Oktober 2007


Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


(*Atas nama penghormatan dan penghargaan terhadap hak privasi, beberapa nama pelaku pada tulisan panjang ini bukanlah nama sebenarnya. Satu lagi, terimakasih atas doanya sehingga tidak perlu dilakukan tindakan operasi dari dokter terhadap saya*)

Saya akan bercerita pada rentang jarak-jarak waktu yang berbeda. Agar tidak membuat rumit anda, para pembaca blog nan terhormat, ijinkanlah saya memberi tag judul berhuruf tebal pada setiap cerita.

Oktober 1997

Teman-teman saya dari Cilincing suka sekali datang ke Depok. Ke Kukusan Beji, tempat kost saya. Kadang-kadang, mereka juga mampir ke sekolah saya, yang terletak tidak jauh dari kost-an. Mereka suka datang ke Depok karena Depok pada masa ini cukup teduh dan menyenangkan. Kalau malam, bisa tidur pakai sarung, karena suhu jadi lebih sejuk.

Maka itu, teman-teman saya, suka datang ke Depok. Ke kost saya.

Nah, namanya juga anak Cilincing, anak kampung nelayan. Kalau sudah kumpul, kelakuannya yaa ndeso semua. Bener-bener kampungan deh. Sejujurnya, termasuk saya juga sih. Tapi saya kan sudah jadi bagian dari komunitas Depok. Maka, atas nama gengsi akademisi Depok, kampungan ála Cilincing saya tekan kuat-kuat (walaupun ternyata gagal, hehe).

Contoh betapa kampungannya anak-anak Cilincing adalah ketika suatu hari mereka ramai-ramai datang ke Depok.

Saya lihat, banyak juga yang datang. Ada Odoy, Jumari, Aris Kisut, Utu, Rahmat, Sape’i, Uki, Udin Petot, Uung, Mat Bondan, Dayat bahkan hingga si Gugun, adik saya. Buset dah, banyak banget! Udah gitu, bawa kamera poket pula. Rencananya mau foto-foto di sekolah saya. Sebab sekolahan saya banyak pohonnya. Di Cilincing sudah jarang pepohonan.

Dan yang menyebalkan, mereka semua minta diajak jalan-jalan melihat sekolah saya naik bus gratis. Artinya cuma satu, saya harus jadi guide seharian dan harus mbayarin mereka makan kalo laper. Duh gusti!

Tapi namanya juga temen, akhirnya, jadi juga kami jalan-jalan naik bus. Dan semuanya berjalan lancar-lancar saja. Muka saya yang tadinya tertekuk akhirnya bisa berganti dengan ketawa-ketiwi lagi bersama mereka.

Namanya juga temen, harus solider.

Hingga akhirnya ketika dari dalam bus si Uung teriak, “Wooii ada artiss! Bang arip.. Bangg..! Ada artis lagi jalan kaki, Bang! Pir… Sopiir.. brenti, Pir! Kiri.. kiri…”.

Seketika, semua penghuni dalam bus melihat ke arah Uung. Muka saya merah padam. Karena mereka juga meliat ke arah saya. Malu euy. Sebab bus ini kan bus sekolah, tidak bisa berhenti sembarangan. Bus hanya berhenti pada halte-halte tertentu. Dan tidak bisa teriak-teriak begitu saja di dalam angkutan umum ini.

Tapi tidak demikian dengan anak-anak Cilincing. Mereka teriak-teriak kegirangan di dalam bus, “Horee! Horee! Ada artis! Temennya arip artis! Horee!”.

Dan daripada bertambah malu, saya bersama mereka turun di halte terdekat. Dan teman-teman Cilincing saya itu lantas lari berhamburan menghampiri sang artis muda nan manis tersebut.

Artis ini seorang gadis jelita. Ia tercatat sebagai salah satu pelajar di sekolah saya. Sinetronnya yang dibintanginya menceritakan komunitas masyarakat pinggiran, meledak dengan sukses. Bahkan kalau tidak salah akan dibuat sekuelnya. Dan jujur saja, saya sama sekali tidak kenal dengan beliau secara personal.

Mbak Artis itu terlihat kebingungan melihat serombongan pemuda tidak dikenal bertampang kriminil mengitarinya sambil cengar-cengir nggak jelas. Semuanya mengajak salaman. Ia bertambah kebingungan. Bahkan Udin Petot sampe cium tangan segala kepada si Mbak Artis. Wah saya bener-bener malu.

Daripada malu tambah parah, saya maju memberanikan diri (walaupun sebenernya malu dan gugup luar biasa). “Mbak, nama saya arip. Ini temen-temen saya dari Cilincing. Mereka ini fans-nya Mbak. Mereka mau kenalan sama Mbak”.

Saya diam sejenak. Rojak membisiki sesuatu ke kuping saya. Lalu saya melanjutkan perkenalan saya pada mbak tersebut sesuai pesan sponsor dari Rojak, “Mereka mau poto-poto sama si Mbak, boleh Mbak?”

Mbak Artis itu tersenyum manis. Lalu mengangguk mengiyakan. Anak-anak Cilincing bersorak gembira.

Dan anak-anak Cilincing ini rupanya benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas berfoto dengan selebriti. Jumari pose dengan dua jari membentuk huruf V, style turis jepang. Uki pose dengan tiga jari, mirip anak metal. Rahmat pose sambil memegang pohon, mirip artis pelem India. Utu yang sangar dan gondrong bergaya ála artis cilik Meisye, menempelkan dua jari telunjuk ke pipi kiri kanan. Sementara Sape’i, Aris Kisut, Gugun, Mat Bondan dan Dayat jongkok sambil berangkulan satu sama lain mirip anggota klub sepakbola. Si Mbak Artis berdiri di tengah-tengah mereka, nahan ketawa.

Yang paling parah, siapa lagi kalo bukan Udin Petot. Sebelum pose, dia bahkan minta spidol dan kertas pada saya. Di kertas itu, ia tulis dengan huruf kapital besar-besar ‘CHINTAMI ATMANEGARA LOVES UDIN’. Lalu kertas itu ia berikan pada si Mbak Artis. Dan ia langsung lari ke belakang Mbak Artis. Pose mesra dengan kepala mendekati kepala si Mbak Artis.

Si Mbak Artis tambah bingung. Ia menengokkan kepala ke arah Udin Petot yang membalas tengokannya dengan senyuman mesra (yang bikin saya tambah malu). Si Mbak Artis berkata “Aduh mas, saya ini bukan Mbak Chintami Atmanegara. Saya Maudi”.

Udin Petot kebingungan. Matanya menatap si Mbak Artis dari ujung rambut ke ujung kaki. Anak-anak Cilincing lainnya sudah bete. Karena sudah gaya pose paling ‘oke’, tapi gara-gara Udin Petot, bibir mereka harus kaku nahan senyum.

Udin Petot lari ke arah saya yang jadi tukang potret.
- “Bang, kayaknya kita salah orang deh”
+ “Parah lo, Din. Itu kan Mbak Maudi Kusnaedi. Bukan Cintami”
- “Maudi tuh siapa, bang? Apa poto-potonya kita batalin aja, Bang. Kayaknya ini artis palsu nih”
+ “Kacau luh, men. Itu tuh si Jenab. Temennya Atun. Pacarnya si Doel anak sekolahan. Artis beneran tau”
- “Oh si Jenab. Itu mah gue kenal, Bang. Ya deh ga papa, biar bukan Cintami. Yang penting cakep”

Akhirnya sesi foto-foto itu usai sudah. Semua orang Cilincing bahagia. Mbak Artis itu sungguh ramah. Ia melayani fans-fans palsu kacangan dari Cilincing ini dengan hati yang tabah.

Hingga akhirnya, Mbak Artis harus masuk sekolah. Hari sudah sore, anak-anak Cilincing pulang kampung. Saya kembali lagi ke kost-an.

Hari yang bahagia.

Seminggu kemudian mereka datang lagi. Anak-anak Cilincing datang lagi. Saya tahu, pasti membawa hasil foto dengan Mbak Artis. Saya sudah menduga, pasti Udin Petot mau ketemu Mbak Artis lagi. Cari kesempatan, kalau-kalau sang selebriti belum punya pacar. Ia pasti mau ndaftar jadi pacar si Mbak Artis.

Ternyata saya salah.

Mereka datang membawa pesan buruk. Cilincing dalam perang antar gang. Gang yang dimaksud juga bukanlah gank dalam bahasa Inggris. Gang adalah seruas jalan kecil diantara rumah-rumah kumuh kecil padat di Jakarta. Benar-benar kecil. Lebarnya paling satu meter.

Sebenarnya, ini berita biasa saja. Perang antar warga antar adalah hal yang biasa di Cilincing. Alasannya beragam. Namun umumnya adalah karena rebutan wilayah kekuasaan parkir atau jatah keamanan pasar. Umumnya penyebab perang ini tidak lain karena masalah ekonomi.

Zaman lagi susah. Mau apa-apa susah. Semua butuh duit. Apa-apa mahal. Mau tidak mau, harus berebut lahan mencari makan.

Perang antar gang kali ini sungguh buruk, sebab adik saya, Gugun, terlibat perang tersebut. Bahkan ia hingga terluka cukup parah karena perang itu melibatkan senjata tajam. Sementara, kabar lebih buruk lagi, adik bungsu saya, gadis yang baru beranjak dewasa, diancam oleh gang lawan akan diperkosa.

Mau tidak mau saya harus pulang. Apapun yang terjadi. Saya harus pulang ke Cilincing. Bagi kami, anak-anak Cilincing, kehormatan adalah segalanya. Untuk menjunjung kehormatan, semua hutang harus dibayar. Hutang uang dibayar uang. Hutang darah dibayar darah. Kehormatan adalah segalanya.

Tiga hari setelah saya kembali ke Cilincing. Beredar kabar, bahwa pada hari kamis nanti, akan terjadi pertempuran besar-besaran dengan gang tetangga. Semua anak-anak muda di sekeliling gang saya sudah mengasah golok masing-masing. Beberapa senjata api genggam berjenis Colt atau FN hingga senapan pemburu babi bahkan sudah beredar diam-diam diantara kami.

Rabu pagi, 40 jam sebelum perang

Ibu duduk di teras rumah. Beliau tidak pergi mengajar seperti biasanya. Saya duduk di samping beliau. Beliau menunduk lesu. Lalu berbicara pada saya;
- “Ibu tahu, besok malam perang. Ibu lihat senjata di kolong ranjang kamu”
+ “Ehh.., Errhh…”
- “Sudah. Ngapain kamu ikut-ikutan. Besok kamu di rumah saja”
+ “Errh.., Errhh…”
- “Kamu denger Ibu?”
+ “Errhh… Iya saya ngerti, Bu. Tapi ibu kan perempuan. Ibu nggak ngerti apa yang sedang terjadi. Mereka udah nyakitin Gugun, Bu. Bahkan ngancem mao merkosa Ulfa segala. Saya kan laki-laki paling tua di keluarga ini. Saya malu kalau nggak ngapa-ngapain, Bu. Mau ditaro dimana muka saya. Mereka sudah utang darah sama keluarga kita. Utang darah harus dibayar darah”
- “Kalo gitu, kapan selesainya?”
+ “Maksud Ibu?”
- “Yaa kalo gitu kapan selesainya? Kamu mao ngebunuh anak kampung sebelah? Sukur kalo kamu dipenjara doang! Tapi gimana kalo kamu atau adik-adik kamu dibunuh mereka sebagai gantinya. Atau mereka malah membunuh ibu sebagai gantinya. Kamu mau begitu?”
+ “Yaa nggak gitu lah”
- “Trus apa? Logika kamu kan begitu? Apa kamu berani ngejamin mereka diem aja?”
+ “Saya laki-laki, Bu. Saya dilahirin Ibu bukan untuk jadi pengecut”
- “Ibu nggak minta kamu untuk jadi pengecut”
+ “Jadi apa yang Ibu minta?”
- “Ibu minta siang ini, kita semua sekeluarga berangkat ke Depok sampai perang ini selesai. Kalau kamu masih menghargai Ibu, kamu pasti nurut permintaan Ibu ini”

Saya menggigil mendengar permintaan Ibu. Pelan-pelan berlinang air mata. Ibu adalah orang yang saya cintai dah saya hargai. Amat sangat saya hargai. Namun, memenuhi permintaannya bagaikan membunuh seluruh kebanggaan laki-laki saya. Permintaan beliau, merenggut kehormatan saya sebagai laki-laki dari Cilincing. Pagi itu, saya luluh lantak tak bersisa.

Tapi, sebagai anak. Saya penuhi permintaan beliau.
Berat. Sebab orang se-Cilincing pasti akan menuduh saya pengecut. Dan mengemban stigma pengecut di Cilincing itu sungguh berat.
Tapi saya penuhi jua permintaan Ibu.

Tak peduli tatapan bingung sahabat-sahabat saya. Saya angkut beberapa barang berharga ke dalam mobil angkot yang kami sewa untuk ke Depok. Pagi itu sungguh panas. Namun hati saya membeku. Saya papah Gugun ke dalam angkot. Memasukkan tas berisi baju-baju, dokumen-dokumen penting serta tivi.

Pagi itu, saya bersama keluarga meninggalkan Cilincing untuk sementara. Kami mengungsi ke Depok dengan mobil angkot. Menuju kost saya. Saya duduk di depan, di samping pak supir. Dari kaca spion, terlihat wajah kecewa teman-teman Cilincing saya. Yaa, saya tahu apa yang ada di benak mereka. Dan ego laki-laki saya pun semakin luluh lantak tak bersisa.

Esoknya, hari kamis, terjadi pertempuran seru di Cilincing

Tiga hari kemudian, Udin Petot menjemput kami di Depok. Ia menceritakan bahwa ia selamat karena ia dimasukkan dalam penjara selama tiga hari atas permintaan ayahnya. Jumari selamat karena dilarang bertempur oleh istrinya yang hamil muda. Sape’i selamat karena lari ke Bali.

Ia menceritkan pula kisah tragis, bahwa Dayat dikeluarkan dari kesatuannya dan lalu diadili (*Dayat bekerja di sebuah instansi militer*) karena membacok kepala seorang polisi yang melerai perkelahian itu hingga tewas. Utu dan yang lainnya lari buron sebagai resedivis ke Sumatera karena membunuh anak seorang perwira tinggi yang terlibat dalam perkelahian massal. Aris Kisut masuk penjara. Rahmat tangannya buntung ditebas parang lawan. Uung tewas dengan muka hancur karena terkena peluru senapan pemburu babi.

Mendengar cerita itu, saya menatap Ibu. Saya tidak berkata apa-apa. Seakan waktu berhenti bergerak.

Begitu banyak yang ingin saya sampaikan. Tapi lidah terasa kelu.

——————-The End? Ahh kata siapa?———————

(lagi…)

Halaman Berikutnya »