Beberapa waktu lalu, ada beberapa penulis blog Indonesia yang mengaku tinggal di daerah konflik terbuka bagi WNI, secara terang-terangan malah memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka. Saya kaget sekali.
Tapi sebelumnya, penonton, ijinkanlah agar saya menerangkan apa itu definisi daerah konflik terbuka bagi WNI (Warga Negara Indonesia).
Daerah konflik terbuka bagi WNI adalah daerah/negara non-RI dimana seringkali terjadi tindak kekerasan atau aksi pelanggaran kemanusiaan bagi WNI. Gamblangnya, WNI yang tidak tinggal di Indonesia, namun diperlakukan sedemikian buruk oleh warga setempat.
Mengapa disebut konflik terbuka? Sebab sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah mahfum. Sudah tahu. Sering membaca. Namun tindakan yang diambil sedemikian sedikit.
Umumnya perlakuan buruk yang diterima oleh WNI adalah aksi kekerasan domestik rumah-tangga, seperti suami yang suka mukul istri asal Indonesia, atau aksi kekerasan penyiksaan majikan terhadap PRT (Pembantu Rumah Tangga) asal Indonesia, atau malah aksi penjualan WNI sebagai budak atau tenaga kriminal atau malah jadi tenaga pembantu terorisme.
Daerah rawan konflik terbuka ini antara lain adalah beberapa negara di Timur Tengah dan beberapa negara di Asia Tenggara. Dimana banyak sekali muncul kasus WNI yang diperlakukan dengan buruk dan keji. Tidak tertutup kemungkinan di beberapa negara lainnya. Namun di negara-negara diatas tersebut, kasus kekerasan terhadap WNI memang sudah memilukan.
Maka itu, saya jelas kaget, ketika ada beberapa penulis blog asal Indonesia yang tinggal di daerah konflik, malah terang-terangan memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka.
Ini contohnya:
Bangaiptop (16.40.23): “Akhi, denger-denger, antum tinggal di Saudi yaa” (*akhi=saudara, antum=anda*)
<nama-sensor> (16.42.12): “Alhamdulillah akhi. Sudah 8 tahun”
Bangaiptop (16.45.01): “Ana baca di blog antum, kok banyak sekali pelabelan munafikun dan kafirun terhadap sesama WNI yang muslim? Apa itu bukannya blunder buat dakwah antum? Bukannya jadi kontraproduktif?” (*ana=saya*)
<nama-sensor> (16.50.03): “Dakwah memang harus keras, akhi. Kalo lembek, itu peyeum” (*peyeum= makanan sejenis tape*)
Bangaiptop (16.55.50): “Hehehe, antum bisa aje. Tapi masalahnya kan bukan begitu akhi. Banyak sekali WNI kita yang jadi TKW di negara tempat antum tinggal diperlakukan buruk. Blog antum kan bisa jadi sarana untuk membantu mereka. Secara antum sudah 8 tahun tinggal disana dan mengerti seluk beluk administrasi dan hukum setempat”
<nama-sensor> (17.02.02): “akhi, TKW indo itu kaum musyrikin. kbanyakan orang NU, ndesit. suka ke kuburan kalau iedul fitri. suka empat puluh harian, suka nujuh bulanan. musyrik itu! membantu orang musyrik itu dosa, akhi“
Bangaiptop (17.04.53): “Astagfirullah, antum ini mulutnya berbahaya sekali, akhi. Kita sesama manusia, satu kampung atau bukan, satu pandangan politik atau bukan, satu agama atau bukan.., bukannya wajib saling membantu?”
<nama-sensor> (17.10.22): “antum ini orang jil ya? ana sudah lama curiga dengan tulisan-tulisan antum?”
Bangaiptop (17.11.37): “jil itu apa, akhi?”
<nama-sensor> (17.12.44): “JIL itu pokoknya munafik. ngaku islam tapi bukan orang islam”
Bangaiptop (17.13.08): “Wahh, antum ini nampaknya sudah panas, akhi. Sayang sekali diskusi ini berakhir begini. Ana mohon pamit, akhi. Terimakasih yaa sudah chat dengan ana. Insya Allah, kalau ada waktu dan kondisi sudah membaik, kita sambung lagi. Wassalamualaikum“
Salam saya tidak dijawab. Saya ulangi lagi salam. 10 menit… 20 menit… Setengah jam… Saya menunggu. Ternyata beliau memang benar-benar ‘panas’. Salam saya benar-benar tidak dijawab. Tidak lama kemudian, beliau terlihat log-out dari ruang chat.
Saya kaget… Dan benar-benar kaget. (*padahal nggak biasa ber-antum-ana-akhi*)
Saya kaget, bukan gara-garam salam yang tidak dijawab. Tapi kaget, ada manusia Indonesia yang menutup mata atas kezaliman terhadap manusia Indonesia lainnya, hanya gara-gara si malang tersebut mengunjungi makam keluarganya ketika hari lebaran.
Kedua, saya benar-benar terhenyak. Ketika lawan bicara saya, secara sadar mengakui kelemahan pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya yang tinggal di luar Indonesia, namun di sisi lain ia tidak mau berbuat apa-apa ketika ia tahu bahwa ia mampu berbuat sesuatu untuk melindungi saudara senegaranya.
Ketiga, saya kagum dengan betapa mudahnya orang Indonesia (termasuk saya) yang amat mudahnya memaki penguasa. Sebab untuk mengevaluasi kinerja kerja penguasa, seluruh kalimat dapat meluncur deras bagai aluran kotoran pipa menuju septic tank. Sekan semua makian anjing-babi-bangsat sanggup membuat telinga tuli pemerintah Indonesia terbuka begitu saja. Seakan semua kutukan dan sumpah serapah mampu membuat iblis dalam pemerintah RI berubah menjadi malaikat berjubah putih yang dengan sigap menolong warganya.
Saya benar-benar kaget.
Dan saya lebih kaget lagi ketika fakta menunjukkan;
1. 62,7 % dari 6750 pelacur di Malaysia berasal dari Indonesia. 40 % dari mereka, dibawah 18 tahun. Hebat kan, sekitar 1700 orang pelacur ABG Malaysia, adalah WNI.
2. Pada tahun 2004, dibuat Undang-undang no.39 yang judulnya adalah “PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA“. Kalau undang-undang itu sukses, kenapa Ceriyati, TKW asal Brebes, harus berusaha loncat dari lantai 15 untuk kabur dari majikannya pada tahun 2007?
3. Pada tanggal 3 Juli 2007, Presiden RI yang terhormat, menerbitkan Keputusan Presiden no.77 tahun 2007. Isinya, deskripsi investasi bisnis yang terlarang di Indonesia. Ada 25 larangan bisnis disana (termasuk larangan pembudidayaan ganja, investasi berbau tempat reliji, penanaman modal pada teknologi senjata kimia dan lainnya). Sayang sekali, tidak ada larangan bisnis manusia disana. Seakan, dagang WNI adalah halal di Indonesia.
4. Perdagangan manusia Indonesia itu sudah banyak. Mulai dari yang masih dalam taraf penjajakan, seperti penculikan anak-anak dibawah umur. Lalu perdagangan manusia domestik. Hingga pengiriman tenaga kerja tak berdokumen. Masih untung kalau bisa kembali ke Indonesia. Kalau tidak, bagaimana?
Saya tidak kaget, ketika mengetahui bahwa perlakuan buruk terhadap WNI di luar Indonesia itu bersaudara kembar dengan perdagangan WNI. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah pemerintah mengetahui hal ini?
Tanya: Apakah Pemerintah RI tidak tahu ada bisnis jual beli WNI?
Jawab: Jelas tahu. Ini buktinya;
a. Deputi Menkokesra (Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat) tahu mengenai adanya perdagangan manusia Indonesia.
b. Menkokesra sendiri sudah jelas-jelas memberikan sinyalemen bahwa ada industri perdagangan manusia dalam website mereka.
c. Pansus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) memberitahu bahwa 30 persen manusia dari total perdagangan ‘jual-beli daging siap pakai’ internasional adalah WNI.
d. Bahkan Presiden RI sendiri mengetahui bahwa warganya sering jadi korban perdagangan ugal-ugalan.
Setelah menulis ini, lama saya termangu. Sudah saatnya saya berhenti berharap akan ada malaikat tampan gagah perkasa, turun dari langit, memberantas kezaliman atas seluruh WNI, TKI/TKW yang dibunuh, disiksa, diperkosa. Sudah saatnya saya berhenti berharap, bahwa ada tangan tuhan yang bertindak pada manusia-manusia cabul pedagang anak dibawah umur, perampas kemerdekaan hak manusia, perubah wanita baik-baik menjadi pelacur.
Sudah saatnya saya berhenti berharap. Sebab ini sudah saatnya mengepalkan tangan dan lalu menghunus pena. (Lebih baik lagi, sama-sama bahu membahu mencegah perdagangan dan aksi kekejaman terhadap WNI)
(*Karena orang Indonesia bukanlah budak. Orang Indonesia tidak dilahirkan untuk menjadi budak. Orang Indonesia tidak dibesarkan untuk diperdagangkan di pasar budak. Orang Indonesia tidak untuk ditilik, ditimbang dan dilihat hanya untuk menjadi mangsa kebuasan manusia lainnya. Sebab Orang Indonesia, adalah manusia merdeka, bagian dari sebuah bangsa yang merdeka*)
Tulisan yang terkait:
- TKW di negeri Arab, gaya baru perdagangan manusia (Karya: Didats, tetangga sebelah)
- Pendukung TKI
- Data Perdagangan Manusia di Indonesia 1999-2002 (PDF)
November 14, 2007 at 2:45 pm
herannya, hal seperti ini nggak ada habisnya. padahal salah, tapi masih tetap dilakukan…
sedih denger cerita begini…
November 14, 2007 at 2:49 pm
waaaaks… cwapeeek…
panjang penuh link.
*mengelap keringat*
saya setuju dengan dua paragraf terakhir.
yo! kepalkan tangan, hunus pena!
November 14, 2007 at 3:12 pm
nice post

tp yeah, im just sayin dan itu lain lg ceritanya
hopefully its an ongoing struggle. “menyelamatkan” teman2 sebangsa.. bulan lalu smpat baca artikel d sini , ttg seorang Pakistan yg ngediriin pusat medis buat nampung warga sebangsanya yg jd sasaran ketidak adilan pemerintahnya sendiri. (bersyukur di Indonesia situasinya ga separah Pakistan) he said something like this, “I am a Moslem, but my religion is Human rights”. yah mungkin ga usah terlalu ditelan bulat2 kata2nya, soalnya klo dicari d refernsi manapun, human rights ga pernah jd agama
n i certainly wont debate faith vs nationalism..
tp i personally think its too far if you let injustice happens. especially to our fellow countrymen, and when you actually can do something. hope im not being a hypocrite. i know in holland there’s also a lot of tki :p but i guess ppl here hv a good record in terms of keeping the lines of human rights. well. altho klo d sini student2 indo suka complain ttg restoran Indo yg notorious dgn bos2 yg suka ga manusiawi klo ngasi kerjaan dan ga adil dlm bagi tips
cheers!
Udah denger ABRI IJO dan ABRI MERAH PUTIH belum, Mbak Ulma? itu lebih seru lagi. Certainly it will debate faith vs nationalism.
November 14, 2007 at 3:42 pm
setiap yang berjiwa adalah merdeka,terkutuklah yang merampasnya!
November 14, 2007 at 3:48 pm
ckckck…cape, bang. kita ngomel2, maki2, nulis di blog, demo di jalanan, emang bapak2 itu dengerin?
sedih banget
Insya Allah, mereka denger, Mbok.
November 14, 2007 at 3:49 pm
btw, postingan saya sama sekali gak serem. itu kan tentang persahabatan yang manis, bang
November 14, 2007 at 3:51 pm
Semoga saja kita kita mau mengesampingkan perbedaan perbedaan kita, demi sebuah makna kemanusiaan.
November 14, 2007 at 3:53 pm
Dan dengan alasan kemanusiaan itulah kita membantu sodara sodara kita yang di luar negeri itu.
November 14, 2007 at 4:13 pm
yang menyedihkan emang klo sudah tahu tapi tidak mau berbuat apa2,buka mata buka telinga tapi tertutup hatinya, bener parah pemerintahan kita.
Tentang pelacuran disini memang bukan rahasia umum lagi tapi baru tahu angkanya sebanyak itu. Denger2 TKI yg kerja di pabrik pun nyambi. Yg bikin miris sampe pernah penduduk demo menolak lingkungan apartemen mereka menampung TKI krn gak mau lingkungan mereka jadi semrawut.
November 14, 2007 at 4:42 pm
Umi saya di kuwait Bang.
Menjadi TKI demi menghidupi saya dan adik-adik saya.
Semoga beliau tidak mendapatkan perlakuan-perlakuan kasar di sana. Saya sayang umi saya.
Insya Allah, Umi anda dijaga Allah.
November 14, 2007 at 4:55 pm
Hmmm orang kita banyak diperlakukan layaknya budak, apakah ini karena umumnya kita bermental budak (tak patuh rambu lalu lintas, mau tertib kalo ada petugas, bla..bla..bla..)?
November 14, 2007 at 5:18 pm
Intinya bukan TKI atau tidaknya, setidaknya mengurangi ketergantungan indonesia kepada orang luar dengan mandiri.
Oia aku pernah berurusan dengan kasus traficking suatu saat aku akan sharingkan di blogku.
Tolong dibagi pengalamannya.
November 14, 2007 at 5:56 pm
lalu kenapa mereka mau ke daerah konflik terbuka bang??? jangan-jangan karena di negara sendiri lebih teraniaya….. buktinya kan sederhana pemerintah tahu mereka diperdagangkan tapi kok diem aja….. atau mungkin karena mereka itu tidak segolongan dengan pemerintah sehingga darahnya dihalalkan ™ ……
Untuk menjawab pertanyaan anda, Pak Guru. Saya rencananya akan bikin postingan tersendiri. Pertanyaannya berat, euy. hehehe
November 15, 2007 at 1:11 am
Serba salah bang,…
Negri Indon ndak mampu ngasi makan rakyatnya…
November 15, 2007 at 1:47 am
Setidaknya orang Indonesia masih laku untuk dijual
hehehe…
*tertawa prihatin*
Sebenarnya yang menjual orang Indonesia itu siapa ya? Apakah ibu pertiwi kita yang menjual anak2nya? Sepertinya bukan …
Sepertinya “penjualan” itu dilakukan oleh sesama “saudara kandung”
November 15, 2007 at 1:48 am
Upppsss ada yang ketinggalan (semoga OOT sedikit ga papa). Gimana keadaan sekarang Bang? Sudah mendingan belum?
Sepertinya BangAip perlu banyak2 mengkonsumsi sop buntut supaya lekas sehat …
Terimakasih atas doanya, euy.
November 15, 2007 at 3:16 am
Duuhhh…sedihnya
terbuang di negeri sendiri, terhina di negeri orang.
(Bang Aip, tangan Ning sudah mengepal nih! )
November 15, 2007 at 3:40 am
Nice post. Kebetulan beberapa semester mendatang saya ambil konsentrasi diplomasi dan negosiasi. Wah, ini bisa jadi awal yang bagus buat belajar.
Hemnn… Mengenai chat itu, saya heran-herman-heran sangat… Begitu kuatnya kah fanatisme agama sampai harus mengorbankan saudara sendiri?
saya merinding sendiri baca bagian ini.
Well, semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Amin. ^_^
Setahu saya, Anak hingga Ibu sendiri bahkan bisa dikorbankan kalau sudah fanatik abis, Mas Gun.
November 15, 2007 at 3:42 am
belumkah saatnya kita turun ke jalan???
Ada saatnya. Ada caranya.
Tunggu saja tanggal mainnya.
November 15, 2007 at 4:23 am
mudah-mudahan ada sesuatu yang bisa saya lakukan di sini Bang, menurut definisi Bang Aip saya kayaknya juga berada daerah konflik terbuka bagi WNI. Semoga diberi kekuatan dan kemampuan olehNya.
Insya Allah panjenengan diberi kekuatan untuk tetap membantu saudara-saudara kita yang kesusahan, mas Nude.
November 15, 2007 at 5:25 am
Wow…!!! lagi-lagi traficking, ga usah panjang lebar di bahas deeeh… bikin cape aje!!!. Yang penting sekarang kita bangun SDM kita & linkungan sekitar kita. kalau SDM kita sudah OK, kita ingin apa pasti bisa di wujudkan sendiri. So… tidak perlu cari keluar, apalagi harus keluar negri!!!
Memang sihh perlu kesabaran wujudkan cita-cita.
Kenapa ga usah dibahas?
Ada yang salah ketika saya membahas perdagangan manusia?
November 15, 2007 at 7:20 am
Sedih…:(
November 15, 2007 at 7:29 am
wualah.. puanjang buanget yah..
ampe ngos2an gini.. ckckc..
mau marah. boleh.
sedih. juga boleh.
mau komentar. boleh juga.
tapi harapan selalu ada.saya percaya.
best regards.
Terimakasih sudah mampir dan harus ngos-ngosan mbaca tulisan saya.
Tips: kalau mbaca tulisan saya, santai aja. Blog saya bukan tipe blog seleb. Hehehe.
November 15, 2007 at 8:34 am
mau gimana lagi bung… .
pemerintah ini tuli. mereka sibuk untuk menimbun harta kekayaan masing2. tak peduli banyak rakyat indonesia yang miskin, sehingga harus kerja di luar negri karena di negerinya sudah susah untuk mengais rejeki.
maap klo ini dianggap menghujat pemerintah. tapi inilah adanya pemerintah kita. dihujat aja g mau denger, gimana klo qta diem aja. setuju dengan pendapat bung. sudah saatnya kita mengepalkan tangan dan menghunus pena. karena sampai sekarang cuma ini yang bisa kita lakukan.
buat temen chat bung itu. saya ragu dia islam ato bukan si? klo emang islam, dia paham g apa itu islam?????
Gelar beliau itu ustadz, loh. Dan selalu mengaku penganut Islam kaffah.
November 15, 2007 at 8:35 am
sebelumnya maaf kepada semua orang
sebenarnya semua kebonbrokan bangsa berasla dari diri bangsa kita sendiri
kenapa kita harus menjadi “buruh” klo kita bisa menjadi majikan
indonesia masih luas masih banyak potensi yang ada tapi belum dimanfaatkan
buat apa hutan kalimantan, buat apa laut arafuru kalo hanya menjadi hiasan di peta
coba kita renungi saya sebagai kaum muda berpikir klo sekarang kita bisa beli kenapa kita tidak berusaha membuat
November 15, 2007 at 8:35 am
sebelumnya maaf kepada semua orang
sebenarnya semua kebonbrokan bangsa berasla dari diri bangsa kita sendiri
kenapa kita harus menjadi “buruh” klo kita bisa menjadi majikan
indonesia masih luas masih banyak potensi yang ada tapi belum dimanfaatkan
buat apa hutan kalimantan, buat apa laut arafuru kalo hanya menjadi hiasan di peta
coba kita renungi saya sebagai kaum muda berpikir klo sekarang kita bisa beli kenapa kita tidak berusaha membuat
thanks
November 15, 2007 at 8:57 am
Akhiii, ana tidak kaget mendengar jawaban hua (=dia; kayanya hua jarang dipake yaa)
Kaum yang dianggap “musyrikin” lebih dimusuhi daripada kaum tertindas di mata sendiri… Karenanya, tidak heran hum (mereka) lebih berani memerangi (lewat blog, makian, cacian dll tapi gak berani bertatap muka) kepada kaum yang dianggap “musyrikun” daripada memerangi kekejaman WNI di daerah konflik.
Mirissss…..
Bener, Pak. Waktu itu saya bilang, kalau memang pendiriannya begitu, kenapa tidak melakukan konfrensi pers. Massa beliau cukup banyak, Pak. Itu yang membuat saya agak khawatir.
Kalau sudah tatap muka (konfrensi pers) dan di cecar wartawan, mungkin dia akan lebih mengerti manusia lain.
November 15, 2007 at 9:01 am
speechless kalo ngomongin TKI, masalah yg dah menaun tapi ga’ pernah ada penyelesainnya seperti juga banjir, busung lapar, pembalakan, kemiskinan. apa emang qt emang bener-bener bodoh sehingga ga’ ada satupun ahli transportasi, ekonom, diplomat dan ilmuwan2 laen terlahir di indonesia??
lebih speechless lg baca chating-nya, douhhh rosul aja membagi makanan kepada yahudi koq ya yg satu ini…. sghh…
Pelan-pelan kita rubah. Insya Allah, bisa!
November 15, 2007 at 9:38 am
afwan ikut nimbrung, boleh ya ….
ana jadi teringat ada hadits ..
“Hadis riwayat Jabir bin Abdullah , ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya ”
Insya Allah haditsnya Shohih ana dapat dari kumpulan Hadits muslim.
Jadi siapapun yang jadi pelaku dan yang diperlakukan adalah hamba Allah yang wajib ditolong.
November 15, 2007 at 9:53 am
saya juga orang Indonesia… tapi gak dijual
November 15, 2007 at 10:27 am
saya udah obral,sale 70 plus 20 persent ech…koq tetep ga laku-laku
KEMBALI KE
LAPTOPPOSTINGANmasalah klasic dan sepertinya Pemerintah ga asyiik menangapi masalah ini,buktinya masih diberlakukannya fiskal di tiap terminal International, khan lumayan dari data-data orang yg pergi ke luar negeri tujuannnya jadi TKI tetep kena biaya fiskal, klo ga gitu kan TKI ga di sebut pahlawan Devisa
Sudah baca pembelaannya Yusril Ihza Mahendra mengenai fiskal?
Kalau belum, baca ini.
November 15, 2007 at 10:38 am
Kalau soal si Akhi sih saya nggak terlalu kaget. “Persaudaraan” adalah irisan himpunan yang belum tentu terjadi karena kesamaan asal-usul, bisa jadi karena kesamaan pandangan. Tak heran si Akhi lebih memiliki ikatan dengan teman2nya di sana ketimbang sesama WNI yang cari makan di sana
Tapi saya benar2 kaget membaca jajaran data dari Bang Aip. Ternyata bapak2 di atas itu TAHU. Adalah sesuatu yang termaafkan ketika mereka luput mengambil sikap karena tidak tahu. Tapi.. ketika tahu dan diam.. itu adalah suatu kesengajaan.
Gimana? Kita hukum mati aja para pejabat itu? Atau rame2 kita cemplungkan di Bendungan Katulampa? Mumpung air mulai tinggi nih
Nggak usah dicemplungin. Upload aja isi hape mereka ke youtube.
Pasti seru. Huehehe
November 15, 2007 at 11:22 am
alamak jang!!!!
tega vener itu orang!!!
mo musyrik kek!! mo munafik kek!!
tetep aja itu orang indonesia!!!
GCH!!! GOD CURSE HIM!!!
November 15, 2007 at 11:23 am
Apa pena masih bisa berguna bang?
Apa kita masih bisa berharap pada sekedar kata?
Sejuta cinta sudah kita tumpahkan dalam wacana, rangkaian prosa sia-sia…
Saat ini, apa hasilnya?
bukanmalaikat tampan gagah perkasaAndai sejuta manusia berteriak “IYA!” pada fasisme. Dan kamu hanya satu suara yang berteriak “TIDAK!”. Maka saya jelas tetap akan ada di sisi kamu.
Apapun hasil perjuangan ini, berhasil atau tidak… Sejarah akan mencatat, kita bukan pengecut yang hanya diam.
November 15, 2007 at 11:35 am
temen chating antum itu lebih jahil dari JIL (klo dia mencap JIL seperti itu )
Idealis tapi tak punya hati
dan yg parah pemerintah kita lebih tidak punya hati
November 15, 2007 at 11:45 am
wow….kayak gini diperdagangkan ?
Masak sih baru tahu?
November 15, 2007 at 12:43 pm
wah, jadi ingat waktu lebaran kemarin. ke KBRI bareng sama salah satu mbak2 yang kerja di rumah lecturer. dia cerita ga boleh solat kalau di rumah, ga boleh pake kerudung, dan ga boleh pake baju nutup2..
hari lebaran itu dia pake kerudung dengan syarat, sebelum sampe rumah udah harus dilepas…
November 15, 2007 at 1:00 pm
kalau penguasa yang sebenarnya bisa berbuat banyak hanya diam saja, apalagi temen chat anda.
Tapi alasan kenapa dia tidak berbuat sangat tidak realistis. Barangkali saudara, tetangga, atau warga sekabupaten temen anda itu gak ada yang jadi TKW, atau dia memang menutup mata, kalau nggak tau kan jadi lepas tanggung jawab ( apalagi kayanya dia ulama )
Itu yang menyedihkan. Ia (katanya) ulama.
November 15, 2007 at 1:33 pm
belum lagi para tki diperas dibandara…
kalau soal tki/w, itu memang kerjaan penguasa kita, pendapatan terbesar, devisa non migas… bahh…
lama kelamaan, Negara lain tidak akan menganggap bangsa kita sebagai manusia lagi.
November 15, 2007 at 2:11 pm
Yaaa….emang gitu mas. SEbenernya siy kalo pemerintah kita tegas dan berwibawa GAK MUNGKIN banget kita dihina hina dimana2. Contonya, saya ke Timteng taun saat pak harto masih jaya, mereka hormat banget sama kita org indonesia. Mrk blg Soekarno hebat, soeharto hebat. Trs saya dtg jaman Gus Dur, mulai timbul cemoohan. Datang lagi ke timteng jaman megawati, dicemooh juga. Pas tahun 2006-2007 ke tim teng lagi banyak org indo diusir jika masuk toko mereka. Jangankan masuk toko, jika memegang barang dagangan mereka, kita diWAJIB kan BELI. Tidak boleh CUMA melihat2. Lihat saja jamaah haji kita (yang notabene seharusnya orang mampu), diinjak2. Cara satu-satunya, bangun (citra) pemerintah yang berwibawa dalam arti sebenarnya. Pemerintah (pemimpin) yang bijaksana. Dicintai akyatnya, dihormati kawan dan disegani lawan.
November 15, 2007 at 3:17 pm
Cari yang paling ampuh untuk mencegah orang2 indonesia pergi menjadi TKI/TKW ke luar negeri hanyalah dengan menciptakan lapangan kerja di negeri sendiri.
Mereka butuh hidup, hidup butuh makan, untuk bisa makan harus punya uang, untuk dapat uang harus kerja , agar bisa bekerja harus ada lapangan kerja.
November 15, 2007 at 3:43 pm
kembali lagi bukan mencari yang salah atau menyalahkan siapa-siapa, tetapi siapa-siapa tidak saling menyalahkan yang sudah salah. Apalagi manusia adalah tempatnya salah. Pemerintah kan kumpulan manusia jadi yang salah malah jadi tambah banyak alias ngumpul. Untuk itu marilah kita bela para TKW/TKI untuk meminta haknya agar dapat diberi pekerjaan oleh pemerintah didalam negeri. Ngapain jauh-jauh bukankah negeri kita ini “kail dan jala cukup menghidupimu”, “tiada badai tiada topan kau temui”, “ikan dan udang menghampiri dirimu”, “orang bilang tanah kita tanah surga”, “tongkat dan batu jadi tanaman”…..he..he..he
November 15, 2007 at 5:02 pm
salahkah kalaw aku mengatakan “ekonomi” telah menjadi neraka bagi kehidupan rakyat indonesia? yang menjual sangat serakah.. kadang yang terjual pun membutuhkan sejumput rupiah… tapi lagi2 tidak ada satupun kekuatan yang mampu jangankan mengontrol, hukum pun telah dikebiri.
setiap kekuatan adalah kita sendiri.. mungkin kita tidak bisa membayangkan kekuatan kita tapi hanya dengan kebersamaan setiap ketidakadilan dapat dilawan
November 15, 2007 at 9:00 pm
klo bung karno masih idupp..
pasti udah diserang tuh negara2 yang menginjak2 ‘bangsa indonesia..’
peranggg.. demi kehormatan, karena kita bangsa yang besar, bukan besar karena angka penjualan ‘daging siap pakainya’ tapi bangsa yang besar dengan orang2 yang peduli dengan bangsanya, dengan orang2nya dan dengan masa depannya..
brengsek tuh orang yang memberlakukan WNI dsana tanpa belas kasih..
sebut aja malaysia!!, dasar bangsa yang ga tau terima kasihh..
siall..
November 15, 2007 at 9:01 pm
klo bung karno masih idupp..
pasti udah diserang tuh negara2 yang menginjak2 ‘bangsa indonesia..’
peranggg.. demi kehormatan, karena kita bangsa yang besar, bukan besar karena angka penjualan ‘daging siap pakainya’ tapi bangsa yang besar dengan orang2 yang peduli dengan bangsanya, dengan orang2nya dan dengan masa depan bangsanya..
brengsek tuh orang yang memberlakukan WNI dsana tanpa belas kasih..
sebut aja malaysia!!, dasar bangsa yang ga tau terima kasihh..
siall..
November 16, 2007 at 2:34 am
Yang namanya praktek perdagangan itu, termasuk perdagangan manusia, pasti menguntungkan bagi pelakunya. Pelakunya banyak, terutama pedagangnya dan konsumen. Lalu ada calo, pengantar, penjemput, penjaga, oknum instansi penerbit dokumen perjalanan atau indentitas, dll. Solusi paling efektif untuk menghentikannya adalah dengan membuat situasi dimana praktek perdagangan manusia menjadi bisnis yang sangat tidak menguntungkan dan pasti bikin bangkrut pelakunya. Caranya? Mari kita fikirkan dan tindaklanjuti bersama. Jangan cuma bisa teriak dan maki-maki yang membuat para pedagang manusia dan para oknum itu hanya tertawa sambil mengitung duit.
November 16, 2007 at 2:52 am
sebelumnya bang aip, sebagai orang indonesia yang pernah tinggal di negara-negara yang banyak tki-nya, saya merasa malu karena belum bisa berbuat banyak, minta maaf buat teman2 karena kami disini belum bisa maksimal menolong mereka yang kesusahan….
busway, kayaknye cewe2 kecengan deplu udah pada kawin semua dah sekarang, taon lalu sempet pulang, udah banyak bayi di komplek…hehehehe…
Insya Allah, Mas Umar pasti bisa membantu.
Mengenai gadis deplu. Hhehehe… Alhamdulillah kalau sudah punya bayi. Jadi kita nggak ada kesempatan dapet fitnah lagi. Huehehe.
November 16, 2007 at 3:29 am
kalau ngomongin soal ini, hanya bisa ngelus dada bang..=(
November 16, 2007 at 4:04 am
ada juga yga malu, karena identik dg bangsa TKW.
eh itu laen perkara ya hikhik
(*maap, saya ketawa baca komen ini, Mbak Dian. Lucu euy. Sori maap*)
November 16, 2007 at 4:22 am
[...] orang-orang yang suka asal ngasih stigma seperti ini adalah tukang ngecap!! mereka gak tau apa-apa tentang realita hidup sebagai minoritas, mereka terlalu terbuai dengan ke-mayoritas-an mereka. kasus saya ini membuat saya heran, kenapa banyak juga tukang ngecap di komunitas muslim. padahal kita diajarkan untuk saling bahu-membahu, bukan ngecap sana-sini. saya makin herman ternyata begitu gampang antara sesama muslim saling mengecap karena perbedaan mazhab, pemikiran, imam, ustad, dll. seperti yang dicontohkan dalam dialog seorang teman saya ini. [...]
November 16, 2007 at 9:28 am
Bang kapan2 posting tulisan soal kebaikan dari negara kita y, wah..wah…capek juga baca kebobrokan bangsa kita
Maap yaa kalau tulisan blog saya membuat simbak capek.
November 16, 2007 at 9:53 am
Trafiking. Gak ada habisnya. Kebetulan saya udah baca buku berjudul Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado. Emang itu fiksi, tapi saya yakin kalo itu berdasarkan data2 yang cukup akurat, sebagaimana biasanya Opa Remy nulis buku2 yang lainnya. Itu semua gila loh bang, maksudnya, orang2 di balik trafiking ini juga bunuh2an demi dapet perempuan2 terbaik yang masih perawan. Bahkan sampe mereka bikin agency2 palsu yang ngemeng kalo lu lu semua yg mo ikutan bakal jadi artis yang akan ke luar negri. Ke luar negrinya sih bener, cuman ya kalo udah nyampe sana bisa apa perempuan2 itu? Kalo perdagangan mereka lebih canggih lagi, malah perempuan2 itu dipakein alat penyadap supaya gak kabur. Oya, kalo ketauan gak perawan lagi, siap2 didor. Lah manusia (baca:perempuan) udah kayak barang murah bener.. Pare de more dah bang..
Ada yang ndak fiksi, Tiw. Saya ketemu beberapa korban traffiking. Cerita mereka bahkan lebih parah dadripada Mimi Lan Mintuna.
Di depan para korban, saya berusaha tegar. Di rumah, sampai saat ini, saya masih menangis apabila mendengar cerita mereka.
November 16, 2007 at 12:46 pm
**baca komen neen trus manggut-manggut**
November 18, 2007 at 2:29 pm
kirim nih artikel ke SBY-JK
jangan lupa cc ke pemuka agama
Percaya atau tidak. SBY-JK dan para pemuka agama, tahu mengenai hal ini.
Ironis.
Tapi saya rasa berat juga kalau hanya mengandalkan duo SBY-JK. Kita toh bisa membantu. Minimal dengan membantu mengabarkan berita duka ini pada khalayak. Saya yakin, masih ada yang pedulidan mau bergerak.
November 19, 2007 at 5:08 pm
katanya pahlawan…
pahlawan devisa!
tapi gak ada upaya optimal utk melindunginya, memang sudah rahasiya umum, kalo diplomasi RI masih sangat sangat lemah, trutama dalam menangani kasus2 yg mlibatkan warganya di LN.
itulah napa orang2 asing tu padha gak segan & takut buwat
merkosa,nyiksa, ngelanggar hak asasi para buruh migran kita.November 20, 2007 at 3:14 am
Bang Aip mohon diajarin cara “Asal Njelplaknya” yaa …
Insya Allah email yang terkirim dapat membantu, Pak.
Kalau tidak, silahkan tanya lagi, Pak. Insya Allah ada yang bisa saya bantu.
November 22, 2007 at 10:31 am
sudah tau jil blom ??
:D
Jaringan islam liberal .. heheheh
numpang lewat aja kok
Terimakasih atas infonya.
November 22, 2007 at 5:24 pm
lah, kalo negara lain warga negaranya dijual gak bang?
November 23, 2007 at 4:23 am
Kepalkan tangan, hunuskan pena!!!!!
Setuju Bang, mari bangkit demi harga diri bangsa yang sudah dinjak injak!!!!
November 26, 2007 at 2:25 pm
langsung search google “abri hijau” dan “abri merah putih”
klo mo nebak2 sih, abri yg deket sama “laskar islam” (prabowo dkk?) v.s. yg gak deket sama laskar islam? (not prabowo dkk)
baca2 dikit sih.. n i think i dont want to go there, blm mau cari tahu/gali2.. i bet its bloody and dirty -.- did u make a post about it? if u did then i prefer to read your post than to rummage on my own
Hahaha. Mbak Ulma bisa aja. And you’re right, it is bloody and dirty. Helaas dat wil ik niet opschrijven. Er was veel te veel probleem toen Oto (Otto Syamsudin Ishak) proberen om ‘hun’ verhaal gepubliceerd worden. Volgs mij, staat dit onderwerp in KITLV veel dan Google kan geven. Hehe.
November 29, 2007 at 2:35 am
SElagi mereka yang kerja ke luar negeri itu berpikiran kalo di negerinya sendiri ga ada kepastian untuk penghidupan yang bisa memakmurkan, semua itu bakalan terus ada. Percuma berharap sama pemerintah yang keliatannya makin melempem aja neh. Indonesia sekarang lagi ada di titik terendah. Well, that’s just a thought…….
Januari 8, 2008 at 4:59 pm
Saya TKI di karibia, selama ini aman2 saja dan perlakuannya juga wajar. Salam
Januari 14, 2008 at 2:29 pm
“PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA“.
Jadi kalau Tuhan nggak kasih rahmat, nggak bisa dilindungi dong, TKI kita? Halah. Tuhan juga ketawa kali liat peraturan kayak gini..