(*Nama pelaku dan nama lokasi bukanlah nama sebenarnya. Tanpa skrinsyut untuk melindungi hak pribadi karakter-karakter dalam tulisan ini*).
Banyak orang cerita soal reuni. Blogger ternama, mulai dari Mas Joe, Bu Enny hingga Bu Evy, pernah cerita soal reuni. Nampaknya reuni memang seru untuk diceritakan.
Saya ikutan juga ahhh. Hehehe
Reuni adalah pertemuan kembali dengan teman lama. Entah ini istilah dari mana, kapan munculnya dan dari bahasa apa, saya kurang paham. Pada intinya, reuni yang saya ketahui adalah sebuah acara bertemu dengan teman-teman lama.
Ini ada sedikit cerita yang tersisa dari reuni jadul. Selamat menikmati;
Karena dulu sempat mencicipi kenakalan remaja, salah satu efek sampingnya adalah sekolah saya sering pindah-pindah. Positifnya, pergaulan jadi lebih luas. Negatifnya, ketika baru saja akrab dengan teman baru… sudah harus pindah lagi.
Suatu hari, saya dapat email. Teman-teman dari sekolah tertentu ingin mengadakan reuni. Mereka mengajak saya. Saya balas pesan tersebut dengan kalimat singkat, “Saya ikut, dong!“
Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan, saya datang ke pesta reuni tersebut. Tempatnya di sebuah kafe di bilangan tengah Jakarta. Kafe ini cukup terkenal. Dekat kantor perkumpulan antar negara sedunia. Kaget juga saya, sebab kafe ini biaya sewanya cukup mahal. Dan malam ini, full booking hanya untuk pesta reuni kami.
Ketika saya sedang bertanya dalam hati, di pintu masuk, Mbak Resepsionis nan manis menyodorkan buku tamu. Sebenernya males juga mengisi buku tamu. Tapi yaahh, udah reuni gratis banyak komplen pula. Saya isi dah tuh buku tamu.
Loh, abis ngisi buku tamu, Mbak Resepsionis (*tag namanya, Indri*) menelpon;
+ “Bu, Pak Arif Kurniawan sudah datang…”.
- “…”
+ “Nama kerennya?”
- “…”
+ “Pak, nama keren bapak apa?”
- “Hah, buset, apaan tuh?… Emang nama saya kurang keren apa lagi?”
+ “Bu, katanya nggak punya nama keren…”
- “…” (*saya diem sambil bersungut-sungut*)
+ “Iya, bu, katanya nggak punya nama keren… Panggilan? Ooh nama panggilan?”
- “…” (*saya makin bengong*)
+ “Pak, nama panggilan bapak apa?”
- “Bangaiptop”
+ “Katanya Bangaiptop, Bu”
- “…”
+ “Pak, kata Ibu, di list adanya Bangaip. Tapi nggak pake Top”
- “Yaelahh, bujugbuneng dah. Masak saya mao ketemu temen aja dikerjain dulu sih?”
+ “Bu, katanya yaoloh bonengboneng masak… Ooh Ibu denger juga? …Trus Bu?”
- “…” (*tambah dongkol*)
+ “Pak, silahkan masuk. Ibu Ita bilang kalau bapak memang Bangaip”
Sambil bengong, dalam hati saya kembali berfikir, identified scanner-nya sungguh ajaib betul. Saya tanya lagi pada Mbak Indri, “Mbak, kan sekarang sudah ada KTP… Sudah ada paspor… Untuk mengetahui identitas, buat apa pertanyaan jebakan betmen kayak gini?”
“Ahh bapak, kayak nggak tahu aja. Ini kan Indonesia. Apa-apa suka dipalsuin. Calon anggota dewan aja rela malsuin ijasah.”
“Yaelah, masak mao reuni aja malsuin paspor”.
“Ini kan Indonesia, Pak”. Katanya sambil gigit-gigit kuku.
Ketika garuk-garuk kepala mendengar jawaban ngasal si Mbak Indri. Tiba-tiba ada tante-tante keluar dari pintu. Lari-lari kecil mirip pelem india. Tanpa terduga, begitu sudah dekat, langsung meluk saya, terus cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri).
“Ya olooohhh ayiippp… Apa kabar loooo… Kemenong ajeee…!!!”
Waduh, saya benar-benar gelagapan. Mimpi apa saya semalam. Sudah dikerjain resepsionis, kali ini, harus menerima azab, dipeluk cium dan dicubit-cubit tante-tante menor ga jelas.
“AYIIPPP… Ini Ita, yiip. Lo lupa ama gue, Say”
Saya senyum balik, “Eh lo, Ta.. Pakabar?”. Biasa, sapaan basa basi sok akrab. Abis mau ngomong apa lagi. Tapi sesungguhnya, yang sebenarnya terjadi adalah sumpah mati saya lupa ia siapa.
Saya digiring oleh Ita ke ruang dalam kafe. Dikenalkan satu persatu. Lebih tepatnya, diingatkan kembali, teman-teman lama yang berubah pesat sejak terakhir kali ketemu. Minimal, perubahan yang terlihat jelas adalah postur tubuh dan jumlah rambut di kepala.
Selain perbahan berat badan, yang terlihat berubah dari teman-teman saya terdahulu adalah gaya mereka berpakaian.
Walaupun ada kemungkinan mereka mengenakan pakaian jas resmi karena ini forum reuni? Atau mau terlihat agar mirip James Bond? Atau memang menandakan status sosial?
Sebab katanya, apabila tinggal di Jakarta, pakaian menandakan derajat. Makin bagus pakaiannya, makin tinggi derajatnya. Benar tidaknya, entahlah, saya kurang paham.
Tapi yang jelas, kontras dengan jeans dan kaus yang saya pakai. Yang lebih parah lagi, saya bener-bener saltum, alias salah kostum. Tulisan segede gaban di kaus saya adalah ‘MEMBLE TAPI KECE’ dengan logo Rolling Stones besar-besar. Menjadikan saya manusia jadul satu-satunya di kafe sebesar ini.
Duh gusti. Kecele rupanya saya. Sebab sebelum berangkat, saya pikir teman saya tidak banyak berubah. Masih suka style nongkrong ala jadul. Ternyata saya salah total. Hehehe.
Pelan-pelan, saya mulai ingat Ita.
Ita membawa saya ke lounge bar. Dia pesan Long Island Ice Tea, minuman cocktail campuran antara vodka, gin, rum, tequila, dan kola. Saya pesan es teh beneran, nggak berani pesan macem-macem, maklum perut anak kampung, takut mencret.
Satu gelas tandas. Ita cerita mengenai teman-teman kami. Apa saja pekerjaan mereka. Ia menunjuk di sudut kanan, ke arah para lelaki yang pakai dasi dan merokok cerutu. Katanya, mereka bankir. Diantaranya bahkan ada seorang calon deputi institusi keuangan di negara ini. Disekelilingnya para pengusaha. Bagaikan lebah dengan madu. Kekuasaan berdampingan dengan pemilik modal.
Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Pakiannya tidak separah dan sejadul saya. Tapi saya bersyukur, tiba-tiba ada teman. Sesama pemakai celana blue jeans. Ia celingak-celinguk kiri-kanan. Mencari wajah yang familiar. Tapi nampaknya tidak ada yang familiar. Lalu duduk sendiri di pojok. Ahhh, kasihan.
Saya ingin menyapanya. Ita memegang lengan saya. “Si Rinto tuh, Yip. Lo inget ga, yang dulu doyan maling pulpen. Parah tuh anak. Gue ga tau, siapa yang ngundang. Padahal reuni ini kan gue koordinatornya”.
- “Ooh si Rinto. Hebat juga lo masih ngeh. Bisa ngenalin orang. Tapi kan ga ada buktinya dia maling, Ta”
+ “Halah… Sekali maling tetep aja maling”
- “Yuk, ajak nongkrong bareng”
+ “Males gue. Males ngomong ama maling”
- “Ya udah, kalo gitu gue nongkrong bentar ama Rinto”
+ “Nanti aja dong, gue masih kangen ama lo nih”.
Ita pesan gelas kedua. Lalu menunjuk tengah ruangan. Gerombolan ibu-ibu yang tengah asik ceria ketawa-ketiwi. Sambil berbisik, Ita bilang “Si Meli, si Rita, si Yanti dan genknya. Gabuk pada tuh, Yip. Keasikan ama karir, lupa kawin. Doyannya ama brondong. Hebat kan Jakarta. Emang laki-laki aja yang bisa maen daun muda!”
Sementara itu, saya lihat, tidak ada seorangpun menghampiri Rinto.
Gelas ketiga Long Island datang. Ita tampak melamun. Saya tanya mengenai Letnan Cepi, suaminya, sahabat saya. Dan bertanya-tanya, kenapa Cepi tidak datang malam ini.
Sambil meneguk gelas ketiga, Ita cerita. Bahwa rumah tangga mereka sudah lama hampa. Cepi sekarang sudah bukan letnan lagi. Pangkatnya sudah tinggi menjulang. Rumah mereka juga sudah banyak dimana-mana. Dan Ita selalu merasa sepi.
Cepi menikah lagi. Istri mudanya mahasiswi S2. Sekaligus pengusaha. Entah bosan, entah malu ketika kondangan, entah gairahnya yang tidak lekang oleh usia, Cepi memutuskan menikah lagi.
Saya melirik Ita. Kembang sekolah. Gadis tercantik yang pernah ada di sekolah yang pernah saya singgahi. Pujaan para remaja pria. Yang begitu lulus sekolah langsung menikah dengan Cepi, yang juga baru lulus sekolah perwira. Pesta pernikahan mereka gegap gempita. Bagaikan Rama dan Sinta. Yang pria gagah perkasa, yang wanita cantik jelita.
Dan waktu pun berlalu. Waktu pula yang membuktikan cinta remaja mereka terbuat dari kaca atau permata.
Saya melirik Ita. Kembang ini telah layu. Terhisap oleh berlikunyanya hidup seorang ibu rumah tangga. Menyadari betapa kejamnya waktu menggerogoti kecantikan seorang wanita.
Saya melirik Ita. Ia melamun. Mungkin pengaruh alkohol. Saya papah, menuju kursi agar ia bisa bersandar. Tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas. Ia menumpahkan Long Island ke kaus saya. Aduuh.
Saya lihat, Rinto berdiri, menuju pintu keluar.
Saya pamit sebentar. Lalu lari menuju Rinto. Saya kangen Rinto.
Dulu, si Rinto ini orangnya pendiam. Bapaknya tukang sablon. Dia, pulang sekolah, sering bantu bapaknya bikin reklame dan stempel kayu. Sayang bapaknya pemabuk, suka main pukul sembarangan. Rinto dan ibunya sering jadi sasaran bogem mentah sang bapak.
Saya tahu, sebab saya dulu sebangku di sekolah dengan Rinto. Orangnya pendiam. Dituduh apapun, diam saja. Karena diamnya itu, ia sering dituduh maling. Dituduh bandar narkoba. Dituduh suka judi.
Saya tahu, ia diam, karena dirumahnya sudah sedemikian banyak masalah. Kasihan.
Rinto keluar. Saya kejar. Saya lihat ia bertanya pada satpam. Saya buntuti. Saya mau kasih kejutan. Ciluk baa… Hehehe.
Rinto menyelip ke arah departement store penjual baju. Di seberang kafe ini. Lalu masuk menuju gang sempit. Wah kali ini saya yang terkejut. Ngapain Rinto masuk gang sempit?
Astaga, ternyata dalam gang sempit ini ada musolah. Wah si Rinto mao solat isya rupanya. Saya panggil si Rinto;
- “Too… Rinto…”
+ “Ehh… Eerrr… Err…”
- “To, gue arip, men. Kita sebangku dulu”
Rinto menjabat tangan saya keras-keras. Saya pake acara dipeluk segala. Wah jadi malu juga nih, malem-malem, di depan musola peluk-pelukan. Ama cowok pula. Hehehe.
- “Wahh Rip. Apakabar lo? Sehat? Kangen gue sama elo”
+ “Alhamdulillah sehat, To”
- “Gua seneng banget ketemu lo Rip. Gue kira ga ada yang kenal gue disono. Malu banget gue, udah nggak ngeh ama temen-temen kita yang dulu”
+ “Gua juga seneng To ketemu lo. Gimana keluarga lo? Sehat?”
Rinto menatap saya lekat-lekat. Ia tidak menjawab. Senyum mengembang lebar. Nampaknya ia gembira bertemu saya. Saya juga ikut senang.
- “Rip, solat dulu yu ahh. Ntar gua traktir makan sop. Tuh ada sop enak, di pinggir jalan”
+ “Kan ada makanan gratis di dalem, To. Kita bisa makan minum sepuasnya. Gratis men!”
Rinto menatap saya sambil tersenyum “Rip, gue tau siapa yang ngundang kita. Anak buahnya Ita bilang, Cepi yang jadi promotor acara ini buat nyenengin Ita. Biar dia ga marah kalo Cepi kawin lagi. Cepi itu letnan kolonel, Rip. Bukan gua ngrendahin. Tapi rasanya ga lazim gaji letkol enam bulan dihabiskan cuma buat semalaman ini doang”
Saya diam. Kaget. Rinto, sambil tersenyum, menambahkan “Lo ga takut, makan dari makanan yang nggak jelas asal-usulnya?”
Saya tambah diam. Rinto menepuk bahu saya “Maap lah, gue ga maksud prasangka buruk loh. Gue cuma pengen nraktir elo dari uang sablon. Hehehe. Omong-omong, kenapa baju lo?”
Saya menunduk sambil cengar-cengir. Menatap kaus bibir dower Rolling Stones MEMBLE TAPI KECE yang ketumpahan Long Island.
Membayangkan es teh yang telah bersemayam dalam perut, tiba-tiba ingin buang air kecil.
November 29, 2007 at 11:48 pm
He..he…he…
November 29, 2007 at 11:50 pm
Inilah nyang sering terjadi bang…
Saat ini sudah sangat sulit mbedain nyang resmi dan ndak resmi.
nyang halal dan ndank halal…
Ini Jakarta boss…..
Saya berharap, teman-teman yang berdomisili di JKT juga ikut diskusi ini sih, Mas Mbel. Masalah halal atau ndak halal, resmi atau ndak resmi, jadi polemik besar di JKT. Pengaruhnya, lari ke daerah. Saya sering denger “Ahh, pusat aja suka korupsi. Masak kita ndak boleh” sebagai legitimasi teman-teman di daerah untuk melegalkan praktek-praktek tidak terpuji dalam birokrasi.
Sedih juga kalau gara-gara Jakarta orang sak Indonesia jadi mbrantakan
November 29, 2007 at 11:51 pm
Numpang Dogi Stail ah…
Dah lama ndak sempet…
Maap, disini dogistail kena Akismet. Hehehe.
November 30, 2007 at 1:43 am
Mungkin karena masih pagi di bagian bumi yang lain, jadinya saya pertama..x di blog seleb. Sekali lagi, cerita spt ini yg bikin saya seneng blogsphere….
Terimakasih sudah mampir, Mas Bowo. BTW, apakabar Brisbane? Ayo bikin blog dong, cerita-cerita soal hidup di QUT. Kan lumayan kalau ada anak-anak Indonesia yang juga mau belajar, bisa membaca pengalaman, Mas Bowo.
November 30, 2007 at 1:49 am
MEMBLE TAPI KECE???? ahakhakhakhak….jadul sekaleeeeee….. *ngakak ampe keselek*
Hihihi… Karena malu, untung nggak saya tulis, saya mbawa sisir di kantong belakang jins. Trus, rambut mumbul pake sterofom, ala meriam bellina. Kalau saya tulis, makin keselek nanti.
November 30, 2007 at 1:54 am
waktu memang bisa merubah orang.. *merenung* kira2 seperti apa ya kita sepuluh tahun lagi.. makasih bang atas cerita yg mencerahkan.. saya sering baca blog ini.. tapi baru kali ini komentar.. salam kenal ya bang
Salam kenal juga, Mas. BTW, saya juga penikmat dan pelanggan setia warnet ubuntu. Isinya bagus, bisa menularkan informasi untuk calon entrepeneur muda yang akan bergiat di bisnis opensource.
November 30, 2007 at 2:03 am
Reuni, memang kadang kala hanya menjadi ajang pamer keberhasilan, khususon keberhasilan secara karir dan finansial. Aku paling males kalau harus datang ke reuni seperti itu. Sungguh lebih menyenangkan kala reuni berlangsung dengan apa adanya di angkringan lor tugu, atau di gudeg prapatan tugu, daripada harus berjas berdasi di ballroon hyatt atau melia. (soale aku nggak punya jas, pake jas waktu kawin aja boleh pinjam).
soal judul, sepakat sama mbokde, kamu memang laki-laki jadul rip,
Pak De, kalau soal jadul… Saya akui, saya emang parah deh… hehe.
Untung dulu saya dilarang istri, ngajar pake dasi polkadot kuning 70-an. Kalo saya pake, mungkin saya masih diketawain mahasiswa hingga saat ini.
November 30, 2007 at 2:07 am
glek … gaji enam bulan untuk pesta semalam …. ahh tapi yakin itu bukan gaji kok
Itu juga, Pak Guru, yang membuat saya nggak jadi makan dan minum gratis setelah mengetahui info tersebut.
November 30, 2007 at 2:23 am
Ah.. dibalik semua kesederhanaan ada idealisme.
Ternyata saya masih harus banyak belajar untuk tidak berprasangka…
Saya juga masih belajar, Mas. Sama-sama belajar yuk.
November 30, 2007 at 2:24 am
Yaolooh, Bang…! judulnya itu lho, nggak nahaaan! ini istilah 80an ya Bang?
Setuju ama Dee, paling males ikut reunian yang cuma jadi ajang pamer materi
*apa karna aku ndak punya sesuatu yang bisa dipamerin ya hi hi hi hi*
Kalo orang laen, pamer materi, pamer jabatan, pamer wibawa… Saya pamerin Udin Petot. Huehehe.
Tapi untung malem itu saya nggak ngajak Udin Petot. Kalo saya ajak, pasti kacau.
Dulu saya ajak si Udin ke pesta kawinan temen.Wah, yang nikah sampe detik ini, masih marah ama saya. Gara-gara kelakuannya Udin Petot yang ancur banget di pesta orang. Bikin malu orang sekampung.
November 30, 2007 at 3:14 am
Jadi ingat reuni terakhir sekolah saya Bang, cuma jadi ajang pamer salah satu alumninya yang kebetulan sekarang jadi wakil raja propinsi saya, bahkan bisa jadi udah jadi ajang kampanye terselubung pilkada berikutnya… parah!
Menarik komennya si Rinto
Disandingkan dengan komen si Ita
Entah, prasangka siapa yang lebih mendekati kebenaran…
Iya, kenapa yaa reuni itu kadang bernuansa politis? Saya juga bingung, Med.
November 30, 2007 at 3:38 am
Hahaha…..saya ngakak…nih cerita nggak beneran kan?
Tapi kalau teman SMA, kemungkinan reuni bisa bervariasi seperti itu, saya pernah diajak alm bapak mertua reuni teman2nya zaman perang dulu. Ada yang udah gubernur, ada yang jendral, namun…ada juga yang jadi mantri air (tukang mengairi sawah di kampung). Tapi suasananya enak..karena tetap saling menghormati, dan semua teman, ga ada yang mendasarkan jabatannya.
Kalau alumni PT, biasanya ga bervariasi, kayak cerita saya…bahkan temenku rata2 jadi dosen, peneliti, dan sedikit yang keluar rel (kerja diluar latar belakang pendidikannya, termasuk saya).
Kalau reuni angkatan masuk kuliah (seperti suami saya), hasilnya juga bervariasi, ada yang pengusaha ngetop, jendral, menteri…
namun ada juga yang drop out jadi penyanyi cafe.
Itulah dunia Bangaip…yang penting kita tetap ingat Allah swt…lebih baik jadi Rinto, yang tetap ingat sholat.
(ngomong2, biasanya ada dress coat nya kalau undangan….saya kalau reuni biasanya undangannya pake casual…bisa pake jean dan kaos…asyiiik)
Iya Bu, ini cerita bener. Ini mah masih belum seberapa dibandingkan cerita reuninya temen saya, si Udin Petot.
Tapi menarik, bu. Cerita mertua ibu reuni. Wah saya sampai terkagum-kagum. Andai saya bisa ikut reuni itu, dan mendengar cerita mertua ibu dan teman-temannya. Pasti dahsyat. Ceritanya pasti keren. Yaitu cerita dibelakang layar kemerdekaan RI. Cool.
November 30, 2007 at 4:29 am
Aku berharap tidak pernah menghadiri reuni seperti itu… sigh..
Teman adalah teman.. kalau cuma berisi kecurigaan, apa gunanya.
Iya Mas. Pelan-pelan, kita bahu-membahu, megikis kecurigaan antar teman. Sukur-sukur bisa lebih luas, mengikis kecurigaan antar saudara sebangsa.
November 30, 2007 at 4:59 am
memang kalau reuni itu banyak banget yang berubah. btw emang bangaip kece ya?
*kabuuurr*
Nggak, Cik. Saya kebagian memble-nya. Hahaha.
November 30, 2007 at 5:23 am
bang, sampeyan yang MEMBLE atau yang KECE nya?
Saya mah ‘Memble aje nih’. Hihihi. Tapi kalo kaos Rolling Stones itu digabung ama celana jins merah muda kembang-kembang. Trus pake kacamata item riben. Trus pake jaket parasit item. Wahh, rasanya, saya mirip pilot top gun, gitu. Udah kayak yang paling kece sedunia. Huahahaha
November 30, 2007 at 6:02 am
wah… daku sering reuni. mulai temen sma, temen kuliah, temen organisasi, sampai temen satu kampung. tapi blon pernah sih ada experience ky gini hihii.. yang ada, yang nyombong2 ngga jelas, dimilis aja udah di diemin. apa lagi dateng .
temen ya temen. thats all. gw bisa aja ngga pengen berbisnis, ngga pengen berorganisasi bareng bla bla bla dengan temen. tapi sebagai temen, ya tetep temen :p
Iya, emang sih idealnya begitu, Mas Edo. Tapi kadang, ada temen yang tiba-tiba ikut MLM, trus tiap hari ngojok-ngojokin supaya kita ikutan bisnisnya. Aduh sedih juga rasanya.
Soal reuni, saya jarang reuni. Tapi sekali reuni, biasanya ada aja anehnya. Saya juga bingung. Apa emang udah nasib saya ketemu orang aneh gara-gara saya aneh? Hehehe
November 30, 2007 at 6:15 am
kemarin saya juga jadul, bang. tahun segini masih make kaos bola dengan nama punggungnya roberto baggio wajtu reuni
setelah bertahun2 ndak ketemu ternyata memang banyak hal yg nggak kita duga.
cuma memang, bang aip selalu lebih pinter mengangkat masalah simpel tentang kemanusiaan untuk dijadikan tulisan yang lebih kompleks dan menarik
*angkat topi*
Hahaha… Saya kira, saya aja yang jadul. Roerto Baggio? Hahaha. Kenapa nggak Mario Kempes sekalian, Joe? Hahaha.
Kalau saya angkat topi karena kamu produktif. (*Dan menurut pengakuan kamu, selalu digila-gilai gadis-gadis. Saya harus konsultasi ama Chika dan Siwi. Bener ga gosip itu? Hehehe*)
November 30, 2007 at 6:57 am
Jadi kangen pengen reuni ama temen-temen. Tapi ga pake di tempat mahal, kalo perlu di warung langganan deket sekolah dulu aja, biar nuansa reuninya lebi terasa, gak nguras gaji enam bulan pula
warungnya jual apaan?
November 30, 2007 at 7:04 am
ohhh ttg reuni toh
saya kira ngomongi si “memble” vokalisnya rolling stone
-lam kenal bang!-
Salam kenal juga Mas Reza. Nggak nih, nggak ngomongin rolling stones, saya cuman ngomongin kaos ‘memble’. Hehehe.
November 30, 2007 at 7:51 am
Komen sayah kemana bang…
Kok ilang….
November 30, 2007 at 7:52 am
Coba sayah tes lagi…
Ilang ndak yaa…
November 30, 2007 at 7:53 am
O, iya…
Komen sayah ndak isa tampil…
Ya sudah…
Jaraknya antar komen mepet Mas Mbel. Jadi dianggap akismet sebagai musuh bersama. Hehehe. Maapin akismet saya, belum ikut penataran P4. Hehehe.
November 30, 2007 at 8:29 am
Saya enggak mengerti hubungannya dengan Rolling Stones disini..
Hahaha, bener Debe. Sama sekali nggak ada hubungannya ama Rolling Stones. Huehehe.
Hubungannya cuma antara kaos Rolling Stones, Long Island, gaji letkol, cinta yang hilang, musolah di antara produk hedon, apriori publik dan seorang pemuda jadul. Hehehe.
November 30, 2007 at 9:06 am
Minimal harusnya ada skrinsyut kaos itu Bang, biar kita bisa liat
Temen-temen sekolah saya dulu juga sudah banyak yang berubah, semoga lebih banyak yang berubah ke arah perbaikan ^_^
Bang Aip, maaf komen di atas dihapus aja. Tadi ga liat namanya ternyata berubah abis dipake temen kemarin. Makasih ^_^
Iya, sudah saya hapus, Mas Yani. Wahh, sayang kaos udah nggak ada, Mas. Kalo ada, saya warisin. Hehehe.
Saya aja sampe saat ini kadang masih cengar-cengir, kalo inget kejadian itu. Hehehe.
November 30, 2007 at 9:44 am
Army memang bisa juga gede pendapatnya ya Bang?
Saya pikir yang pendapatan gede itu cuma Cops doank…
Kalau soal pendapatan dan gaji di Army, saya kurang begitu mengerti neh…
Ini gaji army pada masa pemerintahan Mega. Tertinggi, dimiliki oleh pangkat Jenderal atau laksamana, dengan gaji perbulan satu juta sembilan ratus ribu rupiah (Rp 1.900.000).
November 30, 2007 at 12:18 pm
pusing nih, soale sering jadi koordinator acara ngumpulnya alumni huehehhe
dan kondisinya selalu seperti yg dirasain si abang.
piye iki, ..
Wah, saya turut berduka atas tugasnya sebagai korlap reuni, papabonbon. Hehe.
BTW, setahu saya alumni TN pasti susah ngumpulinnya. Menyebar di seluruh dunia. Yang ada di dunia blog macem Fertob/Pyrrho, RSW atau Kang Kombor, mungkin bisa bikin reuni virtual. Hehehe
Kalau saya mah, yaahh, emang udah bawaan orok, banyak komplen. Hehehe.
November 30, 2007 at 1:17 pm
Kadang lebih baik nggak tahu ya Bang,..
…bisa makan gratis tanpa tahu itu haram ga dosa kan?
Waduh, maap Mas Payjo… Sungguh saya awam masalah dosa dan tidak dosa. Insya Allah, akan ada teman-teman yang sanggup menjawab pertanyaan ini. Sesungguhnya masalahnya lebih kompleks daripada halal dan haram. Masalahnya, antara lain, sungguh rumit, yaitu; seperti kesadaran untuk mempertanyakan sesuatu.
November 30, 2007 at 2:09 pm
bangaip nama kerennya yah?
hahahaha…. jadi pengen reuni tapi masih tetep jadul semua kali yah temen2 sayah
Nama keren saya yaaahh.. begitulah… kata De King. “Kepriben”. Hehehe
November 30, 2007 at 4:28 pm
ck ck ck… kaga salah emang arif jadi aipTOP. top abisss….
Hahaha… Top Jadulnya? Huehehe
November 30, 2007 at 5:41 pm
kemaren masih tepar udah ikut reunian aja, jadi inget kemaren ada reuni akbar sekolahan saya, yang biayain alumni yang udah jadi anggota dewan, gratis dan gede2an, tapi sekolahan kayaknye kagak rese tuh tanya2 dananye dari mana dsb, mumpung gratis kali ya bang aip
Iya, kadang-kadang saya sendiri juga suka lupa nanya… Kalo gratis asalnya darimana?
Insya Allah, saling mengingatkan, Mas Umar.
November 30, 2007 at 6:23 pm
Semula mau tidur karena penatnya kerjaan. Eee mampir ke Cilincing ada pertunjukan Lenong Rumpi khas Betawi:
Sueer bang… mata jadi melongo, pinggul naik-turun, tidur gak jadi.
narasi ini sangat menarik:
Pujaan para remaja pria.
Cepi, yang juga baru lulus sekolah perwira. Pesta pernikahan mereka gegap gempita. Bagaikan Rama dan Sinta.
Yang pria gagah perkasa,
yang wanita cantik jelita.
Akhirnya kerja diterusin lagi… hingga larut pagi.
Hahaha. Maap Mr Kurt… Gara-gara saya, jadi begadang. Maap.. Maap.. Huehehe
November 30, 2007 at 7:17 pm
Wakaka, bisa ngebayangin makna dari cerita ini Bangaip…Benar, benar sekali itu, kamuflase dari pen-cuci-an ke-kotor-an
Saya juga baru tau kalau ‘money laundry’ ternyata ada dimana saja.
Desember 1, 2007 at 12:23 pm
Wah… sekarang harus selektif kalau makan/minum di pesta ya? Apakah makanan/minuman itu datang dari uang halal? Atau…
Ah… Hanya Tuhan yang tahu.
Hehehe, Tuhan emang Maha Tegar, semuanya dilemparin ke beliau. Beliau sabar saja. Hehehe.
Desember 1, 2007 at 5:41 pm
tapi reuni memang membawa banyak kejutan bang…….
Btw… bisnis sablonnya Rinto sukses kan bang?
dan sepertinya dia bukan orang biasa deh… kok tahu kalau Cepi udah Letkol dan dia yang mbiayai
Rinto orang biasa… Sama seperti kamu, seperti saya, dan seperti yang mbaca tulisan ini.
Desember 2, 2007 at 4:14 am
Komen di atas bikin penasaran banget dah. Skrinsyut! Skrinsyut! Jambulnya aja deh, aslilah penasaran bet.
Hehehe. Jangan penasaran. Nanti gedenya jadi Oma Irama. Bikin lagu yang liriknya “Sungguh mati aku jadi penasaraaan!” (*halah, ngasal!*)
Desember 2, 2007 at 4:11 pm
abangggg
bajunya masih ada ga bang!!!
belinya dmn bang….
mao dunk gw beli bang….
sejuta dua juta boleh
1 milyar deh….
tapi pake duit monopoli ya…
Hahaha. Bajunya dah Ngilang. Nanti aja, kalo kita bisa nongkrong bareng di RI sama-sama, nanti aye bagi-bagiin kaos memble tapi kece dah. Hahaha.
Desember 3, 2007 at 2:30 am
di jakarta segala sesuatu memang d pandang dari penampilan. mulai merk baju, tas sampe sepatu…menyedihkan=(
Oh…, masih?
Desember 3, 2007 at 3:46 am
fisik boleh berubah, tapi tabiat harusnya sih jangan berubah jadi negatif, apalagi cuma karena alasan hyper reality…capek deeee
Hyper reality itu apa Mas Hedi? Wah saya harus banyak nanya ama Mang Google dan Neng Wiki nih. Makin parah jadulnya. Udah nggak tau istilah pemuda masa kini, macam Mas Hedi. Hehehe.
Desember 3, 2007 at 7:36 am
Wah, elo ternyata perhatian banget bang
Masa sih? (*sambil garuk-garuk jenggot imajiner*)
Desember 3, 2007 at 9:11 am
Bang, salam buat bang Rinto…
Orang jadul gaulnya tetep dengan orang jadul, heheheh
Bang Aip ma Bang Rinto keyeen….
Iya nih, udah nasib, jadi jadul.
Desember 3, 2007 at 10:05 am
hebat ya.. temen2 nya jadi orang sukses semua
.. . .
klo saya reunian nya sering.. pake Konference Yahoo mesenger
Standar sukses itu apa
Desember 3, 2007 at 10:09 am
kalo gitu, sayah batal kawin sama letnal kolonel ituh..
**he? letnan yang mana, tik??!!!**
Gara-gara batal kawin jadi keracunan? (*nyambung gosip dari Momon*) Hihihi
Desember 3, 2007 at 3:25 pm
khas bangaip :p. buseetttt….
Hehehe
Desember 5, 2007 at 9:58 am
menyedihkan yah.
kaya tapi kesepian. Apa Ita sudah punya anak?
Sudah. Yang besar akan masuk kuliah di JKT.
Desember 7, 2007 at 9:53 pm
Aduh, endingnya… Pipis di mana nih? Di bawah pohon jeruk, bang?
Eh, kaosnya keren kayaknya. Jadi ngiler nih pengen punya…
Wah, yang mesen kaos banyak banget, Mas Gun. Saya aja sampe kerepotan, hari gini nyari dimana tuh kaos. Hehehe
Pipis? Saya tahan… Ga berani kencing di pager musolah. Takut kesambet.
Desember 10, 2007 at 3:03 pm
Bahan refleksi yang mantaB abis Om.
salam kenal,
Salam kenal juga. Apakabar Surabaya?
Desember 10, 2007 at 3:42 pm
Baru kali ini saya membaca tulisan tentang kopdar eh reuni yang keren habis kaya’ gini. Biasanya kan cuma ketawa ketiwi. Dan yang elo eh bang aip tulis, daleeemmm banget *sumurr kalee* Two thumbs bro.
Makasih Mas Eby. Ahh Mas Eby, tiap mampir muji mulu. Gimana saya nggak geer ini dipuji selalu oleh seleblog macam Mas Eby? Bahaya, mas. Kalau sering dipuji, nanti saya harus operasi plastik (nose job) sebab idung saya tambah gede. Huehehe
Desember 10, 2007 at 6:17 pm
HEBATTT!!
Saya merasa ini cerpen..
tapi kalo emang ini terjadi beneran.. berarti kisah mas hidup di dunia “cerpen”..
cerpen… ,absurd, dan perih dengan realita sosial
Ini cerjang loh, alias cerita panjang.
Btw, saya, anda, dan orang-orang lain, saya pikir hidup dalam dunia ‘cerpen’ juga. Mungkin saja ‘kadar cerpennya’ berbeda-beda. Perihnya mungkin sama, tapi yang beda hanya kacamatanya saja.
Desember 11, 2007 at 4:10 pm
Saya menjadi perkataan seorang dosen senior
dimana saya selama 2 semester tidak pernah masuk kuliah beliau. Masuk hanya ketika ujian…Dosen tsb berkata, “Berhati2lah di setiap langkah kita. Hindarkan diri kita dari rejeki2 penuh tanda tanya … apalagi jika rejeki itu untuk keluarga kita.”
untung dosennya bukan saya. kalau saya, udah saya ceritain kamu di blog ini. Hehehe.
Anywey, kamu bener, King. Rejeki buat keluarga emang kudu ati-ati. Tapi yaah, saya ini mah orang kampungan. Pendapatnya belum tentu bener.
Desember 12, 2007 at 6:09 am
[...] belajar agama dari kang kartubi, tentang dunia pendidikan dari Pak Sawali, memaknai hidup dari Bangaip, seni dan periklanan dari pakdhe, MSDM dan strategi management dari mas Yodhia dan Life Auditing [...]
Desember 12, 2007 at 3:31 pm
Saya coba menafsirkan:
Mendingan memble, tapi makan duit yang mengandung lemak nabati.
Daripada kece, tapi makan duit mengandung lemak babi.
Benar begitu Bang?
*Kabur. Malu takut salah tafsir*
Hehehe, katanya lemak korupsi jauh lebih haram daripada lemak babi, Siwi.
Desember 12, 2007 at 5:58 pm
Hmmm. Reuni.
Kadang, aku suka bayangin sendiri, apa yang mesti aku lakukan pas reuni…
A) Berlagak cool, mapan de el el buat nutupin keadaan sebenarnya, biar dapat respek lebih dari teman-teman lama, atau…
B) Just be yourself, don’t care the way everybody looking at you that night.
Lama-lama mikir, pusing juga. I pick option B ajah.
Bang, kalo nggak suka ama kaos Rolling Stones-nya, boleh juga tuh dioper ;P Gak masalah biar abis ketumpahan Long Island juga. Hehehe…
Hahaha, udah ga ada lagi kaosnya, Mas Redi. Hehehe.
Desember 14, 2007 at 7:33 am
[...] Kepada teman-teman saya, tanpa kalian, saya bukan apa-apa. Terima kasih juga untuk semua yang sudah mampir, komen, menorehkan kenang-kenangan berupa pertamax, hetrix, top skor dan lain-lain di blog ini. [...]
Desember 15, 2007 at 9:46 pm
HAPPY BIRTHDAY bang aip (sori telat hehehe)
semoga terus memble tapi kece!!
semakin sehat dan selalu sehat agar terus bisa menginspirasi anak indonesia!
hadiah ulang tahunnya saya kirim ke email bang aip
Makasihh Jie. Thx berat!!!
Desember 17, 2007 at 2:32 pm
maap ngetest nih sebaiknya diapus kalo gagal ya heheeflickr
Diantara
denganbiasanya ada parameter berupa image atau kalimat atau apalah, sebagai mediumnya, Jie. Btw, thenks euy buat infonya.Desember 18, 2007 at 1:35 am
Keren, keren, baru Abang nih yg begini ceritanya,
Pantas jadi bahan renungan kita2, utamanya saya,
Dan ternyata ngga cuma di Jakarta,
Dimana- manapun sama,
Hanya barangkali kadarnya yang berbeda,
Reuni, pengajian walimatus safar sampai ke kumpul keluarga,
Kadang jadi ajang pamer apa2 yang kita punya,
mobil lah, rumahlah, anak yg baru lulus lah, atau naik- pangkat lah, yg penting, “Ini lho yg gwe punya, lo punya apa?”,
komentarnya bikin saya termenung. Alhamdulilllah, sama-sama mengingatkan dalam kebaikan.
Desember 18, 2007 at 1:43 am
eh Bang,ada yg ketinggalan,
Selamat ulang- tahun yg kesekian,
semoga selalu sehat dan selalu nih jadi panutan,
Jangan lupa ajak2 kalo mo makan- makan,
Nuhun pisan euyyy. Insya Allah, nanti kalau dikasih rizki, sama-sama kita ngumpul bareng. Insya Allah, akan ada saat itu.
Desember 18, 2007 at 10:08 pm
cerita yang bagus.
nanti saya bikin FTV ya?
*ini bisa nyaingin kiamat sudah dekat*
emangnye anda sutradara?
Desember 19, 2007 at 8:30 am
Ceritanya menarik dan lucu bang. Senang membacanya. Yang gak kebayang baju memble tapi kecenya itu.
Terimakasih Bung Indra, sudah mampir
Desember 20, 2007 at 12:43 pm
hehehe bener ga kebayang ya..?
iya
Desember 20, 2007 at 7:10 pm
bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
http://alief.wordpress.com/
Terimakasih atas petunjuknya, Mas Alief
Desember 21, 2007 at 3:34 pm
wah, untunglah Bang, cuma es Teh…belom yang lain lainnya…
selalu saja ada yang tak terduga dari Bang Aip.
Yang laennya, apaan Siwi? HUehehehe
Desember 22, 2007 at 7:16 am
Ceritanya bagus, bagus sekali, begitu indah arti sebuah persahabatan diceritakan disini. Jadi inget temen2 lama yang dah lama tak jumpe.
http://www.indomath.wordpress.com
Terimakasih sudah mampir. Selamat atas pernikahannya
Desember 22, 2007 at 11:10 am
ceritanya selalu menarik
bang
Terimakasih sudah mampir.
Desember 25, 2007 at 10:17 am
kok saya diidentifikasi sebagai Siwi?
Oh iya. apakah Abang suka dan mengoleksi rolling stones juga?
Di party itu sasya bisa merasakan bagaimana rasanya. tidak nyaman dan tidak betah. maklum, penampilan dan suasana tidak matcing. Ya kan Bang?
Maap yaa kalau saya salah mengidentifikasi, abis avatar kamu mirip avatar ym-nya Siwi. hehe. Oh ya, saya suka rolling stones dan tidak suka party. Kalau berenang, saya suka. Apalagi abis berenang makan duren. Cihuy banget tuh.
Desember 25, 2007 at 7:10 pm
Bang Aip yang emang Top banget..
,
Memang itulah karakter dasar manusia yang acapkali takabur dan jumawa seiring lajunya sang diri menjejak impian kedepan, sedianya Alloh paring kemudahan bukanlah ilmu padiyang kerap dijalankan malah ilmu gabahnya saja..
Yakin saya kalau sang juragan sponsor pasti dalam hati kecilnya juga pernah dan sempat berpikir akan konsekwensi yang kelak dihadapi dari pilihan dan jalan hidup serta keputusan yang diambilnya. Semoga pas kita-kita melesat menjadi seorang tokoh, senantiasa menjadi pribadi yang bersahaja dan dicintai banyak kalangan, bukan karena pangkat dlsb, tapi karena kita membawa manfaat bagi khalayak.
Banyak yang sebelumnya let-kol dan kemudian mereka sudah menjadi juragan-kol seterusnya malah lupa dan gegabah. Semoga kita dihindarkan dari yang seperti itu. Seneng udh bisa mampir kesini lagi menyambung silaturahim, dari pantai barat afrika – saya haturkan selamat tahun baru 2008, juga salam kenal kepada kawan2 commenters lainya
Alhamdulillah dikunjungi tokoh idola masyarakat nih. Hehe. Kang Luigi, terimakasih atas silaturrahimnya. Insya Allah 2008 ini, kalau diberi rizki, saya akan ikutan juga numpang-numpang minum teh di Afrika. Insya Allah bisa ketemuan, euy.
Januari 5, 2008 at 5:17 pm
Baca,dan serta merta bookmark..Hebat,salut,speechless aku ^^b
Terimakasih yaa