Security


Waktu kartunisasi tokoh agama dan film yang kemungkinan besar akan memicu umat beragama tertentu marah bereaksi, akan beredar, saya amat tertarik sekali.

Personifikasi tokoh suci serta visualisasi mereka (dan ajarannya) dalam film itu memang selalu menarik. Entah bagi yang percaya maupun tidak, selalu menarik.

Tapi percayalah, saya tidak akan membahas pro-kontra film atau visualisasi tokoh-tokoh suci. Jujur saja saya tertarik memang membicarakannya. Sebagaimana setiap orang suka makan masakan hangat. Namun sayang sekali, saya paksa diri untuk tidak membicarakannya.

Kenapa? (lebih…)

Ada dua tipikal orang Cilincing. Itu kata si Gugun, adek saya.

1. Orang Cilincing umum.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian orang-orang berkumpul, lalu ikut gabung dalam keramaian itu. Tidak mau tahu, itu acara kedukaan, kegembiraan, kesakitan. Pokoknya, kalau ada keramaian… Hanya satu kata: Ikuuut!

2. Orang Cilincing yang kelaparan.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian, lalu bertanya, “Ada makanan disini?”. Kalau ada, ia ikut bergabung. Kalau tidak ada, ia meloyor pergi. (lebih…)

Setelah membaca tulisannya Mbak Chika mengenai sebuah film Indonesia. Saya jadi susah tidur. Bukan karena gara-gara membaca itu saya jadi mimpi buruk, atau malah mimpi basah. Melainkan karena ada satu bait tulisan Chika yang membuat saya terobsesi.

Tanpa sepengetahuan Chika, saya kutip semena-mena di blog ini (*Maap yaa Chika, hehe*). Ini kutipannya:

Selain itu di film ini banyak kata-kata kotor! OMG~ inilah yang membuat moral masyarakat Indonesia menurun karena film selaku media massa memberikan konsumsi yang tidak baik bagi penontonnya.

Menarik sekali. Sebab, selain tumben Chika bicara moral, Chika juga bicara mengenai film sebagai sebuah tuntunan yang memberi asupan pada hidup pemirsanya.

Ini amat menarik. Minimal buat saya.

Kenapa?

1. Kata-kata kotor dalam film (lebih…)

(*Tulisan panjang yang menjawab mengapa ada tulisan yang di password dalam blog ini. Dan satu lagi, maaf yaa kalau pertanyaan pada posting kemarin belum dibalas*)

Ada beberapa orang pembaca yang bertanya, mengapa ada tulisan yang disandi (password) dalam blog ini.

Saya sebenarnya malas untuk menjawab. Bukankah itu hak prerogatif saya? Itu tulisan, mau saya password kek, mau saya kencingin kek, mau saya gamparin sampai nungging kek? Apa urusannya sama orang lain?

Tapi apakah bijak menjawab dengan kalimat seperti itu?
Indahkah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang menusuk hati?
Apakah saya menjadi lebih tinggi derajatnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu dengan kalimat tertentu yang memicu amarah?

Jawabnya simpel, TIDAK! Tapi jelas, ini pendapat pribadi. Sangat masih bisa dibantah atau dipertanyakan lebih kanjut.

Dan akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak. Maka itu, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang simpel,

“Mengapa di password?”

(lebih…)

(*Penonton… Aye udah sebulan nih nggak posting. Banyak juga cerita yang mengendap selama ‘pertapaan’ sebulan ini. Saking banyaknya, sampai bingung, apa yang mau diceritakan lebih dahulu. Hehehe*)

Cerita dibawah ini, mungkin tidak ada kaitannya satu sama lain. Dan mungkin juga tidak membawa perubahan apa-apa dalam hidup anda (*karena saya memang tidak berminat membagi-bagi moral saya yang sedikit ini kepada publik*). Dan yang lebih parah lagi, nampaknya juga tidak akan membuat anda kenyang setelah membaca.

Sialnya, saya tetap akan cerita.

Oke, tanpa basa-basi lagi. Ini ceritanya.

Cerita Pertama: Balada Ulang Tahun (lebih…)

Kemarin, saya dapat hadiah dari tiga rumah sakit dari tiga negara. Yaitu informasi yang mengatakan bawa saya positif mengalami gangguan lever. Lumayan kronis. Katanya, disebabkan oleh kurangnya istirahat. Sebab lainnya, masa muda yang nakal dan ugal-ugalan. Hehehe.

Tidak hanya hadiah, saya dapat bonus pula. Bakteri yang bersemayam di perut. Di duga karena racun. Ahaa!

Saya tidak bisa bilang apa-apa selain memanjatkan kalimat syukur. Alhamdulillah saya diberi hadiah. Alhamdulillah saya ditambah nikmat hidup dengan diberi bonus.

Hadiah dan bonus ini memberikan kenikmatan luar biasa pada hidup saya. Sebab sejak dapat amanah ini, saya diberi keleluasaan untuk istirahat. Untuk tidur. Untuk melihat kembali, jejak-jejak hidup yang pernah saya tinggalkan selama ini. Sungguh kenikmatan hidup yang amat istimewa.

Dalam peristirahatan, tadi pagi, seorang teman memberi kabar baru dari Depok. Sebuah cerita tentang anak manusia tengah bergulir rupanya di Depok.

Okay… Okay… Saya berencana akan bercerita mengenai Depok. Tentang seruas jalan romantis sekaligus macet dan berdebu bernama Margonda. Tentang kereta api yang sarat dengan penumpang pemberani. Tentang terminal yang padat riuh dengan manusia yang mengais rezeki. Tentang wajah-wajah zuhud belia yang sedang menuntut ilmu.

Tapi, apa sih Depok itu? (lebih…)

Beberapa waktu lalu, ada beberapa penulis blog Indonesia yang mengaku tinggal di daerah konflik terbuka bagi WNI, secara terang-terangan malah memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka. Saya kaget sekali.

Tapi sebelumnya, penonton, ijinkanlah agar saya menerangkan apa itu definisi daerah konflik terbuka bagi WNI (Warga Negara Indonesia).

Daerah konflik terbuka bagi WNI adalah daerah/negara non-RI dimana seringkali terjadi tindak kekerasan atau aksi pelanggaran kemanusiaan bagi WNI. Gamblangnya, WNI yang tidak tinggal di Indonesia, namun diperlakukan sedemikian buruk oleh warga setempat.

Mengapa disebut konflik terbuka? Sebab sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah mahfum. Sudah tahu. Sering membaca. Namun tindakan yang diambil sedemikian sedikit.

Umumnya perlakuan buruk yang diterima oleh WNI adalah aksi kekerasan domestik rumah-tangga, seperti suami yang suka mukul istri asal Indonesia, atau aksi kekerasan penyiksaan majikan terhadap PRT (Pembantu Rumah Tangga) asal Indonesia, atau malah aksi penjualan WNI sebagai budak atau tenaga kriminal atau malah jadi tenaga pembantu terorisme.

Daerah rawan konflik terbuka ini antara lain adalah beberapa negara di Timur Tengah dan beberapa negara di Asia Tenggara. Dimana banyak sekali muncul kasus WNI yang diperlakukan dengan buruk dan keji. Tidak tertutup kemungkinan di beberapa negara lainnya. Namun di negara-negara diatas tersebut, kasus kekerasan terhadap WNI memang sudah memilukan.

Maka itu, saya jelas kaget, ketika ada beberapa penulis blog asal Indonesia yang tinggal di daerah konflik, malah terang-terangan memusuhi WNI yang tidak sepaham dengan mereka.

Ini contohnya: (lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.