Januari 2008


(* Didedikasikan untuk: Sekolah Ubuntu, SERRUM, GuhPraset, DeKing, Emjie, Siwi, JeJe, AriMargo dan blogger-blogger serta non blogger luar biasa lainnya yang akan menyusul*)

Janji untuk menulis pada tanggal 15 Januari ternyata cukup membuat saya, yang bikin janji, kehebohan sendiri. Saya pun menulis. Dimulai pada Januari tanggal enam hingga berakhir tadi pagi. Hehehe, ada-ada saja.

Tapi saya tetap harus menepati janji, dong. Apapun yang terjadi. Sebab apabila tidak… Nanti mirip kutukan dalam syair lagu dangdut;

Kau yang mulai, kau yang mengakhiri,
kau yang berjanji… kau yang mengingkari
Kegagalan Cinta - Album HARAM - Rhoma Irama
(Musica Record, 1990)

Maka itu, sejak tanggal enam Januari hingga tadi pagi, tujuh lembar kertas ukuran A4 habis saya tulisi. Isinya menceritakan apa yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2008.

Setelah jadi, saya habiskan setengah jam untuk membaca tulisan itu.

Habis membaca… Saya bengong. Terpana membaca tulisan saya sendiri.

Kaget luar biasa alang kepalang. Dalam tulisan saya, seakan setiap paragraf berbau busuk. Kalimat-kalimat meruam di udara bagaikan bangkai tikus dengan isi perut terburai. Sungguh memuakkan. Penuh dengan sanjungan pada diri sendiri. Penuh dengan kata yang menunjukkan kesombongan dan rasa takabur.

Ahh… Betapa malunya.

Akhirnya saya hapus tujuh lembar itu. Lalu mulai mencoba menulis dengan kertas baru. Sambil mendumel… Lama menulis, habis waktu habis tenaga. Ternyata isinya cuma memuja-muja diri sendiri. Ampuuun deh!

Dan ini, tulisan dengan kertas terbaru hari ini. Selamat menikmati;

(lebih lanjut…)

Tak terasa, sudah hampir satu tahun saya nge-blog mengenai Indonesia. Dulu, setahun lalu, tepat tanggal 15 Januari saya mengklaim sebagai hari kelahiran blog saya ini.

Sebelumnya saya sudah ngeblog sih. Tapi saat itu, isinya masih belum jelas. Gado-gado campur. Ada isinya pengalaman pribadi, ada tips komputer dan bahkan ada tulisan-tulisan lainnya yang sama sekali nggak penting seperti ungkapan kesal kepada (mantan) menkominfo Pak Sofyan yang saya anggap mengkhianati IGOS, Indonesia Goes Open Source. Ya sudah lah, dimaafkan saja. Toh beliau nggak membunuh banyak orang dan lalu ikut-ikutan makan uang negara dan abis itu pura-pura sakit biar nggak diadili. Namanya juga manusia, seperti saya, kadang khilaf. Yaa dimaafkan saja. Yang penting IGOS itu harus tetap jalan.

Walaupun begitu, tetap saja itu blog gado-gado.

Apa salahnya blog gado-gado? Yaa nggak salah sih… Namanya menulis, kalau niatnya baik, apa salahnya?

Tapi entah kenapa, rasanya ada yang mengganjal saja.

(lebih lanjut…)

« Previous Page