Waktu kecil, saya sempat menyukai Mbak Rini.
Suka? Maksudnya suka seperti apa?
Yaa jelas suka seperti halnya laki-laki menyukai wanita. Namun, namanya juga anak-anak. Mungkin ini kali yaa yang namanya cinta monyet. (*Kalau orang dewasa jatuh cinta, apa namanya yaa? Hehe*)
Rumah Mbak Rini ini tidak jauh dari rumah Ibu saya di Cilincing. Kira-kira 15 menit naik sepeda. Dan itu jelas sebuah kebahagiaan tersendiri. Sebab kata si Ami, adik saya, “Lokasi menentukan prestasi. Kalo pacaran jarak jauh, namanya korospondensi”
Mbak Rini ini manis. Keturunan Cimahi asli. Mojang priangan, euy. Mantan murid ibu saya. Usia kami beda sekitar tujuh tahun. Ia lebih tua. Sudah kuliah. Sementara saya, masih pakai celana pendek biru kalau berangkat sekolah.
Tapi bukan kah cinta tidak memandang usia?
(*gombalan remaja abege yang dilanda oedipus complex, hehe*)
Maka, atas dasar gombalan diatas, pada suatu sabtu siang sepulang sekolah, saya beranikan diri menyambangi Mbak Rini.
Hari itu, saya gosok gigi tiga kali. Pagi mandi. Siang juga mandi. Pakai pakaian yang paling keren sedunia. Celana blue jeans baggy dan kaus berkerah. Tidak lupa topi pet ala Ari Wibowo. Penyanyi madu dan racun. Pokoknya rapi jali deh. Maklum, mau ‘nembak’ hati seorang gadis manis.
Di depan rumah Mbak Rini, saya sandarkan sepeda BMX warna merah. Dua jari dijilat sedikit terus dicocol ke alis, biar keliatan tambah ganteng (*jorok banget yak*). Rambut diucek-ucek biar mumbul.
“Assalamualaikum”, suara agak saya rendahkan, agar terdengar bergaya nge-bas. Gaya orang dewasa. Sekaligus niru-niru penyiar radio RRI ternama.
“Haaykumhayaam”, dibelakang pintu menyahut suara yang tidak kalah beratnya. Buset dah, suaranya serem amat! Saya sampai terlonjak kaget. Jangan-jangan salah alamat, kesasar di rumah jin.
Pintu dibuka. Saya sudah siap-siap baca surat An-Nas. Dalam hati mikir begini ‘pokoknya kalo jinnya macem-macem, gue gebugin, terus gue baca-bacain biar kebakar’. Maklum masih abege, masih dipengaruhi adegan pelem horor Indonesia.
Kreek… pintu terbuka juga. Yang muncul ternyata bukan jin atau sundel bolong seperti yang saya kira. Melainkan seorang remaja tanggung. Duduk di kursi roda. Kepalanya tengleng, miring. Mulutnya juga ikut miring. Ada air liur menetes dari sela-sela bibirnya.
Dalem hati saya membatin, ‘Masaoloh, jangan-jangan nih anak kena santet?’
Tapi saya nggak nggak berani ngomong begitu. Saya cengar-cengir saja di depan pintu sambil memegang kembang, sekuntum mawar colongan dari kebun ibu.
Si santet memandang curiga.
+ “Hyapaa yuuh?”
- “Saya arip, temennya Mbak Rini. Mbak Rini ada?”
Dia teriak kenceng banget, “Mbaa hyinii…, mbaa hyinii… ahsha ahyiib… vhawaa khemvhaang!”.
Mbak Rini keluar. Sambil senyum. Aduh manisnya. Saya sampai lupa pada si Santet dan bahasanya yang ajaib. Mbak Rini datang memamerkan deretan giginya yang sempurna sambil berkata “Aduh Arif. Siang-siang bawa kembang. Mao nyelawat kemana?”
- “Yee, ini buat Mbak Rini. Kira-kira aja dong, masak aye bawa mawar disangka mao nyekar”
+ “Oh ya, ada apa Rif”
- “Gini mbak.. gini…”
Aduh, gelisah sekali saya. Menyatakan cinta, bagi laki-laki macam saya, adalah hal yang berat. Luar biasa berat. Menyatakan cinta, mengutarakan perasaan halus perwujudan suka, mengungkapkan isi hati terhadap wanita, di Cilincing bukanlah sebuah budaya. Yaa, kami para laki-laki, terbiasa dilatih untuk menindas setiap airmata dan kalimat pengungkap cinta.
Tapi siang ini, detik ini juga… Saya harus mengungkapkan perasaan saya. Que sera, sera. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.
- “Gini Mbak… aduh, gimana yaa.. aduh, gini…”
+ “Kamu nervous amat, Rif”
- “Err.. aye demen ama Mbak. Errr… aye suka ama Mbak, …begitu”
+ “Ooh, gitu aja, sampe keringetan segala. Kirain ada apaan?”
Wah saya kecewa, perjuangan saya menyatakan cinta kok cuma dibilang “Gitu aja sampe keringetan segala“. Mbak Rini tidak tahu beratnya menyatakan cinta bagi remaja tanggung macam saya.
Bilang ‘Aylopyu’ itu jauh lebih susah, berat dan berliku ketimbang harus berantem dengan orang sekampung. Sebelum kalimat sakti itu terucap, begitu panjang dan berliku jalan yang harus ditempuh oleh seorang lelaki (kecuali ia tipe buaya darat, yang doyan mengumbar cinta).
Tapi begitu melihat Mbak Rini senyum, musnahlah semua kekecewaan saya. Senyumnya memang benar-benar membasuh luka.
Ia memegang pundak saya.
+ “Saya merasa tersanjung loh, Rif. Tapi…”
- “Yaah, kok ada tapinya sih?”
+ “Kamu ini terlalu muda untuk bilang cinta”
- “Kan cinta kaga mandang umur, Mbak?”
+ “Hehe, gombalan kamu mirip pria dewasa”
- “Badan aye boleh kecil, tapi aye lelaki tulen loh, Mbak. Sumpe deh, bole coba kalo ga percaya”
Tapi, percumalah melontarkan semua logika kesengsem saya. Ia tetap menolak.
Aduh sedihnya. Bagaikan hancur lebur hati ini. Walaupun Cilincing panas bolong terik, awan bagaikan mendung di langit. Daun-daun kamboja di halaman rumahnya jatuh ke bumi bagai gerak slow-motion dalam film-film romantis tragis.
Ahh sedihnya, cinta monyet saya porak poranda.
Dalam tiga puluh menit berikutnya, Mbak Rini menasehati saya akan makna cinta. Tentang makna kedewasaan, tentang makna tanggung jawab dibaliknya, dan tentang makna-makna lainnya yang susah saya mengerti. Ahh pedihnya hidup ini, sudah patah hati, pakai segala acara diceramahi.
Saya menunduk lesu. Pelan-pelan ke arah pagar, mengambil sepeda BMX merah. Hingga sebuah suara berat si Santet menegur dari belakang.
+ “Hooy… Mo hemana yuuh”
- “Pulang”
+ “Hangan puhaang. Maen ama huwaa”
- “Males ahh. Gua lagi patah hati begini malah diajakin maen!”
+ “Huwaa hudi. Mba hyiini khakha hwaa “
Saya membalikkan badan. Ia mengajak salaman. Dari atas kursi rodanya, ia menjulurkan tangan. Kepalanya masih miring, tengleng. Saya nggak tega. Matanya menatap hangat. Saya jabat pula tangannya… “Gua arip”.
Saya sandarkan lagi sepeda ke pagar. Lalu mendorong kursi roda Hudi (*lafal sebenarnya, Rudi*) ke arah lapangan sepakbola di samping rumah Mbak Rini. Saya ajak Hudi main bola dengan anak-anak kampung situ. Dia yang menendang, saya yang mendorong, jadi supir, sekaligus mesin penggerak kursi rodanya.
Tiga jam kemudian, saya lupa patah hati yang tengah saya derita. Saya dan Hudi ngos-ngosan duduk di pinggir lapangan. Kecapekan maen bola. Hudi menatap mata saya, ia berkata “Hyimakahih Ahyiib!”
Sejak saat itu, Hudi menjadi salah satu sahabat saya. Kami sering main bersama. Walaupun terkadang bahasanya ajaib atau ia yang tidak mengerti kelakuan saya, kami sejak saat itu, adalah sahabat karib.
Hingga akhirnya waktu yang memisahkan kami. Ketika saya harus pergi dari Cilincing. Ketika Hudi harus hijrah ke Cimahi.
———————————————-
Tahun berhanti tahun, saya mendapat kesempatan mencicipi sekolah di Jatinangor. Atagfirullah, bukan… bukan di Sekolah Tinggi Punggawa Dukun Santet. Jangan nuduh yang tidak-tidak, loh. Saya kekurangan bakat untuk duduk rembug jadi punggawa kerajaan republik tercinta sebagai dukun santet.
Walaupun sekolah Jatinangor ini bagai di tengah belantara rimba. Namun rupanya tuhan berbaik hati pada saya. Mengapa? Sebab di sekolah Jatinangor ini penuh dengan gadis-gadis dari aneka daerah nusantara yang sungguh mulus elok tiada tara. Mata saya sebagai pria sungguh benar-benar dimanja. Liat kiri, cewek cakep. Liat kanan, gadis aduhai. Dara-dara manis ini seakan bagai mata air yang tak pernah habis.
Salah satu gadis jelmaan bidadari yang saya taksir, namanya (sebut saja) Kartini. Nah, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, saya jelas tidak berani ‘nembak’ Kartini sembarangan. Trauma yang saya derita dengan Mbak Rini (*ceilee, trauma nih yee*) mengakibatkan saya berhati-hati dalam ‘nembak’ perempuan idola.
Sebelum ‘nembak’ cewek, saya punya aturan tertentu. Semacam ritual, begitu. Apa saja isi ritual ini:
A. Cari tahu latar belakang sang gadis. Jangan sampai sang gadis ini ternyata dulunya adalah pria. Maap maap nih yaa, bukan maksud saya menjelekkan transexual, namun mantan pria bukanlah wanite tipe idaman saya.
B. Lihat-lihat, apa warna baju atau accesories yang ia pakai. Ini berguna untuk mengetahui favorit/kesenangan sang gadis idaman. Kalau sang gadis pakai pakaian dan accesories yang senada alias matching, tandanya ia sadar betul akan penampilan dirinya. (*Fakta: wanita dianugrahi chromosom X jauh lebih banyak daripada pria, anugrah ini mampu menghindarinya dari buta warna. Gosip: Istri yang mengkoleksi pakaian dalam senada dan seksi, tandanya sayang pada suami*)
C. Siapa saja teman sang gadis. Teman yang bisa ditraktir lalu memberikan informasi itu bagus untuk melancarkan aksi rayuan gombal yang tepat dalam sasaran dan tujuan. Kalau teman sang gadis ini adalah teroris, germo atau bandar narkoba, sebaiknya ya dihindari.
D. Yang paling penting, yaitu sang gadis idaman belum punya gandengan. Sebab ada istilah di Cilincing, “pantang berkabung sebelum janur kuning melengkung”. Artinya simpel, jangan sampai menggasak istri orang. Kalau tidak dituruti, bahaya, sebab bukan saja hukum tuhan yang dilanggar, melainkan pula orang sekampung bisa dateng sambil bawa golok.
Akhirnya, setelah menyuap orang-orang dekat Kartini dalam arti sebenarnya (benar-benar saya suap dengan bakso bermangkok-mangkok). Saya mengetahui bahwa Kartini itu seasli-aslinya gadis dan sungguh wanita baik-baik. Kadar keperawanannya katanya 100 persen dijamin tuntas. (*Halah, infonya menyesatkan. Memangnya Kartini sudah di test drive? Gimana kalau selaput hymen beliau rusak ketika kecelakaan bersepeda? Tahu darimana informan kalau Kartini masih perawan? Andai masih perawan, terus kenapa?*)
Tapi, dari info tersebut, minimal saya tahu bahwa Ritual A, B dan C sudah terpenuhi. Sialnya, yang paling penting, bagian D, bagian puzzle apakah ia single atau bukan belum ketahuan. Kartini ini, nampaknya gadis yang agak tertutup soal kisah cintanya.
Dengan itikad baik dan kenyataan bahwa jari manis Kartini belum ada seuntai cincin penanda kasih. Dan didorong oleh keinginan yang luhur akibat uang jajan dua bulan saya terkuras habis-habisan oleh oknum-oknum penggila bakso informan istimewa. Maka, pada suatu sore yang indah, saya melobi cinta pada Kartini sang gadis idola.
Jaman juga sudah ganti. Saya tidak lagi memakai celana baggy. Rambut mumbul masih digilai, bedanya jambul Tintin karya Herge jadi raja saat ini.
- “Hai Tini, tumben sendirian aja”
+ “Eh Arif. Kamu belum pulang?”
- “Belum… Eh bando rambut kamu bagus. Oranye. Ceria. Kemarin putih, anggun”
Kartini tersipu malu. Pipinya semburat merah. Ahaa, dada saya makin menggelembungg melihat gelagat ini. Dapat angin pula rupanya pemuda rantau Cilincing ini, Mak. Tanpa menunggu lebih lama lagi, bagaikan garuda ulung dalam pertempuran Barathayuda, saya terus menyerang.
- “Kamu mau saya antar pulang? Rumah kos saya tidak jauh dari kos-kosan kamu loh”
+ “Terimakasih Arif. Saya menunggu pacar saya. Kami akan ke perpustakaan”
Lalu kami terdiam beberapa saat. Kartini menunduk.
Saya membeku. Angin seakan berhenti berhembus. Suara-suara riuh sendah entah hilang kemana. Pandangan mengabur berkabut. Waktu seakan berhenti berdetak. Dan dari lubuk terdalam, saya dengar hati berderak-derak patah.
Aduh Mak… Dia sudah punya pacar.
Tapi… Sekali lagi, TAPI sebagai gentleman Cilincing yang memegang teguh semboyan “Pantang Berkabung Sebelum Janur Melengkung”, saya menolak kalah.
Bagaikan Napoleon Bonaparte dalam perang semenanjung Peninsula, saya ajukan strategi baru mencari identitas sang ‘musuh’ dalam kalimat “Oh saya juga akan ke perpustakaan. Kalau gitu sama-sama saja”.
Tidak lama kemudian, sang Arjuna pemilik tidak sah Kartini pun datang. Wah naik mobil sedan dia. Turun dari mobil, gayanya sungguh perlente. Bajunya mrecet memperlihatkan otot kawat balung besi. Rambutnya gondrong ala anak band. Celana jeans mahal Levi’s penanda simbolisasi dunia modern saat ini. Waduh, ‘musuh’ saya berat banget. Kalau saingan seperti ini, saya ibarat anak SD melawan pemain sumo.
Tapi sekali lagi, “Pantang Berkabung Sebelum Janur Melengkung!”
Si baju mrecet ini senyum menatap Kartini. Saya lirik iri, Kartini pun membalas tak kalah manisnya. Kampreet! Saya hanya bisa memaki dalam hati.
Tapi.. Loh… Si baju mrecet tidak menghampiri Kartini. Ia membuka pintu belakang. Lalu membuka bagasi belakang mobil. Mengeluarkan sebentuk makhluk beroda dua. Dengan tangkas, Si baju mrecet memapah penumpang kursi belakang ke atas makhluk bernama kursi roda.
Saya terpana menganga. Laki-laki di atas kursi roda itu adalah laki-laki yang sama yang saya dorong di sebuah lapangan sepakbola beberapa tahun lalu. Kepalanya sudah tidak tengleng, mulutnya juga sudah tidak ada air liur. Tapi saya masih ingat mata hangatnya menatap si baju mrecet sambil berkata “Hyimakahih hang hahus”.
Astaga, ia Hudi.
Kartini turun dari gedung tempat kami menunggu. Sebenarnya gedung ini tidak tinggi, namun ia tahu, Hudi susah naik menemuinya melalui tangga. Gadis yang baik hati tahu diri ketika sekolahnya mendewakan tangga. Dimana-mana ada tangga. Di kantin, di perpustakaan, di ruang belajar… dimana-mana ada tangga. Jangankan di sekolah, di bioskop saja masih mendewakan tangga. Orang cacat seakan-akan warga negara kelas kambing. Akses mereka pada ruang publik sungguh dibatasi. Jangankan belajar, untuk nonton film saja susahnya minta ampun. Ribuan arsitek dan disainer lahir dari rahim republik ini, namun yang membuat ruang publik yang juga layak bagi orang cacat ada berapa?
Saya tercekat. Kehilangan kata-kata. Hudi kembali. Dan kali ini, bersama Kartini yang memegang lengannya begitu erat.
Ia teriak, “AHYIIB… AHYIIB…!!!”. Kartini dan si baju mrecet menatap saya keheranan. Saya lari menghampiri Hudi dan memeluk ‘musuh’ saya itu.
- “Hudi, apakabar?”
+ “Ahyiib, hini harhini, huwa mao hawiin nih…hye..hye..hye… Ini hang hahus hwami mba hyinii”
Saya senyum-senyum. Entah sedih, entah perih. Menatap Kartini yang masih merengkuh mesra tangan Hudi. Dan menatap Si baju mrecet yang ternyata adalah Kang Agus, suami Mbak Rini. Mimpi apa semalam bisa-bisanya saya patah hati kuadrat begini?
Ketika akan berpisah pulang dari perpustakaan. Saya tanya Kartini, jujur, spontan, blak-blakan, apa sebabnya ia memilih Hudi sebagai tambatan hati yang akan dinikahinya tiga bulan lagi. Saya sungguh sedih apabila ia menikahi Hudi hanya karena harta warisan orangtuanya yang direktur ternama.
Kartini menjawab sambil menunduk malu, “Ia selalu mampu berterimakasih, Arif”.
Kali ini, saya yang menunduk malu.
Ketika pulang, di pintu sedan, Hudi menjabat tangan saya sambil berkata “Hyimakahih hwat hayi ini, ahyiib!”
Di perjalanan pulang menuju kos-kosan, saya senyum menatap langit. Saya kalah… tapi saya terima dan bangga atas kekalahan dari Hudi. Ia laki-laki kecil yang tidak mampu berdiri. Namun, sungguh perkasa dalam bertingkah laku.
Saya lupakan janur kuning. Toh dunia tak selebar daun kelor. Masih banyak bidadari lain di muka bumi ini. Hehehe.
Desember 30, 2007 at 1:52 am
Waaaa, seruuuu Bang Aip!
tragis, tapi laki-laki pantang menyerah Bang Aip. Sekarang rumah tangga mereka (Rudi dan Kartini) masih langgeng nggak?
Owh ya, saya baru dapet pacar.
Selamat euy. Sudah diumumkan pasangan barunya di blog?
Desember 30, 2007 at 4:47 am
ceritanya ente mau kawin lagi ya, bang…hehehe
*kabooor*
Wahaha.. andai kawin lagi mah, Mas Hedi… Tetep aja ama perempuan yang sama. Hahaha
Desember 30, 2007 at 5:01 am
eh korospondensi atau korespondensi yak?
Mbak Golda bener. Semestinya memang korespondensi. Tapi itu kata-kata si Ami, adek saya. Dan saya nggak berani nyensor. (*Hahaha, ngeles ajee*)
Desember 30, 2007 at 5:27 am
Yup dunia tidak selebar daun kelor..

Kan sekarang dah punya Ibu Nyonyah dan Arip Junior…
Alhamdulillah Arip Junior Insya Allah bakalan mbrojol bulan Mei. Hehehe
Desember 30, 2007 at 5:31 am
Kisah yang benar-benar seru bang Aip. Menyedih-kan sekaligus men-cerah-kan.
Terima kasih juga untuk hari ini, telah mem-bagi-kan cerita ini untuk kita di-sini.
Sama-sama terimakasih euy.
Desember 30, 2007 at 6:00 am
ah, andai ada sinetron yang seperti ini Bang Aip…
tentunya akan banyak yang akan terlepas dari mimpi bahwa makhluk berwujud sempurna akan selalu bergandengan dengan yang sempurna juga
——-
dobel patah hati Bang? untunglah…nggak sampe hetrik…
betewe betewe, bukankah mendapatkan non Margriet alias Ibu Nyonyah merupakan hadiah yang tiada tara Bang?
Wah ndapetin IbuNyonyah adalah salah satu anugrah yang terbaik yang pernah saya dapatkan di muka bumi. Bener kamu, Siwi.
Desember 30, 2007 at 9:28 am
*Becanda*
Duuuh kasihan sekali bang Arif ini, patah hati sampai dua kali. Hehehe…
*Agak serius*
Asli ceritanya seperti di sinetron….
*Serius*
Kita sering lupa untuk bersyukur (berterimakasih..). Mungkin lewat Hudi kita bisa mngemabil teladan…
Alhamdulillah, Mas Jupri, kalau ada yang bisa diambil dari cerita ini. Sukur alhamdulillah.
Desember 30, 2007 at 9:35 am
Tumben patah hatinya gak hetrik kayak yang komen
trus… trus… bagaimana ceritanya pas ketemu dengan pujan hati yang sekarang ? kok nggak diceritakan sekalian
Tentang rudi(hudi)bagaimana kabarnya sekarang ?
Nanti deh, masih ada kelanjutannya kok. Saya cerita, kapan-kapan.
Desember 30, 2007 at 10:06 am
ya Alloh, bang. betapa pedih dan perih. halah.
aduh, bingung mau komen apa. si kartini baik banget….(yah, komennya jadi dodol gini seehhh?)
anyway, met taun baru, bang aip. kabar2in kalo babynya udah lahir ya? salam buat nyonyah
Insya Allah kelahirannya bulan Mei, mbok. Moga-moga ngak ada aral melintang. Salamnya sudah saya sampaikan. Kata ibu nyonyah ‘Terimakasih, salam juga untuk seluruh keluarga Venus’
Desember 30, 2007 at 12:30 pm
Met Tahun Baru 2008
Wish You All The Best And Success
Salam Militis!!!
Terimakasih euy
Desember 30, 2007 at 12:51 pm
Petualangan mencari cinta, eh ?
Sangat mencerahkan, ditambah tips juga.
Iya bener, DeBe. Ini sekedar berbagi kok.
Desember 30, 2007 at 12:55 pm
Kapan crita kisah percintaan bang Aip sama wanita nyang sekarang jadi bini, negh….???,
***kabour….***
Hahaha.. nanti Mas Mbel. Nanti… Kapan-kapan saya ceritain. Hehehe.
Desember 30, 2007 at 1:29 pm
Awalnya saya geli…terus sedih (karena ikut membayangkan patah hati dua kali)….akhirnya terharu.
Betapa baiknya hati seorang Kartini. Bangaip memang pencerita hebat.
Terimakasih juga, Bu.
Desember 30, 2007 at 2:38 pm
terima kasih buat hari ini Bang…

Terimakasih banyak pula, Siwi.
Desember 30, 2007 at 2:41 pm
Thx juga ya…
Iyaa
Desember 30, 2007 at 4:34 pm
gak tau mau ngomong apa.. seperti biasa.. cerita bang arif selalu bisa mengaduk2 perasaan
, makasih.. btw, met tahun baru ya bang.. 
Terimakasih juga, Mas.
Desember 30, 2007 at 5:08 pm
gimana ya? pengen ngakak pasti ga sopan, lha bukan komedi. Tapi Top Markotop lah. Siapapun kita Sang Pencinta sudah menetapkan siapa jodoh kita, saya juga gakan menyerah(lha curhat…)
Hehehe, mao ngakak juga gapapa, mbak. Idup pan katanye emang komedi. Hehehe.
Desember 30, 2007 at 5:48 pm
ritualnya gw banget… btw lanjut lagi bacanya
Desember 30, 2007 at 5:55 pm
terima kasih atas ceritanya bang.
gimana udah sehat? sukses yah bang tahun 2008nya.
Alhamdulillah, Rul. Sudah baikan. Terimakasih atas doa dari pembaca dan dari Arul juga.
Desember 30, 2007 at 6:04 pm
mesti belajar sama Onky Alexander yang bisa meluluhkan hati istrinya ( siapa itu..lupa ) yang jauuuuh lebih tua
Paula… Paula Simangunsong. Wah saya nggak berani cerita kalo soal Ongky-Paula. Panjang buntutnya, nanti. Berabe ama PPP. Hahaha.
Desember 30, 2007 at 6:07 pm
Ah Bang Ahyiip!
Di awal cerita aku ketawa-ketawa. Eeh akhirnya malah pengen nangis…
BTW, ceritanya (sangat) bagus dan menginspirasi. Salam kenal!
Salam kenal jugaaaa, Mardies.
Desember 30, 2007 at 9:03 pm
kita seharusnya malu thp Hudi. (Rudi ?
)
kadang kala kita yg normal malah sering lupa akan arti kata terimakasih.
great story.
Nama aslinya juga sebenarnya bukan Rudi. Tapi beliau memang kerap menyebut aksara depan namanya dengan penggantian melalui huruf ‘H’. Karena keterbatasan yang beliau alami sejak lahir.
Desember 31, 2007 at 1:03 am
Damn!
You make my tears dropped in this end of year…
Terima kasih bang aip…
Sama-sama, mansup. Kamu jarang nangis yaa?
Desember 31, 2007 at 2:57 am
*** aku ga bisa bilang apa lagi,,
ter enyuh GW
Desember 31, 2007 at 3:29 am
Nggak sia2 ngeluarin duit Rp. 30 rb/jam kalo dapet cerita yg beginian. Trims ya Rif.
BTW, di sini sarana publiknya rata2 memberi fasilitas untuk yang pake kursi roda, selalu saja saya iri dengan fasilitas umum di negara maju.
Sekali lagi trims atas ceritanya
Sama-sama.. terimakasih juga sudah mampir.
Desember 31, 2007 at 5:01 am
Ari Wibowo : pemaen sinetron cakep yang ga bisa ngomong ‘rrrrrr’.
Kalau lagu :
Madu di tangan kananmu
Racun di tangan kirimu
Aku tak tahu mana yang akan
kau berikan padaku ..(asik kan gw masih inget)
kayaknya yang nyanyiin namanya Aribowo, deh Rif. Seinget gue lohh …Ah tampangnya emang jadul banget.
Madu dan Racun, yang menyanyikan namanya Sidosa alias Masary alias Arie Wibowo. Ini linknya
Haha.. tampangnya dia emang jadul banget. Parah abis dah. Hahaha. Maap Mas Arie.
Desember 31, 2007 at 5:55 am
*refleksi*

hmm, iya bang, memang harus banyak2 berterima kasih
makasih banyak bang
Sama-sama terimakasih juga sudah mampir.
Desember 31, 2007 at 8:00 am
speechless…
great story bang..
Bisa buat inspirasi saya nih bang..kita harus sering2 berterima kasih pada orang.
Terimakasih sudah mampir, Mas Bambang.
Desember 31, 2007 at 10:42 am
nginget2 ruang publik, bener juga emang, bangunan2 di indonesia memang kejam buat yang disable, moga2 jadi perhatian nih buat para arsitek
bang aip, sekarang saya yang sakit nih, ngapa akhir taun mulu yak dateng sakitnye?
Insya Allah, kalau sakit dosanya diluruhkan. Kalau cepat sembuh, Insya Allah, cepat berguna buat masyarakat sekitarnya. Amiin.
Desember 31, 2007 at 2:11 pm
*masih mengikuti dan selalu menunggu cerita kangaip berikutnya
Terimakasih untuk selalu menyimak, Mas Edo. Saya jadi bangga nih
Desember 31, 2007 at 4:44 pm
“Dia teriak kenceng banget, “Mbaa hyinii…, mbaa hyinii… ahsha ahyiib… vhawaa khemvhaang!”
Ini rekaman dari mana sih kok bisa mirp begitu… kayanya sesuai EYD deh?
*nghyak tekhusss*
Saya masih inget hari itu, Mr Kurt. Sampe sekarang masih ketawa-ketiwi kalo inget. Si Hudi memang logat bicaranya ajaib betul.
Januari 1, 2008 at 5:19 am
Hmmmm………………….
Cewek yang luarbiasa…
*nyari kursi roda
*
Hehehe, alhamdulillah dibalik kekurangan pasti ada kelebihan. Namanya juga manusia
Januari 1, 2008 at 4:30 pm
Hwaa!! aku nangis bacanya bang!! nangis pertamaku di 2008 lho. bang aip hebat!!! Aku suka kata2 bang arip
“Saya kalah… tapi saya terima dan bangga atas kekalahan dari Hudi. Ia laki-laki kecil yang tidak mampu berdiri. Namun, sungguh perkasa dalam bertingkah laku.”
Nice story untuk mengawali langkah yang baru di th ini bang..
PS: tapi sekarang udah gak patah hata lagi kan? kan udah ada yg ngejahit ntu hati..
Insya Allah taon ini banyak nyang baek-baek juga buat Titiw.
Sekarang mah aye udah kaga patah hati lagi. Hehehe.
Januari 1, 2008 at 6:49 pm
Top dech bang Aip, kayak cerpen ngebacanya.
Met taon baru moga succes in alles.
Selamat tahun baru juga Mbak Citra.
Januari 2, 2008 at 2:54 am
Menyentuh sekali ceritanya, Bang..
Hiks..
Terimakasih sudah mampir
Januari 2, 2008 at 2:57 am
Terimakasih juga sudah membagi cerita ini, Bang…
Cinta, persahabatan, perjuangan, ketegaran, ketulusan adalah rasa yang membuat aku kecanduan berkunjung ke halaman Bang Ayip.
Semoga Berkat Tuhan selalu menaungi langkahmu, Bang, tahun ini dan di tahun-tahun yang akan berganti. Selamat tahun baru 2008.
Sama-sama. Selamat tahun baru juga. Terimakasih atas ucapannya. Gimana kabar Depok?
Januari 2, 2008 at 5:09 am
Temen Bang Arif hebat-hebat euy. Dari yang ngerayain liburan di atas prahu sampe yang fisiknya kurang sempurna, semuanya selalu mampu bersyukur. Saya masih harus banyak belajar lagi nih.
Selamat tahun baru Bang, semoga di tahun yang baru ini junior bisa lahir dalam keadaan sehat walafiat, rupawan seperti ibunya dan baik hati seperti ayahnya
Terimakasih edel.
BTW, saya juga rupawan loh. Hahaha. Narsisnya kumat.
Terimakasih atas doanya yaa, Edel.
Januari 2, 2008 at 8:37 am
Mbak Rini & Kartini kayaknya wanita-wanita with inner beauty? seperti itu rupanya ciri-ciri wanita yang dicintai BangAip
Dan takdir BangAip akhirnya bersama IbuNyonyah-wanita-tercantik…
Jadi inget gambar IbuNyonyah dgn sepasang kupu-kupu biru, beauty in nature for granted *wink*.
Iya, bener. Berdasarkan pengalaman, inner beauty dan komunikasi itu adalah perpaduan yang baik untuk mempertahankan relasi. Kalau IbuNyonyah emang cakep, itu mah kebetulan aja. Hehehe.
Januari 2, 2008 at 10:44 am
“Kartini menjawab sambil menunduk malu, “Ia selalu mampu berterimakasih, Arif”.”
aduh.. alasan yang agak lumayan aneh dari cewe ..
btw…. top markotop deh ceritanya
Agak aneh memang, kalau dilihat dari ‘kacamata normal’. Yang ‘normal’ kan seharusnya:
a. “Ia lebih kaya dari kamu, Arif”
b. “Ia lebih ok dan macho daripada kamu, Arif”
c. “Ia lebih punya prospek masa depan daripada kamu, Arif”
Hehehe. Silahkan pilih jawaban yang ‘tidak aneh’ di atas.
Januari 2, 2008 at 11:09 am
Bang ini kisah nyata ya?Truz gmn kbr rudy ama kartini skrng?
Nantikan lanjutannya.
Januari 2, 2008 at 11:27 am
narik nafas dulu
dari seni hacking, sampe ke tangga…, sampe ke
terima kasih bang
Sama-sama, Pak Guru.
Terimakasih sudah mencerdaskan anak bangsa.
Januari 2, 2008 at 12:21 pm
*speechless*
bang aip juga ok koq bang! berjiwa besar dan mau mengakui kekalahan… ga banyak yang bisa seperti itu
Terimakasih sudah mampir.
Januari 3, 2008 at 2:31 am
Ihik-ihik…
Terharu…
Sini Mas Dewo. Ada bahu nih untuk bersandar.
Januari 3, 2008 at 3:43 am
Saya rasa, dalam tulisan ini banyak kritik sosial yang terlontar, silakan pembaca lain menilai sendiri mana kritiknya. Gaya bahasa yang beragam namun tetap pada gaya khas Arif Kurniawan yang menghibur dalam setiap perpaduan kata kata, frasa dan kalimatnya. Pesan eksplisit dan implisit tetap terkirim, entah apakah semua pembaca bisa menerima dengan baik atau tidak. Terima kasih juga buat kesempatannya memperbolehkan saya ngoceh ga jelas dan ga karu karuan disini.
1. Gaya Bahasa : Hiperbola, Alegori, dan Parabel
2. Gaya Tulisan: Narrative, Argumentatif, Persuasif.
Contoh dan pengertian masing masing silakan cari di Wikipedia
Bang. Kategori alias ritual sebelum nembak cewe nya kok hampir mirip dengan saya. Apa memang laki laki selalu bersiap siap dengan standarisasi tadi ketika ingin menyatakan cinta pada lawan jenisnya?
Bukannya “Sebelum janur kuning melengkung, wanita adalah milik umum” Bang?. Maksudnya siapa saja bisa memacari dan mendekati. Eh, sama aja ya pengertiannya? He he he.
Oh iya, terima kasih atas pelajarannya. Meskipun saya sudah sok tau bahwasanya memang kita ini harus tulus dan ihlas, namun tulisannya Bang Arif kali ini makin menguatkan tekad. Jangan menyerah, masih banyak janda janda janda kaya yang kegatelan dan perlu kepuasan badan *pletak*
“Masih banyak bidadari lain di muka bumi ini”
Dan Abang mendapatkan bidadari bukan lokal. Buah manis dari kesabaran. Selamat sekali lagi. Selamat juga buat si junior yang bakalan hadir.
Terimakasih Rid untuk ulasannya. Hahaha, untung ada kamu. Jadi saya bisa belajar nih berbahasa-indonesia yang baik dan benar.
Terimakasih yaa buat doanya.
Januari 3, 2008 at 8:45 am
Malah sekarang katanya lebih banyak bidadarinya ketimbang perjaka
Cerita yang seru, mengharukan, ringan dan lucu… keren abis lah!!
Eh Cilincing tuh dimana ??? Deket ama Cimahi gitu ???
Btw… ritual sblm nembaknya boleh juga tuh gw catet. (maklum mumpung perjaka)
Cilincing, sebuah desa kecil di pesisir utara Jakarta. Ada di pinggir laut. Saat ini letak geografisnya sudah 0,25 inchi di bawah permukaan laut.
Januari 3, 2008 at 10:44 am
wah..kalau ttg tips nembak cewek ada jg diblog aku.cok liat di http://tempepenyet.com/?p=5.
hihihi….promosi…*kabuuuurrr*
Januari 3, 2008 at 12:28 pm
Suer, ini cerita terindah yang aku baca hari ini. Makasih ya. Elo memang termasuk orang-orang aneh dalam tulisanku.
Sama-sama terimakasih. Terimakasih sudah mampir, Bung Awaludin
Januari 3, 2008 at 12:29 pm
@ purnama, di Indonesia kalo menurut wikipedia, jumlah penduduk cowok udah lebih banyak daripada penduduk cewek. Jadi ngga valid lagi kalo pake alasan cewek lebih banyak untuk bisa Voligami (eh emang siapa ya yang ngomong Voligami)
Januari 3, 2008 at 11:56 pm
@ 48 (awaludin)
Huaaa… Berarti yang udah jadi Bapak-Bapak jangan pada poligami donk !!!
Apalagi yang dipoligami masih gadis…
Kan kita para perjaka jadi kesusahan
Januari 4, 2008 at 1:05 pm
wow…cinta tak mengenal bentuk fisik dan latar belakang. cerita yang sangat menarik bang..
kenapa nggak dibikin sinetron aja?
Wah nggak laku Cik. Muka saya nggak mirip bintang sinetron.
Januari 4, 2008 at 1:07 pm
terima kasih atas postingan ini. sangat membuka mata dan mencerahkan…
Sama-sama Chika. Terimakasih sudah mampir dan komen.
Januari 5, 2008 at 11:27 am
cerita mengharukan sekaligus agak membuat saya tertawa… salut, atas masa lalumu ini
3 tips jitu banget, terutama buat cowok. Kasihan, bagi yang tidak mengikuti tips-tips berikut
(Seperti teman saya, yang ditolak mentah-mentah)
Laris manis kaga, ya, kalau dijadiin sinetron? (Mumpung bagus-bagusnya based on a real story) Hihi, jadiin film, saya pasti nonton
Ada tulisan di blog ini yang bahkan sudah dijadikan film, Mbak. Tapi sayangnya bukan sinetron, melainkan film dokumenter.
Januari 5, 2008 at 12:52 pm
ha ha ha ha…
Arif sekali akhir penylesaianya rif…. lho kok sama sama-sama rif…
Januari 5, 2008 at 8:36 pm
masih adakah wanitah yang begitu sekarang ini bang?
lagi-lagi terpesonah sayah
Ayo coba cari. Insya Allah, saya doain Alma dapat jodoh yang baik. Amiin.
Januari 7, 2008 at 9:32 am
Nama kita sama..Arif
Kecengan kita 2 huruf awalya sama..R dan I
Tapi nasib kita………………………Keknya sama..
Ini Arif yang katanya ’scammer’ itu yaa?
Whehehe, bangga saya dikunjungi orang terkenal.
Januari 7, 2008 at 12:25 pm
makasih bang atas sebuah cerita yg sungguh sangat menginspirasi…
sebuah jawaban yg tulus dari seorang wanita…
ternyata arti terima kasih itu gede ya.. hiks hiks
Terimakasih sudah mampir
Januari 8, 2008 at 3:01 am
[...] Selama ini saya menganut faham yang juga dianut oleh Bangaitop, Wadehel, dan Joesatch yaitu membiarkan komentar masuk tanpa mengedit atau [...]
Januari 16, 2008 at 7:40 am
Bwahaha… patah hati kuadrat
Tambah lagi isi kamus pribadi saya.
Menunggu buku Cilincing Undercover
Januari 30, 2008 at 8:42 am
waaah…dasar gila
-irvan-
newmedia
Oktober 10, 2008 at 4:31 am
[...] demikian ada juga pengalaman unik yang bisa membuat orang mellow seperti aku yang sukanya bernostalgia tersenyum…(halah)Dan ada [...]
April 20, 2009 at 5:42 am
waduh mas aip..
kren bgt prjuangan nya,,,
inspirasi nih buat aq,.
Oktober 30, 2009 at 9:15 pm
Salam Kenal…
Indonesia Page – All About Indonesia
The Adsense Site – Guide to Online Adsense Earning