April 22, 2008
Musibah di Rumah Ibadah
Posted by bangaiptop under Avonture, Kontraversi, Orang Indonesia, Republik IndonesiaNamanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.
Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?
Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata “Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!“. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh “Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!“
Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.
Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.
Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.
Begini;
Dulu, saya sempat tinggal di sebuah desa di Indonesia Timur. Desa ini dekat pantai. Dekat dengan sekolah saya, yang masih berhubungan dengan laut dan isinya. Di desa ini ada sebuah rumah ibadah. Setiap pagi, kira-kira sebelum matahari terbit, saya menyambangi rumah ibadah ini.
Saya bukan relijius sih sebenarnya. Saya menyambangi rumah ibadah ini, yaa selain beribadah, juga mengajar. Topik ajarannya bermacam-macam, kadang-kadang bahasa asing, kadang-kadang biologi, matematika, dan mata pelajaran untuk anak-anak SMP. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibadah pagi itu.
Saya sendiri, melakukannya demi diri sendiri. Mencoba untuk belajar. Belajar peduli. Sebab katanya, hati itu bisa mati kalau tidak dilatih belajar untuk peduli.
Anak-anak ABG (Anak Baru Gede) yang umumnya masih SMP atau SMU, tidak banyak yang datang ke rumah ibadah ini. Namun ketika ada kursus gratis setelah ibadah. Mereka satu persatu mulai datang ke rumah ibadah ini.
ABG ini, umumnya anak-anak kaum pendatang. Bapak ibu mereka adalah produsen tempe dan tahu. Membuat tempe dan tahu dengan cara tradisional. Kedelainya diinjak-injak. Namun ada pula yang orangtuanya nelayan.
Mereka ini, anak muda yang kebingungan secara kultural.
Di sekolah, dianggap anak pendatang. Walaupun lahir dan besar di desa tersebut. Namun di rumah, dianggap ‘berbeda’, Karena tidak mengerti bahasa asli orang tua mereka.
Terperangkap di dua dunia. Sibuk sekali mencari identitas diri.
Maka itu, ketika ada kursus gratis. Wah senangnya bukan main. Sebab selain bisa belajar, juga bertemu rekan senasib. ABG yang sedang mencari jati diri identitas kehidupan.
Lambat laun, kursus kecil-kecilan ini, dari mulai 2 orang, membengkak jadi 20 orang. Semakin banyak saja ABG yang ikut dalam acara pagi-pagi asah otak ini. Saya pun makin kesulitan. Dan lalu mulai merekrut teman-teman yang mau membantu ikut mengajar.
Saking intensnya, ruangan beribadah khusus untuk wanita pun dijadikan wahana untuk belajar.
Dan disinilah masalah dimulai.
Tidak lama kemudian, kira-kira selang tiga bulan setelah kursus pagi ini. Loteng rumah ibadah yang kami gunakan sebagai sarana belajar, sering ditimpuk. Ditimpuknya tidak tanggung-tanggung, pakai batu bata.
Karena atap rumah ibadah dari seng tipis. Yaa dengan serta merta, bolong tidak karuan dihajar batu bata. Kalau hujan, air masuk dengan suksesnya.
Imam, sebutan pemimpin rumah ibadah ini, kebetulan seorang mayor polisi. Ia mengusut kasus ini hingga tuntas. Dan pada suatu hari, ditangkaplah si pelaku ‘pengeboman batu bata’ tersebut.
Ketika ditanya mengapa, si pelaku menjawab dengan mata ganas, “Kalian orang, bukan main itu mulut berisik. Kita ada pusing dengar kalian spiker setiap pagi”.
Saya terhenyak mendengar hal itu.
Imam, memberikan solusi yang baik. Yaitu, mulai sejak saat itu tidak ada lagi pengeras suara. Namun, kami pakai interkom kaleng. Jadi kalau mau ibadah pagi, cukup tarik tali. Dan tali itu berhubungan antar rumah, dan bunyi berkeroncengan. Penanda waktu ibadah. Unik juga solusinya.
Sejak saat itu, tidak ada lagi pelemparan batu bata diatas rumah ibadah.
Yang menarik, ternyata umat ibadah lain. Yang menjadi mayoritas. Mulai membunyikan lonceng setiap pukul 4 pagi. Dan mulai berceramah dengan memakai pengeras suara. Bahkan, ada diantaranya yang mendirikan rumah ibadah dengan menara dan lonceng yang besar di atas bukit sana.
Tujuannya; entahlah?
Yang pasti, tidak ada kursus gratis disana. Hehe.
————-
Bertahun-tahun kemudian. Saya pindah. Bersama istri, tinggal di sebuah desa di Indonesia Tengah. Desa ini, juga indah. Bedanya dengan desa saya dulu di Indonesia Timur, desa saya saat ini, sering dibanjiri turis.
Di desa ini, agama adalah salah satu produk untuk menarik turis-turis datang membelanjakan dolar mereka.
Banyak rumah agama, apabila hendak mengadakan acara ritual tertentu, seperti potong gigi hingga potong rambut, menjual karcis kepada turis. Umumnya pada wisatawan mancanegara. Ritual itu dipertontokan. Kalau turisnya bawa kamera, biasanya bayar dengan dolar tambahan.
Bagi saya, sah-sah saja. Tidak masalah. Selama semua orang bahagia. Apa yang mau dikata?
Hubungan saya dengan penduduk desa setempat juga baik. Artinya, kalau mereka mau pesta main layang-layang, saya pasti diminta ‘kontribusi’ secara finansial. Kalau diajak main sih, tidak juga. Hehe.
Karena warna kulit istri saya agak berbeda dengan kebanyakan warga desa lainnya, kontribusi finansial yang dibebankan pada keluarga kami juga berbeda. Contohnya, membayar retribusi sampah. Jika pada setiap Kepala Keluarga adalah sepuluh ribu rupiah. Maka pada keluarga kami, bisa delapan hingga sepuluh kali lipatnya. Padahal sampahnya mah sama. Sebab kami masih makan makanan normal kok. Bukan makan beling.
Entah kenapa, hingga saat ini saya tidak mengerti alasannya kami diperlakukan beda.
Bagi saya, agak mengesalkan. Namun karena biasanya yang datang ke rumah pemuda berambut pendek dengan badan besar dan pakaian loreng, lebih dari lima orang. Yaa pasrah aja. Lapor pada yang berwajib, malah dinasihati “Mas, disini memang begitu”.
Saya menjalani hidup dalam kepasrahan ini hingga 11 bulan. Hingga pada suatu hari, terjadilah musibah. Desa kami di serang teroris gila.
Istri saya, mengalami trauma yang luar biasa. Beberapa temannya menjadi korban. Trauma ini begitu mendalam. Dan membuat sayatan memanjang pada hatinya.
Akibatnya, istri saya mengalami gejala hyper-ventilasi. Susah bernafas. Bukan karena kondisi fisik, melainkan lebih ke arah kejiwaan. Ia ketakutan. Sebab, teroris itu memang mencari sasaran orang-orang yang warna kulitnya berbeda dengan warga desa.
Saya dan istri pindah ke negara tetangga untuk sementara. Namun tidak bisa lama. Gaji saya sebagai buruh, tidak mampu membiayai hidup kami lama di negara tetangga.
Akhirnya, kami kembali pulang ke desa semula. Sebuah desa indah tropis di sebuah titik di Indonesia Tengah.
Begitu sampai di rumah, tiba-tiba segerombolan warga desa membawa map. Meminta 250 ribu rupiah per kepala keluarga (*atau mungkin hanya pada keluarga kami?*). Mereka akan mengadakan acara. Sebuah ruwatan untuk bumi. Agar desa kami, tidak dilanda musibah.
Dan tentu saja, jampi-jampi anti-teroris pasti akan dibaca disana.
Dengan wajah penuh haru memandang sisa-sisa uang yang diminta (dengan agak memaksa) pindah tangan. Saya bilang, “Pak, kami juga akan berdoa. Semoga apapun yang diberikan, kita sanggup menghadapinya”.
Mereka memandang saya dengan tatapan mata dingin. Mungkin tidak mengerti. Atau mungkin.. entahlah.
Yang pasti, besok paginya istri saya kembali sakit. Terbaring saja di tempat tidur. Nafasnya susah. Cepat dan terburu-buru. Saya sedih sekali melihatnya.
Hari itu, saya tidak bekerja. Melainkan menunggu istri saja di rumah. Kami tidak punya banyak tetangga yang bisa diminta tolong. Hidup dalam kompleks perumahan. Andaipun ada yang mau menolong, ketika melihat warna kulit istri saya, umumnya meminta imbalan sesudahnya.
Jadi, hari itu saya di rumah.
Jam 12 siang. Ketika hari sedang panas teriknya. Terdengar bunyi keras sekali. Seperti suara-suara bernyanyi-nyanyi dalam irama dan ritme yang tidak ada alurnya.
Saya kaget. Nafas istri saya semakin memburu.
Saya keluar rumah. Berlari mencari asal suara. Seperti gila rasanya. Berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang panas.
Tidak lama kemudian, saya menemukan sumber asal suara itu. Sekelompok orang tengah berkumpul duduk melingkar pada sebuah rumah ibadah. Setiap orang memegang mike. Ooo Oohh, itulah asal suara tersebut. Dari pengeras suara.
Ketika saya tiba di pintu masuk. Mereka memandang saya tidak senang. Nampaknya kehadiran saya mengganggu.
Salah seorang berdiri. Berkacak pinggang, bertanya dengan nada menghardik, “Heh! Mau apa?!”
“Pak, mohon jangan keras-keras. Istri saya sedang sakit”, suara saya memelas. Memohon pada mereka, perwakilan mayoritas, penduduk lokal.
Ia semakin terlihat marah, “Kamu jangan mengganggu yaa. Ini upacara ruwat bumi. Untuk membersihkan bumi kita dari sengsara. Semua orang mau upacara ini. Supaya desa kita bersih”
Tidak lama kemudian, setelah saya kira mereka sudah tidak bisa lagi diajak diskusi. Saya dan istri, pindah ke tempat yang lebih tenang. Sebab nampaknya, kebutuhan mereka berdoa dengan pengeras suara sudah tidak bisa diganggu gugat.
————–
Tidak lama setelah kejadian ini. Istri saya pergi ke rumah orangtuanya. Ke rumah mertua saya. Disana lebih tenang. Ia bisa bisa lebih fokus untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang ketakutan terus menerus.
Saya… Ahh, karena masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak bisa ikut. Saya harus masih ke Cilincing. Ke ujung pelosok utara Jakarta. Ke tempat di mana saya dilahirkan.
Kembali ke kampung halaman, setelah bertahun-tahun di ranah asing, menimbulkan perasaan tersendiri dalam jiwa saya. Seperti terasing di rumah sendiri.
Saya coba untuk mengulang kembali hal-hal yang pernah saya lakukan ketika saya masih tinggal di sini dahulu. Incognito.
Seperti mancing di laut Marunda. Jalan jalan naik sepeda ke tempat pembakaran mayat, Tapekong. Malam-malam main kartu remi hingga larut pagi dengan teman saya Odoy, Uki, Pieter, Utu, Aris Kisut, Rojak, Jumari dan juga dengan si Gugun, adik saya.
Lalu, setelah kecapekan main remi, rame-rame jam tiga pagi kami masuk musolah. Sebab Musolah Cilincing bagi kami bukanlah rumah ibadah. Melainkan hotel tempat bermalam, ketika badan sedemikian letihnya untuk urusan hedonisme. Sanctuary ketika masalah hidup sedemikian banyaknya. Hehe.
Anehnya, musolah kok dikunci? Kenapa?
Namun, badan yang letih tidak mau kompromi. Kami tidur di halaman musolah. Dan namanya juga musolah kecil. Halamannya juga kecil lah.
Kami tidur berdesak-desakan bagaikan ikan dalam kaleng sardin. Tapi… Ahh, kalau capek mah, apa saja nikmat.
Tidak lama kemudian… Kami semua terbangun. Kaget. Ternyata Pak Katno, tetangga saya, bapaknya Amat, adzan euy. Dan suaranya Pak Katno ini khas sekali. Mirip knalpot oplet, angkutan kota yang beroprasi di tahun 70-an. Ampuun deh. Dan yang lebih bikin ampun, pakai pengeras suara loh.
Saya menendang kaki si Gugun. Adik saya membuka mata sebelah, “Apaan sih lo?”.
Saya berbisik, “Gun, bangun men. Subuhan luh. Gila men. Kok sekarang ada speaker yaa di kampung kita. Apa jangan-jangan gara-gara ini, musolah dikonci?”
Gugun tidak menjawab. Jumari, Odoy, Rojak, Aris Kisut, Utu dan Pieter bangun duduk bersandar di dinding musolah. Mata mereka kusut. Kuyu.
Cilincing sudah berubah. Kali ini, ada pengeras suara diantara kami semua.
Saya bertanya pada Jumari, “Jum, lo tau ga? Orang Indonesia itu ternyata cinta speaker. Apapun agamanya, kalau sama speaker, mereka tergila-gila, Jum”
Jumari menatap saya sambil menguap. Lalu berkata…, “Ahh lo rip. Ngeluh aja lo bisanya”
Saya menatap Jumari dengan tatapan mata bimbang. Sambil berfikir dalam hati, jangan-jangan saya memang hanya bisa mengeluh.
Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya. Benarkah orang Indonesia jatuh cinta pada speaker pengeras suara?
Entahlah.
Atau ternyata, bahwa hanya saya saja orang Indonesia yang memang suka mengeluh?
Hehehe, entahlah…
April 22, 2008 at 11:45 pm
Sebenernya situ ndak sukak ngeluh, boss…
Cuman emang masyarakat kita udah terkotak-kotak dari doloo….
Repotnya pulak, ada nyang dengan sengaja mebuwat pengkotakan itu, ato mengikat diri pada sesuwatu.
Liyat ajah, dimana-mana orang Indon mbikin asosiasi lah, komunitas lah.
Misalnya, komunitas mongtor anu,… komunitas Blogger anu…
Pokoknya
April 22, 2008 at 11:48 pm
Yeeeeii….
Nyang sisanya ndak mangslup gara-gara inet lemot…
Sayah lanjutin;
Pokoknya, kalok udah terikat dalem suwatu kelompok, maka cenderung merasa kelompoknya lah nyang paling bener…
April 23, 2008 at 2:01 am
Bang,
OOT, menurut saya mengajar ataupun belajar Biologi, Fisika, Bahasa Inggris atau yg lainnya itu ibadah juga kok……
Dalilnya? Hmmmm…. apa ya? Mungkin ayat ttg semua kebaikan akan berbuah kebaikan ‘kali ya……
April 23, 2008 at 3:02 am
Faktanya memang gitu bang…. Kalo kita protes, kita bakalan dianggap tidak beriman
April 23, 2008 at 4:05 am
Saya tertegun membaca ini…..karena kebetulan selama ini saya tinggal di zona nyaman, hanya saat awal menikah saja di rumah kontrakan, tapi tetangga dari bermacam suku bangsa tetap dapat hidup nyaman berdampingan.
Saya jarang pulang kampung, jangan-jangan situasi kampung saya juga udah berubah ya.
April 23, 2008 at 4:54 am
Orang Indonesia jatuh cinta ama spiker?! kayanya betul tuh, Bang.
Nggak Islam, nggak Kristen sama-sama “berisik”
Tapi Aa pernah cerita, ketika ia kebaktian di sebuah gereja yang bersebelahan dengan masjid, saat azan berkumandang sang pengkhotbah berhenti sejenak dan turun dari mimbar lalu berkata “Mari kita berhenti sejenak menghormati panggilan ibadah Saudara kita”
Tapi tidak kalangan agama saja yang cinta spiker, Bang, di daerah komplek rumahku kalau namanya hari libur, “spiker berjalan” akan lalu lalang bergantian. Odong-odong yang muter lagu anak-anak, Penjual getuk yang muter lagu dangdut, sampai mobil keliling yang nawarin panci, sapu, baskom dengan spiker segede ember!
Pokoknya sepiker poreper Bang…
April 23, 2008 at 5:57 am
Hahaha… bener banget
Sepiker emang alat pemanggil mujarab yang sangat amat digemari kayaknya
Anak balita saya sampe hafal syair lagu yg diputer Odong2 tiap pagi & sore…
Papa sibuk, Mama sibuk… mau ketawa, takut dimarah, ditahan aja, terketek-ketek *maksudnya terkekeh2* ampun deh hihihi
April 23, 2008 at 6:21 am
Ah, pengalaman BangAip sama dengan pengalaman masa kecilku di Papua sana.
Disana (Sorong) waktu saya masih kecil (SD) senang bukan main kalau pas lagi takbiran malam sebelum lebaran. Itu saatnya keliling-keliling kota sambil bunyiin kaleng-kaleng, botol, dan apa saja kalau nggak pake bedug. Banyakan anak-anak sebayaku yang naik mobil bak terbuka dan berpawai keliling kota. Pokoknya hepi banget….
Tapi waktu SMP, kegiatan takbiran keliling kota itu dilarang oleh Polisi dgn alasan mengganggu ketenteraman. Memang beberapa bulan sebelumnya ada sedikit konflik antar umat beragama. Dan polisi takut kalau kegiatan takbiran bisa memicu penyerangan terhadap umat Muslim.
Dan terus terang, saya kehilangan kesenangan keliling kota sambil berisik.
Saya waktu itu juga nggak terlalu ngerti kenapa kok sampai dilarang, karena yang saya tahu nggak bisa lagi bunyiin kaleng, dan dapet makanan kalau pas di masjid ada yang bawa makanan.
Saya sendiri Kristen, dulu waktu kecil memang merayakan lebaran dgn teman-teman muslim. Mungkin cuma sekedar salaman dan setelah itu matanya jelalatan cari makanan.
Tapi setelah pelarangan itu, berkurang satu kesenangan lagi dalam merayakan hari raya keagamaan.
Yah, itulah Bang. Terkadang sangat gampang menghakimi dan mengadili sebuah perbedaan. Dan terus terang saya justru rindu dengan masa kecil yang bisa berbaur seperti itu. Saya sendiri nggak tau sekarang seperti apa disana.
Karena yang berbeda juga punya persamaan. Setidaknya sama-sama manusia.
April 23, 2008 at 6:24 am
Wahh…
Pernah kena para ‘pemuda berambut pendek dengan badan besar dan pakaian loreng’ juga yah…
Saya pernah sekali jadi bagian dari para pemuda itu, walaupun waktu itu masih kecil… Ikut-ikutan marah juga… Walaupun ngga tau apa-apa…
Tapi sekarang saya baru tau rasanya ngga enak banget waktu akhir2 ini saya diperlakukan kayak gitu…
Yah asal Pak Arif tau, di tempat saya, uang yang didapat itu digunakan untuk hal-hal yang kalo Pak Arif tau mungkin bakal kecewa berat…
Tapi pengalaman sih… Iya ngga Pak…?
Jadi tau kan keadaan sosial di sini…
April 23, 2008 at 6:47 am
Apa bisa dibilang bisnis speaker adlah bisnis bagus di Indonesia?
April 23, 2008 at 8:18 am
bisa aja klo nyindir…. :p
April 23, 2008 at 10:01 am
jaman dulu ndak pake sepiker juga, musholla dan mesjid buaanyak yang datenng. sekarang ?? meski sudah dipasang sepiker ribuan watt, malah makin sepi …
April 23, 2008 at 10:02 am
Alhamdulillah, ternyata bang aip mulai aktip ngisi blognya lagi. lamaaaa … banget saya nunggu nya
*ini komen nyampah*
April 23, 2008 at 11:16 am
salam..
Bang, saya sampai sekarang masih bingung akan sosial budaya sendiri. terlahir sebagai penduduk Jakarta, kalo dirunut dari Nyak-Babe, Engkong sampe Uyut semua lahir dan tinggal di Jakarta. Apakah saya Betawi asli
penggusuran demi penggusuran jaman orde baru, dengan alasan pembangunan.. berpengaruh besar terhadap eksistensi dan identitas keberadaan warga betawi ini, sekarang mungkin menjadi kaum yang termajinalkan.. *stop*
speker? saya kecil, sering megang toa buat skedar jadi muadzin musholla kampung
di Kuningan Timur, yang sekarang menjadi Mega Kuningan-Kawasan Segitiga Emas Jakarta. tempat ini dulunya juga sering ada pemutaran pelem layar tancep (misbar-gerimis bubar) yang juga tak jauh dari speker tersebut..
*Bang Aip, lame amat nungguin tulisan barunye.. :)*
April 23, 2008 at 11:33 am
wah panjang benget cak…
komen dulu baru baca
April 23, 2008 at 2:22 pm
hmmm…mungkin tulisan ini bisa menjadi tambahan informasi
April 23, 2008 at 3:25 pm
Bang Aip,
Welkom bek. Aha setelah lama ditunggu2 nongol juga.
Ech kisah saya kok sama kayaq Pyrhoo. Saya juga kangen denger suara kaleng, gendang dan suara azan dari mesjid depan rumah. Tape..itu dulu lho. Mungkin skrang udah ngga kuat lagi dengerin ributnya tuh spiker. Maklum priok makin padat jadi dgn bertambahnya ribut kepala jadi 7 keliling.
Ech situ ngga termasuk kategori nyang suka ngeluh lho. Mungkin krn terus2an musti beradaptasi jadinya sadar dan bawah sadarnya jadi ngga kru2an. Btw Ibunyonya udah ngga hyperventilasi lagi toch?
April 23, 2008 at 3:52 pm
Saya pernah juga berkeluh semacam ini, ada yang bilang ‘wah mas, itu tandanya hati mas mulai membeku, banyak-banyak baca al-quran gih’ Saya pikir ‘lha wong telinga saya yang membeku kok’
April 23, 2008 at 4:45 pm
Saya jadi ingat juga dengan kampung halaman saya .. dimana, para tetangga berlomba-lomba membeli sound system yang bersuara nyaring hahaha
kalo sudah begini, kampung jadi terasa heboh boh.
Dan seperti biasa, sesuai dengan pepatah bangsa ini : “Yang waras, yang ngalah” hahaha .. jadi justru kita yang harus menyingkir jika ingin hidup nyaman
April 23, 2008 at 4:46 pm
Btw .. bang Aip kemana aja, koq lama banget ga postingan. Ngurus pindahan ya?
April 23, 2008 at 10:33 pm
masih kagak nyaman aja ya di Indonesia? Padahal masih bangsa sendiri semua ya? untung aje di Kairo kagak gitu-gitu amat. Walo kita minoritas di kalangan para Arab, Anak-anak Indonesia ‘dianggep’ baek banget sama mereka…Moga Indonesia’mendadak baik’ he
Btw nama kita sama2 Arif Kurniawan, Bang…
April 24, 2008 at 12:40 am
Kayaknya lebih toleran diskotik, mereka justru menggunakan peredam suara
–kalo pas ibadah koar-koar
kalo pas maksiat sembunyi sembunyi–
April 24, 2008 at 2:22 am
Wah, saya juga tertegun baca postingan ini. Saya juga pernah tinggal di beberapa tempat terpencil di Indonesia Tengah, tapi Alhamdulillah tidak pernah mengalami intimidasi dan ruwat anti teroris segala. Ternyata orang Indonesia tidak seramah yang dikira
April 24, 2008 at 2:53 am
[...] maka pasti yg namanya “karma” berlaku di semesta ini. Salah satu contohnya di sini di komentarnya “@gelap_gulita” , semalam saya baca di blognya bung ArifKurniawan, [...]
April 24, 2008 at 3:29 am
baru tahu saya kalo ada gereja pakai speaker ke luar gedung…
mungkin gerejanya gak berdinding ya?
April 24, 2008 at 4:49 am
haiiiiiiiii
salam kenal buat yang punya blog ini
April 24, 2008 at 4:56 am
Ini di Banda Aceh yah …. karena mushola/masjid memang setiap 100meter kayanya.
April 24, 2008 at 6:58 am
saya juga sering mengeluh, dan mengeluh seperti mensugesti diri sendiri.
betewe bangaip… keknya
penganut agamakeluarga saya, ndak ngefens sama pengeras suara…April 24, 2008 at 9:46 am
kaya pengalaman, berarti kaya ilmu.
April 24, 2008 at 1:48 pm
wahahaha…kalau spiker udah gak ngefek buat kuping saya. wong adzan subuh aja suka ga kedengeran. kalo subuh mesti pasang alarm, taro deket kuping, baru deh bangun huehehehehe…
April 25, 2008 at 4:42 pm
Di kampung saya di Sleman sana sudah lama speaker luar hanya dipakai untuk adzan saja. Pengajian dan kegiatan lain pakai speaker dalam, kecuali kalau pengajian lapangan yang memang di luar ruang.
Waktu saya kecil dulu, persis di sebelah utara masjid tinggal seorang penganut agama lain yang kebetulan berpenyakit jantung. Keluarganya minta speaker yang ke arah utara dipindah arah karena suka bikin kaget kalau waktu shubuh. Kami yang muslim tidak keberatan. Memang begitulah semestinya hidup.
April 26, 2008 at 1:33 am
saya cinta speaker, bang…
bagaimana tidak…saya kan rocker, soale. ndak pake speaker, ya suara saya ndak bisa didenger penonton, hohoho…
April 26, 2008 at 3:49 am
Di komplek saya. Weekend adalah hari yang bagus buat mendengarkan konser dari rumah ibadah.
Tiap harinya. tetangga saya yang kebetulan bentuknya Langgar biasanya 2-3 kali sehari membuat saya percaya bahwa pendengaran saya masih normal.
Dan keduanya damai damai saja. Namun, sesekali ada umat beragama yang memberikan layanan suara plus, seperti suara panggilan di waktu siang hari.
Untungnya, untuk acara acara semacam maulid dan yasinan tidak pernah pakai speaker luar.
Sebenarnya impian saya adalah menghapuskan speaker dan menggantinya dengan koneksi antar rumah. Sehingga hanya yang berminat saja yang menyalakan sound sistemnya untuk mendengarkan suara bising kiriman rumah ibadah.. Bisa ga ya dilaksanakan di Indonesia?
Oh iya. itu yang meminta tambahan buat yang beda kulit namanya generalisasi dan anti pluralisme, begitu Bang?
April 28, 2008 at 9:31 am
Jangankan speaker…itu namanya klakson : orang mo nyelip aja pakai klakson; udah nyampai rumah pakai klakson supaya pembantu buka pintu gerbang, pokonya serba klakson deh dan knalpot…brisik amat…polusi suara!!! Jangan-jangan di X tahun ke depan bisnis alat bantu pendengaran akan sangat laris manis!
April 29, 2008 at 8:32 am
Ya ampyun bang aip. Ini makan siangnya udah gak lemper lagi ya? hampir satu dekade ditungguin gak nongol2. Giliran nongol malah kayak ambein -ngagetin-. Hihihihi.. Halah.. saya tuh selalu amazed dengan cerita2 bangaip yang selalu memangpaatkan apapun dan dimanapun untuk belajar maupun mengajar. Gut bang. Haduh kasian ibu nyonyah kagetan ples sakitan mulu. Rajin2 ngerokin ya bang, jangan membangkang sama ibu nyonyah. Anyway.. salam buat doski dan calon aip junior yaa..
Mei 3, 2008 at 1:45 pm
wah kisah hidupnya sperti di film2! (kayaknya berbakat neh jadi sutradara
)
Mei 3, 2008 at 3:24 pm
Walah, speaker bisa jadi cerita yang menarik gini. Dan ternyata wabahnya dah merasuk ke pelosok-pelosok.
Mei 6, 2008 at 8:58 am
Orang Indonesia bukan jatuh cinta pada lesspeker, tetapi karena orang Indonesianya keturunan tuli pendengarannya, jadi harus pergunakan lesspeker di mesjid.., karena bangsa Indonesia orang tuli berpenyakit Jiwa.
Mei 7, 2008 at 4:25 am
orang indonesia suka bernarsis di speaker
Mei 8, 2008 at 5:28 am
BAHASA ILAHI
Sewaktu mendengar Sang Guru mengidungkan ayat-ayat Sanskrit
dengan merdu, seorang ahli bahasa Sanskrit sangat terpikat.
Lalu ia berkata, “Saya mengetahui bahwa tak ada bahasa di
bumi ini seindah bahasa Sanskrit untuk mengungkapkan hal-hal
yang ilahi.”
“Jangan bodoh,” kata Sang Guru. “Bahasa yang ilahi bukan
Sanskrit. Bahasanya adalah Keheningan.”
(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello,
Mei 8, 2008 at 5:28 am
TIDAK BEKERJA, TIDAK ADA MAKANAN
Hyakujo, seorang guru Zen berkebangsaan China, terbiasa
bekerja beserta dengan murid-muridnya bahkan pada usianya
yang sudah delapan puluh tahun, memangkas rumput taman,
membersihkan halaman, dan merapikan tanaman.
Para muridnya merasa tidak tega melihat guru mereka yang
telah tua renta masih bekerja berat, tetapi mereka tahu
bahwa guru mereka tidak akan mendengarkan nasihat untuk
berhenti bekerja, sehingga mereka menyembunyikan perkakas
kerjanya.
Pada hari itu, guru mereka tidak makan. Hari berikutnya
juga, dan demikian pula dengan keesokan harinya lagi. “Ia
mungkin marah karena kita menyimpan perkakasnya,” duga
murid-muridnya. “Sebaiknya kita kembalikan lagi perkakasnya
itu.”
Setelah mereka mengembalikannya, guru mereka kembali bekerja
dan makan sebagaimana sebelumnya. Pada malam hari, ia
menginstruksikan mereka, “Tidak bekerja, tidak ada makanan.”
———————
Daging ZEN Tulang ZEN
Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen
Dikumpulkan oleh: Paul Reps
Mei 21, 2008 at 1:58 pm
Loudspeaker tu emang cocok kalo dipasang di terminal bis, di stasiun kereta, di pasar. Disinipun menuai protes dari para tukang copet, he he
Mei 22, 2008 at 3:16 pm
Saya juga tipe pengeluh, mungkin lebih parah dari BangAip
Waktu di Indonesia suka sebal dengan para narsis yang sepertinya senang banget mendengar suaranya mengalun di TOA berbagai mesjid / mushola.
Eh, begitu di inggris… ternyata bulan puasa kalau tidak ada “keributan” malam & subuh itu rasanya mengenaskan amat ya
Serasa tidak bulan puasa, he he. Tidak ada rasa syahdu, adanya cuma sendu.
Dasar manusia. Gak pernah puas.
Juni 11, 2008 at 12:08 pm
malem bang aip,
baca cerita bang aip saya jadi inget pas bang aip masih tinggal di bali
desa itu maksud nya ubud kan hehehe…..
dan saya baru tau klo kenapa kok nyonya pulang duluan, jadi itu tho alesannya.
eh, junior nya udah lahir belom?? cewe apa cowo, klo udah lahir jangan lupa selametan bubur merah ama bubur putih ya…..
salam buat margritje ya….(bener gak tulisannya? soale klo manggil biasanya ambil gampangnya aja = magrib…hehehe..)
Juni 11, 2008 at 12:10 pm
ehh…. ada yang lupa…
mau kasih tau klo bang aip mas topik udah nikah bulan maret kemaren
Juli 31, 2008 at 4:04 am
Heheheh….coba bang Aip datang ke pelosok Citeureup dan Sentul, masih banyak pengajian “Aspek” (Anti Spiker) :), karena dianggap Bid’ah