<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arif Kurniawan as Bangaiptop</title>
	<atom:link href="http://arifkurniawan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arifkurniawan.wordpress.com</link>
	<description>Sesajen dari Cilincing untuk Indonesia</description>
	<pubDate>Sat, 17 May 2008 13:37:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Diproteksi: Rejeki</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/05/06/rejeki/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/05/06/rejeki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 22:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Avonture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada kutipan karena ini adalah tulisan yang dilindungi kata sandi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><form action="http://arifkurniawan.wordpress.com/wp-pass.php" method="post">
<p>Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:</p>
<p><label for="pwbox-110">Kata Sandi:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-110" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Kirim" /></p></form>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=110&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/05/06/rejeki/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ONANI</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/28/onani/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/28/onani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Avonture]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[(*Hehe, cerita jadul nih. Sebuah kisah ketika saya masih bujangan dan tinggal di sebuah titik di Depok, Jawa Barat. Awal tahun 2000*)
Di Depok, ada beberapa rumah singgah untuk anak jalanan. Rumah singgah ini konsepnya cukup unik. Mirip dengan homeless shelter di negara-negara maju. Bedanya, sama sekali tidak di dukung pemerintah pusat maupun lokal. Serta tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(*<em>Hehe, cerita jadul nih. Sebuah kisah ketika saya masih bujangan dan tinggal di sebuah titik di Depok, Jawa Barat. Awal tahun 2000</em>*)</p>
<p>Di Depok, ada beberapa rumah singgah untuk anak jalanan. Rumah singgah ini konsepnya cukup unik. Mirip dengan <em><a title="Apa itu homeless shelter" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Homeless_shelter" target="_blank">homeless shelter</a></em> di negara-negara maju. Bedanya, sama sekali tidak di dukung pemerintah pusat maupun lokal. Serta tidak ada dukungan finansial yang mencukupi.</p>
<p>Hasilnya bisa bisa ditebak, seperti kuda tua yang dipaksa pacuan. Namun, walaupun susah payah, rumah ini tetap berdiri. Mengapa? Jawabnya simpel, sebab terlalu banyak anak-anak terlantar yang tinggal di daerah Depok dan sekitarnya.</p>
<p>Di rumah ini, beragam usia anak-anak tinggal, menetap, datang dan lalu pergi lagi. Namanya juga rumah singgah. Dan yang menyinggahinya kebanyakan adalah anak jalanan. Jadi, yaa mirip halte bus. Semua anak-anak jalanan, bahkan orang kemalaman pun bisa singgah di rumah ini.</p>
<p>Tapi karena kebanyakan yang menyinggahinya adalah anak jalanan, berusia antara 3 hingga 15 tahun. Maka disebutnya Rumah Singgah Anak Jalanan.</p>
<p>Mereka singgah untuk mendapatkan sebuah rumah untuk bernaung. Sebentar melarikan diri dari ganasnya hidup di jalanan. Sejenak melupakan trauma diancam, dipukuli, dirampas uang hasil mengamennya hingga diperkosa.</p>
<p>Saya dan beberapa teman, seperti Cirul, Candra, Daniel, Opik, Bommal, Fuad, <a title="andri, temen saya" href="http://andricahyadi.wordpress.com/" target="_self">Andri</a>, Jendral dan lain-lainnya, mengurus rumah singgah ini. Tidak hanya di satu tempat, melainkan di beberapa tempat.</p>
<p>Di sebuah rumah singgah, saya dan Cirul yang dipercaya mengasuh. Cirul bagian rumah tangga, seperti mengurus rekening-rekening hingga beras buat makan. Saya yang mengurus pendidikan anak-anak itu. Bommal dan Fuad membantu mengajar.</p>
<p>Mereka, anak-anak itu memanggil kami dengan sebutan &#8216;Kakak&#8217;.</p>
<p>Kecuali saya. Mereka memanggil saya dengan sebutan &#8220;Bang Aip&#8221;. Sebab pada saat itu, saya mengurus rumah singgah sambil berdagang lontong sayur, makanan khas Jakarta. Dan sebutan &#8216;Abang&#8217;, adalah panggilan khas terhadap para tukang di Jakarta. Entah ia berdagang apa. Entah darimana asalnya, kalau jualan, maka di panggil &#8220;Bang!&#8221;</p>
<p>Ini sebuah cerita mengenai sepenggal kisah di Rumah Singgah Anak Jalanan, Depok.</p>
<p><span id="more-109"></span></p>
<p>Malam sudah tiba di Gang Salak. Kira-kira pukul tujuh. Saya bergegas membereskan lapak, tempat dagangan saya. Lontong sudah habis. Semur telor, semur tahu juga habis. Mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di Depok biasanya yang membeli dagangan saya.</p>
<p>Tiba-tiba si Jurek, anak jalanan yang paling besar (umurnya kira-kira 16 tahun) datang. Ia menangis.</p>
<p>Saya bingung lalu bertanya, &#8220;Loh Rek. Kenapa kamu nangis?&#8221;</p>
<p>Jurek diam saja. Saya tanya lagi, &#8220;Kamu laper?&#8221;</p>
<p>Ia menggeleng. Tapi tangisnya mereda. Ia mengelap ingusnya dengan kaus yang sudah seperti lap busi motor. Penuh  sisa asap knalpot bus jalan Margonda. Legam dan apak.</p>
<p>Saya diamkan sebentar. Menunggu. Sampai ia buka suara.</p>
<p>Jurek perlahan berbisik, &#8220;Saya nggak boleh masuk warnet. Tadi berantem ama nyang jaga warnet&#8221;</p>
<p>Saya kaget. Saya tahu anak jalanan punya insting kuat untuk berkelahi. Dan namanya juga anak jalanan, emosinya tinggi. Sebab sudah terbiasa dilatih kerasnya iklim jalanan.</p>
<p>Tapi di rumah singgah, ada peraturan dilarang berkelahi. Kenapa Jurek melanggar? Pasti ada sebabnya? Sebab ia tahu konsekuensinya berat jika melanggar kesepakatan anti kekerasan di rumah singgah.</p>
<p>+ &#8220;Ada apa kok sampai kamu berkelahi sih?&#8221;<br />
- &#8220;Nggak boleh masuk&#8221;<br />
+ &#8220;Yang punya warnet kan si Tia, teman saya. Dia sudah janji kok, semua anak jalanan boleh masuk. Kalian malahan gratis kalau mau belajar internet&#8221;<br />
- &#8220;Saya mah udah ngerti, Bang. Kaga usah belajar lagi&#8221;<br />
+ &#8220;Trus ada apa dong?&#8221;<br />
- &#8220;Saya nggak boleh masuk ama yang jaga. Trus operatornya saya gebukin aja dah. Sial, dia badannya gede bang. Saya kalah dah&#8221;<br />
+ &#8220;Hah!&#8221;</p>
<p>Saya bereskan barang-barang di lapak kaki lima saya secara cepat dan tergesa. Menguncinya dengan gembok (*ini kota lumayan besar. Apapun yang tidak di kunci, biasanya hilang. Jangankan barang, cinta dan disiplin saja mudah hilang di tempat ini*)</p>
<p>Lalu, saya tarik tangannya si Jurek. Ini anak, harus belajar minta maaf. Tidak bisa pukul orang sembarangan. Selain itu, saya juga penasaran. Mau tahu alasan si Jurek tidak boleh masuk ke warnet.</p>
<p>Sampai di warung internet (tidak jauh, kira-kira jalan kaki 5 menit), saya meminta ijin pada operator yang sedang jaga, agar saya boleh bertemu dengan manajemennya. Saya diantar ke lantai tiga, tempat manajemen warnet berada. Disana, ada manajer warnet dan teman-temannya.</p>
<p>Dengan sopan saya bertanya, apa yang telah terjadi.</p>
<p>Rupanya, manajer warnet itu juga kebingungan. Sebab ia juga ternyata sedang &#8216;menyidang&#8217; operator yang terlibat perkelahian. Yang disidang, anak muda. Umurnya baru saja mulai kepala dua. Ia baru saja jadi operator satu bulan. Masih dalam masa training.</p>
<p>Kami terlibat pembicaraan cukup serius di ruangan ini.</p>
<p>Manajer Warnet (MW): &#8220;Mas Arif, untung anda datang yaa. Saya juga kebingungan ini. Tadi ada ribut-ribut di parkiran depan. Katanya si Budi berantem sama anak jalanan. Loh kok bisa?&#8221;<br />
Si Arip (SA): &#8220;Saya juga bingung, Pak. Ini si Jurek dateng ke lapak saya sambil nangis. Katanya dipukulin di warnet. Tapi emang dia sih yang mulai. Dia ngaku sama saya tuh&#8221;<br />
MW: &#8220;Kebetulan ini ada Budi, yang berantem sama anak asuhnya Mas Arif. Ayo coba, ada apa ini? Budi, kamu bisa menerangkan? Jurek juga, ayo menerangkan?&#8221;</p>
<p>Si operator yang disidang itu bernama Budi. Dia diam lalu melirik pada Jurek. Yang dilirik menunduk. Dia tidak mau masuk ruangan. Walah walah, masih kesal rupanya si Jurek. Kalah berkelahi, kesal. Hehehe.</p>
<p>Saya bilang pada Jurek, &#8220;Eh men, namanya juga berantem, kalah menang mah biasa. Yang penting bukan hasilnya, tapi apa yang membuat kamu hingga harus berkelahi. Itu yang penting. Jurek, ayo dong gabung&#8221;</p>
<p>Jurek buka sepatu <em>punk</em>-nya (ini sebenarnya sepatu PDL tentara yang sudah butut dan di cat bendera Inggris. si Jurek ini tergila-gila grup band punk asal UK, <a title="Apa itu Sex pistols?" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sex_Pistols" target="_self">Sex Pistols</a>. Itu sepatu bolong di cat pake cat kuda terbang, biar mirip sepatunya <a title="Siapa itu Sid?" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sid_Vicious" target="_self">Sid Vicious</a>)</p>
<p>Jurek: &#8220;Saya mau masuk. Padahal saya mau bayar. Saya kaga maen di warnet kalo nggak punya duit Bang. Eh mulutnya nih orang bilang saya nggak boleh masuk. Katanya anak jalanan bawa masalah&#8221;</p>
<p>Saya dan Manajer Warnet menatap si operator. Ia menunduk, dengan lirih berkata, &#8220;Tadi siang, emang ada masalah Pak. Mas Arif, saya sama sekali tidak musuhan sama anak jalanan. Tapi tadi siang ada masalah&#8221;</p>
<p>SA: &#8220;Ada masalah apa Mas Budi? Masalah dengan anak rumah singgah?&#8221;<br />
Budi: &#8220;Iya Mas. Temennya dia datang duluan tadi siang. Main sejam. Terus saya usir&#8221;<br />
SA + MW: &#8220;Loh, kenapa?&#8221;</p>
<p>Kami semua kebingungan.</p>
<p>Budi: &#8220;Itu Mas&#8230; Anu&#8230; Anu&#8230; Temennya Jurek, yang rambutnya pitak. Main sejam. Trus mbuka-mbuka situs porno. Terus dia onani di depan monitor, Mas. Suaranya berisik sekali pas keluar. Sudah gitu, pejunya muncrat di <em>keyboard</em>, Mas. Bahkan <em>mouse</em>nya juga belumuran peju&#8221;<br />
(*peju = air mani*)</p>
<p>Serasa mau loncat dari kursi saya saking kagetnya. Antara kaget, bingung plus malu jadi satu. Buset dah. Ada-ada aja ini. Yang rambutnya pitak, tidak lain tidak bukan si Samsul.</p>
<p>Sambil menahan-nahan perasaan yang sudah tidak karu-karuan. Saya coba saya tetap jaim, alias jaga image. Pura-pura <em>cool</em>. Agar tidak kelihatan seperti orang bloon di depan publik.</p>
<p>Tapi gimana mau ditahan coba? Anak-anak jalanan ini udah mirip anak sendiri buat saya. Orang tua mana yang tidak kaget kalau mendengar anaknya yang ABG buka situs porno lalu masturbasi di depan publik? Samsul itu baru 14 tahun. Astaga!</p>
<p>Manajer Warnet melirik operator baru itu dengan tajam.</p>
<p>MW: &#8220;Tapi nggak semua anak jalanan kan begitu, Bud. Kamu nggak baik itu maen pukul rata semua orang&#8221;<br />
Budi: &#8220;Iya Pak, maaf. Saya salah&#8221;</p>
<p>Saya masih tenggelam dalam kebekuan ketika semua mata melirik saya. Sambil berdehem (pura-pura tenggorokan gatel), saya berkata, &#8220;Mas Budi, andaikata saya dalam posisi anda. Saya pasti juga merasakan dilema. Dan saya sadar, pasti anda kesal harus membersihkan sperma dari tempat yang tidak semestinya&#8221;</p>
<p>Saya tidak tahu harus bicara apa. Kok yaa melantur hingga ke sperma yang tidak pada tempatnya. Memang tempat sperma yang semestinya harus dimana? Memangnya ada panduan baku untuk wadah sperma yang baik dan benar? Halah, ngaco. Maklum, lagi senewen.</p>
<p>Tapi, apapun yang terjadi, harus tetap ke konsep awal. Memberi pelajaran pada Jurek. Bahwa tidak bisa memukul orang sembarangan. Memangnya dunia ini ring tinju raksasa?</p>
<p>Tidak lama kemudian, Jurek minta maaf pada Budi sang operator. Dan saya&#8230; Mati-matian menahan malu, meminta maaf terhadap &#8216;insiden siang nan panas&#8217; di warnet. Pada Budi si operator, pada manajer dan pada semua staff warnet.</p>
<p>Kami lalu pamit.</p>
<p>Tergesa-gesa, saya berjalan ke rumah singgah. Kira-kira 15 menit dari Gang Salak. Di daerah Kelapa Dua. Dekat kampus Gunadarma. Di tepi kali Ciliwung.</p>
<p>Di sana ada Cirul dan anak-anak jalanan lainnya. Saya lalu mengobrol sebentar dengan Cirul, menerangkan kejadian ajaib yang baru saja saya alami bersama Jurek dan staff warnet di Jalan Margonda, Depok.</p>
<p>Cirul tertawa ngakak habis-habisan. Dia bilang, &#8220;Rip, lo tau ga&#8230; Si Samsul itu emang hormonnya gede tau. Lo tau ga, anak-anak singgah juga pada komplen ama gue. Si Samsul itu doyan banget masuk WC lama-lama. Sabun abis ama dia doang. Dipake coli. Hahaha&#8221; (*coli = onani*)</p>
<p>Saya keki, &#8220;Yee, lo sih enak bisa ketawa disini. Gue nih men.. Bayangin. Malu banget muka gue, men. Mao ditaro dimana waktu di warnet. Masa ada anak singgah merintih-rintih di warnet sambil mlorotin celana. Trus abis itu, buang peju sembarangan. Kampret&#8221;</p>
<p>Cirul tambah ngakak ketawa abis-abisan. Lalu berkata sambil senyum, &#8220;Ya udah, gini aja. Lo ajak ngomong aja si Samsul. Gua mah nggak bisa ngomong kayak gituan. Itu tugas lo lah&#8221;. Lalu berlalu ke warung di depan rumah. Membeli rokok kretek filter kegemarannya.</p>
<p>Saya panggil si Samsul. Tidak lama kemudian. Kami bicara di beranda samping rumah. Di sana agak sepi. Saya menjaga perasaan Samsul. Saya pikir, kalau saya bicara di depan publik mengenai kasus masturbasinya di warnet, dia pasti malu. Sebab anak jalanan itu lebih malu terhadap sesama anak jalanan ketimbang di depan &#8216;kaum-selain-anak-jalanan&#8217;.</p>
<p>+ &#8220;Samsul, tadi saya ke warnet. Kata mereka, kamu coli sembarangan. Benar?&#8221;<br />
- &#8220;&#8230;&#8221;<br />
- &#8220;Hehe&#8230; Kok sekarang diem aja. Tadi katanya orang-orang, kamu agak berisik waktu di warnet?&#8221;<br />
+ &#8220;Maap, Bang&#8221;<br />
- &#8220;Loh kok minta maap sama saya. Sama Jurek tuh. Dia jadi korban salah sangka. Sebab si tukang warnet nyangkain semua anak jalanan pikirannya kotor&#8221;</p>
<p>Samsul diam terus. Ia menunduk. Saya tahu, ia malu. Saya kenal Samsul sudah lama. Sudah tiga tahun ia di rumah singgah ini. Boleh di kata, sudah menjadi penghuni tetap.</p>
<p>Samsul ini, sebagaimana anak jalanan lainnya, kisah hidupnya sungguh berliku. Ia lari dari Padang, kota kelahirannya. Sebab sudah tidak ada yang mengurus. Bapaknya masuk penjara karena memukuli ibunya hingga meninggal dunia. Ia lalu pergi ke Jakarta. Entah kenapa. Ia sendiri tidak tahu alasannya. Menumpang dari satu truk ke truk lain di lintas Sumatera.</p>
<p>Dan akhirnya, ia disini. Terdampar di depan mata saya. Menunduk malu tiada tara.</p>
<p>Ahh saya tidak tega. Tidak mungkin memarahi Samsul begitu rupa. Anak ini, masih ABG. Kurus, kecil, kepalanya banyak pitaknya. Bekas luka, yang sembuh di kepala. Meninggalkan bekas, yaitu bagian di mana rambut susah tumbuh. Bekas luka, akibat pukulan ayahnya ketika mabuk.</p>
<p>Saya tidak tega.</p>
<p>Maka itu, dua jam berikutnya, saya habiskan dengan pelajaran biologi. Menerangkan arti reproduksi. Menerangkan sejarah sex pada manusia. Menerangkan arti hubungan biologis dan kesenangan yang menyertainya. Tidak lupa memberitahu, bahwa acapkali manusia melarikan diri pada hubungan sexual ketika kesedihan melanda. Dan sering terjebak pada kesenangan itu. Dan pelan-pelan mulai mencandu.</p>
<p>Dan kecanduan, apapun bentuknya&#8230; Tidak baik buat tubuh dan jiwa.</p>
<p>Samsul mendengarkan dengan seksama. Sambil bercanda, saya bilang bahwa kalau mandi, pakai sabun, jangan hanya menyabuni bagian tertentu dari tubuh saja. Seperti-selangkangan-misalnya. Sebab itu kurang adil. Bagian-bagian tubuh lainnya juga masih layak untuk dicuci hingga bersih.</p>
<p>Samsul tersenyum.</p>
<p>Tiba-tiba, ketika saya baru saja beranjak selesai bicara dengan Samsul. Cirul teriak masuk ke beranda, &#8220;Rip.. Keluar men.. Massa men.. Massa!&#8221;</p>
<p>Saya kaget. Cirul jarang-jarang panik seperti ini. Maka itu, tergopoh-gopoh saya keluar rumah.</p>
<p>Di luar. Banyak masyarakat, membawa obor. Wah kaget saya. Jangan-jangan mau mengejar maling? Sebab, mau apa coba, warga ramai-ramai malam-malam jam 11 bawa-bawa obor?</p>
<p>Saya tanya Pak Umar, tetangga sebelah Rumah Singgah Anak Jalanan. Sebab ia juga bawa obor. Dan matanya itu, berkilat-kilat memancarkan amarah.</p>
<p>Saya (S): &#8220;Pak Umar, ada apaan nih?&#8221;<br />
Pak Umar (PU): &#8220;Bajingan tuh rip. Bener kata Pak RT&#8221;<br />
S: &#8220;Loh apaan yang bener, Pak? Apa kata Pak RT?&#8221;<br />
PU: &#8220;Pak RT, baru aja nangkep basah anaknya, si Ujang, di warnet. Tau ga Rip. Si Ujang buka-buka situs porno. Naujubilahmijalik dah. Mau jadi apa tuh anak&#8221;</p>
<p>Saya terbengong-bengong.</p>
<p>S: &#8220;Loh, emangnya kenapa, Pak&#8221;<br />
PU: &#8220;Kamu ini, dasar anak muda. Situs porno itu dosa Rip. Kita semua bakalan masuk neraka gara-gara liat situs porno. Dan ngebiarin anak-anak kita ngeliat situs porno, kita semua juga bakalan masuk neraka&#8221;<br />
S: &#8220;Kata siapa, Pak&#8221;<br />
PU: &#8220;Tuh kata Pak RT. Mangkanya, kalo orang tua ngomong, dengerin, Rip!&#8221;</p>
<p>Saya melihat, di depan kerumunan massa, Pak RT sedang berteriak-teriak. Suaranya sayup-sayup terdengar di balik gerombolan massa yang marah dan memegang obor.</p>
<p>Telinga saya menangkap selintas pidato Pak RT, &#8220;&#8230;Gara-gara warnet jahanam itu, anak-anak kita mentalnya teracuni. Kita semua bakalan masuk neraka kalau begini terus. Semua ini gara-gara warnet bajingan itu. Maka itu&#8230; BAKAARRRR SEMUA WARNET!&#8221;</p>
<p>Pelan-pelan, gerombolan massa yang marah, bergerak ke jalan Margonda. Di tangan mereka, obor bernyala-nyala.</p>
<p>Mulut mereka berteriak marah. Satu tangan memegang obor, tangan lainnya, mengepal di udara. Menyebut nama tuhan dan kalimat&#8230; BAKAR!!!</p>
<p>Saat itu pula, saya menggigil dalam udara malam Depok yang panas.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=109&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/28/onani/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musibah di Rumah Ibadah</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/22/musibah-di-rumah-ibadah/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/22/musibah-di-rumah-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 21:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Avonture]]></category>

		<category><![CDATA[Kontraversi]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.
Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?
Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata &#8220;Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!&#8220;. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Namanya musibah itu, kurang asyik namanya kalau tidak datang bertubi-tubi.</p>
<p>Loh kok bisa begitu? Apa pasalnya saya bisa bicara begitu?</p>
<p>Begini ceritanya. Saya ini mah orangnya doyan mengeluh. Apa-apa mengeluh. Ketika musim dingin datang, saya mengeluh dengan berkata &#8220;<em>Aih, aih, amit-amit jabang bombay, ekke kan manusia tropis Cilincing. Dingiin bo!</em>&#8220;. Nah ketika musim panas datang, saya mengeluh &#8220;<em>Ampun deh. Nggak adil banget. Imsak jam 3 pagi, buka puasa jam 11 malem. Kalo gini caranya, gimana puasa mau sukses!</em>&#8220;</p>
<p>Tapi rupanya bukan hal diatas saja. Nampaknya, hobi mengeluh ini sudah mengendap ke sendi-sendi sumsum. Ketika senang, mengeluh hambar sekali perjalanan hidup ini. Nah, ketika saat ini musibah datang bagaikan gelombang, tak henti-hentinya saya berduka.</p>
<p>Bahaya ini. Nampaknya, belajar berhenti mengeluh sudah harus saya lakukan sesegera mungkin. Walaupun sedang dilanda musibah bertubi-tubi, harus belajar berhenti mengeluh.</p>
<p>Oh ya penonton, saya mau cerita sedikit nih soal keluhan. Kejadian lumayan menarik (buat saya, subjektif loh) ketika saya tinggal di beberapa tempat di Republik Indonesia.</p>
<p>Begini;<span id="more-108"></span></p>
<p>Dulu, saya sempat tinggal di sebuah desa di Indonesia Timur. Desa ini dekat pantai. Dekat dengan sekolah saya, yang masih berhubungan dengan laut dan isinya. Di desa ini ada sebuah rumah ibadah. Setiap pagi, kira-kira sebelum matahari terbit, saya menyambangi rumah ibadah ini.</p>
<p>Saya bukan relijius sih sebenarnya. Saya menyambangi rumah ibadah ini, yaa selain beribadah, juga mengajar. Topik ajarannya bermacam-macam, kadang-kadang bahasa asing, kadang-kadang biologi, matematika, dan mata pelajaran untuk anak-anak SMP. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibadah pagi itu.</p>
<p>Saya sendiri, melakukannya demi diri sendiri. Mencoba untuk belajar. Belajar peduli. Sebab katanya, hati itu bisa mati kalau tidak dilatih belajar untuk peduli.</p>
<p>Anak-anak ABG (Anak Baru Gede) yang umumnya masih SMP atau SMU, tidak banyak yang datang ke rumah ibadah ini. Namun ketika ada kursus gratis setelah ibadah. Mereka satu persatu mulai datang ke rumah ibadah ini.</p>
<p>ABG ini, umumnya anak-anak kaum pendatang. Bapak ibu mereka adalah produsen tempe dan tahu. Membuat tempe dan tahu dengan cara tradisional. Kedelainya diinjak-injak. Namun ada pula yang orangtuanya nelayan.</p>
<p>Mereka ini, anak muda yang kebingungan secara kultural.</p>
<p>Di sekolah, dianggap anak pendatang. Walaupun lahir dan besar di desa tersebut. Namun di rumah, dianggap &#8216;berbeda&#8217;, Karena tidak mengerti bahasa asli orang tua mereka.</p>
<p>Terperangkap di dua dunia. Sibuk sekali mencari identitas diri.</p>
<p>Maka itu, ketika ada kursus gratis. Wah senangnya bukan main. Sebab selain bisa belajar, juga bertemu rekan senasib. ABG yang sedang mencari jati diri identitas kehidupan.</p>
<p>Lambat laun, kursus kecil-kecilan ini, dari mulai 2 orang, membengkak jadi 20 orang. Semakin banyak saja ABG yang ikut dalam acara pagi-pagi asah otak ini. Saya pun makin kesulitan. Dan lalu mulai merekrut teman-teman yang mau membantu ikut mengajar.</p>
<p>Saking intensnya, ruangan beribadah khusus untuk wanita pun dijadikan wahana untuk belajar.</p>
<p>Dan disinilah masalah dimulai.</p>
<p>Tidak lama kemudian, kira-kira selang tiga bulan setelah kursus pagi ini. Loteng rumah ibadah yang kami gunakan sebagai sarana belajar, sering ditimpuk. Ditimpuknya tidak tanggung-tanggung, pakai batu bata.</p>
<p>Karena atap rumah ibadah dari seng tipis. Yaa dengan serta merta, bolong tidak karuan dihajar batu bata. Kalau hujan, air masuk dengan suksesnya.</p>
<p>Imam, sebutan pemimpin rumah ibadah ini, kebetulan seorang mayor polisi. Ia mengusut kasus ini hingga tuntas. Dan pada suatu hari, ditangkaplah si pelaku &#8216;pengeboman batu bata&#8217; tersebut.</p>
<p>Ketika ditanya mengapa, si pelaku menjawab dengan mata ganas, &#8220;Kalian orang, bukan main itu mulut berisik. Kita ada pusing dengar kalian spiker setiap pagi&#8221;.</p>
<p>Saya terhenyak mendengar hal itu.</p>
<p>Imam, memberikan solusi yang baik. Yaitu, mulai sejak saat itu tidak ada lagi pengeras suara. Namun, kami pakai interkom kaleng. Jadi kalau mau ibadah pagi, cukup tarik tali. Dan tali itu berhubungan antar rumah, dan bunyi berkeroncengan. Penanda waktu ibadah. Unik juga solusinya.</p>
<p>Sejak saat itu, tidak ada lagi pelemparan batu bata diatas rumah ibadah.</p>
<p>Yang menarik, ternyata umat ibadah lain. Yang menjadi mayoritas. Mulai membunyikan lonceng setiap pukul 4 pagi. Dan mulai berceramah dengan memakai pengeras suara. Bahkan, ada diantaranya yang mendirikan rumah ibadah dengan menara dan lonceng yang besar di atas bukit sana.</p>
<p>Tujuannya; entahlah?</p>
<p>Yang pasti, tidak ada kursus gratis disana. Hehe.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian. Saya pindah. Bersama istri, tinggal di sebuah desa di Indonesia Tengah. Desa ini, juga indah. Bedanya dengan desa saya dulu di Indonesia Timur, desa saya saat ini, sering dibanjiri turis.</p>
<p>Di desa ini, agama adalah salah satu produk untuk menarik turis-turis datang membelanjakan dolar mereka.</p>
<p>Banyak rumah agama, apabila hendak mengadakan acara ritual tertentu, seperti potong gigi hingga potong rambut, menjual karcis kepada turis. Umumnya pada wisatawan mancanegara. Ritual itu dipertontokan. Kalau turisnya bawa kamera, biasanya bayar dengan dolar tambahan.</p>
<p>Bagi saya, sah-sah saja. Tidak masalah. Selama semua orang bahagia. Apa yang mau dikata?</p>
<p>Hubungan saya dengan penduduk desa setempat juga baik. Artinya, kalau mereka mau pesta main layang-layang, saya pasti diminta &#8216;kontribusi&#8217; secara finansial. Kalau diajak main sih, tidak juga. Hehe.</p>
<p>Karena warna kulit istri saya agak berbeda dengan kebanyakan warga desa lainnya, kontribusi finansial yang dibebankan pada keluarga kami juga berbeda. Contohnya, membayar retribusi sampah. Jika pada setiap Kepala Keluarga adalah sepuluh ribu rupiah. Maka pada keluarga kami, bisa delapan hingga sepuluh kali lipatnya. Padahal sampahnya <em>mah</em> sama. Sebab kami masih makan makanan normal kok. Bukan makan beling.</p>
<p>Entah kenapa, hingga saat ini saya tidak mengerti alasannya kami diperlakukan beda.</p>
<p>Bagi saya, agak mengesalkan. Namun karena biasanya yang datang ke rumah pemuda berambut pendek dengan badan besar dan pakaian loreng, lebih dari lima orang. Yaa pasrah aja. Lapor pada yang berwajib, malah dinasihati &#8220;Mas, disini memang begitu&#8221;.</p>
<p>Saya menjalani hidup dalam kepasrahan ini hingga 11 bulan. Hingga pada suatu hari, terjadilah musibah. Desa kami di serang teroris gila.</p>
<p>Istri saya, mengalami trauma yang luar biasa. Beberapa temannya menjadi korban. Trauma ini begitu mendalam. Dan membuat sayatan memanjang pada hatinya.</p>
<p>Akibatnya, istri saya mengalami gejala <em>hyper-ventilasi</em>. Susah bernafas. Bukan karena kondisi fisik, melainkan lebih ke arah kejiwaan. Ia ketakutan. Sebab, teroris itu memang mencari sasaran orang-orang yang warna kulitnya berbeda dengan warga desa.</p>
<p>Saya dan istri pindah ke negara tetangga untuk sementara. Namun tidak bisa lama. Gaji saya sebagai buruh, tidak mampu membiayai hidup kami lama di negara tetangga.</p>
<p>Akhirnya, kami kembali pulang ke desa semula. Sebuah desa indah tropis di sebuah titik di Indonesia Tengah.</p>
<p>Begitu sampai di rumah, tiba-tiba segerombolan warga desa membawa map. Meminta 250 ribu rupiah per kepala keluarga (*atau mungkin hanya pada keluarga kami?*). Mereka akan mengadakan acara. Sebuah ruwatan untuk bumi. Agar desa kami, tidak dilanda musibah.</p>
<p>Dan tentu saja, jampi-jampi anti-teroris pasti akan dibaca disana.</p>
<p>Dengan wajah penuh haru memandang sisa-sisa uang yang diminta (dengan agak memaksa) pindah tangan. Saya bilang, &#8220;Pak, kami juga akan berdoa. Semoga apapun yang diberikan, kita sanggup menghadapinya&#8221;.</p>
<p>Mereka memandang saya dengan tatapan mata dingin. Mungkin tidak mengerti. Atau mungkin.. entahlah.</p>
<p>Yang pasti, besok paginya istri saya kembali sakit. Terbaring saja di tempat tidur. Nafasnya susah. Cepat dan terburu-buru. Saya sedih sekali melihatnya.</p>
<p>Hari itu, saya tidak bekerja. Melainkan menunggu istri saja di rumah. Kami tidak punya banyak tetangga yang bisa diminta tolong. Hidup dalam kompleks perumahan. Andaipun ada yang mau menolong, ketika melihat warna kulit istri saya, umumnya  meminta imbalan sesudahnya.</p>
<p>Jadi, hari itu saya di rumah.</p>
<p>Jam 12 siang. Ketika hari sedang panas teriknya. Terdengar bunyi keras sekali. Seperti suara-suara bernyanyi-nyanyi dalam irama dan ritme yang tidak ada alurnya.</p>
<p>Saya kaget. Nafas istri saya semakin memburu.</p>
<p>Saya keluar rumah. Berlari mencari asal suara. Seperti gila rasanya. Berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang panas.</p>
<p>Tidak lama kemudian, saya menemukan sumber asal suara itu. Sekelompok orang tengah berkumpul duduk melingkar pada sebuah rumah ibadah. Setiap orang memegang <em>mike</em>. Ooo Oohh, itulah asal suara tersebut. Dari pengeras suara.</p>
<p>Ketika saya tiba di pintu masuk. Mereka memandang saya tidak senang. Nampaknya kehadiran saya mengganggu.</p>
<p>Salah seorang berdiri. Berkacak pinggang, bertanya dengan nada menghardik, &#8220;Heh! Mau apa?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak, mohon jangan keras-keras. Istri saya sedang sakit&#8221;, suara saya memelas. Memohon pada mereka, perwakilan mayoritas, penduduk lokal.</p>
<p>Ia semakin terlihat marah, &#8220;Kamu jangan mengganggu yaa. Ini upacara ruwat bumi. Untuk membersihkan bumi kita dari sengsara. Semua orang mau upacara ini. Supaya desa kita bersih&#8221;</p>
<p>Tidak lama kemudian, setelah saya kira mereka sudah tidak bisa lagi diajak diskusi. Saya dan istri, pindah ke tempat yang lebih tenang. Sebab nampaknya, kebutuhan mereka berdoa dengan pengeras suara sudah tidak bisa diganggu gugat.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Tidak lama setelah kejadian ini. Istri saya pergi ke rumah orangtuanya. Ke rumah mertua saya. Disana lebih tenang. Ia bisa bisa lebih fokus untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang ketakutan terus menerus.</p>
<p>Saya&#8230; Ahh, karena masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak bisa ikut. Saya harus masih ke Cilincing. Ke ujung pelosok utara Jakarta. Ke tempat di mana saya dilahirkan.</p>
<p>Kembali ke kampung halaman, setelah bertahun-tahun di ranah asing, menimbulkan perasaan tersendiri dalam jiwa saya. Seperti terasing di rumah sendiri.</p>
<p>Saya coba untuk mengulang kembali hal-hal yang pernah saya lakukan ketika saya masih tinggal di sini dahulu. <em>Incognito</em>.</p>
<p>Seperti mancing di laut Marunda. Jalan jalan naik sepeda ke tempat pembakaran mayat, Tapekong. Malam-malam main kartu remi hingga larut pagi dengan teman saya Odoy, Uki, Pieter, Utu, Aris Kisut, Rojak, Jumari dan juga dengan si Gugun, adik saya.</p>
<p>Lalu, setelah kecapekan main remi, rame-rame jam tiga pagi kami masuk musolah. Sebab Musolah Cilincing bagi kami bukanlah rumah ibadah. Melainkan hotel tempat bermalam, ketika badan sedemikian letihnya untuk urusan hedonisme. <em>Sanctuary </em>ketika masalah hidup sedemikian banyaknya. Hehe.</p>
<p>Anehnya, musolah kok dikunci? Kenapa?</p>
<p>Namun, badan yang letih tidak mau kompromi. Kami tidur di halaman musolah. Dan namanya juga musolah kecil. Halamannya juga kecil lah.</p>
<p>Kami tidur berdesak-desakan bagaikan ikan dalam kaleng sardin. Tapi&#8230; Ahh, kalau capek mah, apa saja nikmat. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tidak lama kemudian&#8230; Kami semua terbangun. Kaget. Ternyata Pak Katno, tetangga saya, bapaknya Amat, <em>adzan</em> euy. Dan suaranya Pak Katno ini khas sekali. Mirip knalpot oplet, angkutan kota yang beroprasi di tahun 70-an. Ampuun deh. Dan yang lebih bikin ampun, pakai pengeras suara loh.</p>
<p>Saya menendang kaki si Gugun. Adik saya membuka mata sebelah, &#8220;Apaan sih lo?&#8221;.</p>
<p>Saya berbisik, &#8220;Gun, bangun men. Subuhan luh. Gila men. Kok sekarang ada speaker yaa di kampung kita. Apa jangan-jangan gara-gara ini, musolah dikonci?&#8221;</p>
<p>Gugun tidak menjawab. Jumari, Odoy, Rojak, Aris Kisut, Utu dan Pieter bangun duduk bersandar di dinding musolah. Mata mereka kusut. Kuyu.</p>
<p>Cilincing sudah berubah. Kali ini, ada pengeras suara diantara kami semua.</p>
<p>Saya bertanya pada Jumari, &#8220;Jum, lo tau ga? Orang Indonesia itu ternyata cinta speaker. Apapun agamanya, kalau sama speaker, mereka tergila-gila, Jum&#8221;</p>
<p>Jumari menatap saya sambil menguap. Lalu berkata&#8230;, &#8220;Ahh lo rip. Ngeluh aja lo bisanya&#8221;</p>
<p>Saya menatap Jumari dengan tatapan mata bimbang. Sambil berfikir dalam hati, jangan-jangan saya memang hanya bisa mengeluh.</p>
<p>Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya. Benarkah orang Indonesia jatuh cinta pada speaker pengeras suara?</p>
<p>Entahlah.</p>
<p>Atau ternyata, bahwa hanya saya saja orang Indonesia yang memang suka mengeluh?</p>
<p>Hehehe, entahlah&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=108&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/04/22/musibah-di-rumah-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjual Tubuh Wanita</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/14/menjual-tubuh-wanita/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/14/menjual-tubuh-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 21:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Avonture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Ada pertanyaan yang menarik beberapa hari lalu. Dilontarkan oleh seorang sahabat. Pertanyaannya simpel, yaitu, &#8220;Mengapa tubuh wanita lebih menjual daripada tubuh pria?&#8220;
Saya lagi duduk bersamanya di kantin. Tersedak.
Pertanyaannya sedemikian menarik. Sebab tiba-tiba membuat manusia satu kantin menjadi hening. Kantin itu cukup luas loh. Mampu menampung 40 orang sekaligus. Mendadak semua mata memandang saya curiga. Seakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada pertanyaan yang menarik beberapa hari lalu. Dilontarkan oleh seorang sahabat. Pertanyaannya simpel, yaitu, &#8220;<i>Mengapa tubuh wanita lebih menjual daripada tubuh pria?</i>&#8220;</p>
<p>Saya lagi duduk bersamanya di kantin. Tersedak.</p>
<p>Pertanyaannya sedemikian menarik. Sebab tiba-tiba membuat manusia satu kantin menjadi hening. Kantin itu cukup luas loh. Mampu menampung 40 orang sekaligus. Mendadak semua mata memandang saya curiga. Seakan meminta jawaban.</p>
<p>Kampret! Asem!</p>
<p>Saya sudah siap-siap menjawab dengan logika <i>tricky</i> (*tipikal khas bangaiptop, haha*). Mencari sebuah jawaban berdasarkan kondisi dan situasi. Memanfaatkan suasana. Yaitu, pertama, bahwa kami saat itu sedang ada di sebuah gedung penyedia jasa internet terbesar. Kedua, karyawannya kebanyakan pria muda. Ketiga, sebagian besar adalah lajang.</p>
<p>OKE. Jawabannya gampang. Ketemu! Mengacu pada logika, &#8216;apa yang dilakukan pria muda lajang, <i>nerd</i>, berpenghasilan tinggi dan mahir internet?&#8217;<br />
<span id="more-107"></span><br />
Simpel&#8230; Yaitu, banyak dari mereka yang pandai mencari dan mengunduh konten porno. Lalu menghapus jejaknya agar tidak ketahuan siapa-siapa. Hehehe.</p>
<p>Jadi, jawaban saya adalah, &#8220;Tanya aja ama disebelah kamu. Dia itu pinter loh donlot pelem yang isinya tubuh wanita menggelinjang pake gugel&#8221;</p>
<p>Haha. Jelas itu logika yang selain ngasal, OOT, ad hominem dan nggak mutu. Tapi mau dikata apa lagi? Pertanyaannya sedemikian sulit. Maka jawabannya juga aneh. (*Sama seperti pertanyaan pada seorang gubernur, &#8220;Pak gimana mengatasi banjir tahunan?&#8221;. Si Gubernur menjawab. &#8220;Wah itu mah gara-gara pendahulu saya tuh, si gubernur brengsek!&#8221;*). Haha.</p>
<p>Sialnya, hari itu ada pertemuan para pengembang perangkat lunak wanita dari beberapa negara. Siaal&#8230; Siaalll&#8230; Jadi yang ada di kantin itu, 90 persen lebih wanita semuanya. Dan hampir semuanya sudah berkeluarga (*diantaranya ada kakak ipar saya pula, Anna Marie*). Ampuuun, Mak.</p>
<p>Saya pengen pura-pura kebelet ke WC. Nggak bisa. Semua mata memandang pada meja kami. Astaga. Siang-siang dapat cobaan ajaib.</p>
<p>Tahu apa saya soal tubuh wanita? Sejak kapan saya jadi ahli wanita?</p>
<p>Saya cengar-cengir kebingungan. Garuk-garuk kepala yang tidak gatal.</p>
<p>Akhirnya, saya menjawab juga. Saya bilang begini;</p>
<p>Wanita, itu makhluk yang luar biasa. Dianugrahi Yang Maha Pencipta dengan kelebihan-kelebihan khusus. Diantaranya adalah sebagai induk proses reproduksi manusia.</p>
<p>Kemajuan teknologi, bisa membuat wanita hamil tanpa pria. Tapi, tidak ada teknologi yang mampu membuat anak tanpa bantuan wanita. Proses kloning pun masih membutuhkan wanita rupanya.</p>
<p>Maka itu, wanita dipandang sebagai perwujudan Sang Pencipta di muka bumi. Dipandang sebagai Dewi Kesuburan. Yang mampu menumbuhkan kehidupan pada semesta. Mulai dari Isis di Mesir hingga Dewi Sri di Nusantara. Wanita dipandang suci.</p>
<p>Itu teori pertama.</p>
<p>Teori kedua, jelas mengacu pada Freud. Dimana setiap anak jatuh cinta pada ibunya. Entah anak laki-laki maupun anak perempuan. Setiap anak pasti cinta ibunya. Dan keterikatan emosional antara anak dengan ibu sedemikian tinggi. Itu yang membuat setiap pria menyukai wanita. Entah erotis, entah emosional. Ada ikatan kuat antara anak-anak yang baru lahir dengan wanita. Terutama, dengan tubuh wanita.</p>
<p>Dan ikatan emosional itu pula yang membuat pria menyukai tubuh wanita. Sebab sebelum mereka lahir hingga beberapa saat setelah mereka lahir, tubuh wanita begitu kuat pengaruhnya pada awal-awal terjadinya manusia.</p>
<p>Jangankan laki-laki, wanita pun kadang-kadang suka terhadap tubuh wanita. Baik itu tubuhnya sendiri. Atau bisa juga tubuh wanita lain. Ehemm&#8230;</p>
<p>Teori ketiga adalah pengaruh iklan. Dimana wanita kadangkala selalu menjadi ujung tombak keberhasilan diplomasi antar suku. Sifat wanita yang lemah lembut, mampu membuat sebuah perundingan alot menjadi lebih dinamis. Dan konsep ini dibawa dari masa paleolitikum hingga saat ini. Iklan modern bahkan mempergunakan wanita sebagai lahan bisnis. (*Contohnya: Iklan penipuan tarif telpon RI yang menghebohkan itu*)</p>
<p>Jadi, wajar saja tubuh wanita begitu menggoda.</p>
<p>Sahabat saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan ini.</p>
<p>Lalu, tiba-tiba saja seruangan itu bicara mengenai wanita dan tubuh mereka. Ada (sebagian besar) wanita yang merasa kegemukan. Dan tiba-tiba saja, para pria (yang secara jumlah tidak dominan) seakan menjadi tertuduh. Seakan pria lah penyebab satu-satunya mengapa wanita merasa tubuhnya &#8216;ndut&#8217;.</p>
<p>Para pria itu, menatap saya dengan pandangan janggal. Saya diem aja. Malu euy. Menunduk. Dalam hati, saya pikir mereka berkata pada saya, &#8220;Dasar pengkhianat!&#8221;. Hihi</p>
<p>Kelebihannya, makan siang kali ini, ditraktir hingga perut melembung. Huehehe.</p>
<p>Sorenya, ketika pulang ke rumah, saya lihat nasi mengepul di meja makan. Wahh, tumben. Padahal majikan saya Ibu Nyonyah baru pulang ke rumah. Jadwal pulang kerja beliau sama seperti jadwal saya. Jadi, bagaimana nasi panas sudah ada di meja makan? Bagaimana ada waktu untuk memasak?</p>
<p>Sebelum pertanyaan saya terjawab, ada peristiwa ajaib lagi terjadi.</p>
<p>Beliau menunggu di meja makan. Lalu bertanya, &#8220;Kata Anne Marie, kamu suka tubuh perempuan lain yaa? Sudah ngaku saja?&#8221;</p>
<p>Saya meneguk ludah? Cleguk&#8230; Tenggorokan rasanya kering.</p>
<p>Ibu Nyonyah melanjutkan pertanyaan yang tidak kalah dahsyatnya, &#8220;Benar ga sih, semua laki-laki itu suka melototin perempuan cakep?&#8221;</p>
<p>Ahh gimana menjawabnya. Logika tricky pasti tidak mempan dipakai ke Ibu Nyonyah.</p>
<p>Akhirnya, saya hanya bisa cengar-cengir kebingungan. Garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dan lalu menjawab, &#8220;Itu nasinya mantep banget. Pulen. Dari Cianjur yaa?&#8221;</p>
<p>(*Hehe, jawaban yang nggak mutu*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=107&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/14/menjual-tubuh-wanita/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politik Itu Haram!</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/11/politik-itu-haram/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/11/politik-itu-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 15:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Belum pernah saya begitu banyak menerima hate speech (berupa email) sebanyak akhir-akhir ini. Khayalan iseng saya terdahulu, soal partai internet, menuai badai.
Padahal saya tidak berencana menanam angin ketika menulis artikel tersebut. Hehehe.
Rupa-rupanya, banyak orang yang tidak suka saya menulis tulisan yang berbau politis. Banyak orang yang tidak suka politik. Katanya beberapa gelintir pengirim email, &#8216;Politik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Belum pernah saya begitu banyak menerima <i>hate speech</i> (berupa <i>email</i>) sebanyak akhir-akhir ini. Khayalan iseng saya terdahulu, soal <a HREF="http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/08/partai-internet-dan-khayalan-jorok/" TARGET="_blank">partai internet</a>, menuai badai.</p>
<p>Padahal saya tidak berencana menanam angin ketika menulis artikel tersebut. Hehehe.</p>
<p>Rupa-rupanya, banyak orang yang tidak suka saya menulis tulisan yang berbau politis. Banyak orang yang tidak suka politik. Katanya beberapa gelintir pengirim <i>email</i>, &#8216;Politik itu haram!&#8217;.</p>
<p>Tulisan saya, soal partai internet banyak yang menanggapi. Saya kaget juga. Khayalan iseng itu berbuah pertanyaan, tanggapan, sanjungan, cemoohan hingga akhiran -an -an lainnya.</p>
<p>Secara sadar, komentar pada tulisan itu tidak saya jawab.</p>
<p>Agak berbeda memang. Sebab saya biasanya selalu membalas komentar. Alasannya simpel saja. Sebab tulisan itu benar-benar imajinatif. Setiap orang berhak melemparkan imajinasinya disana. Entah itu sopan maupun tidak.</p>
<p>Biar saja. Dibebaskan saja imajinasi yang ada. Seliar-liarnya. Sebab adakah sesuatu yang lebih liar daripada imajinasi? Biar lah publik yang menilai.</p>
<p>Akibat tidak dibalasnya komentar-komentar, banyak yang mengirimkan <i>email</i>.</p>
<p>Beberapa orang menulis email yang bahkan mirip senada (walaupun<i> IP adress-</i>nya jauh sekali berbeda). Kata mereka adalah bahwa politik itu tidak dibenarkan dalam beberapa agama. Demokrasi hukumnya haram (merujuk <a HREF="http://fanan.blogs.friendster.com/fanan_blog/2008/02/inilah_demokras.html" TARGET="_blank" TITLE="Demokrasi itu haram berdasarkan islam">pada ini</a>). Kata mereka pula, mengajarkan politik demokrasi pada masyarakat, sama saja dengan menyiarkan syiar fitnah.</p>
<p>Sambil senyam-senyum, saya balas satu-satu email tersebut. Diantaranya adalah, &#8220;<i>Setiap orang boleh mengaku utusan tuhan, tapi bukankah masyarakat yang menentukan ia akan dipercaya sebagai nabi atau tidak? Itu kan demokrasi murni. Apa tanggapan anda?</i>&#8220;</p>
<p>Selain <i>email</i> berisi kebencian (*caci makinya saya sensor, hehe*), banyak juga email yang berisi pertanyaan. Ada seorang pembaca, dari sebuah daerah di Jawa Tengah, menulis dengan amat menarik. Pertanyaan beliau adalah;</p>
<p>&#8220;<i>Kang. Saya kira panjenengan ini ndak main politik-politikan. Ndak taunya kok yaa main politik. Apa ini kartu as panjenengan. Suka bicara soal rakyat. Tapi sekarang apa mau moroti suara rakyat?</i>&#8220;</p>
<p>Saya tersenyum lebar membacanya.</p>
<p>Alih-alih menjawab surat itu. Saya malah teringat seorang dai terkenal yang berpoligami. Loh ada apa dengan Da&#8217;i poligami? Apa hubungannya dengan politik?</p>
<p>Begini ceritanya;<span id="more-106"></span></p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya mendengar siaran radio <i>streaming</i>. Ada Da&#8217;i yang berpoligami diwawancarai. Perbincangan dengan Da&#8217;i tersebut menarik sekali.</p>
<p>Ada bagian (yang kalau saya tidak salah tangkap. Kalau salah, maap. Hehe) isinya adalah cerita tentang seseorang tokoh masyarakat yang datang menasehati sang Da&#8217;i agar tetap &#8217;sukses dicintai warga&#8217;. Yaitu, jangan poligami dan jangan main politik.</p>
<p>Sang Da&#8217;i tersebut, santai saja menanggapi nasihat sang tokoh masyarakat.</p>
<p>Saya, tidak akan membahas apa kata sang Da&#8217;i di tulisan kali ini. Tidak pula membahas tindakan Sang Da&#8217;i. Apalagi menghakimi beliau. Tidak. Sama sekali tidak. Memangnya saya siapa, menghakimi orang sembarangan? Saya bukan orang suci. Dan saya tidak pernah ikut sekolah hakim, baik hakim yudisial maupun hakim garis. Hehe.</p>
<p>Tapi saya akan membahas nasihat sang tokoh masyarakat (*walaupun saya bukan lah si tokoh itu*). Yaitu, mengapa jangan berpoligami dan jangan bermain politik agar tetap &#8217;sukses dicintai warga&#8217;?</p>
<p>Kenapa? Kok bisa-bisanya beliau ngomong begitu? Mari kita bahas.  (*Anda boleh setuju, boleh juga tidak. Silahkan saja*)</p>
<p><strong>1. Popularitas Poligami</strong></p>
<p>Pertama, saya tidak akan membahas pro kontra poligami. Sudah cukup banyak tulisan yang membahas hal ini, baik dari segi agama, adat hingga hukum pemerintahan. Baik mendukung maupun menolak, sama banyaknya. Saya tidak ingin menambahkan. Ilmu saya tidak cukup.</p>
<p>Saya hanya akan membahas (tentu saja pakai kacamata pribadi, subjektif), mengapa poligami tidak populer;</p>
<p><strong><i>A. Poligami tidak populer di kalangan Ibu-ibu</i></strong></p>
<p>Yahh, kali ini mah jelas. Ada satu hukum yang berlaku di kalangan wanita. Hukum ini tidak tertulis. Tapi dianut oleh sebagian besar wanita di Indonesia, yaitu &#8220;Aku tak rela jikalau aku dimadu&#8221;</p>
<p>Jangankan wanita, waria saja tidak rela dimadu (*mohon pembaca waria mengkonfirmasi kebenaran teori ini*).</p>
<p>Coba anda bayangkan, jika suatu hari Sang Bapak tiba-tiba pamitan pada istrinya, &#8220;<i>Mbune, aku kok yaa kepingin macul lagi di sawah sebelah yang mbecek mblebes. Hmhh&#8230; begini&#8230; Maksudku, janda sebelah rumah kita itu kasihan yaa. Bagimana kalau aku kawini?</i>&#8220;</p>
<p>Lalu Sang Ibu, berteriak histeris, &#8220;<i>Ooh Mamah Ooh Papah! Pakne, betapa teganya dirimu&#8230; Sungguh teganya&#8230; Teganya&#8230; Teganya&#8230; Ooohhh, kepada diriku. Dulu kau berlutut di kakiku, tuk mengharapkan cintaku. Tapi kini&#8230; Setelah aku mbrojoli tujuh bocah dan durenku sudah ngglewer-nggelewer. Ahhh, kau berpaling kepadanya</i>&#8220;.</p>
<p>Lalu, Sang Ibu tentu saja sakit hati. Patah arang.</p>
<p>Dan kelebihannya Ibu-ibu dibandingkan makhluk lainnya adalah, solidaritas mereka tinggi dalam menyampaikan kabar antar tetangga. Dan jelas akan membuat popularitas Sang Bapak yang berpoligami langsung turun drastis di tingkat RT/RW.</p>
<p><strong><i>B. Poligami tidak populer di kalangan Bapak-bapak</i></strong></p>
<p>Begini, jika ada seorang suami yang melakukan poligami, biasanya ia akan cerita ke temannya. Teman yang dipercaya. Biasanya laki-laki juga. Jarang seorang suami berpoligami cerita-cerita bahwa ia berpoligami pada teman wanitanya. Kenapa? Jawabannya ada poin A diatas. Hehe.</p>
<p>Ketika Sang Suami ini cerita pada temannya, akan terjadi hukum aksi reaksi.</p>
<p>Dan reaksi yang akan terjadi adalah;<br />
- Teman yang diceritakan cuek saja.<br />
- Teman yang diceritakan antipati.<br />
- Teman yang diceritakan ternyata juga kepingin kawin lagi.</p>
<p>Kalau hanya cuek dan antipati, yaa tidak masalah. Tapi bagaimana kalau sang teman, yang juga sesama pria, ikut-ikut mencari lahan sawah <i>mbecek mbelebes</i> (*iih, apa sih arti<i> mbecek mbelebes</i>?*). Maaf, begini maksud saya, gimana kalau sang teman ikut serta berburu harta karun yang tidak di dalam tanah, yaitu memburu istri baru?</p>
<p>Konsekuensinya ada dua. Pertama, kalau sang teman sukses, maka Sang Suami yang berpoligami pertama kali, akan dianggap merusak rumah tangga orang lain. Ini berdasarkan versi keluarga sang teman tentunya. Terutama, istri tua sang teman.</p>
<p>Kedua, kalau tidak sukses, ada konsuekensi tambahan. Sang teman akan iri pada suami yang sukses berpoligami. Setiap ia mendengar Sang Suami yang berpoligami, cerita-soal-adegan-suami-istrinya, timbullah kecemburan di dada.</p>
<p>Cemburu, dapat mengakibatkan tidak populer.</p>
<p>Wanita cemburu pada wanita lain, itu biasa.<br />
Wanita cemburu pada pria, itu juga wajar saja.<br />
Tapi kalau pria cemburu pada pria&#8230; Aowww?</p>
<p><strong><i>C. Poligami tidak populer di kalangan anak-anak</i></strong></p>
<p>Selama ini, orang selalu menganggap urusan poligami hanya menyangkut masalah selangkangan kering yang haus dahaga. Itu tidak sepenuhnya benar.</p>
<p>Aksi poligami, apabila dilakukan oleh seorang kepala keluarga yang mempunyai anak, berpengaruh besar pada psikologis anak.</p>
<p>Contohnya; Anak yang orangtuanya berpoligami (atau berpoliandri) akan menerima pendapat masyarakat yang berbeda. Mulai dari reaksi temannya yang bertanya-tanya. Atau ketika ia main ke rumah temannya lalu diinterogasi ibu sang teman. Atau melihat mamanya, sang istri tua, jadi sering melamun.</p>
<p>Apabila dilakukan oleh tokoh masyarakat, dampaknya bukan hanya pada sang tokoh. Melainkan juga pada keluarga sang tokoh. Pandangan publik yang menghakimi, juga di terima sebagai beban psikologis keluarga.</p>
<p>Jika Sang Suami berpoligami atau Sang Istri yang dimadu bisa menerima itu semua, bagaimana dengan reaksi anak?</p>
<p>Pengalaman dan beban yang diterima oleh anak pelaku poligami biasanya luput dari jangkauan. Beberapa orang anak, bahkan mengidap kebencian pada orangtuanya yang berpoligami (*dan dibawa terus hingga dewasa*). Karena reaksi tak adil masyarakat yang ternyata harus mereka tanggung.</p>
<p>Walaupun anak-anak bukan pelaku poligami, tetap saja poligami tidak populer di kalangan anak-anak.</p>
<p>Ok, cukup sekian dulu membahas popularitas poligami di kalangan suami, istri dan anak. Sekarang saya akan membahas soal popularitas politik di kalangan warga RI.</p>
<p>Kok yaa bisa-bisanya politik demokrasi di cap haram? Dan mengapa pula membicarakan politik itu tabu? Mari kita bahas dalam bagian ini;</p>
<p><strong>2. Popularitas politik</strong></p>
<p>Aristoteles, seorang filsuf Yunani, mengemukakan sebuah teori klasik yang menarik. Beliau bilang, &#8216;politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama&#8217;.</p>
<p>Pendapat ini, diamini oleh banyak orang-orang pintar setelah beliau. Diantaranya adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Aquinas" TARGET="_blank" TITLE="siapa thomas aquinas?">Thomas Aquinas</a> hingga dalam buku fiqih <i>Bidayat Al-Mujtahid</i> karya Ibnu Rasyid (<a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Averroes" TARGET="_blank" TITLE="siapa averroes?">Averroes</a>).</p>
<p>Namun ditentang habis-habisan oleh Machiavelli dalam buku <a HREF="http://www.gutenberg.org/etext/1232" TARGET="_blank" TITLE="tempat mendownload bebas The Prince alias Il Principe"><i>Il Principe</i></a> (Sang Pangeran).</p>
<p>Machiavelli berpendapat, bahwa kekuasaan itu harus langgeng. Harus stabil. Ajek dan terjaga. Segala tindakan-tindakan untuk melindungi negara, betapapun kejamnya, dapat dibenarkan. Apa saja harus dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan. Dan Il Principe, sang pangeran penguasa, tidak boleh dibenci karena berbuat demikian.</p>
<p>Machiavelli, berkata begitu karena pengalaman. Apa adanya. Tidak dibuat-buat. Sebab awal-awal tahun 1500-an Firenze, Italia,  masa ia hidup dan berkuasa, kekisruhan memang mewarnai monarki.</p>
<p>Ia tumbuh menjadi seorang politisi yang paling berpengaruh di Eropa setelah kekacauan di Firenze itu terlewati.</p>
<p>Dalam menjawab pertanyaan &#8220;<i>whether it be better to be loved than feared or feared than loved?</i>&#8220;, dicintai-atau-ditakuti, Machiavelli berpendapat bahwa seseorang pemimpin atau politisi tidak bisa memanggul kedua beban itu. Harus dipilih salah satu. Dan ditakuti adalah jawaban yang paling cocok untuk menjaga kekuasaan agar tetap langgeng dan stabil.</p>
<p>Republik Indonesia masa 1966-1998, adalah sebuah contoh kepemimpinan ala Machiavelli.</p>
<p>Pada masa tersebut, takut, adalah senjata utama untuk mempertahankan kekuasaan. Untuk membuat masyarakat menjadi takut, disebarkanlah teror kepada warga.</p>
<p>Bagimana teror itu bekerja;</p>
<p><i><strong>- Pengulangan memori.</strong></i><br />
Setiap tahun, harus ada cara agar ingatan masyarakat tetap di jaga. Contohnya adalah film kekerasan berlumur darah pada bulan September. Pada benak orangtua, ditanamkan dogma, bahwa menyuruh anak-anak mereka menonton film kekerasan adalah sikap nasionalisme. Kebanggaan. Cinta negara.</p>
<p><strong>-<i> Militerisme.</i></strong><br />
Pada benak rakyat, ditanamkan sebuah ide bahwa rezim yang berkuasa di dukung oleh militer. Jadi, kalau rakyat macam-macam, maka mereka akan berhadapan dengan bedil dan peluru. Maka itu, cukup digelar parade senjata setiap tahun, maka pada benak warga akan tertanam 4M yaitu &#8220;<i>Macam-macam? Mau Modar!</i>&#8220;</p>
<p><strong><i>- Demokrasi topeng.</i></strong><br />
Namanya demokrasi, yaa suara rakyat. Dan suara rakyat itu tidak selamanya merdu. Sebab memang tidak semua rakyat hidupnya bahagia. Maka itu, agar merdu, dibentuklah demokrasi topeng. Dimana pemilihan umum dilangsungkan setiap lima tahun, namun yang dipilih itu-itu juga orangnya. Apabila ada suara rakyat yang tidak merdu, dibungkam. Caranya; si empunya suara dibunuh atau dihilangkan.</p>
<p><strong><i>- Bekerja sama dengan tokoh agama</i></strong><br />
Ini penting sekali. Untuk menguasai negara yang rakyatnya mayoritas relijius, harus menguasai kepala ajengan mereka. Mengapa? Gampang jawabnya, yaitu agar rakyat mudah dikendalikan.</p>
<p>Rakyat yang marah dan merasa kalah setelah tidak sanggup berhadapan dengan bedil dan peluru, akan mengadu pada guru agama mereka. Dan guru tersebut, sesuai dengan ajaran cinta kasih (yang dipolitisir), akan memberikan lebih dari sejuta pompa sabar. Agar rakyat tidak melawan penguasanya.</p>
<p><strong><i>- Bisik-bisik</i></strong><br />
Ternyata gosip adalah isu ampuh untuk menjaga ketentraman warga. Maka itu, disebarkanlah bisik-bisik seperti di tahun 80-an, &#8216;<i>Jangan tatoan. Mati kamu nanti</i>&#8216;. Atau bisa pula, &#8216;<i>Jangan nyoblos partai anu, nanti dipecat</i>&#8216;. Atau bisa pula, &#8216;<i>Jangan ngomongin politik pemerintah. Sudah hidup damai-damai saja. Yang penting bisa makan. Bisa bikin anak. Cukup</i>&#8216;</p>
<p>Setelah tahun 1998, dimana ada peristiwa luar biasa di Republik Indonesia tengah terjadi, kepemimpinan ala Machiavelli dipertanyakan. Apakah itu yang cocok buat warga republik tercinta?</p>
<p>Beberapa orang kebingungan. Ada yang merindukan pola lama, yang stabil di permukaan namun bergolak di dalam. Ada pula yang berkata terang-terangan, butuh format baru.</p>
<p>Namun yang pasti, akibat pengaruh teror itu belum hilang juga. Wajar saja. Ini yang disebut <i>post-trauma</i> pada korban.</p>
<p>Contoh; Simpanse yang bekerja di sirkus, dicambuki kalau salah dan diberi kacang kalau bisa salto bejingkrakan. Jika suatu hari ia dilepas di alam bebas, apa reaksinya? Jelas kebingungan. Padahal ia justru berada dalam habitat yang melahirkannya. Ini lah contoh nyata <i>post-trauma</i> pada korban.</p>
<p>Maka itu, ketika ada yang masih trauma bicara politik&#8230; Yaa, kita biarkan saja. Toh semua ini masih dalam proses. Umur Indonesia masih muda. Kemerdekaan yang diperoleh warga pada 21 Mei 1998 begitu banyak menguras jiwa, hati dan tenaga.</p>
<p>Maka itu, kita biarkan saja semua ini sekarang berproses.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan <i>hate speech</i>? Bagaimana dengan kebebasan berpendapat yang disalahgunakan? Jawabnya gampang; Kita biarkan saja masyarakat yang menilai. Hati-hati, warga itu tidak bodoh, loh. Siapa saja bebas berbicara, namun pasti nanti akan memikul akibatnya.</p>
<p>Bukankah ada sebuah masa, ketika setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan perbuatannya?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=106&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/11/politik-itu-haram/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Partai Internet dan Khayalan Jorok</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/08/partai-internet-dan-khayalan-jorok/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/08/partai-internet-dan-khayalan-jorok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 20:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, tumben saya berandai-andai. Capek, makan siang mikir yang aneh-aneh terus. Kali ini, menulis yang ringan saja. Topiknya juga tidak kalah ringannya, khayalan.
Hmhh, apalagi yang lebih ringan daripada khayalan?
Katanya, mengkhayal kebaikan saja, sudah merupakan sebuah kebaikan. Dan (katanya) mengkhayal jorok, masih belum dosa selama belum dilaksanakan. Hehe.
Maka itu mari kita mengkhayal saja. Selama mengkhayal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini, tumben saya berandai-andai. Capek, makan siang mikir yang aneh-aneh terus. Kali ini, menulis yang ringan saja. Topiknya juga tidak kalah ringannya, khayalan.</p>
<p>Hmhh, apalagi yang lebih ringan daripada khayalan?</p>
<p>Katanya, mengkhayal kebaikan saja, sudah merupakan sebuah kebaikan. Dan (katanya) mengkhayal jorok, masih belum dosa selama belum dilaksanakan. Hehe.</p>
<p>Maka itu mari kita mengkhayal saja. Selama mengkhayal masih gratis dan tidak dibebani dosa, tidak apa-apa, toh? Hehe.</p>
<p>Kali ini, tema khayalannya adalah partai internet. Maaf, bukan mengkhayal jorok. Kalau mau mengkhayal jorok, silahkan sendirian saja. Jangan ajak-ajak saya. Tak sudi aku kalau situ mengkhayal kotor di samping saya. Apalagi menjadikan saya bahan khayalan jorok anda.</p>
<p>Hiii. Amit-amit jabang boneng.</p>
<p><b>Latar Belakang.<br />
</b><br />
Tidak etis kalau khayalan ini tidak pakai latar belakang. Maka itu, saya jelaskan dulu latar belakang khayalan ini pada anda, penonton.</p>
<p>Begini ceritanya;<span id="more-105"></span></p>
<p>Belum lama ini, Barack Obama, kandidat presiden US diwawancarai sebuah majalah musik, <i>Rolling Stones</i>. Isinya menarik sekali. Obama bilang &#8220;<i>Pemilih muda, muak dengan kenyataan bahwa kongres dan pemerintahan adalah sekumpulan politisi yang tidak dapat diandalkan. Mereka pikir, pemerintah adalah sekumpulan orang tolol yang memeras rakyat. Itu tidak benar. Pendapat itu harus diperbaiki. Mereka tidak tahu kegunaan pemerintah. Pemerintah ada untuk melindungi rakyat. Pemerintah ada karena rakyat. Bukan sebaliknya. Untuk memperbaiki pendapat bahwa pemerintah itu tolol, satu-satunya cara, adalah dengan memperbaiki pemerintahan itu sendiri</i>&#8220;.</p>
<p>Wah benar juga. Lepas dari sosok pribadi Obama (agar tidak ad hominem), pendapat itu (menurut saya) baik sekali.</p>
<p>Daripada memaki-maki pemerintah RI. Rezim saat ini yang berkuasa. Yang keberpihakannya terhadap rakyat kecil sungguh sedikit. Lebih baik melakukan tindakan langsung. Sebuah tindakan yang diyakini mampu memperbaiki hajat hidup rakyat.</p>
<p><b>Bagaimana?</b></p>
<p>Untuk duduk di pemerintahan, rahasia umum, bahwa kita harus sekolah jadi punggawa pemerintahan. Atau melalui partai.</p>
<p>Jadi punggawa pemerintahan artinya hanya satu, apapun rezimnya, anda harus patuh pada rezim itu. Membangkang sedikit saja, maka cap pemberontak ada di jidat anda. Membangkang banyak, maka capnya adalah &#8216;Gerakan Pengacau Keamanan&#8217;. Hehe.</p>
<p>Kalau mau melawan. Kalau mau merubah keadaan. Sementara tidak mau dicap pembangkang. Yaa bikin partai. Bikin organisasi. Bikin perkumpulan. Berserikat. Menjadi satu. Punya keyakinan teguh. Agar jangan gontok-gontokan sendiri di dalam.</p>
<p>Maka itu, hari ini, kita mengkhayal saja. Khayalannya simpel. Pura-pura bikin partai.</p>
<p><b>Bikin partai? Ohoo! Partai apa? Apa agendanya?</b></p>
<p>Yaa kita sadar, tidak semua aspirasi rakyat bisa disampaikan dan disuarakan melalui partai ini. Ini bukan partai luar biasa. Ini hanya partai biasa yang yang mencoba memperbaiki hajat hidup rakyat.</p>
<p>Tentu saja tidak semua rakyat Indonesia bisa disuarakan. Ini bukan partai para manusia super. Ini partainya orang internet. Maka kita hanya menyuarakan suara rakyat internet orang Indonesia.</p>
<p>Nama partainya; Partai Internet.</p>
<p>Agendanya;</p>
<p><b>1. Sekolah online gratis</b></p>
<p>Namanya juga partai internet. Kegiatannya pasti tidak jauh dari <i>online</i>. Dan untuk mendukung pendidikan di Indonesia, sekolah <i>online</i> diperbanyak dengan mutu yang diperbaiki.</p>
<p>Diusahakan semaksimal mungkin sekolah gratis. Andai tidak bisa gratis, yaa murah meriah begitu.</p>
<p>Sekolahnya, yaa macam-macam jenisnya. Ada sekolah ketrampilan bahasa, mulai bahasa mesin seperti bahasa C atau PHP hingga bahasa asing. Seperti bahasa Inggris  atau bahasa Jepang dan bahasa lainnya.</p>
<p>Dunia internet adalah dunia bahasa. Untuk mengetahui isi internet, butuh keahlian berbahasa. Selain itu, ada pula sekolah ketrampilan lainnya.</p>
<p><b><i>Caranya:</i></b><br />
Jangan sendirian. Harus kerjasama. Salah satunya, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan RI, agar sekolah ini dimasyarakatkan pada publik.</p>
<p>Kalau dapat pendidikan lebih baik, nasib anak manusia juga dapat jauh lebih baik.</p>
<p><b>2. Akses internet gratis di tempat pelayanan publik</b></p>
<p>Nampaknya propinsi se-Indonesia harus iri pada orang-orang Jogja. Bagaimana tidak, jika daerah istimewa ini ternyata mempunyai akses hot-spot internet terluas jika dibandingkan propinsi-propinsi lain. Akhir tahun 2007, cakupan hot spot, internet tanpa kabel, meliputi lebih dari 50% kawasan keseluruhan di Jogja.</p>
<p>Akses internet gratis adalah sarana awal publik yang baik untuk mengakses informasi melalui internet. Maka itu, memasyarakatkan akses internet gratis itu penting.</p>
<p>Tidak kalah pentingnya, jika akses tersebut ditempatkan di ruang publik.</p>
<p>Menarik sekali, jika semua perpustakaan daerah di RI ada akses internet gratis. Menarik sekali, jika semua puskesmas, semua terminal bus kota, semua kantor polisi, semua lapangan bermain anak-anak dan sarana publik lainnya ada akses internet gratis.</p>
<p>Menarik bukan, jika anda menunggu angkotan perkotaan sambil membaca koran <i>online</i>. Atau dokter di puskesmas yang mengecek kesehatan warga melalui database dalam jaringan. Atau polisi yang mampu menuangkan isi hati dan hasil pekerjaannya ke dalam blog. Atau orangtua yang menemani anaknya bermain sambil nge-net. Asyik loh itu semua.</p>
<p>Maka itu, akses internet gratis di pusat pelayanan publik itu penting.<br />
<i><b><br />
Caranya:</b></i><br />
Bekerja sama dengan semua penguasa akses ruang publik. Beri pelatihan agar mereka mampu mengatasi instalasi internet. Jadi pinternya bisa sama-sama. Sementara itu, agar gratis, buatlah subsidi silang. Pajak dari industri berat berpolusi tinggi dinaikkan untuk membantu program ini.</p>
<p>Jadi, rakyat tidak hanya dapet sakit paru-paru saja dan tetap bodoh. Tapi punya kesempatan terhadap akses gratisan yang bikin pintar. Cihuyy.</p>
<p><b>3. Buku pelajaran sekolah (textbook) online</b></p>
<p>Sudah jadi rahasia umum, kalau buku sekolah di RI itu mahal. Setidaknya, masyarakat kalangan menengah ke bawah (yang mendominasi dari keseluruhan populasi rakyat RI).</p>
<p>Maka itu, buatlah buku sekolah jadi e-book. Bisa di <i>download</i>, gratis. Calon pelajar tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk membeli buku. Cukup ke sebuah situs portal buku <i>online</i>. Unduh sepuasnya yang dibutuhkan. Simpel. Murah. Bahagia. Orangtua murid, senang dan gembira.</p>
<p><b><i>Caranya:</i></b><br />
Lagi-lagi, bekerja sama dengan Departemen Pendidikan. Tapi, kali ini bekerja sama juga dengan IIX. Jadi fasilitas unduh jadi mudah, cepat dan murah. Sebab mau tidak mau, kita akan berurusan dengan makhluk yang bernama <i>bandwith</i>. Makhluk peliharaannya IIX, <i>Indonesia Internet eXchange</i>.</p>
<p><b>4. Komputer murah</b></p>
<p>Akses internet itu sebenarnya bisa pakai telpon selular. Tapi, tetap saja konsumsi internet terbanyak dikuasai oleh komputer.</p>
<p>Maka itu, komputer murah itu penting. Mengapa harus murah? Jawabannya simpel. Karena orang Indonesia suka barang murah meriah. Tapi canggih. Contohnya; Saya ini orangnya. Hehe.</p>
<p><i><b>Caranya:</b></i><br />
Kerjasama dengan vendor asing, seperti project OLPC (<i>One Laptop Per Children</i>) misalnya. Kalau mereka tidak mampu, yaa kita sambangi itu pabrik-pabrik di RRC yang sanggup memenuhi permintaan ini. Mereka harus mampu bikin produk yang baik dan murah untuk RI. Sebab selama ini sudah membombardir RI dengan produk gampang rusaknya itu.</p>
<p>Kalau mereka ndak sanggup, yaa gampang, kita stop saja pasokan bisnis mereka ke RI. Hehe. Kita punya senjata yang cukup hebat kok. Yaitu konsumsi dari 200 juta manusia. (Hehe.<i> No offense. It&#8217;s just business</i>)</p>
<p><b>5. SBM (Server bertenaga matahari)</b></p>
<p>Untuk menggalakkan internet gratis, seperti di Jogja, mau tidak mau harus mendorong industri teknologi yang mendukungnya. Contohnya warnet. Nah makin banyak warnet, makin banyak server.</p>
<p>Maka itu, alangkah bijaknya jika memanfaatkan sumber matahari (yang bersinar kinclong setiap hari di RI) sebagai sarana penyedia listrik untuk server-server itu.</p>
<p>Langkah ini banyak kegunaannya. Selain mendorong manusia untuk lebih bermulut sopan, tidak memaki-maki PLN terus. Juga dapat menghemat pasokan listrik yang tidak stabil di beberapa wilayah di RI. Selain itu, mendorong industri baru tumbuh berkembang, yaitu industri Pembangkit Listrik Tenaga Matahari.</p>
<p><i><b>Caranya:</b></i><br />
Saat ini sudah ditemukan teknologi yang sanggup membuat pasokan listrik berbahan tenaga matahari dengan murah. Sediakan pasokan ini di seluruh wilayah RI secara merata. Kerjasama dengan PLN lokal. Kerjasama dengan kelurahan lokal. Bahkan kerjasama dengan bisnismen lokal. Agar cakupannya merata, dan rakyat ada lahan mencari nafkah baru.</p>
<p>Selain itu, server-server pemerintahan diwajibkan memakai tenaga listrik alternatif ini. Wajib! Sebab kalau mau nyontohin rakyat dengan kebaikan, yaa dimulai dari diri sendiri.</p>
<p><b>6. Pemberdayaan Cyber Crime Unit</b></p>
<p>Internet itu teknologi. Bisa jadi teman, bisa pula jadi musuh. Tergantung yang memakainya. Maka, ada pula kebaikan yang dibawa internet, namun tidak kalah pula keburukannya. Jika dari tadi kita bicara yang baik-baik terus soal internet, maka kali ini kita bicara yang buruk pula dong. Biar imbang.</p>
<p>Kejahatan melalui internet di RI itu sudah lebih parah penyebarannya daripada virus HIV/AIDS. Maka itu, perlu dilakukan proses cegah dan tangkalnya dengan baik.</p>
<p>Salah satunya, melalui pemberdayaan <i>Cyber Crime Unit</i>. Sebuah unit di kepolisian yang bertugas khusus menangani kejahatan atau penyimpangan dalam internet.</p>
<p>Saat ini, sudah ada <i>Cyber Crime Unit </i>di kepolisian RI. Sayang saja, tugasnya belum begitu membumi di masyarakat. Sebab masyarakat internet RI saat ini memang butuh aksi mereka.</p>
<p><i><b>Caranya:</b></i><br />
Sisi <i>online</i>: <i>Cyber Crime Unit</i> itu bukan dewa. Mereka juga manusia biasa. Ada kelebihan maupun kekurangannya. Salah satu kekurangannya, adalah kekurangan tenaga. Maka itu, rekrutmenlah para orang-orang sakti di dunia maya (yang terkenal dengan nama; pencopot sendal) sebagai bala bantuan. Orang-orang sakti ini umumnya baik hati dan andal dalam memberi pertolongan.</p>
<p>Untuk sisi <i>offline</i>: Pergunakanlah blogger-blogger nan manis selebritis seperti Mbak Sarah, Mbak Dian Sastro, Mbak Maia, Mbak Wulan Guritno sebagai corong penyampai pesan untuk masyarakat awam. Agar warga menggunakan internet secara bijak.</p>
<p>Masyarakat senang, sebab yang menyampaikan cakep dan isi penyampaiannya pun berguna. Ini sebagai counter dari serangan sinetron, yang bintangnya cantik namun isinya ajaib. (*hehe, yang sinetron, &#8230;maap generalisir*)</p>
<p><b>7. Intensif pada investasi dan inovasi teknologi yang ramah pada rakyat dan lingkungan</b></p>
<p>Proyek pada inovasi teknologi itu penting sekali. Merangsang masyarakat menumbuh kembangkan <i>local genius</i>. Proses kepintaran yang tumbuh dari kebudayaan dan kebijaksanaan masyarakat lokal.</p>
<p>Teknologi yang ramah pada rakyat dan lingkungan artinya simpel. Yaitu teknologi praktis maupun jangka panjang. Yang hasilnya secara total mampu dinikmati oleh rakyat dan berguna buat lingkungan hidup.</p>
<p>Intensif pada proyek ini adalah bisa jadi kebijakan pengurangan pajak untuk memajukan dan mempercepat industri ini. Atau memberikan kemudahan fasilitas pendukung.</p>
<p>Hubungannya dengan internet adalah, bahwa projek ini terbuka buat publik. Open Source. Jadi publik bisa memiliki saham maupun mengembangkan proyek ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Contoh; proyek biofuel yang sedang booming. Dibuka saja rahasianya pembuatannya di internet. Dan buka juga pasarnya. Biarkan publik menyerap teknologi ini. Selama mereka juga mempublikasikan hasil pencapaian teknologi mereka di internet. Misalnya, melalui blog pribadi.</p>
<p><i><b>Caranya:</b></i><br />
Kalau ini, jelas bekerja sama dengan perbankan Indonesia dan orang pajak RI. Selain itu, bekerja sama dengan masing-masing pemerintah daerah, untuk menyediakan tata kota khusus, sebagai kawasan industri ini.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Ya sudah. Sekian dulu khayalan hari ini. Ternyata mengkhayal capek juga. Hehehe.</p>
<p>Anda mau ikut mengkhayal disini tidak apa-apa. Mau mengkhayal jadi ketua partai, boleh. Mau mengkhayal jadi Unit Cyber Crime di samping mbak Sarah atau Mbak Dian Sastro memberikan penyuluhan di kampung-kampung, yaa sah-sah saja. Mau mengkhayal partai ini bisa menang di pemilu, yaa silahkan.</p>
<p>Atau apabila anda punya partai dan lalu mau membuat agenda seperti ini, boleh sekali. Semuanya boleh.</p>
<p>Silahkan mengkhayal dan menceritakan khayalan anda. Tidak dilarang kok.</p>
<p>Asal jangan mengkhayal jorok. Dan menempatkan saya sebagai objek khayalan cabul anda. Hiii&#8230; takuut.</p>
<p>Hehehe.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=105&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/08/partai-internet-dan-khayalan-jorok/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sex, Drugs dan Raungan Musik Cadas</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/06/sex-drugs-dan-raungan-musik-cadas/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/06/sex-drugs-dan-raungan-musik-cadas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 12:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kontraversi]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Security]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Waktu kartunisasi tokoh agama dan film yang kemungkinan besar akan memicu umat beragama tertentu marah bereaksi, akan beredar, saya amat tertarik sekali.
Personifikasi tokoh suci serta visualisasi mereka (dan ajarannya) dalam film itu memang selalu menarik. Entah bagi yang percaya maupun tidak, selalu menarik.
Tapi percayalah, saya tidak akan membahas pro-kontra film atau visualisasi tokoh-tokoh suci. Jujur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu kartunisasi tokoh agama dan film yang kemungkinan besar akan memicu umat beragama tertentu marah bereaksi, akan beredar, saya amat tertarik sekali.</p>
<p>Personifikasi tokoh suci serta visualisasi mereka (dan ajarannya) dalam film itu memang selalu menarik. Entah bagi yang percaya maupun tidak, selalu menarik.</p>
<p>Tapi percayalah, saya tidak akan membahas pro-kontra film atau visualisasi tokoh-tokoh suci. Jujur saja saya tertarik memang membicarakannya. Sebagaimana setiap orang suka makan masakan hangat. Namun sayang sekali, saya paksa diri untuk tidak membicarakannya.</p>
<p><b>Kenapa?</b><span id="more-104"></span></p>
<p>Takut ahh. Jujur saja nih, ilmu saya sedikit. Kalau ilmu sedikit apa-apa serba tanggung. Serba salah. Mau bilang itu salah, bilang ini, juga salah. Makanya, sebelum bilang sesuatu, yaa membaca dulu. Ikhtiar dahulu. Agar salahnya tidak kebablasan di depan publik dunia maupun akhirat. Hehe.</p>
<p>Tadinya saya mau bilang pada publik, kalau situ tidak suka yaa jangan dipaksa.</p>
<p>Kalau tahu bahwa ada tulisan, gambaran atau film yang memicu konflik, yaa jangan ditonton. Kalau pun terpaksa harus melihat, yaa tahan emosinya. Kalau pun terpaksa harus emosi, keluarkanlah dengan cara yang baik, misalnya dengan nasihat. Nah kalau yang dinasihati tidak mau mendengar, yaa sabar, jangan pakai cara kekerasan.</p>
<p>Kita kan orangnya cinta damai, hehe. Kalau kata penikmat reggae, &#8220;<i>Peace man</i>&#8220;.</p>
<p>Karena kita cinta damai, tapi mau protes. Yaa pakai nasihat untuk protes. Maka itu kalaupun ternyata yang diberi nasihat tidak mau dengar, yaa boikot lah satu-satunya jalan bagi wong cilik macam kita untuk menasihati para penggede.</p>
<p>Bukankah Gandhi dapat meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Inggris di India dengan boikot melalui <i>Ahimsa</i>.</p>
<p>Tapi mau ngomong begitu, saya ndak berani yaa. Ilmu saya sedikit. Kalau ilmu sedikit, yaa sebaiknya mulut jangan sembarangan diumbar. Salah-salah, menjirat leher sendiri.</p>
<p>Daripada menghabiskan nyawa gara-gara lidah tidak terkontrol, lebih baik membahas yang lain saja. Dan karena saya memang akhir-akhir ini menyukai film, yaa bahas film saja.</p>
<p>Kali ini saya akan membahas film-film apa saja yang memvisualisasikan isme-isme dan mendapat sambutan hangat di masyarakat.</p>
<p>Apa saja film tersebut;<br />
<b><br />
1. The Ten Commandement</b></p>
<p>Ini film yang menceritakan kisah Moses (atau Nabi Musa, bagi beberapa orang di belahan dunia lainnya). Film ini diangkat dalam beberapa versi.</p>
<p>Versi kedua, versi yang paling banyak dianugrahi penghargaan Oscar. Yaitu<i> The Ten Commandments</i> yang dibuat tahun 1956. Dibintangi oleh aktor plontos Yul Brynner sebagai <i>Rameses</i> (alias Firaun, bagi beberapa orang di belahan dunia lainnya).</p>
<p>Versi pertamanya sendiri dibuat tahun 1923, dalam film bisu. Menarik sekali, membicarakan sepuluh perintah tuhan dalam kondisi gagu.</p>
<p>Versi selanjutnya, dirilis tahun enam tahun sesudah versi kedua keluar, di bioskop-bioskop Paris. Judulnya <i>Le Diable et les dix commandements</i>. Versi ini tidak terlalu bergaung di publik Hollywood. Tapi di Eropa, film ini boleh dikategorikan sebagai sukses luar biasa.</p>
<p>Filmnya sendiri &#8216;agak nakal&#8217;, menceritakan ketika setan menitis ke tubuh wanita seksi (dan lalu menggoda manusia agar melanggar sepuluh perintah tuhan, &#8230;eheemm).</p>
<p>Setelah itu, tidak ada lagi versi <i>The Ten Commandement</i> yang punya ingatan kuat di hadapan publik. Baik versi musikal tahun 2006 hingga parodi dan kartunnya pun, yang dibuat setahun sesudahnya, melempem seperti kerupuk kena air.</p>
<p>Nampaknya, publik bosan dengan Moses.</p>
<p><b>2. Jesus Christ Superstar</b></p>
<p>Versi dokumenter film ini, di buat pada tahun 1972, tidak terlalu hangat dibicarakan publik. Namun pada tahun 2000, versi film musikalnya mendapat sambutan luar biasa. Terutama yang di versi pertunjukan <i>live</i> musik opera.</p>
<p><i>Jesus Christ Superstar</i>, menceritakan kehidupan Jesus dalam sudut pandang Judas. Dimana Judas-nya sendiri (dalam lakon ini) adalah, seorang bintang <i>rock and roll</i>. Dan tentu saja kisah suci beserta tokoh-tokohnya ini bergelimang <i>sex</i>, <i>drugs</i> dan raungan musik cadas.</p>
<p>Versi musikalnya mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Benar-benar hangat. Sebab sebuah gedung pertunjukan di Broadway, Amerika Serikat, hampir diancam akan hangus oleh bom apabila terus melanjutkan pertunjukan musikal ini.</p>
<p>Di Eropa, pertunjukan ini (baik film maupun pentas panggung-nya) mendapat kritikan tajam dari beberapa pemeluk agama. Namun, suara mereka jelas kalah oleh arus demokrasi.</p>
<p>Menariknya, alih-alih melakukan aksi teror atau boikot, publik Eropa malah mendiamkan film dan aksi panggungnya. Secara bisik-bisik, para pemeluk agama menanamkan pada anak-anak kecil mereka bahwa film ini membosankan.</p>
<p>Hebatnya, aksi itu malah berhasil luar biasa. Film maupun teatrikal <i>Jesus Christ Superstar</i> sepi pengunjung. Tidak ada publikasi gratis. Orang-orang lebih suka menonton <i>Mamma Mia</i>, drama operet musikal yang didasari hits ABBA, grup musik jadul dari Swedia.</p>
<p>Versi Jesus dalam film, yang paling laku dijual pada publik adalah <i>The Passion of the Christ</i>. Disutradarai oleh aktor kondang Mel Gibson pada tahun 2004. Konon katanya, selain meraih banyak penghargaan, film ini meraup dollar yang tidak kalah sedikitnya dibanding pemeluk agama yang mempercayai kisah ini.</p>
<p>Kata produsernya, &#8220;Semakin banyak orang beragama, semakin untung kita&#8221;.</p>
<p><b>3. Lawrence of Arabia</b></p>
<p>Beberapa orang memilih film ini sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Film jaman dulu ini (dibuat tahun 1962 dan didasari kisah nyata), menceritakan seorang komandan Inggris yang ditugaskan kerajaannya untuk mengatasi konflik di Kairo pada tahun 1920-an.</p>
<p>Lawrence, si tentara Britania Raya ini disersi dari kesatuannya untuk membantu gerilya Arab. Pelariannya ini menimbulkan banyak pertanyaan, sebab ia sesunguhnya agen ganda yang disusupkan Inggris menumbangkan kesultanan Ottoman di Turki.</p>
<p>Yang menarik, bukan epos perjuangan dalam menumbangkan kekaisaran yang sudah ratusan tahun mengakar di jazirah Arab tersebut. Melainkan, proses dimana mereka sudah berhasil menumbangkan Ottoman. Yaitu, mereka menyadari, bahwa pemerintah baru, gerilyawan Arab, ternyata tidak dapat dipersatukan.</p>
<p>Agama dan persamaan hak yang mereka usung sebagai basis perjuangan, ternyata hanya slogan ketika telah mereka berkuasa. Kesukuan malah terlihat mengemuka.</p>
<p>Film ini manarik sekali. Sebuah perpaduan dan pertentangan antara nasionalisme, chauvinisme hingga agama tradisi yang dibalut keserakahan manusia.</p>
<p><b>4. Hotel Rwanda</b></p>
<p>Sebenarnya saya tidak tahu, apa yang harus saya pilih. Apakah <i>Hotel Rwanda</i> atau <i>Schindler List</i>. Dua-duanya sama (minimal buat saya). Menceritakan manusia yang merasa lebih tinggi daripada manusia lain. Lalu, berusaha mencelakakan manusia yang dianggap lebih rendah.</p>
<p><i>Hotel Rwanda</i>, bersetting di Rwanda, Afrika. Sementara <i>Schindler List</i>, bertempat di Polandia, Eropa Timur. Menceritakan sebuah kisah yang mirip sama. Dimana Paul Rusesabagina, seorang manajer hotel berbintang di Rwanda, melindungi para pengungsi Tutsi di hotelnya agar tidak dibantai milisi Hutu.</p>
<p>Sementara di belahan bumi lainnya, Oskar Schindler, membuat pabriknya sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Yahudi Polandia dari keganasan NAZI Jerman.</p>
<p>Persamaan antara Paul dan Oskar bukanlah pada sebelum kejadian mereka adalah pebisnis rakus yang bertobat, setelah melihat terlalu banyak korban manusia. Melainkan bahwa mereka, yang sungguh begitu berbeda, terperangkap dalam dunia yang sama. Dunia <i>isme</i> yang kemudian menjadi brutal dan begitu mengerikan untuk digambarkan.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Yaa maaf. Disudahi dulu cerita kali ini. Waktu menulisnya hampir habis.</p>
<p>Saya rajin menulis akhir-akhir ini bukan karena apa. Melainkan sebab makan siang yang sedikit. Dapat jatah makan siang satu jam. Sementara, lauk yang saya bawa dari rumah, hanya <i>lemper</i> dua bungkus.</p>
<p>Jadi perut yang keroncongan, dengan serta merta menghabiskan dua kepal gulungan nasi ketan itu. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya butuh lima menit. Tandas. Tak bersisa. Kecuali bungkusnya, tentu saja.</p>
<p>Sementara sisa 55 menit waktu sisa makan siang, mau saya apakan? Diskusi?</p>
<p>Bagaimana bisa diskusi, ketika teman-teman saya makan <i>sangu</i> dari rumah sungguh mantap menggiurkan selera. Tinggallah saya diskusi tidak memperhatikan topik. Melainkan sibuk mengawasi gerak mulut lawan diskusi saya mengunyah makanan yang sungguh terlihat lezat amboi tiada tara.</p>
<p>Malu <i>euy.</i></p>
<p>Maka itu, yaa waktu yang tersisa dipakai menulis iseng seperti ini. Dan ini pun maaf, bukan tulisan cerdas. Gimana mau cerdas, kalau tipikal anak Indonesia berotak rata-rata, macam-saya-ini, cuma dikasih nasi lemper dua kepalan tangan untuk makan siang?</p>
<p>Jadi, kalau anda suatu waktu menyadari bahwa saya jarang menulis. Itu tandanya makan siang saya sungguh enak dan mengenyangkan. Hehehe.</p>
<p>Kata teman diskusi saya, &#8220;Orang kenyang susah marah&#8221;.</p>
<p>Artinya apa? Entahlah.<br />
Dan hubungannya dengan film yang memicu kemarahan apa? Entahlah.<br />
Atau hubungannya dengan orang Indonesia apa? Entahlah.</p>
<p>Yang pasti, kalau anda lapar maupun tidak. Lauk makan siangnya enak maupun tidak. Silahkan komentar. Hehehe.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=104&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/06/sex-drugs-dan-raungan-musik-cadas/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aktor Cabul</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/04/aktor-cabul/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/04/aktor-cabul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 12:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.
Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan&#8230; E-eh, malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Entah kenapa, kalau sedang kerja di kantor kok yaa ide ngeblog itu banyak sekali. Aneh sekali. Sebab ketika sedang memfokuskan diri untuk menulis, otak ini buntu dan rasanya macet. Aneh. Seakan semua ide, data dan imajinasi menjadi musnah.</p>
<p>Bahaya loh itu. Saya kan digaji tidak untuk ngeblog. Kasian yang menggaji. Bukannya dapat hasil pekerjaan&#8230; E-eh, malah dapat tulisan. Lebih parah lagi, tulisan itu bukan untuk kepentingan yang menggaji, melainkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar blognya update. Hehe. Sungguh kurang ajar.</p>
<p>Tapi membiarkan ide terbuang begitu saja&#8230; Ahh, tidak tega.</p>
<p>Maka itu, saya selalu siap-siap. Jadi kalau ide, langsung dicoret-coret di tulis. Jangan sampai mengendap terlalu lama di otak. Sebab otak saya ini tipe kapasitas pas-pasan. Artinya tidak bodoh-bodoh amat dan juga tidak dapat dikategorikan cerdas.</p>
<p>Nah, namanya otak pas-pasan, yaa cepat lupa. Hehe. Maka itu perlu bantuan, dari Hamba Allah yang disebut pensil dan kertas.</p>
<p>Maka itu, mulailah saya mencorat-coret di kertas. Membuat sketsa tulisan. Ini hasil coretan iseng saya;<span id="more-103"></span></p>
<p>Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah review film Indonesia. Sebuah film yang diangkat dari buku yang laris manis terjual di pasaran. Bukunya sendiri saya belum baca. Tapi tidak apa-apa, toh saya tidak akan membahas bukunya. Saya akan membahas reviewnya.</p>
<p>Hehe, menarik bukan. Sebuah ulasan yang membahas ulasan. Seakan saya sudah terlalu kurang kerjaan. Untuk apa mengulas sebuah ulasan?</p>
<p>Begini ceritanya; Si pengulas mencoba membuat review mengenai sebuah film yang diangkat dari novel roman religius. Sang pengulas ini kecewa. Satu, karena filmnya tidak sesuai dengan buku. Dua, karena filmnya jauh dari yang ia bayangkan. Tiga, karena pemerannya tidak relijius.</p>
<p>Alasan pertama dan alasan kedua, saya dapat memahami. Mulai dari 1984 George Orwell yang diangkat ke layar lebar, lalu<i> Sin City</i> yang bahkan disutradarai oleh penulisnya Frank Miller hingga <i>The Kite Runner</i> karya Khalid Hosseini, buku maupun filmnya jauh sekali berbeda. Lebih bagus bukunya.</p>
<p>Tapi alasan ketiga, astaga!</p>
<p>Apakah sebuah film relijius menjadi buruk karena pemerannya tidak relijius?<br />
Atau sebaliknya, film non-relijius menjadi memuakkan karena aktornya rajin shalat atau tidak alpa ke gereja untuk misa atau beribadah macam lainnya (misalnya; rajin membakar kemenyan di pohon beringin)?</p>
<p>Mengapa saya tidak bisa memahami alasan ke-tiga. Mari saya perlihatkan dan bahas satu-satu. Tentu saja pakai kacamata dan pengetahuan saya pribadi. Jadi, amat subyektif sekali. Dan jelas amat terbatas, sebab ilmu yang saya miliki sungguh tidak mumpuni. (*selain itu, ini benar-benar sketsa iseng belaka loh. Jangan diambil hati*)</p>
<p><b>1. Pertanyaan</b></p>
<p>Pemeran dalam film, kalau laki-laki disebut aktor. Kalau perempuan, disebut aktris. Aktor maupun aktris berasal kata dari bahasa Yunani kuno, <i>hypokrites</i>. Dalam kata kerja berarti pula sebagai &#8216;Yang Menginterpretasikan&#8217;. Dalam bahasa Inggris, aktor dan aktris berasal dari kata <i>act</i>. Artinya tindakan atau pura-pura atau peranan atau tafsiran atau kesan.</p>
<p>Intinya, pemeran dalam film itu memang tugasnya untuk berperan. Ia dibayar untuk berpura-pura dengan sebaik-baiknya untuk menafsirkan peranan yang ia lakoni di depan panggung. Sehingga memberikan kesan pada penonton, sebagaimana yang penonton lihat. WYSIWYG (<i>What You See Is What You Get</i>). Meyakinkan penonton bahwa karakter yang ia mainkan adalah nyata.</p>
<p>Aktor/aktris yang baik adalah pelakon yang mampu memainkan perannya sama persis dengan karakter yang ia mainkan. Semakin baik ia berperan, semakin dikenal pula ia sebagai aktor atau aktris yang elok.</p>
<p>Dunia mengenal Anthony Hopkins, seorang aktor asal Inggris. Seorang pemeran watak karakter yang luar biasa. Saking luar biasanya ia dianugrahi gelar <i>Sir</i>, gelar-ksatria-Inggris, di depan namanya oleh Ratu Britania Raya. Ia dianugrahi gelar kebanggan rakyat Inggris tersebut, setelah membintangi film Hannibal. Sebuah film dimana Anthony Hopkins berperan sebagai Hannibal Lecter, seorang kanibal, manusia pemangsa manusia.</p>
<p>Ingat, Anthony Hopkins dianugrahi gelar ksatria bukan karena ia adalah seorang kanibal. Sebab ia aslinya adalah vegetaris, pemakan produk alam nabati. Ia dikaruniai berbagai penghargaan karena ia dapat berperan dengan baik sebagai seorang kanibal.</p>
<p>Jadi, kembali lagi ke pertanyaan, &#8220;Apakah pemeran film relijius harus relijius?&#8221;. Jawabannya dapat pula pertanyaan, &#8220;Apakah pemeran film kanibal harus seorang kanibal?&#8221;.</p>
<p>Atau, &#8220;Apakah aktor pemeran dukun cabul harus benar-benar cabul, doyan mengangkangi wanita-wanita setelah mengucap doa-doa?&#8221;</p>
<p><b>2. Jawaban</b></p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan dalam poin pertama, sungguh beragam. Tidak bisa hanya dengan jawaban &#8216;Ya&#8217; atau &#8216;Tidak&#8217;. Melainkan harus dicermati konteks yang ada di belakang pertanyaan tersebut.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Sebab aktor dan aktris dalam negara tertentu adalah profesi yang luar biasa. Kenyataan bahwa wajah mereka adalah konsumsi publik, adalah faktor yang membuat mereka menjadi sorotan masyarakat.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan sutradara dari Iran, Pak Jafar, di Festival Film Rotterdam.</p>
<p>Ia bilang begini, &#8220;Kamu tahu, di negara saya dan di beberapa negara jazirah Arab, ada masa dimana bintang film hanya boleh bermain dengan lawan mainnya yang bukan sejenis apabila mereka punya hubungan kekeluargaan&#8221;</p>
<p>Jadi, yang berperan sebagai suami bagi seorang aktris dalam film adalah suaminya sesungguhnya.</p>
<p>Saya ketawa. Lalu menjawab, &#8220;Enak dong kalo gitu. Walopun si suami nggak bisa akting, ia bakalan terkenal juga&#8221;.</p>
<p>Yang menarik adalah, tidak ada seorangpun yang ikut tertawa. Disamping saya, ada sutradara dari India. Seorang Ibu. Ia bilang, &#8220;Di negara kami, penonton kurang menyukai adegan ciuman yang dilakukan bukan oleh pasangan suami-istri yang sebenarnya&#8221;.</p>
<p>Saya kaget. India? Masa sih? Sebuah negara yang memproduksi film yang menjadi tontonan wajib di sebuah stasiun televisi pendidikan di Indonesia. Dimana punya produksi film terbesar kedua setelah Holywood. Adegan ciuman, saru? Hebat.<br />
(*Mohon teman-teman yang memahami peta Bollywood mengkonfirmasi yaa kalau beliau salah*)</p>
<p>Jadi, pertanyaan bahwa apakah kondisi sosial pemeran film itu amat berarti bagi produksi film? Jawabannya bisa &#8216;Ya&#8217; di negara tertentu.</p>
<p>Sekarang, balik lagi ke Indonesia. Dan kembali pula ke pertanyaan, &#8220;Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Atau sebaliknya?&#8221;</p>
<p>Wahh, saya pikir Indonesia punya kultur dan kearifan tersendiri yang sebenarnya sudah mampu menjawab itu semua. Sebuah budaya yang (katanya) bahkan mempunyai tradisi gemblak dalam reog Ponorogo,   aksi seni peran kegiatan tradisional masyarakat lokal.</p>
<p>Tapi kalau memang masih ada pertanyaan, Apakah pemeran film relijius harus dikenal sebagai orang baik-baik pula? Yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah, &#8220;Apakah pemeran Abu Lahab haruslah seorang yang dipanggil bajingan di lingkungan sekitarnya?&#8221; atau &#8220;Apakah pemeran Hanuman harusnya adalah aktor cerdas yang pernah dihantam Vajra dan lalu dikutuk menjadi kera?&#8221;</p>
<p>Ahh, kalau jawabnya hanya &#8216;Ya&#8217; lalu titik tanpa koma selesai begitu sahaja, berat sekali hidup seorang bintang film.</p>
<p><b>3. Ulasan</b></p>
<p>Diantara kita, banyak aktor/aktris, sutradara, <i>crew stage</i>, atau pekerja film lainnya. Profesi mereka amat menarik. Namun tidak bisa disangkal, bahwa para pemeran dalam film itu lah yang menjadi salah satu sorotan utama dalam masyarakat. Wajar. Sebab warga kenal wajah mereka. Itu saja alasannya.</p>
<p>Mereka menangis, ketawa, kentut, buka baju, gosok gigi&#8230; Semuanya kita tonton. Karena kita tonton, kita merasa mengenal beliau.</p>
<p>Alasan itulah yang kemudian menjadikan aktor, aktris, pemeran film, atau siapapun yang wajahnya ada di film atau televisi,  menjadi sebuah komoditas.</p>
<p>Ada komoditas yang berbentuk wawancara di majalah ibu-ibu. Ada yang berbentuk tayangan gosip <i>infoteinment</i>. Bahkan hingga sampul mengkilat sebuah produk sabun mandi yang (acapkali di lembaga pemasyarakatan) dipakai menjadi bahan masturbasi.</p>
<p>Lalu bagaimana kita melihat para aktris/aktor tersebut?</p>
<p>Sebagai komoditas?<br />
Sebagai cermin?<br />
Sebagai idola?<br />
Atau sebagai apa?</p>
<p>Sebab apabila kita menilai mereka &#8216;tidak pandai berpura-pura alim dan relijius&#8217;, apakah sesungguhnya kita yang tengah menilai, bahwa kitalah yang sedang menilai diri kita sendiri.</p>
<p>Atau ketika kita menilai bahwa aktor intelektual di tenda sirkus kabinet wakil rakyat semakin hari semakin memualkan, apakah sesungguhnya kita tengah menilai diri kita sendiri. Bahwa kita, sebuah bangsa yang terkenal &#8216;alim dan relijius&#8217;, tengah membiarkan kebodohan itu terjadi begitu saja.</p>
<p>Tapi&#8230; Ahh, sudahlah. Jangan diambil hati. Toh, ini hanya sketsa iseng belaka.</p>
<p>Jangan berat-berat mikirnya. Hidup di republik ini sudah susah. Jangan ditambah susah. Hidup sudah satir kok yaa ditambah dengan satir.</p>
<p>Lagipula, ini sekedar coretan iseng pengisi waktu luang di kala makan siang.</p>
<p>(*Karena hanya sketsa iseng, maka kali ini menerima komentar iseng pula. Hehehe*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=103&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/04/aktor-cabul/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewasa</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/02/cerita-dewasa/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/02/cerita-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 21:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI.  Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut &#8216;iuran&#8217; untuk ganti rugi  korban lumpur LAPINDO. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(*Maaf, karena kesibukan sok luar biasa. Sama sekali tidak dapat menjawab komentar. Ada kabar memilukan dari RI.  <a HREF="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/28/time/143111/idnews/901488/idkanal/10" TARGET="_blank">Bakrie Group maupun Lapindo Brantas Inc, tidak akan ikut &#8216;iuran&#8217; untuk ganti rugi  korban lumpur LAPINDO</a>. Semuanya akan menjadi tanggungan pemerintah. Hal ini ditegaskan oleh Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie Group sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. Artinya hanya satu: <a HREF="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/28/time/120100/idnews/901272/idkanal/10" TARGET="_blank">Rakyat Indonesia terus ditimpa kemalangan hutang</a>*)</p>
<p>Ini adalah cerita yang sedianya akan dipublikasikan melalui buku.  Namun karena entah kenapa, malam ini saya begitu sedih. Saya publikasikan tulisan ini pada publik sebelum waktunya. (Atau malah ini waktunya?)</p>
<p><span id="more-102"></span></p>
<p>(*Karena menyangkut tokoh publik, nama pelaku dan lokasi bukanlah nama sebenarnya*)</p>
<p>Suatu hari, saya diundang makan siang di sebuah restoran di pinggir Jakarta. Yang mengundang teman saya, si Beno, seorang pemimpin surat kabar harian di Ibukota.</p>
<p>Dengan hati-hati, saya tanya kenapa ia mengundang saya makan siang. Bukan karena apa-apa. Saya bertanya hanya karena rasa sok dalam hati ini, yang mau menjaga tubuh agar tidak kemasukan makanan ajaib.</p>
<p>Ia jawab, &#8220;Yang ngundang bukan gua. Itu undangan Mas Belok. Yang diundang itu para redaktur koran se-Jakarta&#8221;</p>
<p>Saya protes, &#8220;Gua kan bukan redaktur. Lagian ngapain juga Mas Belok ngundang kita semua?&#8221;</p>
<p>Si Beno menatap saya dengan pandangan heran. Lalu menjawab &#8220;Lo nggak baca koran apa? Mas Belok itu mau jadi gubernur, men&#8221;</p>
<p>Kali ini saya yang heran. Gantian. Apa hubungannya saya dengan makan siang para bos-bos media dengan calon gubernur? Saya pribadi mengenal Mas Belok. Tapi hanya sekedar kenal. Lebih dari itu, tidak. Entah kenapa? Yang pasti, setiap bertemu, kami tidak pernah bicara satu sama lain lebih lama dari lima menit.</p>
<p>Maka itu, saya tidak mengerti. Kenapa saya diundang?</p>
<p>Sebenarnya saya pribadi enggan datang ke perjamuan antara tokoh terkenal dengan tokoh terkenal lainnya. Sebab berdasarkan pengalaman, apabila tokoh terkenal bertemu dengan tokoh terkenal lainnya, yang dikejar umumnya hanyalah publisitas belaka. Jarang yang bertemu untuk bicara kemajuan signifikan untuk rakyat.</p>
<p>Saya pribadi tidak anti publikasi. Kalau anti, buat apa saya menulis ini? Hehe.</p>
<p>Namun berdasarkan pengalaman pribadi yang sungguh tidak banyak ini, umumnya tokoh rakyat bertemu apabila media meliput. Si tokoh gembira, namanya disebut-sebut media. Semakin terkenal lah dia. Dan si peliput pun gembira, ada bahan setoran ke pimpinan. Yang artinya, dapurnya masih bisa ngebul bulan depan.</p>
<p>Maka itu, apabila ada rakyat kategori wong cilik bin susah macam saya ini diundang, kan sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar.</p>
<p>Sebab rakyat itu umumnya kan tidak diundang acara makan-makan. Rakyat itu ada, umumnya hanya untuk menjadi pendengar setia penguasa. Untuk mendengar bahwa utang negara semakin membengkak. Bahwa korupsi semakin mengganas. Bahwa narkoba semakin menggila. Bahwa&#8230; blablabla lainnya.</p>
<p>Maka itu&#8230; &#8216;Kenapa Mas Belok mengundang saya?&#8217;, adalah sebuah alasan yang cukup bagus menghadiri jamuan makan siang antara bos-bos media dengan calon gubernur itu.</p>
<p>Dan akhirnya, pada sebuah siang. Saya mampir ke rumahnya Beno. Diiringi lambaian tangan istrinya di pintu gerbang, kami melaju ke sebuah restoran di pinggir Jakarta. Memenuhi undangan Mas Belok.</p>
<p>Disana, sudah banyak orang-orang. Saya pikir ini semacam jumpa pers rupanya.</p>
<p>Saya duduk, memilih meja yang kebetulan ada orang-orang yang saya kenal. Di meja itu, hampir semuanya sudah saya kenal. Kecuali satu orang wanita cantik, yang kebetulan duduk di samping Beno. Wawan, sahabat karib Beno, mengenalkan saya pada wanita itu. Namanya Sasha.</p>
<p>Sasha itu ternyata adalah <i>host</i> acara<i> talk show</i> di sebuah stasiun televisi swasta. Ia terkenal rupanya. Pantas orang-orang tertawa ketika saya berkenalan dengan Sasha, raut muka saya yang tidak berubah. Maklum saya orang kampung. Jarang nonton tipi. Tidak paham selebriti.</p>
<p>Ketika sedang asyik bicara dengan Beno, Wawan, Sasha dan rekan semeja, tiba-tiba Mas Belok datang. Hari itu, ia kelihatan gagah. Pakai beskap pakaian tradisional. Ada rantai emas jam bandul terlihat di saku pakaiannya.</p>
<p>Mas Belok (<strong>MB</strong>): &#8220;Huahahaha&#8230; Apakabar teman-teman semua&#8221;<br />
Wawan (<strong>Waw</strong>): &#8220;Sehat-sehat Mas. Kabarnya ini makan siang suksesi pemilihan bakal calon gubernur mendatang, Mas Belok&#8221;<br />
<strong>MB</strong>: &#8220;Huahahaha&#8230; Ndak ahh, ini untuk menjalin keakraban kita-kita saja&#8221;<br />
Beno (<strong>No</strong>): &#8220;Omong-omong pake delman apa Mas buat maju nanti?&#8221;</p>
<p>Saya melirik Sasha. Bertanya, apa maksudnya Si Beno pake delman-delman segala? Sambil senyum, Sasha berbisik. Delman itu maksudnya partai. Untuk maju sebagai gubernur, seorang calon harus pakai partai. Pada prakteknya, partai sendiri lebih sering bertindak sebagai makelar. Gampangnya, si Gubernur menyediakan uang, si Partai menyediakan massa.</p>
<p>Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Sasha. Dan tidak lama kemudian kembali menatap Mas Belok yang ketawa menggelegar setiap ingin memulai pembicaraan. Seakan tenggorokannya dipasangi susuk, yang membuatnya kelihatan seperti orang yang setiap bicara semua orang harus mendengar.</p>
<p>Kali ini, ketawa Mas Belok semakin menggila. Semua orang di ruangan menoleh pada meja kami.</p>
<p><strong>MB</strong>: &#8220;HWAKHAKHAK&#8230; No, aku sudah keliling<a HREF="http://id.wikipedia.org/wiki/Tapal_Kuda" TARGET="_blank"> daerah tapal kuda</a>. Kiai-kiai tujuh langit tujuh samudra sudah aku hubungi. Semuanya merestui aku maju. HWAKHAKHAK&#8230; Partai Susu Binal dan Partai Jenggot Bahagia minggu depan akan membuat pernyataan resmi dukungannya padaku&#8221;<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>No</strong>: &#8220;Kalau Mas Belok akhirnya jadi gubernur. Gimana kasus Lapindo, Mas. Kan nanti ada di bawah kekuasaan si Mas&#8221;</p>
<p>Mas Belok tiba-tiba matanya berubah menjadi beringas. Ia menggebrak meja. Tamu-tamu lain diam dan terus menatap kami. Dengan tangan kanan, Mas Belok mengacungkan jari telunjuk dan jempol. Membentuk pistol imajiner. Nada suaranya berubah, jadi serak mirip vokalis band rock JAMRUD.</p>
<p><strong>MB</strong>: &#8220;Kalian tahu. Kalau aku jadi Gubernur, aku seret bosnya Lapindo ke kantorku. Aku suruh jancok itu tanggung jawab. Kalau dia ndak mau. Aku DORR jidatnya! Kalau kalian mau, masukin berita. Aku ndak takut!&#8221;<br />
(*<i>jancok</i> = makian dalam bahasa Mas Belok*)</p>
<p>Mas Belok lalu berlalu dari meja kami. Saya, Beno, Wawan, Sasha dan semua rekan semeja saling tatap menatap. Kami bercakap-cakap sambil berbisik-bisik.</p>
<p><strong>Saya</strong>: &#8220;Berapa besar peluang dia menang?&#8221;<br />
<strong>Waw</strong>: &#8220;Nggak mungkin orang kayak begitu menang&#8221;<br />
<strong>Saya</strong>: &#8220;kenapa?&#8221;<br />
<strong>No</strong>: &#8220;Rip&#8230; Lo tuh layak orang susah aja. Dewasa dong! Jaman gini masih nggak ngerti urusan politik. Mana bisa orang kayak gitu menang. Jangankan ngurusin rakyat, ngurusin emosinya aja nggak bisa&#8221;<br />
<strong>Saya</strong>: &#8220;Oohhh&#8221;<br />
<strong>No</strong>: &#8220;Rip, andaipun ada yang kepilih, bukan yang mao matiin bosnya lapindo. Tapi yang kepilih, pasti yang dukung bosnya lapindo lah. Lo belajar dewasa dikit dong, men&#8221;</p>
<p>Saya diam. Bingung mau bicara apa. Siang ini, dunia orang dewasa ternyata begitu rumit.</p>
<p>Melihat Mas Belok keluar dari toilet, saya lalu bangkit. Saya mau &#8216;berterimakasih&#8217; karena diundang makan siang. Ya, terimakasihnya pakai tanda kutip. Sebab intinya, saya sebenarnya mau bertanya, mengapa saya diundang. Saya sudah senyam-senyum mau menyapa Mas Belok.</p>
<p>Sebelum saya bertanya, Mas Belok menatap dengan penuh selidik, &#8220;Loh rif, kamu sekarang di media? Tadi waktu di meja kalian, saya mau tanya. Tapi saya sudah emosi duluan sih&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak mas, saya ndak kerja di media&#8221;</p>
<p>Mas Belok makin menatap penuh selidik, &#8220;Loh kalau begitu, kamu bisa sampai disini gimana ceritanya?&#8221;</p>
<p>JGERRR!! Sepertinya ketiban bom saya terpaku saat itu. Kaget luar biasa saya. Sebab ternyata saya tidak ada dalam list undangan. Dan dengan sisa keberanian yang sudah hancur berkeping-keping ditiban malu, saya berkata, &#8220;Sepertinya saya salah faham, Mas. Jadi bisa sampai disini. Maaf yaa&#8221;</p>
<p>Mas Belok senyum, &#8220;Nggak apa-apa. Tapi enak kan makanan di restoran saya ini?&#8221;</p>
<p>Saya senyum mengangguk. Mas Belok lalu mengeluarkan dompet. Memberi selembar uang sepuluh ribu. &#8220;Ini untuk ongkos pulang. Sudaah diterima saja. Saya ikhlas kok&#8221;</p>
<p>Saya bengong luar biasa.</p>
<p>Mas Belok menjabat tangan saya. Tangannya masih basah. Baru saja keluar dari toilet. (OUCH). Lalu pergi masuk lagi ke dalam ruangan. Menebar senyum pada khalayak.</p>
<p>Saya dengan wajah merah menahan marah, menuju Beno yang pada saat itu sedang ada di parkiran.</p>
<p>Baru saja hendak melabrak Beno dengan sejuta kalimat makian bagai topan badai. Beno memberikan saya telpon genggamnya. Saya kaget. Apa-apaan ini? Beno berbisik di telinga saya, &#8220;Rip, kalo istri gue telpon. Bilang aja, gue lagi wawancara Mas Belok. Ga bisa diganggu. Gue ga lama kok. Paling dua jam. Thanks man!&#8221;</p>
<p>Ia memberikan rokok sebungkus. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Saya lirik, di kursi samping ada Sasha.</p>
<p>Mereka berdua, meninggalkan saya sendirian di tempat parkir. Entah mereka pergi kemana. Apapun dapat terjadi dalam dua jam berikutnya.</p>
<p>Dan saya pun semakin termangu-mangu dalam dunia orang dewasa dengan cerita-cerita dewasa mereka.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=102&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/03/02/cerita-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Gatal</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/26/perempuan-gatal/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/26/perempuan-gatal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 16:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Gatal berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Dalam Jaringan amat menarik sekali artinya.
Gatal, menurut kamus itu adalah:
1. Berasa sangat geli yg merangsang pada kulit tubuh.
Contoh kalimat: Kepalaku gatal benar karena banyak ketombe.
2. Mendatangkan perasaan gatal.
Contoh kalimat: Ulat bulu itu gatal bila disentuh.
3. Suka atau ingin bersetubuh (terutama perempuan).
Contoh kalimat: Ia dicaci maki, dikatakan perempuan gatal.
4. Ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gatal berdasarkan <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank">Kamus Umum Bahasa Indonesia Dalam Jaringan</a> amat menarik sekali artinya.</p>
<p>Gatal, menurut kamus itu adalah:</p>
<p><b>1. Berasa sangat geli yg merangsang pada kulit tubuh</b>.<br />
Contoh kalimat: Kepalaku gatal benar karena banyak ketombe.</p>
<p><b>2. Mendatangkan perasaan gatal.</b><br />
Contoh kalimat: Ulat bulu itu gatal bila disentuh.</p>
<p><b>3. Suka atau ingin bersetubuh (terutama perempuan).</b><br />
Contoh kalimat: Ia dicaci maki, dikatakan perempuan gatal.</p>
<p><b>4. Ingin sekali hendak berbuat sesuatu (memukul dan sebagainya)</b>.<br />
Contoh kalimat: Tangannya gatal, hendak meninju kawannya.</p>
<p>Entah kenapa saya tiba-tiba tangan saya gatal lalu menulis gatal dalam mesin pencari di internet. Entahlah. Padahal saya sedang mencari data mengenai peta perpolitikan RI di mata blogger Indonesia.</p>
<p>Loh kenapa? Apa pasalnya saya mencari blogger yang paham politik? Apa hubungannya dengan gatal? Jangan-jangan saya masuk dalam kategori blogger gatal?<br />
<span id="more-101"></span><br />
Simpel saja jawabnya. Sebentar lagi pemilu. Saya butuh mereka. Butuh orang yang mumpuni. Punya ilmu terawangan dan kanuragan. Ahli dibidangnya. Saya butuh blogger yang mengerti politik. Dalam artian, mengerti topik pemilihan umum dan calon-calon pemimpin negara yang akan muncul nanti.</p>
<p>Saya butuh blogger yang ahli politik. Agar dapat membaca nujum beliau mengenai pemimpin apa yang layak dipilih. Agar tidak sembarang pilih. Salah pilih, bubar berantakan republik yang saya cintai ini.</p>
<p>Dan selayaknya blogger lainnya, ia bebas merdeka. Tidak di ikat jargon-jargon partai. Tidak dicucuk hidungnya oleh janji-janji manis surgawi bakal calon pemimpin.</p>
<p>Saya hanya mencari blogger yang paham politik. Ingat, saya tidak mencari blogger yang berpolitik. Yang ketika berseteru dengan orang yang tidak disukainya, langsung menggalang petisi anti. Saya tidak anti blogger yang berpolitik. Itu urusan mereka. Urusan saya, hanya satu, mencari blogger yang menulis blog politik Indonesia.</p>
<p>Adakah blogger itu?</p>
<p>Setelah lihat-lihat kiri kanan. Tengak-tengok atas bawah. Sedikit loncat-loncat mengintip lewat pagar tetangga. Saya hanya menemukan beberapa blog saja. Itu pun tidak mengkhususkan diri pada politik. Andai bicara politik, maka konteksnya biasanya seputar berita terkini seperti <a href="http://www.perspektif.net/" target="_blank">blog Bung Wimar Witoelar</a>.</p>
<p>Selain itu, peta perpolitikan Indonesia, andaipun ada, maka isinya berisikan informasi partai-partai di Indonesia. Seperti <a href="http://www.partai.info/" target="_blank">partai dot info</a>.</p>
<p>Dulu, ada <a href="http://pemilu2004.goblogmedia.com/" target="_blank">blog pemilu 2004</a>. Pembuatnya Enda Nasution, kalau tidak salah (kalau salah, maaf, hehe). Tagnya &#8220;Yang Kita Tahu, Kita Lihat dan Kita Rasa. Di-update (hampir) Setiap Hari&#8221;.  Dan hebatnya, walaupun pemilu 2004 sudah habis, masih saja di-update. Update terakhir adalah 7 Maret 2005. Isunya, meminta penghapusan fiskal.</p>
<p>Sayang sekali, blog tersebut mati suri. Padahal hasil pemilu bukanlah hanya foto seorang presiden dan kumis wakilnya yang kita pajang pada pigura lalu ditempelkan di kantor kelurahan. Melainkan adalah hasil jangka waktu rentang lima tahun para pemegang tampuk jabatan.</p>
<p>Pemilu 2004 telah habis. Yang tersisa hanyalah celana pendek anak-anak yang dijahit dari bendera partai. Lalu, kemana  janji-janji perbaikan bangsa yang bagaikan derasnya hujan bulan desember? Apakah begitu saja menghilang di udara?</p>
<p>Maka itu, saya butuh blog yang mengerti politik di Indonesia. Yang netral. Yang punya jiwa untuk memberi informasi bagi kemaslahatan warga RI. Agar nanti, pada pemilihan umum 2009, tidak salah pilih dan sial-sial hanya dapat kotoran kucing dalam karung saja.</p>
<p>Yang jadi masalah. Siapa yang mau menulis khusus mengenai politik RI?</p>
<p>Sejak masa Kartanegara, politik negeri ini begitu tragis. Andaikata pendapat ini dibilang hiperbolis, tentu saja tidak ada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Blitar" target="_blank">legenda Empu Bharada</a> yang menuang air kendi dari angkasa hingga membentuk sungai untuk membelah pulau Jawa, agar tidak terjadi perang saudara. Andaipun masih dibilang hiperbolis, tentu saja pada tahun 1966 sungai di Madiun tidak berubah menjadi merah diganti darah.</p>
<p>Maka, menulis peta perpolitikan negeri ini, ibarat mencatat tangis anak bangsa. Yang setiap hari dibohongi dan dihujani mimpi oleh para penguasa.</p>
<p>Yang jadi masalah, tetap saja, siapa yang mau menuliskan blog khusus politik RI? Siapa yang mau mencatat semua janji dan lalu mengingatkan para pemberi janji agar menepati hutang-hutang janji mereka? Blogger? Pewarta media konvensional? Pengurus partai? Atau boleh siapa saja?</p>
<p>Ahh saya terlalu banyak bertanya.</p>
<p>Nampaknya, saya harus menambah perbendaharaan contoh kalimat kata &#8216;gatal&#8217; dalam kamus bahasa saya pribadi. Diantara lain adalah: &#8220;Blogger gatal adalah blogger yang karena papan ketiknya gatal, ia memijit-mijit tombol yang lalu membuat blognya gatal, tulisannya gatal&#8221;</p>
<p>Hehehe.</p>
<p>*Oh ya, satu lagi&#8230; Kenapa yaa &#8216;gatal&#8217; dalam melakukan persetubuhan lebih sering ditujukan pada perempuan?*</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifkurniawan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifkurniawan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifkurniawan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifkurniawan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifkurniawan.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifkurniawan.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifkurniawan.wordpress.com&blog=608685&post=101&subd=arifkurniawan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/26/perempuan-gatal/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/arifkurniawan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangaiptop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lapar</title>
		<link>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/25/100/</link>
		<comments>http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/25/100/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 23:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaiptop</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Security]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifkurniawan.wordpress.com/2008/02/25/100/</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua tipikal orang Cilincing. Itu kata si Gugun, adek saya.
1. Orang Cilincing umum.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian orang-orang berkumpul, lalu ikut gabung dalam keramaian itu. Tidak mau tahu, itu acara kedukaan, kegembiraan, kesakitan. Pokoknya, kalau ada keramaian&#8230; Hanya satu kata: Ikuuut!
2. Orang Cilincing yang kelaparan.
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian, lalu bertanya, &#8220;Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada dua tipikal orang Cilincing. Itu kata si Gugun, adek saya.</p>
<p><strong>1. Orang Cilincing umum.</strong><br />
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian orang-orang berkumpul, lalu ikut gabung dalam keramaian itu. Tidak mau tahu, itu acara kedukaan, kegembiraan, kesakitan. Pokoknya, kalau ada keramaian&#8230; Hanya satu kata: Ikuuut!</p>
<p><strong>2. Orang Cilincing yang kelaparan.</strong><br />
Yaitu orang Cilincing yang melihat keramaian, lalu bertanya, &#8220;Ada makanan disini?&#8221;. Kalau ada, ia ikut bergabung. Kalau tidak ada, ia meloyor pergi.<span id="more-100"></span></p>
<p>Saya cengar-cengir mendengarnya. Sebab si Gugun ini belajar tekhnik. Maka klasifikasi manusia pun sering ia golongkan berdasarkan fungsional saja. Memangnya manusia itu mesin? Hehe.</p>
<p>Sebagai anak Cilincing aseli, saya mau mendebat lebih jauh. Memaparkan teori-teori mulai dari evolusi manusia ala Charles Darwin hingga manusia masa depan ala <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Alvin_Toffler" TARGET="_blank" TITLE="Siapa itu Alvin Toffler?">Alvin Toffler</a>. Melemparkan wacana, bahwa manusia, terutama manusia Cilincing itu tidak se-oportunis yang ia kira.</p>
<p>Sialnya, si Gugun sudah pergi. Hari menjelang magrib. Ibu menyuruhnya ke Pasar Jongkok. Sebuah pasar di dekat rumah. Untuk membeli timun suri untuk berbuka puasa.</p>
<p>Tidak lama kemudian. Saya lupakan rencana debat. Perut saya kekenyangan akibat buka puasa. Hehe.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian (dan saya sudah lupa perdebatan dengan Gugun), pulang dari kantor saya lihat ada orang-orang berkerumun di sebuah kafe.</p>
<p>Insting Cilincing saya menuntun masuk. (*cerita berikutnya, akan membuktikan, saya tipe manusia Cilincing macam apa*)</p>
<p>Ada laki-laki berkulit hitam di tengah kafe. Di depan bar. Berdiri. Bercerita pada publik yang duduk disekelilingnya. Pakaiannya rapi. Jas hitam dengan celana jeans.</p>
<p>Ia bercerita dengan bahasa Inggris. Kelihatannya, ia orang Amerika. Gaya bahasanya seperti gaya bahasa <a TARGET="_blank" HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ghetto"><i>ghetto</i></a> kota besar amerika. Penuh dengan intonasi penekanan pada huruf vokal.</p>
<p>Jas saya gantung di <i>coat hanger</i>.</p>
<p>Saya menuju bagian kiri cafe. Plarak-plirik, ada makanan atau tidak. Dan nampaknya, tidak ada orang yang memperhatikan saya. Hmhh, menyadari tidak ada makanan, saya ke bagian kanan kafe. Tidak ada juga. Payah. Acara apa ini?</p>
<p>Saya tanya ke seorang bapak botak yang berdiri di dekat pintu, &#8220;Ada makan-makannya?&#8221;</p>
<p>Si bapak melotot. Lalu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Ssst! Dan dengan jari yang sama, ia menunjuk ke poster besar di samping pintu. Wah, ada anak muda amerika itu di poster. Sedang tersenyum. Dibawahnya, ada tulisan &#8216;<a HREF="http://www.alongwaygone.com/" TARGET="_blank">A Long Way Gone</a>&#8216;. Sebuah foto buku dan tulisan Ishmael Beah.</p>
<p>Ooh, itu <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ishmael_Beah" TARGET="_blank">Ishmael Beah</a>. Sang penulis buku. Ia di klaim sebuah media di Australia, sebagai <a HREF="http://www.theaustralian.news.com.au/story/0,25197,23074110-32682,00.html" TARGET="_blank">anak yatim piatu paling beruntung di dunia</a>.</p>
<p><strong>Kenapa?</strong></p>
<p>Sebelum Juli 1993 Ishmael Beah hanyalah seorang bocah ingusan biasa di sebuah desa di <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Sierra_Leone" TARGET="_blank">Sierra Leone</a>. Sebuah negara di Afrika Barat. Pada suatu pagi, perang sipil yang melanda negerinya sejak 1991 membawanya dalam sebuah petualangan baru. Ia di culik oleh gerilyawan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Revolutionary_United_Front" TARGET="_blank">RUF (Revolutionary United Front)</a>  dan dijadikan tentara anak dibawah kendali pemerintah.</p>
<p>Ishmael, pada usia 13 tahun, dilatih menjadi mesin pembunuh mematikan. Dicekoki alkohol oleh komandan regunya agar berani dalam setiap pertempuran. Otak kanak-kanaknya ditransplantasi chip bengis hingga mencandu &#8216;<i>brown-brown&#8217;</i>, gabungan antara <a HREF="http://id.wikipedia.org/wiki/Kokain" TARGET="_blank"><i>cocain</i></a> dengan bubuk mesiu peluru yang dihisap melalui hidung.</p>
<p>Ishmael kecil, beserta prajurit anak-anak lainnya tumbuh menjadi monster. Membunuh tanpa takut. Menjarah dan membakar desa-desa. Menjaga <a HREF="htt