(Pernah mbaca atau ndenger puisinya Taufik Ismail yang judulnya ‘malu aku jadi orang Indonesia’? Kalau belum… baca nih disini. Dijamin tidak rugi. Hehe. Kayak dagang aje, ada istilah untung ruginya.)

Beberapa minggu lalu, saya diundang Yasmina, anak teman. Yasmina, umur 21 tahun, mahasiswi kedokteran tingkat satu di sebuah universitas di kota besar. Bapaknya dari Brunai, mamanya mualaf Sweden. Hasilnya adalah perpaduan kecantikan eksotis dengan balutan hijab, seperti aurora yang bersinar pada malam yang gelap.

Ia, mengundang saya dalam sebuah pertemuan dengan beberapa wakil dari negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama islam. Pertemuan itu, diselengarakan oleh Yasmina dan teman-temannya untuk mencari solusi penanganan post trauma pada korban.

Di pertemuan tersebut, Saya mendapatkan sebuah pengalaman langka. Berbincang-bincang dengan pelaku bom bunuh diri (yang gagal) serta dengan korban pemboman bunuh diri (yang gagal pula, tentunya).

Si pelaku, pemboman bunuh diri, sebut saja John, adalah salah satu kenalan teman saya. Ia berasal dari Afghanistan. Lahir di sebuah kampung kecil di pinggiran Kabul, ibukota Afghan. Perawakannya mirip kebanyakan pria di Asia. Tidak terlalu besar. Rambutnya ikal. Kumis dan janggutnya tercukur rapi. Masih muda, baru saja ulang tahun ke 26 bulan lalu.

Sabtu, dua tahun lalu, bom yang dililitkan di badannya tidak meledak. John disadarkan keluarganya untuk meninggalkan Taliban, satu-satunya komunitas yang dulu dipercayainya pemilik tunggal surga. Dan John pun lari. Pergi meninggalkan komunitas yang siap membetot nadi leher akibat ‘pengkhianatannya’ itu.

Sementara si korban pemboman bunuh diri, sebut saja Jane. Seorang wanita berusia 35 tahun. Seorang janda. Suami dan anaknya tewas digerus perang. Hari itu, mengenakan kerudung berwarna biru. Gurat wajahnya letih, namun masih tersisa aura kecantikan dari sana. Ia berasal dari Baghdad. Kecanduan zat penenang. Sebab pil additif itu adalah satu-satunya cara menghilangkan trauma.

Di Baghdad (*masa penjajahan US dan sekutu*) menjadi wanita cantik adalah dosa tak berampun. Jane diperkosa, setiap kali akan belanja ke pasar. Perkosaan itu terus bertubi-tubi menimpanya seperti kutukan yang tak tersembuhkan. Hingga suatu hari, bom bunuh diri meledak di pasar. Jane salah satu korban. Kaki wanita malang ini harus diamputasi. Ia pun pergi. Meninggalkan tanah kelahiran yang membuat jiwanya retak tak bertepi.

Ketika kami bertemu. Dalam sebuah ruangan. Jane, tidak menyalahkan John. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya matanya sayu menatap pemuda itu. Sementara, John, dengan penuh dukacita sedalam-dalamnya, merasa bersalah dengan bom bunuh diri yang gagal dilakukannya. Ia mengatakannya dengan kalimat yang bergetar, dengan mata yang tidak pernah lepas dari kaki palsu Jane.

Namun sayangnya, saya dalam kesempatan ini saya tidak membahas pertemuan yang tidak diliput oleh media itu (*umumnya, karena perdamaian ‘tidak menjual’*). Sebab saya terkaget-kaget pertemuan tersebut.

Kaget pertama, dengan apa yang dilakukan Yasmina dan teman-temannya, yang notabene masih berusia muda.

Melihat Yasmina, saya teringat lagunya Bimbo. Judulnya lupa. Salah satu syairnya adalah “Aisyah adinda kita, ia tidak banyak bicara… Aisyah adinda kita, ia memberi contoh saja”.

Yasmina, masih muda. Cantik. Intelek. Mempunyai kepedulian tinggi terhadap sesamanya. Dan hebatnya, menggunakan agama sebagai salah satu upaya untuk perdamaian. Andai seluruh jari saya jempol semua, maka akan saya berikan semuanya sebagai simbol tanda kekaguman saya kepadanya.

Ok, itu adalah salah satu kekagetan saya.

Kekagetan yang kedua, yang tidak kalah menghentaknya adalah pertanyaan dari seorang sahabat, muslim Azerbaizan, salah satu pecahan Rusia. Ia bertanya kepada saya, “Arif, saat ini, negara kami sedang dijajah oleh Armenia. Apakah kalian, Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dapat membantu kami, saudara sesama muslim?”

DUG!

Dengan detakan jantung yang makin lama makin menghebat (*buset dah, saya nervous bo! Bukan dubes, bukan diplomat, tiba-tiba harus menjadi wakil Indonesia di mata dunia*). Saya menjawab “Sebenarnya saya datang kesini bukan sebagai utusan dari Indonesia. Tapi Insya Allah akan saya pelajari masalah tersebut secara baik-baik dan akan memeberitahukannya pada publik di Indonesia”.

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa malu pada diri saya sendiri setelah berkata itu.

Disaat ada anak muda seperti Yasmina yang membantu perdamaian dunia melalui basisnya sebagai muslimah. Di sisi lain, ada anak muda di kampung saya yang berdiri tegap, menggunakan agamanya untuk menindas kaum yang lemah. Dengan bangga mengunakan agamanya untuk menyebarkan kebencian dan dengki.

Untuk menghindari rasa malu yang semakin menghebat, tiba-tiba saya berkata dalam hati;
- “Ahh memangnya semua orang Indonesia harus seidealis teman-teman di Pralangga Dot Org, yang rela jauh dari anak istri demi kemaslahatan perdamaian dunia.”
- “Tidak semua orang Indonesia harus sebaik Bu Evy yang nggak cuma ngeblog doang, melainkan terjun langsung membantu anak-anak sumbing
- “Ga semua orang IT harus merelakan servernya demi kepentingan publik seperti Pak Harry Sufehmi atau teman-teman di Ilmu Komputer Dot Com

Entah kenapa tiba-tiba saya makin malu.

Beberapa hari lalu, badan saya semakin menggigil membaca pengakuan seorang anak (tersangka teroris asal Indonesia) yang diperlakukan semena-mena.

Badan saya semakin menggigil. Menggigil karena malu.

(Jadi apabila anda bertanya, apa yang saya lakukan kalau tidak sedang cerita jadul? Jawabannya yaitu, mengatasi rasa malu yang semakin tahun semakin mengggila ini, loh. Apabila ada yang punya obatnya, bagi dong!)

About these ads