(Pernah mbaca atau ndenger puisinya Taufik Ismail yang judulnya ‘malu aku jadi orang Indonesia’? Kalau belum… baca nih disini. Dijamin tidak rugi. Hehe. Kayak dagang aje, ada istilah untung ruginya.)
Beberapa minggu lalu, saya diundang Yasmina, anak teman. Yasmina, umur 21 tahun, mahasiswi kedokteran tingkat satu di sebuah universitas di kota besar. Bapaknya dari Brunai, mamanya mualaf Sweden. Hasilnya adalah perpaduan kecantikan eksotis dengan balutan hijab, seperti aurora yang bersinar pada malam yang gelap.
Ia, mengundang saya dalam sebuah pertemuan dengan beberapa wakil dari negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama islam. Pertemuan itu, diselengarakan oleh Yasmina dan teman-temannya untuk mencari solusi penanganan post trauma pada korban.
Di pertemuan tersebut, Saya mendapatkan sebuah pengalaman langka. Berbincang-bincang dengan pelaku bom bunuh diri (yang gagal) serta dengan korban pemboman bunuh diri (yang gagal pula, tentunya).
Si pelaku, pemboman bunuh diri, sebut saja John, adalah salah satu kenalan teman saya. Ia berasal dari Afghanistan. Lahir di sebuah kampung kecil di pinggiran Kabul, ibukota Afghan. Perawakannya mirip kebanyakan pria di Asia. Tidak terlalu besar. Rambutnya ikal. Kumis dan janggutnya tercukur rapi. Masih muda, baru saja ulang tahun ke 26 bulan lalu.
Sabtu, dua tahun lalu, bom yang dililitkan di badannya tidak meledak. John disadarkan keluarganya untuk meninggalkan Taliban, satu-satunya komunitas yang dulu dipercayainya pemilik tunggal surga. Dan John pun lari. Pergi meninggalkan komunitas yang siap membetot nadi leher akibat ‘pengkhianatannya’ itu.
Sementara si korban pemboman bunuh diri, sebut saja Jane. Seorang wanita berusia 35 tahun. Seorang janda. Suami dan anaknya tewas digerus perang. Hari itu, mengenakan kerudung berwarna biru. Gurat wajahnya letih, namun masih tersisa aura kecantikan dari sana. Ia berasal dari Baghdad. Kecanduan zat penenang. Sebab pil additif itu adalah satu-satunya cara menghilangkan trauma.
Di Baghdad (*masa penjajahan US dan sekutu*) menjadi wanita cantik adalah dosa tak berampun. Jane diperkosa, setiap kali akan belanja ke pasar. Perkosaan itu terus bertubi-tubi menimpanya seperti kutukan yang tak tersembuhkan. Hingga suatu hari, bom bunuh diri meledak di pasar. Jane salah satu korban. Kaki wanita malang ini harus diamputasi. Ia pun pergi. Meninggalkan tanah kelahiran yang membuat jiwanya retak tak bertepi.
Ketika kami bertemu. Dalam sebuah ruangan. Jane, tidak menyalahkan John. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya matanya sayu menatap pemuda itu. Sementara, John, dengan penuh dukacita sedalam-dalamnya, merasa bersalah dengan bom bunuh diri yang gagal dilakukannya. Ia mengatakannya dengan kalimat yang bergetar, dengan mata yang tidak pernah lepas dari kaki palsu Jane.
Namun sayangnya, saya dalam kesempatan ini saya tidak membahas pertemuan yang tidak diliput oleh media itu (*umumnya, karena perdamaian ‘tidak menjual’*). Sebab saya terkaget-kaget pertemuan tersebut.
Kaget pertama, dengan apa yang dilakukan Yasmina dan teman-temannya, yang notabene masih berusia muda.
Melihat Yasmina, saya teringat lagunya Bimbo. Judulnya lupa. Salah satu syairnya adalah “Aisyah adinda kita, ia tidak banyak bicara… Aisyah adinda kita, ia memberi contoh saja”.
Yasmina, masih muda. Cantik. Intelek. Mempunyai kepedulian tinggi terhadap sesamanya. Dan hebatnya, menggunakan agama sebagai salah satu upaya untuk perdamaian. Andai seluruh jari saya jempol semua, maka akan saya berikan semuanya sebagai simbol tanda kekaguman saya kepadanya.
Ok, itu adalah salah satu kekagetan saya.
Kekagetan yang kedua, yang tidak kalah menghentaknya adalah pertanyaan dari seorang sahabat, muslim Azerbaizan, salah satu pecahan Rusia. Ia bertanya kepada saya, “Arif, saat ini, negara kami sedang dijajah oleh Armenia. Apakah kalian, Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dapat membantu kami, saudara sesama muslim?”
DUG!
Dengan detakan jantung yang makin lama makin menghebat (*buset dah, saya nervous bo! Bukan dubes, bukan diplomat, tiba-tiba harus menjadi wakil Indonesia di mata dunia*). Saya menjawab “Sebenarnya saya datang kesini bukan sebagai utusan dari Indonesia. Tapi Insya Allah akan saya pelajari masalah tersebut secara baik-baik dan akan memeberitahukannya pada publik di Indonesia”.
Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa malu pada diri saya sendiri setelah berkata itu.
Disaat ada anak muda seperti Yasmina yang membantu perdamaian dunia melalui basisnya sebagai muslimah. Di sisi lain, ada anak muda di kampung saya yang berdiri tegap, menggunakan agamanya untuk menindas kaum yang lemah. Dengan bangga mengunakan agamanya untuk menyebarkan kebencian dan dengki.
Untuk menghindari rasa malu yang semakin menghebat, tiba-tiba saya berkata dalam hati;
- “Ahh memangnya semua orang Indonesia harus seidealis teman-teman di Pralangga Dot Org, yang rela jauh dari anak istri demi kemaslahatan perdamaian dunia.”
- “Tidak semua orang Indonesia harus sebaik Bu Evy yang nggak cuma ngeblog doang, melainkan terjun langsung membantu anak-anak sumbing“
- “Ga semua orang IT harus merelakan servernya demi kepentingan publik seperti Pak Harry Sufehmi atau teman-teman di Ilmu Komputer Dot Com“
Entah kenapa tiba-tiba saya makin malu.
Beberapa hari lalu, badan saya semakin menggigil membaca pengakuan seorang anak (tersangka teroris asal Indonesia) yang diperlakukan semena-mena.
Badan saya semakin menggigil. Menggigil karena malu.
(Jadi apabila anda bertanya, apa yang saya lakukan kalau tidak sedang cerita jadul? Jawabannya yaitu, mengatasi rasa malu yang semakin tahun semakin mengggila ini, loh. Apabila ada yang punya obatnya, bagi dong!)
Juni 22, 2007 at 7:39 pm
Benar. Sudah saatnya kita malu, kalau dalam pemikiran kita agama dan perdamaian pada suatu titik bisa bertolak belakang
Juni 22, 2007 at 8:30 pm
Biar ga malu? Coba aja bang Arif nanya ke para ponggawa/pembesar negeri kita tercinta kita (Indonesia). Saya yakin mereka tahu cara mengatasi malu yang dirasa bang Arif.
Nanti lagi deh, insya Allah, saya akan koment lagi.
Sebenarnya, secara pribadi saya sudah bertanya, kepada beberapa orang. Tapi sayangnya, jawabannya (selalu) tidak bisa dipublikasikan. Hehe.
Juni 23, 2007 at 3:12 am
Membaca postingan ini saya jadi sedih, bangaip. Beruntung saya diajak RSW (romisatriawahono.net pendiri ikc) untuk mengurus IlmuKomputer.Com, Kalau tidak? Wah, saya bukan apa-apa. Emang sekarang “apa-apa”, Be? hihi.. gag juga sih! *gaya*
Makasih yaa, Be. Saya sebagai salah seorang pengguna jasa IKC, mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya untuk para founder, pengurus, maupun kekerabatan IKC.
Juni 23, 2007 at 4:27 am
“Sebenarnya saya datang kesini bukan sebagai utusan dari Indonesia. Tapi Insya Allah akan saya pelajari masalah tersebut secara baik-baik dan akan memeberitahukannya pada publik di Indonesia”.
jawabannya mirip dengan pejabat & polikus negri kita hehehhehe
Juni 23, 2007 at 7:26 am
Saya pikir, mulailah memperbaiki diri sendiri^^
Alhamdulillah, sudah diberi rasa malu. Tinggal mengarahkannya pada hal yang positif..
terimakasih atas sarannya.
Juni 23, 2007 at 9:50 am
<blockquote>Disaat ada anak muda seperti Yasmina yang membantu perdamaian dunia melalui basisnya sebagai muslimah. Di sisi lain, ada anak muda di kampung saya yang berdiri tegap, menggunakan agamanya untuk menindas kaum yang lemah. Dengan bangga mengunakan agamanya untuk menyebarkan kebencian dan dengki.</blockquote>
Bang, bang… jangan ngomongin orang, bang…
Iya nih.. maap yaaa.. hehe
Juni 23, 2007 at 10:20 am
bang aip kok panggil aku pake nama ngaco berkali2?
nama aye Harry bang ojo dipanggil macem2 *sambil masang muka marah (gk deh)*
btw bang aip bisa bhs arab ya?
kok bisa ngobrol ama org palestina sih?
ngeliat tulisan bang aip gw juga ikutan malu
tapi gw bangga ama indonesia
gw cm malu ama:
1.pemimpin kita yg gk pernah berani
2.ormas yg memanfaatkan agama utk kepentingan pribadi
3.org2 yg gk menghargai negara sendiri *kayaknya sipencipta lagu malu aku jadi org indo juga gitu deh*
betapa hancur ternyata dunia ini *sambil nangis*
jadi bang jangan benci agamannya, organisasinya, ato negaranya
bencilah org yg memimpinnya
kalo dia gk bener
*sambil liat bang aip*
Maap, saya manggilnya kapan yaaa?
Oh ya sekedar info, saya tidak begitu pandai berbahasa Arab.
Juni 23, 2007 at 10:36 am
kemaluannya gede sih ya bang ?
agak sedikit susah membuat budaya malu di negeri ini. yg gampang membuat budaya yg malu2-in.
btw, itu pertemuan, jgn2 ntar ada yg nyangka bangaip ketemuan ama terorist, hehehe… spt biasa, postingnya selalu bisa dihubungkan dgn bnyk arti. great.
Gede? Yaa, ampun, ngintip yaa?
Apa celana saya yang teramat ketat?
Hehehe
Juni 23, 2007 at 1:00 pm
Kirain saya sendiri yang malu
Gak sampai menggigil sih, cuma kadang pingin masukin kepala ke dalam tanah kayak burung unta 
Alhamdulillah, saya nggak sendirian.
Juni 23, 2007 at 1:49 pm
hiks…hiks…perdamaian…perdamaian…banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai…bingung…bingung…ku memikirnya.
Juni 23, 2007 at 2:27 pm
membantu perang dan membunuh orang lain itu dosa..
Selain itu, apalagi yang dosa? Hehe
Juni 23, 2007 at 7:16 pm
Kenapa yaa saya sampai tidak konsen ke materi isi ceritanya. Tapi lebih menikmati alur ceritanya yang damai kata demi kata…
Apakah mas Arif.. semacam sekretaris dubes ? kalau gak mau dibilang dubes heheh
Saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan konjen atau kedutaan RI, Pak. Andaipun ada kegiatan dimana saya mewakili RI, pasti disangkal oleh RI. Hehehe.
Juni 24, 2007 at 4:24 am
Saya yakin di Indonesia ini masih banyak orang-orang seperti Yasmina, tapi banyak juga yang tidak. Mungkin juga lebih banyak yang tidak sehingga menutupi kegiatan “Yasmina”.
Toh, mereka yang melakukan kebaikan dan kebajikan pasti ga akan woro-woro tho
Betul, banyak juga kok yang seperti Yasmina. Sayang, hanya beberapa yang menulis di blog. Hehehe
Juni 24, 2007 at 4:27 am
[...] Senyum senyum abis nyanyiin lagu itu,, Ma mikir,, (dan jadi keinget tulisannya Bangaip) [...]
Juni 24, 2007 at 6:17 am
Sepertinya Bang Arif itu orang penting sekali, sampai mewakili Indonesai di acara penting semacam ini.
Sebenernya, siapakah engkau?
Saya pemuda jadul dari Cilincing, Pak. Dan sama sekali bukan orang penting.
Juni 24, 2007 at 8:31 am
damai…selalu menjadi sebuah utophia
Moga-moga ndak. Insya Allah, pasti selalu ada cara. Walaupun hasilnya tidak maksimal, setidaknya dengan menulis, sudah pelan-pelan membantu upaya perdamaian tersebut.
Juni 24, 2007 at 8:46 am
Andai orang2 indonesia itu seperti Yasmina… :)*pandainya kita cuman berandai-andai*
ada kok yang seperti Yasmina.
Juni 24, 2007 at 11:19 am
[...] ngobrol bareng seorang fans berat Tan Malaka, plus baca artikelnya Bang Arif yang ini. Yang merasa keberatan, silakan. Ini hanya kisah……..ada tidak ada [...]
Juni 24, 2007 at 8:40 pm
Kenapa malu, kalau ada pejabat korupsi?
Kenapa malu, kalau ada penindasan atas dasar agama?
Kenapa malu, kalau kesewenang-wenangan masih meraja-lela di tanah air?
Dst., dst. …
Rasa malu hanya akan menghambat. Bukankah lebih baik prihatin? Dari prihatin akan/bisa timbul semangat dan mungkinkeberanian untuk mengubah semua itu? Bukankah reformasi juga bukan berdasarkan rasa malu, tetapi rasa prihatin yang meluap menjadi kemarahan dan akhirnya menjadi semangat yang bisa menumbangkan kedzoliman?
Jangan malu kalau tidak bisa melakukan yang besar-besar seperti yang lain, karena manusia itu berbeda-beda. Memberi 1000,- Rp. dengan ikhlaspun bisa merupakan sesuatu yang besar untuk seseorang.
Yang penting kita berpikir terus dan mengembangkan diri terus.
(nyambung nggak sih?)
Ga masalah pak, saya juga doyan OOT. Hehehe.
Tapi eniwey, makasih untuk tips mengatasi rasa mengigil ini
Juni 25, 2007 at 2:34 am
good post, thanks
Sama-sama. Situ juga euy, bagus-bagus tulisannya.
Juni 25, 2007 at 3:07 am
“”Jadi apabila anda bertanya, apa yang saya lakukan kalau tidak sedang cerita jadul? Jawabannya yaitu, mengatasi rasa malu yang semakin tahun semakin mengggila ini, loh. Apabila ada yang punya obatnya, bagi dong”"
berbahagialah bang aip yang masih bermalu, bukankah rasa malu itu ibarat pakaian yang melindungi tubuh kita?
Alhamdulillah, bener itu Kang Biho. Setuju
Juni 25, 2007 at 4:15 am
salam kenal mas…
Asti suka gaya mas bercerita…detail
jadi ikutan menggigil…
Ayuk, sama-sama nyari obatnya euy.
Juni 25, 2007 at 9:32 am
semua tentang konflik kepentingan kah?
kadang-kadang ada juga konflik kemanusiaan.
Juni 25, 2007 at 11:39 am
hemm…baca postingan bang aip yang bagian anaknya abu dujana, makes me wonder…apakah sudah cukup ber-etika bagi para pak pol yang menangkap abu dujana yang di perkirakan seorang teroris untuk menembak kaki abu dujana di depan anak-anaknya yang masih sangat kecil2? kalo gt apa bedanya oknum pol itu ama teroris? -jadi curhat-
Pertanyaan ini juga dilontarkan anggota DPR/MPR terhadap Kapolri.
Bukan hanya anda kok yang curhat.
Juni 25, 2007 at 1:08 pm
ngomongin terorisme atas nama agama, susah je. Ilmu saya masih kurang…
Tapi, kok bisa-bisanya Abu Dujana mengelukhan perlakukan aparat terhadap keluarganya, apa ga mikir nasib keluarga yang sanak kerabatnya jadi korban bom teror mereka??
Setahu saya, Abu Dujana sudah tewas. Apakah saya salah? Kalau salah, maap.
Yang mengeluh adalah istrinya. Menurut pendapat saya (yang tentu saja dapat dipertanyakan dan diperdebatkan lagi), perlakuan yang harus diterima keluarga Abu Dujana (apabila ia teroris) tidak harus sama dengan perlakuan yang diterima korban pemboman. Sebab, apabila sama, apa bedanya kita ama teroris?
Juni 25, 2007 at 3:57 pm
@manusiasuper — itu kalau asumsinya bahwa Abu Dujana memang teroris lho.
Sialnya, di negara yang tidak punya kemaluan ini (negaranya lho, bukan rakyatnya yaa), yang sering terjadi adalah :
1. rakyat ditangkap (baca: diculik), dituduh teroris, disiksa, dikurung berbulan-bulan, lalu dibebaskan - fisiknya, atau jiwanya …
2. teroris yang sebenarnya terus menebar teror
Teman-teman saya ada yang sudah mengalami sendiri soalnya. Ada yang hilang selama berbulan-bulan, tidak ketemu walaupun dicari kemana-mana. Sampai kami & keluarganya sudah pasrah tentang nasibnya.
Untung sih happy ending, tib-tiba dia muncul kembali; dan sekarang sudah jadi konsultan yang sukses.
Ini orang dituduh teroris, padahal di Birmingham dia menjadi orang yang dipanuti & berhasil mendamaikan komunitas-komunitas Islam yang ada disana.
Saban saya ke suatu mesjid di B’ham untuk pertama kalinya, dan ada orang yang kemudian tahu bahwa saya orang Indonesia (biasanya dikira Cina atau Meksiko sih, hihihi, gak nyambung banget), pasti dia akan tanya “How is brother Aip (1) now ?? Please give my salaam to him !!!” (tuh tanda serunya ada 3 lho)
Orang macam ini nih yang ditangkap dan lalu dituduh teroris.
Jadi, maaf aja ya kalau saya skeptis ketika heboh-heboh soal penangkapan teroris ini euy.
(1) bukan nama sebenarnya
Setuju, Pak Harry. Saya pikir, memang terjadi standarisasi ganda dalam upaya penanggulangan terorisme. Terorisme dipandang sebagai sebuah output penyakit yang harus diberantas. Sementara, pihak-pihak yang melontarkan perkataan/perlakuan keji pemicu terorisme, tidak diberantas. Ini mengherankan, sebab hanya orang-orang seperti Osama yang dijadikan tersangka, sementara disisi lain, Bush, tidak dianggap sebagai bagian dari terorisme dan kejahatan kemanusiaan.
Mengenai penangkapan Abu Dujana. Den 88, secara pribadi, saya akui kecepatan kerjanya serta kelengkapan operasional mereka. Masalahnya, di lapangan kadang-kadang SOP tidak dituruti dengan baik. Waktu penembakan Dr. Azhari, sempat terjadi ‘rebutan lapak’ antara para officer on field. Sebab siapa yang mampu menembak Dr Azhari dengan tepat pertama kali, ia (dan kesatuannya) dapat hadiah yang lumayan besar.
Ini yang berbahaya, sebab di lapangan, SOP lah yang menentukan apakah nyawa manusia dapat diselamatkan atau tidak.
Saya sendiri, secara pribadi, amat membenci terorisme. Sebabnya adalah, selain kami sekeluarga adalah salah satu korban Bom Bali II. Terorisme sendiri adalah upaya keji yang dilakukan manusia terhadap manusia lainnya.
Setahu saya, menjadi muslim, adalah hal yang lumayan berat apabila anda hidup di dunia barat. Bukan di fisik, melainkan karena tekanan publik terhadap ’someone who claimed himself/herself as moslem’.
Dan tekanan ini, akan lebih berat, jika wajah anda ke-arab-araban. Sungguh saya menerima banyak sekali laporan dari rekan-rekan yang berwajah dan berbahasa Arab ketika mereka di Eropa. Ini sungguh-sungguh berbahaya. Sebab diskriminasi akan menimbulkan bibit-bibit teror baru.
Juni 25, 2007 at 11:06 pm
“Arif, saat ini, negara kami sedang dijajah oleh Armenia. Apakah kalian, Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dapat membantu kami, saudara sesama muslim?”
Kirim FPI aja….
Hihi… Bukannya jadi damai.. jadi tambah runyam.. hhihihi
Juni 25, 2007 at 11:43 pm
hiks.. baru tau Armenia menjajah Azerbeijan
ayo dukung Azerbeijan!!!
Kang Roffi, masalahnya belum diketahui secara pasti. Saat ini masih ada penyelidikan khusus. Sebab konfliknya sepertinya mirip-mirip masalah tanah palestina-israel, tapi versi balkan. Maka itu, sebaiknya, kita dukung perdamaian saja.
Juni 26, 2007 at 3:23 am
tampaknya kita perlu introspeksi diri lagi…
setuju
Juni 26, 2007 at 5:34 am
Hm, setahu saya Azerbaijan itu negara berdaulat yang tidak dijajah oleh siapa-siapa.
Memang negara Azerbaijan yang sekarang ini hanya mencakup bagian utara dari daerah asal mula yang berpenduduk majoritas (!) “bangsa” Azerbaijan.
Sebagian lagi memang sekarang menjadi daerah dari negara berdaulat lain, antara lain ya Armenia itu.
Setau saya juga. Namun konflik bersenjata nampaknya masih berlangsung (hingga tadi, dua jam sebelum saya mengetik balasan komentar ini). Situasinya lumayan panas. Hingga saat ini, saya tidak berani berkomentar apa-apa mengenai hal tersebut. Ada oraganisasi onderbouw UN khusus yang terjun kesana selama beberapa bulan belakangan ini. Diantaranya memonitor pengungsi. Sayangnya hingga saat ini, kami belum menerima laporannya.
Juni 26, 2007 at 6:21 am
Quote Aip: “Arif, saat ini, negara kami sedang dijajah oleh Armenia. Apakah kalian, Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dapat membantu kami, saudara sesama muslim?”
Quote Tukangkomentar: “Hm, setahu saya Azerbaijan itu negara berdaulat yang tidak dijajah oleh siapa-siapa.”
Eh, hari Minggu lalu baca Kompas, ada pendapat tokoh Betawi siapaa gitu yg menolak merayakan ultah Jakarta karena: “Pada tgl 23 Juni sekian ratus tahun lalu itu justru orang Betawi dibunuh dan terpaksa lari. Jadi, ultah Jakarta itu menurut siapa? Kalo dirayakan, sama seperti Iraq merayakan ultah invasi Amrik”
Mungkin gitu juga ya, perasaan si Yasmina saat bilang Azerbaijan dijajah Armenia. Kayak Timor Leste juga yg merasa dijajah Indonesia.. hehehe..
Yang bilang bukan yasmina, tapi Rahman, nama lengkapnya Shariff Rahmaninov. Selain itu, bukan hanya Timor Leste yang merasa dijajah, Aceh… Papua, … Maluku.. dan segelintir rakyat Tanjung Priok, Jakarta, juga merasa dijajah. Persoalannya sebenarnya lebih mengacu pada kekerasan yang dialami secara beberapa generasi. Muak terhadap represi. Hasilnya adalah perasaan dijajah.
Juni 26, 2007 at 6:45 am
duh… saya jadi merasa persis seperti judulnya: MENGGIGIL KARENA MALU
Terimakasih, telah mengerti.. dan ikut empati.
Juni 26, 2007 at 8:36 am
hmmm..bangaip, saya kok rasanya semakin bodoh dan semakin merasa tak berguna setelah baca postinganmu…hikss..
Aduh maap.. nggak bermaksud begitu Mas Pitik.
Juni 26, 2007 at 10:00 am
ya mau gimana lagi kita memang gak berbuat apa-apa terhadap penderitaan orang lain… ya mungkin karena kita juga menderita karena di jajah bangsa sendiri…
kayaknya kita bisa deh. Karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Halah, hadi OOT gini, hehe.
Juni 26, 2007 at 11:11 am
Bang kalo Yasmina nya masih single nggak?
setau saya.. masih.
Juni 27, 2007 at 3:39 am
bang…
mudah2an rasa malu kita menjadi momentum gerakan sosial….
karena sekeyakinan saya, islam itu murni agama sosial, bukan sekedar ritual individualis…
kalo cuman ngandelin ibadah, Rasul gak bakal pernah ninggalin gua HIra, tempat beliau di’temu’kan Tuhan dan merasakan ke’dahsyat’an sebagai manusia…
tapi sejarah menuliskan, beliau Rasulullah SAW turun ke jalan dgn segala resikonya, dan dengan sebenar2nya….
….
bukan cuman ‘menangis’ dgn air mata buaya di pinggir lumpur dan naik copper tanpa sempat menjenguk rakyatnya yg panas2an mau mengadu….itu sih TEBAR PESONA namanya…(lho…kok ngelantur sampe ke lumpur lapindo..maaf ya…)
malu saya punya presiden seperti ini…:(
Karena malu, bagaimana kalau pak presiden kita kirimin surat cinta? hehe.
Juni 27, 2007 at 3:45 am
Inilah bedanya, si John mantan teroris yang insyaf merasa bersalah dgn bom yang meskipun “gagal,” sementara saat bom Bali Amrozi justru mengangkat-angkat tangannya bak pahlawan dan berteriak “ALLAHUAKBAR”!!!
Katanya, di dalam LAPAS, Amrozi dimusuhin ama rekan-rekan napi lainnya. Sebab selalu menganggap dirinya utusan Tuhan di muka bumi.
Juni 27, 2007 at 4:51 am
Hidup perdamaian!!
sayangnya perdamaian akan datang setelah melalui peperangan…
apakah perang satu-satunya jalan untuk mendapatkan kedamaian?
semoga tidak.
Juni 27, 2007 at 4:54 am
Dujana masih hidup pak, itu foto sama tayangan tipinya dimana-mana…
Sekali lagi, ini hanya masalah mengambil sudut pandang menurut saya.
Jika diambil dari sudut pandang keluarga, orang tua, anak korban pengeboman, apalah arti todongan senjata untuk keluarga si pengebom.
Itu pun, ceritanya masih kontroversi, polisi bilang mereka ga pernah nodong, pengacara dujana bilang polisi justru pake ngancem segala. Terserah mau percaya siapa.
Saya hanya tidak terima jika terorisme dipandang sebagai pahlawan… Apalagi bawa-bawa nama agama… Nama Tuhan…
————————-
Waktu penembakan Dr. Azhari, sempat terjadi ‘rebutan lapak’ antara para officer on field. Sebab siapa yang mampu menembak Dr Azhari dengan tepat pertama kali, ia (dan kesatuannya) dapat hadiah yang lumayan besar.
Ini yang berbahaya, sebab di lapangan, SOP lah yang menentukan apakah nyawa manusia dapat diselamatkan atau tidak.
————————–
Darimana pak itu infonya? Mantab tuh kalo bener…
Mau nyari teroris apa nyari hadiah?
Makasih yaa infonya.
Mengenai tindak kekerasan pada anak Abu Dujana… itu benar. Sudah sahih. Tadi pagi, pukul 06.30 GMT+2 saya diberitahu duduk persoalannya.
Info saya dari mana? Hehehe, maap Mas Fadil, saya masih terlalu penakut untuk memberitahu jenis-jenis burung apa yang hobi berbisik-bisik di telinga saya. Hehehe.
Juni 27, 2007 at 5:20 am
saya merasa info-nya abang masih satu sisi, belum cover both side (maap)….tapi saya kagum dengan kegiatan Yasmina …
sisi mana nih yang belum? hehe
Untuk masalah Abu Dujana, saya pribadi mengaku, karena tidak bisa mengakses database densus88, maka saya mengandalkan CNN dan teman-teman dari beberapa ormas Islam. Ditambah lagi ada beberapa teman dari instansi militer serta instansi jurnalisme Indonesia. Tentu semuanya tidak bisa saya sebutkan namanya, karena kepengecutan saya untuk membeberkan nama instansi mapan mereka di muka publik.
Seharusnya saya memang membeberkan BAP bahkan hingga laporan temuan TPF dari DPR. Tapi apakah itu perlu? Sebab apabila memang perlu… Saya ndak punya data tersebut. Sebab apabila saya punya… Nanti, saya yang dicurigai sebagai teroris. Huehehe. Sebab saat ini adalah jaman dimana manusia dapat digampangkan masuk dalam kategori terorisme.
Tapi kalo memang saya salah… yaa maap deh yee.
Juni 27, 2007 at 7:09 am
<i>”Yasmina, masih muda. Cantik. Intelek. Mempunyai kepedulian tinggi terhadap sesamanya.”
sementara
“Tidak semua orang Indonesia harus sebaik Bu Evy yang nggak cuma ngeblog doang, melainkan terjun langsung membantu anak-anak sumbing“</i>
Saya jadi tambah malu, mungkin lebih malu dari bang aip *eh jadi ikut-ikutan manggil bang aip* karena saya termasuk yang bisanya cuma nge-blog doank, belum bisa memberikan sumbangsih apalai seperti Yasmina *tipe istri ideal kali ya?*.
Tapi mudah-mudahan dengan kapasitas yang saya miliki (walo baru bisa ngeblog doank..) minimal bisa memberikan sumbangsih lewat pemikiran dan tulisan *ceile kaya tulisannya dah bener aje.. padahal mah ini juga masih belajar…*. Ah jadi tambah malu & menggigil, soalya AC-nya terlalu dingin
Hehe, ati-ati masuk angin.
Juni 28, 2007 at 12:17 pm
Pak, bapak intel ya?
<i>takut-takut</i>
—————
Nggak usah takut, Mas Fadly… hehe. Namanya juga nanya, gratis.
Mengenai pekerjaan…
Saya pernah dituduh antek yahudi… trus dituduh doyan maen bencong… hingga dituduh germo… e-eh, sekarang dituduh intel… Hehehe…
Alhamdulillah pekerjaan saya banyak, Mas. Namun, saya belum pernah jadi intel dan ga ada niat sedikitpun jadi intel. Nyerobot lahan perkerjaan orang lain kan nggak baik. Apalagi saya pikir, saya tidak kompeten untuk jadi intel. Andaipun intel, kecerdasan saya nampaknya tidak mencukupi untuk membuat blog.
Kalau anda mengasumsikan saya intel akibat data-data sensitif yang sampai di tangan saya, itu hak anda, Mas. Saya sama sekali tidak berkeberatan. Namun, setidaknya saya perlu menjelaskan, pada Mas Fadly, bahwa saya bukan intel. Saya terlalu cute :D.
Saya malahan mau balik nanya, kok bisa-bisanya Mas Fadly nganggep saya intel?
Juni 29, 2007 at 8:11 am
ih bang aip masa lupa
aku post comment di postingan bang aip yg identitas ama sebuah cerita tentang raja jakarta
bang aip manggil saya dewa tp skrg bukan dewa lagi
udah jadi malaikat nih
hahahahahahahahahahaha
Juni 29, 2007 at 12:19 pm
itulah indonesia raya…
Juli 2, 2007 at 6:39 am
punya teman malu, sangat menghibur saya… cukup menghambat keinginan saya untuk ‘tidak peduli’. Jalannya masih panjang, euy…
Juli 2, 2007 at 10:44 am
Hohoho….
Berarti aman mengujat negara masih neh…
Bang Aip beneran bukan intel, huhuy!
Juli 2, 2007 at 10:51 am
bingung mo komen apa bang…
nama indonesia di ranah midel is udah dianggep pembantu.
dan aku harus berjuang untuk tidak menganggap general seperti itu.
orang-orang yg di indonesia mungkin tidak terlalu kentara gimana rasanya membawa nama indonesia yg udah gag tau kemana. tapi jelas berat bang.. berat…
sedih, kapan ya nama indonesia bagus disegala bidang di mata dunia?
Waduh, pertanyaannya berat, Dats. Sungguh berat. Saya ndak bisa jawab, dan tambah malu. Maaf.
Juli 2, 2007 at 4:21 pm
Akhirnya..
selalu…
Speechless..
Aku tak bisa berkata..
Juli 2, 2007 at 4:22 pm
Memang biasanya semakin kita tahu dunia luar lebih jauh, semakin kita merasa kecil… biasanya semakin banyak tahu, semakin merasa bodoh…
Juli 2, 2007 at 5:03 pm
…. mali aku, baca aja saya ikutan malu, gimana kalo saya bener2 ikutan ketemu dan mengalaminya….
Waduh, saya berdoa semoga bapak ndarualqaz ndak mengalami hal yang sama.
Juli 3, 2007 at 4:29 pm
jika semua orang tahu harus memulai dari mana, ‘carut marut’ itu selesai ndak, mas?
Insya Allah, pelan-pelan, carut-marutnya kita perbaiki sama-sama.
Juli 4, 2007 at 10:22 am
“Agama untuk Perdamaian & Kedamaian”
Sepertinya tema yang gampang diucapkan tetapi sangat susah dilakukan. Mengapa ya ?
Apa agama itu lawan kata dari perdamaian ?
Hehehe, retoris yang berat. Hehe
Juli 5, 2007 at 2:10 pm
salam kenal dan salut…! atas sajian tulisannya yg slalu bikin penasaran buat dibaca habis.
membaca tulisan bangaip, jadi teringat, dulu kalo gak salah 4 atao 5 taun yg lalu, ada teman dari canada datang keindonesia karena penasaran pengen tau, setelah balik dibilang indonesia adalah bangsa yg gak punya masa depan,hanya dengan melihat jakarta, spontan dong kita yg merasa indonesian ada rasa gak terima…*darah naek kekepala* hi serem.!
tapi setelah dipikir2, sekarang Indonesia eh…malah tambah kaya begini, ulah parpol lah, pilkada lah, pejabat begaya bak seleb lah, lumpur lah, sampah lah, ujian nasional lah, tv full gosip ama sinetron lah, privatisasi lah, LNG dijual murah lah, flu burung lah, banjir lah, kebanyakan LAH………………..
………………
sok tah kalo ada yg mo nambahin.
Dan ternyata BENER JUGA TUH KAWAN…
ada yg bisa prediksi 3-5thn kedepan spt apa indonesia???
semoga kelak kita dikaruniai pemimpin yang bisa mengelola Indonesia tercinta ini…
ayo kita bantu…!!! krn sy termasuk yg yakin klo kita masih punya SDM yg bagus…
Benar… Ayo kita bantu. Ngasih kritik dan tentu juga solusi alternatif atas masalah yang datang laksana badai.
Juli 8, 2007 at 7:42 pm
Bila anda ingin tahu bagaimana nasib Indonesia 3-5 tahun lagi saya gak bisa jawab
Tapi bila anda ingin tahu bagaimana nasib indonesia 40 tahun mendatang saya punya jawabannya
Yaitu:
1. Ribuan etnis Tionghoa kembali dibantai
2. Rupiah menjadi turun drastis hingga 1 USD=23.235 Rupiah
3. Dan hilangnya Indonesia dari mata dunia
Sekali lagi
ini hanyalah ramalan benar/salahnya?
Wallahu ‘Alam
Juli 16, 2007 at 9:26 am
Pendaftaran Top Posts periode Mei-Juni 2007 telah dibuka. Postingan Anda yang tertayang pada Mei-Juni 2007 bisa Anda daftarkan di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/07/06/pendaftaran-top-posts-mei-juni-2007/
terimakasih atas iklannya.
Juli 17, 2007 at 4:42 am
kalo memang bermasalah dengan kemaluannya, mungkin saatnya endonesa ngikutan terapi ke mak erot
Mak Erot itu sebenarnya punya nama belakang, yaitu Isme.
Juli 21, 2007 at 9:20 am
maju terus bangaip
jadi intel juga boleh
Huehehe. Bise ajee Om Akeww. Saya mahh maonya Intelnet, in**mi telor kornet.
Juli 24, 2007 at 3:08 am
qt boleh malu karena tidak melakukan perubahan atopun tindakan nyata tapi kenapa harus malu jadi bangsa endonesah, setiap negara punya borok masing2, ada yg terlihat menjijikkan dan dikrubutin lalat ada yg tertutupi rapih dan wangi. mari prend, qt self therapy, klo bukan diri qt yg nyembuhin mo siapa lagi?? OPTIMIS SEMBUH!!;)
Juli 28, 2007 at 10:09 am
Hiks, saya juga bukan siapa-siapa, belum berbuat apapun buat bangsa ini, apalagi buat kemanusiaan.
Sudah membantu anak SERRUM buat workshop blog saja sudah membantu kemajuan anak bangsa, Guh.
I’m proud of you
Agustus 3, 2007 at 6:30 am
[...] pasti menyebut telah ber Islam, dan bukannya seorang yang musyrik. Dan semoga saya tidak akan perlu menggigil karena malu sebab toh akhirnya saya telah berhasil membunuh dan mematikan Tuhan imajinasi [...]