Ketidakkreatifan saya menyambut bulan puisi, membuat saya memajang puisi Chairil Anwar yang berjudul Kerawang-Bekasi. Puisi ini, setiap dibaca, entah dalam hati atau diucapkan lisan, selalu membuat buku kuduk saya merinding. Puisi ini bagaikan mantra magis. Menyerap semua sisi jiwa hingga bagian terdalam. Puisi ini bagaikan raungan rakyat Indonesia yang berontak ketika disiksa jiwa dan raganya.
Ini petikan puisi dahsyat Chairil Anwar itu;
KARAWANG BEKASI
Kami yg kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak Merdeka dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yg tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yg berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan.
Puisi itu membawa saya ke peristiwa Rawagede. Bung Chairil, sang penulis puisi, katanya dirundung kepedihan yang amat sangat akibat kehilangan 431 orang penduduk Rawagede, sebuah desa di antara Kerawang dan Bekasi yang pada tahun 1948 dibumi-hangsukan oleh pasukan belanda.
Pembantaian Rawagede malah membuat saya bertanya-tanya. Siapakah atau apakah yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap matinya orang Indonesia?
Apakah Malaikat maut (*yang masih diperdebatkan, benarkah namanya Izrail*) yang diwakili oleh agresi Militer Belanda II di Indonesia yang harus bertanggung jawab?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh Raymond Westerling yang membantai sekitar 40.000 rakyat Sulawesi pada tahun 1946?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh pemerintah orde baru yang membantai dimana-mana di seluruh negara Indonesia?
Atau malaikat maut yang mengatasnamakan politik indonesia yang katanya menimbulkan statement bahwa orang Indonesia yang mati gara-gara politik, jumlahnya dalam empat bulan setara dengan jumlah orang mati di Vietnam selama 12 tahun ?
Dari semua jawaban diatas ada benang merah, pembunuhnya yaitu malaikat maut. Hehehe. Enak banget apabila jawabannya semudah itu. Kalau semua iblis pembantai manusia Indonesia di beri kedok malaikat maut. Kasihan dong malaikat mautnya. Beliau nanti ngambek pada orang Indonesia. Kalau beliau ngambek, bahaya. Huehehe.
Karena malas menggunakan malaikat maut sebagai kambing hitam tulisan kali ini, beberapa hari terakhir ini saya mencoba mengadakan riset kecil-kecilan. Riset ini ingin mengetahui, apa penyebab kematian utama orang Indonesia.
Namun sayang sekali, karena orang Indonesia banyak, dan data saya sedikit, maka riset saya hanya bergantung pada data yang ada. Dari sekian data yang saya punya, saya sortir, agar yang ada internet linknya saja yang dipakai. Karena, apabila ada yang ingin tahu lebih lanjut, link tersebut dapat dipakai. Selain itu, untuk memberitahu, bahwa saya bukan pakar, apalagi pakar wannabe (*contoh kalimat; pakar telematika wannabe. hehe*).
Saya hanya orang Indonesia yang ingin menulis blog dan ingin mengetahui penyebab kematian saudara sebangsanya
Riset saya, semakin dipersempit, yaitu “Apa penyebab utama kematian anak orang Indonesia? Siapa pembunuhnya?”.
Loh kok jadinya ke anak-anak? Memangnya kenapa tidak meneliti orang dewasa saja? Jawabnya simpel. Sebab katanya, orang Indonesia cinta sekali terhadap anaknya. Nyawa rela jadi taruhan, kalau sudah masalah anak. Di Indonesia, katanya, ikatan cinta orang tua terhadap anaknya, amat agung dan luar biasa. Saking luar biasanya, tiap setahun sekali, entah lebaran, entah natalan, entah itu apalah, orang tua harus ketemu anak. Begitupun anak, harus ketemu orang tua. Sungkem. Melepas rindu.
Maka itu, nulis anak-anak saja.
Riset kecil-kecilan ini membuahkan hasil (sementara) yang ternyata di luar perkiraan saya. Sebab pada 1970 hingga 1980, Biro Pusat Statistik mematenkan bahwa di Jakarta, terdapat 116 bayi yang meninggal dari seribu bayi yang lahir. Namun pada tahun 2000, ada 26 bayi yang meninggal dari seribu bayi yang lahir. Sayangnya, hal ini tidak berlaku di luar Jakarta. Tingkat kematian bayi dan anak-anak (Infant mortality rate) masih sedemikian tinggi. Setiap tahunnya, lebih dari 150 hingga 200 bayi yang meninggal. (Adair, 2004) (Studies in Family Planning, 1980)
Mereka mati muda. Jauh lebih muda daripada nyawa di puisi Kerawang-Bekasi.
Mengapa balita itu meninggal? Umumnya karena tingkat kesehatan yang rendah bagi ibu-ibu hamil. Selain itu, kurangnya perawatan dan nutrisi yang cukup pada balita. Walaupun tentu saja ada alasan-alasan lainnya, seperti bencana alam. Sebab bencana alam asli seperti tsunami di Aceh sudah banyak melumatkan anak-anak dan bayi. Selain itu, bencana alam ‘ajaib’ seperti kebakaran hutan di kalimantan, memakan korban jiwa anak-anak yang tidak sedikit pula.
Karena takjub, saya kirim surat kepada Udin Petot, teman saya. Saya bilang “Din, lo percaya ga… Ternyata pembunuh anak-anak Indonesia no.1 itu tidak tinggal di Jakarta. Tapi di kampung-kampung kumuh miskin di daerah-daerah di Indonesia”. Lalu blablabla selanjutnya. Isinya sama semua, menceritakan riset saya ini.
Udin Petot, dua hari kemudian menjawab melalui surat juga. Ia bilang, “Jangan takut, Bang. Orang Indonesia doyan bikin anak”. Jawabannya seperti biasa. Simpel. Mengesalkan. Tapi realistis.
Mengapa Udin Petot realistis? Mengapa? Karena untuk membantahnya, saya mengadakan riset lanjutan. Yaitu, sekuat apa hidup orang Indonesia?
Jawabannya lagi-lagi mengejutkan. Ternyata Indonesia mempunyai tingkat harapan hidup yang rendah. Umur prianya, rata-rata, hanya 65 tahun. Hanya satu tingkat di atas Afrika Selatan, yang menempati urutan terbawah. Sementara perempuan Indonesia, hidup lebih lama 3 tahun dari pria Indonesia. Kasihan sekali pria Indonesia. Umurnya pendek. Mungkin karena alasan inilah mereka suka kawin lagi.
Namun benar kata Udin Petot. Orang Indonesia doyan bikin anak. Sebab pada tahun 2050, diprediksikan Indonesia menjadi urutan keempat negara yang menghasilkan anak terbanyak di seluruh dunia. Pada tahun 2050, orang Indonesia di Indonesia saja diperkirakan mencapai hampir 400 juta jiwa. Belum yang ada di luar negeri. Hebat bukan? Ketika penduduk dunia banyak yang sekarat akibat pemanasan global, orang Indonesia malah tambah banyak.
Kembali lagi saya kirim surat pada Udin Petot, “Din, orang Indonesia bakalan melimpah ruah tahun 2050. Sementara tanahnya tidak bertambah luas? Suplai makananannya juga tidak bertambah banyak? Gawat, Din! Gimana nih yaa?”.
Dua hari kemudian, Udin Petot kembali menjawab. Jawabannya seperti biasa. Simpel. Mengesalkan. Tapi, realistis. Dalam suratnya, ia menulis, “Santai aja, Bang. Mau diapain lagi. Orang Indonesia kan nggak doyan make kondom”.
Ahh, masa sih, benarkah orang Indonesia tidak suka memakai kondom?
September 5, 2007 at 8:59 am
Damn Research! Mudahan separonya cuma HOAX…
Kalau bener, Atlantis Wannabe lah negara ini bang…
Bagaimana kalau mulai sekarang, kita perbesar wilayah, caplok malaysia sebagai permulaan, lalu singapura lewat Batam, dan ujung-ujungnya lewat papua kita serang Australia.
Sambil terus jangan lupa, kita kurangi angka harapan hiudp orang Endonesia ini, biar ga penuh-penuh banget!
Sabar… Sabar.. Tarik napas. Buang pelan-pelan. Lewat hidung buangnya. Jangan lewat lubang lain.
Sabar. Pasti ada cara untuk menanggulangi masalah 50 tahun yang akan datang nanti. Maka itu, baiknya dibicarakan dari sekarang. Andaipun tidak terbukti, kita punya rencana cadangan untuk mengatasi calon masalah.
September 5, 2007 at 9:08 am
data risetnya dikit tapi dah dapat menjadi sampel negara ini…..
Bener, datanya dikit sekali. Maka itu dapat sekali terjadi bias kiri kanan. Dan saya belum berani mengklaimnya bahwa ini bisa jadi sampel keseluruhan. Data-data itu, hanya dipergunakan untuk menulis blog, kok. Tidak lebih.
September 5, 2007 at 9:13 am
bener itu bang….. riset kecil-kecilan saya sama mbak-mbak yang kerja di panti pijet itu (bukan panti yang bang aip datengin itu….) kalo orang pribumi itu males banget pake kondom
Padahal sudah dikasih tau masih bandel juga….
OOT kayaknya ya…. tapi…. sudahlah….
Nggak OOT. Terimakasih atas infonya.
Udin Petot kebetulan juga sedang riset hal yang sama. Semoga info ini bisa membantunya.
September 5, 2007 at 9:26 am
realistis aja, pembunuhnya adalah manusia itu sendiri. tanpa kita sadari, kita bisa termasuk pembunuh apabila tidak mengikuti norma-norma alam yang berlaku. misalnya membuang kulit pisang tidak di tempat sampah. ada orang yang kepleset lalu mati. simpel. tapi itu termasuk membunuh tanpa disengaja.
begitu pula dengan kejadian-kejadian diatas seperti kematian bayi, kebakaran hutan dll, semua itu (lagi-lagi) karena ulah manusia. ada sebab, ada akibat.
tampaknya bang aip mesti mengsurvey orang-orang indonesia dulu mengenai hal ini.
Saya baru tau, ada yang kepleset kulit pisang terus mati. Chika, bagi dong linknya soal kepleset itu. Mau baca juga nih. Seru euy. Hehe
September 5, 2007 at 10:24 am
jangan lupa dgn teriakan penyemangat bangsa kita Bang
“Patah satu tumbuh berganti”
“Gugur satu tumbuh seribu”
Wah King. Ngomong-2 soal teriakan penyemangat. Saya jadi inget teriakan semangat “Allahu Akbar. BAKAR MAKSIAT!”. Nggak tahunya, yang dibakar warung kecil pinggir jalan di Depok yang (ketahuan) menjual bir. Walaupun bir itu satu-satunya item dagangannya yang mengandung alkohol, warung itu tetap dibakar. Warung itu di depan gang rumah saya dulu. Pemiliknya bapak-2 beranak tiga. Yang keluarganya mengandalkan hidup dari dagang di warung tersebut.
Walopun ga semuanya, banyak orang Indonesia yang udah ganti teriakan penyemangatnya, King. Huehe.
September 5, 2007 at 10:46 am
“Keset saat masukinnya kali.”
Sejujurnya bukan masalah suka memakai kondom atau tidaknya, tetapi mengapa mereka bisa sampai menyukai kegiatannya…
Keset? Emangnya lagi ganti kulit? Whuehehe.
Mengenai pertanyaannya… itu retoris?
September 5, 2007 at 11:22 am
orang Indon ga doyan pake kondom?
Bener banget. Contohnya saya. Masak ke kantor tiap hari pake kondom. Ya pake celdem* aja lah.
Huahahaha… Nih postingan lucu banget. Kenapa musti si Udin Petot siy?
–
*)Celana Dalem
Karena Udin Petot saat ini satu-satunya temen saya yang sekolah mengenai perihal manusia.
September 5, 2007 at 11:37 am
“Tingkat kematian bayi dan anak-anak (Infant mortality rate) masih sedemikian tinggi. Setiap tahunnya, lebih dari 150 hingga 200 bayi yang meninggal.”
Bukan IMR kayaknya ya.. tapi CMR alias U5MR (<5 y.o. MR). Kalo IMR hanya newborn sampe 1 y.o. CMIIW.
Baik IMR maupun CMR, untuk se ASEAN+3, Indonesia cuma lebih baik dari Kamboja, Lao dan Myanmar
Dengan adanya proyeksi Indonesia bakal kekurangan pasokan listrik di masa depan, maka bisa diestimasi ledakan populasi
*komen ga penting*
Anda salah! Komennya justru penting sekali. Saya amat menghargai komen seperti ini. Sebab menandakan yang komen mbaca dan mengerti. Terimakasih atas koreksinya. Jujur, saya berterimakasih sekali atas koreksi ini.
September 5, 2007 at 11:57 am
Hahaha… ternyata Udin Petot lagi yang muncul euy…
Memang tingkat kematian bayi di negeri kita masih sangat tinggi. Tapi, realistis saja, tingkat kelahirannya masih jauh lebih tinggi lagi. Faktanya, tahun 2050, katanya penduduk Indonesia akan berlimpah ruah. Hahaha… *becanda*
Secara realistis (ikutan Udin Petot ah… ), memang Bumi kita tak akan bertambah, ketersediaan pangan sepertinya tak akan mencukupi (ini hitung-hitungan manusia. Memang banyak benernya). Tapi, seperti keyakinan kita, Allah Maha Mengatur segalanya. (Walau sekarang kita ketar-ketir, kita berdo’a dan berharap semoga ke depan Indonesia bisa lebih baik. Lebih memikirkan rakyatnya. Mampu memeperhitungkan berbagai kemungkinan yang terjadi).
Tidak lupa, sambil berdoa mari kita sama-sama usaha keras, Pak. Selain agar Indonesia tidak tenggelam juga karena
masalah rawan pangan di Indonesia saat ini sudah sungguh memprihatinkan.
September 5, 2007 at 12:47 pm
Padahal kondom murah ya, gimana kalo mahal. Nasib…nasib
Kalo mahal? Dijadikan koleksi oleh para rocker dan orang-orang kaya Indonesia yang gemar mengkoleksi benda mahal.
September 5, 2007 at 1:44 pm
Terlepas dari isu plagiasi yang dilakukan Chairil Anwar dalam puisinya “Antara Kerawang-Bekasi” terhadap puisi “The Young Dead Soldier” karya Arcibhald McLeish, Chairil Anwar harus diakui kharismanya sebagai salah satu oenyair hebat yang dimiliki oleh negeri ini. Karya2nya banyak mengilhami para pemerhati sastra dan budaya untuk melakukan kajian lebih jauh terhadap berbagai fenomena yang terjadi di ini negeri. (Wih sok “makar” nih).
Kematian yang melanda anak2 Indonesia yang disebabkan faktor gizi buruk bisa jadi akan terus berlanjut selama kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan masih menjadi cengkeraman budaya dalam struktur masyarakat kita. Harus ada kesadaran dan gerakan kolektif untuk membikin penyebabnya jadi “mampus”, hehehehe
Terimakasih Infonya, Pak. O iya, bagi pembaca lain, silahkan membaca keterangan mengenai Chairil Anwar di sini sebagai bahan perbandingan.
September 5, 2007 at 1:50 pm
*Sorry, nambah sedikit Bagaip, mohon izin blognya saya taut, ya?*
Ndak usah minta ijin juga ndak apa-apa, Pak . Silahkan saja.
September 5, 2007 at 2:16 pm
[...] semen, pasir, tanah, pulau, sungai, laut, hutan, mobil, kapal, pesawat tempur dan… bahkan manusia itu sendiri kita [...]
September 5, 2007 at 2:41 pm
bang, jelas pembunuhnya orang Indonesia sendiri, makanya doyan bikin anak!
perkara kondom, saking serakahnya orang Indonesia manusia aja diuntal apalagi kondom, jadi sayuran penguat bang. Makanya enggan pake mending ditelen sekalian.
Ditelen? Whuahahaha…..
Baru denger saya, Mas Peyek. Kondom yang ditelen… WHUAHAHAHA
September 5, 2007 at 2:42 pm
Wah orang indonesia ternyata sangat tergantung kepada doyan atau tidak.
Ini memang bukan watak bangsa. Tapi mayoritas (kalangan sosial ekonomi menengah ke bawah) memang begitu.
September 5, 2007 at 2:49 pm
Doyan deh…
Terimakasih telah ikut berpartisipasi dalam survey ini.
September 5, 2007 at 3:08 pm
ternyata jadi anak indonesia itu ada enaknya dan ada gak enaknya juga ya?, apa ini bisa menjadi alasan untuk suatu saat meninggalkan indonesia?
Ada banyak alasan untuk meninggalkan Indonesia. Sebagaimana masih banyak alasan untuk tetap mencintai Indonesia.
September 5, 2007 at 3:24 pm
Astaga !!!
Taon 2050 manusi Indon sebanyak itu ???
Gimana caranya negara mo kasi makan yak ???
Itu juga yang jadi pertanyaan saya.
Berat sekali njawabnya.
Sampai pusing sendirian waktu bikin tulisan post blog ini.
September 5, 2007 at 4:43 pm
50 tahun lagi penduduk Indo mencapai 400 juta? Jangan kuatir, pada tahun itu Indo pasti sudah menjadi negara kaya, karena devisa yang didapat dari ratusan juta TKI/TKW baru pasti juga berlimpah ruah
Yang saya khawatirkan, karena sudah terlalu banyak penduduknya, isu-isu gombal macam ‘ras terpilih’ dan ‘manusia-manusia paling baik’ akan semakin muncul.
September 5, 2007 at 4:52 pm
Bang Aip, kalo orang indo hobi bikin banyak anak karena masih suka ngeles pake teriakan penyemangat “Banyak anak banyak rejeki”. Padahal sekarang biaya membesarkan dan menyekolahkan satu anak gede banget bo!
Soal kenaikan angka kelahiran di Indo sekarang, menurut kenalan sy yg pernah ngublek-ngublek kesehatan masyarakat, salah satunya karena program KB dari OrBa sekarang dihapus (ada bagusnya juga ternyata OrBa). Buat orang kecil subsidi alat kontrasepsi sangat membantu, mereka juga ga mau punya anak banyak-banyak, susah kasih makan. Tapi apa mau dikata, ga mampu beli sendiri (kondom kek, IUD kek, pil kek), sedang dorongan syahwatnya jalan terus.
Kapan itu sy pernah baca, pemerintah India mensubsidi TV buat semua orang di pelosok-pelosok, supaya sebagian perhatian dialihkan nonton tipi, ngurangin waktu esek-esek. Seberapa efektif kebijakan tsb, ga tau deh karena saya ga nemu lagi beritanya di koran.
Saya juga bingung. Banyak sekali biaya untuk anak di RI. Apa pemerintah yang miskin? Apa rakyat yang pura-pura nggak punya mulut untuk teriak? Apa para pakar yang salah memprediksi? Aneh yaa. Padahal selalu ada anggaran khusus untuk anak-anak dan sekolah anak-anak di RAPBN.
September 5, 2007 at 6:01 pm
deuhh,.. wannabe.. wannabe…
koq contohnya ke situ yah? hehehe… kasian deh lu roy..
Hehehe, saya mah masih mending. Fertobhades, Priyadi dan RyoSaeba noh, lebih jago memblejeti ’sang pakar’.
Huehhe.
September 5, 2007 at 6:06 pm
Ini semua gara2 iklan mas,
Inget nggak, “Buat apa bungkusnya, yang penting kan isinya” he
Tapi bisa jadi tahun 2050 nanti malah bangsa ini kesulitan memperoleh anak lho mas. Kenapa? Semakin tahun tuntutan kompetitif kan semakin tinggi, perjuangan setiap orang demi mempertahankan hidup dan terus exist semakin keras, kondisi sekitar yang semakin tidak mendukung kenyaman setiap individu, egoistis yang meninggi, kecurigaan setiap orang yang berlebih, penyakit sosial masyarakat yang semakin marak dan masih banyak lagi kondisi ketidaknyaman yang akan jadi sebuah postingan jika saya tulis semuanya. Belum lagi kondisi bumi tempat kita tinggal ini makin lama makin tidak higienis yang semuanya itu akan menjadi pemicu banyak orang terjangkit penyakit STRES. Bukankah stres menjadi aktor kambing hitam utama bagi setiap orang yang susah mendapat keturunan dan banyak orang MANDUL?
Kamu mandul?
September 5, 2007 at 6:24 pm
Taun 2050 orang endo sebanyak itu??
…..
*kabur ke luar negeri*
OOT dikit. Kalo orang endo uda sbanyak itum yang uda mati mo dikubur dimana yagh? Masa dikremasi?
Yang udah mati, biarin aja mati. Kasian kalo kita bangunkan lagi. Biarlah mereka tenang di alam sana.
September 5, 2007 at 6:25 pm
Saya masih kurang mengerti mengapa penduduk Ina yang di daerah bisa kekurangan gizi, sementara tanah ada (atau tidak ada ya?) dan relatif subur, memelihara ayam juga rasanya tidak terlalu sulit.Lautpun katanya luas dan penuh ikan.
Jadi penasaran sama program peningkatan pertanian dan ekonomi di daerah, ada gak ya?. Supaya suplai makanan memadai, dan bisa beli alat KB.
Mau KB gratis?
Gunakan sistem kalender, atau kalau kepepet (pingin, tapi lagi subur) silakan baca sini http://en.wikipedia.org/wiki/Coitus_interruptus
Ibu Ndew… itu sudah dibalas oleh Ibu Konsultan.
(*katanya blog saya ini cabul. Kok kok banyak dikunjungin ibu-ibu yaa? Hehehe*)
September 5, 2007 at 7:24 pm
Benar bahwa program KB sejak reformasi jadi kedodoran, tapi saya kira bukan masalah harga kondom menjadi tidak terjangkau, melainkan karena tidak ada tekanan terhadap kalangan bawah untuk sadar KB. Orang Indonesia bukan tidak mampu membeli kondom, tetapi tidak mau. Berapa harga kondom? Kalau menurut SDKI 2003, harganya tidak sampai setengah bungkus rokok biasa. Orang toh normalnya tidak butuh kondom berlusin2 selama seminggu
Para suami tidak mau karena bukan mereka yang menanggung resiko dan beban hamil dan beranak lagi. Sudah umum kita lihat bahwa justru di kalangan bawah, para ayah tidak terlalu pusing memikirkan tanggung jawab keluarga. Anak ngga bisa sekolah, ya suruh bantu kerja. Apalagi mikirin imunisasi, gizi, psikologis anak, dll. Wah umumnya masih jauh deh.
Makanya tingkat partisipasi KB dari para suami Indonesia sangat rendah. Pria di kota, bekerja dan dg status ekonomi cukup tinggi malah mempunyai tingkat partisipasi KB yang lebih tinggi. Ini hasil penelitian BKKBN.
Suatu daerah sampel yg saya amati, termasuk kabupaten paling miskin di Indonesia, selama 2000-2005 laju pertumbuhan penduduknya 2x lipat laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Kalau Indonesia tambah miskin, tampaknya ledakan populasi benaran akan terjadi
September 5, 2007 at 7:32 pm
@ndew
“Saya masih kurang mengerti mengapa penduduk Ina yang di daerah bisa kekurangan gizi, sementara tanah ada (atau tidak ada ya?) dan relatif subur, memelihara ayam juga rasanya tidak terlalu sulit.Lautpun katanya luas dan penuh ikan.”
IMO, kurang gizi ada 2 penyebab: benar2 miskin (daerah tandus, langganan hama, remote, dsb) atau salah memilih makanan. Saya tidak tahu statistiknya, tapi tampaknya yang kedua ini cukup banyak terjadi. Anak bayi cuma dikasih pisang dan teh manis saja misalnya. Dulu tetangga saya di Bandung, anak balitanya tiap hari dikasih makan nasi plus kuah bakso, ayahnya ngepul rokok tiap hari, baksonya dimakan ibunya…
Ingat juga berita orang2 beli beras aking Rp1,500/kg padahal jelas lebih sehat, lebih murah dan bergizi kalo mau ganti ke singkong misalnya.
*maaf bang Aip, jadi seneng ngomen nih* bobo dulu deh..
Terimakasih. Komennya sungguh berbobot.
September 6, 2007 at 1:58 am
Ini dia yang gw demen .. setiap tulisan Bang Aip selalu mempunyai multi dimensi. Mulai dari soal puisi, genocide, tingkat kematian bayi, sampe soal kondom. Sehingga pembaca bisa ngomentarin dari mane aje.
Gw cuma komentarin soal Kerawang Bekasi aje .. entu puisi, adalah hal pertama yang mengantarkan gw mengenal sastra. Waktu itu, gw masih kelas 5 SD trus disuruh guru gw buat ngebacain entu puisi .. ah, kenangan yang indah. Ma kasih Bang, udah ngingetin gw soal Kerawang Bekasi.
Sama-sama Mas. Waktu kecil saya juga suka mbaca puisi. Terutama puisinya Nicky Astria.
(*eh, beliau itu penyair atau penyanyi yaa?*)
September 6, 2007 at 4:34 am
Tak ada orang Indonesia yang bagus puisinya.
Chairil Anwar orang bodoh, jadi puisinya datar tanpa arti yang dalam.
Sedang penyair indonesia jaman sekarang terlalu kebarat-baratan sehingga puisinya jadi tak berseni.
http://ratuadilsatriapinandhita.wordpress.com/
September 6, 2007 at 5:01 am
jadi inget si petot temenku, anaknya sudah 5 sekarang
September 6, 2007 at 8:06 am
Bapak-bapak harusnya dengan kesadaran ikut vasektomi (relatif lebih mudah dikerjakan ketimbang tubektomi)Kalau takut berarti nggak jantan
Tapi mungkin nggak ya Indonesia bisa mengalami baby boom 20 tahun lagi, dalam arti yang positif dimana ada SDM dalam jumlah masif plus Industri yang bisa menyerapnya.
Saya juga berharap ada industri yang bisa menyerap limpahan manusia ini. Tapi disisi lain, akan lebih banyak juga sampah industri yang akan kita hasilkan. Ini jelas mengerikan.
September 6, 2007 at 9:35 am
@ratuadilblablabla
wogh, ni orang dimana-mana komennya? daulat ratuku, ratu kalau mo masank link, ditaruh dinamanya aja? masa ratuku ga bisa? hamba aja bisa? link malah nulis di komen?
@bangaip
coba tanya sama sing panunggalih ratu hamba, mungkin dia tau jawabannya..huehuehue
tapi tenang aja ko bangaip, nanti kalo saia jadi preseden, saia haruskan setiap penduduk yang punya anak lebih dari satu, dikirim ke luar negeri aja, buat jadi TKI. khan mayan tuh?
Saya berharap, kalau kamu jadi presiden, bisa mengubah paradigma bahwa RI negara penghasil budak. Hehe.
September 6, 2007 at 6:20 pm
ah belum tentu juga jumlah WNI membludak, pasti ada seleksi alam, lha wong sekarang aja anak-anak ada yang dipaku kok sama emaknya… duh Gusti, amit-amit…
Dipaku? Buset dah? Kok bisa-bisanya? Sadis amat?
September 6, 2007 at 7:52 pm
65 tahun ? berarti umur saya tinggal 33 tahun lagi dong…
sepertinya kontradiksi ya bang, disatu sisi kelihatannya indonesia “kurang menghargai nyawa” anak-anak yang mati tiap tahun karena berbagai masalah (kesehatan, dll) sementara dilain sisi orang indonesia doyan bikin anak
kondom dan doyan bikin anak memang berhubungan kok mbak, mungkin bisa ditambah satu lagi : doyan nge-seks
tapi menurut penelitian, orang indonesia masih kalah nge-seksnya dibanding orang bule (penelitian frekuensi berhubungan seks pada suami-istri di berbagai negara)
mau tahu siapa yang paling doyan ?
*riset lagi dong bang…!*
Hehehe… bisa aje nih Om Fertob mancing-mancing. Huehehe.
September 6, 2007 at 7:53 pm
kok jadi mbak sih…. diralat bangaip, maskut aye ntu bangaip
September 6, 2007 at 9:13 pm
survey membuktikan:
99,9% manusia paruh baya indonesia sekarang sedang sibuk membeli peti mati, kain kafan, wewangian, khususnya sepetak tanah ukuran 1.5*2 m untuk persiapan “masa depan”
survey siapa?
September 9, 2007 at 4:17 pm
orang Indonesia nggak suka pakai kondom ? ..Chairil Anwar saja dalam sejarah hidupnya beberapa kali terkena penyakit sipilis ( baca – catatan biografi dirinya )
Namun masalah kondom masih dianggap tabu dan sebagai legalisasi sex bebas, walau tergantung kita mengartikannya. Jadi ingat dahulu ketika masih kuliah sempat berlibur ke sepupu yanbg tinggal di luar negeri, oleh ibunya alias bude saya kami dibekali kondom..tentu saja saya blingsatan, sementara sepupu saya cuek saja.
Kondomnya, buat laki-laki atau kondom untuk perempuan?
September 11, 2007 at 3:02 am
ehmmmmmmmmmmmmm, seru baca komen2nya
September 11, 2007 at 4:04 am
Doyan nggak doyan pakai kondom… yang harus dipertanyakan juga: kondom bikinan Indonesia terjamin anti bocor nggak
?
*kalau bikin kondomnya kayak bikin jalan Trans Jakarta, yang dalam setahun perbaikannya udah buaaaanyak gini, mau dipakai juga percuma
*
Saya mau riset juga soal kondom Indonesia sih. Tapi sayang, waktunya nggak ada. Hehehe.
September 12, 2007 at 3:06 am
set dah! hasil risetnya…..
bang aip, mau masuk ramadhan. met puasa, maap lahir batin yaaaa
Sama-sama Bu. Maap lahir batin. Maap jarang komen. Saya bingung mau komen apa di Venus to Mars. Isinya spesifik sekali. Sangat perempuan. Dan sangat urban. Saya malu, nanti diketawain kalo komen di blog seleb seperti blog Ibu. Maklum, saya anak kampung.
September 14, 2007 at 3:03 am
tapi mau gimana lagi
kan ada ‘beda’
antara ‘pake’ dan ngga
SETUJU SEKALI
September 14, 2007 at 10:35 am
Jadi mikir, ada ga ya kontrasepsi praktis selain kondom?
Pake kondom jadi ga bisa bernafas nih bang.
Btw, banyaknya bencana di indonesia akan bisa menunda atau mencegah penuhnya indonesia. Belum lagi sekte2 yang akan makin berani bunuhin sesama demi surga. Bahkan meski pemanasan global bikin pulau2 pada tenggelam, sepertinya indonesia akan tetap lega deh.
Selain kondom? Ehhmhh… tanggal mungkin juga sih. Tapi katanya sering bobol juga, karena sebelum mulai, nggak pernah nanya ini tanggal berapa. Selama bisa mengacung. Hajar bleh. Pas lahir, anaknya jadi begitu juga.. doyan maen hajar sembarangan. hehe
September 17, 2007 at 9:48 am
Di sini (perancis) malah kebalikannya dr di indonesia. Alat kontrasepsi gratis, malah disediakan di sekolah2 SMA. Mempunyai anak malah dapat uang prime melahirkan hampir 900 Euros/anak ++ tunjangan lain-lain deh (jika pendapatannya < plafond yg ditentukan oleh CAF). Bebas biaya konsultasi dokter/RS + melahirkan.
Anak terjamin kesehatannya : ada wajib visit medical ketika anak lahir, umur 9 bulan dan umur 23 bulan. Ini ada certifikatnya.Jika tidak: CAF akan blokir tunjangan bagi orang tua yg menerima tunjangan. Visit medikal umumnya setiap bulan gratis hingga anak umur 6 bulan. Vaksinasi gratis.
Bagi ibu single parent : berhak tidak bekerja untuk mengurus bayi sampai anak itu berumur 3 th.
Tapi banyak orang yg tidak mau punya anak.
September 17, 2007 at 11:33 am
@Guh:
Vasektomi aja, praktis gak perlu pake apa2 lagi, garansi seumur hidup!
@Juliach:
Kenapa banyak orang Prancis yang gak mau punya anak? Mungkin karena gaji pembantu/baby sitter di sana mahal
He, Ini berarti sudah saatnya kita melakukan diversifikasi TKW dengan mengekspor baby sitter
bergaji murahke tanah Eropa…Wah, saya jadi inget cerita orang Indonesia yang pertama kali menginjak Eropa.
September 17, 2007 at 5:00 pm
wehehehe….
doyan buat anak, `gak suka pake kondom. KB hanya tinggal slogan program yg diemohkan.
Eh mas, numpang nanya dong… selain imunisasi, program KB masih ada ga di puskesmas daerah?
September 20, 2007 at 1:37 pm
tenang Mas, meskipun penduduk Indonsia bakalan mbludak, kan masih ada Bencana Alam Asli dan Bencana Alam “Ajaib”, yang bisa mengurangi jumlah penduduk Indonesia. Sudah diriset belum, jumlah kemungkinan Bencana yang terjadi sampai tahun 2050? Jadi mulai sekarang, hitungan itu sudah bisa dikurangi dengan “jumlah kematian akibat adanya dua jenis bencana” di Indonesia…
Hehe, cerdas juga hitungannya
September 20, 2007 at 5:48 pm
Hmm…perdebatan yang cukup panjang
,pastilah seleksi alam ini bisa menyaring, meski kerucut atau piramida populasi cenderung mengarah ke population explotion..
Moga2 kita2 bisa jadi kalangan yang bertahan yah
—> makanya pake kondom, atuh !
Lagi seru masalah ini di kantor PBB New York, Kang Luigi. Isu ini ternyata lebih hangat daripada formulir I-91 yang harus diisi di kabin pesawat menuju semua bandara di AS. Formulir itu mirip formulir yang diedarkan NAZI pada masa WW II. Sebab kuisioner harus mengisi, apakah mereka suka melakukan hubungan sejenis atau bukan. Selain itu, ditanya, apakah makan makanan halal atau bukan. Hehehe, geleuh.
September 28, 2007 at 10:39 am
kondom ? bikin ribet. (pernah cobain)
Agustus 10, 2008 at 4:47 am
Hahahahahaha..
banyak anak banyak rezeki (katanya)
hmm hmm… berarti kalo ada bencana alam memakan banyak korban jiwa, bisa bilang “alhamdulillah” dong. hahahahahahaha