Maret 4, 2008
Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.
Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan… E-eh, malah dapat tulisan. Lebih parah lagi, tulisan itu bukan untuk kepentingan yang menggaji, melainkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar blognya update. Hehe. Sungguh kurang ajar.
Tapi membiarkan ide terbuang begitu saja… Ahh, tidak tega.
Maka itu, saya selalu siap-siap. Jadi kalau ide, langsung dicoret-coret di tulis. Jangan sampai mengendap terlalu lama di otak. Sebab otak saya ini tipe kapasitas pas-pasan. Artinya tidak bodoh-bodoh amat dan juga tidak dapat dikategorikan cerdas.
Nah, namanya otak pas-pasan, yaa cepat lupa. Hehe. Maka itu perlu bantuan, dari Hamba Allah yang disebut pensil dan kertas.
Maka itu, mulailah saya mencorat-coret di kertas. Membuat sketsa tulisan. Ini hasil coretan iseng saya;
Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah review film Indonesia. Sebuah film yang diangkat dari buku yang laris manis terjual di pasaran. Bukunya sendiri saya belum baca. Tapi tidak apa-apa, toh saya tidak akan membahas bukunya. Saya akan membahas reviewnya.
Hehe, menarik bukan. Sebuah ulasan yang membahas ulasan. Seakan saya sudah terlalu kurang kerjaan. Untuk apa mengulas sebuah ulasan?
Begini ceritanya; Si pengulas mencoba membuat review mengenai sebuah film yang diangkat dari novel roman religius. Sang pengulas ini kecewa. Satu, karena filmnya tidak sesuai dengan buku. Dua, karena filmnya jauh dari yang ia bayangkan. Tiga, karena pemerannya tidak relijius.
Alasan pertama dan alasan kedua, saya dapat memahami. Mulai dari 1984 George Orwell yang diangkat ke layar lebar, lalu Sin City yang bahkan disutradarai oleh penulisnya Frank Miller hingga The Kite Runner karya Khalid Hosseini, buku maupun filmnya jauh sekali berbeda. Lebih bagus bukunya.
Tapi alasan ketiga, astaga!
Apakah sebuah film relijius menjadi buruk karena pemerannya tidak relijius?
Atau sebaliknya, film non-relijius menjadi memuakkan karena aktornya rajin shalat atau tidak alpa ke gereja untuk misa atau beribadah macam lainnya (misalnya; rajin membakar kemenyan di pohon beringin)?
Mengapa saya tidak bisa memahami alasan ke-tiga. Mari saya perlihatkan dan bahas satu-satu. Tentu saja pakai kacamata dan pengetahuan saya pribadi. Jadi, amat subyektif sekali. Dan jelas amat terbatas, sebab ilmu yang saya miliki sungguh tidak mumpuni. (*selain itu, ini benar-benar sketsa iseng belaka loh. Jangan diambil hati*)
1. Pertanyaan
Pemeran dalam film, kalau laki-laki disebut aktor. Kalau perempuan, disebut aktris. Aktor maupun aktris berasal kata dari bahasa Yunani kuno, hypokrites. Dalam kata kerja berarti pula sebagai ‘Yang Menginterpretasikan’. Dalam bahasa Inggris, aktor dan aktris berasal dari kata act. Artinya tindakan atau pura-pura atau peranan atau tafsiran atau kesan.
Intinya, pemeran dalam film itu memang tugasnya untuk berperan. Ia dibayar untuk berpura-pura dengan sebaik-baiknya untuk menafsirkan peranan yang ia lakoni di depan panggung. Sehingga memberikan kesan pada penonton, sebagaimana yang penonton lihat. WYSIWYG (What You See Is What You Get). Meyakinkan penonton bahwa karakter yang ia mainkan adalah nyata.
Aktor/aktris yang baik adalah pelakon yang mampu memainkan perannya sama persis dengan karakter yang ia mainkan. Semakin baik ia berperan, semakin dikenal pula ia sebagai aktor atau aktris yang elok.
Dunia mengenal Anthony Hopkins, seorang aktor asal Inggris. Seorang pemeran watak karakter yang luar biasa. Saking luar biasanya ia dianugrahi gelar Sir, gelar-ksatria-Inggris, di depan namanya oleh Ratu Britania Raya. Ia dianugrahi gelar kebanggan rakyat Inggris tersebut, setelah membintangi film Hannibal. Sebuah film dimana Anthony Hopkins berperan sebagai Hannibal Lecter, seorang kanibal, manusia pemangsa manusia.
Ingat, Anthony Hopkins dianugrahi gelar ksatria bukan karena ia adalah seorang kanibal. Sebab ia aslinya adalah vegetaris, pemakan produk alam nabati. Ia dikaruniai berbagai penghargaan karena ia dapat berperan dengan baik sebagai seorang kanibal.
Jadi, kembali lagi ke pertanyaan, “Apakah pemeran film relijius harus relijius?”. Jawabannya dapat pula pertanyaan, “Apakah pemeran film kanibal harus seorang kanibal?”.
Atau, “Apakah aktor pemeran dukun cabul harus benar-benar cabul, doyan mengangkangi wanita-wanita setelah mengucap doa-doa?”
2. Jawaban
Untuk menjawab pertanyaan dalam poin pertama, sungguh beragam. Tidak bisa hanya dengan jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Melainkan harus dicermati konteks yang ada di belakang pertanyaan tersebut.
Mengapa?
Sebab aktor dan aktris dalam negara tertentu adalah profesi yang luar biasa. Kenyataan bahwa wajah mereka adalah konsumsi publik, adalah faktor yang membuat mereka menjadi sorotan masyarakat.
Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan sutradara dari Iran, Pak Jafar, di Festival Film Rotterdam.
Ia bilang begini, “Kamu tahu, di negara saya dan di beberapa negara jazirah Arab, ada masa dimana bintang film hanya boleh bermain dengan lawan mainnya yang bukan sejenis apabila mereka punya hubungan kekeluargaan”
Jadi, yang berperan sebagai suami bagi seorang aktris dalam film adalah suaminya sesungguhnya.
Saya ketawa. Lalu menjawab, “Enak dong kalo gitu. Walopun si suami nggak bisa akting, ia bakalan terkenal juga”.
Yang menarik adalah, tidak ada seorangpun yang ikut tertawa. Disamping saya, ada sutradara dari India. Seorang Ibu. Ia bilang, “Di negara kami, penonton kurang menyukai adegan ciuman yang dilakukan bukan oleh pasangan suami-istri yang sebenarnya”.
Saya kaget. India? Masa sih? Sebuah negara yang memproduksi film yang menjadi tontonan wajib di sebuah stasiun televisi pendidikan di Indonesia. Dimana punya produksi film terbesar kedua setelah Holywood. Adegan ciuman, saru? Hebat.
(*Mohon teman-teman yang memahami peta Bollywood mengkonfirmasi yaa kalau beliau salah*)
Jadi, pertanyaan bahwa apakah kondisi sosial pemeran film itu amat berarti bagi produksi film? Jawabannya bisa ‘Ya’ di negara tertentu.
Sekarang, balik lagi ke Indonesia. Dan kembali pula ke pertanyaan, “Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Atau sebaliknya?”
Wahh, saya pikir Indonesia punya kultur dan kearifan tersendiri yang sebenarnya sudah mampu menjawab itu semua. Sebuah budaya yang (katanya) bahkan mempunyai tradisi gemblak dalam reog Ponorogo, aksi seni peran kegiatan tradisional masyarakat lokal.
Tapi kalau memang masih ada pertanyaan, Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah, “Apakah pemeran Abu Lahab haruslah seorang yang dipanggil bajingan di lingkungan sekitarnya?” atau “Apakah pemeran Hanuman harusnya adalah aktor cerdas yang pernah dihantam Vajra dan lalu dikutuk menjadi kera?”
Ahh, kalau jawabnya hanya ‘Ya’ lalu titik tanpa koma selesai begitu sahaja, berat sekali hidup seorang bintang film.
3. Ulasan
Diantara kita, banyak aktor/aktris, sutradara, crew stage, atau pekerja film lainnya. Profesi mereka amat menarik. Namun tidak bisa disangkal, bahwa para pemeran dalam film itu lah yang menjadi salah satu sorotan utama dalam masyarakat. Wajar. Sebab warga kenal wajah mereka. Itu saja alasannya.
Mereka menangis, ketawa, kentut, buka baju, gosok gigi… Semuanya kita tonton. Karena kita tonton, kita merasa mengenal beliau.
Alasan itulah yang kemudian menjadikan aktor, aktris, pemeran film, atau siapapun yang wajahnya ada di film atau televisi, menjadi sebuah komoditas.
Ada komoditas yang berbentuk wawancara di majalah ibu-ibu. Ada yang berbentuk tayangan gosip infoteinment. Bahkan hingga sampul mengkilat sebuah produk sabun mandi yang (acapkali di lembaga pemasyarakatan) dipakai menjadi bahan masturbasi.
Lalu bagaimana kita melihat para aktris/aktor tersebut?
Sebagai komoditas?
Sebagai cermin?
Sebagai idola?
Atau sebagai apa?
Sebab apabila kita menilai mereka ‘tidak pandai berpura-pura alim dan relijius’, apakah sesungguhnya kita yang tengah menilai, bahwa kitalah yang sedang menilai diri kita sendiri.
Atau ketika kita menilai bahwa aktor intelektual di tenda sirkus kabinet wakil rakyat semakin hari semakin memualkan, apakah sesungguhnya kita tengah menilai diri kita sendiri. Bahwa kita, sebuah bangsa yang terkenal ‘alim dan relijius’, tengah membiarkan kebodohan itu terjadi begitu saja.
Tapi… Ahh, sudahlah. Jangan diambil hati. Toh, ini hanya sketsa iseng belaka.
Jangan berat-berat mikirnya. Hidup di republik ini sudah susah. Jangan ditambah susah. Hidup sudah satir kok yaa ditambah dengan satir.
Lagipula, ini sekedar coretan iseng pengisi waktu luang di kala makan siang.
(*Karena hanya sketsa iseng, maka kali ini menerima komentar iseng pula. Hehehe*)
Maret 4, 2008 at 2:21 pm
pokoknya saya ganteng!
*siyul2*
—-
*manggut-manggut. sebab kalau menggeleng ga berani, takut dikeprukin. hehehe*)
Maret 4, 2008 at 4:26 pm
Keduaxxxxx…udah bangga ni.
Wah otak yg pas2an ajha bisa nulis kayak geni..
Ini juga satir/litotes enz….
—-
Huehehe, saya sampe gugling soal litotes. Maklum, saya tidak pandai ungkapan berbahasa, Mbak Citra.
Tapi gara-gara komen ini, saya minimal tahu arti litotes. Hehehe. Terimakasih
Maret 4, 2008 at 5:51 pm
Kereen! Novel sama filemnya nggak pernah baca/nonton. Kalo cuma menyentuh sih sudah
Jauh banget antara Novel sama filemnya, ya?
Bang Aip. Sampeyan sekarang jadi seleb blog baru buat Mardies. Ntar pasti kumasukin blogroll.
—
Saya mah bukan seleb blog. Selep kulit, iyaa. Hehe. Terimakasih sudah mampir Mas Mardies.
Maret 4, 2008 at 6:26 pm
Bang Aiip…
Nggak apa-apa lah aktor2nya nggak relijius, asalkan film-nya bagus. Toh tema-nya juga nggak relijius2 amat. Cuma setting-nya aja yang Islami, kan? Yang penting, ini film nggak (lagi-lagi) mengeksploitasi dua tema klise bin basi di perfilman Indo, gay dan hantu.
Atu jangan-jangan ada hantu gay di film Ayat-ayat Cin… (Ups! kelepasan!) ini?
Auk, ah!
—-
Hantu gay? Wah, menarik juga tuh. Saya pikir tidak ada penjelasan atas perilaku seksual pada hantu. Ternyata saya salah.
Maret 4, 2008 at 7:14 pm
Asal seorang pemain film bisa meyakinkan penontonnya kalo dia itu relijius, atau kanibal, atau dukun cabul rasanya cukup.
Masalahnya penonton yang udah kadung kesal sama pemainnya (yang menurut dia tidak cukup religius untuk main di film religius) bakal susah buat diyakinkan, jadi kebawalah jelek itu repiew…
—-
Terimakasih untuk opininya, Mas. (*skarang, sudah saya ganti jadi ‘Mas’. Hehe*)
Maret 4, 2008 at 11:47 pm
Rif, setahu saya (subyektif juga loh ini
)
Kebanyakan penonton kita (termasuk saya) kan nggak masih suka mencampurkan antara kehidupan nyata dengan kejadian di film.
Mereka nonton film kan karena ingin melihat kehidupan yg “sempurna”, yang jahat kalah, yg baik menang – dan impian sempurna itu tidak ingin di rusak dengan bayangan aktor atau artis tadi bener-bener berpura-pura.
Contoh ekstrim saya spt ini : Dalam suatu film keluarga, ada peran seorang musisi yang baik hati, sayang keluarga (istri, anak, bapak & sodara semua), suka menolong musisi baru (yg nggak cakep dan sexy), kalo berkomentar selalu santun dan rendah hati. Nah kebayang kan kalo pemeran musisi itu di perankan oleh AD (itu tuh pentolan grup DEW* 18+1).
Kira-kira gambarannya spt itu…….. (komentar sok serius di tulisan sok iseng)
—-
Yang jadi pertanyaan; “Kenapa mencampuradukkan kehidupan nyata dan di film?”
Maret 5, 2008 at 1:30 am
saya gak nonton ayat2 cinta. eh, bener kan, yg diulas tadi itu ulasan film yg itu?
—-
Hehehe, saya ndak berani nyebut nama, Mbok.
Maklum, penakut. Hehe.
Kalau sudah ditanya nama…, biasanya saya jawab “No Comment”
Huehehe
Maret 5, 2008 at 2:42 am
Bang Aip, apa yang bang Aip alami, sama dengan apa yang saya rasakan. Ketika saya diberi deadline untuk menyelesaikan tulisan saya, malah ga metu-metu hehehe .. tapi ketika sedang asik kerjaan kantor, eh malah mengalir bak banjir .. mungkin lagi musim hujan kali ya.
Soal aktor .. saya sealiran dengan bang Aip. Aktor/aktris yang baik itu dapat menjiwai peran yang diberikan. Bisa jadi religius, bisa jadi penjahat kelas kakap, bisa jadi puritan, bisa jadi apa saja sesuai skenario.
Jika aktornya bisa memerankan religius karena sehari2nya dia religius, saya pikir aktor itu ga hebat. Yang hebat dan pantes diberikan penghargaan adalah jika dia aktor yang aslinya ga religius, tapi bisa dengan gemilang memerankan peran religius. Itu baru top markotop
—-
Wah bagus ini ulasannya. Terimakasih Mas Eby
Maret 5, 2008 at 3:05 am
Sayah
tersinggungtersungging dengan pernyataan ini;Pantesan orang percaya banget sama dobosan sayah, ya bang
AibAip ???—-
Hahaha…
Mas Mbel, doa nya apa sebelum ndobos?
Hahaha
(*sambil ta timpuk keju dan kincir. huehe*)
Maret 5, 2008 at 3:31 am
karena pemerannya tidak relijius.
kenapa kok pribadi pemeran yang disalahkan?
bukannya aktor dan aktris itu hanya memerankan lakon. ya sudah barang tentu kalo ada yang salah dan ketidak-puasan penonton pasti ada yang ndak beres dengan aksi akting yang dilakoninya, ato mungkin sutradaranya yang ndak becus mengarahkan.
tapi mbok ya jangan menyalahkan pribadi pemeran yang ndak relijius itu …
—-
Iya, saya juga bingung. Kenapa yaa?
Maret 5, 2008 at 3:45 am
bang, WYSIWIG (What You See Is What You Get) harusnya WYSIWYG (What You See Is What You Get, gak sih?
*komen iseng*
—-
Terimakasih, Nto. Saya koreksi sesuai nasihatnya.
Maret 5, 2008 at 3:45 am
sudah jelas artis itu komoditi, hehehe.
objek dagangan kok di infotainment.
sekedar info untuk film tersebut durasi film tersebut sebenarnya lebih dari dua jam. karena diedit dgn semena2 sampe sutradaranya sebel untuk tujuan mengejar untung jadinya ya jelek. kebetulan salah satu teman saya adalah manusia yg bertanggung jawab untuk ngedit film tersebut.
Dasar india maunya untung. dipotong durasinya aja banyak ngantri.
Untuk menjawab pertanyaan, yg gw tau pemain film bokep musti cabul. kalo enggak ga bisa “bangun”. kan emosi ga dibutuhin yng penting nafsu. betul tidak, hehehe
—-
Saya amat menghormati para komentator. Dan begitu pula hak komentar mereka. Namun saya nampaknya harus bilang bahwa komentar di bagian ini saya pikir ini agak rasis.
Iseng boleh. Rasis? JANGAN. (minimal di blog ini, jangan deh)
Maret 5, 2008 at 4:00 am
kalo aku termasuk penonton yang seperti bsw bilang d atas, untuk peran yang baik baik biasanya suka tak campuradukkan sama kenyataan-jadi kalau dia berperan baik ya harus memang ‘orang baik’ di khidupan nyata.
Beda lagi kalau untuk peran antagonis, gakpapa ternyata dia bukan penjahat, dukun cabul———->karena itu hanya peran
—-
Standar ganda dong, Mbak. Hehehe.
Jadi inget kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Maret 5, 2008 at 4:07 am
bollywood, bang.. bukan bolywood
geblek juga tu yg kasi referensi dengan alasan sok religius gitu. objektif sih boleh aja, tapi ngga logis dan asal njeplak ah.
—
Terimakasih, Mbak Golda. Bolywoodnya saya revisi. (pakai L dua)
Maret 5, 2008 at 5:11 am
dan saya sekarang sedang nonton aktor teks bernama bang aip hehehhe
—-
Hehehe. Pak, tadi loket yang jual karcis cakep ga? Hhehe
Maret 5, 2008 at 5:14 am
*lagi iseng, asli, karena saya biasanya hanya penikmat, bukan peng-komen. Jadi, kalau saya komen, bisa jadi saya lagi iseng*
—-
Maret 5, 2008 at 6:39 am
menghidupkan suatu peran itu memang tugas seorang artis. saya sama seperti bang eby, justru artis yang patut diacungi jempol adalah artis yang berhasil memerankan peran yang berbeda 180 derajat dengan dirinya.
—
se7
Maret 5, 2008 at 6:58 am
Kata anakku film nya bagus…dia juga menyarankan ibu untuk menonton.
Dari dulu, jarang sekali film yang dibuat melebihi novel..maklum persepsi tiap orang saat membaca novel berbeda-beda…dan ini sulit digambarkan dalam film.
Karena pernah dipaksa untuk bermain film (sekedar untuk acara kantor)…dan merasakan betapa untuk akting yang hanya tayang 5 menit aja, perlu waktu seharian…malah kalau profesional harusnya 3 hari….kapok deh, jadi saya termasuk mengagumi orang-orang yang bisa berakting…lha saya untuk berpose aja sulit banget…apalagi mesti akting yang menampilkan berbagai karakter. Sebab itu, saya juga tak pantas untuk membuat ulasan….
—-
Saya juga kagum, Bu. Akting itu susah. Menampilkan yang ada dalam benak banyak orang pun luar biasa susah. Dan saya pribadi pun menganggap saya tidak layak membuat ulasan ini. Maklum, ilmu saya sedikit.
Tapi melihat begitu banyak kejanggalan, kok yaa tangan jadi iseng. Hehehe
Maret 5, 2008 at 7:55 am
@ck
klo saya malah pernah baca.. aktor yang benr2 mendalami perannya.. maka watak di peran tersebut akan sedikit2 merasuk ke kepribadian asli nya
—-
@funkshit: Tergantung profesionalitas. Katanya semakin pro, semakin baik ia menata manajemen karakter. Hal ini pernah diungkapkan Tom Hanks waktu berperan dalam Forrest Gump
Maret 5, 2008 at 7:56 am
Itu krn yg menulis ulasan (review) bukan seorang pengulas (reviewer).
—-
Waduh, saya jadi khawatir nih. Saya kan juga bukan reviewer. Kok berani-beraninya saya mengulas ulasan orang lain. Hehehe.
Maret 5, 2008 at 8:42 am
Hmm… ya mungkin orangnya yang nulis review itu idealis…
—-
Idealis? Maaf, maksudnya?
Maret 5, 2008 at 9:12 am
nonton filmkan buat hiburan dan menikmati.. klo tahu filmnya bikin snewen kenapa kudu di tonton
anehh
—-
Saya setuju. Tapi ada juga yang menonton untuk mencari ilmu. Di sisi lain, ada pula penonton yang datang menonton untuk mencari ‘masalah’. Tipikal manusia banyak, Mas. Itu pun kata ahli manusia. Bukan kata saya, loh.
Maret 5, 2008 at 10:06 am
“Jangan berat-berat mikirnya. Hidup di republik ini sudah susah. Jangan ditambah susah. Hidup sudah satir kok yaa ditambah dengan satir.”
Saya senank dengan kalimat inih. Maklum mahasiswa kelamaan di kampus, jadi agak males mikir.. Hihihihi.. (eh nerima komen asal kan bang? jarang2 nih..)
Oh ya, kayaknya kok saya tau sapa yang bikin riviu itu ya bang. Seorang penulis buku jugakah? Eh sotoy marotoy gak tuh bang?! Soalnya ulasan yg saya baca agak mirip dengan poin2 yang bang aip tuturkan.
Yaa.. gemana ya bang, manusia kan pada umumnya gitu, menilai sesuatu secara subjektif yang sebenarnya cuman Tuhan yang berhak.. (eehh.. lah ini baru komen paling sotoy..)
—
Nggak sotoy kok, Mbak Titiw. Hehe. Mengenai penulis ripyuw. Ahh, ndak usah dibeberkan namanya. Biarlah publik yang menilai karya beliau. Sebagaimana publik menilai kita masing-masing.
Maret 5, 2008 at 10:59 am
Haiyah.. Bang, in dia yang saya tunggu-tunggu!
Menanggapi review2 film you-know-what itu.
Skarang saya lagi mencoba latar belakang saya ke tulisan blog, ndak kayak dulu lagi (ang anak HI tapi ngomongin agama terus). Itu hubungannya sama aktor gimana bang?
—-
Kalau ada anak HI yang bicara agama. Tandanya, ia relijius. Hehehe.
Kalau hubungannya anak HI dengan aktor. Mari kita tanya pada wiki yang amat terkenal itu. WIKI CA.
Maret 5, 2008 at 12:07 pm
Semoga Bang Aip sering iseng, jadi tiap hari saya ada bahan bacaan
—-
Tiap hari saya mah emang iseng. Penyalurannya saja yang berbeda-beda. Huehehe
Maret 5, 2008 at 12:51 pm
menurut saya kalo soal pmaennya musti relijius apa ngga, bisa dilihat dari dua sudut.. film ini diambil dari novel yg mgambarkan ttg cinta didalam islam.. alurnya memang luar biasa.. dan wajar saja jika ada yg berharap terlalu banyak dari filemnya, dan akhirnya kecewa karena filemnya ternyata jauh berbeda dg novel.. intinya buka pemikiran.. mungkin yg membuat ulasan tersebut merasa kecewa.. karena dia sudah membaca bukunya.. mungkin secara pribadi dia menginginkan apa yg ada di novel itu, bisa dia lihat juga di dalam film.. tapi ternyata yg main malah doyan clubbing, minum2, wajar jika dia kecewa… dan saya yakin, bukan hanya dia yg kecewa…
over all, nice shot! but, need improvement….
—-
Katanya, kekecewaan adalah buah dari perkawinan antara harapan dengan kenyataan yang tidak sesuai bayangan.
Kasihan yang mengharap terlalu banyak. Moga-moga mereka tidak mengamuk.
Maret 5, 2008 at 12:53 pm
ooops, “over all, nice shot!, but need improvement..” itu untuk pelemnya. postinganny? MANTAP!!
Maret 5, 2008 at 4:09 pm
Bang aip, berbagi info saja nih. Menurut pak Kees Bertens dalam salah satu kolom bahasa di Kompas, ‘aktor’ berasal dari kata kerja bahasa latin ‘agere’. Yang berarti ‘berbuat, melakukan’.
Tentang kontroversi aktor-aktris di AAC, menurut saya sih ok-ok saja. Justru bisa menjadi semacam dekonstruksi. Apa nggak boleh clubber pakai cadar ?
—-
Terimakasih atas masukannya. Beruntung saya dapat info tambahan yang baik seperti ini.
Kalau clubber pakai cadar. Setahu saya, beberapa club di Cairo, penari perutnya hampir semuanya pakai cadar. Hehehe
Maret 5, 2008 at 4:32 pm
kenapa ya, bang aip akhir akhir ini mbikin judulnya ekstrim mulu?
ya, itulah Bang…
kebanyakan disini melihat orangnya, bukan karyanya…
jadi, ndak heran kalo di blogsperpun banyak yang suka ad hominem…
nyaris sama kan?
—-
Soal judul yang ekstrim. Hehe. Maafkan saya, Siwi.
Beginilah kalo pasokan makanan ke otak lebih sedikit daripada jumlah pekerjaan yang mendera. Hehehe.
Maaf yaa.
(*Kepada yang selain Siwi juga bertanya hal yang sama. Maaf*)
Maret 5, 2008 at 5:52 pm
ada minat maen film nggak?
—-
Ditawarin sih sering. Tapi susah, Mbok. Ngurus majikan yang lagi hamil tua saja sudah kerepotan. Apalagi harus ditambah main film. Hehehe. Pusiiing.
Gimana kalau Simbok Kenny dan trio kwek-kwek saja yang main film? Seru tuh. Secara film anak-anak di RI tidak terlalu banyak.
Maret 5, 2008 at 6:18 pm
mo komen paragraf pertama aja, soale tertarik.
umumnya, malah pada keadaan ga mikir, kita dapet ide2. kayak kisahnya sapa tu, yg teriak2 eureka2 smb bugil. ato newton, yg lg ngalamun.
bbrp training bilang, kondisi fokus itu malah ga bagus, krn gelombang otak pas bukan yg terbaik -semcm itulah-.
jd kesimpulanya ??
ga usah mikir, bang^^
-yang kupelajari dr training2 gituan, huehehehe-
—-
Terimakasih atas idenya, Mbak
Maret 5, 2008 at 7:08 pm
Hahahaha….temen saya kerja di perusahaan pelem, dia bilang sinetron atau pelem boleh masuk kategori religius, tapi pemeran dan crew ga ada yg religius
—-
Hehe, tapi ga semuanya kan, Mas Hedi. Hehehe
Maret 5, 2008 at 11:58 pm
klo film nya siy aku lom nonton…Tapi klo mnrt ku juga siy ga ada pengaruhnya tuh.Ga bisa kita mnilai sifat bntang dari peranya.Aku se7 banget sama coment dari bsw.gimanapun juga peran itu cuman profesi yang udah di atur sama yang namanya skenario+sutralah….eh sutradara..tapi ada kemungkinan juga klo si artis kebawa sama peran yang sering dia mainin.
—-
Artis kebawa peran? Amit-amit jabang bayi. Jangan sampe dikasih peran kanibal.
Maret 6, 2008 at 1:37 am
tapi saya termakan ama judulnya lho…., saya pikir masih mo ngomongin tentang membludaknya 3gp-3gp itu
eh ternyata ngulas ttg aktor, yahud deh….
—-
Terimakasih sudah mampir
Maret 6, 2008 at 1:49 am
mau komen belum ada ide, mungkin karena gak pernah kebanjiran
—-
Berarti anda tidak tinggal di Jakarta. Dimana penduduknya, setiap tahun kebagian rizki banjir. Hehehe
Maret 6, 2008 at 5:00 am
berhubung bisa komen sampah,..
Repot juga kalau para pemain harus merepresentasi peran kehidupan sesungguhnya dalam sebuah film. Khan namanya acting. he he Jaman dulu ibu ibu sebel banget kalau liat Farouk Afero atau Muni Cader. Karena perannya sebagai actor antagonis. Berarti actingnya bagus. Sebuah Peran bisa menjadi komoditi dan sekaligus image seorang pemain. Ini khan cilaka juga kalau sebuah akting relijius ,berarti yang memerankan dalam kehidupan sesungguhnya juga relijius.
Dikalangan produser juga ada persepsi begitu, mencari sutradara yang ’sesuai’ dengan tema film. Jadi untuk yang menyutradarai Jakarta Under Cover harus sutradara yang doyan keluar malam, dugem dsb. Kemarin saya ‘diwawancarai ‘ seorang produser untuk film berbau agamis. ( Padahal saya pengen banget ) cuma dianggap kurang Islam.Jadi kalah bersaing dengan seorang rekan yang sholatnya rajin 5 waktu. Sementara yang nawarin saya - dan saya tolak - justru untuk film horor dan cinta memble.
—-
Wah dulu juga ada tuh, Mas Iman. Pemeran Bu Subangun (Thenzara Zaid) di Sinetron ‘Serumpun Bambu’. Hebat akting beliau.
Mengenai tawaran horor dan cinta memble. Ahhh, saya turut berduka.
Maret 6, 2008 at 6:48 am
Beda orang beda persepsi mungkin. Padahal menurut sayah aktor yang bagus tentu saja yang bisa menjiwai sebuah perannya dengan baik. Apalagi kalo sampe beda 180 derajat dengan kepribadiannya sendiri. Mungkin ekspektasi orang akan film ini begitu tinggi sehingga mengharapkan semua harus sempurna (kyk OST nya).
Kalo untuk bllywood (secara sayah suka nonton film2 bollywood yg bagus2) mungkin budaya di India orang lebih sreg kalo yg ciuman suami istri pemerannya. Tapi kayaknya jarang tuh film yg adegan ciuman aktor aktrisnya pasutri, kecuali mr amitabh n his wife jaya bachan itupun g sampe ciuman (di film Kabhi Kushie Kabhi Gham) jarang banget…. soalnya justru dengan pasangan sendiri chemistrynya tidak nampak. orang India boleh bilang seperti itu (lebih suka pasutri) tapi kenyataannya pasar film india nya justru melihat lain, malah pasangan artis yang bukan suami istri lebih kuat chemistrynya. sapa yang tidak meragukan Shah Rukh ketika beradu akting dgn Kajol ato Preity Zinta dgn Saif Ali.
Mungkin disini juga seperti itu, ada masyarakat yg berharap semuanya sempurna di film AAC ini, tapi pasar yang lebih besar bisa aja berpendapat lain. Bukannya aktor pemeran itu sendiri justru dengan main film ini (AAC) jadi menambah ilmu agama dan imannya juga (ini sayah pernah baca dimana, saya lupa).
Maaf bang komennya kepanjangan, abis ada bollywood2nya sih, acha..acha…
Namaste.
(maaf kalo dianggap tdk berkenan krn berani komen di blog seleb)
—-
Terimakasih atas komentarnya Mbak Ocha. Mencerahkan. Namaste.
(*BTW, ini bukan blog seleb. Tapi blogger penulisnya memang pernah main iklan selep kulit. Sebagai jamur. Hihihi*)
Maret 6, 2008 at 7:16 am
hahaha, jadi inget ada aktor sinetron terkenal yang jadi langganan sinetron saat Ramadhan, begitu terlibat dalam sebuah lukisan dimana dia di foto telanjang (hampir) dia langsung sepi order (sampai sekarang). hahahahahaha…
Maret 6, 2008 at 7:19 am
namanya Anjasmara….
hahahaha, awak lupa nulis nama tu aktor….
bukan maksud awak lho untuk membicarakan aib orang…
—
Jadi, maksudnya apa, dong? Hehehe
Menyebut nama itu ada konsekuensinya deh kalau tidak salah.
Maret 6, 2008 at 5:21 pm
klo ulasan iseng sperti itu, nmanya iseng2 berhadiah bang, tpi mnurut aq org yg ngeributin mslh hrs atw ngk, cm org kurang krjaan az bang biar klihatan pintar n alim gtu, wong smua mnusia itu artis n aktor koq dlm film kehidupan yg di sutradarai ama Tuhan,untung sutradaranya Tuhan yg maha baik n penonton nya para malaikat, klo ngk pasti kita dh di komentari seperti yg td itu.
—-
Bener juga yaa. Wah bagus ini komennya. Saya jadi mikir-mikir. Gimana yaa kalau malaikat bikin review kehidupan manusia, trus dikomentari tuhan. Waah seru banget tuh.
Maret 6, 2008 at 8:23 pm
Saya juga pernah bertanya seperti itu waktu nonton film The Passion of Christ, mengapa Monica Belucci yang memerankan Maria Magdalena ? Dalam otak saya yg kecil ini, Monica Belucci itu adalah aktris yang “esek-esek” jadi dia nggak pantas dpt peran di sebuah film religius…
Ternyata saya salah, sodara-sodara…
Tapi diluar aktor/aktris film relijius yang sering dibandingkan dengan kehidupan aslinya, saya justru menyorot film-film yang diangkat dari buku/novel, apalagi kalau bukunya sudah terlanjur terkenal.
Saya juga merasa kecewa kalau menonton film , yg diambil dari sebuah novel, lalu kemudian membandingkannya dengan novelnya itu. Mulai dari Forrest Gump, Harry Potter, dll. Mungkin hanya film Lord of the Ring (LOTR) yang sedikit memuaskan. Dan beberapa hari yg lalu saya nonton film Love in the Time of Cholera, yang diambil dari novel dengan judul yang sama karya GG Marquez. Kecewa.
Mengapa ? Mungkin karena ekspektasi saya yang berlebihan terhadap sebuah film. Dengan harapan bahwa film itu bisa memuaskan imajinasi saya terhadap buku, yang terlebih dahulu telah saya baca. Imajinasi sebuah film ternyata berbeda dengan imajinasi subyektif saya pribadi terhadap novel itu.
Makanya kalau nonton film-film yang diangkat dari novel, saya berusaha untuk memandangnya sebagai sebuah film yang independen, lepas dari konteks novelnya, dan tidak menyangkut-pautkannya dengan novelnya. Anggaplah itu film yang fresh sambil berusaha melupakan apa yang saya telah ketahui tentang cerita film itu.
Tapi itu sangat berat….
*sorry kalau kepanjangan, bangaip*
—
Gapapa Om Fertob. Yang nanggepin banyak tuh. Terutama soal Maria Magdalena. Hihihi.
(*perempuan cantik memang banyak yang menanggapi. hehe*)
Maret 7, 2008 at 3:56 am
Malena itu ‘religius’ lo bung Pyrrho, keindahan yang membius seperti halnya agama
Maret 8, 2008 at 10:05 am
Berhubung tulisannya Bang Aip “cuma” iseng.. mau ngasih komentar sama yang komentarnya nggak iseng:
@Pyrrho:
Tapi kan Monica Belucci perannya jadi Maria Magdalena? Yang sebelum bertemu dengan the Christ juga [gosipnya] adalah bintang esek-esek walaupun gak pernah main film ;)? Jadi cocok dong.. HAHAHAHA..
Maret 11, 2008 at 10:23 am
nyentil dpr ye./………….
Maret 11, 2008 at 7:07 pm
numpang ngakak baca paragraf2 terakhir di poin 2
=))
Maret 12, 2008 at 10:08 am
Banyak yg berpendapat kayak gitu karena mereka terlalu ‘mengagung-agungkan’ sosok dua karakter utama dalam novel tersebut, yang sebenarnya hanyalah imajinasi
liarsang pengarangnya saja. Jadinya enggak rela kalo ternyata visualisasi karakter idola itu adalah aktor & aktris yang memang sudah dikenal ‘kurang relijius’.Saya sendiri belum nonton pelmnya. Hanya sekilas melihat versi bajakannya di komputer teman. Dan ternyata pemeran Maria tu cantik sekali ya. (Duh maaf jadi OOT, biarinlah, iseng kok.
)
Maret 22, 2008 at 4:59 am
[...] selanjutnya, saya akan berusaha untuk menulis kembali. Bukan untuk siapa siapa, namun untuk kepuasan dan tantangan pribadi. Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang memang sengaja membaca tulisan [...]
Maret 31, 2008 at 4:26 pm
ikut komen ya heu3 ( bhs indo aj dah….)
Maaf sebelumnya buat yg sangat pro sama film ini…tapi menurut saya justru pilihan casting yang jauh beda sama karakter di film ini jadi satu2nya hal yang bikin saya tertarik nonton film ini,kapan lagi bisa liat vj yang biasanya mukanya wara wiri depan tv, ngomongnya jadi aluuus banget…mukanya ditutup…padahal abis take siapa tau aja langsung nangkring di embassy heu3,siapa tau loh…
Mei 22, 2008 at 3:33 pm
Bollywood memang lucu. Filmnya mengumbar kulit perempuan, dan goyang2nya… wow, syahdu (SYAHwat DUanget / maksa! hehe). Tapi ketika Richard Gere mencium … hm, saya gak tahu nama aktris wanita dari India tersebut (maklum bukan fans bollywood, hehe), rakyat India murka. Saya cuma baca beritanya saja jadi ngeri.
Budaya itu memang unik ya. Makanya salah satu iklan yang paling menarik menurut saya (dan juga lucu2) adalah HSBC; yang mengaku bisa membantu client mereka soal gegar budaya (walaupun saya bingung apa hubungannya bank dengan soal gegar budaya, dan apa memang benar mereka bisa bantu soal itu, hah)