September 2008


Bertahun-tahun saya hidup di tanah rantau. Malam ini, adalah malam biasanya saya lebih sering terpekur dalam menerima ‘kondisi’ saya. Yaitu kondisi perantau.

Tapi sebelum jauh-jauh, mari kita definisikan dulu apa itu rantau.

Ini definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dalam jaringan. Salah satu kamus favorit saya. Sebab kamus ini, bisa diakses oleh perantau macam saya. Yang enggan membawa buku tebal-tebal kemana-mana. Hehe.

ran·tau
daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah (negeri) di luar kampung halaman; negeri asing;

me·ran·tau

1 berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dr satu sungai ke sungai lain dsb);
2 pergi ke pantai (pesisir); pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb);

pe·ran·tau
1 orang yg mencari penghidupan, ilmu, dsb di negeri lain;
2 orang asing; pengembara;

Berdasarkan terminologi di atas, saya ternyata dapat dikategorikan sebagai pe·ran·tau. Orang asing yang mencari penghidupan di negeri lain.

Saya tidak akan menjelaskan mengapa saya mencari penghidupan di negeri lain, bukan-di-negeri-sendiri, dalam tulisan ini. Sebab bisa saja jawaban saya adalah; bahwa pada suatu saat tertentu, kehidupan di negeri asal saya sedemikian berbahaya, sehingga saya terpaksa harus pergi.

Tidak, saya tidak akan menceritakan hal tersebut. Dan saya pun belum mau menceritakan mengapa saya me·ran·tau dan lokasi pe·ran·tau·an saya.

Saya hanya akan bercerita, mengapa malam ini saya ‘terpekur’. (*Anggap saja, ini masih dalam konteks curhat orang Cilincing, hehe*).

Begini;

(*lanjut membaca*)

Ada pertanyaan yang menganggu pikiran saya akhir-akhir ini;

Pertama adalah, “Bagaimana caranya membatalkan undang-undang di RI?”

Sayangnya, saya bukan berlatar belakang dari disiplin ilmu hukum. Maka, langkah pertama yang saya lakukan untuk mendapatkan jawaban ini adalah dengan mencari Suhu saya, Suhu Google.

Sayangnya, jawaban yang diberikan Suhu Google ternyata tidak terlalu banyak. Hanya selintas diketahui, bahwa yang berhak membatalkan undang-undang adalah Mahkamah Konstitusi.

Tidak lama kemudian, saya jelas sibuk memelototi website keputusan-keputusan Mahkamah Konstitusi RI dan produk-produk yang mereka hasilkan.

Sayang sekali, mungkin akibat mata saya yang tidak terlalu lebar setelah sahur di bulan puasa ini. Atau mungkin saya tidak terlalu canggih dalam pencarian dengan kata kunci.

Maka dengan amat terpaksa, saya mengirim surat kepada HUMAS Mahkamah Konstitusi RI. Bertanya sebagai berikut;

Salam,

Nama saya Arif Kurniawan, saya bukan praktisi hukum. Saya pengunjung
website http://www.mahkamahkonstitusi.go.id. Dalam situs ini tidak
dijelaskan bagaimana prosedural pembatalan undang-undang.

Berdasarkan artikel pada tulisan Mahkamah Konstitusi Membatalkan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2008, Undang-undang hanya dibatalkan oleh
Mahkamah Konstitusi.

Saya mencari prosedural dan metode pembatalan undang-undang di website
Mahkamah Konstitusi, namun sayang sekali, hingga kini belum
menemukannya.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah;

1. Di bagian manakah pada website mahkamahkonstitusi.go.id saya dapat
melihat prosedur pembatalan undang-undang?

2. Apabila di website anda belum ada, dapatkah kiranya anda membantu
saya menjelaskan mengenai bagaimana caranya Mahkamah Konstitusi
membatalkan Undang-undang?

3. Apabila pertanyaan ini salah sambung, saya mohon maaf, dan apakah
kiranya anda dapat membantu saya membantu memberi saran mengenai
departemen apa di RI yang dapat memberitahu bagaimana cara membatalkan
Undang-undang?

Terimakasih,
Arif Kurniawan
email + website

Mungkin, karena si HUMAS sibuk, maklumlah Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia masih punya banyak waktu daripada mengurus manusia iseng macam saya ini, maka surat saya belum di jawab.

Maka itu, mulailah saya gerilya mencari jawaban.

Gerilya pertama dimulai dari pengacara kantor. Beberapa hari lalu, saya panggil beliau ke kantor saya.

Saya tanya, “Mbak, gimana caranya ngebatalin undang-undang di RI”

Dia melotot, “Yee, meneketehe! Mana ngerti gua kayak gitu-gituan”

“Ahh makan gaji buta luh. Lo kan lawyer disini. Ini tugas lo jawab pertanyaan kayak ginian”

“Eeh kuya luh, mana gua ngerti hukum di negara lo”

“Aaah, alesan lu ah”

“Eeh ngeyel lu yee! Satu, gue bukan orang Endonesyah. Kedua, bidang gue di lisensi. Ngajak ribut luh di bulan puasa”

Hehe. Jelas saja obrolan di atas hiperbolis. Sebab pengacara kantor kami ini sopan-sopan semua. Tapi walaupun sopan dan tidak puasa, mereka sayangnya tidak mengerti produk hukum di RI.

Maka itu, saya telpon beberapa teman yang kebetulan bergerak di bidang hukum dan berasal dari RI. Sayang sekali, mereka susah di jangkau saat ini. Ada yang karena sibuk. Ada juga yang karena kebanyakan duit jadi susah mengurusnya. Hehe.

Klik ini untuk lanjut membaca tulisan

Kalau sedang butuh ide, atau sedang iseng, atau sedang butuh informasi hiburan, biasanya saya membaca blog dalam bahasa Indonesia.

Habis membaca blog, biasanya saya kembali riang gembira. Entah kenapa… Aneh yaa? Hehe

Nah, yang jadi masalah; Hati yang riang gembira, biasanya-hanya-terjadi, setelah berkunjung dari blog-blog yang isinya baik menurut saya saja.

Setahu saya, saat ini banyak sekali jumlah blog berbahasa Indonesia.

Namun yang membuat hati saya riang gembira, kok yaa makin lama makin sedikit?

Kumpulan blog berbahasa Indonesia (mayoritas) dalam agregator yang menurut saya baik antara lain di merdeka.or.id. Merdeka ini isinya oke juga. Gado-gado, tapi lezat. Penulis blog yang tergabung disana kebanyakan kreatif.

Untuk agregator blog yang niche secara teknikal, saya memilih id-ubuntu (ubuntulinux.or.id) sebagai salah satu agregator yang konsisten dalam mutu. Maklum, para supporternya kebanyakan die-harder semua. Hehe.

Nah, bagaimana dengan blog-blog bahasa Indonesia lainnya yang jumlahnya tersebar di seluruh pelosok dunia? Apakah semuanya mampu membuat saya riang gembira?

Jawabnya, yaa belum tentu. Hehehe.

Jangankan membaca blog orang lain, membaca blog sendiri juga kadang belum tentu saya riang gembira. Hihihi.

Tapi pada intinya, kok yaa makin lama makin hari makin susah menemukan tulisan gratis yang bermutu (berdasarkan standar ndeso saya) di belantara blog berbahasa Indonesia.

Apakah harus membayar untuk membaca blog bermutu?
Atau apa ini hanya perasaan saya saja yang semakin lama semakin tidak tahu diri?
Atau kalau memang susah menemukan blog bagus berbahasa Indonesia, kenapa tidak mencari yang berbahasa lain?

Jawabnya…

Tadi pagi, pas sahur, saya dapat telpon dari teman. Tadinya sih saya pikir ia mau mengajak batal puasa bersama. Hihihi. Maklum ia teman saya bercanda. Ternyata saya salah besar.

Rupanya sang sahabat ini tengah dirundung duka. Ahh sedih sekali.

Rumah-tangganya, yang telah dibina hampir 15 tahun dengan istri tercinta, di landa badai.

Masalah datang silih berganti menimpa mahligai perkawinan mereka. Puncaknya adalah seminggu lalu. Ketika istrinya, memutuskan pergi. Membawa putra mereka yang berusia lima tahun. Pergi dari rumah… Dan hingga kini belum kembali.

Saya kaget luar biasa. Ia sahabat karib saya. Saya mencintainya bagaikan saudara. Dan kini, dukanya adalah duka saya pula.

Itu pasangan suami istri, saya akui, cobaan yang mereka hadapi memang luar biasa. Setelah dua pemilu menunggu, baru mereka akhirnya dikarunia putra.

Kisah pasutri ini unik. Sang perempuan, hidup terhormat dengan memilih menjadi Ibu dan menjauhi dunia glamor yang ditekuninya, hanya demi satu alasan, berkeluarga. Si lelaki, yang berasal dari keluarga taipan kaya RI, memilih hidup mandiri menjadi buruh meninggalkan fasilitas keluarga lama demi menghidupi keluarga barunya itu. Sebab pernikahan mereka memang tidak direstui.

Saya masih terkaget-kaget. Maka, jelas saja saya bertanya “Ada apa? Kok masalahnya sampai segini parah sih? Ada yang bisa saya bantu?”

“Nggak rif… Ini gunung es. Keliatannya aja dari luar kecil, padahal sih sebenernya gede banget dan udah lama”

“Tapi kan nggak harus sampe pisah? Si Didi gimana? Aduuh kasian kan dia, masih kecil segitu”

“Ikut sama mamanya”

“Aduh masaoloh! Kalian kan bedua kerja. Trus nanti siapa yang jagain si Didi?” (*Saya terus terang tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran terhadap Didi, putra mereka. Sebab korban dari pertentangan orangtua, bukan hanya kedua pasangan suami istri tersebut, melainkan juga anggota keluarga lainnya. Terutama anak*).

“Yaah, kami akan cari cara untuk mengatasi, Rif”

“Kok bisa sih. Maksud saya, kalian kok bisa memutuskan untuk pisah”

“Hmhh…”

“Kalau kamu nggak mau cerita, terlalu pribadi, jangan ceritaa yaa. Saya nggak enak. Dan saya nggak maksa kok. Take your time, men”

“Nggak sih. Bukannya terlalu pribadi, saya nggak tahu saja dimana saya harus mulai. Ini masalah lama kok. Kamu tahu kan, dia selalu minta saya berubah. Dia minta saya sekolah lagi, supaya dapet kerja yang lebih baik, gajinya lebih gede. Dan kamu tahu, saya bukannya nggak mau sekolah, tapi kan biaya sekolah mahal. Andai pun saya harus sekolah, saya nggak niat pingin dapat uang banyak. Saya cuma kepingin dapat ilmu”

Saya terdiam. Sahabat saya ini idealis. Terlalu idealis malah, bagi sebagian anggapan orang.

Dia tidak menyukai sertifikasi. Bagi dia, ilmu yang dimonopoli oleh institusi pendidikan, lalu dijual kembali kepada publik dengan harga mahal, adalah penindasan gaya baru. Bagi dia, seharusnya ilmu dapat diperoleh dimana saja.

Sialnya, pendapat teman saya ini tidak berlaku di RI. Ilmunya memang banyak. Sayang sekali, di RI perusahaan yang memperkerjakan karyawan dengan cabang keilmuan yang ia tekuni, menuntut sertifikat. Dan itu yang sahabat saya tidak miliki.

Ia melanjutkan dengan nada sedih, “Kamu tahu, ia selalu menuntut saya supaya punya sertifikat. Coba kamu bayangkan, bagaimana saya bisa kerja ngeburuh begini sambil sekolah. Gaji kecil. Udah gitu, harus dipirit-pirit tuh duit. Supaya saya bisa dapet sertifikat! Apa lagi jatah rumah yang harus dipotong? Susunya si Didi!”

Saya diam. Sebab menawarkan uang agar ia bisa melanjutkan sekolah, kepada sahabat saya, saat ini bagai menyiram bensin dalam api. Itu bukan solusi.

Saya kehilangan kata-kata sejenak. Saya termenung lama. Masalahnya rumit sekali untuk otak saya yang kecil ini.

Pelan-pelan saya tanya, “Trus, gimana dong sekarang?”

“Saya sudah kehilangan hasrat laki-laki kepadanya, Rif. Begitu pulang kerja capek, di rumah ia ngomel abis-abisan. Dia bilang, saya harus berubah! Saya marah. Dan akhirnya, kami saling menyakiti. Saling omel. Aahh…”

Takut-takut, saya tanya, “Kamu nggak mau menuruti permintaannya?”

“Ahh kamu. Kayak nggak kenal saya aja. Saya kawin sama dia tuh karena dia satu-satunya perempuan yang mengerti saya. Sekarang ia berubah. Sialnya… Saya tidak berubah. Saya adalah saya. Dan ini masalah prinsip”

Saya diam saja. Saya bingung mau jawab apa.

Ia, sahabat saya. Idealis dan keras kepala. Tapi saya sayang kepadanya. Ia salah satu dari para laki-laki terhormat yang pernah saya temui di muka bumi ini.

Tidak lama kemudian ia pamit. Mau sahur katanya.

Saya pikir cerita ini usai. Ternyata saya salah.

Lanjut membaca terusan ini

Ada hal yang menarik beberapa waktu lalu ini yang saya alami.

Lagi-lagi, tentu saja hal yang menarik yang saya sebut diatas itu bukanlah kesepakatan publik. Sebab apa yang menarik buat saya, belum tentu menarik buat anda. Hehehe. Wajar itu mah.

Tapi pertama-tama, saya mohon maaf abang-mpok tuan-nyonye encang-encing enyak-babe kalau tulisan kali ini agak-agak kurang baik dalam segi apapun jua. Maklum lah, sudah lama saya tidak menulis. Ini jari dan otak rasanya kesemutan, begitu. Hmhhhh…

Saya selalu berharap kemampuan menulis itu ibarat skill naik sepeda. Sekali bisa, sampai mati pun tak kan lupa. Tapi tentu saja itu bisa salah. Mari kita lihat saja tesis itu di tulisan kali ini;

Balik ke awal, saya mengalami kejadian menarik beberapa waktu belakangan ini. Yaitu berurusan dengan hal yang berdasarkan konsep manusia, hal yang tidak menyenangkan untuk dibicarakan.

Iya, saya berurusan dengan maut.

Maut, menurut beberapa budaya terapan manusia, adalah hal yang tidak menyenangkan untuk dibahas. Menarik mungkin untuk dilihat dalam adegan film horror. Atau mungkin menarik untuk dibaca sebagai bagian dari dongeng pengisi waktu senggang di hari libur. Tapi, tidak menyenangkan untuk dialami.

Kenapa bicara tentang maut membuat enggan sebagian manusia?

more

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.