Maret 2008


Ada pertanyaan yang menarik beberapa hari lalu. Dilontarkan oleh seorang sahabat. Pertanyaannya simpel, yaitu, “Mengapa tubuh wanita lebih menjual daripada tubuh pria?

Saya lagi duduk bersamanya di kantin. Tersedak.

Pertanyaannya sedemikian menarik. Sebab tiba-tiba membuat manusia satu kantin menjadi hening. Kantin itu cukup luas loh. Mampu menampung 40 orang sekaligus. Mendadak semua mata memandang saya curiga. Seakan meminta jawaban.

Kampret! Asem!

Saya sudah siap-siap menjawab dengan logika tricky (*tipikal khas bangaiptop, haha*). Mencari sebuah jawaban berdasarkan kondisi dan situasi. Memanfaatkan suasana. Yaitu, pertama, bahwa kami saat itu sedang ada di sebuah gedung penyedia jasa internet terbesar. Kedua, karyawannya kebanyakan pria muda. Ketiga, sebagian besar adalah lajang.

OKE. Jawabannya gampang. Ketemu! Mengacu pada logika, ‘apa yang dilakukan pria muda lajang, nerd, berpenghasilan tinggi dan mahir internet?’
(lebih…)

Belum pernah saya begitu banyak menerima hate speech (berupa email) sebanyak akhir-akhir ini. Khayalan iseng saya terdahulu, soal partai internet, menuai badai.

Padahal saya tidak berencana menanam angin ketika menulis artikel tersebut. Hehehe.

Rupa-rupanya, banyak orang yang tidak suka saya menulis tulisan yang berbau politis. Banyak orang yang tidak suka politik. Katanya beberapa gelintir pengirim email, ‘Politik itu haram!’.

Tulisan saya, soal partai internet banyak yang menanggapi. Saya kaget juga. Khayalan iseng itu berbuah pertanyaan, tanggapan, sanjungan, cemoohan hingga akhiran -an -an lainnya.

Secara sadar, komentar pada tulisan itu tidak saya jawab.

Agak berbeda memang. Sebab saya biasanya selalu membalas komentar. Alasannya simpel saja. Sebab tulisan itu benar-benar imajinatif. Setiap orang berhak melemparkan imajinasinya disana. Entah itu sopan maupun tidak.

Biar saja. Dibebaskan saja imajinasi yang ada. Seliar-liarnya. Sebab adakah sesuatu yang lebih liar daripada imajinasi? Biar lah publik yang menilai.

Akibat tidak dibalasnya komentar-komentar, banyak yang mengirimkan email.

Beberapa orang menulis email yang bahkan mirip senada (walaupun IP adress-nya jauh sekali berbeda). Kata mereka adalah bahwa politik itu tidak dibenarkan dalam beberapa agama. Demokrasi hukumnya haram (merujuk pada ini). Kata mereka pula, mengajarkan politik demokrasi pada masyarakat, sama saja dengan menyiarkan syiar fitnah.

Sambil senyam-senyum, saya balas satu-satu email tersebut. Diantaranya adalah, “Setiap orang boleh mengaku utusan tuhan, tapi bukankah masyarakat yang menentukan ia akan dipercaya sebagai nabi atau tidak? Itu kan demokrasi murni. Apa tanggapan anda?

Selain email berisi kebencian (*caci makinya saya sensor, hehe*), banyak juga email yang berisi pertanyaan. Ada seorang pembaca, dari sebuah daerah di Jawa Tengah, menulis dengan amat menarik. Pertanyaan beliau adalah;

Kang. Saya kira panjenengan ini ndak main politik-politikan. Ndak taunya kok yaa main politik. Apa ini kartu as panjenengan. Suka bicara soal rakyat. Tapi sekarang apa mau moroti suara rakyat?

Saya tersenyum lebar membacanya.

Alih-alih menjawab surat itu. Saya malah teringat seorang dai terkenal yang berpoligami. Loh ada apa dengan Da’i poligami? Apa hubungannya dengan politik?

Begini ceritanya; (lebih…)

Hari ini, tumben saya berandai-andai. Capek, makan siang mikir yang aneh-aneh terus. Kali ini, menulis yang ringan saja. Topiknya juga tidak kalah ringannya, khayalan.

Hmhh, apalagi yang lebih ringan daripada khayalan?

Katanya, mengkhayal kebaikan saja, sudah merupakan sebuah kebaikan. Dan (katanya) mengkhayal jorok, masih belum dosa selama belum dilaksanakan. Hehe.

Maka itu mari kita mengkhayal saja. Selama mengkhayal masih gratis dan tidak dibebani dosa, tidak apa-apa, toh? Hehe.

Kali ini, tema khayalannya adalah partai internet. Maaf, bukan mengkhayal jorok. Kalau mau mengkhayal jorok, silahkan sendirian saja. Jangan ajak-ajak saya. Tak sudi aku kalau situ mengkhayal kotor di samping saya. Apalagi menjadikan saya bahan khayalan jorok anda.

Hiii. Amit-amit jabang boneng.

Latar Belakang.

Tidak etis kalau khayalan ini tidak pakai latar belakang. Maka itu, saya jelaskan dulu latar belakang khayalan ini pada anda, penonton.

Begini ceritanya; (lebih…)

Waktu kartunisasi tokoh agama dan film yang kemungkinan besar akan memicu umat beragama tertentu marah bereaksi, akan beredar, saya amat tertarik sekali.

Personifikasi tokoh suci serta visualisasi mereka (dan ajarannya) dalam film itu memang selalu menarik. Entah bagi yang percaya maupun tidak, selalu menarik.

Tapi percayalah, saya tidak akan membahas pro-kontra film atau visualisasi tokoh-tokoh suci. Jujur saja saya tertarik memang membicarakannya. Sebagaimana setiap orang suka makan masakan hangat. Namun sayang sekali, saya paksa diri untuk tidak membicarakannya.

Kenapa? (lebih…)

Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.

Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan… E-eh, malah dapat tulisan. Lebih parah lagi, tulisan itu bukan untuk kepentingan yang menggaji, melainkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar blognya update. Hehe. Sungguh kurang ajar.

Tapi membiarkan ide terbuang begitu saja… Ahh, tidak tega.

Maka itu, saya selalu siap-siap. Jadi kalau ide, langsung dicoret-coret di tulis. Jangan sampai mengendap terlalu lama di otak. Sebab otak saya ini tipe kapasitas pas-pasan. Artinya tidak bodoh-bodoh amat dan juga tidak dapat dikategorikan cerdas.

Nah, namanya otak pas-pasan, yaa cepat lupa. Hehe. Maka itu perlu bantuan, dari Hamba Allah yang disebut pensil dan kertas.

Maka itu, mulailah saya mencorat-coret di kertas. Membuat sketsa tulisan. Ini hasil coretan iseng saya; (lebih…)

(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI. Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut ‘iuran’ untuk ganti rugi korban lumpur LAPINDO. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Artinya hanya satu: Rakyat Indonesia terus ditimpa kemalangan hutang*)

Ini adalah cerita yang sedianya akan dipublikasikan melalui buku.  Namun karena entah kenapa, malam ini saya begitu sedih. Saya publikasikan tulisan ini pada publik sebelum waktunya. (Atau malah ini waktunya?)

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.