Februari 2008


Gatal berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Dalam Jaringan amat menarik sekali artinya.

Gatal, menurut kamus itu adalah:

1. Berasa sangat geli yg merangsang pada kulit tubuh.
Contoh kalimat: Kepalaku gatal benar karena banyak ketombe.

2. Mendatangkan perasaan gatal.
Contoh kalimat: Ulat bulu itu gatal bila disentuh.

3. Suka atau ingin bersetubuh (terutama perempuan).
Contoh kalimat: Ia dicaci maki, dikatakan perempuan gatal.

4. Ingin sekali hendak berbuat sesuatu (memukul dan sebagainya).
Contoh kalimat: Tangannya gatal, hendak meninju kawannya.

Entah kenapa saya tiba-tiba tangan saya gatal lalu menulis gatal dalam mesin pencari di internet. Entahlah. Padahal saya sedang mencari data mengenai peta perpolitikan RI di mata blogger Indonesia.

Loh kenapa? Apa pasalnya saya mencari blogger yang paham politik? Apa hubungannya dengan gatal? Jangan-jangan saya masuk dalam kategori blogger gatal?
(lebih…)

Ada dua tipikal orang Cilincing. Itu kata si Gugun, adek saya.

1. Orang Cilincing umum.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian orang-orang berkumpul, lalu ikut gabung dalam keramaian itu. Tidak mau tahu, itu acara kedukaan, kegembiraan, kesakitan. Pokoknya, kalau ada keramaian… Hanya satu kata: Ikuuut!

2. Orang Cilincing yang kelaparan.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian, lalu bertanya, “Ada makanan disini?”. Kalau ada, ia ikut bergabung. Kalau tidak ada, ia meloyor pergi. (lebih…)

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan tamu. Sama seperti tamu-tamu lainnya. Tamu kali ini pun istimewa. (*Sebab semua tamu saya anggap istimewa*)

Satu tamu, adalah seorang guru besar. Titelnya profesor. Di Indonesia, ia Paus untuk bidang ilmu yang digelutinya. Sudah agak sepuh. Rambutnya beruban dimana-mana. Kalau saja rambutnya agak gondrong sedikit dan jenggotnya pun juga gondrong pula, maka anda akan melihat sosok Albertus Dumbledore, guru Harry Potter, di wajah bapak ini. Tapi saya tidak berani bilang begitu dihadapannya. Dosa ahh, ngeledekin orang tua. Kualat nanti. Hehe.

Nah, si Pak Albertus Dumbledore (kita sebut saja Pak Albert) ini membawa rombongannya. Para tenaga pengajar dari Indonesia.

Mereka, bertamu di rumah saya karena pesawat mereka singgah di bandara dekat rumah. Tujuan utamanya, mereka akan ke melawat ke beberapa negara untuk mengadakan perbandingan pola pengajaran.

Tamu yang datang, semuanya delapan orang. Titelnya panjang-panjang. Latar belakang keilmuannya pun berbeda-beda. Ada yang tua, ada pula yang muda. Mereka semua, mengajar siswa dengan kualifikasi S (strata) yang banyak.

Hari itu, saya amat hati-hati berbicara. Manusia-manusia yang bersekolah hingga tingkatan S dan selebihnya itu biasanya Super Sangat Sensitif Sekali Sih. Nah, kali ini, saya bicara dengan guru-gurunya. Ampuun. Bibir saya yang tidak bagus ini makin saya kunci rapat-rapat.

Saya lafalkan wirid ampuh saya di dalam hati, yaitu, ‘Rip, jangan sampe keliatan goblok… Jangan sampe keliatan goblok’. Berulang-ulang dalam hati. Berkali-kali.

Mantra ajaib itu saya baca. Tujuannya hanya satu, agar hati-hati bicara.

Mereka datang, kedinginan. Maklum suhu masih musim dingin. Diluar rumah, sekitar tiga derajat. Suhu ruang tamu saya naikkan jadi 21 derajat. Agar para tamu istimewa ini nyaman. Saya hidangkan pula teh.

Omong-omong soal teh. Tamu saya, sebagaimana tamu Indonesia lainnya, menyukai jenis minuman ini. Dan karena saya pun doyan teh dan punya koleksi teh, maka tamu-tamu saya ini semakin nyaman saja.

Nah, kalau sudah merasa nyaman adalah adat timur orang Indonesia untuk saling bercakap-cakap. Bertukar pengalaman. Bertukar keilmuan. Dan kadang, bertukar kesombongan. Tapi untunglah, tamu-tamu ini kelihatannya bukan orang sombong.

Maka itu, mulailah tamu-tamu saya ini memulai percakapan. Saya dalam hati, semakin melafalkan wirid ampuh yang diragukan keampuhannya oleh saya sendiri.

Bapak XX, seorang pengajar dari Universitas Melati di Tapal Batas, membuka percakapan. Topik yang menarik. Beliau berkata begini;

Pak, masyarakat kita itu percaya, tenaga medis, tenaga hukum dan tenaga pendidik itu pekerjaan yang mulia. Karena berkaitan langsung dengan hidup manusia yang paling inti. Tapi kenapa, jika dokter sebelum praktek di lapangan itu disumpah? Kenapa hakim dan pelaku sidang itu bersumpah sebelum melangsungkan pengadilan? Tapi kenapa, guru, tenaga pendidik seperti kita ini tidak disumpah dan bersumpah apapun sebelum memberikan pendidikan?

Buset dah! Bingung saya dapat pertanyaan seperti itu.

Saya blingsatan di tempat duduk. Baru sadar. Bahwa semua orang di ruang tamu saya adalah pendidik. Bahkan istri saya, walaupun seorang guru SD, tetap saja tenaga pendidik. Hanya saya seorang, anumerta tenaga pengajar.

Gimana saya menjawabnya. Pertanyaannya berat sekali. Mengapa guru tidak disumpah atau bersumpah?

Percuma saya jadi Bangaip yang menyandang gelar Top di belakang nama kalau tidak tahu trik menjawab pertanyaan seperti ini. Maka itu, ketika diskusi mulai bergulir. Kursi saya pindah ke samping Pak Albert Jenggot. Tujuannya cuma satu, agar Pak Albert menjawab lebih dahulu pertanyaan ajaib itu. Hihihi.

Namun, Pak Albert Jenggot bukanlah Paus di bidang keilmuan tertentu, kalau tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. Maka itu beliau menjawab. Jawabannya penuh dengan kalimat bijaksana. Namun, tetap saja membingungkan. Sebab lebih ke arah filosofi kehidupan. Dan di akhir kalimat jawabannya, beliau berkata, “Mari kita minta pendapat pada saudara Arif. Beliau ini kan ahlul bait. Pemilik rumah. Kita harus menghormati beliau. Silahkan saudara Arif…”

Aje gilee. Dalam hati saya menggerundel, “Apes gue…, makin tinggi sekolahnya, makin pinter pula alesannya”.

Wah gawat. Saya keringet dingin. Padahal suhu ruangan hangat. Ya sudah… Saya jawab pertanyaan itu dengan sebuah cerita.

Bapak-bapak, ibu-ibu… Begini. Di waktu luang, saya ini kadang-kadang menulis blog. Sebuah media apresiasi publik di internet. Sebuah media berbagi.

Beberapa teman saya, juga menulis blog. Dan saya pun mendapat teman dari dunia blog itu.

Sebagaimana dunia offline. Dunia blog online itupun terdiri dari manusia-manusia nyata dan segala problematikanya. Ada yang terkenal karena tulisannya. Ada pula yang tidak terkenal. Yang terkenal, disebut sebagai seleb blog.

Diantara seleb blog itu ada beberapa orang yang perprofesi sebagai tenaga pengajar. Sebagai guru.

Dua hari lalu, ada seorang seleb blog sekaligus guru yang mempublikasikan kesalahan mahasiswanya di depan publik. Kesalahan sang mahasiswa cukup fatal bagi sang guru. Yaitu, walaupun sedang mengambil pendidikan master, namun tidak becus menulis daftar pustaka”

Hadirin diam, menyimak cerita saya. Salah seorang ibu dari Universitas Kuda Terbang bertanya apakah ia sepertinya mengenal tokoh yang saya ceritakan. Saya mengangguk. Membenarkan nama yang si Ibu sebut. (*Ternyata si Ibu XY ini blogger juga. Hehe*)

Hadirin berbisik-bisik. Sebab nampaknya mereka juga mengenal tokoh tersebut. Wajar. Sang guru seleb ini tokoh publik sih.

Saya lanjutkan cerita;

Tidak lama setelah sang guru seleb ini mempublish tulisan mengenai tindak laku mahasiswanya. Ramai sekali forum chat para guru membicarakan hal ini. Topik yang dibicarakan beragam. Antara lain:

1. Apakah layak seorang guru memarahi siswa di depan publik?

2. Kalau pun layak. Apakah produktif? Menakuti seribu ayam dengan membunuh satu monyet dihadapan mereka? Bukankah ini yang disebut metode pendidikan terror?

3. Apakah ini efek tidak langsung fenomena ketenaran? Andai sang guru bukan selebriti, apakah ia layak memarahi siswanya di depan publik?

4. Guru juga manusia. Ia juga bisa berbuat kesalahan. Tapi, apakah menyenangkan jika suatu saat ketika ia berbuat kesalahan lalu kesalahannya dipublikasikan di depan publik oleh atasannya dengan kalimat yang mencengangkan? Apakah itu yang disebut belajar dari kesalahan?

Istri saya menatap saya dengan tatapan mata ganjil. Saya terdiam sebentar. Hadirin di ruang tamu menatap saya pula dengan tatapan mata ganjil.

Dalam hati saya kembali mengucapkan wirid-wirid ampuh yang benar-benar saya ragukan ketokcerannya. Nampaknya, wirid saya gagal.

Saya makin banjir keringat dingin. Astaga! Sepertinya saya makin terlihat goblok di ruangan ini.

Saya memaki diri sendiri dalam hati.

Saya lirik, Pak Albert Jenggot mengangkat tangan kanannya sedikit. Ia melirik ke arah arlojinya. Lalu berdehem sebentar. Nampaknya meminta perhatian dari publik.

Beliau berkata “Bapak-bapak, ibu-ibu… nampaknya pesawat kita akan berangkat sebentar lagi. Kita harus check-in ke bandara. Terimakasih Arif dan Nyonya yang telah berbaik hati”

Tidak lama kemudian, mereka semua pamit.

Saya mengantar mereka menuju bis ke bandara. Ketika pintu bisa menutup. Roda-roda mulai berputar perlahan. Dan bayang mereka menghilang di tikungan.

Dalam hati menuju rumah. Pulang. Sambil jalan kaki, saya mulai bertanya-tanya dalam hati.

Apakah wirid saya ampuh?

Atau guru di Indonesia yang tidak perlu disumpah? Karena dengan begitu, mereka bebas berbuat apa saja pada siswanya.

(*Anda bebas berkomentar. Kecuali jika di samping anda, saat ini duduk Pak Albert Jenggot. Manfaatkanlah beliau untuk menjawab. Hehe*)

Ada seorang sahabat saya, blogger dari Cilincing (yang malu mengaku sebagai anak Cilincing entah karena alasan apa), menulis email. Ia bertanya. Pertanyaannya menarik, “Bagaimana agar blog saya dibanjiri komentar?”

Ia tidak peduli, walaupun setelah itu ia saya kirimkan link tulisan Fatih Syuhud yang berjudul “Jangan Terobsesi Komentar: Blog Pakar dan Non-Pakar”. Ia hanya peduli satu hal. Yaitu, bagaimana caranya agar dapat komentar yang banyak?

Sebenarnya ini pertanyaan basi. Kalau ia mau googling sedikit saja, banyak sekali tips di dunia internet untuk memberi tahu bagaimana cara mendapatkan komentar. Tapi nampaknya, ia terlalu malas untuk googling. Sebab ketika saya jawab dengan “Googling dong!”

Ia respon dengan “Males ahh, lo dong. Lo kan yang jago. Buat apa lo jadi temen gua?”

Saya ketawa. Ketawa capek. Hehe. (lebih…)

Tulisan yang saya anggap dengan semena-mena menarik juga:

- Selama 2007 Terjadi 79 Kasus Kekerasan PRT
Demo Pembantu Rumah Tangga di Semarang
Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli…
HIV/AIDS

Saya punya dua topik yang menarik (buat saya pribadi) dalam beberapa hari belakangan ini.

Pertama, masalah komentar di blog.

Saya sering menulis mengenai tulisan yang dibuat komentator blog di blog saya ini. Baik komentator di blog saya, maupun blog lainnya. Baik dalam nada bercanda hingga yang serius. Dan tanggapan pembaca, beragam. Ada pro ada kontra. Wajar.

Kebetulan, syukurlah jarang yang ‘mengencingi’ blog saya dengan bensin pertamax. Syukur, dapat pembaca yang berkomentar dengan bijak, penuh pertimbangan dan cerdas.

Baik pro atau kontra, umumnya komentator blog saya kelihatannya orang-orang pintar dan baik hati.

Nah, karena (menurut saya pribadi) para komentator ini adalah orang terpelajar, maka pertanyaannya pun ala orang terpelajar pula. Cerdas, tegas, langsung dan kritis. Bukan ala preman, pukul dulu baru argumen. Melainkan melalui proses pencarian data, lalu bertanya.

Dan ini lah yang menarik. Sebab setiap komentator, datang dengan latar belakang ilmu yang berbeda. Memandang topik tulisan melalui kacamata yang sungguh berbeda-beda.

Bagusnya, melalui kacamata yang berbeda, para pembaca isi tulisan hingga isi komentar, dapat melihat sebuah permasalahan dari banyaknya pernyataan maupun pertanyaan yang terlontar.

Apesnya. Tidak semua pertanyaan bisa saya jawab. Hehehe. (lebih…)

Setelah membaca tulisannya Mbak Chika mengenai sebuah film Indonesia. Saya jadi susah tidur. Bukan karena gara-gara membaca itu saya jadi mimpi buruk, atau malah mimpi basah. Melainkan karena ada satu bait tulisan Chika yang membuat saya terobsesi.

Tanpa sepengetahuan Chika, saya kutip semena-mena di blog ini (*Maap yaa Chika, hehe*). Ini kutipannya:

Selain itu di film ini banyak kata-kata kotor! OMG~ inilah yang membuat moral masyarakat Indonesia menurun karena film selaku media massa memberikan konsumsi yang tidak baik bagi penontonnya.

Menarik sekali. Sebab, selain tumben Chika bicara moral, Chika juga bicara mengenai film sebagai sebuah tuntunan yang memberi asupan pada hidup pemirsanya.

Ini amat menarik. Minimal buat saya.

Kenapa?

1. Kata-kata kotor dalam film (lebih…)

Udin Petot makin menggila. Sejak dilihat bahwa banyak orang yang tertarik menanggapi pertanyaannya mengenai lagu Indonesia paling romantis. Kini ia bertanya lagi. Lagi-lagi pertanyaan yang ia lontarkan, saya rasa cukup ajaib. Baru saja saya chat bersamanya.

Saya nongkrongin chat room sebab sedang mencari programer ASP untuk proyek terbaru. Sialnya, tidak ada seorangpun programer kenalan yang online. Yang ada, malahan Udin Petot, yang bertanya;

+ “Bang, kapan, dimana, dan gimana enaknya untuk menyatakan cinta?”
– “Yee bocah. Pertanyaan lo yang soal lagu romantis Indonesia udah dijawab tuh ama banyak orang. Terimakasih dulu dong”

Sebenarnya saya tidak enak juga sih memaksa Udin. Seharusnya ucapan terimakasih itu sifatnya kan sukarela. Dan terimakasih yang ikhlas adalah doa yang luar biasa.

Tapi sebagaimana sikap seorang teman yang baik. Selayaknya, ketika temannya lupa, yaa diingatkan. Maka itu, saya coba untuk mengingatkan Udin.

Nah, tadi barusan siang ada email. Ini saya copy paste dari inbox penerima email saya. Ini pesan dari Udin Petot.

“Terimakasih temen-temennya Bang Aip. Saya akan manggung nanti jam 7 malem. Hari valentine. Di depan kantor karang taruna. Saya akan bawain beberapa lagu yang diusulkan bangaip, kangguru, phyrrho, aureliaclaresta, errander, citra dan titiw. Bukannya yang lain saya nggak mau. Tapi nggak ada kasetnya. Terimakasih atas idenya. Doain saya bisa jadian abis nembak doi.
Bang, bantuin dong. Gue kepengen banget nih pacaran. Udah ngebet gua nih. Bosen jomblo mulu. Kali-kali aja gue bisa dapet jodoh orang bener terus kawin. Kayak solikin gitu lah. Bantuin dong!”

Hehe. Saya cengar-cengir bacanya.

Akhirnya, satu jam saya habiskan untuk tanya-tanya kiri kanan. Pada teman-teman yang online. Pertanyaan yang simpel tapi susah jawabnya:

“Bagaimana cara terbaik dalam menyatakan cinta?”

Saya kebingungan menjawabnya. Emangnya saya pakar cinta? Kenapa tiba-tiba orang-orang jadi pada romantis begini? Gimana menjawabnya?

Ya sudah, mumpung masih di chat room. Saya tanya beberapa teman yang sedang online. Ini ada beberapa jawaban buat Udin. Saran dari Bommal, Iin, Siwi dan beberapa teman lainnya.

Sebelum menjawab, semuanya bertanya, “Temen lo cewek apa cowok, Rip“.

Saya jawab, “Cowok

Tipe cewek yang mau dia tembak gimana? Romantis, cuek, apa gaul abis?

Wah mana gue tau. Yang mau dia tembak cewek atau cowok aja gue ngga tau

Nah teman-teman saya kebingungan juga nih. Wah saya jadi nggak enak. Gara-gara si Udin Petot, semua orang kebingungan. Tapi untunglah teman-teman saya orang baik. Jadi pula akhirnya mereka memberikan beberapa tips. Saya catat baik-baik.

Dan kebetulan, ini ada beberapa diantaranya;

1. Pakai Mawar

Katakan cinta dengan mawar. Paling bagus dan romantis, berikan mawar di tepi pantai ketika matahari terbenam.

2. Di tepi sawah

Ungkapkan cinta di tepi saung. Di pinggir sawah. Ketika hujan gerimis mulai turun. Sungguh amat romantis. Dan jangan lupa, dilakukan pada pagi hari. Agar lebih syahdu. (*Teman saya yang memberikan tips ini adalah seorang petani*)

3. Kalau niatnya mau menikah, pakai basa-basi dengan kalimat ini

“Kita punya kesempatan buat ngejalanin hubungan ini kearah yg lebih serius. Kamu mau gak ngejalanin bareng saya? Kalau kamu mau, kita luruskan niat, Bismillah, mudah-mudahan membawa berkah untuk bersama”.

Lalu, ketika orang yang anda cinta sudah terlihat mengerjap-ngerjapkan mata karena kebingungan mau bilang apa, lanjutkan dengan kalimat ini “Take it or leave it?”

4. Dengan cahaya lilin

Ajak pasangan yang kamu cintai ke tempat lapang dan tidak terlalu terang untuk makan malam. Kalau tidak punya kebun, loteng rumah yang datar juga bagus. Pakailah pakaian yang bersih dan rapih. Wangi sedikit lebih bagus lagi. Nyalakan banyak lilin. Kalau bisa, seluruh ruangan diterangi oleh cahaya lilin. Putar musik instrumental volume rendah.

Pegang tangannya. Tatap matanya. Dan katakanlah cinta.

5. Piknik di taman kota

Ini cocok buat para pencinta yang bujetnya pas-pasan. Yaitu, ajak pasangan ke taman kota. Bawa keranjang makanan sendiri. Dan jangan lupa kalau bisa bisa main musik, mainkan alat musik di depan pasangan kamu. Setelah itu, bacakanlah puisi cinta. Kalau kamu tidak bisa membuat puisi cinta. Saatnya untuk googling. Carilah puisi cinta yang paling bagus untuk dibacakan di depan orang yang akan kamu tembak. (*ini tips dari teman, mahasiswa merangkap anak kost*)

6. Dengan prestasi

Ketika kamu berprestasi memenangkan sebuah event pertandingan. Nyatakanlah cinta kamu pada si dia yang sedang menonton kamu bertanding. Ketika menang dan ada kesempatan memegang mike. Teriaklah “Aku cinta kamu Yuni!” (*ini saran dari teman saya yang petinju*)

7. Di Alun-alun Suryakencana

Alun-alun suryakencana
adalah nama padang edelweis yang ada di Gunung gede. Nyatakan cinta pada di padang edelweis ini. Pada ketinggian 2750 meter Di atas Permukaan Laut. Matahari atau bintang jadi saksi tak begitu berarti. Karena di padang ini, cinta bagaikan bunga edelweis. Selalu abadi.

Yah, baru segitulah saran yang saya kumpulkan buat Udin Petot. Saya berdoa semoga ia mendapat jodoh yang ia idam-idamkan.

Namun, jelas saja saran-saran yang saya kumpulkan itu tidak seberapa banyaknya. Dan mungkin saja tidak terlalu kondusif dengan kondisi Udin.

Nah pembaca… Maka itu, sekali lagi saya mohon maaf. Lagi-lagi meminta tolong yang sifatnya amat pribadi pada anda. Yaitu sudikah anda kiranya berbagi pengalaman sedikit. Untuk menjawab pertanyaan ini:

“Bagaimana cara terbaik dalam menyatakan cinta?”

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.