Stockholm Syndrome atau Sindrom Stokholm berasal dari sebuah kisah perampokan bank di Norrmalmstorg, Stockholm, Swedia pada tanggal 23 hingga 28 Agustus 1973. Korban penculikan merasa bersimpati dengan penculiknya, sehingga setelah mereka bebas dari penculikan, mencoba membela/bersimpati kepada para penculiknya.

Contoh Stockholm Syndrome yang paling terkenal adalah Patty Hearst. Ketika diculik oleh Symbionese Liberation Army (SLA) organisasi radikal kiri AS, Patty adalah seorang wanita muda, cerdas, cantik, bintang film serta cucu multijutawan William Randolph Hearst. Dua bulan setelah polisi membebaskannya dari penculikan, Patty membantu SLA merampok sebuah bank di San Fransisco, USA.

Para psikolog mengidentifikasikan Sindrom Stockholm sebagai peristiwa dimana korban penculikan/penindasan/penganiayaan jatuh cinta kepada orang yang melakukan kekerasan terhadapnya. Menurut teori psikoanalisa, ini adalah salah satu bentuk upaya pembelaan diri sang korban.

Pada film The World is Not Enough, James Bond menganalisa Elektra King sebagai korban Sindrom Stockholm. Elektra mengaku diculik dan diperkosa oleh Renard (banditnya). Ternyata Renard malah mengaku bahwa ia jatuh cinta kepada Elektra. Renard, pada kondisi ini, mengalami gejala psikologi Lima Syndrome. Dimana penculik jatuh cinta kepada korbannya.

Di Indonesia, tidak banyak yang mengetahui, bahwa telah terjadi Stockhlom Syndrome yang melibatkan salah seorang (mantan) pejuang demokrasi, Pius Lustrilanang.

Ini catatan perjalanannya:

Pebruari 1998
Pada tanggal 14 Pebruari, Pius Lustrilanang diculik oleh Tim Mawar, satuan tentara elite KOPASSUS dibawah kendali KODAM. Penculikan berlangsung kira-kira pada pukul 15.30 WIB di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM) . Penculikan ini diakui resmi oleh Departemen Pertahanan.

April 1998
Pada pagi hari tanggal 29 April, Pius memberikan kesaksian di depan KOMNAS HAM, Mayjen (Purn) Samsudin, Albert Hasibuan dan puluhan wartawan. Pada petang harinya, ia tiba-tiba langsung terbang ke Belanda. ‘Pelarian’ ini didukung oleh (alm) AA Baramuli, mantan ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan para aktivis HAM untuk Indonesia di Belanda, yaitu Indonesia-House. Untuk sementara, Pius ditampung di rumah saudara Reza, di Lizzy Annsinghstraat, Amsterdam.

Mei 1998
Siang hari, sekitar pukul 14.00, terjadi pertengkaran yang hebat antara (mantan) Presiden Habibie dengan (mantan) Jendral Prabowo, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat di Istana Negara. Habibie menuduh Prabowo mengetahui dan memerintahkan Tim MAWAR untuk menculik para aktifis.
Pada saat ini, Pius mengaku, yang menculiknya lulusan AKABRI.

Juli 1998
Pius pulang ke Indonesia setelah dua bulan melakukan gerakan kampanye anti kekerasan dan militerisme di Eropa. Tiba-tiba Pius pindah haluan, mendaftarkan diri menjadi caleg PDIP di Bogor. Namun karena posisi ini tidak didapatkannya. Pertemuannya dengan Amien Rais di Eropa ternyata tidak membuahkan ‘posisi empuk’ di Indonesia.

1999
Pius menjadi anggota Partai Amanah Bangsa, duduk sebagai anggota di Seksi Pemuda. Diakui secara resmi oleh PAN.

Akhir 1999
Pius bertemu Prabowo di Kuala Lumpur. Pius mengatakan bahwa pada saat itu Prabowo berkata kepadanya “Saya hanya prajurit. Tugas saya memenuhi perintah. Diantaranya adalah menculik kamu”. Pada saat ini, Prabowo sudah dipecat dari TNI. Banyak simpang-siur mengenai kewarganegaraannya, apakah ia masih WNI atau sudah menjadi WNJ (Warga Negara Jordania).

2000
Pius kembali ke PDIP, mencoba membentuk pasukan paramiliter sendiri. Pasukan tersebut ia beri nama BRIGASS, singkatan dari Brigade Siaga Satu. Pasukan ini dilatih juga oleh Tim Mawar, beberapa mantan Kopassus yang dahulu pernah menculik Pius. Beberapa pihak mengangap ini adalah  hal yang aneh sebab PDIP tidak mempunyai dana khusus untuk hal ini, mereka percaya bahwa Pius didanai/meminta-dana dari Prabowo.

2002
Pius  membawa BRIGASS untuk berdemo di Gedung MPR. Saat ini, ia mulai tidak menyukai PDIP dengan mengatakan “PDIP jangan mengkhianati amanat demokrasi”. Ia membawa laskarnya untuk berdemo dengan senjata lengkap.

2005
Tanggal 30 Maret 2005, Radio Nederland melaporkan, Pius mendukung Gerakan Pembaruan PDI dengan membawa  7000 orang massa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. 700 orang dintaranya diperlengkapi senjata pentungan dan sangkur.
Satu hari sebelumnya, di Bali, Pius melengkapi Brigade Siaga Satu dengan 476 sangkur. Senjata tajam yang dikenal sebagai pisau bayonet. Biasa diletakkan di ujung senjata laras panjang.

 

Saat ini,  beberapa orang menganggap Pius sebagai aktifis yang sukses. Beberapa diantaranya menganggapnya sebagai loser. Yang pasti… dilihat dari catatan media dan publik, Pius mempunyai Sindrom Stockholm. (*atau bisa jadi Prabowo yang jatuh cinta kepada Pius, hehe*)

 

Stockholm Syndrom, sudah ditindas… eh, malah jatuh cinta kepada penindasnya!