Januari 25, 2008
Kenapa Di Password ?
Posted by bangaiptop under Kontraversi, Orang Indonesia, Republik Indonesia, Security(*Tulisan panjang yang menjawab mengapa ada tulisan yang di password dalam blog ini. Dan satu lagi, maaf yaa kalau pertanyaan pada posting kemarin belum dibalas*)
Ada beberapa orang pembaca yang bertanya, mengapa ada tulisan yang disandi (password) dalam blog ini.
Saya sebenarnya malas untuk menjawab. Bukankah itu hak prerogatif saya? Itu tulisan, mau saya password kek, mau saya kencingin kek, mau saya gamparin sampai nungging kek? Apa urusannya sama orang lain?
Tapi apakah bijak menjawab dengan kalimat seperti itu?
Indahkah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang menusuk hati?
Apakah saya menjadi lebih tinggi derajatnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dengan kalimat tertentu yang memicu amarah?
Jawabnya simpel, TIDAK! Tapi jelas, ini pendapat pribadi. Sangat masih bisa dibantah atau dipertanyakan lebih kanjut.
Dan akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak. Maka itu, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang simpel,
“Mengapa di password?”
Senin 09.00 Pagi, November
Saya dapat telpon di kantor dari ibu, di Cilincing. Isinya kabar gembira. Beliau dan adik-adik saya sudah menyiapkan acara pesta pernikahan saya.
Pesta ini sebenarnya bukanlah pesta. Melainkan hanya sekedar undang-undang kerabat dekat, sanak saudara dan tetangga. Tapi, yaah, kita sebut saja pesta. Sebab akan banyak orang yang bergembira. Dan saya dan calon istri lah yang paling bahagia, karena akan menikah.
Rencana pernikahannnya, bulan depan, bulan Desember. Saya dan calon istri beserta keluarga mereka akan bertolak menuju Cilincing. Awal bulan Desember. Hari baik bulan baik. Meninggalkan kabut dan udara musim dingin negeri yang kami tinggali saat ini.
Hari ini, saya bekerja dengan amat riang gembira. Siapa yang nggak seneng? Kawin euy! Hahaha. Sampai-sampai dalam hati saya teriak-teriak “Oh kawin, here I come! Cihuy Marihuyy!”
Senin 10.00 Pagi, November
Ada satu jaringan komputer yang bermasalah di kantor. Data susah dikirimkan. Ketika saya cek, ternyata masalahnya di teknis kabel, bukan pada jaringan peer to peer. Saya membungkuk ke bawah meja, mencari router dan kabel yang bermasalah.
Sebenarnya ini menyebalkan, sebab saya tengah diskusi dengan beberapa rekan untuk membuat sebuah aplikasi perangkat lunak yang ramah bagi rekan-rekan kerja kami yang mengalami kekurangan di bidang penglihatan. Namun karena mau menikah… Apa saja, walaupun menyebalkan, terasa terlihat indah. Hahaha.
Ketika sedang membungkuk, ada suara dibelakang saya. Kepala saya menoleh sebentar, sebab itu suara atasan saya rupanya. Beliau memerintahkan saya ke bandara, “Arif, besok pagi Munir datang. Besok ngantor lebih pagi. Tolong jemput ia di bandara yaa”
Wah, saya kaget banget. Tiba-tiba dapat tugas dadakan. Maklum, besok saya libur dan sudah janji mau pacaran sama si Eneng Geulis (*yang belum naik pangkat jadi Ibu Nyonyah*), kekasih saya. Kami mau jalan-jalan di sungai di hadapan kantor saya. Indehoy lah dikit. Maklumi saja, mau nikah. Dunia terasa milik bedua.
Maka itu, wajar dong kalau saya protes pada atasan “Pak, Cak Munir kan udah gede. Ngapain pake dijemput segala”
Atasan saya diam sejenak. Lalu berkata pelan, “Rip, beliau itu kesini bukan hanya mau sekolah. Tapi juga mau bantu kita menangani beberapa kegiatan. Salah satunya adalah impunity, proyek yang kamu handle saat ini. Kamu ini seharusnya bersyukur Munir datang. Ketika kamu nanti pulang ke Cilincing, beliau yang akan membantu kamu handle sementara proyek itu”
Kali ini saya yang tertegun. Malu.
Cak Munir itu memang terkenal cerdas dan baik luar biasa. Orangnya ramah. Dan kalau menolong orang lain, benar-benar serius membantu. Dan saya rupanya teramat bodoh, meninggalkan kantor tanpa memikirkan pengganti saya secara sementara. Sebab impunity adalah proyek yang lumayan berat. Tujuannya adalah para penjahat perang dan HAM di Indonesia diadili di mahkamah HAM dunia. Dan meninggalkan proyek ini tanpa bantuan seorang profesional seperti Cak Munir adalah kebodohan yang luar biasa. Saya sampai mau menepuk jidat. Akibat malu dan merasa bodoh.
Saya mengangguk menatap atasan saya.
Lalu mengambil telpon dan berbicara pada orang di seberang sana, “Neng, abang kudu jemput temen besok sore. Kapan-kapan aja yee jalan-jalannye. Abang janji, nanti hari kita jalan-jalan nyang banyak deh. Pokonya ampe muter-muter empang deh.”
Suara di seberang sana lemah, lirih namun mengiyakan. Ahh Neng… Maapin abang yee.
Selasa 09.00 pagi, November
Saya sudah siap-siap mau pakai jaket. Udara di luar sudah cukup dingin, sekitar empat derajat celcius. Maklum, ini musim dingin. Pesawat yang ditumpangi Munir akan datang satu jam lagi. Namun saya sudah harus siap-siap berangkat.
Jarak dari kantor saya, sebuah kantor jaringan HAM di Amsterdam menuju bandara Schiphol, bandara tempat Munir datang, sekitar 45 menit. Itu pun sudah dihitung dengan waktu menunggu trem dan kereta, yang selalu berubah-ubah di Amsterdam.
Jadi, saya masih punya waktu 15 menit menunggu nanti.
Telpon di ruang tamu tiba-tiba berdering.
+ “Goeie middag, met Arif”
- “Rif, kamu stand by di kantor. Jangan kemana-mana” (*suara atasan saya*)
+ “Lah, pesawatnya bentar lagi nyampe, Pak”
- “Kamu ini gimana sih. Pesawatnya udah nyampe dari tadi”
+ “Ya oloh, kasian banget Cak Munir nungguin. Aduh dosa saya nih, bikin orang nunggu”
- “Munir meninggal”
DUG! Saya terdiam.
Lama saya kehilangan kata-kata. Saya tidak mampu bilang apapun untuk mengungkapkan kekagetan yang tengah menyelimuti.
- “Halo..Haloo… Arif, kamu masih ada?”
+ “Iya .. Iya… Masih pak”
- “Kamu standby di kantor. Di bandara udah ada Ratna ama Erwanto dan teman-teman lainnya. Kamu di kantor. Banyak orang akan datang dan menelpon”
+ “I… Iya Pak. Eh tapi… Tapi…”
- “Kata dokter, Munir sakit”
Saya masih terdiam.
Selasa 18.00 Sore, November
Saya menelpon Eneng Geulis, bahwa besok pun nampaknya saya tidak dapat menepati janji. Ada kabar duka. Teman saya meninggal. Si Eneng ikut berduka. Saya bilang, ada kemungkinan suatu hari di minggu ini banyak yang akan datang. Dan saya, pasti akan jadi seksi sibuk.
Si Eneng bertanya “Aye bisa bantu ape, Bang? Trus nyang ngasih tahu istrinya Munir bahwa suaminya meninggal, siapa, Bang?”
Saya menggeleng pelan.
Saya tidak tahu jawabnya.
Dalam hati terus berduka.
Beberapa hari kemudian 19.00, November
Hari ini tahlilan di kantor kami. Dari sore, sudah banyak orang yang datang. Saya sudah lupa kesedihan yang melanda. Bukan karena apa-apa, melainkan kantor sibuk sekali.
Banyak sekali manusia yang simpati yang datang melayat dan tahlilan. Dari teman-teman Timor Leste, Maluku hingga konjen-konjen negara tetangga. Teman-teman Papua, dan Aceh pun berdatangan (*Saya suka menggunakan kalimat teman pada mereka, daripada exile, manusia yang disingkirkan dari negaranya karena membela kepercayaan yang mereka punya*). Belum lagi kalangan politisi dan aktivis internasional. Pendek kata, banyak manusia yang datang.
Semua orang merasa kehilangan.
Saya dibantu beberapa mahasiswa Indonesia, menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu.
Malam itu, saya sedemikian sibuk. Usman (Usman Hamid) yang memberi pengantar pada acara tahlilan, saya cuekin. Bahkan saya sendiri nggak ikut tahlilan. Sibuk mondar-mandir ke dapur. Bikin kopi, bikin teh, nyiapin tempat sampah, mengosongkan tempat sampah.
Sibuk lah pokoknya.
Karena capek mondar-mandir. Saya mengaso di dapur. Ada tiga perempuan disana. Dua orang kakak beradik dengan nama unik, Gungyu dan Gungtri. Satunya lagi, Mbak Ratna, dosen. Di samping saya ada si Ucok (Rusdi Marpaung) yang baru datang dari Indonesia tadi sore. Sibuk dia membagi-bagikan rokok kretek, barang mewah di negara ini, kepada kami.
Dua orang kakak beradik itu memulai pembicaraan, “Aneh, kok sakitnya enggak ketahuan di Jakarta. Kan sebelum berangkat sekolah seharusnya sudah ada general check-up“
Mbak Ratna menyahut “Sepengetahuan saya begitu. Biasanya pihak sekolah meminta catatan medis mahasiswa luar negeri. Dan dilampirkan sebelum kedatangannya ke sini”
Saya menoleh pada Ucok, “Cok, lo liat Cak Munir ngecek ke rumah sakit dulu sebelum berangkat”
Ucok menjawab, “Iya lah. Jelas gua tau. Catetannya ada di Suci . Pulang check-up, gue nongkrong ama almarhum”
Malam itu, saya terheran-heran. Dan mulai bertanya-tanya, bahwa ada sesuatu yang salah.
12 November 2004
Kami ditelpon pihak forensik. Almarhum Munir diracun oleh Arsenik.
Esoknya, koran-koran lokal maupun internasional ramai memberitakan, aktifis Indonesia di racun di pesawat.
Pembunuhan di Udara pada seorang putra terbaik yang pernah dilahirkan dari rahim bumi pertiwi.
Teori konspirasi mulai merebak.
Dari Jakarta, teman-teman jaringan HAM memberitakan bahwa kantor mereka di Jakarta disabotase. Semua air minum dibubuhi racun.
Ketika membaca koran, saya sadar bahwa saya akan gagal pulang ke Cilincing. Menikah tanpa pesta. Jauh dari sanak saudara. Cilincing, semakin lama, semakin jauh dari mata.
Suatu hari pada 2007
Hari sudah berganti hari. Musim mendera tubuh ini berkali-kali. Saya coba memutuskan untuk tetap melangkah. Hari-hari menjadi sedemikian letih. Terutama melihat kabar Indonesia dari berita. Baik berita yang bersumber dari ‘berita pemerintah’ seperti ANTARA (*yang punya RSS*) hingga koran kuning online. Semuanya sama, penuh duka dan tragedi.
Saya harus bersyukur. Sebab dari berita, republik tercinta tubuhnya jauh lebih terkoyak-koyak. Penuh darah… Penuh nanah. Saya harus bersyukur, kondisi saya jauh lebih baik. (*Walaupun bingung, apa yang harus saya syukuri, seluruh jiwa saya tertinggal di sana, di Cilincing tercinta*)
Pollycarpus, sudah masuk penjara. Sebagai tertuduh pembunuh Munir. Berperan sebagai malaikat maut penerbangan antara Jakarta-Singapura.
Tapi, setolol-tololnya saya, tidak mungkin percaya hanya Polly yang membunuh Munir. Loh, memangnya ada dendam apa ia pada Munir? Segoblok-gobloknya saya, tetap saja menyangka bahwa ia adalah salah satu pembunuh bayaran yang dibayar dari pajak Warga Negara Indonesia.
Hari dan hati menjadi sedemikian letih.
Dalam kesedihan, keletihan, dan bingung memikirkan masa depan negeri. Tiba-tiba dalam inbox email saya, masuk email luar biasa.
Isinya BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus-kasus Munir. Semuanya lengkap. Terdiri dari kesaksian saksi-saksi yang berada di beberapa negara.
Saya kaget luar biasa. Si pengirim, adalah diplomat kenalan saya. Apa maksudnya mengirimkan email-email ini? Apa ia tahu saya blogger? Andai tahu, apa maksudnya, bukankah ini dokumen rahasia negara?
Yang lebih kaget lagi, ternyata kepolisian RI benar-benar menyelidiki kasus ini secara serius. Tidak mungkin seorang Kombespol (Komisaris Besar Polisi, setingkat Kolonel) wara-wiri di beberapa negara untuk mengecek ulang naskah-naskah itu.
Awal April 2007
Saya putuskan membuat sebuah posting di blog ini. Isinya tidak terlalu penting. Hanya sekedar curhat yang tidak jelas mengenai kasus penyelidikan Munir. Namun yang penting adalah linknya. Saya menyertakan link-link BAP kasus Munir pada postingan tersebut.
Dua jam setelah posting, 3 April 2007
Ada telpon dari Cilincing. Adik sepupu saya dan beberapa orang tetangga, dalam telpon itu, menyesalkan langkah yang saya ambil, mempublikasikan dokumen negara di blog ini. Diantara mereka ada yang berstatus polisi.
Mereka bilang “Bang, kasian. Nanti ada orang yang belom tentu salah keseret-seret. Tunggu pengadilan, Bang. Sabar aja dulu”
Saya kecewa, saya jawab “Lo tau ga pada… Lo pikir gue kaga sabar apa coba? Kurang sabar apa gua, kawin jauh-jauh di kampung orang? Kurang sabar apa gue, gara-gara bajingan-bajingan pembunuh itu nama Indonesia jadi semakin kagak keruan bentuknya?”
Si Bustomi, tetangga saya menyahut pelan, “Bang, itu dendam… Istigfar bang… Istigfar”
Saya tiba-tiba terdiam. Astaga, ia benar. Saya dendam.
Dendam selalu menghasilkan kebencian… Dan kebencian hanya akan berujung pada penderitaan.
Yang jadi masalah, penderitaan siapa?
Dan daripada menjadi masalah besar. Dua jam setelah publish, saya sandi tulisan tersebut. Semua BAP digital yang ada, saya lepas tautannya. Saya jadikan dokumentasi pribadi. Tidak akan saya berikan pada siapapun. Dan apabila RI memerintahkan, barulah akan saya hancurkan.
Sebab dokumen itu, jatuh ke tangan saya secara tidak sengaja. Si diplomat menekan tombol ‘kirim ke semua’ di perangkat lunak pengelola email yang baru saja ia pelajari. Intinya, salah kirim.
Tiga bulan kemudian, Juni 2007
Raymond Latuihamalo alias Ongen hadir dalam persidangan RI. Saya kaget, loh kenapa Ongen bisa-bisanya ada di pengadilan Munir?
Saya kenal Ongen. Dia itu penyanyi, spesialis lagu gereja. Orangnya ramah. Saya pernah bertemu beberapa kali. Setiap bertemu, selalu bercanda. Ia murah senyum.
Saya tanya adik saya… “Kok Ongen ada pengadilan?”
Adik saya menjawab, “Dia itu ‘Si Gondrong’ yang ada di BAP yang lo sebar kemaren?”
DUG! Hati saya berdegup kencang. Dalam hati tidak karu-karuan rasanya. Sebab untung saya mendengarkan nasihat Bustomi dan adik sepupu saya. Apabila tidak, maka tulisan saya akan membentuk sebuah opini publik yang tidak karu-karuan bentuknya pula.
Maksud hati menolong mempercepat pengungkapan kasus Munir… Malah-malah salah-salah, saya justru menjebloskan orang yang tidak bersalah dalam tuduhan publik. Apabila itu terjadi, maka tulisan-tulisan saya bukan hanya dipertanyakan kredibiltasnya, melainkan juga dianggap menghasut dan membuat resah masyarakat.
Untung… Sekali lagi, untung, saya mendengarkan nasihat Bustomi.
Pelajaran berharga tahun 2007 buat saya pribadi: Perjuangan itu membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Hari ini, menuliskannya memang sungguh mudah. Namun ketika menjalaninya. Aduh, berat sekali. Terutama ketika harus mendengarkan orang lain, bahwa tulisan saya berpretensi merusak. Ego saya seakan dikoyak-koyak.
Ya sudah… Sekarang belajar melawan ego yang semakin lama semakin merubung.
Maka itu, balik lagi ke pertanyaan “kenapa tulisannya di password?”
Jawabannya simpel, “Supaya ego saya nggak sok-sok’an dan semakin nggak tahu diri”
Ahh… Lagi-lagi jawaban yang sungguh egosentris.
(*Satu lagi, tulisan yang disandi karena ada foto keluarga. Hubungannya apa dengan tulisan kali ini? Pikirkan saja sendiri. Saya sudah cukup merasa egois hari ini, memberi terlalu banyak jawaban versi pribadi*)
Januari 25, 2008 at 3:41 pm
Kadangkala, bahkan sebuah kebenaran pun tak selalu menjadi sebuah kebaikan bagi semua pihak tatkala diungkapkan.
Iya Pak Dee. Saya juga kadang bingung, ada ungkapan, katakanlah yang benar walaupun pahit. Mengacu pada istilah tersebut, maka saya katakan lah, bahwa FPI itu salah. Sebaiknya dibubarkan. Tapi ternyata tidak membawa kebaikan rupanya. Contoh, pendukung FPI pada ngamuk semuanya ke saya. Hehehe.
Januari 25, 2008 at 4:23 pm
tapi karena poto itu saya jadi inget bang aip
dan mudah-mudahan dikasi paswot bukan karena komen saya
Bukan Om Caplang. Dikasi paswot emang karena jatahnya cuma seminggu. Ibu Nyonyah agak khawatir dengan aktifitas blogging saya. Dan saya sendiri juga khawatir dengan aktifitas blogging saya yang memicu fitnah. Maka itu di publish tulisan tersebut. Dan dikasih password demi menghargai privasi keluarga sendiri.
Januari 25, 2008 at 4:59 pm
Wah…
jawabannya lebih dari cukup bang aip. wah, saia jadi pengen mbukak-mbukak berita soal munir…
*meluncur ke gugel*
Terimakasih Mas Hoek. Saya senang Mas Hoek tertarik ikut mengetahui kasus ini. Sebab kita bisa belajar banyak dari kasus ini. Antara lain, belajar tidak pura-pura buta bahwa ada manusia yang dihilangkan nyawanya secara sistematis dan terencana oleh negara.
Januari 25, 2008 at 5:33 pm
Lupa bilang, sekilas di postingan yang ada photo Bang Aip, Bang Aip mirip Hendri Hendarto yah? Yang temen maennya Oom Dede Yusuf di sinetron apa git. Maaf, OOT Bang.
Haha, saya bukan Hendri yang jago karate itu. Apalagi ada hubungan darah dengan beliau.
Januari 25, 2008 at 6:14 pm
Wah.. bang Aip selalu kebetulan ada di beberapa peristiwa penting ya?
Iya, aneh yaa? Saya juga bingung
Januari 25, 2008 at 7:52 pm
Nggak jadi kawin di Cilincing ya Rif ?
Tapi kalau kawin di cilincing, kayaknya nggak bakal balik lagi ke Londo sama Ibu Nyonyah. Habis cilincing kebanjiran sih….
*ah, jakarta yg lain jg kebanjiran kok..*
Eh, tapi kalau kasus ini sudah terbongkar keseluruhan (dan mudah-mudahan begitu), boleh kan tulisannya nggak dipassword lagi. Atau ada jeda beberapa tahun untuk membuka sebuah dokumen ?
Jangan-jangan blog Bangaip ini penuh dengan dokumen-dokumen rahasia dan Konspirasi-konspirasi ?
Hahaha… Pasti Om Fertob… Pasti saya buka, nanti kalau kasus Munir sudah terungkap total. Blog ini nggak ada dokumen rahasia, Om. Satu-satunya konspirasi yang ada hanyalah konspirasi gimana caranya agar saya bisa update secara teratur seperti blog Fertobhades. Hehehe.
Januari 25, 2008 at 8:26 pm
dan kalo sudah dendam biasanya suka makan nyawa orang, siapa aja
Benar sekali Mas Hedi. Dendam itu ada dimana-mana. Kadang khawatir juga saya, sebab sering hinggap di hati ini. Yang menakutkan adalah, seperti banalu, kalau sudah hinggap, susah hilangnya.
Januari 25, 2008 at 11:27 pm
Apakah mungkin karena ini Indonesia babak belur seperti skrg ini ya.. , karena pajak yg dibayar oleh warganya tidak digunakan secara amanah oleh sebagian oknum pemerintahan..
semoga kasusnya cepat terbongkar dengan tuntas bang..
Iya, saya juga berdoa agar kasus ini cepat selesai.
Januari 26, 2008 at 1:31 am
Tulisan ini menyadarkan saya bahwa perjuangan memang tidak bisa grasak grusuk. Walau perjuangan itu membela yang sangat mulia sekalipun.
Terimakasih Mas
Januari 26, 2008 at 2:11 am
Bang Api, Tolong ajari saya cara memilih di antara pilihan-pilihan yang sepertinya semua benar..
Jangankan kamu, saya aja kadang masih bingung. Hehehe.
Berdasarkan pengalaman saya yang tidak begitu banyak ini. Kalau sudah bingung begitu, lakukan skala prioritas. Pilihlah pilihan yang mengandung prioritas utama. First thing first.
Januari 26, 2008 at 5:07 am
kasus munir sudah diputuskan, polly bersalah dan diganjar 20 tahun. Semoga ini ndak ada kaitan dengan pilpres 2009
Semoga ini memang jadi barometer untuk menghukum bajingan-bajingan yang membuat nama Republik Indonesia makin hari semakin buruk.
Januari 26, 2008 at 5:10 am
Saya udah pernah liat foto keluarga itu sebelum di password, Bang.
oia, Pollycarpus divonis 20 tahun oleh MA.
Iya, tapi yang nyuruh dia, siapa? Apakah akan dihukum juga?
Januari 26, 2008 at 5:19 am
Wah…wah…bisa di-mengerti Bang, dan bisa di-maklumi
Satu, aku melihat dalam sebuah proses panjang ter-masuk dalam menyelesai-kan sesuatu, ntah kenapa selalu ada hal-hal atau sesuatu yang di-korban-kan
Dua, nggak nyangka ter-nyata Bang Aip ada dalam lingkaran kasus Munir juga, wow salut meskipun dengan awal yang agak meleset seperti yang abang cerita-kan
Btw, kalau mo minta di-kasih password-nya, cara-nya gimana Bang?
Nanti saya buka pada publik. Kalau waktu mengizinkan.
Januari 26, 2008 at 7:02 am
Memang kita harus abar dan hati-hati, niat baik saja tidak cukup.
Saya membayangkan betapa tertekannya bang Aip…dan pasti banyak pertanyaan dari negara lain atau mas media yang minta jawaban…dan jawabannya tak mudah….
Hari-hari setelah kejadian itu, memang berat, Bu. Ada tekanan dari banyak pihak. Bahkan tidak jauh-jauh, dari keluarga sendiri pun ada. Yang mengkhawatirkan keselamatan dalam bekerja. Namun saya pasrah saja, Bu. Yang penting usaha. Seberat apapun rasa tertekan dan ujian ini… Apapun hasilnya, … Yang penting usaha.
Makasih Bu atas empatinya
Januari 26, 2008 at 7:52 am
Salah kirim yang bahaya…..

ayo teman2… teliti sebelum berbuat sesuatu…
untung yg salah dikirimin cepet tanggap n mengerti.. salut!
sukses bang…
Makasih Mas Anto
Januari 26, 2008 at 8:36 am
satu lagi..
jadi ingat buku laskar pelangi, sang pemimpi dan endesor nya andrea hirata. salah satu hikmah yang saya ambil, tidak ada peristiwa yang terjadi tidak sengaja. bahwa apa yang terjadi di masa lalu, akan jadi petunjuk bagi kita dimasa depan. karen Tuhan tidak pernah tidur. namun tanda itu hanya terlihat bagi mereka yang memperhatikan tanda-tanda Tuhan.
seorang bangaip banyak terlibat dalam peristiwa sejarah-sejarah kelam di Indonesia.
sebuah pertanda?
Pertanda, saya kebanyakan gaul kali, Mas Edo.
Tapi saya setuju, tuhan tidak tidur.
Januari 26, 2008 at 9:54 am
humm…
dilema kaya gini yang bikin gw juga nutup banyak post di blog. Entah rasa paranoid atau kehati-hatian.
Nanti kalau kasus Munir selesai bukain lagi, yah. Toh kita semua berhak tau.
Iya, kalau sudah selesai, pasti saya buka.
Januari 26, 2008 at 12:42 pm
ya , aku nunggu aja ah
mampir ke blog saya
makasih
Nunggu apaan?
Januari 26, 2008 at 1:59 pm
sangat bisa dimengerti, semoga tidak menjadi kendala buat Bang Aip untuk terus memberikan tulisan/informasi buat kami’
terus berjuang Bang Aip.
Terimakasih, Mas. Sama-sama, saya juga berdoa agar Mas Hadi tetap sabar dan tekun dalam perjuangannya. Amiin
Januari 26, 2008 at 4:03 pm
Koq ga dipassword ..
*biar bang Aip makin marah*
Baru kali ini, saya membaca kalimat yang menggambarkan bagaimana cara bang Aip
kalapmarah. Eh, malah jadi postingan yang panjaaaaangggg sehingga membuat saya ga sempat melahapnya. Maklum sedang kepepet waktu dan benwit.Hahaha. BIsa aja Mas Eby
Januari 26, 2008 at 11:28 pm
Untunglah daku udah puas ngliat BangAip dan Ibu nyonyah seblum di password.
Rasanya kayak lagi baca bukunya CIA critanya Bang Aip ini.
Bang Aip orang huebat dan saya beruntung bisa nyasar di bloq ini yg memperluas cakrawalaku dgn cerita2 yg benar2 ada.
Geduld bang Aip. Wie goed doet,goed ontmoet. Wie zaait,zal oogsten.
Terimakasih buat nasihatnya. Saya yang beruntung, dapat pengunjung seperti Mbak Citra ini.
Januari 27, 2008 at 5:56 am
good story
Januari 27, 2008 at 6:10 am
ogitu toh alesannya..
akhirnya jadi menikah brapa bulan setelahnya? mau dong paswot nya (reply ke imelku?) hihihi..
Nikahnya bulan kemudian. Paswot? Hehehe, tak uk uk yee
Januari 27, 2008 at 7:23 am
Karena Bangaitop sudah bersedia membuka kasus Munir ini… Saya jadi tidak penasaran lagi. He he, terima kasih atas nasehat Abang dahulu lewat imel yang mewanti wanti saya tentang postingan politik..
Sekarang saya sudah tidak penasaran lagi dengan yang di kasih kata kunci itu.
Sama-sama, Rid.
Januari 27, 2008 at 2:10 pm
semoga kasusnya terungkap. tapi apa benar gara2 postingan blog bisa jadi dalam perkara?
wah sebegitu pengaruhnya blog yah.
Sudah tahu belum Rul ada blog yang bisa bikin pemerintah AS ketar-ketir?
Januari 28, 2008 at 8:49 am
yak….waspadalah…waspadalah!
*comment ini juga peringatan buat gw :d
Januari 28, 2008 at 10:08 am
hmmm…ini toh alasannya kenapa dipaswot. kadang memang dilema juga antara ingin membeberkan sesuatu demi kepentingan orang banyak, tapi kalau malah merugikan orang lain, susah juga ya…
sabar aja ya bang. mudah-mudahan kasus tersebut bisa diselesaikan. nggak berhenti seperti kasus-kasus yang lain…
Saya juga terus berdoa Cik, agar kasus ini terungkap dengan gamblang. Setiap ngeliat anaknya almarhum, sedihnya minta ampun
Januari 28, 2008 at 11:32 am
Itulah, Bang. Pembunuhan Munir jelas adalah konspirasi. Karena Polly kan tidak punya keterkaitan secara langsung dan tidak ada dendam sama Munir. Polly cuma dijadikan umpan. Jagoan2 BIN cuci tangan.
Januari 29, 2008 at 3:37 pm
tapi saya penasaran sungguh mati, bang. pengen liat tulisan yang disandi. janji, bang, ndak bakal ta’sebarin. kasih passwordnya ya, bang
Hahhaa, nanti juga saya buka Joe. Sabar lah.
Januari 30, 2008 at 10:06 am
salam kenal bang aip…
tulisannya emang bener2 top deh..
BTW tu cerita fiktif apa nyata bang?
ya untuk mengungkap kasus munir mungkin memang dibutuhkan seorang shinichi kudo …
nyata atau fiktif? Pasti orang baru yaa. Hehehe. Max, silahkan ke halaman ini.
Januari 30, 2008 at 10:09 am
ya untuk mengungkap kasus munir mungkin diperlukan seorang shinichi kudo
Februari 11, 2008 at 3:54 pm
sebenernya gue pengen nulis kutipan - kutipan keren tentang gimana susahnya menjaga perilaku jika sedang marah , tapi takut salah tulis. nanti malah keliatan bodoh…
cuma pengen bilang kalau keputusan yang Bang Aip ambil tepat sekali!!!…
*dua jempol naik!!!!*
Terimakasih atas dukungannya
April 3, 2008 at 5:17 pm
[...] Hari ini, 40 tahun yang lalu, seorang pejuang hak-hak sipil tewas mengenaskan. Sebuah pembunuhan politik, yang bukan kali pertama terjadi di negara yang mengaku paling demokratis sedunia itu. Namanya Michael Luther King, Jr. tapi orang lebih mengenalnya sebagai Martin Luther King, Jr. Di post ini, saya akan menyebutnya dengan MLK. Ia seorang pemuka agama, pemimpin gerakan kaum kulit hitam, penentang perang Vietnam, peraih nobel, dan mengakhiri hidup dengan cara yang sama dengan Abraham Lincoln, JFK, John Lennon, dan bahkan Munir. [...]
April 7, 2008 at 4:08 pm
[...] Hari ini, 40 tahun yang lalu, seorang pejuang hak-hak sipil tewas mengenaskan. Sebuah pembunuhan politik, yang bukan kali pertama terjadi di negara yang mengaku paling demokratis sedunia itu. Namanya Michael Luther King, Jr. tapi orang lebih mengenalnya sebagai Martin Luther King, Jr. Di post ini, saya akan menyebutnya dengan MLK. Ia seorang pemuka agama, pemimpin gerakan kaum kulit hitam, penentang perang Vietnam, peraih nobel, dan mengakhiri hidup dengan cara yang sama dengan Abraham Lincoln, JFK, John Lennon, dan bahkan Munir. [...]