(Mohon dampingi anak anda ketika membaca tulisan panjang ini)
Walaupun tentu bukan konsumsi publik, saya tetap akan bercerita bahwa beberapa waktu ini kami sekeluarga dihadang banyak kesulitan dengan kesehatan. Hingga harus mengungsi ke sebuah dusun di kaki bukit. Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah lebih membaik.
Walaupun ini bukan juga hal yang besar. Namun saya bersyukur ketika silaturahmi teman-teman di komunitas seni rupa SERRUM dengan Mat Obeng (mantan selebriti blogger yang membunuh blognya. Bukan nama sebenarnya) secara personal, membuat blog-blog baru hidup. Blog yang menceritakan kehidupan para guru yang mengajar seni rupa hingga blog pribadi para pekerja seni.
Walaupun ketakterbatasan blog adalah hal yang luar biasa. Namun ternyata mampu membuat jeri hati saya ketika membaca surat seorang ibu dari dua putra;
“Mas Arif, putra sulung saya sekarang kelas dua SMU. Adiknya, 15 tahun, sekarang di madrasah tsanawiyah tingkat akhir. Kami adalah pembaca setia tulisan anda. Saya berharap, agar anda lebih sopan dalam menggunakan bahasa dalam tulisan anda. Karena anak saya masih kecil“.
Saya termenung. Takut untuk menulis. Saya sadar sepenuhnya, saya tidak pandai berbahasa.
Gemetar tangan ini, ketika pensil dalam genggaman sudah ada diatas kertas.
Walaupun sungguh sepenuh hati belajar, tetap saja bahasa Indonesia saya tidak mengalami kemajuan. Tiga minggu bergelut dengan rasa takut, akhirnya saya beranikan diri untuk menyalin tulisan melalui papan ketik AZERTY. Menulis dengan bahasa Cilincing. Menulis pengalaman masa kecil. Menulis apa yang ada di otak dan di hati.
Saya menulis, untuk melawan rasa takut. Saya menulis, untuk melawan lupa.
Dan akhirnya, ini tulisan saya. Judulnya Perawan Pantai Sampur. Sebuah kisah masa kecil saya ketika weekend di rumah kakek di Sampur, sebuah desa tetangga Cilincing.
Selamat menikmati cerita yang panjang ini. Hehe.
PERAWAN PANTAI SAMPUR
Waktu kecil, saya punya idola (sebab katanya setiap orang butuh idola, personifikasi pahlawan pribadi). Idola saya adalah Oman. Tetangga sebelah rumah kakek. Remaja tanggung yang baru beranjak dewasa.
Oman itu kakaknya Omat, teman saya. Sedangkan Omat itu, kakaknya Ojak. Orangtua mereka punya tabiat aneh, menamai anak dengan awalan aksara serupa.
Oman jadi idola, karena ia yang paling besar diantara kami. Dan kami hanya bisa menatapnya iri, ketika ia mencuri-curi minum bir milik Encang Engkos, paman saya, kakak laki-laki Ibu yang berkerja di sebuah instansi militer.
Setiap akhir minggu, saya dan adik saya, Gugun, menginap di rumah kakek di Sampur, tidak jauh dari Cilincing. Kami menyukai Sampur. Rumah kakek luas. Kakek saya pensiunan polisi, mencari nafkah dengan buka bengkel di samping rumah. Nama bengkelnya CV Haji Ali. Di depan rumah, jalan raya, setelah itu pagar kawat. Dibalik pagar, membentang laut, pangkalan kapal super besar pengangkut tepung terigu untuk BOGASARI, pabrik mie instan terbesar di Indonesia
Kata kakek, orang Indonesia tidak suka mie instan. Mereka baru kenal mie instan, setelah pada tahun 70-an, Amerika menghadiahkan gandum luar biasa banyaknya ke Indonesia. Gandum itu, diolah kemudian menjadi mie instan yang dibantu distribusinya oleh negara. Ketika orang Indonesia mulai menyukai mie instan, sejak saat itu pula terjadi ketergantungan terhadap petani gandum Amerika.
Namun saya tidak suka berlama-lama bicara dengan kakek. Saya lebih suka nongkrong bersama Omat dan Gugun melihat Oman merokok. Kelihatannya enak sekali ia menikmati setiap hisapan tembakau itu. Kami iri. Kami juga mau menimati seperti yang ia tengah rasakan.
Nampaknya Oman sadar, mata kami semua tertuju pada rokoknya. “Mau nyobain?” ia bertanya sambil merogoh saku. Kami serempak mengangguk.
Ia melemparkan sebatang rokok ke arah kami. Gugun, yang bertangan paling sigap, meraup rokok tersebut digenggamannya. Matanya menatap Oman sekali lagi. Oman jengah.
+ “Itu… buat betiga. Lo kan masih pada kecil-kecil”
- “yaaahhh… Abang”
+ “…”
- “Bang Oman… Apinya dong”
+ “Sapa bilang boleh dibakar!”
- “Laah… Trus mao diapain dong nih rokok?”
+ “Isep aje terus ampe bego”
Saya, Omat dan Gugun menggerundel dalam hati. Tapi tidak berani melawan Oman yang sepertinya tidak menyukai ide anak kecil merokok. Aneh, bagaimana mungkin kami, anak kecil, tidak merokok ketika melihat idola kami merokok? Namun akhirnya, kami hompimpah. Pemenangnya berhak menghisap rokok pertama kali.
Gugun yang menang. Berteriak senang, namun terdiam. Ia menatap rokok dengan tatapan bingung. Menghisapnya. Lalu menatap bingung batang rokok itu lagi. Itu rokok, diputar-putar. Dipelintir. Dilihat dari berbagai sudut. Diamati secara seksama.
Hingga, setelah menjilat filternya, Gugun teriak gembira “Enak… Enak… Manis!”. Ia menemukan cara menikmati rokok tanpa membakarnya.
Sial, saya kalah, kebagian yang terakhir mencicipi. Akibat digigit-gigit Omat, filter rokok basah. Filter itu sudah mirip payudara nenek-nenek, tidak berbentuk, kendur dan menggelendot manja.
Saya menatap Oman penuh protes. Oman bertambah jengah.
+ “Mao apa lo rip! Harusnya sukur luh, udah gua kasih rokok!”
- “Yaaa Bang, pilternya udah kempot gini. Tuker dong”
+ “Cerewet lo!”
- “Tuker dong!”
+ “Bosen gue dengerin lo. Gini aja, gue punya ide bagus nih”
- “Apaan?”
+ “Lo mao liat jembut perawan ga?”
- “Hah, apaan tuh?”
Mata saya berbinar-binar, seperti koin yang baru saja dicelup coca-cola. Walaupun saya tidak mengerti apa maksud kata jembut dan perawan. Saya tetap bahagia. Sebab perawan pasti ada hubungannya dengan cewek-cewek. Hehehe.
Oman, bagaikan juru bicara kampanye, mulai memberikan instruksi. Setiap orang, pada tenggat waktu, pukul tujuh malam nanti, harus memberikan uang dua puluh lima rupiah kepadanya. Oman bilang, dengan seratus rupiah kami akan mendapat tiga batang korek api. Instruksi selanjutnya, nanti.
Pada pukul tujuh, kami ke pantai sampur. Disana, Oman bilang, tinggal seorang wanita yang dikenal sebagai perawan pantai Sampur.
Kami berempat, naik sepeda ke pantai Sampur. Hari sudah gelap. Laut berwarna hitam. Riak air memantulkan gemerlap cahaya bulan. Diantara pasir pantai, terpancang tonggak-tonggak pengikat kapal kayu. Di ujung pantai di jalan Dairi, terletak Yacht Club. Tempat kapal pesiar orang kaya Jakarta bersandar.
Oman berhenti.Ia melangkah maju, menuju deretan perahu yang terpancang dan berayun di atas air pantai. Kakinya terus melangkah, hingga terbenam air selutut. Lalu lompat ke arah salah satu perahu. Dan ia menghilang di remangnya perahu malam.
Saya, Gugun, dan Omat menghela napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tidak lama kemudian. Oman loncat lagi ke air, berjalan ke arah kami. Di belakangnya, bayangan hitam. Lebih tinggi. Dalam remang malam, kami tahu, itu perempuan.
Oman lalu berbisik kepada kami. Jangan ada yang bicara. Sebab mereka akan bertemu dengan Perawan Pantai Sampur. Begitulah sebutan para awak kapal kayu pencari ikan kepada perempuan itu. Oman bilang, ia yang akan jadi juru bicara kami.
Perempuan itu tiba di hadapan kami. Di luar pagar sudut Yacht Club. Saya tidak bisa mendeskripsikannya. Malam terlalu gelap.
Di sudut lain, kami yakin ada beberapa pasangan. Tidak yakin mereka bicara apa. Yang terdengar hanya bunyi clepak-clepok. Bunyi yang aneh. (*sekarang, saya tahu sumber bunyi itu dan darimana asalnya, hehe*)
Perempuan itu memandang kami. Ia kaget dihadapannya ada satu remaja tanggung dan tiga anak kecil.
- “Lo tau kan peraturannya. Cepek itu tiga batang?” (*cepek=seratus*)
+ “Iya… Iyaa… Gue tau. Udah cepet buruan!”
- “Kalo Nopek, lo boleh grepe-grepe” (*nopek=dua ratus*)
+ “Eeh… Eeehh… Kalo itu gue ga tau…”
- “Kalo gopek. Lo boleh nyoblos. Ini paling enak” (gopek=lima ratus*)
+ “… eeehh ….eeehhhh …ga ada lagi. Cuman segitu duitnya”
Oman menunduk malu. Namun, perawan Sampur tidak peduli. Ia mengajak kami lebih ke sudut. Mengeluarkan korek api kayu tiga batang. Korek api pertama ia nyalakan.
Dengan tangan kiri, ia memegang korek api yang menyala. Tangan kanan, menarik kausnya keatas.
Astaga ternyata ia tidak pakai beha. Wow! Cihuyyy!
Saya meneguk ludah memandangi isi kausnya. Nampaknya Omat, Gugun dan Oman juga melakukan hal yang sama.
Namun pemandangan dua bukit ajaib di balik kaus itu tidak berlangsung lama. Korek api cepat sekali dibakar oleh tiupan angin pantai.
Korek api kedua dinyalakan. Kali ini, perawan Sampur menyingkap roknya tinggi-tinggi keatas.
Dalam keremangan malam dan dibawah temaram sinar bulan, saya masih mampu melihat cahaya korek api diantara mata-mata kecil yang terbelalak kaget. Mata yang baru pertama kali dalam hidupnya melihat bulu gondrong hitam kribo menjalar kemana-mana di area selangkangan.
Hanya dalam tempo hitungan detik. Korek api kedua tandas dimakan angin.
Saya protes… Tidak jelas. Kurang deket. Perawan Sampur misuh-misuh.
Kali ini. Korek ketiga dinyalakan. Mata kami sudah membelalak gembira. Sebab kali ini kami sudah tahu, apa yang harus dilihat. CESSS… Korek api batang sulfur itu menyala.
Perawan Sampur mendekatkan korek ketiga, ke arah selangkangannya. Mata kami, dalam tempo sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelas sekarang memandangi lautan rambut tersebut. WOHOOOO…!
Tiba-tiba angin pantai bertiup lebih keras ke arah sudut tempat kami berdiri. Api bergoyang keras. Menyambar ke arah rambut bagian bawah perawan Sampur.
Astaga! Api itu merambat dari satu rambut ke rambut lainnya.
Perawan Sampur berteriak kaget. Ia melolong dan meloncat-loncat. Menepuk-nepuk selangkangannya yang berkobar-kobar. Lalu, masih teriak-teriak. Lari secepat kilat ke arah laut. Memadamkan api di selangkangannya.
Perawan Sampur, jembutnya terbakar.
Kami, sambil ketawa-ketiwi, juga lari. Ke arah sepeda. Kabur. Takut dipukulin satpam yang berlari ke arah kami.
BLARRRR!!!
Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras sekali.
Dari ujung jalan. Di depan Yacht Club. Sebuah panser merembet maju. Tiba-tiba terdengar lagi banyak bunyi ledakan. Lalu disusul oleh rentetan bunyi senapan otomatis di udara.
Secepat kilat kami mengayuh sepeda menuju rumah. Namun sial. Di ujung jalan. Ada barikade kawat berduri menghalang. Kami mengayuh sepeda berputar, ke arah Kober, pekuburan warga setempat.
Tiba-tiba, sepanjang jalan berubah bagaikan neraka. Di ujung jalan, setelah kuburan, terlihat Apotik Priok meledak dan terbakar. Malam ini berubah menjadi mimpî buruk yang nyata.
Di arah utara, laki-laki dewasa, berlarian di jalan seraya berteriak Allahu Akbar dengan sekeras-kerasnya. Mata mereka nyalang. Di tangan mereka, teracung golok seperti akan menghunjam udara.
Di selatan kuburan, terlihat orang berpakaian loreng-loreng menembakkan senjatanya ke udara. Api berkobar dimana-mana.
Rumah-rumah buruh pelabuhan di sekitar kuburan membara terbakar dimakan api.
Astaga, kami ada di tengah zona pertempuran!
Sepeda kami tinggalkan. Kami lari menuju rumah. Di rumah, wajah kakek keruh. Ibu terlihat luar biasa gembira, melihat saya dan Gugun selamat.
Situasi rumah kakek sungguh aneh. Kakek, walaupun sudah pensiun, memakai seragamnya. Encang Engkos, juga pakai seragam. Ia menyandang senjata. Bersama Encang-encang saya lainnya, mereka menjaga pagar depan rumah.
Di dalam rumah, lebih aneh lagi. Banyak orang. Tetangga-tetangga saya. Ada Koh Ahseng yang memeluk istrinya. Ada Enci Anyan beserta anak-anaknya. Aneh, kenapa keluarganya Oman nggak ada? Saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab “Mereka bukan Cina. Jadi nggak bakal diapa-apain”.
Ibu melarang kami keluar. Namun saya dan Gugun masih memikirkan sepeda yang kami tinggalkan di Kober. Kami takut sepeda itu dicuri orang. Saya lebih takut dimarahi Ibu kalau sepeda itu hilang. Sebab sepeda itu, sepeda BMX berwarna merah, adalah sepeda pertama yang saya dapatkan dari uang kenduri ketika saya disunat.
Saya sudah bertekad, sepeda itu harus kembali. Saya sudah menukar segumpal ujung daging di tubuh demi sepeda itu.
Pura-pura ke WC. Saya lari menuju Kober. Dalam gelapnya malam. Tersandung-sandung kuburan. Mencari sepeda saya yang tertinggal.
BLARRR!!!
Suara ledakan terdengar memekakkan telinga. Saya merunduk diantara nisan-nisan kuburan. Mengintip apa yang sedang terjadi.
Dalam gelapnya malam, cahaya api dari rumah yang terbakar tidak mampu menyembunyikan sosok Oman yang ikut-ikutan gerombolan massa berteriak-teriak Allahu Akbar di luar pagar kuburan. Ia tidak memegang golok. Hanya ikut-ikutan orang dewasa lainnya.
Mulutnya lantang teriak Allahu Akbar berulang kali.
Saya teriak-teriak memanggil Oman, namun sepertinya ia tidak mendengar.
Dari ujung jalan lainnya, segerombolan orang berpakaian loreng-loreng muncul. Mereka bertemu. Oman berteriak keras “ALLAAHUU AKBAAARRR” dan lari menerjang gerombolan loreng.
Mata saya tak berkedip ketika cahaya kobaran api memperlihatkan salah seorang loreng membidikkan laras senapannya ke arah Oman.
BLAMM!!! Cahaya terpancar dari ujung laras.
Oman tersungkur. Jatuh. Memegang dadanya, menghunjam bumi. Oman bersimbah darah meregang nyawa.
Di belakang gerombolan loreng itu. Ada truk besar. Saya lihat, tubuh Oman yang terkapar mengerang ajal, dilemparkan oleh dua orang loreng ke dalam truk.
Oman dilemparkan begitu saja. Seperti kambing kurban yang baru disembelih ketika Idul Adha. Mereka tidak hanya memungut tubuh Oman, melainkan tubuh-tubuh lainnya yang terlentang penuh luka di Jalan Dairi. Hidup atau mati. Dilemparkan ke dalam truk itu.
Di belakang truk, ada mobil blanwir, pemadam kebakaran. Merah dan berkilat di timpa cahaya api yang berkobar-kobar disepanjang jalan. Dengan selangnya, mobil itu menyemprot sisa darah di jalan-jalan. Menghilangkan sisa kekejaman terhadap Oman. Air itu, mereka anggap mampu menyucikan darah Oman yang tertumpah sia-sia.
Malam itu, 12 September 1984. Saya mengayuh sepeda cepat-cepat menuju rumah. Lari sejauh-jauhnya dari ladang pembantaian warga kampung. Lari sejauh-jauhnya dari kepengecutan saya yang tidak mampu membela Oman.
Sejak malam itu. Saya tidak pernah membicarakan Oman. Ia seperti larut dalam kenangan yang memualkan perut saya. Kenangan atas kepengecutan saya.
Malam itu, sepertinya terlupakan. Walaupun wajah kakek bertambah keruh ketika Encang Engkos dikeluarkan dari pekerjaannya. Kata Ibu, “Cang Engkos katanya udah nggak cocok lagi pake seragam gara-gara ga dines waktu temen-temennya maranin kampung kita“.
Lalu, tidak lama kemudian, Cang Engkos jadi satpam Yacht Club. Pemiliknya, teman kakek, pura-pura buta, memperkerjakan mantan ‘anggota’ yang punya tiga buletan kecil di ujung kanan KTP-nya. Tanda tidak bersih diri.
Sejak malam itu, sepertinya setiap orang bisu. Wak Alim dan Mpok Asih, tidak pernah mempertanyakan pada tetangga-tetangga, tentang hilangnya Oman, anak mereka.
Sejak malam itu, Omat dan Ojak tidak pernah lagi berteman dengan kami. Mereka pindah sekolah ke Bogor.
Sejak malam itu, hingga malam-malam beberapa minggu lalu, saya masih saja bermimpi buruk. Tentang kilatan api, nisan, dan Oman yang jatuh menghunjam bumi.
Saya sadar sepenuhnya. Menulis ini, tidak akan membuat Oman kembali.
Dan saya juga sadar sepenuhnya, bahwa sudah ada orang yang bicara, bahwa malam terkutuk itu adalah malam penuh dosa.
Dan saya juga sadar sepenuhnya, bahwa sudah ada pengadilan untuk mencari keadilan atas apa yang terjadi di malam itu. Walaupun hasilnya tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab atau harus dihukum atas kejahatan mereka terhadap Oman yang hingga kini tidak diketahui dimana kuburannya.
Namun saya tetap menulis.
Saya menulis, untuk melawan rasa takut. Saya menulis, untuk melawan lupa.
Walaupun saya menulis, sambil meneteskan air mata.
Agustus 3, 2007 at 1:28 am
bangaip is back!!!!!
*
banyak orang muda yang sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi pada tahun 1984. to be honest, yang saya tau dulu adalah versinya pemerintah.
Memang menulis tidak akan membuatnya kembali, tapi paling tidak semakin banyak orang yang menulis semakin banyak juga orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
*tersadar…. komentar yang sok bijak dan aneh
Yup, I’m back. Walaupun terseok-seok, menopang tubuh yang semakin rapuh diterjang penyakit ini.
Ya, saya kembali.
Agustus 3, 2007 at 1:50 am
bangaip… saya tau siapa mat obeng itu…
pasti si guh eh si wad***l kan?
Biarlah ia tetap menjadi misteri.
Agar arwahnya tidak gentayangan.
Agustus 3, 2007 at 3:15 am
saya salut dengan bang aip sampai punya pembaca setia dibawah 17 tahun. salut.
Saya justru salut sama ibunya, yang mengajarkan anaknya membaca dan berfikir kritis. Lebih salut lagi, ketika beliau menulis surat, agar saya membenahi tata bahasa demi anak-anaknya.
Saya, orang yang tidak ia kenal secara pribadi atau tatap muka, ditegur secara keras, demi anak-anaknya yang tercinta.
Saya salut pada Ibu berputra dua itu.
Agustus 3, 2007 at 4:16 am
Huu…uuu… :_(
Baca tulisan bang aip ini bikin perasaan saya campur aduk, geli dan cekikikan di awal, tapi tanpa sadar mata saya ikut basah membaca akhir cerita.
Baru ini saya baca tulisan tragedi tj.priok dari saksi mata seorang anak beranjak remaja.
Duh, gimana nasib si perawan sampur ya?! lolos kah dia dari si loreng biadab itu?
(pengalaman bang aip emang top!)
Perawan Sampur, tidak tahu dimana rimbanya. Saya tidak pernah bertanya-tanya lagi, ketika setiap orang bungkam dan menggeleng ketika saya bertanya “dimana Oman?”
Agustus 3, 2007 at 4:50 am
saya gak bisa berkomentar apa2. kehilangan kata-kata….
Agustus 3, 2007 at 5:18 am
Sampai sekarang pun kasus itu..penyelidikannya tidak berjalan dengan benar. Memang negara yang aneh…
Agustus 3, 2007 at 6:13 am
bang aip emang top!
aku sampek mbayangin kejadiannya malem ituh…
Lagi Lagi, anda memukau sayah!
Agustus 3, 2007 at 7:01 am
Merinding aye bacanya bangg….
Minum aer putih. Jangan lupa basmalah. Insya Allah merindingnya ilang, trus jadi semangat nulis yang baek-baek buat anak bangsa.
Agustus 3, 2007 at 8:11 am
* speechless *
Saya yakin, sandal tidak diam. Tapi melawan kebathilan. Melalui kode yang disebarkannya pada anak negeri.
Agustus 3, 2007 at 8:27 am
wow…benar-benar pengalaman yang amat menarik. cerita ini lucu sekaligus sedih dan dikemas secara cerdas. hebat bang aip!!!
Makasih chika
Agustus 3, 2007 at 8:38 am
wah bs jadi kurikulum sejarah nih bang..tp yg selingan ‘kebakaran kecil’ td, hrsnya pake korek api gas..
Gawat, kalo jadi kurikulum sejarah.
Saya pasti dikeprukin guru-guru… Anak kecil kok doyan ‘ maen api’ !
Agustus 3, 2007 at 8:39 am
perlawanan terhadap lupa telah berhasil bang…tapi perlawanan real di ranah keadilan kapan bisa terwujud?
Pelan-pelan, dengan menulis, dan memberitahukannya pada khalayak. Kita bantu perlawanan di ranah keadilan.
Agustus 3, 2007 at 10:01 am
selamat bang.
Agustus 3, 2007 at 10:47 am
Wah, benar – benar menyedihkan…
Seperti tulisan Bang Aip mengumbar fakta sebenarnya tentang kejadian 1984 itu…
DB, banyak fakta-fakta yang lainnya kok. Tulisan saya hanya salah satu bagian dari keseluruhan rangkaian cerita.
Walaupun sebenarnya, keseluruhan rangka cerita sendiri, saya tidak mengetahuinya dengan pasti.
Tulisan ini, hanya sepenggal cerita dari ribuan cerita lainnya dari ribuan manusia, yang ada di lokasi pada malam itu.
Agustus 3, 2007 at 10:47 am
Waktu saya kopdar dengan teman2 di Sby, salah satu yang kita bicarakan ya mas Arif. Tentang tulisan2nya yang keren abis. Cerita diatas, tragis banget ya? Habis senang2 ngelihat perawan eh endingnya bikin sedih. Si perawan gimana kabarnya?
Turut berduka.
Sejak saat itu, ada jam malam di Tanjung Priok. Kami seperti tercerabut dari akar. Karena banyak yang harus mengungsi dan pergi. Ketakutan menyebar dimana-mana.
Saya tidak tahu lagi kabar perawan Sampur. Kami sekeluarga mengungsi ke Cilincing.
Agustus 3, 2007 at 10:58 am
busyet, jadi saksi sejarah
tapi dengan menulis, membuat orang lain yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu
Sejarah ini, ditulis lewat mata saya. Biasnya amat tinggi. Saya sarankan mencari tambahan informasi lainnya.
Agustus 3, 2007 at 11:56 am
Sampai sekarang saya masih selalu bingung, Bang, apakah yang Abang tuliskan dalam kisah2 ini adalah kisah nyata.. or you’re one hell of a very good writer
Yaah.. apa pun itu (kisah nyata atau historical fiction), tulisan Abang menggugah hati sekali
Very inspiring
Terimakasih Mamanya Ima.
Semuanya nyata dan sudah terjadi. Sudah saya tulis di halaman Arif Kurniawan ide dasar blog ini.
Saya tidak bisa memungkiri. Saya hidup dalam kenakalan yang luar biasa. Dibesarkan di lingkungan kumuh, oleh single parent.
Waktu ABG, kami hanya punya sedikit pilihan, yaitu; jadi militer kambing hitam lalu mati di medan pertempuran tanpa nama, atau jadi preman pelabuhan lalu masuk penjara dan mati ditusuk preman lainnya, atau lari pergi.
Saya memilih yang terakhir.
Tidak heroik memang, tapi membuat saya tetap hidup hingga saat ini.
Saya kadang cemburu dengan Ima. Ia punya ibu yang cerdas. Keluarga yang kumplit. Dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang.
Hidup saya tidak seperti itu. Tapi saya tidak malu. Dan tetap menuliskan kisah hidup saya.
Terimakasih, May.
Agustus 3, 2007 at 1:47 pm
ic.. peristiwa priok. sayapun masih kecil banget waktu kejadian itu. dan katanya memang betul ya, mayat2 bergelimpangan diangkutin pake truk. semoga tak pernah terulang.
Betul.
Semoga tidak terulang.
Agustus 3, 2007 at 3:07 pm
pass di awal saya kira ini cerita jorok eeee…
ternyata kebiadaban masa lalu yang entah kapan pelakunya di seret ke pengadilan hebat mas arif
Pelakunya sudah diseret ke pengadilan Pak Jhon. Masalahnya, tidak diapa-apakan. Begitu pula yang bertangugng jawab, hingga kini, masih buram.
Agustus 3, 2007 at 3:21 pm
ternyata, jaman dulu sama sekarang gada bedanya ya?
lain tempat, fenomenanya sama pula…
di sudut lain surabaya juga ada kok Bang…kalo abang perna baca Surabaya undercover…
Sayang sekali, saya belum pernah baca Surabaya Undercover. Bukunya Mas Emka juga?
Agustus 3, 2007 at 7:41 pm
Cerita sejarah yang dikemas secara asyik. Mulanya saya menduga cerita ini adalah cerita “nakal”. Ternyata, bang Arif ingin membuka lembar sejarah yang nyaris ditutup rapat.
Kisah lucu, nakal, sekaligus menyedihkan.
Tahun 1984, wah saya mah masih kecil banget (masih bayi, kira-kira 1,5 tahunan).
Ya udah segitu dulu aja komentarnya.
Btw, saya juga sering menantikan tulisan bang Arif (kayak anak-anak kecil si ibu yang kasih surat).
Saya anak nakal… ceritanya juga nakal. Hehe.
Makasih sudah sering mampir, Mas.
Agustus 3, 2007 at 8:10 pm
tahun segitu saya belum lahir hohoho…
*berasa muda*
Agustus 3, 2007 at 8:21 pm
Speechless baca tulisan kali ini
Kasus Priok dan kasus-kasus yang lain selalu menjadi kabur dan buram.
Pemlintiran fakta sejarah telah berhasil mencuci otak semua orang sehingga benar2 tidak jelas apa dan bagaimana semua itu terjadi…
membiarkan yang salah tanpa masalah…
membiarkan yang terluka untuk senantiasa berduka….
Agustus 3, 2007 at 8:23 pm
[Waduch maaf lupa masih pakai nama itu gara2 tidak log in]
Speechless baca tulisan kali ini
Kasus Priok dan kasus-kasus yang lain selalu menjadi kabur dan buram.
Pemlintiran fakta sejarah telah berhasil mencuci otak semua orang sehingga benar2 tidak jelas apa dan bagaimana semua itu terjadi…
membiarkan yang salah tanpa masalah…
membiarkan yang terluka untuk senantiasa berduka….
Saya yakin, kamu tidak akan speechless, King. Kamu pasti tetap menulis. Menyuarakan yang bathil itu bathil dan yang benar adalah benar.
Agustus 4, 2007 at 2:20 am
TOP MARKOTOP DAH…..
Agustus 4, 2007 at 2:51 am
Waw, dari link-link itu saya jadi sedikit lebih mengerti tentang kasus Priuk. Ternyata ada hubungannya sama ulama provokator dan semangat anti Pancasila toh
Telat banget deh gw.
Thank u Bangaip, kalo ada link2 bagus share lagi yaa….
Hubungannya kuat sekali. Militer, pemuka agama, rakyat yang mudah diprovokasi dan korban yang berjatuhan.
Mangkanya itu, saya beri link. Sebab menjelaskan, walaupun mereka yang memulai, kesalahan tidak hanya ada di pihak militer. Melainkan ada di seluruh komponen masyarakat.
Agustus 4, 2007 at 2:58 am
Pelukansalaman dulu Bang, Abang udah kembali beraksi. Saya sudah rindu tulisan Bangaitop, saban konek saya sempatkan ngelirik wordpress Abang demi mendapatkan update tulisannya Bang Arif Kurniawan.Itu papan ketik yang gimana ya Bang? boleh ane tau? Maklum orang dari daerah terkucil, ga melek teknologi.
Sekarang bukan lagi gandum. Kebijakan negara juga tergantung apa kate Amrik. Disuruh Amrik musuhin Iran? Ayoo, Indonesia manggut manggut aja ma Amrik. Indonesia punya hutang ma Amrik sich. Harga minyak juga digantung gantung trus dipimpong oleh
U.S DollarAmerika. Tindakan pemerintah Indonesia? Nurut ajah? itung itung bayar utang ma Amrik.Setau saya itu rasa dari filter rokok bermerek gudang Garam Surya.
Pernah ngalami juga di Banjarmasin, waktu saya pulang dari pertemuan mingguan bareng pengikut Nabi.
Malam besoknya saya ultah *glepak, ini komen ga penting buanget sich*
Saya nulis komennya dirumah sambil ngopi (maksud saya nulis buat komen, trus ngopi). Turut berduka cita…. Semoga akan ada tindakan pertanggung jawaban lebih lanjut dari orang orang, siapapun itu, entah itu pemerintah maupun aktivis atau siapa saja yang berjawab dan bertanggung atau harus menjawab maupun menanggung. Semoga kebenaran bisa diungkap. Semoga Tanggungan bisa dijawab. Semoga jawaban bisa ditanggung. Bisa ga ya? di Indonesia biasanya….. yang beginian bisa disimpan rapat rapat trus dikasih formalin biar ciumnya ga kebusukan, atau dikamuflase biar ketahuannya ga belang……
Papan ketik, sudah dijawab di komennya Apung.
Mengenai pertanggung jawaban. Sebenarnya sudah ada pengadilan, Rid. Masalahnya, tidak ada yang dihukum sama sekali. Dan dimana mayat-mayat dikuburkan, hingga saat ini, tidak ada yang mempu menjawabnya.
Agustus 4, 2007 at 4:07 am
Saya pernah denger juga cerita tentang “malam pembantaian” tersebut dari salah seorang saksi sejarah, waktu itu saya diajak temen. Ceritanya hampir sama tentang bagaimana mereka dengan biadab menghabisi rakyatnya sendiri.
Dan tak disangka ternyata bangaip juga salah satu saksi sejarah yang mengingatkan saya akan orang itu. Cerita yang menyedihkan dan membuat saya merinding & meneteskan air mata…
Mudah-mudahan akan datang keadilan yang bisa mengadili mereka2 yang terlibat.. kalopun tidak didunia yang pasti keadilan itu akan datang di hari pembalasan kelak…
Bener Mas Rusman. Saat ini, mereka bisa menghindar di tangan peradilan RI yang namanya sudah carut marut itu.
Tapi, suatu saat nanti, mereka ga akan bisa menghindar dari pengadilan illahi.
Saya yakin!
Agustus 4, 2007 at 4:18 am
Bang Aip, anda sungguh “beruntung” menjadi eye witness dari sebuah rangkaian sejarah kelam bangsa ini, usia saya waktu itu kira-kira 8 tahun… Peristiwa priok adalah sebuah tanda kedhaliman yang dirancang secara sistematis di negara ini..dan itu sudah biasa.. By the way keep writing…. Salute…
Betul, Mas Sigit.
Polanya selalu sama. Berulang dari tahun ke tahun. Gila.
Kita, melihatnya, sebagai salah satu perubahan mekanisme sejarah yang luar biasa.
Padahal, akarnya sudah ada sejak dulu kala.
Agustus 4, 2007 at 4:31 am
Hmmm …
Campur aduk deh rasanya!
lagi bang!
Sebentar Mas Peyek. Tangannya cuma dua nih.
(*kalo tangannya empat, serem amat*)
Agustus 4, 2007 at 5:37 am
lain kali bawa koreknya yang banyak, biar bisa buat bakar mobil pemadam kebakaran heheheheheheh
thx bang
Jangan ahh, Pak. Dikit-dikit maen bakar. Bahaya. Nggak jauh beda ama pembunuhnya, Oman.
Agustus 4, 2007 at 6:38 am
Tiap detik waktu yg bang Aip laluin, sepertinya sarat akan pesan moral…jgn bosen2 crita yg bang…, soalnya sy jg ga bosen2 ngintip blog ini, u/ dpt update kisah2 lawas abang…cayohhhh!!!!
Makasih sudah mampir yaa Lia.
BTW, saya bukan pembawa pesan moral.
Moral saya tidak sebegitu banyak, sehingga harus disebar dan dibagi-bagi.
Heheehe
Agustus 4, 2007 at 10:01 am
Saya membaca utk. melawan rasa takut.
Saya membaca utk. mengingatkan kisah yang terlupa.
Saya membaca utk. menjadi saksi atas peristiwa.
Saya membaca utk. turut merasakan duka.
[***kembali lagi aku harus menjadi saksi dalam buramnya sejarah***]
Selamat membaca.
Bersama kita menangis dan bersama kita menata ulang agar airmata (dan darah) tidak lagi tertumpah sia-sia.
Agustus 4, 2007 at 2:29 pm
waduh sad ending…
Maap
Agustus 4, 2007 at 3:38 pm
masa lalu bisa ditulis ulang, menjadi lebih manis atau lebih pahit.
tergantung, siapa yang menulisinya…
keep writing, bro!
Makasih Mas Munggur.
Agustus 4, 2007 at 5:37 pm
ngantuk baca-nya…
Terimakasih atas kritiknya yang cerdas dan membangun. Terimakasih sudah mampir.
Agustus 6, 2007 at 6:52 am
Mbaca tulisan2nya serasa mbaca cerita2nya Mangunwijaya.
Tulisan Romo yang mana?
Agustus 6, 2007 at 8:29 am
makasih bang aip
Sama-sama, Way.
Agustus 6, 2007 at 9:31 am
saya juga pernah denger cerita-cerita seperti itu (peristiwa Tg. Priok, bukan si perawan tadi) di rumah saya. Cuma saya waktu itu belum lahir, dari semua yang bercerita kemudian, tulisan bang aip emang yang paling top! kapan-kapan boleh mampir ke sambiloto?
Eh iyah, mirip sama Neo Forty-Nine, keyboard AZERTY itu beli dimana?
Kekekekke
Silahkan mampir ke Sambiloto, Pung. Ada Emjie, Arman, Akew, Jeje, Sigit dan segerombolan manusia lainnya yang baik hati dan ramah.
Papan ketik AZERTY, built-up shipment keyboard untuk negara-negara di Eropa selatan.
Agustus 6, 2007 at 9:58 am
[...] mengerti bahwasanya saya tidak memiliki kemampuan lainnya untuk membahas seperti misalnya faktor sosial budaya, geografis/geologi, matematis, ideologis, dan lain [...]
Agustus 6, 2007 at 12:19 pm
Hukuman buat pornografi itu langsung on the spot ya bang…?
Habis liat jembut, langsung di-dorr…
Tentang 1984, kalau sudah mengetahui kebenaran tapi tidak bisa berbuat apa-apa begini, rasanya kok jadi pesimis ya?
Saya tidak berharap apa-apa ketika menulis postingan ini.
Tapi…, saya amat berharap, menulis ini, bukan untuk membangkitkan pesimisme anda.
Apabila iya, mohon maaf. Sebab itu sama sekali tidak ada di benak saya.
Agustus 6, 2007 at 4:17 pm
saya mau nangis…bukan gara2 jembutnya
Agustus 6, 2007 at 7:10 pm
Waktu PPL dulu
karena kurang kerjaansaya sering nongkrong di perpustakaan sekolah, trus baca-baca kliping koran lawas, Suara Pembaruan rasanya, tentang peristiwa 1984. Buset, bahasanya orba banget, dengan begitu banyak berhamburan istilah-istilah yang “menentramkan” semacam diamankan, ditertibkan, dll… duh, baca posting ini jadi tambah sedih.Entah kapan hegemoni kekuasaan bisa takluk pada kebenaran yang sejati… Ketika hukum benar-benar ditegakkan di negeri ini… Semoga secepatnya. Amin!
*Sesak bacanya Bang!*
Saya juga berdoa yang sama, Med. Setiap hari, berdoa… dan tetap berusaha. Agar hukum ditegakkan di negeri tercinta ini.
Agustus 7, 2007 at 1:55 am
hmmm…bangsa yang sakit jiwa, tentara yang sakit jiwa. kapan sembuhnya ya? sedih aja…
Pelan-pelan, komunitas kecil kita bahu membahu. Membersihkan kotoran yang ada.
Agustus 7, 2007 at 8:21 am
1984 baik sebagai sejarah maupun ramalan, kok jelek melulu, ya?
Entahlah, saya juga bingung. Tapi BTW, 1984 itu buku yang bagus loh.
Agustus 7, 2007 at 9:39 am
Eh, ceritanya kok beralih 180 derajat pada saat BLARRRR?
Tetapi peristiwa kekejian itu memang mengerikan. Jadi sedih…
Salam.
Sori, kalo alur berbalik vertikal drastis.
Tapi emang begitu, kejadiannya.
Agustus 7, 2007 at 10:23 am
ga bisa komen.. saya sempat terpingkal-pingkal waktu ada kebakaran jembutnya.. sempat trenyuh saat oman tertembak dan hanya bisa melihat.
Agustus 7, 2007 at 12:59 pm
waw…
thank mas indix untuk url nya.. such a nice blog..
Agustus 8, 2007 at 6:08 am
waktu itu aku baru berusia 3 bulan…
Tulisan khas bang Aip. Merinding bacanya, sambil ngebayangin aku ada disana melihat ceceran darah di jalan…
Umurnya sekarang 23?
Aiihh… aihh… masih muda.
Sama dong, saya juga masihmuda.
Agustus 8, 2007 at 6:28 am
Touching bang, touching!
Saya cuma bisa berdoa untuk Oman idolanya bang Aip. Semoga arwahnya diterima disisi-Nya. Satu hal bang, gak perlu quilty berlebihan. Toh, pada waktu itu Bang Aip tidak tau apa yg harus dibuat. Oke, thanks sudah berbagi!
Makasih atas doanya, Mas Abe.
Agustus 8, 2007 at 6:30 am
Sangat dalam dan khas. Cerita bang Aip benar2 menyentuh. Lucu..tapi mengharukan. Sampai merinding aku bang. Pengen nangis, tapi udah gak bisa, taon 84 aku masih SD. Abah saya selamat dalam peristiwa Priok, tapi temen abah tidak. Dia telat lari akibat mabuk bersama perawan sampur [versi beliau abah..]
Iya, banyak korban yang tidak tercatat di malam itu.
Sepengetahuan saya, beberapa orang mencatat tentang hilangnya manusia di malam itu.
Ternyata, si pencatat, hilang juga dikemudian hari.
Entah kenapa? Hingga saat ini, tidak ada yang mampu menjawabnya.
Agustus 8, 2007 at 9:46 am
kocak, seru, tegang, kejang (menangis)
Agustus 9, 2007 at 3:25 am
ternyata bang aip saksi sejarah juga toh, lama-lama baca tulisan bang aip inget novel-novel mendiang pak pram, penuh heroisme, tragedi, dan sedikit nakal…hehehehe…
Waduh, disandingkan dengan Bung Pram.
Agustus 9, 2007 at 4:56 am
Waduh Bang Arif ini cerita antara awal dgn akhirnya berbeda jauh bgt.
Tadinya kukira happy ending ternyata sad ending kebalikan dr postingan kemaren
Sayang, tidak semua cerita hidup saya berakhir dengan happy ending.
Sayang memang. Tapi, apa mau dikata? Semuanya telah terjadi.
Agustus 9, 2007 at 8:16 am
sebenernya kenapa oman ditembaki bang?
thx ceritanya
Baca linknya? Link juga bagian dari tulisan loh.
Oman, korban kekejaman oknum bersenjata juga korban manipulasi pemuka agama yang keji.
Agustus 9, 2007 at 9:29 am
bang, kabarnya mat obeng gimana sekarang?
Semoga beliau sehat. Saya tak jumpa dengan Mat Obeng. Tapi teman-teman di SERRUM, berjumpa dan ikut kuliah terbang yang beliau berikan.
Agustus 9, 2007 at 11:51 am
Lama tak jumpa ooyi
Iyo Kang. Apakabarmu? Hehe
Agustus 9, 2007 at 4:35 pm
Rif,terima kasih sudah berkunjung ke weblogku
karena sudah dikunjungi sesama desainer jadi tambah semangat…..
sama-sama terimakasih juga mbak. Tetap semangat. Hehe
Agustus 10, 2007 at 10:22 am
he2, kayaknya kalo Kakek Taufik Ismail baca postingan ini bakal ngamuk beliau, secara pidato nya “Gerakan Syahwat Merdeka” menjadi nisbi di postingan ini…:)
ceritanya menarik juga kang….thanks
Apabila beliau mengamuk atas masa lalu yang telah saya terima dengan penuh mimpi buruk. Yaaa, saya terima saja.
Amukan beliau tidak akan mengakibatkan Oman kembali.
Atau menjawab, dimana dikuburkannya mayat kerabat dan tetangga saya.
Apabila ada kalimat yang menyinggung perasaan. Mohon maaf. Terimakasih sudah mampir.
Agustus 10, 2007 at 12:58 pm
Papan ketik AZERTY, built-up shipment keyboard untuk negara-negara di Eropa selatan.
jadi bang Arid ini tinggalnya di Eropa to?
*pletak*
Bisa ga ya kesimpanan yang dibusuk itu diungkap?
Kapan ya kelihatan akan di perbenarkan?
Saya tinggal di beberapa negara. Ada pemberitahuannya kok di halaman Arif Kurniawan.
Mengenai yang busuk kapan diungkap. Sebenarnya sudah dicoba diungkap. Namun biasanya lama dan susah.
Tapi, kita coba saja terus.
Agustus 10, 2007 at 1:02 pm
Waduh salah ketik bang…
Harusnya kan ARIF. bukan ARID
tolong dieditkan ya Bang…
maklu, keyboard arab gundul nich….
Ndak apa-apa Rid. Dipahami kok.
Agustus 10, 2007 at 3:48 pm
smoga cepat terobati lukanya, meski msih ada bekas goresan.
Terimakasih doanya Mbak Kenny.
Susah sembuhnya, Mbak. Masih sering mimpi buruk mengenai malam itu.
Entah apa obatnya…
Agustus 10, 2007 at 5:14 pm
Postingan yang bagus: Cerita mengalir, lancar, jernih. Motif Bang Aip menulis untuk melawan lupa, mengingatkan saya terhadap novelis Cekoslovakia, Milan Kundera. Salah satu perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa. Tapi sebentar lagi kita perayaan 17-an. Bang Aip tidak lupa, kan? he-he-he. Salam kenal dari Kendal, “Merdeka!!!”
Saya tidak pernah lupa 17 Agustus, Pak Sawali.
Tidak akan pernah lupa.
BTW, terimakasih sudah mengingatkan.
Terimakasih sudah mampir.
Agustus 11, 2007 at 1:12 pm
lagi bang…lagi….
selalu ada sisi lain dari sejarah….
sabar… sabarr… tangannya cuma dua nih. hehe
Agustus 11, 2007 at 1:37 pm
peristiwa peristiwa tragedi bangsa ini, seperti tanjung priok 84, kerusuhan 98, selalu ada sisi sejarah dan humanisme yang sebenarnya sangat menarik untuk dibuat film…cuma gimana untuk memulainya karena data dan riset masih sangat terbatas..
Betul Mas Iman. Selalu terbatas. Dan biasanya hanya ada dalam versi pro-gov saja.
Agustus 12, 2007 at 6:50 pm
*ikut prihatin*
Dulu-dulu saya sampai yakin begitu bahwa kasus Tanjung Priok memang termasuk kasus Pelanggaran HAM Berat seperti yang belakangan diangkat di berita-berita. Detil kejadiannya yang ternyata ada pengumpulan massa dan diprovokasi begitu malah baru tahu belakangan ini…
Apa banyak ya yang tahu gimana kejadian yang sebenarnya ya Bang Aip?
Semestinya banyak. Sayang sekali tidak pernah mau mempublikasikannya. Hingga kini, ibu saya, kakak dan adiknya tidak pernah mau bicara masalah itu. Mereka benar-benar trauma, setelah melihat pengadilan pelaku ternyata tidak membawa hasil apa-apa.
Agustus 13, 2007 at 9:24 am
keren!
aku pikir cerita ini akan jadi seperti apa. ternyata membuka pengetahuan saya untuk mencari lebih dalam tentang peristiwa berdarah itu.
keren bang! lagi dong..
Makasih, dats, sudah mampir. Emang kamu pikir, ceritanya seperti apaan? Hehe
Agustus 13, 2007 at 9:41 am
@36 – gile, bisa ngantuk baca posting bangaiptop
makhluk langka ini, jangan sampai punah lho, he he
)
.
mudah-mudahan makin banyak yang maju dan menceritakan versi mereka ya bang. Sehingga akhirnya bisa jadi ketahuan gambaran lengkap tragedi tsb.
.
(kok ragu kalau “perawan sampur” memang masih perawan
Nggak papa, Pak. Lumayan, ada kritikan. Hehe.
Oh ya, selain itu, saya juga berharap ada yang lain yang menceritakan versi mereka. Sebab cerita ini hanya sepotong saja dari tragedi keseluruhan.
Dan, mengenai keperawanan Perawan Sampur. Waduh, no comment, Pak. Ndak bisa jawab. Hehe
Agustus 13, 2007 at 9:47 am
walaupun mereka yang memulai, kesalahan tidak hanya ada di pihak militer. Melainkan ada di seluruh komponen masyarakat.
Akur seakur akurnya dengan bang aip.
Karena itu saya pesimis dengan slogan “khilafah is the solution”. Lha khalifah mau ngapain kalau rakyatnya malah berontak, menuntut korek api & j*mb*t perawan sampur, hihihi
Cerahkan & didik umat, this is **the** solution.
Saya juga pesimis, Pak Harry. Sebab toh sejarah sudah membuktikan “Khalifah is not solution”. Tadi malam, saya baru saja diskusi personal (namanya kopdar yaa kalau ndak salah, hehe) dengan komentator no.71. Salah satunya, membahas sistem kekhalifahan di Indonesia. Hasilnya, kita berdua, ketawa-ketiwi saja. Hehehe.
Solusinya, ya itu, betul Pak Harry. Cerahkan dan didik umat.
Agustus 13, 2007 at 9:54 am
Tujuh pulux !
Agustus 13, 2007 at 11:39 am
“Waktu ABG, kami hanya punya sedikit pilihan, yaitu; jadi militer kambing hitam lalu mati di medan pertempuran tanpa nama, atau jadi preman pelabuhan lalu masuk penjara dan mati ditusuk preman lainnya, atau lari pergi.
Saya memilih yang terakhir.
Tidak heroik memang, tapi membuat saya tetap hidup hingga saat ini.”
Untuk sebuah ide besar bernama “KEMANUSIAAN”, aku pikir tidak ada jalan yang lebih heroik dari yang kau pilih, Rip.
Makasih atas dukungannya, Mam. Mengena, euy.
Agustus 13, 2007 at 2:52 pm
[...] under Orang Indonesia , Republik Indonesia , Pendidikan (*Diilhami oleh komentarnya Daeng Ruslee di postingan terdahulu dan tangisan Mamanya Nina beberapa tahun lalu. Ia, orang tua siswi saya. Meminta saya melakukan [...]
Agustus 13, 2007 at 4:19 pm
Bang Aip pancen toopp…
Sapa sangka dari jemb@#$%!t perawan, nyambung ke peristiwa Tanjung Priok. Oman RIP…
Makasih udah mampir euyy.
Agustus 14, 2007 at 4:09 am
bangaip..
sedih banget bacanya.. emang bener di indo perenah ada kejadian kayak gitu ya?
eniwei, dari link2 yg sampeyan kasih, kesan yg aku dapet bukan kesan bahwa pemerintah yg kacau,tp karena massa yg juga bersalah ya? apa aku salah nangkep karena ngantuk?
aduh.. omongin ini pas di den haag yuk..
Semua elemen masyarakat saat itu kacau, Dho. Baca komen #69?
Insya Allah, kita omongin lagi nanti di Den Haag. Saya datang, sekitar 12.30 ke Sekolah Indonesia.
Agustus 15, 2007 at 2:48 am
wew… bener ya bang… klo blog bang arif ini dikunjungi bisa sampe 200 pengunjung… buktinya sayah dapet jatah komen nomer 75… gpp angkanya catek juga kok…
Jujur aja sayah dapet pelajaran baru bang… pengetahuan yang belum pernah sayah tau…
Tahun 84 baru umur 1 th ya sayah…
Tetap semangat ya bang… ati2 hidup di negri orang… Enak ga bang idup disono… jadi pengen sayah bang…
Kata adek saya, Ami, kebahagiaan tidak berasal dari letak geografis. Tapi dari hati.
Saya sudah membuktikan. Ia benar perkataannya.
Agustus 15, 2007 at 2:39 pm
tahun 1984 itu ada kejadian apa ya bang?
saya teh belum lahir.
apa ada kaitannya dengan tahun 1965?
1984 ada tragedi berdarah Tanjung Priok.
Kaitannya dengan 65. Sistematis dan melibatkan militer serta agamawan.
Agustus 18, 2007 at 2:28 pm
oh iya, tanjung priok. kalo gak salah yang ditembaki di mesjis pas sholat subuh itu ya?
kalo gak salah lagi, salah satu aktornya benny moerdani itu kan ya?
(alm) Pak Benny dan Pak Domo memang diduga kuat ada dibelakang layar.
Agustus 22, 2007 at 11:58 pm
oman … ?
sekarang dia salah satu juragan kepiting di priok …
Mau saya ketawain komentarnya?
Kalau memang membuat anda puas, lain kali, akan saya ketawain komentarnya. Agar dianggap lucu.
Agustus 23, 2007 at 1:42 pm
deuh… speechless ane mo ngomong apa..

just keep writing ya bang
btw, ane pengen protes nih.. gpp lah.. toh orangnya ngga keliatan ini
- sepertinya ane kudu ati2 baca blog bang aip, karena seharian ini gw cuma sempet 1 meeting dan sisanya baca blog. racun!. jauhi mengunjungi tetangga2 bang aip karena most of them peracun2 berbahaya juga
- jadi terinspirasi nulis banyak hal. arrrrghhhhh.. racun juga! i will told you if i’ve been made it
*semua punya cerita, semua punya makna.. seorang bang aip mungkin memang ditakdirkan untuk lari, dan kembali bercerita, mengungkap apa apa dalam peristiwa.
kata seorang teman, tidak ada yang kebetulan, semua ada rahasianya..
peace bang, no offense..
aniwei, thank to visit ya bang.
Sama-sama peace, Mas Edo.
Agustus 24, 2007 at 2:23 am
woooooooooo,…panjang ceritanya,..
kaya rambut lo,..ehehe..
gw mw kasih hadia pdf nya f-zine,..
enaknya gw kirim kemana ya?..
gw lupa email lo?…
terimakasih, Mas Sigit.
Agustus 28, 2007 at 4:37 pm
akhirnya gue baca juga nih tulisan. Top markotop deh .
makasih
Agustus 29, 2007 at 1:32 pm
lucu bgt kalau kebakaran jembut
September 11, 2007 at 10:21 am
Wah… tadinya gue ngakak baca bulu perawan sampur yang kebakaran…
Tapi begitu baca lanjutannya…
Gue gak tau lagi mo bicara apa..
September 30, 2007 at 2:40 am
Hmm…dari judulnya aku tadinya malas mau baca,karena aku sedang puasa takut salah baca nanti batal pahala puasa.aku hanya baca akhir tulisan ternyata bagus juga…tahun 84an,aku baru duduk dibangku kelas satu smp…paling tidak bang arip sekarang ini seumur dengan saya…atau lebih sedikit dari saya…salam kenal
September 30, 2007 at 6:17 pm
Bang Arip,
Bahagia buanget bisa nyasar dan menikmati bloq abang. Jadi teringat masa kecil dan remaja dulu. Pantai sampur msih ada ngga bang? dulu belajar kano disitu sambil pacaran juga asyiiik lho.
Trus waktu kecil pernah kecilincing ketempat jagoan cilincing tapi namanya kok lupa yah?
Jadi kange sama nih ama priok. Permai masih rame ngga bang arip?
Oktober 19, 2007 at 7:16 pm
salam kenal bang (lagi^^)
eh aku kok rada ga nyambung antara cerita ttg keberatan seorang ibu yg kebetulan penggemar tulisan mas arip, dg cerpen sejarah ini. yah, maklum, IPK cuma 3, hehe….
hmm….setelah baca cerpennya kok inget film innocnt voices yaaaa
selamat idul fitri, mas…
Sama-sama salam kenal euy. Hehehe. Dan sama-sama selamat idul fitri.
BTW, IPK saya nggak pernah nyampe 3. Saya bloon. Huehehe
Desember 3, 2007 at 7:21 am
wah wah wah.. cerita tentang sampur.. kenalan dulu ah.. anak priok juga nih =)
giling.. merinding bacanya.. maklum pas kejadian belon lahir.. jadi gak pernah tau detil ceritanya kaya apa.. tapi emang gak gitu tertarik juga sih buat tau.. not until i read this post =P
btw emang sampur sekarang masi ada? bukannya udah gak ada lagi ya?
Sampur udah ga ada. Udah di gusur ama Tomi, anaknya babeh, yang tukang nge-jedor jaksa. Saya senang, setidaknya sudah membuat anda tau sedikit sejarah soal Priok (*sebab katanya anda anak Priok juga*)
Desember 4, 2007 at 2:19 am
Ceritanya sarat makna bang, dari yang lucu (kebakaran jembut) sampai yg sedih (oman di tembak) semuanya ada. bikin miris.
Jangan pernah berhenti menulis ya bang…saya dukung!
Terimakasih Mas Bambang
Januari 15, 2008 at 3:31 am
[...] ada kasus ini. Mungkin ada keluarga korban petrus dan gali yang tidak menemukan jasad jasad para korban. Mungkin [...]
Januari 15, 2008 at 6:48 am
waaa…harusnya artikel ini udah ada pas kemaren bikin laporan tentang peran TNI di Indonesia..
saya juga baru tau kasus priok gara2 ngerjain tugas itu… :p
Januari 30, 2008 at 8:00 am
ooo jadi ini toh kasus tanjung priok! Taon segitu saya baru masih belajar jalan!
Februari 19, 2008 at 9:43 am
Wah.sy jauh dr kalimantan barat.mmg kgk tau ceritanya bang makasih
God bless blog. Jadi kita bisa berbagi disini secara bersama. Terimakasih pula sudah mampir.
Februari 19, 2008 at 11:28 am
Tanjung Priok 12 September 1984, terasa lebih mengharu-biru, versi bangaip punya.
Mantab bang!!
Secara pribadi, saya cerita apa adanya. Tanpa niat apapun. Terimakasih atas kedatangannya, Mas Sofian.
Maret 26, 2008 at 11:22 am
Ass..
Halo bang..
emang beneran waktu peristiwa itu bangaip ada di sana ?
kalo gitu sama dong sama saya…
waktu kejadian itu umur berapa bang ?
jangan-jangan kita kenal nih…
soalnya pas tragedi itu umur saya 7 tahun kelas 2 SD
inget banget waktu itu sekolah dipulangin cepet dan listrik mati beberapa hari…
mana ortu lg dinas ke luar kota jd dirumah cuman sama kakak2 aja…
salam kenal ya bang…
tks banget buat artikelnya yg sangat2 membantu rasa kangen saya sama daerah sampur (waktu nulis ini lg googling sampur)….
wass
Maret 31, 2008 at 8:07 am
dari sisi pelaku (tentara) pada waktu itu : “demi negara” apapun yang berbau RADIKAL dan dapat mengganggu stabilitas NASIONAL, harus dihentikan!!!
dari sisi pelaku (tentara) pada waktu itu dan sekarang berkomentar :
tuh kan…….lu ribut HAM doang sih, tanpa mikir panjang, sekarang lu rasain……….
sepak terjang FPI (yang dianggap sebagian orang sangat radikal)
nb: simak tulisan ‘mengapa saya anti FPI’
April 25, 2008 at 5:55 pm
Waktu kejadian itu, gw baru aja ke smg. kuliah. sebelomnya gw getol banget ikut ceramahnya abdul qodir j, tony ardy, mawardi noor, syarifin maloko, kalau nggak di gg 5 koja, ya di ptdi stasiun priok. gw lahir dan besar di dekat kober gg 13 jl donggala. duuh bangaip, gw jadi merinding ngebayangin lagi sampur… gw sering banget denger cerita temen2 yg badung suka ngintipin orang gituan (clepak clepok) di bahtera jaya. ampe sekarang gw sering ngimpiin rumah gw dan daerah kami (koja utara) yang skrg jadi pelabuan peti kemas. kami adalah juga korban gusuran dan skrg kami (bokap & nyokap en kakak aku) tinggal di belakang kantor walikota jakut yang katanya jadi megah kayak skrg juga gara-gara nilep uang ganti rugi di koja utara (bener nggak tuh bang ya?)… Met kenal bang.
Juli 24, 2008 at 4:41 pm
[...] lihai dalam merangkai kisah masa lalunya menjadi tulisan-tulisan yang begitu memikat, pun sarat makna dan hikmah. Saya mungkin takkan bisa menulis sehebat beliau, tapi setidaknya semangat berbagi [...]
Oktober 10, 2008 at 4:31 am
[...] hidup, dari ingin menggaet pacar sampai ditinggal selingkuh sampai ingin bunuh diri, menjadi saksi sejarah, menghadapi intoleransi, bergaul dengan kalangan [...]
Januari 16, 2009 at 9:56 am
WEY SAPA AU KATUIN Q NI Q GK SABAR NOX
Maret 24, 2009 at 5:37 pm
hhhhhhhhhhhhh
April 17, 2009 at 2:29 pm
saya sempet ketawa pas cerita jembut nya. but after that saya merasa ngeri dengan ceritanya. habis pembantaian gitu. tapi jempol lima buat yang nulis