Februari 2007


Kampung saya, Cilincing, tiba-tiba menjadi heboh… Super heboh… Sebab Mamanya Eka akan pulang kampung.

Loh mengapa menjadi heboh? Mamanya Eka toh tidak baru pulang berhaji. Sebab kan tiap orang Indonesia yang baru pulang dari naik haji, apabila pulang kampung, warga sekampung heboh. Ada yang minta oleh-oleh air zamzam. Ada yang minta kurma Arab, hingga cinderamata dari kulit onta. Ahh, mengapa harus heboh? Mamanya Eka kan bukan dari Mekkah?

Ibu saya ikut-ikutan heboh. Dua hari sebelum Mamanya Eka pulang, Ibu sudah larut bersama ibu-ibu lainnya di dapur rumahnya Eka. Bantu masak-masak, kata Ibu. Ibu lalu melanjutkan, “Kasihan Mamanya Eka, kalau tidak kita sambut. Tiga tahun di Arab, jadi pahlawan devisa kampung kita. Masak nggak ada sambutannya”.

(lebih…)

Iklan

(Aduh, saya masih suka cerita jadul. Kali ini cerita pada tahun 1997. Sebuah kisah di daerah pinggiran Jakarta, bernama Depok. Cerita nyata yang ditulis tanpa bermaksud riya sedikitpun)

Tahun 1997, kemiskinan akibat krisis ekonomi yang mulai menggerogoti Indonesia perlahan mulai terlihat di Depok, sebuah daerah di pinggiran kota Jakarta. Indikasinya di Depok cukup aneh, yaitu anak-anak jalanan banyak sekali mulai bermunculan.

Anak-anak itu umumnya ingusan, bajunya jelek banget, bau keringet apek, tapi masih kecil… badannya kurus, item, lalu menampakkan diri di angkutan-angkutan perkotaan. Sambil membawa kecrekan, alat musik yang dibuat dari sebatang kayu segenggaman tangan, dilubangi paku, trus di hiasi tutup teh botol. Kalau digoyang, tutup teh botolnya berbunyi ‘crek-kecrek‘. Maka itu disebut kecrekan.

(lebih…)

(Lagi-lagi cerita jadul. Jaman masih abege beneran. Jaman ketika masih bersama Haji Amir)

Sebagai abege yang tumbuh dan besar di Cilincing. Maka idola kami yaa tidak jauh-jauh, pasti sekitaran Cilincing juga. Saya dan teman-teman mengidolakan Pak Joram Sinaga, guru fisika SMP.

Mengapa Pak Joram? Karena beliau jenggotnya gondrong. Udah gitu, bewokan pula. Keren deh. Mirip jagowan-jagowan di pelem RCTI (pada masa ini, satu-satunya stasiun televisi swasta). Pak Joram diidolakan karena rambut-rambut halus yang tumbuh di mukanya. Walaupun Pak Joram tidak begitu tampan, yang penting dia punya jenggot, yang kami tidak punya.

(lebih…)

(Lagi-lagi cerita zaman baheula. Waktu saya masih ngganteng. Hehehe)

Dalam dunia foto model, dikenal istilah audisi. Sebenarnya, istilah ini hanyalah penamaan belaka.

Audisi pertama bagi seorang model adalah ketika sang model ditentukan layak atau tidaknya, masuk kedalam sebuah agensi.

Agensi sendiri, sebenarnya adalah semacam manajemen yang akan mengatur jadwal pemotretan, atau berapa kali sesi pemotretan dalam sebulan, hingga bayaran seorang model. Biasanya, dalam agensi ini ada beberapa manajer yang membawahi/’mengasuh’ model-model.

Sementara audisi kedua, seringkali disebut dengan “bertemu client“. Bertemu client, adalah peristiwa dimana sang model akan bertemu produsen iklan/event/dll serta pemilik produk. Pada saat ini, sang produser akan menaksir, apakah karakter sang model cocok dengan produk yang akan diiklankan. Mirip pembeli daging di pasar. Liat-liat dagingnya dulu sebelum dimasak. Kalau perlu, dicowel-cowel, meyakinkan kesegaran dan kekenyalannya. (*iih jijay*)

(lebih…)