(Tulisan ini, sama sekali tidak menyinggung SARA. Ini benar-benar dari pengalaman pribadi yang sifatnya amat subjektif sekali.)

 

Sebagai pekerja Nine to Five, hidup itu kadang-kadang suka berjalan dengan membosankan. Dulu saya bekerja sebagai salah seorang pekerja Nine to Five. Bagi yang belum tahu apa itu pekerja Nine to Five, maka saya harus menjelaskan dulu sedikit.

Nine to Five adalah istilah pekerjaan yang dikerjakan berdasarkan tenggat waktu, dari jam sembilan pagi, hingga jam lima sore. Istilah ini umum dan muncul di lingkungan pekerja kerah putih di daerah suburban New York, sekitar tahun 50-60, ketika Paman Sam baru saja bangkit dari kelesuan revolusi industri akibat WW II.

Saat ini, istilah Nine to Five tidak hanya berlaku pada orang-orang yang bekerja dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore saja, melainkan meluas kepada para pekerja profesional, dengan ritme kerja yang ‘amat teratur’.

Nine to Five itu boring. Sumpah, walaupun hasilnya jelas dan penilaian ini amat subjektif. Tapi bagi saya, tetap saja Nine to Five itu membosankan. Apalagi kalau lower expectation clean money to take home (ini artinya, setelah sunatan ini itu, gaji mengkerut!)

Saya adalah salah satu korbannya.

Untuk mengakali hal tersebut, banyak cara yang dapat dikerjakan. Salah satunya adalah “gunakan jam istirahat semaksimal mungkin”, membahagiakan diri sendiri, tanpa menguras banyak biaya tentunya (kalau banyak biaya, nanti gaji makin mengkerut dong!). Bagi saya yang hobi olahraga dan rumah dan kantor tidak jauh dari pantai, maka surfing adalah salah satu jawabannya. Dulu saya tinggal dan bekerja tidak jauh dari Pantai Sanur. Walaupun airnya tenang, namun di beberapa spot, ombaknya cukup menantang untuk surfing.

Setiap jam istirahat makan siang, kira-kira antara pukul 12 hingga 13 siang. Saya dan kekasih tercinta suka janjian di Pantai Sanur. Beliau membawakan makan siang dari rumah. Saya surfing, beliau membaca novel-novel Sophie Kinsella kegemarannya. Lalu makan siang sama-sama. Ahh romantis sekali…

Namun, tetap saja kadang-kadang ada masalah. Diantaranya adalah beberapa pemuda pantai yang selalu mengajak saya untuk bergabung dalam komunitas anak pantai mereka. Permintaan ini selalu saya tolak dengan halus. Karena bagi mereka, anak pantai itu adalah sarana mencari nafkah dengan menggaet turis-turis asing. Bercinta…, lalu morotin (baca:menggunakan kesempatan untuk menarik uang dari para wanita yang berfikir mereka ‘in love’). Umumnya anak pantai siklus hidupnya adalah, mencari wanita/pria- get the cash as much as you can – spent it on drugs or prostitution – terus cari lagi wanita/pria kalau duit sudah habis.

Simpelnya, saya diajak jadi gigolo!

Terang aja saya tolak! Emangnya gue cowok apaan? Saya jelas saja ngamuk-ngamuk, kalau mereka (anak-anak pantai gadungan itu) sudah kelewatan. Saya bilang sama mereka “Eh kamu jangan kurang ajar yee. Yang pertama, karena saya ini guru. Yang kedua karena saya anak Cilincing. Macem-macem, gue gebugin lo!”
(**yee, emang apa hubungannya guru, Cilincing dan sok jagoan? Hehehe**)

Umumnya, mereka minta maaf, kalau saya sudah nyolot seperti itu. Biasanya pasti bilang “Maaf, saya kira kamu anak pantai ‘begituan’. Rambut kamu panjang, kulit coklat, suka surfing, badan kotak-kotak, kalau kesini sama bule terus.”
(Badan kotak-kotak? Emangnya catur? Emangnya kemeja planel?)

Bajingan rasis!

Memangnya semua orang berkulit coklat yang punya kekasih hati yang berkulit beda itu gigolo atau pelacur?

Lalu saya curhat mengenai hal ini dengan beberapa teman yang mempunyai pasangan yang berbeda warna kulit. Aini adalah salah seorang teman, yang punya suami bule, yang menjawab pertanyaan saya. Jawabannya mengagetkan. Rif, kamu masih beruntung. Aku dulu, waktu jalan-jalan sama suamiku sering menerima pelecehan dari orang-orang, dari yang, mulai ditanya berapa hargaku semalam, sampai yang fisik,seperti pegang-pegang alat vital. Aku sering menangis, kalau pulang ke Indonesia”.

 

Hwalah…, ternyata sesial-sialnya saya sebagai pekerja Nine to Five yang mencoba lari dari kebosanan tapi malah diperlakukan rasis…. saya masih lebih beruntung dibanding yang lainnya!