Maret 2, 2008
(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI. Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut ‘iuran’ untuk ganti rugi korban lumpur LAPINDO. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Artinya hanya satu: Rakyat Indonesia terus ditimpa kemalangan hutang*)
Ini adalah cerita yang sedianya akan dipublikasikan melalui buku. Namun karena entah kenapa, malam ini saya begitu sedih. Saya publikasikan tulisan ini pada publik sebelum waktunya. (Atau malah ini waktunya?)
(*Karena menyangkut tokoh publik, nama pelaku dan lokasi bukanlah nama sebenarnya*)
Suatu hari, saya diundang makan siang di sebuah restoran di pinggir Jakarta. Yang mengundang teman saya, si Beno, seorang pemimpin surat kabar harian di Ibukota.
Dengan hati-hati, saya tanya kenapa ia mengundang saya makan siang. Bukan karena apa-apa. Saya bertanya hanya karena rasa sok dalam hati ini, yang mau menjaga tubuh agar tidak kemasukan makanan ajaib.
Ia jawab, “Yang ngundang bukan gua. Itu undangan Mas Belok. Yang diundang itu para redaktur koran se-Jakarta”
Saya protes, “Gua kan bukan redaktur. Lagian ngapain juga Mas Belok ngundang kita semua?”
Si Beno menatap saya dengan pandangan heran. Lalu menjawab “Lo nggak baca koran apa? Mas Belok itu mau jadi gubernur, men”
Kali ini saya yang heran. Gantian. Apa hubungannya saya dengan makan siang para bos-bos media dengan calon gubernur? Saya pribadi mengenal Mas Belok. Tapi hanya sekedar kenal. Lebih dari itu, tidak. Entah kenapa? Yang pasti, setiap bertemu, kami tidak pernah bicara satu sama lain lebih lama dari lima menit.
Maka itu, saya tidak mengerti. Kenapa saya diundang?
Sebenarnya saya pribadi enggan datang ke perjamuan antara tokoh terkenal dengan tokoh terkenal lainnya. Sebab berdasarkan pengalaman, apabila tokoh terkenal bertemu dengan tokoh terkenal lainnya, yang dikejar umumnya hanyalah publisitas belaka. Jarang yang bertemu untuk bicara kemajuan signifikan untuk rakyat.
Saya pribadi tidak anti publikasi. Kalau anti, buat apa saya menulis ini? Hehe.
Namun berdasarkan pengalaman pribadi yang sungguh tidak banyak ini, umumnya tokoh rakyat bertemu apabila media meliput. Si tokoh gembira, namanya disebut-sebut media. Semakin terkenal lah dia. Dan si peliput pun gembira, ada bahan setoran ke pimpinan. Yang artinya, dapurnya masih bisa ngebul bulan depan.
Maka itu, apabila ada rakyat kategori wong cilik bin susah macam saya ini diundang, kan sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar.
Sebab rakyat itu umumnya kan tidak diundang acara makan-makan. Rakyat itu ada, umumnya hanya untuk menjadi pendengar setia penguasa. Untuk mendengar bahwa utang negara semakin membengkak. Bahwa korupsi semakin mengganas. Bahwa narkoba semakin menggila. Bahwa… blablabla lainnya.
Maka itu… ‘Kenapa Mas Belok mengundang saya?’, adalah sebuah alasan yang cukup bagus menghadiri jamuan makan siang antara bos-bos media dengan calon gubernur itu.
Dan akhirnya, pada sebuah siang. Saya mampir ke rumahnya Beno. Diiringi lambaian tangan istrinya di pintu gerbang, kami melaju ke sebuah restoran di pinggir Jakarta. Memenuhi undangan Mas Belok.
Disana, sudah banyak orang-orang. Saya pikir ini semacam jumpa pers rupanya.
Saya duduk, memilih meja yang kebetulan ada orang-orang yang saya kenal. Di meja itu, hampir semuanya sudah saya kenal. Kecuali satu orang wanita cantik, yang kebetulan duduk di samping Beno. Wawan, sahabat karib Beno, mengenalkan saya pada wanita itu. Namanya Sasha.
Sasha itu ternyata adalah host acara talk show di sebuah stasiun televisi swasta. Ia terkenal rupanya. Pantas orang-orang tertawa ketika saya berkenalan dengan Sasha, raut muka saya yang tidak berubah. Maklum saya orang kampung. Jarang nonton tipi. Tidak paham selebriti.
Ketika sedang asyik bicara dengan Beno, Wawan, Sasha dan rekan semeja, tiba-tiba Mas Belok datang. Hari itu, ia kelihatan gagah. Pakai beskap pakaian tradisional. Ada rantai emas jam bandul terlihat di saku pakaiannya.
Mas Belok (MB): “Huahahaha… Apakabar teman-teman semua”
Wawan (Waw): “Sehat-sehat Mas. Kabarnya ini makan siang suksesi pemilihan bakal calon gubernur mendatang, Mas Belok”
MB: “Huahahaha… Ndak ahh, ini untuk menjalin keakraban kita-kita saja”
Beno (No): “Omong-omong pake delman apa Mas buat maju nanti?”
Saya melirik Sasha. Bertanya, apa maksudnya Si Beno pake delman-delman segala? Sambil senyum, Sasha berbisik. Delman itu maksudnya partai. Untuk maju sebagai gubernur, seorang calon harus pakai partai. Pada prakteknya, partai sendiri lebih sering bertindak sebagai makelar. Gampangnya, si Gubernur menyediakan uang, si Partai menyediakan massa.
Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Sasha. Dan tidak lama kemudian kembali menatap Mas Belok yang ketawa menggelegar setiap ingin memulai pembicaraan. Seakan tenggorokannya dipasangi susuk, yang membuatnya kelihatan seperti orang yang setiap bicara semua orang harus mendengar.
Kali ini, ketawa Mas Belok semakin menggila. Semua orang di ruangan menoleh pada meja kami.
MB: “HWAKHAKHAK… No, aku sudah keliling daerah tapal kuda. Kiai-kiai tujuh langit tujuh samudra sudah aku hubungi. Semuanya merestui aku maju. HWAKHAKHAK… Partai Susu Binal dan Partai Jenggot Bahagia minggu depan akan membuat pernyataan resmi dukungannya padaku”
No: “Kalau Mas Belok akhirnya jadi gubernur. Gimana kasus Lapindo, Mas. Kan nanti ada di bawah kekuasaan si Mas”
Mas Belok tiba-tiba matanya berubah menjadi beringas. Ia menggebrak meja. Tamu-tamu lain diam dan terus menatap kami. Dengan tangan kanan, Mas Belok mengacungkan jari telunjuk dan jempol. Membentuk pistol imajiner. Nada suaranya berubah, jadi serak mirip vokalis band rock JAMRUD.
MB: “Kalian tahu. Kalau aku jadi Gubernur, aku seret bosnya Lapindo ke kantorku. Aku suruh jancok itu tanggung jawab. Kalau dia ndak mau. Aku DORR jidatnya! Kalau kalian mau, masukin berita. Aku ndak takut!”
(*jancok = makian dalam bahasa Mas Belok*)
Mas Belok lalu berlalu dari meja kami. Saya, Beno, Wawan, Sasha dan semua rekan semeja saling tatap menatap. Kami bercakap-cakap sambil berbisik-bisik.
Saya: “Berapa besar peluang dia menang?”
Waw: “Nggak mungkin orang kayak begitu menang”
Saya: “kenapa?”
No: “Rip… Lo tuh layak orang susah aja. Dewasa dong! Jaman gini masih nggak ngerti urusan politik. Mana bisa orang kayak gitu menang. Jangankan ngurusin rakyat, ngurusin emosinya aja nggak bisa”
Saya: “Oohhh”
No: “Rip, andaipun ada yang kepilih, bukan yang mao matiin bosnya lapindo. Tapi yang kepilih, pasti yang dukung bosnya lapindo lah. Lo belajar dewasa dikit dong, men”
Saya diam. Bingung mau bicara apa. Siang ini, dunia orang dewasa ternyata begitu rumit.
Melihat Mas Belok keluar dari toilet, saya lalu bangkit. Saya mau ‘berterimakasih’ karena diundang makan siang. Ya, terimakasihnya pakai tanda kutip. Sebab intinya, saya sebenarnya mau bertanya, mengapa saya diundang. Saya sudah senyam-senyum mau menyapa Mas Belok.
Sebelum saya bertanya, Mas Belok menatap dengan penuh selidik, “Loh rif, kamu sekarang di media? Tadi waktu di meja kalian, saya mau tanya. Tapi saya sudah emosi duluan sih”
“Nggak mas, saya ndak kerja di media”
Mas Belok makin menatap penuh selidik, “Loh kalau begitu, kamu bisa sampai disini gimana ceritanya?”
JGERRR!! Sepertinya ketiban bom saya terpaku saat itu. Kaget luar biasa saya. Sebab ternyata saya tidak ada dalam list undangan. Dan dengan sisa keberanian yang sudah hancur berkeping-keping ditiban malu, saya berkata, “Sepertinya saya salah faham, Mas. Jadi bisa sampai disini. Maaf yaa”
Mas Belok senyum, “Nggak apa-apa. Tapi enak kan makanan di restoran saya ini?”
Saya senyum mengangguk. Mas Belok lalu mengeluarkan dompet. Memberi selembar uang sepuluh ribu. “Ini untuk ongkos pulang. Sudaah diterima saja. Saya ikhlas kok”
Saya bengong luar biasa.
Mas Belok menjabat tangan saya. Tangannya masih basah. Baru saja keluar dari toilet. (OUCH). Lalu pergi masuk lagi ke dalam ruangan. Menebar senyum pada khalayak.
Saya dengan wajah merah menahan marah, menuju Beno yang pada saat itu sedang ada di parkiran.
Baru saja hendak melabrak Beno dengan sejuta kalimat makian bagai topan badai. Beno memberikan saya telpon genggamnya. Saya kaget. Apa-apaan ini? Beno berbisik di telinga saya, “Rip, kalo istri gue telpon. Bilang aja, gue lagi wawancara Mas Belok. Ga bisa diganggu. Gue ga lama kok. Paling dua jam. Thanks man!”
Ia memberikan rokok sebungkus. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Saya lirik, di kursi samping ada Sasha.
Mereka berdua, meninggalkan saya sendirian di tempat parkir. Entah mereka pergi kemana. Apapun dapat terjadi dalam dua jam berikutnya.
Dan saya pun semakin termangu-mangu dalam dunia orang dewasa dengan cerita-cerita dewasa mereka.
Maret 3, 2008 at 1:43 am
diancuk……… dah jadi gub, belom yah?
—-
Pertanyaannya tidak bisa saya jawab. Maaf.
Maret 3, 2008 at 1:57 am
Wah Rif, sedih memang kalo melihat calon pemimpin kita (versi lokal maupun nasional) kebanyakan model yg “dewasa” begitu…. (hanya sedikit contoh yg membanggakan)
BTW, saya baca ini bukan karena judulnya loh ya? Walaupun kalo apa yg dilakukan Beno dan Sasha dalam 2 jam itu mau diceritain sih saya mau banget……
—-
Beno dan Sasha…? Bersambung. Hahaha
Maret 3, 2008 at 2:16 am
Hehehehehehe….
jadi penasaran sama Sasha…
Maret 3, 2008 at 3:40 am
Jadi orang ‘dewasa’ sepertinya kok mengerikan ya Bang Aip… :S
—-
Kalau dewasa pakai tanda kutip, memang mengerikan.
Tapi kalau tidak pakai tanda kutip, saya pikir, membahagiakan.
Maret 3, 2008 at 3:47 am
beuh…dunia orang dewas, dunia penuh kepalsuan. jadi jijik sendiri, kadang2
—-
Mbok, saya mohon maaf, kalau menuliskan sesuatu yang mbikin simbok jadi jijik sendiri. Sorii
Maret 3, 2008 at 3:52 am
Jadi menduga2 siapa gerangan tokoh2 yang namanya disamarkan ituh. Tapi kok ujungnya mala Sang penebar lumpur bebas tanggungan gituh, berarti Mas Belok-nya gak jadi gubernur dong bang?? Ato uda jadi tapi tak kuasa menahan derasnya arus dunia orang dewasa??
Sial betul jadi rakyat Endonesa. Yang nebar lumpur berjaya, rakyat kecil macem saya jadi harus ikut nanggung ganti ruginya. Eh berarti para korban lumpur yang masi bayar pajak juga itungannya ikutan bayar ganti kerugian untuk mereka sendiri dong. Mereka kan rakyat juga. Pusing…
—-
Maaf Mbak Maria, pertanyaannya tidak bisa saya jawab. Maaf.
Maret 3, 2008 at 5:02 am
bang aip aku juga punya uneg-uneg ni ttg pemerintahan kita nunut piblikasi ya bang
kan blog ku masih baru takutnya nggak ada yg comment kan jadinya nggak seru
titip ya bang tolong di publikasikan (tapi edit dulu dech bang supaya nggak malu-maluin blognya bang aip ntar)
atau abang kenalin blogku keteman-teman sebelah dech jadi ntar aku masang postingan nggak ke abang lagi,trus jadi malu-maluin blog abang).oia kasih saran juga ya bang buat postingan ku ini!
Kekecewaan terhadap Pemerintah (Pemerintah lho ya…jd bukan presiden doank)
akhir-akhir ini kekecewaan terhadap pemerintah sangat memuncak..dimulai dari :
1.Kasus lapindo dimana warga 3 desa yg desanya juga mengalami dampak lumpur panas lapindo menuntut pada pemerintah untuk desanya dimasukkan pada peta wilayah terdampak lumpur. namun anehnya pemerintah untuk masalah seperti ini saja harus berbelit2, kenapa jugaa nggak langsung dimasukkan saja,kan mereka memang benar2 terdampak oleh lumpur tersebut…apa pemerintah takut kalau hasil interpelasi menyatakan bahwa lumpur sidoarjo itu merupakan peristiwa alam maka pemerintah harus nambah pengeluaran untuk membayar kerugian 3 desa tersebut…klo memang seperti itu yaaach kecewa banget aku dengan pemerintahan ini…mereka bukan negerawan-negarawan sejati, kenapa mereka mengingkari apa yg menjadi dasar sebuah negara yaitu melindungi warganya,alamnya dan segala yg ada diwilayah kekuasaannya. ayolah apakah kita mau dipimpin oleh oknum-oknum yg hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan kepentingan partainya….yaaaa!(boyongan pindah negara yuuk!!!)
)beliau dah berjanji akan mengangkat guru2 honorer menjadi pegawai negeri. Tapiii manaaaaaa……manaaaaa???
2.masalah ibu bapak guru kita. ibu bapak guru honorer yg belasan hingga puluhan tahun dengan niat mulia YANG DENGAN SUKARELA membantu negara ini untuk mencerdaskan generasi2 muda bangsa ini walaupun dengan gaji yang TIDAK LAYAK (masa sebulan mereka hanya mendapat 100 ribu atau 200 ribu…itupun (setau ku) bukan dari pemerintah melainkan swadaya dari sekolah tempat mereka mengajar masing2).bahkan dengan gajiku sebagai pekerja part time sebagai operator warnet masih sedikit diatas mereka.
padahal presiden kita yg cakep itu di ulang tahun guru di palembang(klo nggak salah..apa di lampung ya???
ternyata nggak kita yg muda2 aja yg bisa ngegombal…bisa ngasih janji janji maniis??? yaaaa gitu deeeee!!!
memang mereka pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa.mungkin karena pemerintah sudah tidak memiliki ide lagi untuk membuat tanda jasa model apa untuk mereka (guru-guru kita).karena terlalu banyak tanda jasa yg telah diberikan pemerintah yg nggak tahu kemana tujuannya kemana arah fungsinya untuk bangsa ini.dari kalpataru…adipura…hingga satya lencana apaaaaa gitu aku kok lupa (saking banyaknya)
atau memang pemerintah ingin membuat orang2 yg berhati mulia tersebut yg hendak mencerdaskan bangsa ini ”mundur teratur” sehingga tidak ada lagi yg mau mengajar generasi2 muda bangsa ini.sehingga bangsa ini tetap menjadi bangsa bodo…sehingga mereka tetap bisa membodohi kita…
HIDUUUP PARA GURUUU…..SEGENAP SANJUNG DAN TERIMA KASIHKU UNTUK ENGKAU…TERUS TUNTUT HAK MU
3.dan yg terakhir ini yg menurutku amat Kebacut (baca : keterlaluan)
pemerintah seakan-akan sengaja membatasi gerak kaum cendikiawan (baca : peneliti) kita.untuk berkarya bagi masyarakat. ketika peneliti IPB menemukan ada bakteria sakazaki didalam susu formula bayi…yg SANGAT berbahaya bagi calon2 pemimpin kita!
pemerintah seakan2 tidak menerima penilitan tersebut,mereka berkilah sudah melakukan penelitian tersebut…klopun memang sudah kenapa tidak diumumkan pada masyarakat luas?
apa mereka takut klo itu diumumkan devisa negara dari susu2 import berkurang?kenapa sich untuk urusan berbahaya seperti ini pemerintah masih saja membuat masyarakat kita geraaam???haah kenapa???buseeeet ada yg salah kelihatannya dengan pemerintahan ini!!!
makanya aku setuju dengan kang aip yg mencari info ttg pemilu kita mendatang supaya kita nggak salah memilih orang lagi…amiiin
Thank’s bang
—-
Sama-sama, Mas Rezky
Maret 3, 2008 at 6:02 am
Duh, susahnya jadi
manusiaorang dewasa.Maret 3, 2008 at 6:39 am
haha.. mencerna cuma antara sasha dan beno
—-
Hahaha… Edisi itu ‘To Be Continued (in your imagination)’
Hahaha
Maret 3, 2008 at 6:45 am
ikut berduka cita bang..
kasian, ternyata bangaip cuma jadi k*nd*m duang to hihihi…
nasiiib nasib
—-
Ucapan belasungkawanya, diterima, Mas Edo.
Tugas sebagai k*nd*m memang berat. Kalau bagus, yaa cuman jadi muntahan sperma lalu dibungkus tissue dan teronggok di tempat sampah. Kalau bocor…, yaa dimaki-maki
Maret 3, 2008 at 10:24 am
Perlu 2 tahun untuk menyatakan bahwa Bencana Lumpur lapindo itu adalah Bencana alam.
Lhah kemaren - kemaren kemana aja ???!!
apakah ini adalah taktik mereka untuk menghindar dari kewajiban bayar ganti rugi
—-
Nah ini yang menarik. Sebab ada bocoran dari ‘orang dalam’, bahwa dalam dua tahun belakangan ini para stakeholder lapindo saling menyalahkan satu sama lain. Dan katanya, pemilik saham terbesar mencoba mendamaikan hal ini dengan menjanjikan para stakeholder tersebut solusi yang gemilang luar biasa; ‘yaitu melarikan tanggung jawab pada pemerintah’. (*secara saham ternyata dikuasai oleh beberapa orang di kabinet rezim yang tengah berkuasa*)
Saya pribadi tidak terlalu mempercayai informasi ini, sebab dukungan data tertulisnya tidak banyak. Tapi para rekan media dan rekan engineer, yang katanya punya akses lebih ke data, mendukung cerita ini habis-habisan.
Maret 3, 2008 at 10:44 am
Cerita dewasa itu…cerita yang tokoh-tokohnya orang dewasa, atau cerita yang harus dibaca secara dewasa?
Saya juga jadi termangu…
—-
Pertanyaannya sulit sekali dijawab, Mbak. Maaf, pengetahuan saya terbatas.
Maret 3, 2008 at 11:35 am
Saya bersimpati dan kasihan dgn tokoh yg sebutannya “saya” …, maka itu kalo ada yg ngundang saya hanya dgn “pinjam mulut teman” tanpa undangan resmi tak pernah saya bakal injakkkan kaki ke tpt mereka, saudara kandung sekalipun. hehehe…
—-
Simpatinya diterima.
TTD:
‘Saya’
Maret 3, 2008 at 1:54 pm
Hmmm…kayanya ‘kenal’ dg modelnya…
Maret 3, 2008 at 2:01 pm
Hwaduh…
Padahal aku selalu mendiskripsikan diri sebagai “Lelaki yang lemah terhadap tawaran Makan”.
Brati aku ya, ndak dewasa-dewasa kalo begini terus. Harus berubah!! Keburu Sasha jadi tua
Maret 3, 2008 at 2:09 pm
Kok namaku nggak bisa di klik ya?
kalo ada yang mo klik silahkan aja disini
http://pojokpradna.wordpress.com/
—-
Maaf Mas Pradna (*namanya bagus yaa*). Saya juga bingung, sudah ada beberapa orang komentar yang sama. Maaf, ada bug blog ini. Nanti coba saya laporkan ke penyedia layanan WP. Terimakasih yaa.
Maret 3, 2008 at 3:48 pm
Kalo ngomongin pemerintah Indonesia kebanyakan Uneg-Uneg keselnya dari pada senang n sejahteranya…..HARI GINI YANG MUDA-MUDA MASIH GA KE PAKE…..SEMOGA DITAHUN MENDATANG WELCOME UNTUK PARA PEMUDA INDONESIA N GA ADA TEMPAT BUAT YANG TUA-TUA DI PEMERINTAHAN INI…..yang TUA-TUA KE MESJID AJA DAH I’TIKAF ATU TAON….
—-
Sudah baca tulisannya Pak Budi (Budi Rahardjo) disini? Bagus loh, justru disana Pak Budi bertanya-tanya, apakah generasi muda Indonesia mampu mencintai Indonesia sebagaimana yang tua?
Komentar anda vs postingan Pak Budi… Kita lihat kelanjutannya.
Maret 3, 2008 at 4:14 pm
duh…seperti inikah dunia ‘orang dewasa’???
saya jadi heran kalau permainan dunia orang dewasa seperti ini, kapan dewasanya negeri ini?
—-
‘Dunia dewasa’ memang menarik. Minimal, untuk ditulis.
Maret 3, 2008 at 4:48 pm
Lha diantara semua peran diatas, berarti nggak ada yang bener dong?
Termasuk peran Bang Aip disana yang terkesan lugu?
—-
Saya lugu? Wahh, baru kali ini saya dibilang lugu. Tersanjung saya, Mas Payjo. Hehe.
Tidak ada orang lugu yang memenuhi undangan makan demi mempertanyakan maksud politik dibalik tindakan tersebut. Haha, saya tidak selugu itu, Mas Payjo. Maaf.
Sejujurnya, ada insting yang mendorong saya untuk memenuhi ajakan ‘Beno’. Entah insting apa. Tapi itu begitu kuat. Lebih daripada sekedar lapar di rongga perut.
Maret 3, 2008 at 5:19 pm
sik..sik..aku ora mudeng mas. maklum sik bayi.
—-
Ndak apa-apa, Mas.
Semoga tumbuh dewasa, dengan baik. Amiin
Maret 3, 2008 at 5:24 pm
Rumit juga ya Bang …
Ya ternyata kekuasaan (atau kekuatan atau apalah namanya) segelintir orang bisa mengalahkan (menghancurkan atau apalah namanya) kepentingan sejuta umat.
Jadi mikir … sebenarnya negara ini milik siapa ya?
—-
Kalau pakai prinsip demokrasi, negara yaa milik rakyat. Yang jadi pertanyaan, RI itu milik rakyat atau milik Machiavelli? Hehehe. Itu yang susah dijawab, King.
Maret 3, 2008 at 5:55 pm
Semangat aj yg besar ihiiik2…
ternyata nafsu …… jg besar….
Money talks a lot maan….
—-
Maap Mas Suhanda, saya tidak mengerti.
Maret 3, 2008 at 7:09 pm
Bikin perlawanan nasional yuk…(jadi provokator nih ceritanya). Selama respon dan reaksi kita terhadap prilaku para elite serba tanggung, ya susahlah mengharap terjadinya perubahan..
—-
Perlawanan nasional?
Apa bentuknya?
Kalau anti-kekerasan, saya setuju saja
Maret 4, 2008 at 12:41 am
dreaming…
Maret 4, 2008 at 4:29 am
Saya jadi ingat sebuah…
“Saat masih kecil, berniat mendamaikan dunia,
Saat sudah remaja, sadar tidak mampu, berniat mendamaikan Indonesia,
Saat sudah dewasa, sadar hanya jadi PNS, berniat mendamaikan kota,
Saat sudah pensiunan, sadar tidak punya tenaga, berniat mendamaikan keluarga,
Saat sudah tak punya tenaga, sadar tidak mau berpulang, mendamaikan diri sendiri saja tidak bisa.”
Ironi.
—-
Saya jadi inget… Ahh… Benar. Ini ironi, Debe.
Maret 4, 2008 at 5:38 am
selembar uang sepuluh ribu. untuk ongkos pulang dan pengganti rasa malu… walahhh..!! Tapi yach… kan udah berlalu juga, ambil aja positifnya, punya bahan ngeblog, rokok gratis, makan gratis + duit ce’ban
—-
Setuju, Mas
Maret 4, 2008 at 5:56 am
apa ya , ambil yang penting aja , kalo mikirin yang ngga penting malah tambah pusing
itu saja
—-
Yang nggak penting itu apaan?
Maret 4, 2008 at 6:04 am
ahhh lapindo tuh… abu rizal bakri kali yeeee….www.cendanabatam.wordpress.com
Maret 4, 2008 at 6:22 am
apa in
Maret 4, 2008 at 6:30 am
pakdhe karwo, cak naryo, si bapak pejuang, atau siapa nih ? huehehehe
—-
No comment.
Maret 4, 2008 at 7:29 am
Menohok hok !!!! .. begitulah kalo seleb ketemu seleb. Jadi ingat teori Stephen Covey tentang mau mendengar orang lain.
Bang Aib .. uang Rp.10 ribu nya jadi dikemanain?? ga ada tambahan ‘uang tutup’ mulut dari Beno hahaha
.. nasib-nasib
—-
10 ribu, buat tip pelayanan di meja kami.
Uang tutup mulut tambahan? Ndak ada Mas Eby. Hehehe.
Tapi minimal, sekarang saya punya posisi tawar lebih di media beliau. Hahaha
Maret 4, 2008 at 8:06 am
**baca komen emyou**
*tertawa sedih* emang ada tertawa sedih??
berarti matematikanya gini: misalnya A = jlh uang gantirugi yg harus dibayarkan = jlh gantirugi yg diterima,
total uang yg diterima = A - A = NOL … hiks… ga dapet apa2 ding…
Maret 4, 2008 at 8:48 am
sasha nama samaran buka ya ? hehehhe
salam kenal
—-
Blog ini memproteksi hak publik dan hak narasumber.
Apabila ada upaya untuk membongkar kerahasiaan narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya, maka komentar itu akan dimoderasi.
Saya pribadi tidak suka sensor, Mas Arief Darmawan.
Saya hanya orang yang berusaha menepati janji.
Salam kenal juga.
Maret 4, 2008 at 9:25 am
nunggu yang 2 hour version ahhh….. (*menunggu dan menunggu deh….
*)
Maret 4, 2008 at 9:39 am
Mengenaskan sekali nasibmu bang dikacangin si beno, tapi lebih mengenaskan nasib para korban lapindo deng!
—-
Saya mah nggak ada apa-apanya dibandingkan korban lapindo.
Maret 4, 2008 at 9:48 am
numpang lewat
——
Nggak sekalian aja dagang cialis ama viagra? Biar numpang lewatnya bermakna. Hehehe
Maret 4, 2008 at 11:05 am
2 jam mereka nge-laku-in apa yaks
*lugu act: on*
—-
Bersambung, itu masih ada kelanjutannya.
Maret 4, 2008 at 5:10 pm
Reply Komen no. 12 :
saya ini…’mas’,,bukan ‘mba’..
—-
Maaf, Mas. Maaf
Maret 5, 2008 at 4:22 am
huaahhhhh!!!!!
gila itu beneran cerita beneran???
mas belok yg emosian mau nge’dor’ Ical Bakrie mau jadi gubernur yg didukung partai agama?
mas beno yg ternyata ngandelin bang arip hanya untuk jadi alasan kasak kusuk sama artis?
sstt.. btw artisnya siapa? *bandar gosip mode on* mau dong! bales imel yah! *wink*
—-
Hehehe. No comment. Hehe.
Maret 5, 2008 at 7:25 am
“Dan si peliput pun gembira, ada bahan setoran ke pimpinan. Yang artinya, dapurnya masih bisa ngebul bulan depan.”
betulkah?????
yang saya tau si peliput berita selalu mengatasnamakan bahwa semua orang berhak memperoleh informasi.
maaf, bingung sih.
—-
Maaf kalau saya salah. Setahu saya, para peliput malas meliput kalau tidak digaji. Kedua, banyak sekali contoh kasus dimana para peliput, pindah wilayah liputan dan wilayah kerja, karena iming-iming gaji.
Maaf kalau saya salah. Contoh diatas hanya diangkat dari pengalaman pribadi. Dan pengalaman saya, sungguh tidak banyak.
Maret 5, 2008 at 10:05 am
Astagfiruloh.. Saya kok empati banget sama bang aip pas tau gak diundang ya? soalnya saya pernah gitu juga bang. Diajak temen diundang ke suatu acara ternyata nggak. Malunya itu loohh.. Mending sayah cuman malu. Lah bang aip? Pake acara malu, bingung, tangan jadi basah bekas pipis, plus pushing kalo istrinya si beno ampe nelpon. Ck ck ck. Bukan maen, ampun dah pemerintah!!
—-
Iya Tiw. Lemes banget deh, waktu kejadian itu berlangsung.
Saya duduk aja nongkrong di portal parkiran. Siang-siang. Panas boneng.
…Lemess.
Maret 6, 2008 at 7:40 am
Bang, Bang,
Cerita ‘dewasa’ ya selalunya emang begini ya..
—-
Tergantung juga sih Kang. Kadang yaa begini, kadang yaa tidak.
Sudut pandang saya saja lah yang mungkin membuatnya seperti ini.
Maret 9, 2008 at 2:05 pm
Jadi maksudnya: Orang orang macam mereka senang melakukan cerita dewasa…baik yang halom maupun yang halal… Gitu ya Bang?
Maret 11, 2008 at 12:07 pm
Asyik dung, bisa makan - makan…
tapi, wah, anda bener-bener orang cilincing, kalo mo diajak makan banyak bertanya….
Maret 11, 2008 at 7:29 pm
lha partai2 itu kok ya nggak liat kualitas orang yg dicalonkan to ya?
saya jadi kasian sama massa partai yang cuma dijadikan mesin pemungut suara, tanpa tau kualitas sebenarnya dari calon yg mereka pilih.
—-
Katanya, massa tersebut dinamakan floating mass. Alias, massa yang mengambang. Hehe, jadi inget yang mengambang di bawah jamban sungai. Kasian yaa, massa dianggap produksi jamban
Maret 13, 2008 at 1:23 pm
hmm… menganalisa… kasus lumpur lapindo… berarti gubernur jatim. dan kalo udah ada lumpur lapindo, berarti ceritanya ini baru2 ini dong? hmmm nyari daftar calon gubernur jatim di google kayaknya gak susah kan (gak mau sebut nama, takut di moderasi, hehehe:P)
tapi kok makan2nya di pinggiran ibukota? hmmm jadi bingung.. bangaip ini posisinya sekarang ada dimana toh? di amsterdam, jakarta, apa surabaya?
bangaip ini memang penuh misteri :).
—-
Jangan mas, jangan disebut namanya. Hehe, kalau menyebut nama nanti kan jadinya fitnah. Sebab belum tentu yang disebut adalah yang dimaksud. Hehehe.
Soal lokasi, karena pekerjaan dan keluarga, sering pindah-pindah, Mas. Maklum, buruh kecil. Harus banyak ikhtiar saya, Mas. Salah satunya, yaa ini, muter-muter ndak jelas untuk mencari nafkah. Hehe.
Maret 20, 2008 at 2:20 pm
Jiancuk…… tak kira DEWASA apaan… *hik hik hik…*
April 6, 2008 at 3:35 am
PERLAWANAN NASIONAL, kita tunjukkan bahwa kita ngerti prilaku elit, kita tularkan dengan bahasa santun pada yang belum ngerti. Kalau mereka sudah paham bahwa sebagian rakyat tahu prilakunya, tentu ruang geraknya tidak leluasa lagi, kecuali memang SINTING….!
April 9, 2008 at 1:18 am
OOoooo…………jadi BEno sama Sasha ……………mmmmmmmmmmm…..
April 30, 2008 at 6:16 am
bang Aip paling bisa kalo bikin judul
salam kenal deh…
April 30, 2008 at 4:04 pm
bang dapat darimana tuh gaya bahasanya?
lumayan bt “ngocok” perut