(Malam ini, saya sedang ketawa-ketiwi. Kang Adhi baru saja menulis mengenai Wadehel, yang jadi anak bengal. Ehh…, si Wadehel teh malah merenung. Huehuehue).

Ok hari ini, saya akan bicara tentang orang Cina. Sama seperti tulisan-tulisan saya yang lain. Tulisan saya selalu subjektif. Sudut pandangnya… dilihat dari mata saya sendiri, yang cacat. Gila, disainer kok cacat matanya! (*cuek bleh, presiden aja boleh buta, masak gue ga boleh? huehuehue*)

Siapa orang Cina itu?
Menurut saya adalah;
1. orang yang lahir di Cina
2. beribu-bapak juga orang Cina
3. mengaku dan bangga menjadi orang Cina
4. berbahasa Cina
Empat point di atas adalah penting. Cacat satu saja, maka saya tidak mengklaimnya sebagai orang Cina dalam tulisan saya ini (*sadis amat, hehe*)

Tapi saya tidak membahas orang Cina yang ada pada point di atas. Menurut saya, tidak pantas dibicarakan, karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai kultur Anthropology, Sosiologi serta budaya Cina (*gue bukan ahli Cina, bro. Sori*). Saya tidak membahas orang cina, melainkan akan membahas WNI keturunan cina.

Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan cina ada di dimana-mana. Menurut saya, mereka, paling banyak ada di Glodok, JKT. Kenapa Glodok? Simpel, dulu waktu jaman jahiliah, saya paling doyan beli CD/DVD bajakan di Glodok… yang jual orang cina. Ups, maaf… Warga Negara Indonesia keturunan cina, maksud saya.

Masa jahiliah saya cupet… dari Cilincing, beli software bajakan/film porno di Glodok, trus ke kost-an di Depok, terus instal/nge-gim/nonton, sekolah, maen bola, terus balik lagi ke Cilincing… Terus, yaa begitu saja seterusnya. Jadi, Glodokisme (*faham yang menganut kepercayaan, bahwa apa aja ada di Glodok. Hehe*) adalah salah satu faham besar yang saya anut, ketika masa jahiliah itu.

Ok, sekian dulu, cerita mengenai cina glodok (sebutan bagi WNI keturunan cina yang tinggal/bekerja di daerah Glodok, JKT). Cerita saya akan meloncat ke profesi saya terdahulu, sebagai model (*uhuuyy, ada model bo! coleek dong dikit*). Sebenarnya saya paling males menulis paragraf sambung seperti ini, membosankan, lebih suka pakai bahasa simbol, tanda —–, pemutus paragraf. Namun ternyata, tulisan saya dikomentari oleh Enda, Om7ack dan Dhika. Kira-kira, menurut mereka, tanpa paragraf penyambung, logika menjadi loncat-loncat (seperti kangguru atau bus yang kejar setoran). Saya nunut saja. Maklum, saya teh penulis pemula, tidak sepandai mereka dalam berbahasa. Semoga saya terus di kritik membangun, biar tambah pinter nulis. Hehehe.

Sebagai (mantan) model, yang juga adalah sebuah profesi cari makan (serta cari gebetan), saya sering bepergian. Kadang-kadang harus sekitar nusantara… kadang-kadang juga menyebrang laut, jauh ke negeri orang. Kalau jauh di kampung orang, saya paling suka ngumpul dengan orang Indonesia. Mungkin kultur agraris saya yang membuat hobi ngumpul dengan sesama orang Indonesia.

Kalau ngumpul dengan orang Indonesia di luar negeri… Walaupun diantara mereka, jelas-jelas terlihat berwajah oriental (*eufimisme dari mata sipit, kulit kuning, rambut lurus*) yang menandakan mereka adalah WNI keturunan cina. Tapi jangan pernah bilang “Mas… (atau mbak)… orang cina yaa?”. Kalau yang ditanya dari Banten, ia pasti akan menjawab “Geloo, rek titajong siah? aing banten ceunahhhh” (terj: Gila, kamu minta dipukulin? Saya orang banten asli). Kalau yang ditanya dari Malang, ia akan menjawab “Aku iki kera-kera ngalam, to!” (terj: saya ini orang malang).

Sampai saat ini, saya tidak pernah menemukan WNI keturunan cina yang mengaku bahwa mereka orang cina. Semuanya mengaku dengan bangga “Aku produk aseli Indonesia”. Semua bangga dengan Indonesianya. Dengan merah darahnya… dengan putih tulangnya… dengan semangatnya…

Mereka ada dimana-mana. Sebagai pemilik rumah makan, sebagai developer Java, sebagai aktifis politik/NGO, sebagai mahasiswa, sebagai istri/suami/anak yang baik… Pokoknya, ada dimana-mana.

“Bahagiakah mereka?”

Jawabannya tergantung… Apa definisi kebahagiaannya?

Ok, kalau begitu, pertanyaannya dirubah.

“Bahagiakah mereka di luar Indonesia?”

Jawabannya beragam. Namun, yang mengejutkan saya adalah… banyak sekali jawaban yang bermakna,
“Saya lebih bahagia di luar negeri. Karena di Indonesia, saya sering dipanggil cina”
Saya bingung, “maksudnya apa?”
“Iya, mereka suka memanggil. Cina… cina tuh… dasar cina… cina loleng makan babi sekaleng
Saya yang pada dasarnya memang telmi, bertanya lagi,
“Maaf, nggak ngerti, maksudnya apa?”
“Kamu tahu, panggilan itu kadang menyesakkan. Kadang saya ada di mobil kantor. Ia ada di sebelah, dengan motornya, kadang naik sepeda, kadang jalan kaki. Mataya tajam memandang dengan iri dan kebencian. Mulutnya mengeluarkan kalimat…’dasar cina’. Sedih saya. Seakan duduk di mobil adalah dosa yang tak berampun”

Saya diam saja. Bingung. Orang bodoh yang kebingungan. Tidak punya jawaban.

Ia melanjutkan, “Saya kira itu hanya sekedar ketakutan saja yang tidak beralasan. Namun sejarah membuktikan hal yang berbeda. Menjadi ‘cina’ di Indonesia, kadang-kadang adalah sebuah kutukan. Mulai dari proses membuat KTP yang dimahalkan. Bayar iuran kampung yang ditinggikan. Apabila ditilang, harus ‘sidang di tempat’. Sampai asumsi, mencuri dari orang cina, hukumnya halal. ‘Ahh, cina ini…’, adalah proses justifikasi mereka”

“Beberapa warga keturunan cina, memang sucks. Berkerjasama dengan pejabat. Mencuri uang rakyat. Lalu lari ke luar negeri. Tapi apakah semua warga keturunan seperti itu?”

“Saya ndak suka dipanggil cina. Sebagaimana saya ndak suka ada sebutan pribumi. Itu kan ciptaan penjajah. Mengklasifikasikan manusia. Membedakan, antara manusia kelas tertentu dengan manusia kelas kambing. Sebutan cina… atau pribumi… hanya makin melebarkan jarak antara manusia dengan manusia lainnya.”

Saya bengong saja. Mana bisa njawab?

Pulang ke Indonesia… saya tetap ke Glodok (*Glodokisme-nya masih belum hilang, hehe*). Tapi saya mulai memandang ngkoh-ngkoh atau enci-enci penjual maderbord atau CD/DVD dengan berbeda.

Dulu saya kalo nawar suka gila-gilaan, karena asas ‘Ahh cina ini…’. Sejak saat itu, saya jauh menghormati mereka. Mereka sama dengan derajatnya dengan adik saya, orang tua saya, tetangga saya, satpam sekolah saya… sama dengan manusia lainnya. Sama-sama manusia yang harus dihargai karena kerja kerasnya dan amal baktinya untuk manusia lain.

Tapi di Glodok, saya tetap bertanya “Koh, ada Asia Carera yang baru?”

Huehehe