(*Awas, cerita ini ada bagian joroknya*).
International Airport atau Bandar Udara Internasional, atau lebih baik, saya sebut saja sebagai bandara, adalah tempat yang unik. Bagi saya, ini adalah satu-satunya tempat di dunia yang membuat saya merasa sepi dan ramai dalam waktu yang sama. Ratusan, atau bahkan ribuan manusia, dalam perjalanannya, bertemu, berkumpul, lalu bicara satu sama lain. Bahasa mereka berbeda-beda. Mengagumkan.
Saya sering merasa kesepian di bandara Internasional. Dimana batas kekuasaan sebuah negara hanya dipisahkan oleh tipisnya kaca ruang embarkasi.
Maka itu, kalau melihat ada orang Indonesia di bandara, saya jelas gembira sekali. Walaupun kadang-kadang kegembiraan saya berujung dengan kebingungan, saya tetap senang bertemu orang Indonesia di bandara. Aduh, rasanya.. gimanaaa gituuu. Sukar dilukiskan deh.
Akibat bukan pekerja bandara namun sering berada di bandara, saya punya beberapa ritual yang biasanya saya jalani. Saking seringnya melakukan ini, saya bahkan menamakannya Ritual Bandara Bangaiptop, prosedur standar operasional bangaiptop ketika di bandara. Hehehe.
Ritual utama setelah turun dari pesawat, cari toilet. Sebab sebagai manusia, saya punya banyak kelemahan. Diantaranya adalah tidak bisa buang air besar di toilet pesawat. Rasanya aneh. Setiap mencoba untuk duduk di wece umum bermesin jet itu, saya selalu membayangkan Superman. Tokoh superhero, terbang dari bumi, dengan lambaian tangan manusia yang memujanya. Lalu diam-diam, setelah sampai di angkasa, jauh dari mata manusia, sambil terbang, ia jongkok, memelorotkan celananya, buang hajat di sembarang tempat di beberapa negara sekaligus. Tanpa bunyi “Plung!”…Aneh dan jorok. (*hehe, kan sudah diperingatkan, ini cerita jorok*)
Ritual kedua, ke toko musik, membeli CD pemusik lokal. Belajar mengenali daerah yang disinggahi melalui musik mereka. Memahami budaya secara selintas. Jadi, kalau ketemu orang lokal, ada bahan percakapan. Dan musik lokal adalah topik yang mengagumkan untuk mendapatkan kenalan baru.
Ritual ketiga, cari warung yang menjual teh. Sebab sejak berhenti merokok dan minum kopi, saya ‘melarikan diri’ dengan minum teh. Sambil mendengarkan musik, minum teh, lalu plarak-plirik. Kepala mirip kipas angin. Ke kanan, ke kiri, tidak bisa diam. Memperhatikan manusia-manusia yang lalu lalang. Ada yang berwajah letih setelah seharian duduk di bangku pesawat. Ada yang sedih karena harus pergi dari yang mereka cintai. Ada yang riang gembira, pakai baju yang terbaik yang ia punya, seakan-akan tujuan baru akan meninggalkan semua beban derita yang ditanggungnya. Ada pula yang peluk-pelukan dan cium ciuman seperti akan kehilangan bibir untuk selama-lamanya.
Ritual keempat, adalah awal kesedihan. Setelah menyadari, tidak ada seorangpun yang lalu lalang itu akan duduk singgah lalu bercakap-cakap di meja saya. Saya melihat kiri kanan sepanjang manusia warung. Memperhatikan, adakah kiranya gerangan manusia yang asik dijadikan teman bicara. ‘Korban’ baru yang akan memberi informasi sambil berdebat mengenai dunia lokalnya.
Ritual kelima. Kesedihan semakin berlanjut. Yaitu saat ketika proses ritual keempat saya gagal. Saya mulai jalan-jalan mengelilingi bandara. Cari informasi tour gratis, atau promo barang gratis… atau apalah. Yang penting ada hal yang bisa saya lakukan ketika di luar bandara gelap dan suhu mulai mendekati titik beku.
Ritual keenam, titik kulminasi kesedihan. Duduk, melamun di depan tivi bandara. Menyaksikan berita dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Mengeluarkan buku dari tas. Membuat sketsa. Lalu setelah selesai, buku sketsa ini dimasukkan lagi dalam tas. Sementara badan semakin letih. Kursi bandara semakin tidak nyaman menampung badan yang ingin selonjor tidur-tiduran. Badan semakin penat. Penerbangan selanjutnya terasa semakin lama.
Setiap mengunjungi bandara internasional, saya selalu berharap hanya akan sampai ke ritual ketiga. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Sebab saya selalu dipaksa oleh kondisi menelan bulat-bulat hingga ritual keenam. Maka itu, saya selalu merasa kesepian di bandara internasional.
Jadi, dapat anda bayangkan, betapa gembiranya saya bertemu orang Indonesia. Dan ini satu cerita ketika saya bertemu orang Indonesia di bandar udara Internasional non-Indonesia.
Beberapa tahun lalu, dari sebuah negeri yang jauh dan akan menuju negeri jauh berikutnya, saya harus singgah semalam di bandara Taoyuan, Taipei. Pesawat yang saya tumpangi mendarat pada malam hari. Keluar dari pesawat, celingak celinguk mirip maling ayam. Bingung. Sebab selain bandara ini tidak terlalu banyak orang untuk ditanya, papan pengumumannya pun tidak ramah, karena menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti.
Dengan khidmat, saya lakukan RBB alias Ritual Bandara Bangaiptop. Baru sampai ritual ketiga. Saya melihat rombongan TKW asal Indonesia. Masya Allah, rupanya ini hari keberuntungan saya. Teh cepat-cepat dihabiskan. Lalu buru-buru ke arah mereka. Ingin mengobrol. Kangen berbicara dalam bahasa Indonesia.
Mengapa saya tahu itu TKW asal Indonesia. Gampang. Sebab saya kan TKI. Sesama tenaga kerja asal Indonesia, mudah mengidentifikasi satu sama lain. Hehe. Di antara ciri khusus yang saya endus adalah, mbak-mbak itu bergerombol. Pakaiannya seragam. Kalau yang pakai jilbab, bahkan jilbabnya juga seragam. Pakai jaket tipis dengan benang obras yang jahitannya mencuat kesana-kemari. Duduk kempet-kempetan, mencoba menahan dinginnya udara bandara di musim salju. Logatnya medok. Dialeknya khas dari Jawa Timur.
Saya gembira sekali bertemu mereka. Dari jauh, saya sudah senyam-senyum menatap mereka. Sambil nenteng-nenteng gitar, saya menghampiri gerombolan mbak-mbak itu. Sudah membayangkan, mau nanya pertanyaan standar “Mbak, asalnya dari mana?”, atau “Mau kemana mbak, ramai-ramai”, pura-pura buta, tidak membaca tulisan ‘KOREA’ sebesar kepala di belakang jaket mereka. Atau pertanyaan memancing kehidupan pribadi seperti “Aduuh, enak yaa kerja di luar negeri. gajinya pasti gede. Suaminya kasian dong ditinggal?”, seakan saya sedemikian bodoh tidak tahu beratnya himpitan ekonomi mereka sehingga harus meninggalkan sanak saudara dan dusun tercinta.
Sebelum saya menghampiri, saya lihat, mereka juga senyam-senyum ke arah saya. Dintaranya bisik-bisik. Waduh, saya jadi ge-er sendiri. Membayangkan bahwa mereka tengah membicarakan saya.
Tiba-tiba, mereka bangkit ramai-ramai. Lalu menghampiri saya. Wah, saya semakin kaget. Tiba-tiba dikelilingi mbak-mbak ini. Senyum saya tambah sumringah. Ini namanya jackpot. Bukan hanya akan bicara dengan satu orang Indonesia saja, tapi banyak orang Indonesia.
Tapi kok, ini malah merubung begini? Ada yang cubit-cubit pipi saya. Ada yang megang tangan saya, mengajak salaman. Ada yang minta foto bersama. Aduh ada apa ini?
Saya baru sadar, ketika mereka mulai bertanya. “Mas Once, ngapain kok ada di sini?”, “Kok nggak sama yang lain, mas?”. Di sudut lain, yang matanya mengerling genit bertanya “Mas Once, udah punya pacar belum?”. Trus mbak yang manis yang pakai jilbab bertanya, “Mas Once, katanya Mas Dhani suka main perempuan yaa?”. Astaga!
Yaa ampuun. Saya kaget bukan kepalang. Ini mah bukan jackpot lagi. Ini mah ajaib. Saya dianggap oleh mbak-mbak ini sebagai Once, vokalis DEWA, band asal Indonesia. Buset dah!
Saya terbata-bata. Tidak bisa berkata apa-apa. Akankah saya mengaku sebagai pemuda jadul asal Cilincing? Meninggalkan euforia sebagai selebriti palsu di negara orang? Padahal rasanya jadi selebriti itu enak juga. Dirubungi mbak-mbak yang seakan memuja. Akankah saya mengaku sebagai seorang Indonesia biasa yang tengah kesepian di sebuah bandara dan hanya butuh teman bicara? Sementara saya tahu bahwa menjadi Once untuk sementara dapat menghibur mereka. Minimal, ketika menelpon sanak saudara di kampung, bisa bilang “Eh, aku ketemu Once loh. Oncee gituu, vokalis Dewa. Dia lagi sendirian di Taiwan. Duh, aku sampe colak-colek pantatnya segala”.
Bibir saya bergetar.
Setelah berfikir cukup lama akibat godaan setan narsisme. Lalu pelan-pelan, saya berkata, “Mbak-mbak. Saya bukan Once, vokalis Dewa. Saya Arif. Teman-teman manggil saya bangaip. Tapi saya jelas bukan Once”. Mata saya memandang ke sekeliling.
Mereka kaget. Ada yang diam. Ada yang bisik-bisik. Tapi ada juga yang membantah, “Halaah, Mas Once. Sombong yaa. Pake ngaku-ngaku nama samaran segala”. Lalu ada juga yang berkata, “Mentang-mentang sudah terkenal ndak mau lagi melayani fans. Mas Once payah ahh”.
Waduh. Ini jelas simalakama. Ngaku sebagai Once, yaa salah. Nggak ngaku, juga bingung. Waduh.
Baru saja saya mau membuka mulut, tiba-tiba datang mas-mas. Mukanya sangar. Pake bewok segala. Logatnya bengis, berkata pada mbak-mbak itu, “Wis ayo sini. Kumpul! Kumpul semua! Baris yang rapi!. Ayo sini! Kumpul!”. Mbak-mbak TKW, seperti terkena hipnotis, mengikuti hardikan Mas Bewok itu. Semuanya berkumpul lagi. Berbaris. Diabsen satu-satu. Lalu disuruh duduk di lantai. Dan anehnya, mbak-mbak itu menurut saja.
Pemandangan di depan saya sungguh aneh. Mbak-mbak asal Indonesia. Usia 20 hingga 40 tahun. Bergerombol. Kepalanya menunduk. Mereka duduk berselonjor di lantai. Bersimpuh. Sementara banyak sekali bangku bandara yang kosong dan dapat di gunakan. Dan saya melihat sekeliling, dimana turis-turis juga memandang para TKW itu. Dimana para keamanan bandara dan pekerja maskapai penerbangan menatap pada para TKW itu. Dan mereka terus menatap para TKW itu.
Saya bilang kepada mbak-mbak itu agar duduk di kursi bandara. Karena lebih nyaman. Tapi Mas Bewok datang menghardik saya, “Sampeyan jangan mentang-mentang sebagai artis sok tahu anak didik saya yaa!”. Waduh, situasi makin aneh saja. Saya cuekin Mas Bewok ganas itu. Saya bilang sekali lagi pada mbak-mbak itu agar duduk di kursi bandara. Sayang sekali, suara saya tidak didengar. Mereka tetap terpekur menunduk. Membisu.
Badan saya semakin letih. Tidak tahu harus berbuat apa. Saya duduk di kursi bandara. Melihat tivi dengan berita yang saya tidak mengerti. Mencoret-coret sketsa di buku. Dan menatap para mbak-mbak itu, digiring Mas Bewok ke gerbang penerbangan mereka yang selanjutnya. Mereka masih membisu. Dengan kepala menunduk pergi menuju negeri impiannya.
Dan ‘Once’ pun kehilangan kata-kata menunggu penerbangan berikutnya.
(*edit 2 sept 08: “Sodara-sodara. Saya sama sekali tidak mirip Once. Dan Once juga tidak mirip saya. Wajah kami tidak fiktif. Andai ada kesamaan, itu kiranya kebetulan belaka. Dan saya juga tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan saudara Once. Andaipun ada hubungan, kami sama-sama orang Indonesia dan sama-sama cinta Indonesia. Mohon kiranya ini diperhatikan. Untuk siapapun yang merasa wajahnya dipakai dengan semena-mena dalam tulisan ini. Mohon maaf sebesar-besarnya. Karena saya tidak dapat mengganti wajah yang telah dipakai, dengan wajah baru”. Arif Kurniawan as Bangaiptop*)
Agustus 31, 2007 at 3:16 pm
wadoooh………
saya jadi merasa berdosa pernah nggodain tkw lewat ym……hehehe
Hehehe, jangan digodain, Mas. Bantu doa, support moral dan dukungan aja, agar perlakuan TKI (blue collar) lebih baik. Minimal ada Undang-undang yang melindungi TKI.
Agustus 31, 2007 at 3:56 pm
iya mas, saya juga pernah mengalami pengalaman seperti nasibnya mbak tkw tadi, bahkan waktu itu saya pake batik dengan badge merah putih di dada, plus peci dengan burung garuda pancasila bertengger di atasnya, dimana di depan kami hilir mudik orang-orang dari seluruh penjuru dunia, yg tiap kali memandang kami, selalu saya rasakan sebagai pandangan yg menghinakan kami, meski mungkin belum tentu benar seperti itu yang ada dalam hati mereka, sedih dan malu campur aduk jadi satu.
Sebenarnya yang menghinakan adalah perlakuan PJTKI kepada para TKI itu, Mas Aryanto. Di sebuah kampung, namanya Condet, di Jakarta Selatan. Ada banyak kantor PJTKI yang memperlakukan calon TKI bagaikan binatang di rumah penampungan mereka. TKI-TKI itu bahkan dilarang keluar rumah penampungan. Apapun alasannya.
Gila!
Agustus 31, 2007 at 4:14 pm
Agustus 31, 2007 at 5:43 pm
Bangaip suka keliling dunia ya? Pasti sibuk nih? Hehe…
Oh, iya. Tentang TKW, saya juga pernah lihat tahun 2003 dulu. Sepertinya TKW yang saya lihat itu akan ke tanah Arab. Berseragam putih dan pake baju seadanya, bergerombol, ngikut-ngikut seseorang. Mungkin serupa seperti yang diceritakan di artikel ini.
Sedih memang ngelihatnya. Jauh-jauh dari negeri kita, oleh keluarga dikiranya senang, padahal banyak duka yang mereka rasa.
Btw, Bangaip mau ke mana lagi nih…?
Saya baru pulang, Pak. Baru sampai tadi pagi. Istirahat dulu di rumah.
Agustus 31, 2007 at 11:03 pm
Jadi kalo saya ketemu Once, saya harus hati-hati. Ini Once atau Bangaip
Eh, itu mas bewok kenapa ga dihajar sekalian?
Saya panggil sekuriti bandara, waktu itu. Sayang, saya tidak bisa berbuat banyak. Dihajar? Jangan, Mas Hedi. Sebaiknya dia disunat lagi aja. Huehehe
Agustus 31, 2007 at 11:50 pm
Mas bewoknya ganteng ga Bang?
Kalo ganteng, udah saya ajak ikutan band saya, ‘Dewa Naga Cilincing’. Huehehe
September 1, 2007 at 6:01 am
Wah, makin penasaran aja ama si abang satu ini neh!!! Lumayan atuh klo dikira once-mah..* (buat temen kondangan…), Menilik dr pengalaman abang di taipeh..sptnya para TKW itu baru pada dateng kali yeee..dari kabar yg sy baca Hongkong&Taiwan lebih ber’prikemanusiaan’ terhadap tenaga kerja PRT. Karna didukung UU lokal yg cukup selektif thd warga-nya yg hendak meng-hire PRT dari luar negrinya…, smoga hal2 positif itu ditiru sama negara2 sodara kita & seiman kita ya bang..spt Malaysia & Saudi Arabia…ironis memang jika para Ibu2 yg seharusnya jadi tonggak manajemen Rmh tangga harus dg terpaksa ‘meninggalkan tugas mulia’ itu demi real&dolar. Abis..biayanya boleh dibilang murah bahkan gratis loh bang!! sedangkan untuk TKL (laki2) minimal 7-10 jt harus disiapkan u/ modal perginya doang…
Iya, saya juga pernah dengar hal seperti ini. Kalau mau ‘berangkat’, harus nyiapin uang sekian juta dulu. Entah legal atau ilegal.
September 1, 2007 at 6:36 am
Itulah….INDONESIA… beraninya sama orang indonesia, menindas saudara sendiri. saya Pikit banyaklah orang-orang yang seperti mas brewok itu, menjadi cecunguknya negara lain dan merendahakn saudaranya, padahal dia tidak sadar sudah merendahkan Negaranya, Ras nya dan dirinya sendiri. dasar…. Wong katrook kata tukul
Nggak semua orang Indonesia begini kok, Mbah. Masih banyak yang baik. Kita doakan aja, yang baik bisa membantu mengurangi penindasan di RI.
September 1, 2007 at 8:42 am
Lumayan, sepuluh besar….
Absen dulu, baca kemudian….
September 1, 2007 at 8:54 am
Lumayan bang, dikira Once.
Saat saya di subway Hong Kong, saya yakin ketemu seorang pembokat (TKW) dan mau nanya2 arah yang mesti diambil. (Maklum orang HK kan jalannya sliwar-sliwer cepet2) tapi yang saya dapet malah hardikan, “Eh, kamu kalo mau ngajak kenalan ngomong aja deh, gak usah sok tersesat begitu”.
Semprul, saya dikira TKI juga…..
Huehehe… Mukanya cabul kali, Mas. Jadi disangka playboy bermuka durjana. Huehehe
September 1, 2007 at 9:00 am
ini pasti baru liburan ke jakarta trus balik lagi ke blanda.
Tebakannya tidak tepat. Silahkan mencoba lagi.
September 1, 2007 at 10:23 am
kira2,perasaan kita sama kalau berada disebuah negara asing sendirian. sayapun cukup sering mengalaminya.
hanya saja bang, saya belum seberuntung anda yg bertemu mbak2 dan disangka artis. hehehe…
eh, si mbak2 itu maksudnya apaan suruh duduk dilantai ? (oot nih).
Nah ini juga saya ndak ngerti Mas Telmark. Ada yang aneh disitu. Saya juga bingung terhadap perlakuan PJTKI tersebut kepada ‘anak didik’ mereka. Diantara mbak-mbak itu, ada yang bilang bahwa mereka akan jadi PRT di negara tujuan. Mungkin si PJTKI ‘mendidik secara benar’ perlakuan yang seharusnya diterima PRT. Yaitu duduk di lantai.
Saya sempat ‘ribut’ dengan Mas Bewok masalah itu. Tapi saya kalah. Karena surat-surat beliau lengkap membuktikan bahwa beliau penanggung jawab TKI tersebut, ketika kami diskusi serius di kantor keamanan bandara.
September 1, 2007 at 10:44 am
kapan ya.. indonesia bisa menyediakan cukup penghidupan buat rakyatnya.. jadi gak usah jauh ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup…
Sumpah, ini pertanyaan yang berat. Ndak bisa njawabnya saya. Maaf.
September 1, 2007 at 10:51 am
setiap bandara punya cerita yang unik bang,..
klo saya di term int juanda malah ketemu penjual nasi bungkus yg dandanannya ky penumpang int, lengkap dengan travel bag, troli, dandanan necis,.. giliran papasan “Mas,.. nasi mas… ada nasi ayam, ada nasi udang dll, murah lo mas cuma 5rb” smbil ngegelar jualannya yg ada di travel bag.. hehehe…
Huehehe. Saya sampe ngakak sendirian pas makan siang, mbaca komen ini. Huehhe
September 1, 2007 at 11:34 am
Itu TKI-nya kok kesannya diperlakukan kayak livestock?
Saya juga ndak mengerti.
September 1, 2007 at 11:58 am
Wah ceritanya lumayan panjang, tapi mbacanya asyik.
Kapan ya saya bisa juga jalan-jalan keluar negeri kayak Mas yang mirip once
Tapi mudah-mudahan nanti bisa ke LN, dan mudah-mudahan juga udah nggak liat lagi TKW yang digutuin sama si brewok.
Saya nggak jalan-jalan, Mas. Saya kerja.
+ “kamu kerjanya apa?”
- “jalan-jalan”
Huehehe
September 1, 2007 at 12:18 pm
halo mas once..
minta tanda tangan dong… hihihi
September 1, 2007 at 12:26 pm
tiba2 sekelebatan iseng..
TKI kan tenaga kerja indonesia
artinya siapapun orang indonesia kerja di luar indonesia, itu ya TKI. mau dia pembantu, diplomat, pengusaha, etc
tapi kok cuma diidentikkan dengan TKI cuma pembantu yah?
btw dh berenti ngopi bangaip?
). padahal kopi yang mereka pake ya kopi kita2 juga..
omong2 soal TKI, dh lama banget ngimpi sedikit merubah mindset tentang indonesia
kesannya indonesia itu kl impor ya tenaga kerja non skill, carding kelas kakap sampe sempet masuk 2 besar carding sedunia. sementara di ind, mulai waralaba fastfood, warung kopi, software, semua yang keren2 ada. kesannya kita ngga bisa bikin yang keren.
sebagai pekerja IT pengen banget ada soft yang bisa gw buat dan dipake ama orang non indo..
sebagai coffee addict pengen rasanya ada warung toekangkopi nangkring di mall2 di paris, london, NY, layaknya starbuck, olala etc yang betebaran di ind (kl gw pikir2, dah ngga ketauan berapa rupiah yang gw sumbang buat mereka
loh, kok gw ngelantur yah?
hihihi.. ntar deh, gw nulis ndiri di blog gw. daripada menuh2in blog bangaip :p
Iya benar. TKI memang selalu diidentikkan pembantu atau pekerja kerah biru lainnya. Waktu Yusril (Yusril Ihza Mahendra alias Uda Tompel) ke Malaysia, beliau pakai peci dan batik. Di bandara KL disuruh ngangkat bagasi ke arah taksi oleh calon penumpang. Sebab disangka sopir taksi. Sebab katanya, di KL, yang pake batik itu sopir taksi dari ‘indon’. Sementara yang rambutnya gondrong, pake jeans sobek-sobek, trus bajunya bergambar grup rock cadas, pasti ‘indon jawe’.
Tapi kalau TKI adalah semua pekerja Indonesia yang ada di luar Indonesia. Pekerja yang Indonesia yang ada di Indonesia namanya apa dong? Tenaker? Huehehe.
Tapi saya setuju sih. TKI bukan hanya pembantu.
September 1, 2007 at 1:37 pm
Kasihan para TKW itu. Oleh bangsa sendiri tidak dihargai, apalagi oleh bangsa lain? Ah, semoga pemikiran saya ini salah.
Salam.
TKW banyak yang diperlakukan buruk, Pak Dewo. Ini bukan cerita fiktif. Kejadian seperti ini masih banyak terjadi.
September 1, 2007 at 2:54 pm
Gampang kok Bang Once
Datang saja ke Bandara Soekarno Hatta, I Gusti Ngurah Rai dkk…kan “beliau2″ itu bandara internasional juga
Bang Once, kapan mau manggung di Warande-Zeist?
Tadinya hari sabtu mau mampir ke Warande-Zeist, King. Saya sakit lagi euy.
September 1, 2007 at 5:12 pm
pertama:
selamat menikmati ketenaran walau palesu. :Pme
kedua :
ternyata mbak mbaknya di ajarin rendah diri ya bang, ndak di suruh mengganggap sebagai manusia yang sederajat. Tidak heran jika ternyata bangsa ini bisa dipandang rendah.
Pertama, terimakasih. Kedua, bangsa ini tidak dipandang rendah kok. Ayo sama-sama bangkit. Tatap lagi mata mereka.
September 1, 2007 at 6:56 pm
Bang Once van Aip gimana kabar album berikutnya ?
Tapi apa benar mirip ? coba sering-sering ke cermin deh bang, siapa tau bisa jadi mirip John Lenon
gah, masih seperti itukah nasib “pahlawan devisa” kita ?
Pahlawan devisa masih seperti itu Om Fertob. Malah tambah buruk katanya.
Mengenai album berikut saya… Akan featuring Eminem dan Gambang Kromong Cipadu asuhan Haji Bokir. Bentuknya masih dipikirkan dulu, apakah hanya single, atau kompilasi hits-hits saya terdahulu.
Huehehe.
September 1, 2007 at 7:21 pm
Halo bang…
baru sempet ngasih komen sekarang…
Mungkin kalo para tkw2 itu nyadar, mas bewok2 itu ndak gitu lagi sikapnya.
lha wong mereka itu biasanya langsung dicomot dari desa oleh para calo yang dibayari agen, trus ditampung (*ada gak kata yang lebih enak dari itu*)terus dididik seadanya lalu dikirim. sicalo senang, siagen senang, agen yang diseberang nah tkwnya ga tahu nasibnya. bisa senang, bisa juga banyak yang menyedihkan.
maka itu kita dukung gerakan internet masuk desa ya, biar mereka bisa baca tulisannya bangaip tiap hari. siapa tahu makin ngetop jadi once
disini masih setia koq nungguin datengya biar bisa bakar sayam ayam lagi bareng magrib
Mbah. Dulu saya ama Pak Bambang dan Bli Yuda mau bikin RT/RW net di pinggiran sanur dan beberapa spot di Gianyar. Lumayan untuk mencerdaskan anak bangsa. Sebab biaya tower waktu itu mau saweran. Sayang Mr Bambang sibuk dengan Miro$oft-nya. Sementara Bli Yuda maunya jadi bagian komunitas FreeBSD. Sayanya jadi puyeng sendiri. Warga belum dapat akses internet, yang jadi penggagasnya malah sibuk sendiri. Huehehe.
September 1, 2007 at 7:52 pm
HUAHAHAHAHAHA
ADA YANG NGAKU DICUBIT PANTATNYA!
hihihi… emang tampangnya Bang Arip kyk apa sih? posting dong.. atau paling ngga kirim deh ke alamat email ku .. jd penasaran Once Aspal kyk apa
Demi Allah, saya nggak mirip Once. Buset dah. Itu mbak-mbak itu emang ngaco aja kali yeee. Huehehe. Once aspal. Dilindes traktor. Biar jadi hot mix. Huehe.
September 1, 2007 at 7:54 pm
keren banget mas ceritanya
jadi teringat di bandara Ninoy Aquino International Airport, Manila ada bapak2 liat rombonganku… kayaknya dari Indonesia
*awal2 cerita ta kira bangaip bapak2 itu..*
gimana bang yah, fenomena bangsa kita masih menganggap dirinya rendah.
Arul. Saya belum tua, tau. Belum pantes disamakan ama bapak-bapak. Huehehe.
September 1, 2007 at 9:04 pm
hahahaha……..bener kata mbah…..
pengalaman paling berkesan bareng bangaip & magrib : enak2 bakar ayam di halaman, udah susah2 bikin api, ee….begitu bara api menyala ujan turun tanpa permisi. terpaksa deh acara barbekyu nya pindah ke dapur, suasana dapur jadi kayak kebakaran hutan di kalimantan, berasep….,hehehehe………….
Hihihi… Pak Wayan, yang punya rumah, besoknya dateng. Dia tanya, “Arif, ada kebakaran di dapur?”. Saya cuma menggelengkan kepala sambil cengar-cengir menjawabnya. Saya nggak tega, bilang “Bukan, Pak. Itu ulahnya Kuntoro ama Beni!”. Huehehe
September 2, 2007 at 1:47 am
*speechless*
ditengah2 protes akan kelayakan perlakuan terhadap TKI ke negara2 laen, eh, kok, ternyata bangsa kita juga begitu,,
Iya, saya juga bingung deh. Kata Pram, “Kulit coklat menindas kulit coklat”.
September 2, 2007 at 2:16 am
Ma diselamatkan TKW dua kali di Hongkong, seneng deh!!
temen Ma malah dipinjemin telpon sama mereka,,
“nih dek, pake hape saya ajah,,”
mereka, itu biar hidupnya susah pada banyak yang baik baik,,
Teman-teman TKI dari HK katanya Mas Poer jauh lebih terorganisasi daripada TKI di negara lain. Asik. Saya bangga dengan pengorganisasian TKI tersebut. Oh ya, mereka juga baik-baik. Saya sempat kenal dengan salah satu dari TKW di HK. Ibunya Udin, temen saya (*bukan Udin Petot. Tapi Udin Kacamata*).
September 2, 2007 at 3:16 am
suka yang jorok2 kok
Jaka sembung bawa gitar listrik.
September 2, 2007 at 4:23 am
yang paling suka merendahkan TKI itu ya bangsa kita sendiri. Dari PJTKI, petugas imigrasi, petugas bandara, dan sebagian orang2 KBRI.
Saya pernah nyemprot petugas cengkareng yg gak sopan sama TKI. Suka memeras dan melecehkan lagi
oya mas Once, foto bareng dong
Petugas imigrasi bandara itu kadang luar biasa bermuka baja berkedok iblis. Tidak sungkan bertanya “Mas, dari luar negeri yaa? Mana oleh-oleh buat kami? Kalau coklatnya diberikan ke saya, semuanya lancar deh”.
Poto? Boleh, asal jangan colak-colek pantat saya yaa?
September 2, 2007 at 5:57 am
di daerah cipinang, ada kator biro tenaga kerja luar negeri sekaligus tempat latihan para calon TKI sebelum mereka di berangkatkan.
Setiap kali melewati gedung itu, mereka terlihat selalu bergerombol.
Aku baru tau ternyata sedang latihan rupanya, supaya tidak canggung waktu harus bergerombol di bandara.
>>> Hehe…
>>> Selain bangaip, ternyata mereka juga punya ritual khusus.
Iya Kew. Kacau deh. Dulu banyak sekali kasus pelecehan para calon TKI itu di ‘rumah penampungan sementara’ mereka. Nggak tahu sekarang.
September 2, 2007 at 6:38 am
tapi TKI itu katanya Bandara Soekarno Hatta, “Pahlawan Devisa”. Apa mesti gitu2 dulu untuk menjadi seorang pahlawan?
Menurut buku-buku sejarah. Pahlawan adalah orang yang berjasa di dunianya, tapi udah mati. Huehhee. Kalo belum belum mati, namanya ‘ Guru’, pahlawan tanpa tanda jasa. Huehehe.
Jadi, pahlawan devisa, harusnya mati dulu. Setelah diperah abis-abisan di negara orang. Digebukin. Disiksa. Diperkosa. Trus loncat dari lantai 14 apartemen majikan. Sampai di Indonesia, hanya jadi sepenggal nama dalam headline koran ibukota.
September 2, 2007 at 8:16 am
sedih ya bang…
padahal sesama negeri sendiri…
dan sepertinya kita gag bisa memotong talinya di tengah jalan.
yang harus kita lakukan ya, jangan ikut talinya. caranya?
menyediakan lapangan kerja di daearah2 terpencil…
ini masih jadi mimpi saya nanti…
Insya Allah, Dats. Mimpi kamu sama juga dengan mimpi saya. Insya Allah, sama-sama kita wujudkan mimpi ini jadi nyata. Mungkin berawal dari yang kita bisa saja dahulu, memajukan dunia internet Indonesia.
September 2, 2007 at 7:40 pm
Untung bukan dikira Tom Hanks, Mas. Habis, mondar-mandir mulu di terminal (internasional). Sumpah tadi baca langsung kebayang muka situ kaya Tom Hanks :p
Lagi-lagi cerita sedih
Maap, kalau bagi anda, ceritanya sedih.
September 3, 2007 at 2:50 am
Bang Once…. eh Bang Aip
saya lebih marah pada orang-orang Indonesia yang tega-teganya menjual bangsanya sendiri dan melecehkan bangsanya sendiri. Kalau PJTKI dan petugas bandara aja melecehkan mereka, bagaimana kita mau minta bangsa lain untuk tidak melecehkan mereka….
ternyata tidak ada cerita joroknya sama sekali… kecuali cerita soal ke toilet itu ….
Wah, masa disuruh paksa duduk di lantai kotor ndak jorok, Mbak.
September 3, 2007 at 2:51 am
Setiap postingan
mas OnceBang Aip Top .. selalu ada suprise diujung cerita. Selalu ada pencerahan. Ga banyak saya jumpai penulis blog kaya’ Bang Aip. Saya berharap, blog ini terus ada. Karena belakangan ini banyak teman2 blog yang mengundurkan diri untuk menulis blog.Satu hal .. selalu ditulis dengan gaya “sinetron” untuk menyampaikan pesan tanpa kesan untuk gagah2an atau menggurui. Bang Aip - kalo boleh tahu - tulisannya sudah ada yang dicetak belom? Kalo ada, bisa beli dimana ya?
Whehe, pertanyaannya jebakan betmen nih. Memantapkan praduga saya penulis ‘beneran’. Huehe. Ayoo ngaku?
BTW, yang dicetak hanya publikasi ilmiah, Mas Eby. Itupun hanya ada di perpustakaan saja, ndak dijual umum. Diantara tulisan saya yang dipublikasi, kebanyakan ada di KITLV.
Tulisan yang model ’sinetron’ kayak gini adanya di blog doang. Huehe.
Maap mengecewakan anda.
September 3, 2007 at 4:19 am
assalamualaikum.
onceeeeeeeeeeee, boleh minta tanda tangannya gak
Waalaikumsalaam. Sini pak. Mana pulpennya?
Tapi mohon, jangan colak-colek pantat saya yaa.
September 3, 2007 at 5:12 am
ah bang aip :(, jadi inget bosnya ibuku dulu, kucing-kucing angora-nya dibikinin paspor biar bisa dibawa pulang ke canada, kapan ya ilmu orang bule bagian menghargai sesama makhluk tuhan itu turun ke orang indonesia macam saya ini
Eh, Mas Iway. Gara-gara komen ini, saya sampai nyari data mengenai paspor binatang loh. Astaga, saya baru tau. Ternyata ada tooh. Huehe.
September 3, 2007 at 8:07 am
Tadinya udah mau ngakak dengar “Once”. Mau ngeledekin.. harusnya Bang Aip bilangnya “Maaf, Mbak, saya bukan Once, tapi TWICE”
Nggak jadi… keburu sedih baca lanjutan ceritanya: mbak2 terpekur duduk di lantai oleh hardikan Pak Brewok
BTW, dulu saya pernah kerja di perusahaan multinasional.. dimana yang sesama Melayu malah lebih kejam daripada boss2 yang bule itu
Aneh yaa. Saya juga bingung. Eh BTW, boss saya, walaupun bule atau bukan, alhamdulilah nggak ada yang kejam.
Bagi cerita; Dulu, kami punya klien baru. Klien ini orang non-RI. Sengaknya minta ampun. Bos saya bilang, “Pak Arif, Pak Anu jangan ‘diapa-apain’ yaa. Dia kredibel sekali untuk jadi referensi kita di masa depan”. Lebih parahnya, bos saya bilang hal tersebut setelah ada rekan sekantor kami yang dilecehkan klien itu secara fisik.
Besoknya, pas miting, saya tanya sama klien tersebut “Pak, saya sudah janji sama bos saya kemarin, bahwa saya tidak akan melakukan ‘tindakan dan perkataan nyeleneh’ kepada anda. Tapi saya jelas boleh bertanya dong kepada bapak,apakah bapak sudah mandi hari ini?”
Klien itu bingung. Menatap saya. Lalu berkata “Iya, sudah. Saya sudah mandi. Kenapa?”
Saya jawab santai, “Bagus itu, sebab bos saya mau njilat pantat anda. Kalau sudah mandi berarti bagus. Sudah siap dijilat pantatnya”.
Tapi walaupun begitu, saya nggak dipecat. Bos saya ndak berani. Tapi tetap saja, saya yang milih mengundurkan diri. Huehehe.
September 3, 2007 at 10:16 am
(*Awas, cerita ini ada bagian joroknya*)
Nggak jadi baca udah di warning sih….
Huehehe. Iya maap yaa. Laen kali nggak ada warning deh.
Cerita joroknya mah, masih tetep ada.
Whuehehe
September 3, 2007 at 10:47 am
Teeellaatt…
Padahal mau minta tandatangan ONCE…
Eh iya bang, si bewok itu siapa memangnya? Koordinator TKW? Mucikari? Agen? Setan? Atau emang ga ngefans dewa??
Katanya PJTKI
September 3, 2007 at 11:27 am
beneran ada joroknya ga ya?

komen dulu baru baca
September 3, 2007 at 1:01 pm
mana joroknya sih?
^_^v
Dan, mungkin judulnya perlu diganti menjadi “mengejar mas once”
Huehehe, bisa aja Mas Adi.
September 3, 2007 at 2:32 pm
bang aip, mana nih “bagian” joroknya? Bukannya dari awal sampai akhir artikel ini berisi cerita jorok. Cerita orang2 jorok, institusi jorok, bahkan kejorokan lintas negara terhadap pemeran utama cerita ini para TKW yang katanya pahlawan devisa. Tega2nya ya bangsa ini menyebut mereka pahlawan devisa, seakan sebutan pahlawan devisa itu sengaja disiapkan sebagai penghormatan karena pastinya akan banyak kejadian tidak menyenangkan yang dialami mereka. Tega2nya juga lho, berharap devisa atas kontribusi mereka sedang semuanya acapkali harus dibayar dengan penghinaan, pelecehan dan perlakuan tidak manusiawi bahkan sejak dan sesudah diberangkatkan kenegara tujuan yang katanya impian.
September 3, 2007 at 6:54 pm
hati saya miris bener membaca post bangaip
pertama sayah ga terlalu mengerti perasaan para TKW tersebut, semuanya dah dibeber sama para comment diatas.
saya hanya membayangkan gimana ceritanya kalo presiden negara ini pernah berposisi sebagai bangaip diatas… mungkin harapan perubahan nasib para TKW bisa terjadi..
Presiden RI juga pernah loh mengalami hal seperti saya. Beliau bahkan dengan sengaja, pergi ke porong. Naek helikopter. Trus buka tenda di samping kobangan lumpur. Lalu menangis. Lalu packing tenda. Lalu pulang ke JKT. Lalu, ngantor lagi seperti biasa. Huehehe
September 3, 2007 at 9:09 pm
hanya ingin meninggalkan jejak karena ga ngerti mesti komentar apalagi..
aaaahhh.. ga tau lah.. bikin gusar.
Nggak komen juga ga papa. Dan gusar juga penting, karena bisa membawa perubahan.
September 4, 2007 at 12:23 am
Wahhh hebat, bangaip berhasil berhenti merokok. Selamat !
Kalau saya yang kecanduan merokok, saya tidak yakin bisa bebas lagi seperti Anda (secara rokok itu tingkat kecanduannya cuma kalah dari heroin).
Soal TKI, memang mengenaskan. Ada kawannya kawan yang punya PJTKI, santai saja bicaranya, “lha memang kayak begitu, mau gimana lagi?”. Jadi memang harus pemerintah yang menggetoki mereka sampai mereka mau memperlakukan manusia sebagai manusia.
Saban lewat Dubai, cuma bisa ngelus dada melihat TKI yang menuju / meninggalkan tempat kerjanya. Yang meninggalkan yang sering lebih apes. Wajahnya sudah pada kuyu, didera musibah & masalah bertahun-tahun. Dan duitnya tetap cuma sedikit.
Kita sudah lelah di penerbangan transbenua ini, tapi gak tega juga dan akhirnya kita jadi tempat mereka curhat sampai di bandara.
Sambil bagi2 tips supaya setibanya di Indonesia, mereka tidak jadi korban dari saudara-saudaranya sendiri.
Thanks sudah mengangkat masalah ini (lagi). Jangan bosan boss.
Terimakasih juga Pak Harry. Jangan bosen-bosen juga ndengerin curhat TKI di dubai. Hehe.
Mengenai rokok, kadang saya masih punya keinginan apabila melihat kretek. Tapi sudah bisa saya tahan.
Koncinya simpel sih, Bismillah doang.
September 4, 2007 at 12:31 am
Sedih ya…berarti yang membuat masalah TKI bangsa kita sendiri ya.
Saya pernah ketemu rombongan TKI di Bandara Hongkong (saya naik Garuda)…mereka terlihat gembira dan bebas…atau karena mau pulang kampung…jadi ga ada si brewok???
Biasanya, setelah mengantar TKI. PJTKI kembali lagi ke RI. Membawa sejumlah uang bonus. Tidak ada yang menginap di negara tujuan. Lalu, menjadi fasilitator para TKI. Tidak ada satupun PJTKI yang begitu
September 4, 2007 at 1:34 am
arrrgggh! pingin saya banting si brewok ituh! saya rasa ini pasti TKI ilegal, kok mau digituin sama si brewok? saya kurang tahu tentang TKI, tapi apakah seharusnya kan TKI sebelum dikirim keluar di-training dulu:
1. bahasa lokal negara tujuan, minimal yang simpel2
2. kultur negara tujuan, juga yang simpel2, termasuk birokrasinya
3. cara mencari pertolongan kalau ada apa2, minimal nomor telpon ke kedubes (hotline) lengkap dengan menyediakan petugas simpatik di kedubes sebagai penerima telpon
4. ketrampilan sesuai pekerjaan yang akan dilakukan di negara tujuan. ya misalnya cara pake alat elektronik rumah tangga, misalnya.
5. kalo bisa sih bela diri dikit2.
6. pendidikan tentang harga diri. jangan mau diinjek2.
na biar aja ditraining 6 bulan. tapi di sana bisa bertahan lama dengan harga diri yang tidak sobek2 dan muka utuh. kalau lebih trampil, gaji juga lebih besar kan.
dan satu lagi, basmi model perekrutan TKI ilegal!
Mbak, punya informasi mengenai perekrutan TKI ilegal?
September 4, 2007 at 6:39 am
duh TKW nasib kini…. sen demi sen dikumpulkan demi devisa itu istilah pejabat… bagi mereka itulah satu satunya sumber untuk menjalani hidup…..
what can i say, this is An Indonesia Inconvenient Truth.
September 4, 2007 at 6:46 am
Astaghfirullah, jadi g cuma oleh majikan2 di LN saja TKW kita diperlakukan g manusiawi. Di negaranya sendiri para TKW sudah ditanamkan mindset sekedar babu, rendah dan bisa dengan seenaknya mendapat perlakuan g manusiawi.
Parah…..miris…..
Ayo, pelan-pelan kita bantu ubah. Lebih baik lagi sih kalau bisa secepatnya.
September 4, 2007 at 6:59 am
bang aip bangetttt…..
Jadi inget mb tt yang udah aku anggap kk ku sendiri… bertahun² bekerja ditaiwan… untuk masa depan anak²nya… sedang suaminya?!! ga tau dech… tinggal menikmatin hasil keringat istrinya…
Klo saya kirim kabar seneng banget org nya… untung aja dapet majikan yang baek…
Bt mb tt semoga diberi kesehatan selalu ya… Ga nyesel saya kenal ma mb…
Buat bang aip maaf jadi ajang kirim salam
Sukses ya bang…
Hehehe, hebat juga, fungsi blog sebagai ajang kirim salam. Huehehe. Bangga juga saya. Mbak.
September 4, 2007 at 7:57 am
Wahh…
Satu hal yang menarik perhatian aku…
Beneran udah berhenti ngerokok nih pak?
Jadi inget dulu nongkrong di depan kampus pengen ngerokok tapi kita berdua bener2 lagi bokek… Inget ngga pak?
Ampe akhirnya abis ngorek dompet Pak Arif akirnya ketemu duit koin 500an… Beli deh rokok eceran di depan kampus… hehehehe…
Baguslah pak kalo udah berhenti…
Biar ngga kejadian lagi kayak gitu…
Hehehehe…
Lebih parah, suatu sore di parkiran kampus. Waktu itu ada Pandet.
Mulut saya asem banget. Pengen ngerokok. Saya panggil si Pandet;
+ “Det, bagi rokok dong?”
- “Siingg… Bapak ni gimane? Bapak ni dosen saya. Harusnya memberi. Bukan meminta! Saya sing punya rokok. Abis”.
Kurang ajar si Pandet. Bukannya ngasih rokok, malah ngasih omelan. Saya cengar-cengir jadinya.
Ga lama kemudia, ada Topik. Saya bilang sama Pandet;
+ “Det, sono gih, minta rokok ama Topik buat kita bedua.”
- “Sing mauu… Bapak ni gimane? Bapak ni kan dosen saya. Harusnya memberi contoh, kalau mau sesuatu, harus berusaha sendiri. Jangan mengandalkan orang lain”.
+ “Aaahh cerewet kamu. Tadi bilang minta diberi. Sekarang saya beri perintah, kamu ngeyel. Cepet laksanakan tugas. Pinta rokoknya Topik!”
Pandet walaupun ogah-ogahan, jalan juga minta rokok pada Topik. Sialnya, ternyata Topik juga dapet rokok dari Nick. Dan Nick ternyata juga minta rokok dari si Kuping. Astaga!
Saya sampai ketawa-ketiwi sendirian. Gagal merokok.
Untung sekarang dah brenti. Jadi ga bakalan diomelin Pandet lagi. Huehehe
September 5, 2007 at 7:44 am
Menyedihkan. Sepertinya jumlah orang brengsek sudah terlalu banyak ya
Kok bisa sampai sebobrok ini, benerinnya mulai darimana coba. Apa memang harusnya gini? huff.
Pertanyaannya berat Mas Teguh.
Saya tidak punya keahlian khusus dalam menjawabnya. Namun, berdasarkan pengalaman, salah satu jawabannya adalah dengan berkumpul, berserikat, dan mendapatkan bantuan keilmuan. Meniru para pekerja imigran Philipine.Sebab, satu orang perempuan Philipine diperkosa di Arab, atau ada yang dibogem sedikit saja, seluruh orang Philipina berteriak keras luar biasa ke seluruh dunia.
Bayangkan, di Philiphine, TKP (Tenaga Kerja Philipine) diperkosa, urusannya bisa sampe senator Amerika campur tangan.
(*di Indonesia, (alm) Munir harus meninggal terlebih dahulu, agar mata dunia melihat*)
September 5, 2007 at 8:13 am
# sufehmi Berkata:
September 4, 2007 at 12:23 am
Soal TKI, memang mengenaskan. Ada kawannya kawan yang punya PJTKI, santai saja bicaranya, “lha memang kayak begitu, mau gimana lagi?”. Jadi memang harus pemerintah yang menggetoki mereka sampai mereka mau memperlakukan manusia sebagai manusia.
—-
# jadi inget juga, cerita salah seorang “guru” saya, yang pernah bangkrut total, punya utang seabreg, dan “menyelesaikan” masalahnya dengan jualan “daging mentah hidup”. menjalani pekerjaannya dengan bathin tertekan dan perang besar yang berkecamuk. cerita tentang bosnya yang dengan santai ganti agama demi membuka pasar uni emirat, seakan agama cuma sebuah alat untuk mencapai kepentingan tertentu. cerita tentang bosnya yang dengan sante bilang “TKI itu defaultnya orang susah, justru jangan di enakin. ntar ngelamak, kurang ajar. anjing itu tempatnya di kandang anjing, burung ya di kandang burung. kl orang biasa tidur pake tiker, ya jangan dikasih kasur, ntar bisa ngga tau diri”. cerita tentang yang penting ngirim, karena tiap ngirim TKI bonusnya ngga ketulungan. urusan TKI disana mo idup pa ngga, laen cerita.
what the ****…
saya percaya tidak semua TKI seperti itu. permasalahannya, ini sudah jadi komoditas. butuh sebuah penanganan dan pengawasan serius untuk bisa membuat semua lebih baik. tapi TKI sepertinya telah menjadi devisa non migas terbesar saat ini (cmiiw). ada banyak rupiah berputar diantaranya. siapa yang bisa menjamin pemerintah sebagai lembaga yang harusnya mengawasi tidak tergiur dengan besarnya rupiah itu?
walahuallam…
Terimakasih Mas Edo atas infonya. Info bagus nih
September 5, 2007 at 8:18 am
oh iya! sorry bang sufehmi, ngutip commentnnya ngga minta ijin hiueheiuhie..
piss
September 8, 2007 at 7:31 pm
tetapi tidak cintaku padamu…
karena aku sang pangeran cintaaa…
cintaaaaa…..
HUahahaha…. Saya sampe ngakak Joe mbaca komen ini. HUAHAHAHA…
September 10, 2007 at 1:12 am
Waw Mas Once ngeblog… hahahah… funny experience… but it’s so sad what happen there…
Kalau anda seperti saya, setuju bahwa itu begitu menyedihkan. Ayo kita rubah sama-sama.
September 16, 2007 at 6:28 am
Satu hal yang saya sangat sesali dalam hidup ini juga pernah terjadi di sebuah bandara internasional di Singapura.
Saya hanya tertegun ketika melihat seorang TKW asal Indonesia sedang dalam posisi telungkup di lantai bandara dijadikan mainan kuda-kudaan oleh anak majikannya. Sang majikan hanya memperhatikan perbuatan anaknya dan terlihat sangat menikmati pemandangan tersebut.
Memang sih cuma anak kecil. Tapi kan kurang pantes bermain seperti itu di bandara. Apalagi ini bandara internasional.
Saya saking terkejutnya gak tau mau nge-judge apa cuma terdiam, padahal ada kamera tergantung di leher saya. Akhirnya saya berlalu dari lokasi kejadian tersebut masih dalam keadaan kebingungan. Mau ambil gambar takut bikin masalah. Gak diambil juga malah menjadi penyesalan.
Mengingat kejadian itu sungguh membuat hati miris dan menjadi penyesalan yang mendalam.
Saya ikut sedih, Mas Taufik. Pelan-pelan kita pasti bisa merubah ini.
September 30, 2007 at 3:05 pm
sad,ya begitulah…
no coment
Oktober 4, 2007 at 11:59 pm
Sewaktu saya masih jadi buruh di Batam, tiap bulan pasti nyebrang ke s’pore untuk refreshing, biar gak punya duit yang penting nyebrang (mumpung tiket nyebrangnya murah), pernah suatu saat, saya dan rombongan temen cowok semua, rambutnya gondrong-gondrong (bahasanya gondes=gondrong ndeso) nyebrang kesana.
Rambut saya juga gondrong tapi saya iket rapi, temen-temenku nggak, dibiarkan terurai, celana kami hampir semua jeans dengan sobekan dilutut, gaya anak band.
Sampai di pabean pelabuhan, saya masuk duluan, liatin passport, nerangin maksud dan tujuan ke s’pore (petugasnya orang india-malay), lolos dan saya menunggu temen-temen saya.
Temen saya yang lain masuk, tapi ada yang aneh, petugas itu memandangi seluruh tubuh temenku dari atas sampai bawah,
AWAK NDAK KEMANE? HAH?! TAHUKE AWAK, TA’ BOLE TAMPILAN MACAM NI MASUK S’PORE? kata si petugas setengah menghardik (mudah-mudahan tulisan logatnya bener :))
Temenku langsung pucet, juga 3 orang temenku dibelakangnya. Dan ternyata si petugas melihat temen-temenku yang lain dibelakang antrian, lalu mereka dikumpulkan, saya yang udah terlanjur didalam nggak bisa berbuat apa-apa.
WAH AWAK SEMUE NI, NDAK RAMPOK APE KE SINGAPORE, NDAK JADI GEMBEL APE? TAK BOLEH! SANE (maksudnya:sana!) BALIK BATAM! TAK BOLEH MASUK! kata sipetugas, dan temen-temen sipetugas udah mulai berdatangan ngerubungin.
Kulihat dari jauh temenku semua, yang gondrong-gondrong, pucat pasi, dan gak bisa berkata apa-apa, temenku yang biasanya tukang komplen jago omong pun pias, dan tanpa bicara apa-apa mereka balik badan, balik lagi ke batam naik kapal ferry yang tadi berangkat kami naiki. Saya hanya terpana, gak bisa berbuat apa-apa.
Moral (pake “M”) cerita diatas, kalo ke singapur (atau negara lain juga?) gak boleh gondrong diurai dan celana sobek-sobek.
Lam kenal dr buruh pabrik.
April 16, 2008 at 5:43 am
memang berat hidup tak ada istri yang merantau di LN dmi alasan kbahagian yang diharapkan bisa merubah suasana stelah pulang punya apa2,tetapi apa yang dibayangkan apakah rumah tangga yang utuh sakinah warohmah karena harta bisa membahgiakan,apa jawbnya “TIDAK”memang kita sadari hidup penuh teka teki disaat hidup terpisah dengan istri di LN,itu semua inti permasalahan ada saling adanya kepercayaan yang sesunguhnya dan bisa dipertangung jwbkan kelak dimasa yang akan datang kelah kita semua berkumpul sehat lahir batin
April 16, 2008 at 5:57 am
hidup memang sulit bisa kita pahami akal sehat kita terpisah dengan org2 yang kita cintai&kita sayangi ada di LN,hanya keyakinan bermodal pasarah tak tahu apa yang terjadi,etikat&niat baik seorang TKW dmi kluarga memang baik,tetapi terkadang kita salh presepsi yang terjadi byak hal kita ketahui,merka diam2
menjual diri,menikah dengan orang asing/justru seorang TKI membawa uang lebih dari penghasilan suami terkadang diceraikanlah dia(suami)&banyak kisah2 yang meyedihkan dibalik semua,smoga kita2 smua harus tabah mlewati perjalan rumah tangga mempyntai istri di LN
Juli 20, 2008 at 8:01 am
maaf saja juga sebagai tkw di Taiwan yang sudah lama mengais rizki di negri formosa,jadi kami’ ini adalah pahlawan bangsa dan sebagai menambah devisa negara,malah tujuan kami lebih bagus loh ingin membuka usaha dan buka lapangan kerja biar orang yang nganggur biar bisa kerja,bang once dukung kami dong cia iuo (semangat terus)