(*Apabila anda punya waktu lebih, silahkan membaca sampai habis. Kalau ndak ada. Yaa…maap. Saya turut berduka cita. Hehe*)
Beberapa waktu lalu, ada teman saya, teman lama tidak jumpa, melakukan kecerobohon. Kecerobohannya sebenarnya sederhana, yaitu mungkin melupakan paramater tertentu dalam penyusunan input data yang sedang dia lakukan.
Sayang sekali, kecerobohan itu, apabila diendus oleh pihak yang termasuk golongan pendekar sakti berwatak jahat, dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyalahgunaan data hingga pelecehan massal. Sebab data yang sedang di input tidak tanggung-tanggung, yaitu data pribadi intelektual Indonesia yang tersebar di penjuru dunia (*Katanya jumlahnya sampai ribuan loh. Hebat kan, bisa nggak keliatan gitu*).
Sambil becanda… ia saya tegur. Dengan baik-baik tentunya. Saya menceritakan pengalaman dan membeberkan dokumentasi yang saya lakukan ketika mengetahui adanya kebocoran dalam sistem yang tengah ia buat.
Tidak sampai dalam hitungan jam. Ia membalas teguran canda saya dengan komentar yang sungguh istimewa sekali. Ia memaki-maki saya di depan publik. Kalimatnya kasar. Kaget juga saya dibuatnya. Wahh, niat mau menolong kok malah diperlakukan seperti ini.
Waktu itu, saya sempat panas juga (*maklum darah muda Cilincing. Masih doyan emosi. Huehehe*). Sempat berfikir buruk mengenai teman saya itu. Dua hari, saya sampai capek memikirkan, bagaimana memberitahu beliau dengan cara yang bisa ia terima. Sebab sebaik-baiknya worst scenario kebocoran ini, adalah serangan SPAM yang bertubi-tubi. Dan itupun sudah cukup menjengkelkan dan memalukan.
Akhirnya, saya lupakan emosi sejenak. Saya balas saja kalimatnya dengan canda. Toh logikanya, kalau sama-sama bisa tersenyum menanggapi tragedi ini, mengapa tidak kita lakukan?
Maka itu saya balas kalimatnya dengan canda. Saya tidak mau bermusuhan dengannya. Ia salah seorang teman terbaik yang pernah saya punya. Teman yang dulu bersedia menampung saya secara fisik dan kejiwaan ketika saya membutuhkan pertolongan.
Saya tidak mau kehilangan teman lama.
Namun tindakan itu malah jadi blunder. Seperti bumerang bagi saya. Ketika saya meminta maaf dan mengajak rekonsiliasi menanggapi tindakan yang harus diambil mengenai lemahnya sistem yang tengah dibuatnya, saya malah diketawain.
Saya ditertawakan ia dan teman-temannya. Saya dianggap lemah. Baru begitu aja udah minta maap. Saya di anggap sok tahu (*walaupun agak aneh, karena saya memang sudah membeberkan dokumentasi kelemahan sistemnya*).
Pendek kata, apabila di internet ada istilah “on internet everyone knows you’re a dog”. Maka saya adalah anjing kecil dengan gonggongan lemah yang sedang bingung menatap kiri-kanan. Jujur saja… saya kebingungan.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian tersebut, beberapa teman akrab saya mengirimkan pesan. Isinya sederhana. Mereka berduka atas apa yang tengah saya alami. Di sisi lain, mereka meminta saya membuka mata. Bahwa waktu telah merubah perilaku manusia. Dan saya diminta untuk menerima kenyataan tersebut.
Benarkah waktu merubah menusia?
Haruskah saya menerima hal kenyatan tersebut?
Ahh, saya jadi inget cerita jadul waktu saya ke Puncak Pass bersama Udin Petot.
Begini ceritanya; (lagi…)