Saya, seperti biasa, bangun pagi terus jalan-jalan sebentar ke beberapa blog yang menurut saya menarik (ini sangat subjektif banget loh, hehe). Diantaranya adalah blognya Pak Harry. Iseng-iseng baca blog link beliau mengenai kabar dari New York. Di antara isinya adalah penggerebekan massa dan aparat kepada aktifis marxis.

Kali ini, makin banyak saya istigfar. Sedih yaaa. Anak muda, dengan semangat berkobar-kobar di dada… digelandang dengan paksa, hanya karena kepercayaan mereka.

Aduh… sedih.

————————————-

Tahun 2006 awal, bulan april, saya pindah ke Jakarta, karena harus mengajar multimedia dan web secara tidak resmi di sebuah institusi pendidikan Jakarta karena dosennya maen band. Harus konser di banyak kota. Mau tidak mau, saya harus mulai cari rumah, cari equipment, cari kontak-kontak lama… dan sebagainya. Repot.

Namun akhirnya, saya dapat rumah. Kecil, mungil tapi oks banget. Lokasinya di Komplek Kehakiman. Semangat sekali untuk pindah ke rumah baru itu, lokasinya tepat di depan lapangan basket dan lapangan badminton, enak buat olahraga. Tidak jauh dari rumah, ada masjid, lumayan, minimal jadi nggak punya alasan “mesjid jauh, males sholat”, hehe.

Ketika sudah akan mengangkut barang-barang untuk pindah… tiba-tiba, pemilik rumah berkata kepada saya “Pak, maaf, ini uang muka sewa rumah anda. Maaf, kami tidak jadi menyewakan rumah kepada anda”.

Saya kebingungan mati-matian, bayangkan saja, saya dan beberapa teman sudah mengangkut alat-alat airbrush yang diantaranya super berat, seperti kompresor 1 PK misalnya.

“Loh, kenapa bu? Bukankah kita sudah sepakat. Saya salah apa bu?”

“Bapak sih nggak salah apa-apa. Tapi warga sini nggak suka melihat anda. Kata mereka, anda gondrong, temennya banyak, diantaranya banyak orang asing… bule. Mereka takut, anda komunis, bawa pengaruh buruk buat warga.”

Hwalah.., apa hubungannya?

Akhirnya dengan berat hati… saya dan beberapa teman, pindah. Sedih. Kami sebenarnya punya niatan, mau buka sekolah gratis. Pendidikan alternatif, belajar melalui seni. Kebetulan ada beberapa PC yang bisa dipakai warga kampung buat belajar Design, Operating System dan Internet. Yahhh, mau gimana lagi. Sudah di cap komunis. Susah. Warga sudah takut.

Akhirnya kami pindah ke Sambiloto. Dapet rumah di lingkungan junkie. Banyak banditnya. Namun Alhamdulillah, satu bulan tinggal disana, sudah menerbitkan bulletin Sambiloto POS. Koran dari warga untuk warga, isinya…, ya mengenai warga sekitar. Beberapa junkie tertarik dengan program ini dan mencoba untuk sembuh kemudian bergabung sebagai kontributor dan designer.

—————————————–

Apa sih komunisme? Marxisme? Sosialisme? Dan sebagainya?

Takut Indonesia mau diarahkan jadi komunis? Memang komunis sebagai wacana negara masih ada? Eta kamana tea China, Russia, Ceko jeung barudak-barudakna?

Amerika yang super anti komunis saja bertahan dari komunisme dengan cara mendirikan partai komunis di negara tersebut (yang sama sekali nggak banyak peminatnya).

Memangnya kalau orang itu komunis, lantas ia berubah jadi Iblis gitu?

 

Memangnya kita lupa ada Iblis yang berwujud manusia, berkuasa selama 32 tahun, membantai lebih dari setengah juta rakyat Indonesia? Dan sampai saat ini nggak ada yang menyentuhnya? Membiarkan anak-anaknya semena-mena, membantai hakim dengan menembak tepat di tengah jidatnya?

Ahh masa sih amnesia kolektif telah membudaya?

Ahh masa sih “Darah itu merah, Jenderal!” Masing terngiang-ngiang di otak kita?

(Ini film yang dibuat oleh (alm) bapaknya Veda. Alhamdulillah, saya dan generasi mendatang tidak perlu dicekoki hal yang sama setiap 30 September. Film dengan rating yang amat tidak pantas dilihat anak-anak).

 

 

Anak muda, darahnya panas. Makin ditekan, makin kuat melawan.

Orang tua, didikan ORBA. Mental penindas, maunya berkuasa.

Kedua jenis manusia ini bertemu.

 

 

 

Saya hanya bisa istigfar dan mengutip satu kata puisi (alm) Widji Thukul.