menantang dimejanya. HUPPP! Udin meminumnya satu persatu. Penuh percaya diri, tanpa rasa jijik dan enggan seperti saya. Udin Petot menjadikan dirinya kelinci percobaan.
Lima menit kemudian, saya merasakan badan saya terasa lebih panas. Sementara Udin Petot masih saja sibuk dengan eksperimennya. Beragam gelas warna-warni tampak sudah memenuhi meja kami. Saya mengajak Udin pulang. Badan saya terasa panas sejak meminum Ginseng Korea. Udin pun merasakan hal yang sama. Setelah membayar eksperimen mahal ini, kami pulang, menuju musolah.
Di perjalanan, Udin tidak henti-hentinya mengeluh. Katanya badannya terasa panas sekali. Saya curiga, jangan-jangan kami diracuni mas-mas penjaga toko. Tapi untuk apa? Apa motifnya? Kenal juga nggak?
Sebentar lagi sampai musolah. Namun Udin Petot nada suaranya sudah mulai meninggi. Ia sudah tidak kuat, kepanasan.
- “Ya olooh, Bang… Panas bener nihh”
+ “Sabar Din… Bentar lagi nyampe”
- “Ya oloh ya robi, panas beneeerr”
+ “Iya Din, sabar Din. Tapi ngomong-ngomong tuh lampu neon pegang yang bener dong! Jangan nyodok-nyodok punggung gue”
- “Aduh Bang, maap. Lampunya ketinggalan di toko rahasia kejantanan pria”
+ “Loh.. apaan tuh yang nyodok-nyodok punggung gue?”.
Udin tidak menjawab. Kami diam sesaat. Hingga akhirnya saya sadar. Efek minuman Rahasia Kejantanan Pria bukan hanya badan yang terasa panas melainkan juga…
+ “Bajingan lo Din! Mundur lo duduknya! Jangan mepet-mepet ke badan gue!”
- “Aduh Bang…, jangan dong Bang… Takut jatoh nih…”
Saya makin maju duduknya. Kearah setang motor.
Sial! Semakin saya duduk maju ke depan sadel motor. Semakin kuat Udin makin mencengkram bahu saya. Semakin pula saya rasakan sodokan-sodokan aneh di punggung saya. Sial!
Sementara lolongannya panasnya makin lama makin memilukan. Akhirnya saya tidak tega. Saya bawa dia ke rumah. Untung tidak ada orang di rumah.
Udin saya suruh mandi. Mendinginkan otak dan badannya. Saya sendiri terpaksa ganti baju. Keringat sudah membahasi pakaian saya. Sebagai gantinya, saya pakai sarung.
Udin Petot keluar mandi. Jalannya agak aneh. Kaki kiri dan kaki kanan tampaknya bermusuhan. Tidak lazim berdekatan seperti biasanya.
- “Masolooh Bang. Masih panas nihh… Ya oloh ya robi, ampunilah hambamu ini”
+ “Giliran kayak gini aje lo. Inget owloh!”
- “Ya olooh, Bang. Panas bener. Pinjem sarung dong. Huhuhu…”
Saya meminjamkan sarung kepada Udin. Matanya berkaca-kaca. Ia menangis. Saya tahu, ia takut apabila harus mengalami ereksi terus-terusan. Disfungsi ereksi adalah salah satu momok yang amat menakutkan bagi pria.
Udin tiba-tiba terjatuh. Tangisnya berhenti. Mungkin sudah sedemikian stressnya. Udin jatuh pingsan. Saya membopongnya ke sofa. Mencoba memberikan alas yang lebih baik.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Nampak Junah membawa rantang berisi makanan kenduri di ambang pintu. Tangannya yang menggenggam rantang terbuka.
GLOMPRANGGGG!!! Rantang tak berdosa itu jatuh bergelontangan di lantai. Junah menatap saya dan Udin Petot dengan tatapan mata terbelalak. Saya yang sedang menaruh bantal sofa untuk kepala Udin ikut kaget. Udin Petot sudah tidak sadarkan diri.
J: “Ya olooh, Bang… Aye nggak nyangka?… MASOLOOHHH!”
B: “Jun.. tunggu dulu Jun. Abang nggak ngapa-ngapain ama Udin”
Percuma. Junah sudah lari keluar halaman. Ia shock, melihat dua laki-laki berdekatan tanpa baju dan hanya memakai sarung. Salah seorang terbaring di sofa tak sadarkan diri dengan bagian atas sarung teracung tegak menatap langit.
Saya panik (saking paniknya, lupa pakai baju)… lalu lari ke rumah Pak RW. Menceritakan kejadian selengkapnya. Sebab gawat, apabila Junah (tanpa didukung data yang lengkap) lebih dulu melapor ke bapaknya, Bek Soip, bahwa saya coba memperkosa Udin Petot. Saya bisa dijadikan kornet oleh warga Cilincing.
Pak RW manggut-manggut mendengar cerita saya. Lalu memanggil Haji Amir untuk konfirmasi berita ini. Lebih sial lagi, saya harus menjelaskan bahwa saya hanya minum segelas ginseng ketika mereka berdua bertanya “Loh kamu kok nggak kena efeknya?”. Seakan curiga akan kejantanan saya jauh lebih rendah dibawah kualitas level Udin Petot. Bah!
Pendek kata, pendek cerita. Masalah ini akhirnya berlalu sudah.
Saya dan Udin Petot gagal mendapatkan Junah.
Tidak lama kemudian, Junah bersanding naik ke pelaminan bersama Ipul. (*Kalau sudah begini, kami punya kalimat sakti ‘Jodoh, maut, rizki udah ada yang ngatur’*)
Bek Soip bangga punya menantu militer. Mengamankan posisinya di Pasar Jongkok, sebagai penguasa tunggal penarik pajak tak resmi pedagang-pedagang kecil. Para pedagang kecil sebenarnya muak bayar upeti. tapi takut dibawah tudingan golok dan kumis baplang Bek Soip.
Ipul, yang malu dan bosan dijadikan tameng oleh mertuanya, pindah menuju villa kontrakan indah sambil memboyong istri tercintanya, Junah.
Tiga bulan setelah pindah mengontrak, Ipul menyadari, gajinya sebagai tamtama selalu habis hanya untuk bayar uang kontrakan dan makan. Tidak ada lagi acara bahagia pacaran jalan beduaan ke Ancol seperti masa pacaran dahulu. Sementara Junah membawa kabar berita gembira… kehamilannya sudah berjalan tiga bulan.
Empat bulan setelah pindah mengontrak, Ipul bimbang. Ia melamar kerja di Bar Monggo Mas di Tanjung Priok sebagai tenaga keamanan. Eufimisme sebagai beking dibelakang judi dan lokalisasi terselubung. Ia harus cari uang membeli susu hamil untuk Junah yang harganya makin selangit.
Ipul, tamtama yang luar biasa… Harus menyerah kalah dalam pertempuran antara gajinya melawan harga-harga di Jakarta. Bertekuk lutut dibawah ganasnya Ibukota.
Delapan bulan lebih kemudian, pulang dari Depok. Saya bertemu Ipul di stasiun Tanjung Priok.
+ “Eh Ipul, apakabar Pul?”
- “Sepi, Bang. Sudah jarang yang mampir kesini. Sejak banyak razia”
+ “Loh kok bisa sih. Emang jatah untuk polisinya ga ada?”
- “Kalau itu selalu ada Bang. Sekarang bukan hanya polisi sih yang razia, Bang”
+ “Eh iya, omong-omong kandungan Junah gimana?”
- “Itu lah masalahnya, Bang. Pusing kita ini cari-cari selah kiri-kanan”
+ “Pul, saya pulang dulu yaa. Mampir yaa ntar ke rumah”
- “Eh Bang… Maaf Bang… Boleh hutang”
+ “Untuk apa dan berapa, Pul?”
- “Junah harus di caesar, Bang. Butuh sejuta”
+ “Waduh maap, Pul. Saya nggak punya sebanyak itu. Kalo untuk makan sehari mah ada”
- “Maap bang merepotkan”
+ “Butuh kapan, Pul”
- “Dua hari lagi”
Saya tidak bisa membantu Ipul. Tidak punya uang. Namun, dua hari kemudian saya tetap ke rumah sakit. Menjenguk Junah. Bek Soip nampak di sebelah anak satu-satunya tersebut. Di luar kamar, banyak warga kampung yang mengantri untuk membesuk.
Dari sekian banyak orang, tidak terlihat batang hidung Ipul.
Udin Petot menghampiri saya. Tangannya menyodorkan koran kuning ibukota hari ini. Di halaman depan, terpampang headline besar ‘OKNUM TENTARA RAMPOK OJEK’. Di bawah headline, poto seorang laki-laki, hanya mengenakan celana dalam, badannya biru-biru dan berlumur darah kering bekas pukulan massa.
Walaupun foto mata sang pelaku sudah ditutupi blok hitam, saya masih mengenali Ipul disana.
Mei 13, 2007 at 7:43 pm
Maunya duit itu tiap hari dicetak banyak-banyak, lalu dihamburkan pakai helikopter ya…
(Tapi tatanan masyarakat bisa kacau, sih…)
Btw, pertamax…?
Mei 14, 2007 at 12:44 am
gleg …..
baca dr awal ….. baru inget klo judulnya itu stlh masuk ke toko lampu
hehehehhehhehehe
Mei 14, 2007 at 2:56 am
bangaip banget ceritanya, multi dimensi
**welkam bek**
Mei 14, 2007 at 3:07 am
bangaip is back…
Mei 14, 2007 at 3:15 am
bang, bukannya baca mantra-mantra buat ngegaet junah?
btw, iya ya bang, jadi sadar, banyak ipul-ipul lain diluar sana!, ipul yg pejabat, ipul yang wakil rakyat & ipul yang lari keluar negeri, andai mereka bisa digebukin massa, ikutan juga nggak bang!
Mei 14, 2007 at 5:27 am
ipul mungkin salah satu korban tekanan ekonomi atau korban gaji minim seorang tamtama di tanah air ini, junah adalah korban istri seorang tamtama, bang arif adalah korban Ginseng Korea(terbukti ampuh sejak zaman dulu kala. Rp 300)
dan saya adalah korban merajalelanya blog hingga bisa berkomentar disini
Mei 14, 2007 at 5:56 am
ITULAH INDONESIA…. sulit memang menjadi orang jujur, apalagi di indonesia. mungkin memang lebih gampang bersikap jujur di luar negeri, walaupun cuma jadi pembantu, tapi gajinya udah gede, gak perlu nilep uang belanjaan. tapi di indonesia, ?? ?? ??
Mei 14, 2007 at 8:05 am
Balada Ipul dan Junah. Akhir yang tragis.
Btw, gimana tuh cara mengatasi neonnya si Udin Petot waktu mengacung terus ?
Mei 14, 2007 at 9:00 am
Jadi ingat kasus Ellyas Pical… Mantan petinju Indonesia yang pernah pegang gelar IBF tahun 1980-an…
Ketangkap jadi kurir narkoba di diskotik… Kerjaannya jadi ‘penjaga keamanan’ juga sih…
Habisnya pemerintah nggak memperhatikan nasib atlet yang udah mengharumkan nama bangsa…
Hiks…
Mei 14, 2007 at 10:12 am
Gara-gara gaji kecil ya…duh…
Mei 14, 2007 at 10:26 am
wah gimana donk nasib Junah kasihan kan , lagian di caesar ini, alah apa pula ini maksudnya
Mei 14, 2007 at 11:45 am
Waduuh,, dilema,, pengennya semua punya duit cukup,, tapi ga mungkin ya,,?
Mei 14, 2007 at 12:03 pm
panjang,sesuai judulnya, kejantanan…
Mei 14, 2007 at 1:07 pm
waduh…itulah orang Indonesia…dan orang sekarang nggak ada lagi yang jujur…
Mei 14, 2007 at 1:11 pm
Lumayan juga ceritanya…
saya e-mail : tuannahoda@yahoo.co.id
Mei 14, 2007 at 3:54 pm
panjang om…
saya simpan dulu, tar malem dibaca, besok pagi baru komen lagi yah om :p
Mei 14, 2007 at 4:51 pm
Kesimpulannya? rampok ojek buat ngebuktiin soal kejantanan pria atau apa Rif? Kirain, rahasianya minum obat kuat. Tapi bagus kok ceritanya. Walau sambil terkantuk2 membacanya hehehe.
Mei 15, 2007 at 5:10 am
lha itu “batang” si udin di gimanain akhirnya?
Mei 15, 2007 at 6:41 am
hitam dan putih tercampur baur di setiap cerita bang aip. tragis.
*
btw, bang aip jurnalis bukan? betul ga?
Mei 15, 2007 at 8:00 am
dah lama ga baca tulisan yang kayak gini.. keren.
Mei 15, 2007 at 2:55 pm
nah ini dia gaya nya bang arip yg asli..
hehe
Mei 15, 2007 at 3:38 pm
egh…
gaji tentara skrg brp ya?
Mei 15, 2007 at 6:42 pm
Tragis bener nasibnya si ipul, dari sakti mandraguna karena banyak puasa, akhirnya di gebukin sampai memar semua. Semua hanya demi Junah tersayang.
Mei 15, 2007 at 7:59 pm
Batangnya si Udin g dipotong aja?
Mei 16, 2007 at 2:09 am
Waw Bang, seperti biasa. Ceritanya Oke, sangat menggugah + Lucu, penuh dengan pesan2 MOral tapi dibawakan dengan cara berbeda.
Bang, kok gak bikin buku aja. Judulnya “Kumpulan Cerita dari Cilincing”..dijamin saya yg pertama membeli…hahahaha
Mei 16, 2007 at 7:19 am
Udah tau punya kerjaan tentara yang jual nyawa buat negara, negara yang tidak bisa menghargai prajuritnya. Udah tau gaji kecil, buat hidup sendiri aja kurang.
Tapi kok masih berani memperistri si janah? Paling pembenarannya ya “Kalimat sakti” di atas.
Ipul bego, kasihan Junah dan anaknya.
Mei 16, 2007 at 7:51 am
Enak kaya’nya punya berbagai pengalaman yg unik & di re-publish dlm tulisan yang apik. Selamat buat bang Aip, sy tetap setia menanti your next adventures
Mei 16, 2007 at 9:44 am
waooooo….
ceritanya selalu bikin aku berdecak!
Mei 16, 2007 at 9:53 am
kok ane selalu jadi peran pembantu sih bang? ato justru sutradaranye? :p
Mei 16, 2007 at 9:58 am
kok ane sih, ente dink..wakakaka, sok2 pke bahasa ala cilincing malah salah
Mei 16, 2007 at 10:25 am
huh…kalo baca ini makin lengos ama jakarte…hehehe
good story cak!
Mei 16, 2007 at 2:01 pm
waduh… ngakak blon slesai, dah dihantem nyang pait-pait…
kapan-kapan kalo sempet dibalik ye, bang? ngakaknya blakangan, biar kayak pelem india…
Mei 17, 2007 at 8:04 am
si Ipul jadi rampok demi belain anak istrinya ya? kasian juga jadi prajurit itu karena pemerentah ga bisa ngejamin kesejahteraan hidup rakyatnya.
ngomong2 apa si petot belon sadar juga
Mei 17, 2007 at 1:53 pm
Numpang nimbrung nih Bang…
Waduh, kok akhirnya selalu tragis bin miris sih Bang. Padahal ogut udah ketawa2 di awal. Terus nasib si Ipul gimana? Eh, anu.. Eng.. Nasib si Junah terus bagaimana? :p
Mei 17, 2007 at 9:21 pm
Bilangin ipul suruh minta aku aja, drpd ngerampok ojeg, so sad… hiks
Mei 18, 2007 at 4:47 am
himpitan ekonomi bisa menjadikan orang baik berbuat nekat– jadi inget moster pasir di spiderman3
Mei 18, 2007 at 2:09 pm
duh, kesempitan sering membuat orang jadi kalap ya…
Mei 18, 2007 at 3:43 pm
hahah bangaip… tulisan ini yang kutunggu2 bagaimana menjantankan pejantan… makasih resepnya tapi ngomong2 ini sudah terbukti kan… (sambil malu2 ngomongnya)
makasih dah nyambangi kebunku… ternyata tulisannya enak dinikmati hingga berdimensi luas…
Mei 19, 2007 at 1:59 am
ngos ngosan abis baca…
Mei 19, 2007 at 10:50 am
Jari2 kriting wat skorling

***]
Sipetot ga bareng chitya putrinya bang?!
Sedih juga lihat gambaran si Ipul, jakarta ternyata mampu merubah pendirian orang dalam sekejap (lho mang berapa menit durasi ceritanya?).
[***bang aip, udin petot, siap2 nunggu jandanya si junah
Mei 20, 2007 at 1:21 am
jahhh si ipul… kasihan, dia cumen korban dari sulitnya hidup di jakarta.
Mei 20, 2007 at 6:47 pm
Lebih bagus dan lebih orisinil dari Pramudya. Setaraf dengan Putu Wijaya.
Mei 21, 2007 at 1:39 pm
Saingannya Sekspir ini mah
Mei 22, 2007 at 4:06 am
jadi tentara gajinya 300rebu plus di taro di barisan depan buat ngorbanin nyawanya ..
makanya gak usah jadi tentara..apalagi klo mo jadi tentara yang jujur.. bahh
Mei 22, 2007 at 11:12 am
hueeee…pengalaman yang seru ama udin petot lagi nih….btw skr dia kena disfungsi ereksi ga? hahahahaha
emang yaa himpitan idup bisa mengubah seseorang menjadi yang tidak terpikirkan sebelumnya…kapan yaa prajurit itu di hargai nyawanya?
Mei 23, 2007 at 4:03 am
huhuy….he..he..he…
Mei 23, 2007 at 12:32 pm
Apa yang Ipul alami, kayanya ini adalah fenomena Social Disobedience.
Niatnya sih hidup jujur, tapi kenyataan memaksanya berbuat kriminal
Jadi teringat “Jerry”nya Slank
Temanku seorang pengembara
Yang datang dari Timur Negeri ini
Coba mengadu nasib di Djakarta
Karena desa kelahirannya susah mengejar mimpi
Ternyata Djakarta Kota yang penuh srigala
Djakarta juga banyak ular ular
Ternyata Djakarta Kota yang penuh curiga
Djakarta juga bukan kota yang ramah
Sehari bertahan
Seminggu bertahan
Sebulan bertahan
Setahun benak mulai menghitam
Dia terpaksa turun ke jalan
Dia selami dunia hitam
Karena Djakarta penuh curiga
Karena Djakarta bukan kota yang ramah
Maaf Bang komennya kepanjangan………
Mei 23, 2007 at 6:03 pm
Ku tunggu dimainkan di sinetron loh bang… ayolah
Mei 23, 2007 at 8:23 pm
Efek Buruk Negara yang kaya tapi miskin suber daya..sampai gak bisa kasih balas jasa kepada tentaranya… mengenaskan….
Tentara di anggap anjing pejaga oleh pejabat indonesia..di bekali…senapan karatan dan uang makan saja…sialnya orang hidup gak cukup dengan makan…
Kenapa merampok kawan…kenapa tidak KUDETA saja.
Kenap tidak kau rampok saja..Penguasa rakusmu
Kenapa tak kau…serang saja itu senayan…
Mei 24, 2007 at 2:58 am
Iiyy aku setuju ama pak helgeduelbek..di bikin sinetron lucu juga tuh yah..kasian masy kita di suguhin pelem2 klenik yang gak mutu itu ..heheh
Mei 24, 2007 at 5:08 am
kalau dengar cerita begini, kita gak bisa nylahin polisi yang minta upeti sama pengguna jalan raya ya…lha untuk nyewa dan beli susu anak, gaji gak nyukupi…hmm(geleng-geleng kepala)
Mei 28, 2007 at 12:41 am
Walau baru sakit ternyata Bangaip tetap mantap
Ceritanya lumayan menyegarkan otak yang beberapa hari yg lalu cukup panas dan pusing…
BTW…
kakakakakakak
Kok Bangaip tetap lengket sama si udin ya?
Jangan-jangan…
Omong tentang perampokan dll….sepertinya banyak yang melakukan kriminalitas karena terpaksa…
Ya terpaksa butuh duit untuk makan
terpaksa butuh duit untuk berobat…
terpaksa karena butuh duit untuk beli mobil…
terpaksa karena butuh duit untuk nikah lagi…
dan banyak terpaksa2 yang lain…
Tetapi ingat..pada intinya semua itu karena niat atau kesempatan..
Ingat kata Bang Napi…
mengenai saya dan Udin… Saya juga bingung King. Tuh anak muncul terus dalam kisah hidup saya. Bikin males hidup aje. Hahaha
Mei 29, 2007 at 11:25 am
weh weh weh… bangaip emang T.O.P dech
Kirain saya Jantan.
Hehee
Juni 5, 2007 at 10:28 am
Nasib nasib.
Siapa yang patut disalahkan ya????????
Pemerintah? Atasan? atau dirikita yang kaga kuat iman?
Nggak usah nyalahin siapa-siapa Rid. Yang penting, terus berjuang aja untuk perbaikan.
Juni 11, 2007 at 1:35 pm
Kaga salah namanya Arif Kurniawan, bang Arif ini memang bijaksana dan karunia bagi seluruh blogger. Salut!
Juni 25, 2007 at 2:54 pm
sedih baca kisah si Ipul, mudah2an kita semua tidak ada yang akhirnya seapes (atau, lebih apes lagi) dari doi ya, amin, amin.
Udin petot jadi tokoh favorit saya di blog ini nih
Juni 26, 2007 at 7:33 am
wakakakak…baru baca lagi nih yang ini. mantaappss!!!
harusnya jadi sinetron hidayah nih
September 4, 2007 at 10:52 am
Kayak gitu ya bang jalan hidup manusia…
Masih coba minum gingseng korea? Apa justru yang lainnya
hehehhe canda bang…
wes pokoknya bang aip bangettt….
Saya udah nggak berani minum-minuman ajaib. Perut saya rewel luar biasa. Huehe.
September 6, 2007 at 6:53 am
Btw si Ipul sekarang masih jadi Tentara ga ya bang? Masih ada kabar ga?
Inget banget dulu pas masih kecil, waktu masih tinggal di asrama, aya maling mo nyuri tipi dirumah perwira, ketauan trus dihajar sampe babak belur di telanjangin cuma pake celdam doank… Ga liat pas digebukinnya cuma tau-tau udah babak belur…
Ipul masih jadi tentara. Anak makin besar. Keluarga mereka makin miskin. Sedih saya. Tapi sekaligus bingung, gimana mau mbantuin? Kesejahteraan abdi pemerintah golongan bawah memang sungguh mengenaskan
Oktober 11, 2008 at 5:12 pm
[...] seperti aku yang sukanya bernostalgia tersenyum…(halah)Dan ada juga yang aneh bin sureal kaya gini, yang bikin aku kemarin ketawa sendirian di [...]
Agustus 15, 2009 at 5:53 am
Lumayam juga materi cerita yg di kandung dalam blognya, Ipul melawan perang ketidak adilan melawan ganasnya kehidupan setelah mengenal surga dunia bawah pusar