(Ini marah-marah, maaf, ndak pantas dibaca sebenarnya)

Saya ini orang bodoh… dan tampaknya, kali ini saya semakin kalap bodohnya. Betapa tidak bodoh, saya ndak sadar bahwa ternyata hari ini MoU perjanjian antara  Pak Sofyan dengan Perusahaan Microsoft tampaknya sudah mendekati titik final.

Saat ini, seperti kata Krisdayanti, sudah tinggal menghitung hari. Operating System buatan Microsoft akan merambah komputer-komputer pemerintah.

Tanya: Loh memang dulu nggak pake OS Microsoft?
Jawab : Pake mas… tapi mbajak! (Hehe… *ketawa getir*)

T: Kalau begitu, apa masalahnya? Sekarang semuanya jadi halal kan? Bukankah baik, membersihkan kebathilan… contohnya Supermen, itu baik loh?

J: Amat baik mas, masalahnya, Supermen ne ndak pake kancut saat ini. Itu looh, wong tendernya bisik-bisik. Kancute dipake untuk nutupin muka ketika sedang tender.

T: Oaalaahhh, kamu sok tahu, dul!

J: Loh, si mas e ndak baca koran, tho? perjanjian Pemerintah dan Microsoft meliputi pembelian lisensi Windows sebanyak 35.496 lisensi dan Microsoft Office sebanyak 177.480 lisensi. Menurut Pak Onno, dengan kurs US$ 1 = Rp 9.065, maka total anggaran yang akan diterima Microsoft adalah Rp 676 miliar. Kalau pemerintah RI mau pake Open Office sing gratis iku tapi sing sama persis seperti Microsoft Office, maka pemerintahe hemat Rp 70 Miliar. Tapi iki, pemerintahe ndak mau download gratisan.

Pak Onno berkata dengan apa adanya “Pemerintah menandatangani pembelian dalam jumlah sangat besar hanya ke satu vendor, tanpa proses tender, tanpa kompetisi sama sekali. Apakah pemerintah tidak melanggar UU 5/99 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat?”.

Ya Allah, Pak Sofyan… bener itu kata Pak Onno?

Tampaknya sih benar… beberapa tanggapan sudah berkembang banyak. Diantaranya di tangapan milis telematika. Bahkan Om Pri yang seleb itu pun sudah bersabda pada tanggal 5 Desember lalu.

Pak Sofyan, itu mbayare pake uang sopo?

Aduh pak, utang indomie saya di warung Kang Jaja sudah terlalu banyak. Tolong Pak, jangan dibebani hutang yang tidak perlu lagi. Pak, sekarang sudah ada Indonesia Goes Open Source(IGOS), itu buat apa pak?

 

 

IGOS dibuat bukan untuk mbikin kancut baru, kalau malu untuk nutupin muka.