Tanggal 25 Desember tahun lalu, saya diundang makan malam oleh beliau yang saya cintai beserta keluarganya. Nggak ‘ngeh’, saya berangkat saja memenuhi undangan tersebut. Namanya undangan makan gratis, siapa yang nggak mau?🙂

Saya sama sekali ndak mikir, malam itu adalah malam natal. Sebab begitu sampai ke rumah keluarga beliau, saya melihat pohon natal yang begitu gemerlap lampu-lampunya. Saya dalam hati komentar “wah pohon natalna hebat kiyeu, hararungkul teh bling-bling, kinclong hiasannya.. eh, jangan-jangan ini hari natal” (*halah, telmi bgt*). Dibawah pohon natal tersebut banyak kado-kado yang dibungkus dengan manis dan berjejer rapi.

Usai makan malam yang sama sekali tidak ada babinya karena menghormati keyakinan saya. Tuan rumah beserta keluarganya mulai kumpul di ruang santai (*aslinya sih namanya woonkamer, saya nggak tahu terjemahannya, maaf*) lalu mulai membagi-bagi hadiah. Si bapak memberi ibu hadiah, lalu memberikan anak-anaknya hadiah, begitu pula sebaliknya, hingga si anak memberikan pula hadiah kepada orang tuanya. Mirip tuker-tukeran kado begitu. Bedanya, suasananya lebih khidmat. Maklum, hari yang religius.

Ketika acara tuker-tukeran kado. Semua yang ada dalam ruangan itu memberikan saya kado dan puisi. Setiap kado ada puisinya. Setiap kado, adalah barang/hal yang saya butuhkan, sementara puisinya, adalah refleksi mereka terhadap saya.
Astagfirullahaladzim, saya terharu… sampai menangis.

Saya tidak menangis karena naif, walaupun seumur hidup jarang dapat kado. Tapi saya menangis karena mereka, yang saya anggap lakum dinukum walyadin yang saya terjemahkan secara ugal-ugalan dengan lo ya lo… gue yaa gue, ngapain gue mikirin elo dan ngapain juga lo mikirin gue?. Ternyata mereka, memikirkan saya dengan hati-hati dan positif.

Saya merasa bersalah.

Jadi inget lebaran di Cilincing, kampung tercinta.
Ketika memeluk ibu, sujud di kaki beliau.
Setelah lelah letih perjalanan bertahun-tahun tidak berjumpa beliau.
Saya selalu merasa bersalah.

Ibu saya guru SD, setiap pagi ke sekolahnya jalan kaki. Setiap sore mengajar ngaji.
Ibu yang sepi, sejak suami meninggal dan anak-anaknya ke luar negeri.
Perempuan kecil, berjilbab dan berkulit hitam.
Perempuan betawi yang selalu menjawab pertanyaan saya “Ya sudah lillahi ta’ala saja”

Bagi saya, tidak ada seorangpun wanita di muka bumi yang mampu menggantikan tempat ibu saya.

Ibu adalah perwujudan matahari, kadang bikin panas… tetapi selalu menerangi.

Ibu adalah perwujudan bulan, muncul ketika hari-hari kelam… namun selalu lembut menawan.

Ibu adalah perwujudan bumi, yang melahirkan, memberi makan, melindungi, ketika kaki tidak kuat berdiri sendiri.

Ibu adalah malaikat… ketika sujud dikakinya, surga terpampang di kelopak mata.

 

Mungkin saya terlalu hiperbolis. Mungkin saya terlalu naif. Dan mungkin terlalu bombastis. Tapi, natal kemarin mengingatkan saya kepada Ibunda tercinta.

 

Dalam keremangan senja, lagu Dear Mama dari Tupac mengudara:

I finally understand for a woman
it ain’t easy–trying ta raise a man