Ini cerita Jadul… jaman duluu banget. Ketika saya masih sekolah di Jatinangor, Bandung.

Setiap akhir bulan, pada masa weekend, saya suka pulang kampung, ke Cilincing, Jakarta.

Dari Bandung, kami biasanya konvoy ke Jakarta. Empat motor. Setiap motor 2 orang. Kalau capek bisa gantian ‘mbawanya’. Di depan, biasanya Gugun, adek saya, dan Odoy, tetangga saya. Paling buncit, bagian belakang, selalu saya dengan Jumari, anak paling pinter di kampung kami. Ketika yang lain masih sekolah, dia sudah jadi guru.

Tidak biasa-biasanya. Kali ini kami benar-benar jauh tertinggal. Bikers selalu peduli satu sama lain. Mereka sms menanyakan keadaan kami. Kami jawab “qt ok. Lo jln aj. Ga usah nunggu“. Sialnya, karena mencoba mencari jalur alternatif. Kami kesasar di antara Purwakarta dan Cikampek.

Kami berkendara diantara sawah-sawah yang menghitam. Waktu itu sedang kemarau. Parah. Kemiskinan makin merajalela antara jalur Purwakarta-Cikampek.

Saya sudah mulai bete, “Jum, dimana kita nih?
Jumari, “Mana gua tau!”
+ “Jum, kok banyak sawahnya gini?”
“Jangan-jangan kita di kesasar men?”
+ “Yee, kacau lo ah. Emang kita udah kesasar, bo!”
“Men, ngopi yuk. Sekalian numpang nanya.”
Saya setuju sekali. Kalau kesasar, yaa nanya. Paling enak, sambil nanya, sambil ngopi. Lebih enak lagi…, sambil makan. Hehehe.

Kami bingung menentukan lokasi target ngopi. Di kiri kanan penuh warung. Mending kalo warung padang atau warung tegal. Ini mah, warung ga jelas. Atapnya rumbia… dindingnya gedhek, dari kayu-kayu nggak jelas gitu deh pokoknya. Banyak banget warung di kiri kanan jalan. Tapi sepi… nggak ada pengunjungnya.

Akhirnya saya nekat. Membelokkan motor ke salah satu warung.

Warung itu, kelihatannya nggak minat jualan. Atau sudah kekurangan modal mendekati kebangkrutan. Isinya hanya beberapa toples yang berisikan jajanan pasar. Beberapa chiki-chiki-an dan kacang sukro bergelantungan manja minta dicowel-cowel.

Kami nunggu agak lama. Yang punya warung nggak ada, entah kemana?

Tiba-tiba seorang bapak-bapak muncul. Pakaiannya pakaian petani. Masih belepotan lumpur. Lalu berkata “Punten aa… Saya teh tadi masih di sawah. Maaf agak lama”. Oo, ternyata yang punya warung ini merangkap petani juga tho.

Jumari memesan mie instan. Saya memesan kopi.

Abis makan, kenyang dan bahagia. Baru deh kami nanya, jalan menuju jalan utama. Si bapak tani merangkap pedagang mie, memberikan alternatif tercepat. Sambil mengucap terimakasih saya lalu membayar makan plus kopi kepada si bapak. Tidak ada uang kecil. Terpaksa membayar dengan uang pecahan 50 ribuan.

Si bapak melihat saya dengan tatapan mata memelas “De, maaf… nggak ada kembaliannya. Saya tukerin dulu yaa”.

Saya jadi nggak enak hati. Ngerasa bersalah, tidak membayar pakai uang pas. Mau diikhlasin ga usah ngambil kembalian, bingung juga, itu uang terakhir. Ntar beli bensin gimana dong? Akhirnya saya menjawab dengan tidak kalah memelasnya “Iya deh Pak… Maaf yaa…”. Si bapak langsung pergi.

Kami menunggu si bapak.
5 menit berlalu…
10 menit berlalu…
15 menit berlalu…
Saya sudah mulai curiga… “Jum, kok si bapak ga balik-balik yeee? Jangan-jangan doski (dia) nggak niat balikin?”
Jumari menatap saya dengan kesal, “Lo to yee nggak tahu diri. Udah bayar pake uang segede godam. Giliran nunggu kelamaan… Protes! Huh!”.
Saya malu “Maaf Jum… Maaf…”
Jumari mash kesal, “Maaf ke si bapak. Su’udzon lo. Doyan buruk sangka ama orang”.

Tiba-tiba si Pak Tani datang. Kali ini didampingi seorang anak kecil. Anak perempuan, kira-kira berusia 14 tahun. Anak itu kurus. Tangannya kurus… mukanya kurus… kakinya kurus. Terus-terusan menyedot ingusnya. Sepertinya sedang pilek.

Pak tani tatapan matanya makin menghiba. Lalu berkata, “Dek…, saya teh sudah cari kemana-mana. Tidak ada yang punya uang kembali. Ini desa orang susah, Dek”
Saya bingung, “Lah, terus gimana dong Pak?”
Pak tani itu menggandeng si bocah perempuan, mengangsurkannya ke saya. “Ini dek… bawa anak saya”.

Saya makin bingung… “Pak, sebelumnya saya minta maaf. Karena tadi saya buruk sangka kepada bapak. Saya kira bapak mau melarikan uang kami. Tapi ini, emang anak ini kenapa Pak?”

Si Pak Tani menangis, “Ini, saya nggak ada kembaliannya. Bawa anak saya sebagai kembaliannya… Ini… Bawa anak saya. Terserah, anak saya mau adek apain juga ga apa-apa”.
Ia makin menangis.

Saya antara kesal amarah, karena si Pak Tani ‘menjual’ anaknya. Dibawah harga 50 ribu rupiah. Ditambah lagi bercampur bingung. Kenapa ia melakukan itu?

Jumari bertanya, “Pak memangnya ada apa?”

Si pak tani sambil menangis… cerita… bahwa mereka miskin. Miskinnya sudah sampai taraf susah hidup. Mau makan saja susah.

Sawah kering. Kemarau panjang dan sistim irigasi yang tidak baik, membuat petani mati kutu. Satu-satunya cara bertahan hidup, yaa minjem pada lintah darat.

Ketika hujan mulai turun. Kesialan tidak berhenti. Jenis padi IR5 yang dibanga-banggakan Orde Baru, dan dipakai oleh para petani Pantura sejak puluhan tahun, ternyata diserang sejenis hama khusus. Hama itu hanya bisa dimatikan oleh pestisida. Ketika Orde Baru mati, pemerintahan berganti, subsidi pestisida ditarik. Harga pestisida melambung tinggi.

Bagaimana cara membeli pestisida? Yaa minjem lintah darat lagi. Hutang semakin membengkak. Namun, para petani nan lugu itu berfikir… ‘ahh, nanti ketika musim panen tiba. Pasti aku bayar’ seraya berfikir akan pesta untuk mengawinkan anak-anak mereka.

Nyatanya, ketika panen tiba. Dunia bergerak ke arah globalisasi. Seumur-umur para petani itu ndak tahu apa artinya globalisasi. Hingga suatu hari… di pasar kampung mereka ada beras Thailand. Lebih sehat, tanpa pestisida. Lebih besar bijinya, karena perkawinan hybrid… dan lebih murah.
Para petani itu tiba-tiba dipaksa melihat kenyataan pahit.
Utang semakin membengkak. Biaya hidup semakin tinggi. Jangankan sekolah… makan saja susah!

Anak-anak gadis mereka… Lari ke Jakarta. Entah jadi buruh pabrik… Entah jadi babu… Bahkan jadi pelacur.

Sudah bukan rahasia, di kampung miskin, yang rumahnya terbuat dari batu dan semen… adalah orangtua yang anaknya menjadi pelacur di Jakarta.

Lalu saat ini… anak itu… anak perempuan… 14 tahun… Di jual bapaknya kepada saya… Dengan harga dua bungkus mie instant, dua gelas kopi… dan beberapa puluh ribu rupiah.

Gila!

Akhirnya, yaa sudahlah … ikhlasin saja uang kembaliannya. Saya dan Jumari melanjutkan perjalanan menuju Cilincing. Di Bekasi… Saya sms Gugun, adik saya. “Tolong Jemput. Bensin abis. Pom Bensin Harapan Indah. Mayday. Emergency”. Hehehe.

Di perjalanan pulang… Jumari berkata kepada saya… “Men…, untung lo bukan germo”.

Saya membatin, “Iya yaaa. Untung gue bukan germo! Kalo gue germo, gimana ceritanya?”

(*Kalo saya germo. Ini pasti web porno…. Pasti… Pasti! …. hehehe*)