April 2008


(*Hehe, cerita jadul nih. Sebuah kisah ketika saya masih bujangan dan tinggal di sebuah titik di Depok, Jawa Barat. Awal tahun 2000*)

Di Depok, ada beberapa rumah singgah untuk anak jalanan. Rumah singgah ini konsepnya cukup unik. Mirip dengan homeless shelter di negara-negara maju. Bedanya, sama sekali tidak di dukung pemerintah pusat maupun lokal. Serta tidak ada dukungan finansial yang mencukupi.

Hasilnya bisa bisa ditebak, seperti kuda tua yang dipaksa pacuan. Namun, walaupun susah payah, rumah ini tetap berdiri. Mengapa? Jawabnya simpel, sebab terlalu banyak anak-anak terlantar yang tinggal di daerah Depok dan sekitarnya.

Di rumah ini, beragam usia anak-anak tinggal, menetap, datang dan lalu pergi lagi. Namanya juga rumah singgah. Dan yang menyinggahinya kebanyakan adalah anak jalanan. Jadi, yaa mirip halte bus. Semua anak-anak jalanan, bahkan orang kemalaman pun bisa singgah di rumah ini.

Tapi karena kebanyakan yang menyinggahinya adalah anak jalanan, berusia antara 3 hingga 15 tahun. Maka disebutnya Rumah Singgah Anak Jalanan.

Mereka singgah untuk mendapatkan sebuah rumah untuk bernaung. Sebentar melarikan diri dari ganasnya hidup di jalanan. Sejenak melupakan trauma diancam, dipukuli, dirampas uang hasil mengamennya hingga diperkosa.

Saya dan beberapa teman, seperti Cirul, Candra, Daniel, Opik, Bommal, Fuad, Andri, Jendral dan lain-lainnya, mengurus rumah singgah ini. Tidak hanya di satu tempat, melainkan di beberapa tempat.

Di sebuah rumah singgah, saya dan Cirul yang dipercaya mengasuh. Cirul bagian rumah tangga, seperti mengurus rekening-rekening hingga beras buat makan. Saya yang mengurus pendidikan anak-anak itu. Bommal dan Fuad membantu mengajar.

Mereka, anak-anak itu memanggil kami dengan sebutan ‘Kakak’.

Kecuali saya. Mereka memanggil saya dengan sebutan “Bang Aip”. Sebab pada saat itu, saya mengurus rumah singgah sambil berdagang lontong sayur, makanan khas Jakarta. Dan sebutan ‘Abang’, adalah panggilan khas terhadap para tukang di Jakarta. Entah ia berdagang apa. Entah darimana asalnya, kalau jualan, maka di panggil “Bang!”

Ini sebuah cerita mengenai sepenggal kisah di Rumah Singgah Anak Jalanan, Depok.

(lebih…)

Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.

Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?

Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata “Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!“. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh “Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!

Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.

Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.

Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.

Begini; (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.