Saya geleng-geleng kepala mbaca tulisannya Mbak Vera disini, mengenai KBRI di Hesinki, Finlandia. Mbak Vera, bercerita, bahwa ia dimaki-maki oleh staff local KBRI Helsinki tanpa alasan yang jelas. Kasihan Mbak Vera.

KBRI adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia. (Seharusnya) Rumah bagi bangsa Indonesia yang ada di perantauan. Namanya rumah, seharusnya ya hangat, damai, tentram dan selalu dapat dijadikan tempat berlindung. Sebuah sanctuary. Tempat dimana kita (orang Indonesia) dapat merasa aman.

Staf KBRI, termasuk Duta Besarnya, adalah duta Indonesia. Mata dunia tidak hanya melihat Indonesia dari berita-berita yang ada pada media konvensional maupun nasional. Melainkan juga pada KBRI. Mengapa? … Jawabnya simpel… Itu adalah satu-satunya rumah negara yang berani-beraninya memakai nama negara.

Orang yang bekerja dalam KBRI, adalah orang yang merpresentasikan Indonesia. Kalau tidak merepresentasikan Indonesia… Ngapain ada di rumah resmi negara Indonesia?

(Mantan) Pekerjaan saya (*hmhm, maaf, model, hehe*), mengharuskan saya berkunjung ke beberapa negara dalam jangka waktu tertentu. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, (walaupun males luar biasa) saya selalu mematuhi anjuran pemerintah. Kalau ke luar negeri, jangan lupa lapor diri di KBRI.

Lapor diri, adalah sebuah istilah, dimana kita datang ke KBRI negara setempat, lalu paspor di stempel. Sebuah cap KBRI setempat beserta tanggal pelaporan diri. Mirip dengan plang-plang lokal kampung yang bertuliskan “Tamu 2×24 jam diharap lapor RT/RW”.

Apa gunanya lapor diri?

Ada tiga:
– Satu, sebagai alat pendataan manusia Indonesia yang ada di Luar negeri. Dulu waktu jaman ORBA, data ini digunakan sebagai database penelusuran musuh politik RI.
– Dua, kalo paspor ilang, gampang ngurusnya.
– Tiga, sarana nyari orang Indonesia lain yang ada di negara tersebut. Lumayan, fasilitas HELP dan Manual Book berbahasa Indonesia.

Gimana caranya lapor diri?
– Ke KBRI ajah, kalau bisa, paspor sudah di fotokopi. kalau tidak, biasanya di sana (KBRI) sudah ada mesin fotokopi.
– Ndak bayar… kecuali bayar ongkos ke KBRI untuk pelapor. Kalau KBRI minta bayaran… bilang sama petugasnya “Pak, kelurahan saja sudah mencoba anti-korupsi, masak di sini masih sih?

Balik lagi ke KBRI…
Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi KBRI Den Haag di Belanda. Beberapa teman sekolah saya mengajak reuni. Mereka janjian ketemuan di KBRI Den Haag ketika lebaran. (*Gila, reuni ajah jauh banget, nggak tahu diri!*).

Akhirnya kami ketemuan. Salam-salaman dengan Dubes yang sama sekali nggak saya kenal. Sepertinya acara lebaran ini adalah sarana mempopulerkan wajahnya pada publik Indonesia. Setelah salaman, agen saya, meminta saya berfoto bareng Pak Dubes. Beliau dengan ramahnya menyanggupi.

Ketika pemotretan, saya bertanya “Pak Duta Besar, banyak yaa orang Indonesia di sini?“.
Beliau menjawab “Iya banyak, dek” (*sejak kapan bapak menikah dengan kakak saya? Berani-beraninya manggil saya adek?*)
Bapak Duta Besar, kenal semuanya?
Wah, yaa ndak toh, dek. Orang Indonesia di sini ada sekitar 200 ribu orang yang terdata. Yang ndak terdata, mungkin lebih banyak
Saya menggumam, “Wahh, banyak yaa… Tapi bapak Dubes kenal semua orang Indonesia yang ada di kedutaan pada saat ini?
Bapak Duta Besar yang baik hati itu mukanya sudah mulai bete. Sepertinya beliau menangkap tendensi kalimat-kalimat pertanyaan saya. Pertanyaan saya ndak dijawab. Hehehe.

Ok, akhirnya saya juga males. Lalu, keliling-keliling ruangan. Say hi kanan kiri. Mengucapkan minal aidzin, yang menjadi sekedar basa-basi. Karena memang ndak kenal banyak orang. Ah ndak apa-apalah…

Akhirnya sampailah saya ke ruangan yang amat cocok dan saya cintai, dapur. Letaknya di lantai bawah. Di dapur KBRI ini, ternyata telah berkumpul manusia-manusia yang sejiwa dengan saya… doyan makan… makanan gratis.

Ternyata, kucing-kucing dapur itu… adalah para pegawai KBRI. Ada pengawal (*sebutan untuk KOPASSUS yang bertugas khusus mengawal duta besar*), ada admin IT, ada sopir, ada tukang masak… dan ada yang lain-lainnya.

Ngobrol berapa menit… yang berlangsung hingga berapa jam, amat menyenangkan. Saking senangnya, tiba-tiba diantara mereka ada yang nyeletuk… “Kamu mau ga kerja di sini?”

Astaga, kaget sekali saya? “Loh, bukankah untuk kerja di KBRI itu ada sekolah khusus?“. Si penanya tersenyum, “Iya benar… tapi kan nggak semua.. hehehe“.
Saya makin bingung. Terutama ketika ketawa, ia mengerling ke arah teman-teman lainnya. Yang dibalas dengan tertawa oleh teman-temannya.

Ia lalu menjelaskan, bahwa perekrutan di KBRI kadang-kadang tidak melalui Departemen Luar Negeri. Melainkan, proses pemilihan suka-suka si penguasa KBRI. Kalau suka, yaa disuruh kerja… setelah itu pulang ke Indonesia, disuruh kursus di Kementrian Luar Negeri. Lalu balik lagi ke luar negeri.

Yang parah, kalau langsung saja diterima kerja. Karena si penguasa suka orang tersebut. Nepotisme banget.

Penguasa KBRI bukanlah Duta Besar Republik Indonesia. Sang dubes yang baik, hanyalah orang yang bekerja selama 5 tahun. Selama itu pula masa dinasnya di KBRI. Penguasa KBRI adalah orang yang bekerja paling lama dengan pangkat paling tinggi. Seorang sesepuh yang dituakan. Benar-benar konsep feodalisme.

Kalau KBRI/Konsulat Jenderal masih begitu-begitu juga, gimana mau becus ngurus orang Indonesia?

Banyak kasus yang terjadi, surat-surat penting diplomat kepada menteri khusus, bocor di tengah jalan. Ternyata sebabnya, karena ketidak-tahuan sang diplomat menggunakan software pengirim surat Thunderbird. Si diplomat maen asal pencet. Surat-surat penting itu, tiba-tiba bisa diakses di milis-milis. Malu-maluin ajee bo!

Ya sudahlahhh… Kalo mau ngomongin borok KBRI, ga bakal ada habisnya. Sama seperti kalau saya merenungi borok sendiri. Ga ada habisnya.

Saat ini, yang paling baik, saya rasa adalah gotong-royong. Antara staf KBRI dengan WNI/WNA yang masih peduli Indonesia. Bersama meningkatkan kemampuan KBRI di lokalnya masing-masing.

Ayo KBRI/Konsjen RI… tingkatkan kemampuanmu.

Ayo orang Indonesia di luar Indonesia, jangan segan-segan membantu/mengkritik-membangun KBRI/Konjen untuk meningkatkan kemampuan rumah Indonesia.
.

.

Doa saya malam ini, “Ya Tuhan yang baik Tuhan bangsa Indonesia, semoga KBRI adalah rumah sebenar-benarnya rumah bagi rakyat Indonesia di perantauan… Amin