Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe.
Tidak hanya hadiah, saya dapat bonus pula. Bakteri yang bersemayam di perut. Di duga karena racun. Ahaa!
Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus.
Hadiah dan bonus ini memberikan kenikmatan luar biasa pada hidup saya. Sebab sejak dapat amanah ini, saya diberi keleluasaan untuk istirahat. Untuk tidur. Untuk melihat kembali, jejak-jejak hidup yang pernah saya tinggalkan selama ini. Sungguh kenikmatan hidup yang amat istimewa.
Dalam peristirahatan, tadi pagi, seorang teman memberi kabar baru dari Depok. Sebuah cerita tentang anak manusia tengah bergulir rupanya di Depok.
Okay… Okay… Saya berencana akan bercerita mengenai Depok. Tentang seruas jalan romantis sekaligus macet dan berdebu bernama Margonda. Tentang kereta api yang sarat dengan penumpang pemberani. Tentang terminal yang padat riuh dengan manusia yang mengais rezeki. Tentang wajah-wajah zuhud belia yang sedang menuntut ilmu.
Tapi, apa sih Depok itu?
Menurut wikipedia, Depok adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak tepat di selatan Jakarta, yakni antara Jakarta-Bogor.
Depok merupakan kota penyangga Jakarta. Ketika menjadi kota administratif pada tahun 1982, penduduknya hanya 240.000 jiwa, dan ketika menjadi kotamadya pada tahun 1999 penduduknya 1,2 juta jiwa. Entah berapa jumlah penduduknya saat ini? Entah sebesar apa jalan utamanya. Sebab sebesar apapun pelebaran jalan utamanya, Jalan Margonda, tetap saja selalu macet.
Yaa, ini cerita mengenai Depok.
Flashback (Depok 1997)
Setiap pulang sekolah, saya, Cirul, Andri dan Candra nongkrong bareng di warung empek-empek, makanan khas palembang. Yang punya warung, temen kami. Warung ini terletak di Jalan Margonda, Depok.
Candra ini anak pinter, amat peduli dengan kemajuan Indonesia. Sibuk membicarakan perbaikan di Indonesia. Sementara Cirul dan Andri ini pemuda yang berhati mulia, sibuk menggalang aksi pendidikan anak jalanan. Sedangkan saya, mau nggak mau ikut-ikutan sibuk juga. Sibuk memperhatikan gadis-gadis manis pelajar yang lalu lalang di sekitar jalan Margonda. Hehehe.
Hari sudah menjelang Isya. Para pelajar pulang sekolah hingga anak-anak jalanan yang pulang mengamen berdatangan di warung. Kami semua sibuk diskusi.
Sambil diskusi, mata saya tetap ‘belanja’ kiri-kanan melihat gadis-gadis manis belia berbusana ketat makan empek-empek. Cihuuyy!
Hingga akhirnya hari menjelang tengah malam. Warung tutup. Candra dan pelajar lainnya yang rumahnya jauh dari Depok, pulang ke rumah. Cirul beserta sebagian besar anak jalanan yang berusia dibawah 15 pulang ke Rumah Bambu, rumah singgah anak jalanan. Saya, Andri, anak jalanan abege, serta beberapa pemulung gelas plastik aqua, masih diskusi sambil ketawa-ketiwi.
Pukul 2 dinihari (masih di hari yang sama di tahun 1997, masih di Depok)
Saya kecapekan. Gelar koran bekas. Berbaring di antara anak-anak jalanan di emperan depan warung empek-empek. Andri dan beberapa pemulung masih diskusi. Derau knalpot angkot gelap dinihari Pasar Minggu-Depok tidak membuat mata saya terjaga. Diskusi yang diselingi menghisap rokok sebatang beramai-ramai dan kopi, juga tidak membuat saya terjaga. Saya letih… Saya hanya ingin tidur.
Pukul 2.30 dinihari
Terdengar suara ribut-ribut. Saya malas membuka mata. Saya masih letih. Sial, kaki saya di tendang keras sekali. Astaga! Siapa ini yang kurang ajar? Ngajak ribut anak Cilincing kali yaa?
Saya bangun. Kesel banget. Tinju saya sudah mengepal. Di depan saya, bapak-bapak. Pakai seragam coklat. Disampingnya ada bapak-bapak juga, sama seragamnya, bawa pentungan. Bajingan… Rupanya mereka Satuan Polisi Palsu. Salah satu dinas pemerintah yang merupakan perpanjangan tangan kotor penguasa.
+ “Pak, yang bener aja dong. Orang lagi tidur kok ditendang”
- “Udah jangan banyak omong luh. Naek ke truk sono”
+ “Pak, saya mao tidur nih”
- “E-eh, ngeyel luh yah. Gue beri juga luh!”
Saya diam sejenak. Melihat situasi. Jalanan ramai sekali. Banyak warga malam yang menonton. Dua mobil kijang dengan lampu biru diatasnya serta sebuah truk besar yang setengahnya terisi anak-anak dan ibu-ibu, memblokir jalanan.
Gerobak pemulung mulai dihancurkan para seragam coklat.
Saya lihat di samping mobil kijang, Andri dan beberapa anak jalanan bersitegang dengan salah satu anggota Satuan Polisi Palsu. Mereka dipukul pake pentungan. Saya lari ke arah Andri. Saya tonjok orang yang memukul Andri. Dan saya terus memukul dengan membabi-buta.
Tidak lama kemudian, kiri kanan tangan saya dikempit paksa dari belakang. Entah oleh siapa. Tapi kaki saya masih bebas. Saya terus menendang semua orang yang dekat dengan saya. Saya tahu saya akan kalah… Tapi saya terus menendang.
Hingga tiba-tiba, BLETAKK!
Bagian kepala belakang saya dipukul. Saya jatuh pingsan.
Pukul 3.30
Saya terbangun. Lalu jongkok dan menunduk. Kepala saya sakit sekali. Saya mengusap-usap leher belakang. Gila, benjol gue, men!
Badan saya terguncang-guncang. Saya lihat kiri kanan. Ternyata saya ada di bak terbuka truk. Ada Andri, masih tergeletak di lantai truk, pingsan. Ada anak-anak jalanan jongkok bersender di dinding truk. Di bagian depan bak truk ini, saya lihat ada beberapa ibu-ibu yang menggondong bayinya dalam kain kumal. Rahmat, salah satu anak jalanan mendekati saya, “Tukang minta-minta, Bang”, katanya sambil menatap para ibu-ibu itu.
Saya check kondisi Andri. Pelipisnya luka. Bibirnya bengkak. Matanya lebam. Saya ambil botol minuman dari tas. Saya songsongkan ke mulutnya.
Saya ingin menangis. Hati saya terluka. Tapi saya tahan. Semua mata menatap saya.
Tidak lama setelah Adzan subuh
Andri tidak kunjung sadar. Konvoy berhenti di tempat gelap. Banyak suara alam. Saya perkirakan kami ada di pinggir hutan. Entah hutan apa? Entah ada di mana?
- “TURUN!… Semua TURUN!”
+ “Pak, ada di mana nih?”
- “Banyak cingcong luh! TURUN!”
+ “Pak, yang bener aja dong. Emangnya kita sapi, maen diturunin sembarangan”
Seorang seragam coklat datang lagi. Ia yang memukul Andri. Mengayunkan pentungan ke kepala tanpa saya sempat membalas.
Saya pingsan lagi.
Sekitar pukul enam pagi
Matahari sudah mulai terang ketika air memasuki tenggorokan saya. Rupanya Andri memberi air. Saya lihat sekeliling, kami ada di tepi jalan belum beraspal. Masih berbatu. Ada Andri di samping saya. Anak-anak jalanan, pemulung, ibu-ibu pengemis, bergerombol di belakang kami.
+ “Dri, ada apaan ini?”
- “Waktu lo tidur, Rip, pemulung cerita, lagi ada banyak razia”
+ “Razia apaan?”
- “Intinya sih bagus. Buat kebersihan Depok. Sialnya, orang miskin dianggap sampah”
+ “Buset! Jadi kita dibuang ke sini biar Depok bersih! Kita dimana nih?”
- “Gunung Bunder”
Saya bengong. Gunung Bunder itu di ada di Bogor. Lokasi ini terkenal bagi para pecinta alam yang mendaki Gunung Salak, salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Saya bengong, gimana bisa pulang ke Depok?
Anak-anak jalanan sudah gelisah. Begitu pula ibu-ibu pengemis dan para pemulung. Saya tahu, mereka lapar dan merasa asing. Sebuah kombinasi hidup yang cukup untuk membuat orang miskin tak berpendidikan menjadi pencuri.
Saya bilang sama Andri untuk menjaga mereka. Saya lari turun ke bawah. Nyari bantuan. Alhamdulillah setelah setengah jam lari, ada kampung dan ada musolah Ar-Rachman.
Haji Husen, Imam Musolah Ar-Rachman membantu saya. Tanggap sekali ia mengkordinir warga setempat untuk menyiapkan sarapan. Sehabis sarapan, kami diantar Mang Sobirin yang punya angkot jurusan Leuwiliang. Kami diongkosi oleh warga setempat untuk naik kereta, pulang ke Depok.
Saya terharu. Betapa bangganya saya dengan warga Gunung Bunder. Di tengah himpitan kerasnya krisis ekonomi. Di tengah ganasnya rimba hidup Indonesia. Di tengah galaunya politik dalam negeri. Masih ada manusia luar biasa yang tanpa pamrih membantu manusia lain.
Saya ingin menangis. Tapi saya tahan.
(*Kejadian ‘buang orang miskin’ ini terus berlangsung bertahun-tahun. Andri dan beberapa anak jalanan demo, turun ke jalan. Mereka diacuhkan. Hingga suatu hari Andri melempar molotov ke kantor walikota. Mereka berhenti mengacuhkan, dan mulai memburu Andri. Andri jadi buronan dan kemudian menderita schizophrenia. Sejak saat itu, Fri Gallery, sekolah seni untuk anak jalanan diancam dibakar oleh penelpon misterius. Kami dianggap komunis yang halal darahnya*)
Saat ini, mulai terjadi lagi aksi kekejaman Pemerintah Depok. Mau mengetahui lebih lanjut?
Mau berbuat sesuatu?
Silahkan klik halaman Dukung Bersihar Lubis.
November 21, 2007 at 3:45 pm
Bang Aip tetap berpikir positif walau dikasih penyakit. Malah menganggap amanah.
Ceritanya saya nikmatin. Cerita soal kemiskinan dan pemerintah yang tidak mau tanggung jawab, padahal kewajiban mereka melindungi warganya selalu menarik. Membuat kita merasa marah dengan keadaan, tapi berat banget untuk merubahnya ya bang?
Berat. Iya, memang berat Mas Payjo. Insya Allah, kalau kita sama-sama mau merubah. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Insya Allah ada hasilnya.
November 21, 2007 at 3:58 pm
Waduh, harus bilang apa membaca penuturan Bang Aip! Optimisme menghadapi kehidupan dengan rasa syukur yang demikian tulusnya ketika banyak gangguan dan virus yang bersarang di tubuh. Saya hanya bisa berdoa Bang Aip, semoga Allah SWT segera memberikan kesembuhan dan kesehatan buat Bang Aip.
*Maaf Bang, nggak bisa baca postingan sampai tuntas. Membaca paragraf awal saja, gendang perasaan saya sudah dipenuhi rasa haru. Hanya bisa berdoa dan berdoa*
OK, salam.
Terimakasih atas doanya, Pak Sawali.
November 21, 2007 at 8:12 pm
semoga cepat sembuh yah bang

bang kalo chatting juga diwakilin ngak bang?
kapan2 chatting lagi kalo senggang
Terimakasih. Insya Allah kalau agak fit, kita semua bisa sama-sama chat lagi.
November 21, 2007 at 9:35 pm
[...] bloger asal Clincing yang saat ini harus lebih banyak istirahat akibat hadiah dan bonus karena gangguan penyakit yang sedang bersarang di tubuhnya. Semoga lekas sembuh ya, [...]
November 21, 2007 at 10:20 pm
hooo…lever? ugal-ugalan? saia tau maksudna, mhuehuehue
ah ya, yang jelas lekas sembuh ya bang! keep writing terus pokoknya!!
ah ya, emang “buang orang” juga sering kejadian dikota lain ko’, ndak cuma didefok, tafi ya saia cuma ndenger cerita-ceritana doank, dan kebanyakan yang dibuang itu…
dibuangnya…
difurwokerto…T_T
Iya, saya juga pernah dengar masalah itu. Lalu juga Kali Code pra Romo Mangun. Tapi saya pikir, teman-teman di Jawa Tengah yang lebih paham situasi lapangannya. Moga-moga aja ada yang mempublikasikannya juga
November 22, 2007 at 2:11 am
Semoga tetap sabar menerima ‘hadiah’ yang tak disangka ini ya, Bang. Meski pahit, tapi mungkin ada manisnya di belakang hari
Bang Aip, aku sering shock habis baca tulisan Bang Aip, jadi mikir di negeri mana gerangan aku berada? hampir tak percaya kalau semua kejadian yang Bang Aip alami ini terjadi di tanah yang sama dengan tempatku berdiri.
Ngeri!
Ada beberapa orang nanya… sering malah. Semua cerita saya bener atau nggak. Saya cengar-cengir aja. Sebab para pelaku di blog ini banyak yang masih hidup, dan sering bertandang ke blog ini. Beberapa dari mereka, bahkan juga kadang memberi komentar. Tapi saya nggak bakal ngasih tau publik identitas mereka. Hehehe.
Banyak juga yang protes. Kenapa cerita saya banyak sedihnya.
Saya bingung jawabnya. Sebab saya sama sekali bukan jagoan menulis. Saya hanya menceritakan kembali, apa yang telah saya alami. Kadang sedih, kadang memuakkan, kadang mengerikan, kadang aneh.. tapi yaa itu semua apa adanya.
Anyway, terimakasih atas doanya, Bu.
November 22, 2007 at 2:16 am
Waahh.. lever ya??
Resep tradisional penyakit lever itu temulawak bang aip, ibuku juga kena lever trus sampe sekarang rajin minum temulawak…
Moga cepat sembuh Ya…
Iya Mas Yusuf, Insya allah, temulawak dan diet ketat ini bisa membantu. Dan tidak lupa, doa anda juga salah satu bagian dari penyembuhan. Terimakasih looh.
November 22, 2007 at 2:21 am
Sayah jugak doloo ugal-ugalan boss…..
Btw, soal buang kaum gembel ini apa Pemda Depok ndak punya solusi laen ???
Wahhh, kalau saat ini, saya ndak tahu, Mas Mbel. Tapi kelihatannya, Depok sibuk ‘membangun’. Mal dimana-mana. Rakyat Depok kantongnya makin diperes aja. Dahsyat!
November 22, 2007 at 2:53 am
Saya ikut prihatin dengan yang telah dilalui oleh Bang Aif. Semoga lekas sembuh. Biar bisa beraktivitas lagi. Gimana kondisi nyonya?? kapan Bang Aif yunior nonggol.
Kembali ke topik ..
Saya pertama kali ke Depok, tepatnya di Depok II Tengah pada tahun 1984 .. pada waktu itu, sepanjang mata memandang masih banyak tanah2 kosong yang luas. Jalanan masih berdebu dan gersang.
PKL belum terlihat banyak. Jalanan belum ramai. Tapi tanah2 sepertinya sudah di kapling2 menunggu untuk dibangun. Sekarang semua sudah berubah. Dengan segala pengorbanan.
Ibu Nyonyah masih ngidam Mas Eby. Insya Allah, kalau tidak ada aral melintang, 7 mei deh show-nya. Mirip hari lahir kakak ipar saya.
BTW, ke depok thn 84, ngapain Mas Eby? Nyari rambutan?
November 22, 2007 at 3:08 am
Kadang kita memang lupa bahwa kesehatan penting, jadi banyak kegiatan. Lever bisa disembuhkan kok, waktu sibuk2nya….saat check up, SGPT/SGOT saya sempat naik…saran dokter harus banyak istirahat.
Suka minum jamu temulawak? Itu bagus untuk menyembuhkan lever, dan berfungsi sebagai antioksidan
Iya, bu. Harus bener-bener banyak istirahat. Terimakasih atas sarannya, Bu. Saya ini sudah pesen temulawak impor ala cilincing pada keluarga saya. Hehehe.
November 22, 2007 at 3:20 am
Akhirnya cerita ini dipublikasikan juga
Btw, semoga bangaip segera menemukan cara yang cocok untuk mengatasi hadiah-hadiah itu, dan semoga Bangaip mau serius melakukannya.
Badan jangan disia-siakan Bang, dunia masih perlu orang seperti abang, jangan melarikan diri dulu
*ngeklik link soal Lubis*
Lagi terapi, Mas Teguh. Makanya jarang OL. Pas lagi OL, ditanya-tanya dokter mengenai dietnya. Hehehe. Ini banyak yang memberitahu, pisang dan temulawak katanya bagus sebagai diet terapi.
November 22, 2007 at 3:45 am
polisi palesu yang lebih menakutkan dibanding polisi yang beneran…huh!
semoga lekas baik+sehat bang!
terimakasih atas doanya, Mas Hadik
November 22, 2007 at 3:53 am
“”Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe”"
“”Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus”"
Hmmm… saya jadi terharu, saya juga siap ikhlas Bang, siap menerima akibat dari perbuatan masa muda dulu
November 22, 2007 at 4:00 am
orang miskin hanyalah kutu2 busuk yang mengotori permadani, jadi harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.
Dulu, mereka bisa berfikir begitu. Sekarang mah sudah tidak bisa lagi.
Yang Ho, kumaha? daramang?
November 22, 2007 at 4:48 am
Jangan lupa banyak2 makan pisang, bang dan semoga cepet sembuh lah
Terimakasih Mas Hedi. Insya Allah, diamalkan anjurannya. Makasih atas doanya.
November 22, 2007 at 4:52 am
Ini cerita serius???
ini komen serius???
November 22, 2007 at 5:16 am
Semoga cepat sembuh, kabarnya doa seorang yg lagi sakit lebih makbul… wallahua’lam.
Kita memang punya kepentingan utk mengatasi kemiskinan ini, disamping fenomena ini kadang dimanfaatkan sebagian kalangan untuk tujuan2 khusus kelompoknya …
Terimakasih atas doanya Bung Heri.
Mengenai kepentingan khusus. Di Depok, ada Pak Haji yang juga ngasuh rumah singgah. Suatu hari, kedatangan tamu. Tuh tamu bilang mau ngasih bantuan. Wah Pak hajinya curiga banget. Tuh tamu dikasih kop, trus Pak Haji bilang “Udah situ isi aja berapa yang situ mau untuk dilaporin ke pusat. Ane nggak butuh uang situ”.
Selidik punya selidik, ternyata banyak orang dateng kesana. Pura-pura ngasih bantuan. Padahal money loundry. Uang bantuan dikasihnya 5, tapi dilaporin ke lembaga donor 100.
November 22, 2007 at 5:34 am
Wah, kita sama2 dapet bonus tambahan dari yang diatas bang. Sempet stress juga seh waktu divonis Lever kronis (udah hampir 3 th) tapi nikmatin aja deh walau bikin kantong jebol secara obatnya mwuahall (he he he…) moga kita cepet sembuh bang.
Alhamdilillah, asuransi saya full cover, Bung. Ini yang saya nggak abis pikir, gimana kalo sakit di RI dan lalu nggak punya asuransi? Padahal si penderita bukan dari golongan orang mampu bayar obat mahal.
Mikirnya aja langsung jadi sedih.
November 22, 2007 at 6:41 am
Jadi slogannya dari “berantas kemiskinan” menjadi berantas orang miskin”. Itu, kisah nyata ya bang??? Sampe dibuang keluar daerah gitu???
Semoga lekas menemukan jalan kesembuhan atas “hadiah”nya ya Bang, saya yakin banyak orang yang berharap dan berdoa akan kesembuhan Bang Aip.
Terimakasih atas doanya. Alhamdulillah, akhir-akhir ini lebih mendingan. Pasti salah satunya, gara-gara doa.
November 22, 2007 at 6:58 am
Yang sering saya lihat, tiba-tiba di suatu kota terdapat banyak sekali orang gila, padahal hari kemarin masih sepi-sepi saja.
Semoga cepet sembuh Bang ^_^
Yup, itu juga salah satu modus. Buang orang gila ke kota lain.
November 22, 2007 at 7:10 am
Hadiahnya mengharukan, bang. Semoga cepat sembuh…
Dan semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Ahhh… Kemiskinan dianggap sampah, lantas dibuang begitu saja ke tong sampah! Dibuang tanpa ada upaya pendaur ulangan!! Cis..
Terimakasih atas doanya, mas Gun.
November 22, 2007 at 7:11 am
Baidewei, di Sleman, DIY… Juga ada Depok. Salah satu daerah dengan tingkat kriminalitas yang tinggi.
November 22, 2007 at 7:35 am
permasalahan depok emang komplek banget bang, beberapa waktu lalu gw nulis ttg banjir yg ga’ da seleseainya (http://siluethorisontal.blogspot.com/2007/10/dear-mr-mahmudi.html)
dan sepertinya mereka (para jajaran pemda) ga’ pernah mikir gimana nasib orang2 di terminal, stasiun that’s why i wrote
What do you feel when you see all the homeless on the street?
(liat orang jalanan di terminal dan stasiun ya pak!)
Who do you pray for at night before you go to sleep?
(berdoalah semoga pagi harinya bpk bisa mensejahterakan 1 orang lagi!)
What do you feel when you look in the mirror?
(woww.. tambah tebel kumisnye:))
klo pemdanya aja ga’ mau mikir bang arif yo ga’ usah mikir, ntar malah tambah sakit. jaga kesehatan bang, semoga lekas sembuh!
Wah saya ga bisa brenti mikirin Depok. Salah satu bagian hati saya tertinggal disana.
November 22, 2007 at 8:40 am
Mengharukan kangmas
November 22, 2007 at 10:04 am
smoga cepet sembuh, bang
jadi pengen ke margonda lagi
udah lama juga ga ksono
tapi kita ga bisa barengan yak
Ahhh, iya. Seruas jalan itu, bernama Margonda. Dahsyaaat. Insya Allah, kalau dikasih rizki, sama-sama ke Depok nanti.
November 22, 2007 at 10:20 am
semoga cepet sembuh ya bang….
padahal orang miskin dan anak terlantar kan harusnya dipelihara oleh negara, bukannya dibuang….
November 22, 2007 at 10:20 am
depok itu yg walikotanya pak zul itu bukan?
semoga sakitnya cepat sembuh Aa Dede
Sekarang, Pak Nur. Waktu cerita ini berlangsung, bukan beliau.
November 22, 2007 at 10:38 am
dalam kondisi badan yang sakit bang aip masih memberi harapan dan semangat kepada mereka-mereka.
makasih bang sayah turut mendoakan semoga bang aip cepat sembuh dan para pejabat yang telah demikian kejam mengusir orang2 tak mampu hanya demi kebersihan didepan mata.. tanpa memakai nurani kemanusian
Terimakasih atas doanya, Alma.
November 22, 2007 at 11:15 am
apakah ini bisa menjadi blunder bagi Partai Keadilan Sejahtera di Depok ? khan kebijakan walikota Nurmahmudi Ismail..
Mas Iman, waktu itu bukan Pak Nur. Saya banyak dapat email mengenai tulisan ini, Mas Iman. Banyak yang mempertanyakan apakah saya berafiliasi dengan parpol tertentu untuk menjegal capres atau cawapres 2009. Saya ketawa aja nanggapinnya. Urusan apa saya dengan parpol? Hehehe.
November 22, 2007 at 12:42 pm
Wah, jangan2 Bang Aip sedang diracun pelan-pelan sama “tiga huruf” karena terlalu vokal di blognya… >_>
Oh nggak. Tanpa mengecilkan peran mereka dalam aksi pembungkaman demokrasi. Tiga huruf jarak jangkaunya nggak sejauh ini kok. Hehehe.
Mengenai vokal, saya dulu kursus bina vokalia asuhan pranajaya. Sayang suara saya pecah ketika jadi abege. Sejak saat itu, saya berhenti bermimpi menjadi AMY SEARCH, dan mulai menjalani hidup, sebagai Ikang Fauzi. Hahaha (*halah, komennya jadi ngaco gini, hahaha*)
November 22, 2007 at 12:52 pm
Hebat, per-juangan yang sangat hebat, masih peduli dengan anak-anak jalanan, di-tengah tekanan dari orang-orang gila yang merasa lebih “suci”…
Btw, tentang penyakit-nya, semoga cepat sembuh dan bisa di-gugu ini bang Aip, meng-ucap-kan terima kasih dalam situasi apa-pun kepada-Nya, cool
Terimakasih atas doanya.
November 22, 2007 at 2:35 pm
waduh pren gw turut prihatin buanget dengernya . hadiahnya dasyat banget. pa guruku jangan pernah menyerah ya
tp emang gw yakin bener orang kaya bangaip ga akan pernah menyerah. meski di hadiahi gangguan lever dan racun, dipukul aparat dan dibuang, putus cinta atau dihianati, dihina dan dimaki.
indonesia butuh manusia hebat kaya bangaip, chirul dan temen 2 di rumah bambu. sedih denger kabarnya rumah bambu sekarang bang.
THX jie. U’re de best lah (*nyolong ungkapan tetangga kita dari malay ketika memuji artis Indonesia*)
November 23, 2007 at 12:18 am
Yang sampah itu bukan para dhuafa. Sampah sesungguhnya yg bikin saya eneg dan mau muntah itu adalah para pemerintah bengis kayak pemerintah Depok, para hartawan yg ga mau berbagi dg para dhuafa, koruptor yg tiap hari nyedot uang rakyat.
Mereka adalah orang2 yg telah melanggar undang2 dasar di negeri ini, dimana faqir miskin dan anak2 terlantar harusnya menjadi tanggungan pemerintah, dan bukannya malah dibuang.
Apakah mereka lupa bahwa yg membuat mereka bisa hidup seperti sekarang ini adalah para pejuang yg kehidupannnya sangat memprihatinkan?
Mengapa mereka lebih memilih untuk membangun rumah pribadi dg biaya bermilyar2 rupiah daripada membangun rumah untuk melindungi orang2 dhuafa ini dari teriknya matahari dan dinginnya angin malam?
Tidakkah mereka bertanya kepada diri mereka sendiri, bahwa ada hari perhitungan di sana?
Lalu mengapa mereka tidak bisa berbagi dengan sesama manusia? Berbagi harta dan berbagi cinta. Bukankah kita ini satu keluarga? We are Adam’s Family.
Kalau membangun rumah bermilyar-milyar, jujur, saya nggak tahu. Data saya terbatas, Bung David.
November 23, 2007 at 4:02 am
aduh.. merinding saya bacanya.
si seragam cokalt emang aparat keparat!! mau aja jadi kacung pemerintah bengis !!!
Perjuangan ga boleh berenti, ngomong-ngomong “punya” rumah singgah yah..? bantu bantu boleh ga..?
Iya, pasti bisa. Nanti ada program baru, tahun 2008, bikin kasidahan ama ngurus perpustakaan. Bisa ikut masuk tim, kalau mau. Timnya dipimpin Gunawan (Heloguno). Terimakasih sudah mampir.
November 23, 2007 at 6:25 am
ck ck ck.. koq ya preman masih blm bisa diberantas ya.. kapan indonesia mau maju? koq ya pemerintah gak liat itu? apa jgn2 SEMUA pemerintahan di indonesia ini begitu?
Ini terjadi justru karena pemerintah matanya melihat dengan ‘amat detil’. hehehe.
November 23, 2007 at 7:14 am
heiuheiuhei… ceritanya bangaip banget. 3 comment aja bang
1. cepat sembuh ya bang. saya masih punya cita2 ketemu bangaip nih. umurnya dipanjangin dulu ya bang. ntar saya bilangin ke Tuhan saya deh. Tuhan saya Pengasih Penyayang
2. beruntungnya hidup orang2 ky bang aip yang diberi banyak “cerita hidup”.
3. IRI GW!
Terimakasih atas doanya Mas Edo. Kata emjie, temen saya, orang baik mati muda. Hehehe. Dan karena saya bukan orang baik-baik. Jadi umurnya pasti dipanjangin. Hahaha.
November 23, 2007 at 7:47 am
Weleh, gini nih anak Cilincing, penyakitan gara2 dulu minum air yg kotor mulu, jebol dah tu liper. Ck ck ck.. bang aip pengalamannya banyak bener yak. Pengalaman ketemu bencong, sempet dipenjara, kagak boleh masuk mesjid, mo diesek2 ama orang Jepun, sampe dipukulin orang2 gak jelas. Setuju banget tuh bang, kalo di tengah krisis ekonomi dan krisis kepercayaan, masih banyak kok orang Indonesia yang baik. Cuman yang mayoritas ditampilin di media yg jelek2 sehingga kita pesimis banget ama bangsa sendiri. Setuju juga dengan kalimat mas Guh yg bilang kalo dunia masih perlu orang seperti abang.
Cepet sembuh ya bang, katanya kalo dikasi sakit ama Tuhan itu dosanya dikurangin, lumayan toch? hehe..
Andai ga dikurangin dosa, juga gapapa, Tiw. Yang penting alhamdulillah. Hehehe. Terimakasih atas doanya yaa.
November 23, 2007 at 8:24 am
[...] saya membaca tulisan bangaip tentang peristiwa yang terjadi di depok, yang ternyata juga terjadi di beberapa kota lainnya di Indonesia, tentang pemberangusan buku-buku [...]
November 23, 2007 at 10:41 am
Ternyata saya tidak mengira bahwa ada daerah yang lebih parah daripada Jakarta dan Bandung yang gayanya metropolis itu…
Denger-denger, di Timika malah lebih parah. Gunung mereka abis dikeduk untuk diambil emasnya. Trus dibiarkan aja penduduknya bloon. Dibiarkan aja AIDS merajalela.
Bagi saya, dibanding Depok, Timika malah mirip genocide intelektual. Dari awal tahun 90-an, orang Amungme bahkan udah ditembakin dengan ugal-ugalan di depan publik
November 23, 2007 at 1:32 pm
Orang sekuat bang Aip tetap sakit juga. Yaa begitulah bang, nikmatnya sakit itu adalah saat tidak sakit… Semoga sekarang tambah fit dan menikmati hidup lebih fresh… btw, itu pengaruh ugal-ugalan di Depok maksude???
menyimak terus hingga akhirnya menemukan kalimat istimewa:
Nah, ternyata benar bang, orang2 ndose itu jangan dihina. Mereka adalah orang² yang tulus- halus – mulus…
Iya Pak. Kadang saya suka sedih, kalau ketika di kota, mereka suka ditipu. Lebih parah lagi, yang dikirim ke Timteng. Di pesawat ga biasa kencing duduk. Akhirnya buang airnya tetep jongkok. Abis lah ia dimarahi pramugari. Aduh kasian.
Oh ya, soal nakal, hehe, no comment Pak. Hehehe
November 23, 2007 at 5:11 pm
Berarti, bang Aip sudah punya “vitalitas” lagi dong?
Alhamdulillah jam tidurnya sudah bisa berkurang, Mr Kurt. Tapi jam istirahatnya tetep aja banyak. Huehehe.
November 24, 2007 at 1:37 pm
Salam Bang,
Seperti yang kita yakini bersama, tentu saja hadiah( duh ngga tanggung2 dari 3( baca tiga) negara ini), lengkap dengan bonusnya bukan tanpa sebab Alloh berikan kepada Abang. Insya-Alloh Abang adalah manusia pilihan . Pilihan Gusti Alloh atas ujian, cobaan ini. Saya, barangkali juga sebagian dari sobat2 yang lain belum tentu mampu menanggungnya.
Tapi, tentu saja kita sebagai umat,
Wajib berusaha dan berdoa semoga Abang lekas kembali sehat,
Tuh dah banyak yang kasih nasehat,
Temu artisnya stop dulu, ganti dengan temulawak dan banyak istirahat.
Ya Bang.. sekian tahun kita merdeka..dan ( katanya) mandiri,
ternyata kita masih berputar disekitar kemiskinan, kekurangan dan ketidak- mapanan yang semakin sedikit saja yang peduli,
Barangkali sudah terlalu banyak keburukan dan kejahatan kita lakoni,
Sehingga bencana, musibah datang bertubi- tubi.
Saya yakin ada Depok Depok lainnya yang seperti ini,
dengan skala yang berbeda betebaran diseantero negeri.
Sulit mengurai benang kusut permasalahan ini..
masing- masing pihak merasa melakukan dan bersikap benar, seperti yang mereka yakini
Tapi barangkali akan lebih baik bila kita sikapi dengan kepala dingin dan mawas diri,
Yu kita mulai dari diri kita sendiri,
untuk lebih peduli,
Siap- gerak Bang, saya siap bersama Bang Bersihar Lubis berdiri,
Salam dari rumahkayubekas yang( mudah2an ketemu PP ngga lari)
Terimakasih atas doanya, Kang. Insya Alah ini lagi mao nyari teman yang tinggal di bogor. Katanya ada pengobatan alternatif yang harus saya coba. Selain temulawak, ada lagi tanaman lainnya. Entah apa. Sedang dicari.
Masalah yang tengah kita hadapi sama-sama ini memang luar biasa berat. Warisan yang kita terima, bukannya kondisi sosial ekonomi yang stabil, tapi malahan morat-marit. Bener kata akang, kdu mawas diri, euy. Insya Allah, kita semua diberi ketabahan dan kekuatan menghadapinya.
November 25, 2007 at 8:33 am
Duh… manusia kok dianggap sampah sih? Benar-benar keji.
Iya saya juga bingung.
November 26, 2007 at 1:59 am
Kejam juga tuh pemkab depok. Bagus sih motivasinya, tapi kurang manusiawi implementasinya. Sabar aja ya bang..
Makasih yaa.
November 26, 2007 at 11:45 am
Polisi Poco poco ya bang? mereka memang alat pemerintah daerah untuk ber sewenang wenang
Iya, Kang Adhi sempet menyinggung juga masalah polisi poco-poco ini, Rid. Kalau tidak salah, soal ‘pembebasan lahan’ di RI. Kang Adhi denger-denger juga ada di lokasi. Saya lupa, di postingan yang mana. Tapi Kang Adhi pernah menyinggung soal polisi poco poco ini juga kok.
Polisi Poco-Poco = Kesannya ramah. Jago joget. Aslinya mah.. haduuhh
November 27, 2007 at 5:27 pm
Met kenal om,
Saya senang membaca tulisan2 om arif.. Seharian rasanya ga cukup waktu buat baca tulisan2 om arif yg bermutu + komen2nya.
Cepat sembuh aja ya om dan terus berkarya buat Indonesia.
Salam
terimakasih sudah mampir, bung Marten. Terimakasih atas doanya.
November 27, 2007 at 8:33 pm
cepat sembuh, oom.
salam perdamaian.
terimakasih mbak atas doa dan salamnya.
November 29, 2007 at 9:20 am
selalu mendoakan kesembuhan bang aip.
memiliki pengalaman hidup yang luar biasa adalah ciri khas bang aip. bang aip selalu menjadi bagian dari setiap peristiwa dan kejadian. semoga hidup bangsa indonesia semakin baik ya bang. walau masih ada orang miskin, tetapi setidaknya mereka di terima sebagai bagian dari eksistensi bangsa yang sama memiliki hak sebagai warga bangsa dan manusia secara universal. sangat menyakitkan hati ketika beberapa manusia telah berubah menjadi monster keji dan tak berperi memperlakukan orang miskin dengan tanpa kasih.
dari 1995 sampai sekarang, saya masih ingat peristiwa yang sangat berkesan dan mendalam terhadap salah satu warga gunung salak, beliau bernama pak warman. seorang veteran pasukan siliwangi yang masih segar walau telah renta, masih menyimpan semangat, masih terbakar untuk selalu bertindak benar, dan masih terpatri di hatinya sebagai seorang pejuang. menolong tanpa pamrih, melupakan keterbatasan fisiknya, dia berkelahi melawan babi hutan yang mengamuk di area tenda saya. sendirian hingga luka yang dideritanya lebih parah dari luka yang kami dapat hasil terjangan babi hutan tersebut. bahkan jika kami gabung luka kami bertiga pun tetap lebih parah beliau.
babi hutan berhasil di taklukan, kami bertiga di rawat di rumahnya yang sngat sederhana namun hangat, tidak jauh dari lokasi air terjun cigamea. tiga hari beliau dan istrinya merawat kami, tak berharap apapun kecuali kesembuhan kami.
Haji Husen, Imam Musolah Ar-Rachman,
pak Warman, veteran Pasuakn Siliwangi,
mereka adalah manusia indonesia yang tetap memilih menjadi manusia, orang desa yang bersahaja, saya sangat bangga
Iya Kew… mereka-mereka, manusia, luhur pekertinya. Membuat kita bangga. BTW, makasih atas doanya, Kew.
Desember 1, 2007 at 5:30 pm
Cerita hidup yang mengharukan dan diceritakan dengan tata bahasa yang mengalir indah,ga kaya blog sayah. salut buat bang AIP, dah nulis buku belom bang??
semoga cepet sembuh ya bang |^_^|V
sponsor:
visit me at http://duabelas10.blogspot.com
Terimakasih atas doanya. Iya, saya kayaknya mau nulis buku nih. Doain yaa.
Januari 25, 2008 at 12:34 pm
Cerita yang luar biasa bagi saya. thanks atas keinginan untuk berbagi dengan sesama.
Terimakasih sudah mampir. Saya senang bisa berbagi dengan Mas Muhidin
April 22, 2008 at 11:18 am
hampir g percaya bang.. tapi hal serupa masih g ya??
ingin rasanya bisa berbuat sesuatu demi keadilan dan kesejahteraan sesama.
Juli 24, 2008 at 4:43 pm
[...] dalam merangkai kisah masa lalunya menjadi tulisan-tulisan yang begitu memikat, pun sarat makna dan hikmah. Saya mungkin takkan bisa menulis sehebat beliau, tapi setidaknya semangat berbagi beliau yang akan [...]
Oktober 30, 2009 at 9:15 pm
Salam Kenal…
Indonesia Page – All About Indonesia
The Adsense Site – Guide to Online Adsense Earning