Hampir setiap hari, akhir-akhir ini, saya menonton debat kandidiat presiden Amerika. Baik dari partai republik serta lawannya, partai demokrat.

Tidak secara langsung, jelas. Sebab saya saat ini tidak tinggal di Amerika Serikat. Namun secara online. Dan itu sudah membuat saya cukup senang.

Mengapa saya senang? Ada tiga jawabnya;

1. Karena lucu

Lucu itu sebenarnya kata sifat yang bentuknya abstrak. Apa yang saya anggap lucu belum tentu lucu buat orang lain. Tapi melihat seorang kandidat partai republik yang terkenal amat religius dan keras menjawab pertanyaan mengenai jenderal angkatan darat yang gay, serta apa pentingnya bible, bagi saya, sebuah hiburan tersendiri.

Bukan jawabannya yang lucu. Tapi bagimana raut wajah sang kandidat yang berusaha menahan emosi dan menjawab dengan jawaban yang dia anggap ‘normal dan netral’ lah yang lucu.

2. Karena demokratis

Pertanyaan-pertanyaan pada setiap partai, dilontarkan melalui medium video. Sehingga, setiap orang yang merasa berkepentingan untuk bertanya, dapat bertanya dengan sebebas-bebasnya.

Caranya, si penanya merekam pertanyaannya melalui video. Lalu video itu di-unggah pada halaman khusus YouTube, penyedia jasa konten video gratis. Kandidat yang tertarik menanggapi, akan menanggapi apa yang ia bisa tanggapi.

Dari contoh diatas, dapat dilihat, mana kandidat yang banyak menanggapi pertanyaan-pertanyaan penanya hingga yang tidak.

Rakyat dapat melihat langsung, kandidat mana yang cerdas dan tidak cerdas. Yang sok tahu, kampungan, bloon, dan tidak tahu diri… cepat kelihatan. Sebab rakyat dapat melihat langsung calon pemimpinnya menjawab pertanyaan mereka.

Dan itu bagi saya, demokratis. Sebab rakyat tahu siapa pemimpin mereka.

3. Karena bisa ditonton

Ya iya lah. Kalau nggak bisa ditonton, gimana melihatnya?

Salah satu yang menarik dari debat kandidat presiden Amerika adalah aspek fasilitas yang tersedia dan terbuka bagi publik. Setiap orang, yang punya koneksi internet dan mau menonton, bisa melihat debat tersebut.

Bahkan katanya, yang lebih dahsyat adalah, apabila anda berbahasa Inggris dan bertanya mengenai kebijakan kandidat, walaupun bukan warga AS, akan dijawab juga oleh kandidat. Dan ini adalah salah satu alasan mengapa acara ini menarik untuk saya tonton.

Lagi asik-asiknya nonton debat kandidat, saya tiba-tiba dapat email. Isinya mengejutkan. Dari Rojak, temen saya di Cilincing. Yang mengejutkan adalah, isi email itu menceritakan keinginannya untuk bunuh diri.

Yang parah, sebenarnya bukan masalah bunuh dirinya. Yang parah adalah, ia mengemas email itu menjadi sebuah surat yang menarik.

Pertama, ia bertanya mengenai kabar kehamilan istri saya. Lalu menceritakan usahanya yang bangkrut. Selanjutnya, karena stress, ia curhat kepada Odoy, teman saya juga.

Nah ternyata si Odoy ini juga lagi stress, gara-gara usahanya di Mal Cempaka Mas hampir bangkrut. Dua orang stress ini lalu mulai mengeluh tentang dada yang sesak karena hutang terlalu banyak. Dan lalu dua orang Cilincing ini mulai berpikiran untuk bunuh diri.

Di akhir surat, ia pamit dengan berkata bahwa ia tengah menggunakan fasilitas warga untuk memakai internet. Dan ia tidak enak memakai fasilitas umum demi kepentingannya pribadi. Lalu mendoakan jabang bayi saya agar lahir dengan selamat.

Lalu bertanya lagi, bagaimana cara bunuh diri yang paling baik?

Bagaimana reaksi saya membaca surat itu?

Saya bengong di depan monitor. Dalam hati, saya mikir “Ini bocah-bocah… Udah pada tua, kelakuannya masih aja belaga gila. Pake acara mau bunuh diri segala. Udah gitu, masih kepikiran make internet nyolong dari hotspot itu dosa”

Sebagai teman yang baik… Lalu saya mulai menulis panduan bunuh diri yang baik dan benar di surat balasan kepada Rojak. Ini balasannya;

PANDUAN BUNUH DIRI (yang baik dan benar)

1. Kalau bukan selebriti, jangan bunuh diri cepat-cepat.

Jadilah selebriti lebih dahulu. Agar kematian kamu dikenang oleh publik sebagai sebuah tragedi bersejarah. Misalnya: Kurt Cobain hingga Hitler atau Cleopatra hingga Marlyn Monroe. Kalau bukan seleb, jangan bunuh diri. Sebab nama kamu nggak bakalan masuk ke wikipedia.

2. Bunuh diri sendirian hanyalah akan menjadi noktah dalam statistik makalah mahasiswa filsafat atau kedokteran.

Maka itu, agar sukses, sebelum bunuh diri buatlah sebuah sekte. Isinya orang-orang yang senasib sepenanggungan. Jadikan diri kamu nabi mereka. Kalau mereka percaya kamu nabi, utusan tuhan, atau manusia suci… Barulah ajak mereka kedalam teori kamu akan ‘pembebasan jiwa dari raga’. Kalau kamu tidak punya pengikut, ngapain bunuh diri? Rugi.

3. Sebelum bunuh diri, bilang pada orang-orang kamu mau ‘meninggalkan dunia untuk selama-lamanya secara sengaja’.

Nah dari sana, kamu bisa lihat, orang yang peduli dengan kamu. Biasanya, ada yang nangis, ada yang meratap-ratap, dan pasti ada pula yang melarang-larang. Semakin banyak yang meratap, menangis dan melarang, semakin hebat lah kamu. Nah, kalau tidak ada yang menangis, meratap dan melarang… JANGAN BUNUH DIRI.

Ingat, kalau tidak ada yang peduli kamu mati atau hidup, JANGAN BUNUH DIRI. Sebab aksi kamu sia-sia belaka.

Belajarlah dari blogger yang membunuh blognya dengan sengaja. Apakah ia menjadi tenar? Atau malah hanya jadi angin selintas belaka? Sebab jadi blogger itu enak. Ngaku-ngaku saja pada publik bahwa ia akan membunuh blognya, pasti banyak yang akan komentar serius. Kalau sudah mengaku akan bunuh diri, tapi tidak dapat hits atau komentar, JANGAN BUNUH DIRI!

4. Jadilah fasis sebelum bunuh diri.

Kalau kamu berniat mau bunuh diri. Kamu pasti bukan fasis. Sebab hitler itu walaupun fasis, bunuh diri bukan gara-gara kepingin, tapi gara-gara Nazi Jerman sudah kalah dari sekutu.

Sebab walaupun sangat amat layak bunuh diri, fasis itu biasanya ogah mati. Malah berniat hidup selama-lamanya, agar bisa menindas manusia lain lebih lama.

Nah, kalau kamu banyak hutang, putus cinta ditinggal kekasih, terlibat masalah pelik, jangan bunuh diri. Sebab kalau banyak hutang, bilang saja kepada pemberi hutang, kamu nggak bisa bayar. Lalu cari solusinya bersama. Kalau patah hati, belajarlah menunggu. Tunggu tiga bulan lagi, pasti ada perubahan. Kalau terlibat masalah pelik, cobalah berenang. Berenang itu baik untuk menyelesaikan masalah. Tidak percaya? Jangan bunuh diri, belajar lah berenang dahulu.

5. Pakailah cara yang tidak konvensional.

Sebab kalau cuma gantung diri, minum obat nyamuk, nyilet nadi… Itu mah biasa. Dan sekali lagi, yang biasa itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Ngapain kamu bunuh diri kalau tidak menimbulkan reaksi? Maka itu pergunakanlah cara yang tidak biasa.

Contoh; Jadilah orang kaya, pemilik perusahaan terkenal merangkap menteri, lalu buat perusahaan kamu ngebor tanah dan menimbulkan lumpur yang luar biasa tak terkira, bau dan panas. Nah, ketika kamu tahu, bahwa kamu sudah mencederai begitu banyak umat manusia dan harus bertanggung-jawab sementara kamu tidak tahu jawabnya, terjunlah ke lautan lumpur. Kematian kamu pasti akan membuat anak buah kamu serta merta membereskan lumpur itu cepat-cepat. Sebab mereka tidak mau atasan kamu,  keluarga kamu hingga selir-selir kamu melakukan hal yang sama. (*maap, contoh ini sebenarnya kurang tepat. Tapi saya nggak punya contoh lagi euy*)

Sambil cengar-cengir saya sudahi surat pada Rojak. Saya tulis salam penutup dibawahnya, ‘p.s: Semoga Sukses’

Sebelum memencet tombol ‘Kirim’, tiba-tiba saya lihat si Rojak online. Kami chat. Ini chatnya;

+ “Rip, pakabar luh”
– “Sehat gua”
+ “Pusing gua nih. Mao mati aja rasanya”
– “Iya, gua tau”
+ “Trus gimana dong”
– “Bentar, jangan mati dulu… Gua kirimin email dulu”

Lalu saya kirim email pada Rojak. Agak lama ia tidak membalas chat. Sampai 10 menit kemudian, ia melanjutkan;

+ “Tae luh, ngasih nasehat kayak ginian”
– “Yaelah, lo kan nanya gimana cara bunuh diri”
+ “Ahh bokis banget email luh” (*bokis = bohong*)
– “Emang lo kenapa sih sebenernya?”
+ “Usaha gue gulung kasur nih. Udah lebih parah daripada gulung tiker”
– “Emang napa?”
+ “Kaga laku men”
– “Itu kan biasa. Namanya juga dagang, ada untung ada rugi”
+ “Bukan cuma itu aja men. Semua warung di kampung kita, udah ampir bangkrut”
– “Lah, kok bisa?”
+ “Udah kaga ada lagi yang belanja? Orang-orang pada susah semuanya”

Saya bengong. Bingung mau jawab apa.

Tadinya, saya mau menyarankan agar Rojak berdagang tuhan. Bukankah sebentar lagi kampanya pemilu? Dan berdagang tuhan, pasti laku.

Sepanjang sejarah pemilihan umum di Indonesia, hampir semua partai memperdagangkan tuhan demi mendapatkan pemilih. Di depan orang Jawa, daganglah tuhan orang Jawa. Di depan orang Kalimantan, daganglah tuhan orang Kalimantan. Di depan keturunan Arab, daganglah tuhan Arab. Begitu seterusnya.

Tuhan adalah dagangan yang laku menjelang pemilu. Mulai dari pemilihan lurah versi kampung hingga presiden.

Butuhkah Indonesia YouTube agar kandidat bisa berkampanye dan menjawab pertanyaan rakyat? Tidak! Sebab rakyat Indonesia butuh tuhan.

Sebab tuhan adalah kalimat yang akrab di hati rakyat Indonesia. Dan karena akrabnya, seperti televisi pada kamar tidur kita, ia menjadi milik siapa saja.

Maka itu, dagang tuhan, pasti laku.

Tapi, bukankah berdagang tuhan jauh lebih nista daripada bunuh diri?

Layar monitor memperlihatkan sebaris kata dari Rojak

+ “Rip… Rip… Kemana lo, kok bengong aja?”

Saya tidak mampu menjawab. Hanya diam termangu menatap kursor yang berkedap-kedip.

Bunuh diri itu keji, namun menyuruh Rojak untuk berdagang tuhan demi lari dari himpitan hidup yang sementara ini… Sungguh jauh lebih keji.

Dan membiarkan para calon pemimpin kita, memperdagangkan tuhan demi kepentingan pribadi mereka? Demi kekuasaan yang cuma secuil itu? Bukankah hanya membuat kita sama kejinya seperti mereka?

(*p.s: Rojak nggak jadi bunuh diri. Dia memilih berenang di Pantai Marunda. Deket rumah si Pitung. Pulang berenang, bukannya bunuh diri, malahan mancing bareng si Odoy, si Amat dan adek saya, Si Gugun*)

About these ads