Kontraversi


Teman-teman saya ribut masalah strawberry. Entah kenapa buah kecil manis dan menyegarkan itu menjadi sumber keributan. Dan entah kenapa pula saya tiba-tiba terlibat dalam keributan tersebut.

Mau baca kelanjutannya?

Silahkan klik disini untuk mengetahui perkara sebenarnya.

Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.

Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?

Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata “Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!“. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh “Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!

Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.

Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.

Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.

Begini; (lebih…)

Waktu kartunisasi tokoh agama dan film yang kemungkinan besar akan memicu umat beragama tertentu marah bereaksi, akan beredar, saya amat tertarik sekali.

Personifikasi tokoh suci serta visualisasi mereka (dan ajarannya) dalam film itu memang selalu menarik. Entah bagi yang percaya maupun tidak, selalu menarik.

Tapi percayalah, saya tidak akan membahas pro-kontra film atau visualisasi tokoh-tokoh suci. Jujur saja saya tertarik memang membicarakannya. Sebagaimana setiap orang suka makan masakan hangat. Namun sayang sekali, saya paksa diri untuk tidak membicarakannya.

Kenapa? (lebih…)

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan tamu. Sama seperti tamu-tamu lainnya. Tamu kali ini pun istimewa. (*Sebab semua tamu saya anggap istimewa*)

Satu tamu, adalah seorang guru besar. Titelnya profesor. Di Indonesia, ia Paus untuk bidang ilmu yang digelutinya. Sudah agak sepuh. Rambutnya beruban dimana-mana. Kalau saja rambutnya agak gondrong sedikit dan jenggotnya pun juga gondrong pula, maka anda akan melihat sosok Albertus Dumbledore, guru Harry Potter, di wajah bapak ini. Tapi saya tidak berani bilang begitu dihadapannya. Dosa ahh, ngeledekin orang tua. Kualat nanti. Hehe.

Nah, si Pak Albertus Dumbledore (kita sebut saja Pak Albert) ini membawa rombongannya. Para tenaga pengajar dari Indonesia.

Mereka, bertamu di rumah saya karena pesawat mereka singgah di bandara dekat rumah. Tujuan utamanya, mereka akan ke melawat ke beberapa negara untuk mengadakan perbandingan pola pengajaran.

Tamu yang datang, semuanya delapan orang. Titelnya panjang-panjang. Latar belakang keilmuannya pun berbeda-beda. Ada yang tua, ada pula yang muda. Mereka semua, mengajar siswa dengan kualifikasi S (strata) yang banyak.

Hari itu, saya amat hati-hati berbicara. Manusia-manusia yang bersekolah hingga tingkatan S dan selebihnya itu biasanya Super Sangat Sensitif Sekali Sih. Nah, kali ini, saya bicara dengan guru-gurunya. Ampuun. Bibir saya yang tidak bagus ini makin saya kunci rapat-rapat.

Saya lafalkan wirid ampuh saya di dalam hati, yaitu, ‘Rip, jangan sampe keliatan goblok… Jangan sampe keliatan goblok’. Berulang-ulang dalam hati. Berkali-kali.

Mantra ajaib itu saya baca. Tujuannya hanya satu, agar hati-hati bicara.

Mereka datang, kedinginan. Maklum suhu masih musim dingin. Diluar rumah, sekitar tiga derajat. Suhu ruang tamu saya naikkan jadi 21 derajat. Agar para tamu istimewa ini nyaman. Saya hidangkan pula teh.

Omong-omong soal teh. Tamu saya, sebagaimana tamu Indonesia lainnya, menyukai jenis minuman ini. Dan karena saya pun doyan teh dan punya koleksi teh, maka tamu-tamu saya ini semakin nyaman saja.

Nah, kalau sudah merasa nyaman adalah adat timur orang Indonesia untuk saling bercakap-cakap. Bertukar pengalaman. Bertukar keilmuan. Dan kadang, bertukar kesombongan. Tapi untunglah, tamu-tamu ini kelihatannya bukan orang sombong.

Maka itu, mulailah tamu-tamu saya ini memulai percakapan. Saya dalam hati, semakin melafalkan wirid ampuh yang diragukan keampuhannya oleh saya sendiri.

Bapak XX, seorang pengajar dari Universitas Melati di Tapal Batas, membuka percakapan. Topik yang menarik. Beliau berkata begini;

Pak, masyarakat kita itu percaya, tenaga medis, tenaga hukum dan tenaga pendidik itu pekerjaan yang mulia. Karena berkaitan langsung dengan hidup manusia yang paling inti. Tapi kenapa, jika dokter sebelum praktek di lapangan itu disumpah? Kenapa hakim dan pelaku sidang itu bersumpah sebelum melangsungkan pengadilan? Tapi kenapa, guru, tenaga pendidik seperti kita ini tidak disumpah dan bersumpah apapun sebelum memberikan pendidikan?

Buset dah! Bingung saya dapat pertanyaan seperti itu.

Saya blingsatan di tempat duduk. Baru sadar. Bahwa semua orang di ruang tamu saya adalah pendidik. Bahkan istri saya, walaupun seorang guru SD, tetap saja tenaga pendidik. Hanya saya seorang, anumerta tenaga pengajar.

Gimana saya menjawabnya. Pertanyaannya berat sekali. Mengapa guru tidak disumpah atau bersumpah?

Percuma saya jadi Bangaip yang menyandang gelar Top di belakang nama kalau tidak tahu trik menjawab pertanyaan seperti ini. Maka itu, ketika diskusi mulai bergulir. Kursi saya pindah ke samping Pak Albert Jenggot. Tujuannya cuma satu, agar Pak Albert menjawab lebih dahulu pertanyaan ajaib itu. Hihihi.

Namun, Pak Albert Jenggot bukanlah Paus di bidang keilmuan tertentu, kalau tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. Maka itu beliau menjawab. Jawabannya penuh dengan kalimat bijaksana. Namun, tetap saja membingungkan. Sebab lebih ke arah filosofi kehidupan. Dan di akhir kalimat jawabannya, beliau berkata, “Mari kita minta pendapat pada saudara Arif. Beliau ini kan ahlul bait. Pemilik rumah. Kita harus menghormati beliau. Silahkan saudara Arif…”

Aje gilee. Dalam hati saya menggerundel, “Apes gue…, makin tinggi sekolahnya, makin pinter pula alesannya”.

Wah gawat. Saya keringet dingin. Padahal suhu ruangan hangat. Ya sudah… Saya jawab pertanyaan itu dengan sebuah cerita.

Bapak-bapak, ibu-ibu… Begini. Di waktu luang, saya ini kadang-kadang menulis blog. Sebuah media apresiasi publik di internet. Sebuah media berbagi.

Beberapa teman saya, juga menulis blog. Dan saya pun mendapat teman dari dunia blog itu.

Sebagaimana dunia offline. Dunia blog online itupun terdiri dari manusia-manusia nyata dan segala problematikanya. Ada yang terkenal karena tulisannya. Ada pula yang tidak terkenal. Yang terkenal, disebut sebagai seleb blog.

Diantara seleb blog itu ada beberapa orang yang perprofesi sebagai tenaga pengajar. Sebagai guru.

Dua hari lalu, ada seorang seleb blog sekaligus guru yang mempublikasikan kesalahan mahasiswanya di depan publik. Kesalahan sang mahasiswa cukup fatal bagi sang guru. Yaitu, walaupun sedang mengambil pendidikan master, namun tidak becus menulis daftar pustaka”

Hadirin diam, menyimak cerita saya. Salah seorang ibu dari Universitas Kuda Terbang bertanya apakah ia sepertinya mengenal tokoh yang saya ceritakan. Saya mengangguk. Membenarkan nama yang si Ibu sebut. (*Ternyata si Ibu XY ini blogger juga. Hehe*)

Hadirin berbisik-bisik. Sebab nampaknya mereka juga mengenal tokoh tersebut. Wajar. Sang guru seleb ini tokoh publik sih.

Saya lanjutkan cerita;

Tidak lama setelah sang guru seleb ini mempublish tulisan mengenai tindak laku mahasiswanya. Ramai sekali forum chat para guru membicarakan hal ini. Topik yang dibicarakan beragam. Antara lain:

1. Apakah layak seorang guru memarahi siswa di depan publik?

2. Kalau pun layak. Apakah produktif? Menakuti seribu ayam dengan membunuh satu monyet dihadapan mereka? Bukankah ini yang disebut metode pendidikan terror?

3. Apakah ini efek tidak langsung fenomena ketenaran? Andai sang guru bukan selebriti, apakah ia layak memarahi siswanya di depan publik?

4. Guru juga manusia. Ia juga bisa berbuat kesalahan. Tapi, apakah menyenangkan jika suatu saat ketika ia berbuat kesalahan lalu kesalahannya dipublikasikan di depan publik oleh atasannya dengan kalimat yang mencengangkan? Apakah itu yang disebut belajar dari kesalahan?

Istri saya menatap saya dengan tatapan mata ganjil. Saya terdiam sebentar. Hadirin di ruang tamu menatap saya pula dengan tatapan mata ganjil.

Dalam hati saya kembali mengucapkan wirid-wirid ampuh yang benar-benar saya ragukan ketokcerannya. Nampaknya, wirid saya gagal.

Saya makin banjir keringat dingin. Astaga! Sepertinya saya makin terlihat goblok di ruangan ini.

Saya memaki diri sendiri dalam hati.

Saya lirik, Pak Albert Jenggot mengangkat tangan kanannya sedikit. Ia melirik ke arah arlojinya. Lalu berdehem sebentar. Nampaknya meminta perhatian dari publik.

Beliau berkata “Bapak-bapak, ibu-ibu… nampaknya pesawat kita akan berangkat sebentar lagi. Kita harus check-in ke bandara. Terimakasih Arif dan Nyonya yang telah berbaik hati”

Tidak lama kemudian, mereka semua pamit.

Saya mengantar mereka menuju bis ke bandara. Ketika pintu bisa menutup. Roda-roda mulai berputar perlahan. Dan bayang mereka menghilang di tikungan.

Dalam hati menuju rumah. Pulang. Sambil jalan kaki, saya mulai bertanya-tanya dalam hati.

Apakah wirid saya ampuh?

Atau guru di Indonesia yang tidak perlu disumpah? Karena dengan begitu, mereka bebas berbuat apa saja pada siswanya.

(*Anda bebas berkomentar. Kecuali jika di samping anda, saat ini duduk Pak Albert Jenggot. Manfaatkanlah beliau untuk menjawab. Hehe*)

(*Tulisan panjang yang menjawab mengapa ada tulisan yang di password dalam blog ini. Dan satu lagi, maaf yaa kalau pertanyaan pada posting kemarin belum dibalas*)

Ada beberapa orang pembaca yang bertanya, mengapa ada tulisan yang disandi (password) dalam blog ini.

Saya sebenarnya malas untuk menjawab. Bukankah itu hak prerogatif saya? Itu tulisan, mau saya password kek, mau saya kencingin kek, mau saya gamparin sampai nungging kek? Apa urusannya sama orang lain?

Tapi apakah bijak menjawab dengan kalimat seperti itu?
Indahkah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang menusuk hati?
Apakah saya menjadi lebih tinggi derajatnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dengan kalimat tertentu yang memicu amarah?

Jawabnya simpel, TIDAK! Tapi jelas, ini pendapat pribadi. Sangat masih bisa dibantah atau dipertanyakan lebih kanjut.

Dan akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak. Maka itu, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang simpel,

“Mengapa di password?”

(lebih…)

Tak terasa, sudah hampir satu tahun saya nge-blog mengenai Indonesia. Dulu, setahun lalu, tepat tanggal 15 Januari saya mengklaim sebagai hari kelahiran blog saya ini.

Sebelumnya saya sudah ngeblog sih. Tapi saat itu, isinya masih belum jelas. Gado-gado campur. Ada isinya pengalaman pribadi, ada tips komputer dan bahkan ada tulisan-tulisan lainnya yang sama sekali nggak penting seperti ungkapan kesal kepada (mantan) menkominfo Pak Sofyan yang saya anggap mengkhianati IGOS, Indonesia Goes Open Source. Ya sudah lah, dimaafkan saja. Toh beliau nggak membunuh banyak orang dan lalu ikut-ikutan makan uang negara dan abis itu pura-pura sakit biar nggak diadili. Namanya juga manusia, seperti saya, kadang khilaf. Yaa dimaafkan saja. Yang penting IGOS itu harus tetap jalan.

Walaupun begitu, tetap saja itu blog gado-gado.

Apa salahnya blog gado-gado? Yaa nggak salah sih… Namanya menulis, kalau niatnya baik, apa salahnya?

Tapi entah kenapa, rasanya ada yang mengganjal saja.

(lebih…)

Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe.

Tidak hanya hadiah, saya dapat bonus pula. Bakteri yang bersemayam di perut. Di duga karena racun. Ahaa!

Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus.

Hadiah dan bonus ini memberikan kenikmatan luar biasa pada hidup saya. Sebab sejak dapat amanah ini, saya diberi keleluasaan untuk istirahat. Untuk tidur. Untuk melihat kembali, jejak-jejak hidup yang pernah saya tinggalkan selama ini. Sungguh kenikmatan hidup yang amat istimewa.

Dalam peristirahatan, tadi pagi, seorang teman memberi kabar baru dari Depok. Sebuah cerita tentang anak manusia tengah bergulir rupanya di Depok.

Okay… Okay… Saya berencana akan bercerita mengenai Depok. Tentang seruas jalan romantis sekaligus macet dan berdebu bernama Margonda. Tentang kereta api yang sarat dengan penumpang pemberani. Tentang terminal yang padat riuh dengan manusia yang mengais rezeki. Tentang wajah-wajah zuhud belia yang sedang menuntut ilmu.

Tapi, apa sih Depok itu? (lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.