Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.

Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?

Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata “Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!“. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh “Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!

Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.

Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.

Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.

Begini;

Dulu, saya sempat tinggal di sebuah desa di Indonesia Timur. Desa ini dekat pantai. Dekat dengan sekolah saya, yang masih berhubungan dengan laut dan isinya. Di desa ini ada sebuah rumah ibadah. Setiap pagi, kira-kira sebelum matahari terbit, saya menyambangi rumah ibadah ini.

Saya bukan relijius sih sebenarnya. Saya menyambangi rumah ibadah ini, yaa selain beribadah, juga mengajar. Topik ajarannya bermacam-macam, kadang-kadang bahasa asing, kadang-kadang biologi, matematika, dan mata pelajaran untuk anak-anak SMP. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibadah pagi itu.

Saya sendiri, melakukannya demi diri sendiri. Mencoba untuk belajar. Belajar peduli. Sebab katanya, hati itu bisa mati kalau tidak dilatih belajar untuk peduli.

Anak-anak ABG (Anak Baru Gede) yang umumnya masih SMP atau SMU, tidak banyak yang datang ke rumah ibadah ini. Namun ketika ada kursus gratis setelah ibadah. Mereka satu persatu mulai datang ke rumah ibadah ini.

ABG ini, umumnya anak-anak kaum pendatang. Bapak ibu mereka adalah produsen tempe dan tahu. Membuat tempe dan tahu dengan cara tradisional. Kedelainya diinjak-injak. Namun ada pula yang orangtuanya nelayan.

Mereka ini, anak muda yang kebingungan secara kultural.

Di sekolah, dianggap anak pendatang. Walaupun lahir dan besar di desa tersebut. Namun di rumah, dianggap ‘berbeda’, Karena tidak mengerti bahasa asli orang tua mereka.

Terperangkap di dua dunia. Sibuk sekali mencari identitas diri.

Maka itu, ketika ada kursus gratis. Wah senangnya bukan main. Sebab selain bisa belajar, juga bertemu rekan senasib. ABG yang sedang mencari jati diri identitas kehidupan.

Lambat laun, kursus kecil-kecilan ini, dari mulai 2 orang, membengkak jadi 20 orang. Semakin banyak saja ABG yang ikut dalam acara pagi-pagi asah otak ini. Saya pun makin kesulitan. Dan lalu mulai merekrut teman-teman yang mau membantu ikut mengajar.

Saking intensnya, ruangan beribadah khusus untuk wanita pun dijadikan wahana untuk belajar.

Dan disinilah masalah dimulai.

Tidak lama kemudian, kira-kira selang tiga bulan setelah kursus pagi ini. Loteng rumah ibadah yang kami gunakan sebagai sarana belajar, sering ditimpuk. Ditimpuknya tidak tanggung-tanggung, pakai batu bata.

Karena atap rumah ibadah dari seng tipis. Yaa dengan serta merta, bolong tidak karuan dihajar batu bata. Kalau hujan, air masuk dengan suksesnya.

Imam, sebutan pemimpin rumah ibadah ini, kebetulan seorang mayor polisi. Ia mengusut kasus ini hingga tuntas. Dan pada suatu hari, ditangkaplah si pelaku ‘pengeboman batu bata’ tersebut.

Ketika ditanya mengapa, si pelaku menjawab dengan mata ganas, “Kalian orang, bukan main itu mulut berisik. Kita ada pusing dengar kalian spiker setiap pagi”.

Saya terhenyak mendengar hal itu.

Imam, memberikan solusi yang baik. Yaitu, mulai sejak saat itu tidak ada lagi pengeras suara. Namun, kami pakai interkom kaleng. Jadi kalau mau ibadah pagi, cukup tarik tali. Dan tali itu berhubungan antar rumah, dan bunyi berkeroncengan. Penanda waktu ibadah. Unik juga solusinya.

Sejak saat itu, tidak ada lagi pelemparan batu bata diatas rumah ibadah.

Yang menarik, ternyata umat ibadah lain. Yang menjadi mayoritas. Mulai membunyikan lonceng setiap pukul 4 pagi. Dan mulai berceramah dengan memakai pengeras suara. Bahkan, ada diantaranya yang mendirikan rumah ibadah dengan menara dan lonceng yang besar di atas bukit sana.

Tujuannya; entahlah?

Yang pasti, tidak ada kursus gratis disana. Hehe.

————-

Bertahun-tahun kemudian. Saya pindah. Bersama istri, tinggal di sebuah desa di Indonesia Tengah. Desa ini, juga indah. Bedanya dengan desa saya dulu di Indonesia Timur, desa saya saat ini, sering dibanjiri turis.

Di desa ini, agama adalah salah satu produk untuk menarik turis-turis datang membelanjakan dolar mereka.

Banyak rumah agama, apabila hendak mengadakan acara ritual tertentu, seperti potong gigi hingga potong rambut, menjual karcis kepada turis. Umumnya pada wisatawan mancanegara. Ritual itu dipertontokan. Kalau turisnya bawa kamera, biasanya bayar dengan dolar tambahan.

Bagi saya, sah-sah saja. Tidak masalah. Selama semua orang bahagia. Apa yang mau dikata?

Hubungan saya dengan penduduk desa setempat juga baik. Artinya, kalau mereka mau pesta main layang-layang, saya pasti diminta ‘kontribusi’ secara finansial. Kalau diajak main sih, tidak juga. Hehe.

Karena warna kulit istri saya agak berbeda dengan kebanyakan warga desa lainnya, kontribusi finansial yang dibebankan pada keluarga kami juga berbeda. Contohnya, membayar retribusi sampah. Jika pada setiap Kepala Keluarga adalah sepuluh ribu rupiah. Maka pada keluarga kami, bisa delapan hingga sepuluh kali lipatnya. Padahal sampahnya mah sama. Sebab kami masih makan makanan normal kok. Bukan makan beling.

Entah kenapa, hingga saat ini saya tidak mengerti alasannya kami diperlakukan beda.

Bagi saya, agak mengesalkan. Namun karena biasanya yang datang ke rumah pemuda berambut pendek dengan badan besar dan pakaian loreng, lebih dari lima orang. Yaa pasrah aja. Lapor pada yang berwajib, malah dinasihati “Mas, disini memang begitu”.

Saya menjalani hidup dalam kepasrahan ini hingga 11 bulan. Hingga pada suatu hari, terjadilah musibah. Desa kami di serang teroris gila.

Istri saya, mengalami trauma yang luar biasa. Beberapa temannya menjadi korban. Trauma ini begitu mendalam. Dan membuat sayatan memanjang pada hatinya.

Akibatnya, istri saya mengalami gejala hyper-ventilasi. Susah bernafas. Bukan karena kondisi fisik, melainkan lebih ke arah kejiwaan. Ia ketakutan. Sebab, teroris itu memang mencari sasaran orang-orang yang warna kulitnya berbeda dengan warga desa.

Saya dan istri pindah ke negara tetangga untuk sementara. Namun tidak bisa lama. Gaji saya sebagai buruh, tidak mampu membiayai hidup kami lama di negara tetangga.

Akhirnya, kami kembali pulang ke desa semula. Sebuah desa indah tropis di sebuah titik di Indonesia Tengah.

Begitu sampai di rumah, tiba-tiba segerombolan warga desa membawa map. Meminta 250 ribu rupiah per kepala keluarga (*atau mungkin hanya pada keluarga kami?*). Mereka akan mengadakan acara. Sebuah ruwatan untuk bumi. Agar desa kami, tidak dilanda musibah.

Dan tentu saja, jampi-jampi anti-teroris pasti akan dibaca disana.

Dengan wajah penuh haru memandang sisa-sisa uang yang diminta (dengan agak memaksa) pindah tangan. Saya bilang, “Pak, kami juga akan berdoa. Semoga apapun yang diberikan, kita sanggup menghadapinya”.

Mereka memandang saya dengan tatapan mata dingin. Mungkin tidak mengerti. Atau mungkin.. entahlah.

Yang pasti, besok paginya istri saya kembali sakit. Terbaring saja di tempat tidur. Nafasnya susah. Cepat dan terburu-buru. Saya sedih sekali melihatnya.

Hari itu, saya tidak bekerja. Melainkan menunggu istri saja di rumah. Kami tidak punya banyak tetangga yang bisa diminta tolong. Hidup dalam kompleks perumahan. Andaipun ada yang mau menolong, ketika melihat warna kulit istri saya, umumnya meminta imbalan sesudahnya.

Jadi, hari itu saya di rumah.

Jam 12 siang. Ketika hari sedang panas teriknya. Terdengar bunyi keras sekali. Seperti suara-suara bernyanyi-nyanyi dalam irama dan ritme yang tidak ada alurnya.

Saya kaget. Nafas istri saya semakin memburu.

Saya keluar rumah. Berlari mencari asal suara. Seperti gila rasanya. Berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang panas.

Tidak lama kemudian, saya menemukan sumber asal suara itu. Sekelompok orang tengah berkumpul duduk melingkar pada sebuah rumah ibadah. Setiap orang memegang mike. Ooo Oohh, itulah asal suara tersebut. Dari pengeras suara.

Ketika saya tiba di pintu masuk. Mereka memandang saya tidak senang. Nampaknya kehadiran saya mengganggu.

Salah seorang berdiri. Berkacak pinggang, bertanya dengan nada menghardik, “Heh! Mau apa?!”

“Pak, mohon jangan keras-keras. Istri saya sedang sakit”, suara saya memelas. Memohon pada mereka, perwakilan mayoritas, penduduk lokal.

Ia semakin terlihat marah, “Kamu jangan mengganggu yaa. Ini upacara ruwat bumi. Untuk membersihkan bumi kita dari sengsara. Semua orang mau upacara ini. Supaya desa kita bersih”

Tidak lama kemudian, setelah saya kira mereka sudah tidak bisa lagi diajak diskusi. Saya dan istri, pindah ke tempat yang lebih tenang. Sebab nampaknya, kebutuhan mereka berdoa dengan pengeras suara sudah tidak bisa diganggu gugat.

————–

Tidak lama setelah kejadian ini. Istri saya pergi ke rumah orangtuanya. Ke rumah mertua saya. Disana lebih tenang. Ia bisa bisa lebih fokus untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang ketakutan terus menerus.

Saya… Ahh, karena masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak bisa ikut. Saya harus masih ke Cilincing. Ke ujung pelosok utara Jakarta. Ke tempat di mana saya dilahirkan.

Kembali ke kampung halaman, setelah bertahun-tahun di ranah asing, menimbulkan perasaan tersendiri dalam jiwa saya. Seperti terasing di rumah sendiri.

Saya coba untuk mengulang kembali hal-hal yang pernah saya lakukan ketika saya masih tinggal di sini dahulu. Incognito.

Seperti mancing di laut Marunda. Jalan jalan naik sepeda ke tempat pembakaran mayat, Tapekong. Malam-malam main kartu remi hingga larut pagi dengan teman saya Odoy, Uki, Pieter, Utu, Aris Kisut, Rojak, Jumari dan juga dengan si Gugun, adik saya.

Lalu, setelah kecapekan main remi, rame-rame jam tiga pagi kami masuk musolah. Sebab Musolah Cilincing bagi kami bukanlah rumah ibadah. Melainkan hotel tempat bermalam, ketika badan sedemikian letihnya untuk urusan hedonisme. Sanctuary ketika masalah hidup sedemikian banyaknya. Hehe.

Anehnya, musolah kok dikunci? Kenapa?

Namun, badan yang letih tidak mau kompromi. Kami tidur di halaman musolah. Dan namanya juga musolah kecil. Halamannya juga kecil lah.

Kami tidur berdesak-desakan bagaikan ikan dalam kaleng sardin. Tapi… Ahh, kalau capek mah, apa saja nikmat. :)

Tidak lama kemudian… Kami semua terbangun. Kaget. Ternyata Pak Katno, tetangga saya, bapaknya Amat, adzan euy. Dan suaranya Pak Katno ini khas sekali. Mirip knalpot oplet, angkutan kota yang beroprasi di tahun 70-an. Ampuun deh. Dan yang lebih bikin ampun, pakai pengeras suara loh.

Saya menendang kaki si Gugun. Adik saya membuka mata sebelah, “Apaan sih lo?”.

Saya berbisik, “Gun, bangun men. Subuhan luh. Gila men. Kok sekarang ada speaker yaa di kampung kita. Apa jangan-jangan gara-gara ini, musolah dikonci?”

Gugun tidak menjawab. Jumari, Odoy, Rojak, Aris Kisut, Utu dan Pieter bangun duduk bersandar di dinding musolah. Mata mereka kusut. Kuyu.

Cilincing sudah berubah. Kali ini, ada pengeras suara diantara kami semua.

Saya bertanya pada Jumari, “Jum, lo tau ga? Orang Indonesia itu ternyata cinta speaker. Apapun agamanya, kalau sama speaker, mereka tergila-gila, Jum”

Jumari menatap saya sambil menguap. Lalu berkata…, “Ahh lo rip. Ngeluh aja lo bisanya”

Saya menatap Jumari dengan tatapan mata bimbang. Sambil berfikir dalam hati, jangan-jangan saya memang hanya bisa mengeluh.

Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya. Benarkah orang Indonesia jatuh cinta pada speaker pengeras suara?

Entahlah.

Atau ternyata, bahwa hanya saya saja orang Indonesia yang memang suka mengeluh?

Hehehe, entahlah…

About these ads