Saya, lahir dan dibesarkan di Cilincing. Salah satu desa yang diklaim oleh (mantan) Gubernur Jakarta, Wiyogo (yang saya lupa nama belakangnya), sebagai desa IDT. IDT adalah singkatan Inpres Desa Tertinggal. Sebagaimana ada kalimat ‘Inpres’. Maka itu adalah sebuah instruksi langsung dari presiden. Toh, inpres artinya Instruksi Presiden.

Waktu itu presiden RI adalah Pak Harto. Bayangkan, seorang Pak Harto memperhatikan desa saya? Wuhuuyyyy!!! (*teriak gembira campur bete*)

Cerita lebih lanjut mengenai Cilincing, akan saya sambung kapan-kapan. Saya hari ini, hanya mau cerita musik yang ada di Cilincing.

Di Cilincing, hanya dikenal dua jenis musik. Yaitu dangdut dan bukan dangdut.

Yang termasuk kategori dangdut, adalah lagu-lagu yang dinyanyikan Rhoma Irama, Iis Dahlia, Evie Tamala, Jaja Miharja, Trio Macan dan gerombolan -gerombolannya itu.

Yang termasuk kategori bukan dangdut adalah, musik yang dinyanyikan Iron Meiden, KISS, Dewa, Padi, KORN, Andrea Bocceli, Agnes Monica beserta konco-konconya. Trio Hutabarat, Rindik Bali, hingga Bina Vokalia Pranadjaya juga termasuk kategori non-dangdut.

Setiap pagi, semenjak kecil, setiap anak di Cilincing sudah dicekoki musik dangdut.

Bangun tidur, pagi-pagi, habis sholat subuh. Tetangga dengan bangganya, menyetel “Demi Nyai” yang dilantunkan Jaja Miharja. Volumenya bagaimana? Jelas nyaingin musholla dong! Emang musholla ajah yang boleh adzan kenceng-kenceng?

Lalu, setiap anak yang pergi sekolah dengan menggunakan angkutan perkotaan, sejenis minibus, bernama KWK 05 (yang warnanya merah kinclong). Diwajibkan oleh supir harus mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama yang sudah dialih-bahasakan menjadi bahasa Minang. Sebab sopirnya dari Padang. Kalau sopirnya dari Jawa Tengah, mereka akan mendengarkan lagu dangdut yang ditransformasikan ke dalam bahasa Jawa. Atau apabila tidak, maka Didi Kempot lah yang akan menggantikan posisi Bang Haji Oma Irama.

Siang-siang… Dangdut dalam bahasa Bugis berkumandang. Anak-anak kecil Cilincing dari kecil sudah mengetahui siapa itu La Podding, penyanyi dangdut versi Bugis, Sulawesi Selatan. Kalau nggak tahu, berarti waktu kecilnya kurang gaul!

Apabila hari menjelang malam… maka musholla lokal akan menyajikan irama gambus. Dulu pernah diusulkan, lebih baik memperdengarkan pengajian saja. Namun usul ini ditolak warga. Sebab yang mengerti bahasa Arab hanya si Amat dan si Gugun. Dan dua orang itu jarang di kampung, biasanya mereka ada di pesantrennya.

Maka itu Dewan Musholla yang terdiri dari seorang penjual air di gerobak yang berpakaian haji, Pak Haji Amir, setuju saja usul warga, agar sebelum Magrib diputer lagu gambus. Kalau bisa, yang nyanyi Muchsin Alatas. Sebab namanya berbau Arabiyah.
Logika warga adalah, apabila tidak bisa mengerti lantunan bahasa Arab. Maka lebih baik mendengar lagu yang dibawakan oleh orang yang bernama kearab-araban.

Haji Amir sebenarnya protes, tapi warga jauh lebih kuat. Sebab panggilan ‘Haji’ di depan nama Amir bukanlah didapat dari haji yang berangkat ke Mekkah. Melainkan karena beliau gemar memakai pakaian putih, sorban, dan minyak wangi sebotol kecil seharga lima ribu rupiah yang katanya berbau surga (dikit).

Maka, kesepakatan warga, apabila Haji Amir protes, maka panggilan ‘Pak Haji’-nya akan dicopot.

Haji Amir pusing. Daripada pusing sendirian, maka ia memanggil kami, anak muda Cilincing untuk diminta saran. Kami sebenarnya enggan. Tapi Haji Amir mengancam, apabila panggilannya tidak dituruti, maka ia akan mengunci pintu musholla ketika malam. Dan itu adalah ancaman yang berbahaya. Sebab anak muda Cilincing, kalau malam, pulang begadang maen kartu remi, pasti tidur di Musholla. (*Loh emang ga bisa pulang ke rumah? “Halah, siapa yang mao bukain! Andai dibuka, pasti di’nyanyi’in dulu oleh orang rumah”*).

Akhirnya, Haji Amir dapat saran dari kami. Yaitu sebagai ganti Muchsin Alatas, sebaiknya ia memutar lagu-lagu Iwan Fals saja. Akhirnya, pada suatu sore, adzan magrib berkumandang setelah diiringi lagu ‘Mata Indah Bola Pingpong’-nya Iwan Fals.

Warga protes berat.
Pertama, karena Iwan Fals tidak mempunyai nama Arab.
Yang kedua, warga protes, sebab Muchsin Alatas belum meninggal dunia, mengapa harus digantikan ‘anak baru’?
Ketiga, Iwan Fals ternyata tidak menyanyikan irama gambus. Sebab hanya irama gambus saja yang dapat menggantikan posisi dangdut di hati warga Cilincing.

Hasilnya adalah, warga tidak ada yang ke musholla untuk sholat magrib!

Jelas Haji Amir ngamuk berat kepada kami, anak-anak muda Cilincing. Sejak saat itu, tidak ada lagi Iwan Fals di musholla kampung kami (hiks). Sejak saat itu, setelah sholat isya, musholla dikunci. Sejak saat itu, kalau mau maen remi, sebaiknya sambil ronda. Sebab ada kalo kecapekan, bisa tidur di Poskamling.

————————-

Sayang, ini cerita beberapa tahun lalu. Saat ini, Cilincing mungkin bukan lagi IDT. Kafe-kafe ‘ajeb-ajeb’ menjamur menggantikan dangdut. Kafe ajeb-ajeb artinya kafe yang menawarkan music house. Mereka menjamur di kiri-kanan jalan antara pelabuhan Tanjung Priok hingga Bekasi.
Isinya?
Ya jelas penyelubungan prostitusi.

Kramat tunggak adalah salah satu lokalisasi pelacuran terbesar di Jakarta. Lokasinya bersebelahan dengan Cilincing. Ketika lokalisasi ini dihancurkan, diganti dengan simbolisasi kemegahan islami. Sebuah masjid terbesar di Asia Tenggara. Hancur pulalah lokalisasi prostitusi.

Hancur?

Benarkah hancur?

Ahhh… nggak toh. Memang bisa menghancurkan pelacuran, sebuah profesi tertua di muka bumi?

Prostitusi tidak mati. Melainkan pindah ke kantung-kantung daerah di sekelilingnya. Salah satunya adalah ke Cilincing.

Hukum alam, atau sebuah bencana, entahlah. Yang pasti, Haji Amir tersingkir. Digantikan para pelacur yang berdandan dengan aduhai dan semlohai. Dengan rokok mengepul terselip di bibir nan hitam tertutup gincu merah merekah.

Kali ini, anak-anak kecil Cilincing, pada pagi hari, tidak mendengarkan Oma Irama atau Ona Sutra versi Minang…
Melainkan teriakan…

Hoiii, pulang…, bini lo noh nunggu di rumah”