Suatu malam, beberapa tahun yang lalu, saya sedang ngopi bersama seorang teman di pantai. Pantai itu indah, terletak di jauh terpencil di Indonesia bagian tertentu. Kebetulan dia sedang tidak berdinas/bekerja. Ia sahabat saya sejak kecil. Nasib membuatnya memilih jalan yang amat berbeda. Ia jadi pejabat bergaji kecil… saya jadi wong cilik yang doyan jalan-jalan. Hehehe.

Tiba-tiba sebuah motor membuyarkan pembicaraan kami mengenai Cilincing, kampung halaman tercinta. Seorang bintara muda, lengkap dengan seragam militer serta atribut Polisi Militer lompat lari kearah kami

Hormat khas militer. Lalu berkata sambil ngos-ngosan kepada teman saya, “Selamat malam komandan. DanLanud (Komandan Lintasan Udara, yang punya bandara militer) memanggil”

Teman saya (T): “Loh ada apa? Saya kan sedang cuti pelesir (*maksudnya berlibur*)”
Anak Buahnya (Ab): ” Siap komandan! alasan tidak bisa dikemukakan, ada sipil (*artinya:bukan militer*)
T: “Ok, saya segera jalan kesana”
Ab: “Siap komandan! tidak bisa, saya harus membawa anda sekarang”
Saya: “Loh, gue gimana dong? Masak lo bedua tega ninggalin gue sindirian di pantai in the middle of nowhere gelap-gelap begini?”

Teman saya dan anak buahnya berpandangan. Akhirnya setelah kompromi kilat mengenai keselamatan negara dan keselamatan anak manusia. Mereka sepakat membawa saya di motor. Dengan catatan, saya harus pakai walkman. Sebab mereka akan briefieng kilat di motor yang sedang melaju. Saya protes, sebab nggak punya walkman. Akhirnya, mereka menyuruh saya menutup kuping. (*Gila, emangnya gue anak kecil yang lagi disetrap?*)

Daripada ditinggal sendirian di pantai sepi. Saya pasrah menutup kuping. Tapi serapet-rapetnya ini kuping. Tetap saja kuping. Doyan mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak perlu di dengar. Hehe

Pembicaraan singkat. Motor melaju ugal-ugalan di jalan sepi. Mengenai lima pesawat tempur dari negeri yang jauh, sedang berada di atas udara Indonesia. Ini cuplikannya:
T: “Bajingan, Asu… kali ini siapa mereka?”
Ab: “Siap! Saya tidak mengerti komandan. Nampaknya sudah berputar dua kali. Radar menunjukkan mereka masuk dari selatan”
T: “Jakarta sudah dikabari”
Ab: “Siap! Sudah. Namun ibu presiden melarang aksi lanjutan. DanLanud harus konfirmasi berita dari Jakarta bersama komandan saat ini.”
T: “Ahh Jakarta!” (*saat ini, teman saya kelihatannya agak mengeluh*)
Lalu ia bertanya lagi pada si bintara muda, “Runway (*lintasan militer untuk pesawat tempur*) sudah disiapkan?”
Ab: “Siap! Sudah komandan?”
T: “Elang kita sudah siap?” (*elang itu sebutan untuk pilot pesawat buru sergap TNI-AU*)
Ab: “Siap Komandan! Elangnya sih siap tapi pesawatnya yang tidak. Hanya dua (pesawat pemburu) yang berangkat dari Iswahyudi (*nama pangkalan udara militer lainnya*). Kenapa begitu komandan?”
T: “Sebenarnya bukan urusan kamu. Tapi yaah sudahlah. F-16 kita ndak ada onderdilnya. Terpaksa di kanibal dari pesawat lain. Mirip metromini”

Sampai sini, saya ndak kuat nahan kentut. Akhirnya kentutlah saya dengan kencangnya.

Motor tiba-tiba berhenti. “Komandan, teman anda ikut mencuri dengar briefieng rahasia”, si bintara tiba-tiba berdiri. Motor oleng. Kami bertiga dengan sukses jatuh berdebum ke tanah. Si komandan ngomel-ngomel. Si bintara, diam saja, maklum bawahan, selalu kebagian sial. Saya… dengan pasrah, harus jalan kaki, karena kentut yang dianggap tertawaan oleh si bintara.

Yah begitulah ceritanya…

Loh, terus apa hubungannya dengan rahasia negara?

Hubungannya adalah, apa yang saya ceritakan di atas, sudah termasuk kategori Rahasia Negara. Yang aneh, bahkan sudah masuk ke dalam klasifikasi rahasia, yaitu membocorkan kekuatan tempur angkatan udara. Dalam klasifikasi ini, saya, menurut undang-undang tersebut, sudah dapat diganjar/divonis/dihukum dengan masa hukuman 20 tahun.

Gila… masa gara-gara nge-blog mengenai kentut… saya dimasukin penjara 20 tahun?

Peristiwa tersebut sudah dimasukkan kedalam wikipedia. Terus, wikipedia juga diganjar hukuman 20 tahun? Gimana caranya menahan wikipedia? Itu kan arus informasi publik yang amat berguna, gimana menahannya?

Kalau begitu… saran saya… janganlah membuat/mendukung undang-undang rahasia negara. Toh undang-undang itu cuma hanya melindungi kelakuan buruk senior-senior akademi bersenjata pada junior-juniornya. Toh undang-undang tersebut hanya melindungi segelintir oknum TNI yang doyan jual-beli senjata dengan uang negara demi kepentingan pribadi. Toh undang-undang tersebut malah membatasi publik.

Kalau undang-undang tersebut tidak berguna buat rakyat, lebih banyak mudharatnya daripada kebaikannya. Buat apa dibuat?

Sayang sekali, Pak Ju (Juwono Sudharsono, menteri pertahanan RI), tidak mengklarifikasikan hal ini ke dalam webblog pribadi beliau (*yang isinya bagus, tapi disainnya mirip koran angkatan bersenjata, hehe*). Sebab beliaulah yang harus menandatangani persetujuan akhirnya.

Republik Indonesia itu negara yang hebat,

untuk memakai bikini, negara disuruh buat undang-undang…

Sebentar lagi, untuk kentut, perlu dibuat undang-undang juga

Whehehe…