Desember 2006


(Catatan ini sebenarnya untuk saya pribadi -atau bisa juga untuk dibagi-. Agar mencoba untuk selalu menulis dengan hati)

Saya ini anak bawang dalam dunia persilatan Blog. Saya ndak tahu apa itu Blog Seleb, Gerakan Jangan Komen di Blog Seleb, Komunitas Gajah-gajahan atau Komunitas Masak-masakan hingga ketika pertengahan bulan Desember, pada saat saya menemukan wordpress.

Bagi saya, Blog itu banyak artinya. Bisa jadi curahan hati, sarana berbagi ilmu, membudayakan sebuah gerakan atau sekedar bercerita mengenai pengalaman. Namun yang pasti, Blog adalah Blog, untuk dibaca dan untuk ditulis.

Membaca, bagi saya bukan hanya sekedar hobi, melainkan juga sebuah kewajiban religi. Toh, kepercayaan yang saya anut mewajibkan saya untuk membaca. Maka itu, saya membaca, termasuk membaca blog, saya anggap adalah salah satu bagian dari ibadah saya.

Sementara menulis, bagi yang sudah bisa belajar menulis, bukanlah sebuah pekerjaan yang sulit. Hal yang sulit dari menulis adalah; Apa yang akan ditulis? Bagaimana penyampaian tulisannya? Bagaimana agar pembaca tulisan mengerti apa yang akan disampaikan? Hingga yang paling sulit adalah, menebak, bagaimana reaksi pembaca tulisan.

Para penulis yang mampu menebak reaksi pembaca tulisannya itu tidak banyak. Mereka biasanya terkenal karena tulisannya. Entah dipuja… Entah dicerca… Yang pasti, banyak yang membicarakannya. Stephen King, Salman Rushdie hingga (alm) Pramudya AnantaToer termasuk diantara golongan manusia yang mempunyai bakat tersebut.

Menurut saya yang amat subjektif ini, menyalin itu beda dengan menulis. Menyalin adalah tindakan yang dilakukan dengan cara menggandakan tulisan/karya orang lain. Apabila dilakukan dengan memberitahu sumbernya, ia disebut penyebar. Namun apabila tidak memberikan sumbernya, si penyebar disebut juga plagiator atau penjiplak.

Akhir-akhir ini (*atau mungkin sudah lama yaa? Saya saja yang sudah basbang kali, hehe*) , banyak sekali pertentangan-pertentangan yang terjadi di dunia Blog. Ahh, ndak apa-apalah. Hidup jadi lebih berwarna. Dunia Blog jadi seperti pelangi. Indah.

Namun, untuk beberapa penulis Blog, tampaknya lupa. Bahwa yang membaca tulisanya adalah dunia. Dan dunia akan menilai, sebermutu apakah tulisan dan isi hati si penulis blog. Dunia melihat, siapa itu Mas Faiz, Harry Sufehmi, Enda, Luigi Pralangga, Paman Tyo dan Ndobos dan para penulis Blog yang terkenal lainnya. Dunia melihat, arsip-arsip menggunung setiap bulan di Blog mereka, adalah karya yang luar biasa. Duh Gusti, rajin sekali mereka menulis dan pandai sekali mereka merangkai kata-kata.
Lebih jujur lagi, saya menulis ini dengan jujur, tanpa niatan kissin ’em ass.
(*Walaupun tulisannya bagus dan bermutu, saya tidak mau mengkultuskan Priyadi. Saya khawatir apabila Mas Pri kawin lagi, saya ikut-ikutan komen di infoteinment. Atau malah, bikin halaman khusus buat beliau, judulnya “Priyadi Poligami?”, hehehe*)

Setiap manusia punya warna. Saya amat percaya hal itu. Maka itu, ketika dua orang anak kembar yang sama-sama ke dunia fantasi, lalu disuruh nulis pengalaman jalan-jalannya di Blog, pasti akan menulis hal yang berbeda. Itu kalau menulis jujur…, kalau mencontek, lain lagi ceritanya.

Menulis dengan hati… Apa sih susahnya?
Kadang-kadang memang susah, apalagi kalau hati penulisnya jahat.
(*Tapi kalau hati penulisnya jahat, ia bakal berbuat jahat juga dong? Orang jahat masuk penjara tau… Udah gitu, masuk neraka pula! Maka itu ati-ati kalau mau jadi orang jahat yang memulai karir sebagai penulis jahat*)

Menulis dengan hati…, sama seperti bicara dengan orang yang kita cintai… Apa adanya… Jujur dan tidak terpaksa.

Menulis Blog dengan hati.

Menulis komen dengan hati.

Ahhh…, indahnya dunia Blog ini.

Saya ini orang Betawi. Kakek nenek saya orang Betawi. Bapak ibu saya orang Betawi. Katanya (alm) Pak Uka, secara otomatis, saya dan adik-adik saya juga orang Betawi.

Sebagaimana orang Betawi normal lainnya, kami mempunyai motto, tiada hari tanpa ketawa dan tiada hari tanpa ceng-cengan (baca: saling ledek bergurau) lalu saling mentertawakan gurauan itu. Beberapa orang Betawi yang tidak normal tampaknya tidak mempunyai motto yang sama. Terbukti dengan banyaknya keluhan warga terhadap mereka.

Dulu, ketika masih sekolah, saya sering nge-cengin adik saya, Fahmi, dengan kalimat, “Dasar lo anak bulaksumur, sekolah kagak punya pager. Mentang-mentang makanannya nasi kucing, begitu lulus, ngelamar kerja, kalo minta gaji, pasti dah standar UMR”. Adik saya membalas dengan santainya “Daripada lo anak Depok, sekolah ORBA. Begitu lulus, jual nama doang. Mendingan tukang sablon, jual kartu nama dapet duit”.

*Maap buat yang tersinggung, ceng-cengan kami memang geblek…, hehehe…*

——————————————————–

Dalam dunia disain underground (ceille, kesannya saya anak underground gitu. Padahal mah bukan euy!) dikenal istilah ‘Harga Jogja’. Ini sudah menjadi rahasia umum sebenarnya, namun beberapa pihak enggan saja mengakuinya. Harga Jogja adalah harga dibawah rata-rata. Sesuai dengan namanya, harga ini memang berawal dari Jogja.

Harga Jogja berawal dari outsourcing yang dilakukan beberapa freelancer maupun profesional. Contohnya begini; A adalah sebuah perusahaan yang meminta dan membayar Rp 1000 kepada B sebagai disainer, untuk membuatkan web perusahaan mereka dalam waktu 3 hari. Saat itu B sedang banyak kerjaan/sedang malas/sedang sibuk pacaran/merasa uangnya terlalu sedikit atau sedang melakukan hal yang lain yang membuat ia tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. Lalu ia memberikan pekerjaan itu kepada C. Nah, si C ini, tinggalnya di Jogja.

Ada yang salah?

Tidak, sama sekali tidak ada yang salah dalam cerita diatas.

Namun salah ketika:

  1. A membayar B sebanyak Rp 1000, lalu B membayar C sebanyak Rp 100. Sementara ongkos produksi adalah Rp 90. B salah, karena tidak memperhitungkan aspek manusia yang mengerjakan produksi, yaitu si C.
  2. A sudah mengetahui, bahwa dengan Rp 1000, disain tidak akan selesai dalam waktu 3 hari. Namun ngotot, memaksakan kehendak. Dalam kasus ini A salah, karena ia tahu, harga berbanding setara dengan kualitas.
  3. C mengetahui, bahwa Rp 90 tidak cukup untuk biaya produksi. Dan Rp 10 tidak cukup mbayar gaji karyawannya. Namun karena prinsipnya ‘biar dikit asal selamat, lama-lama toh akan menjadi bukit’ ia tetap mengerjakan hal tersebut. C menjadi salah, karena ia membudayakan etos tidak menghargai karyawan dan dirinya sendiri.

Harga Jogja, tidak mempermasalahkan tiga kriteria kesalahan (menurut saya, amat subjektif) diatas. Hasilnya adalah, berbondong-bondong penerbitan/advertising lari ke Jogja. Bahkan hingga ada pameo “terbitin saja di Jogja, pasti bisa!”. Kultur Jogja memang amat mendukung budaya, kreatifitas dan ilmu pengetahuan berkembang subur. Wong, anak mahasiswa kebanyakan ada disini.

(Sialnya, selain kultur tersebut, ada pula aspek kemiskinan (campur iseng) pula yang begitu permisif terhadap script kiddies, carder dan para black hat lainnya. Contoh kasus: beberapa tahun lalu, TemplateMonsterDotCom kebakaran jenggot habis-habisan, pasalnya beberapa disain template mereka dijual oleh beberapa situs yang setelah di track berasal dari Jogja. Ternyata usut punya usut, template tersebut dibeli oleh carder asal Jogja melalui credit card colongan. Template colongan tersebut dikompilasikan dalam bundel CD, yang kemudian di jual kepada para Black Hat yang mencari sumber kartu kredit dengan cara membuat website yang menjual template colongan dari TemplateMonsterDotCom.
*hehe, cah Jogja iku emang pada pinter-pinter, nduk*)

“What the h**l!!!” (*loh, ini kok ada seleb blog disebut-sebut je?*)
“Siapa yang peduli?”
“Yeahh, Who cares?”
“Kalau ongkos produksi bisa ditekan seminimal mungkin, kenapa tidak?”
“Kalau masih ada yang mau mengerjakan dengan biaya murah, kenapa tidak?”
“This is capitalism world, do you know what it means?”

Yeah.., I know what you mean.

Tapi yaa, kalo mau dagang atau ketika kerja… mbok , yaa jujur gitu.

Hargai kerja keras manusia lain.

Hargai ide-ide kreatif orang lain.

Berfikir sedikit laah, bahwa kualitas itu sebanding dengan kuantitas.

Hargai manusia lain yang mencari nafkah secara jujur. Di Bandung, Jakarta, Surabaya, Denpasar, bahkan di Jogja sendiri atau kota-kota besar dan kecil lainnya di Indonesia, masih banyak orang jujur, yang mencari nafkah dengan jujur. Jangan sakiti hati mereka.

(*Carding memang sudah basi. Tapi, saat ini imbasnya masih terasa. Website e-commerce Indonesia jarang yang dipercaya dunia Internasional. Andaipun ada, sedikit jumlahnya*)

Iseng-iseng, saya nanya si Fahmi adik saya yang sudah ber KTP Jogja, “Mi, kenapa sih harga disain di Jogja murah-murah? Malah sering dibawah rata-rata?”

 

Adik saya menjawab dengan santainya “wong, disainernya makannya nasi kucing, yaa murah, to!”

 

(Ini marah-marah, maaf, ndak pantas dibaca sebenarnya)

Saya ini orang bodoh… dan tampaknya, kali ini saya semakin kalap bodohnya. Betapa tidak bodoh, saya ndak sadar bahwa ternyata hari ini MoU perjanjian antara  Pak Sofyan dengan Perusahaan Microsoft tampaknya sudah mendekati titik final.

Saat ini, seperti kata Krisdayanti, sudah tinggal menghitung hari. Operating System buatan Microsoft akan merambah komputer-komputer pemerintah.

Tanya: Loh memang dulu nggak pake OS Microsoft?
Jawab : Pake mas… tapi mbajak! (Hehe… *ketawa getir*)

T: Kalau begitu, apa masalahnya? Sekarang semuanya jadi halal kan? Bukankah baik, membersihkan kebathilan… contohnya Supermen, itu baik loh?

J: Amat baik mas, masalahnya, Supermen ne ndak pake kancut saat ini. Itu looh, wong tendernya bisik-bisik. Kancute dipake untuk nutupin muka ketika sedang tender.

T: Oaalaahhh, kamu sok tahu, dul!

J: Loh, si mas e ndak baca koran, tho? perjanjian Pemerintah dan Microsoft meliputi pembelian lisensi Windows sebanyak 35.496 lisensi dan Microsoft Office sebanyak 177.480 lisensi. Menurut Pak Onno, dengan kurs US$ 1 = Rp 9.065, maka total anggaran yang akan diterima Microsoft adalah Rp 676 miliar. Kalau pemerintah RI mau pake Open Office sing gratis iku tapi sing sama persis seperti Microsoft Office, maka pemerintahe hemat Rp 70 Miliar. Tapi iki, pemerintahe ndak mau download gratisan.

Pak Onno berkata dengan apa adanya “Pemerintah menandatangani pembelian dalam jumlah sangat besar hanya ke satu vendor, tanpa proses tender, tanpa kompetisi sama sekali. Apakah pemerintah tidak melanggar UU 5/99 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat?”.

Ya Allah, Pak Sofyan… bener itu kata Pak Onno?

Tampaknya sih benar… beberapa tanggapan sudah berkembang banyak. Diantaranya di tangapan milis telematika. Bahkan Om Pri yang seleb itu pun sudah bersabda pada tanggal 5 Desember lalu.

Pak Sofyan, itu mbayare pake uang sopo?

Aduh pak, utang indomie saya di warung Kang Jaja sudah terlalu banyak. Tolong Pak, jangan dibebani hutang yang tidak perlu lagi. Pak, sekarang sudah ada Indonesia Goes Open Source(IGOS), itu buat apa pak?

 

 

IGOS dibuat bukan untuk mbikin kancut baru, kalau malu untuk nutupin muka.

(Tulisan ini, sama sekali tidak menyinggung SARA. Ini benar-benar dari pengalaman pribadi yang sifatnya amat subjektif sekali.)

 

Sebagai pekerja Nine to Five, hidup itu kadang-kadang suka berjalan dengan membosankan. Dulu saya bekerja sebagai salah seorang pekerja Nine to Five. Bagi yang belum tahu apa itu pekerja Nine to Five, maka saya harus menjelaskan dulu sedikit.

Nine to Five adalah istilah pekerjaan yang dikerjakan berdasarkan tenggat waktu, dari jam sembilan pagi, hingga jam lima sore. Istilah ini umum dan muncul di lingkungan pekerja kerah putih di daerah suburban New York, sekitar tahun 50-60, ketika Paman Sam baru saja bangkit dari kelesuan revolusi industri akibat WW II.

Saat ini, istilah Nine to Five tidak hanya berlaku pada orang-orang yang bekerja dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore saja, melainkan meluas kepada para pekerja profesional, dengan ritme kerja yang ‘amat teratur’.

Nine to Five itu boring. Sumpah, walaupun hasilnya jelas dan penilaian ini amat subjektif. Tapi bagi saya, tetap saja Nine to Five itu membosankan. Apalagi kalau lower expectation clean money to take home (ini artinya, setelah sunatan ini itu, gaji mengkerut!)

Saya adalah salah satu korbannya.

Untuk mengakali hal tersebut, banyak cara yang dapat dikerjakan. Salah satunya adalah “gunakan jam istirahat semaksimal mungkin”, membahagiakan diri sendiri, tanpa menguras banyak biaya tentunya (kalau banyak biaya, nanti gaji makin mengkerut dong!). Bagi saya yang hobi olahraga dan rumah dan kantor tidak jauh dari pantai, maka surfing adalah salah satu jawabannya. Dulu saya tinggal dan bekerja tidak jauh dari Pantai Sanur. Walaupun airnya tenang, namun di beberapa spot, ombaknya cukup menantang untuk surfing.

Setiap jam istirahat makan siang, kira-kira antara pukul 12 hingga 13 siang. Saya dan kekasih tercinta suka janjian di Pantai Sanur. Beliau membawakan makan siang dari rumah. Saya surfing, beliau membaca novel-novel Sophie Kinsella kegemarannya. Lalu makan siang sama-sama. Ahh romantis sekali…

Namun, tetap saja kadang-kadang ada masalah. Diantaranya adalah beberapa pemuda pantai yang selalu mengajak saya untuk bergabung dalam komunitas anak pantai mereka. Permintaan ini selalu saya tolak dengan halus. Karena bagi mereka, anak pantai itu adalah sarana mencari nafkah dengan menggaet turis-turis asing. Bercinta…, lalu morotin (baca:menggunakan kesempatan untuk menarik uang dari para wanita yang berfikir mereka ‘in love’). Umumnya anak pantai siklus hidupnya adalah, mencari wanita/pria- get the cash as much as you can – spent it on drugs or prostitution – terus cari lagi wanita/pria kalau duit sudah habis.

Simpelnya, saya diajak jadi gigolo!

Terang aja saya tolak! Emangnya gue cowok apaan? Saya jelas saja ngamuk-ngamuk, kalau mereka (anak-anak pantai gadungan itu) sudah kelewatan. Saya bilang sama mereka “Eh kamu jangan kurang ajar yee. Yang pertama, karena saya ini guru. Yang kedua karena saya anak Cilincing. Macem-macem, gue gebugin lo!”
(**yee, emang apa hubungannya guru, Cilincing dan sok jagoan? Hehehe**)

Umumnya, mereka minta maaf, kalau saya sudah nyolot seperti itu. Biasanya pasti bilang “Maaf, saya kira kamu anak pantai ‘begituan’. Rambut kamu panjang, kulit coklat, suka surfing, badan kotak-kotak, kalau kesini sama bule terus.”
(Badan kotak-kotak? Emangnya catur? Emangnya kemeja planel?)

Bajingan rasis!

Memangnya semua orang berkulit coklat yang punya kekasih hati yang berkulit beda itu gigolo atau pelacur?

Lalu saya curhat mengenai hal ini dengan beberapa teman yang mempunyai pasangan yang berbeda warna kulit. Aini adalah salah seorang teman, yang punya suami bule, yang menjawab pertanyaan saya. Jawabannya mengagetkan. Rif, kamu masih beruntung. Aku dulu, waktu jalan-jalan sama suamiku sering menerima pelecehan dari orang-orang, dari yang, mulai ditanya berapa hargaku semalam, sampai yang fisik,seperti pegang-pegang alat vital. Aku sering menangis, kalau pulang ke Indonesia”.

 

Hwalah…, ternyata sesial-sialnya saya sebagai pekerja Nine to Five yang mencoba lari dari kebosanan tapi malah diperlakukan rasis…. saya masih lebih beruntung dibanding yang lainnya!

Saya, seperti biasa, bangun pagi terus jalan-jalan sebentar ke beberapa blog yang menurut saya menarik (ini sangat subjektif banget loh, hehe). Diantaranya adalah blognya Pak Harry. Iseng-iseng baca blog link beliau mengenai kabar dari New York. Di antara isinya adalah penggerebekan massa dan aparat kepada aktifis marxis.

Kali ini, makin banyak saya istigfar. Sedih yaaa. Anak muda, dengan semangat berkobar-kobar di dada… digelandang dengan paksa, hanya karena kepercayaan mereka.

Aduh… sedih.

————————————-

Tahun 2006 awal, bulan april, saya pindah ke Jakarta, karena harus mengajar multimedia dan web secara tidak resmi di sebuah institusi pendidikan Jakarta karena dosennya maen band. Harus konser di banyak kota. Mau tidak mau, saya harus mulai cari rumah, cari equipment, cari kontak-kontak lama… dan sebagainya. Repot.

Namun akhirnya, saya dapat rumah. Kecil, mungil tapi oks banget. Lokasinya di Komplek Kehakiman. Semangat sekali untuk pindah ke rumah baru itu, lokasinya tepat di depan lapangan basket dan lapangan badminton, enak buat olahraga. Tidak jauh dari rumah, ada masjid, lumayan, minimal jadi nggak punya alasan “mesjid jauh, males sholat”, hehe.

Ketika sudah akan mengangkut barang-barang untuk pindah… tiba-tiba, pemilik rumah berkata kepada saya “Pak, maaf, ini uang muka sewa rumah anda. Maaf, kami tidak jadi menyewakan rumah kepada anda”.

Saya kebingungan mati-matian, bayangkan saja, saya dan beberapa teman sudah mengangkut alat-alat airbrush yang diantaranya super berat, seperti kompresor 1 PK misalnya.

“Loh, kenapa bu? Bukankah kita sudah sepakat. Saya salah apa bu?”

“Bapak sih nggak salah apa-apa. Tapi warga sini nggak suka melihat anda. Kata mereka, anda gondrong, temennya banyak, diantaranya banyak orang asing… bule. Mereka takut, anda komunis, bawa pengaruh buruk buat warga.”

Hwalah.., apa hubungannya?

Akhirnya dengan berat hati… saya dan beberapa teman, pindah. Sedih. Kami sebenarnya punya niatan, mau buka sekolah gratis. Pendidikan alternatif, belajar melalui seni. Kebetulan ada beberapa PC yang bisa dipakai warga kampung buat belajar Design, Operating System dan Internet. Yahhh, mau gimana lagi. Sudah di cap komunis. Susah. Warga sudah takut.

Akhirnya kami pindah ke Sambiloto. Dapet rumah di lingkungan junkie. Banyak banditnya. Namun Alhamdulillah, satu bulan tinggal disana, sudah menerbitkan bulletin Sambiloto POS. Koran dari warga untuk warga, isinya…, ya mengenai warga sekitar. Beberapa junkie tertarik dengan program ini dan mencoba untuk sembuh kemudian bergabung sebagai kontributor dan designer.

—————————————–

Apa sih komunisme? Marxisme? Sosialisme? Dan sebagainya?

Takut Indonesia mau diarahkan jadi komunis? Memang komunis sebagai wacana negara masih ada? Eta kamana tea China, Russia, Ceko jeung barudak-barudakna?

Amerika yang super anti komunis saja bertahan dari komunisme dengan cara mendirikan partai komunis di negara tersebut (yang sama sekali nggak banyak peminatnya).

Memangnya kalau orang itu komunis, lantas ia berubah jadi Iblis gitu?

 

Memangnya kita lupa ada Iblis yang berwujud manusia, berkuasa selama 32 tahun, membantai lebih dari setengah juta rakyat Indonesia? Dan sampai saat ini nggak ada yang menyentuhnya? Membiarkan anak-anaknya semena-mena, membantai hakim dengan menembak tepat di tengah jidatnya?

Ahh masa sih amnesia kolektif telah membudaya?

Ahh masa sih “Darah itu merah, Jenderal!” Masing terngiang-ngiang di otak kita?

(Ini film yang dibuat oleh (alm) bapaknya Veda. Alhamdulillah, saya dan generasi mendatang tidak perlu dicekoki hal yang sama setiap 30 September. Film dengan rating yang amat tidak pantas dilihat anak-anak).

 

 

Anak muda, darahnya panas. Makin ditekan, makin kuat melawan.

Orang tua, didikan ORBA. Mental penindas, maunya berkuasa.

Kedua jenis manusia ini bertemu.

 

 

 

Saya hanya bisa istigfar dan mengutip satu kata puisi (alm) Widji Thukul.

friendster picture

Beberapa tahun yang lalu, saya ditelpon Bengki, ia bertanya apakah account Salmah, teman kami, yang hobi ber-friendster-ria, telah disabotase. Ini cuplikan percakapannya;

“Rip, gile men. Masa profilenya Salmah di FS ancur banget gitu. School di isi oleh lokalisasi Pelacuran, trus Hobi di isi dengan mencari pria untuk ditiduri, dan occupation di isi sebagai pelacur jalanan. Kok Salmah jadi gila gitu?”

Untuk mengkonfirmasikan ‘kegilaan sesaat’ Salmah. Saya dengan serta merta menelepon Salmah. Hasilnya dapat ditebak, di telepon Salmah menangis tersedu-sedu. Accountnya di Friendster di jebol oleh tangan yang tidak bertanggung jawab. Sejak ia mengedit accountnya di komputer warnet.

(Pada saat itu, friendster masih banyak bugnya. Jadi kalau buka FS di warnet, terus kamu lupa logout, tapi langsung matiin komputer, maka selanjutnya, siapapun yang nyalain komputer yang sama, terus ngetik friendster.com, maka akan langsung ke halaman pribadi kamu. Hal yang sama juga pernah terjadi pada sebuah layanan email terkemuka. Hingga saat ini, FS tetap menjadi salah satu daftar utama riset data dalam aksi social engineering).

————————————————-

Beberapa minggu lalu, mantan client saya mencak-mencak di email dengan kalimat yang sangat aduhai nistanya, “Pak, kok goblok amat sih. Bikin web yang gampang hancur. Web kami itu diganti ama hacker. Mosok di depannya ada logo perusahaan saingan”

Saya merenung… Benarkah saya segoblok yang ia sangka? Sedemikian parahkah ketololan saya, membuat web yang banyak lubangnya?

Langkah yang saya ambil untuk menjawab pertanyaan diatas adalah:

  1. Login ke admin web tersebut, … dan saya langsung gagal, ternyata password sudah diganti. Wajar…, nampaknya mereka telah menyewa seorang admin untuk me-maintain web.
  2. Mengecek kualifikasi web dengan W3C standarisasi, melihat, sebanyak apa yang telah dirubah oleh defacer.
  3. Menghubungi admin baru mereka.
    (Caranya jangan ditiru; Saya menghubungi kantor mereka sebagai supplier, bertanya nama admin baru mereka beserta emailnya. Lalu, menghubungi admin tersebut, menyamar sebagai wanita seksi di dunia maya, pura-pura kenal melalui date site. Asumsi awal saya adalah, si admin baru ini pasti punya kelemahan. Diantaranya adalah, hidup membujang! hahaha)

Admin baru mereka, masih muda, baru lulus sekolah, namanya…., ahhh sebut saja Irwing. Nah, si Irwing ini bener-bener tipe anak IT yang wannabe nerd. Bukan cuman gaya ngomongnya, tapi begitu pula cukuran rambutnya plus kacamata tebalnya. Bedanya, nerds asli itu pinter otaknya, nah si Irwing ini pinter ngibulnya.

Baru sekali chatting, ia langsung memberikan saya profilenya di Friendster dan MySpace. Belum lagi gaya sombongnya memperlihatkan liburannya yang ‘mewah’ melalui foto-foto di MyFlickr nya itu.

Chatting ke dua kalinya. Saya memberikan ‘foto saya’ setengah bugil. Itu foto colongan dari internet. Si Irwing kegirangan setengah mati. Kalimat-kalimatnya sudah mulai ngaco. Saya dengan mudahnya mengorek informasi, bahwa ia dalam keadaan depresi karena web yang ia kerjakan di deface. Saya tanya, apa password webnya. Ia memberitahu saya dengan polosnya. Ternyata setelah di lakukan crooss check, password itu tertera dalam sejumput kalimat di profilenya di Friendster, My Space dan Flickr nya.

Irwing tidak sadar, beberapa orang telah melakukan social engineering terhadapnya. Pertama, adalah si defacer (yang secara salah kaprah dianalogikan sebagai hacker oleh bosnya Irwing) web mereka. Mencari lubang keamanan pada web yang ia kerjakan melalui informasi yang ia berikan secara ugal-ugalan melalui profilenya di Internet.

Yang kedua adalah… saya, yang mencari tahu, siapa itu si Irwing? Membuktikan kepada diri sendiri, apakah kebodohan saya sudah jauh melewati ambang kewajaran. Hehe…

Setelah medokumentasikan riset dan ‘petualangan’ saya dalam mencari sumber lubang kemanan di web mantan client. Saya mengirimkannya kepada mantan client saya tersebut, bosnya Irwing. Lalu segera memutuskan hubungan dengan beliau, dengan alasan… “Amit-amit deh, jijay punya client yang mulutnya kayak kakus!”

Sejam kemudian, saya iseng, chat sama Irwing (Gila tuh anak, tega banget, jam kantor dipakai pacaran dengan ‘saya’, euy). Rupanya dia belum tahu bakal dipecat. Salah satu kalimat yang amat membekas di hati saya adalah…

Sayang, semoga kamu tahu, sebagai ungkapan cintaku padamu. Semua pasword di kantor aku ubah menjadi namamu…

 

ASTAGA!!!

Tahun baru 2005, saya kecelakaan. Jatuh ketika main game outbond ugal-ugalan dengan rekan kerja. Cukup parah. Kepala membentur beton, dari ketinggian 1-2 meter. Pingsan dan dibawa ambulan.

basquiat_bangaiptop_version

Di balik semua kisah, pasti ada hikmah. Katanya orang-orang yang percaya. Dan saya bukanlah tipe orang-orang itu… hehehe.

Dalam beberapa hari setelah ‘kejatuhan’, mahasiswa-mahasiswi saya datang berbondong-bondong membesuk ke rumah. Datangnya juga nggak kira-kira, man. Sekali datang bisa 20-30 orang. Banyak banget!

Sialnya lagi, hanya 2-3 orang yang bawa makanan atau buah-buahan. Selebihnya modal senyum dan say apakabar. Lebih sialnya lagi, the rest.., cuma numpang makan makanan besuk buat saya yang dibawa temannya. Walhasil, saya tetap lapar! Hehehe.

Hari ketujuh. Saya pikir sudah cukup kuat. Tangan saya membaik. Kelingking sudah bisa digerakkan. Saya pikir, hari kedelapan bisa minta tolong ke tunangan untuk diantar ke kampus dengan mobilnya. Hari itu, saya kedatangan tamu, salah seorang yang berniat membesuk saya. Ia, seorang pemuda berusia sekitar 22 tahun. Salah seorang mahasiswa yang saya ajar dalam kelas multimedia. Namanya.., ahh sebut saja Steve.

Steve datang sendiri. Tidak bersama teman-temannya. Aneh, biasanya anak ini ‘begaul abis’. Tidak lama setelah ngobrol ngalor-ngidul panjang lebar membicarakan software-software terbaru. Tiba-tiba ia menatap saya dengan mata yang sendu… Lalu berkata “Pak, saya Gay”.

Wah, saya speechless. Diam seribu bahasa. Tak dapat bicara. Di hati, hanya ada kata.

Setelah menarik nafas panjang. Saya lalu berkata,

“Steve, terimakasih. Saya amat tersanjung apabila kamu menyukai saya. Tapi saya sudah punya tunangan yang sebentar lagi akan menjadi istri saya”

Steve kaget, “Tapi pak, saya juga sudah punya pacar”

Gantian saya yang kaget, “Loh, kamu mau selingkuh sama saya?”

Steve kali ini benar-benar merengut, “Bapak kok geer amat sih. Saya nggak suka sama bapak. Saya cuma mau ngasih tahu, kalau saya gay”

Whalah.., kok jadi kacau gini?

Lalu dia menceritakan bahwa akhir-akhir ini, teman-teman di kampus menjauhi. Setelah beredar gosip, ia sering mampir di Gay Bar di Kuta Bali. Dalam kebingungan mengatasi masalah tersebut. Satu-satunya manusia Indonesia yang ia kenal dengan terang-terangan mengaku punya banyak teman gay, mengumumkannya dan tidak peduli dengan pendapat publik adalah… saya.

Dengan amat sangat, Steve memohon untuk membantunya mengatasi masalah ini. Saya mengangguk setuju. Kasihan si Steve. Masih muda sudah dikucilkan.

Hari kedelapan, saya memberi kuliah History of Digital Art. Sebagai bagian dari silabus mata kuliah, saya harus memberi tugas yang berhubungan dengan Digital Art Lover. Wah kebetulan nih, saya dengan santainya memberi tema tugas pada mahasiswa yaitu “digitalisasi cinta sejenis”. Hahaha…

Tugas itu dikumpul minggu berikutnya. Di jam kuliah yang sama. Dengan metode presentasi karya dalam bentuk digital. Dan 65 mahasiswa merespon balik dengan amat baik. Mereka merepresentasikan apa yang ada dalam benak mereka mengenai cinta sejenis. Karya yang dipresentasikan terdiri dari film animasi, poster, website, sampai kartu ucapan yang pinky banget. Umumnya, menampilkan HIV/AIDS. Simpel, artinya bagi kebanyakan mereka, kehidupan cinta sejenis identik dengan HIV. Namun, diantara mereka juga banyak yang menampilkan jargon “jangan pandang sebelah mata”. Artinya juga simpel, Gay/Lesbi juga manusia, hargai sebagaimana menghargai manusia.

Setelah itu ada diskusi, yang membuat saya terkaget-kaget. Bahwa bagi generasi muda Indonesia (ini general loh, mahasiswa saya berasal dari seluruh pulau-pulau besar di Indonesia) lebih permisif terhadap cinta sejenis. Bahkan umunya menganggap lesbianisme adalah hal yang sangat mengasikkan, alasannya “Pak, asik loh nonton pelem bokep yang isinya perempuan ama perempuan lagi maen”.

Whalah!

“Kenapa kamu nggak nonton yang laki-laki main sama laki-laki?”

“Amit-amit pak. Meskipun laki-laki itu masih keluarga sendiri, ngeliat dia telanjang saja saya nggak suka. Apalagi ngeliat orang lain!”

Hahaha… itu mah bukan homofobia. Saya ajah ogah, ngeliat laki-laki telanjang selain diri saya sendiri. Sama ogahnya seperti ngeliat perempuan manula telanjang.

Sejak saat itu, saya lihat Steve lebih sering berkumpul lagi dengan teman-temannya.

Empat bulan setelah saya resign sebagai pengajar, karena harus ke luar negeri. Steve mengirimkan email. Isinya…,

“Pak, saya terpaksa mundur dari sekolah. Alasannya simpel, dewan kampus tidak mau menerima saya apa adanya. Semua teman membela saya. Tapi tetap saja saya dan orangtua, dikirimi surat bahwa saya ‘diminta istirahat hingga waktu yang ditentukan dewan pembina’ oleh kampus. Lah, saya luntang-lantung. Tapi saya sadar, bahwa saya punya ilmu yang bisa saya amalkan untuk bekerja. Saat ini saya di Sydney, bekerja sebagai graphic designer. Diberhentikan dari kampus dan berjuang di luar adalah hal yang terbaik saat ini yang pernah saya dapati dalam hidup saya.
Namun, yang lebih baik dari semua itu adalah, saya bahagia, punya seorang guru, yang berkata, bahwa saya adalah manusia dan menjadi manusia adalah sebuah karunia.
Terimakasih pak.”

 

 

Sambil menangis, kesal sekaligus terharu…, saya menangkap makna simbolisnya.

Ternyata, dibalik semua kisah ada hikmah.

Laman Berikutnya »