(Lagi-lagi cerita zaman baheula. Waktu saya masih ngganteng. Hehehe)

Dalam dunia foto model, dikenal istilah audisi. Sebenarnya, istilah ini hanyalah penamaan belaka.

Audisi pertama bagi seorang model adalah ketika sang model ditentukan layak atau tidaknya, masuk kedalam sebuah agensi.

Agensi sendiri, sebenarnya adalah semacam manajemen yang akan mengatur jadwal pemotretan, atau berapa kali sesi pemotretan dalam sebulan, hingga bayaran seorang model. Biasanya, dalam agensi ini ada beberapa manajer yang membawahi/’mengasuh’ model-model.

Sementara audisi kedua, seringkali disebut dengan “bertemu client“. Bertemu client, adalah peristiwa dimana sang model akan bertemu produsen iklan/event/dll serta pemilik produk. Pada saat ini, sang produser akan menaksir, apakah karakter sang model cocok dengan produk yang akan diiklankan. Mirip pembeli daging di pasar. Liat-liat dagingnya dulu sebelum dimasak. Kalau perlu, dicowel-cowel, meyakinkan kesegaran dan kekenyalannya. (*iih jijay*)

Sebenarnya proses ini memuakkan. Sebab kadang-kadang diwarnai dengan prostitusi terselubung. Tapi, biasanya agensi mewajibkan hal ini, karena termasuk dalam kontrak kerja.

Salah seorang manajer agensi yang saya kenal dalam dunia permodelan adalah Jeff. Nama aselinya sih Jupri. Anak Rawabelong, betawi aseli. Tapi karena ia menganggap nama Jupri sering dianggap tidak menjual, kampungan, dan tidak mencirikan ‘gaulisme’ (Faham/aliran yang menganggap anak-anak gaul di Jakarta adalah segalanya, jadi harus diikuti, mulai dari bahasa hingga merek baju). Maka Jupri mengganti namanya menjadi Jeff.

Suatu hari Jeff menelepon saya, “Rif ada audisi. Lo harus ketemu client”.
Saya menjawab, “Males ahh Jeff. Lagi musim ulangan umum nih. Nanti sekolah gua kacau”.
Suara diseberang sana berubah jadi tajam, “Are you stil wanna be in this business or not? Kalo nggak mau, masih segudang noh orang yang mao posisi lo saat ini”

Saya jadi bimbang. Ini pertanyaan yang sulit. Apapun jawaban saya, pasti ada konsekuensinya. Namun akhirnya saya menjawab, “Ok deh, kapan dan dimana?”

Dari Jeff, saya mendapatkan informasi, bahwa saya harus bertemu seorang klien dari negeri tetangga. Tidak jelas, apa produk yang harus saya iklankan.

Eng… ing… enggg… Akhirnya saya bertemu juga dengan klien tersebut. Kami makan malam di sebuah restoran di dekat gedung wakil rakyat di Jakarta. Anehnya, ia sendirian. Biasanya, apabila makan malam resmi, produser dan fotografer pasti ada.
Aneh, kenapa ia sendirian?

Ia, lelaki setengah baya. Bewokan. Mirip koboi. Sebut saja namanya Jinggo-San. Sebab ‘San’ adalah panggilan orang yang lebih tua di negaranya. Ia memanggil saya Arif-Kun.’Kun’ adalah panggilan sayang dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
Walahh, kenapa ia memanggil saya dengan sebutan kesayangan?

Malam semakin larut. Jinggo-San semakin banyak minum-minuman keras. Bahasa inggrisnya makin kacau. Saya memanggil taksi, untuk mengantarkannya ke hotel tempat ia menginap. Dan harus setengah memapahnya untuk masuk ke kamar hotel.

Di kamar hotel, Jinggo-San muntah. Baunya minta ampun. Lalu meletakkan tangannya ke pundak saya.
Astaga, mengapa ia meletakkan tangannya di pundak saya?

Saya sudah gemetar. Dalam hati sudah membatin bahwa akan terjadi kejadian yang amat tidak diharapkan. Lalu mulai berdoa. Segala macam doa mulai saya rapalkan. Mulai dari Ayat Kursi hingga An-Nas. Parahnya, karena panik, yang keingetan dan keluar dari mulut hanyalah doa sebelum tidur.

Waduh, saya tambah panik. Saking takutnya diperkosa, airmata mulai menggenang. Dalam hati, saya semakin membatin, “Apa kata dunia apabila daku dicabuli lelaki bewokan setengah baya?”

Lalu, saya berandai-andai, 5 atau 10 tahun kedepan. Ketika saya dan teman-teman akrab reuni. Lalu mereka saling bertanya ‘pengalaman pertama’ alias pengalaman ketika kehilangan keperjakaan.
Nday, akan menjawab “Ama Dini dong, waktu SMA”. Lalu Bengki dengan istrinya yang tercinta. Atau Oco dengan bangganya akan menceritakan setiap detil lekuk tubuh janda muda sebelah rumahnya.
Namun, ketika giliran saya menjawab, akankah saya berkata sambil menunduk terisak, “Men, gue disuruh nungging, dicoblos paksa oleh bapak-bapak buncit mabok di kamar hotelnya!”

Huh! Tidak mungkin!
Itu tidak mungkin akan terjadi!
Emangnya gue partai pemilu, doyan dicoblos!
Huh, tidak mungkin!

Dengan keberanian yang saya paksakan. Saya menatap wajah si Jinggo-San. Lalu berkata, “Mister, don’t touch me ok! Saya masih perjaka nih! Kamu bukan istri saya. Don’t touch me, okay!”

Jinggo San marah. “Hey, Arif Kun. Saya tidak mau kamu. I want gurul… GURULLL… not you!”

Wah apaan tuh gurul?
Saya makin bingung.
“Eh mister… gurul itu apa?”

Sambil sempoyongan ia menjawab, “Gurul… GURUL… perempuan… you know?”

Ooo ternyata, gurul itu masudnya girl. Perempuan, dalam bahasa Inggris. Si Jinggo-San ini ternyata kesusahan melafalkan kalimat tersebut.

Saya lalu lari ke WC, menelepon Jeff dengan amarah yang luar biasa. “Hey Jupri…, kunyuk lo. Bajingan. Lo mau menjual pantat gue sama babon bewokan ya?”. (*aduhhh, bahasanya*)

Jeff menjawab, “Rif, maaf gue juga nggak tahu. Yang gue tahu, lo kan punya banyak temen cewek, nah temen-temen cewek lo lah yang disuruh menemani si Jinggo-San itu. Lo cuman jadi pancingan doang”

Saya tambah emosi, “Eh Jupri, sundel lo. Lo kira muka gue ada tampang germonya?! Lo kira di jidat gue ada stempel mucikari! Yang bener ajah dong lo! Ah sudah lah, pokoknya gue cabut dari sini!”

Suara Jeff menjadi memelas, “Rif, bapak yang ada di kamar lo itu penentu keputusan sebuah project besar di transportasi Indonesia. Biaya untuk servis dia saja sekitar 15% dari anggaran total project. Lo bakal dikasih duit gede. Namanya duitnya ‘anggaran entertaintment’. Itu sudah ada dalam proposal loh. Wuih pokoknya duitnya guedhe deh, Rif. Dan lo tau ga kenapa dia ada di Senayan. Karena dia official adalah tamu resmi Indonesia. Ayo berbuatlah sesuatu untuk Indonesia?”.

“Najis lo Jeff. Atas nama Indonesia, pantat gue harus berkorban! Kenapa bukan lo yang disini? Kenapa gue yang harus jadi tumbal?”. Lalu telepon saya matikan dengan semena-mena.

Ketika hendak mengambil tas untuk pulang. Suara Jinggo-San menggelegar “Arif-Kun, kamu tahu… Kalau tidak ada gurul malam ini. Tidak ada kereta api baru untuk Indonesia. Tidak ada bis baru untuk Jakarta. No gurul… no trein… no bus…!”.

Saya tidak peduli.
Di bangku sekolah, kami tidak pernah diajarkan, bahwa Bung Karno dan Bung Hatta harus mengangkang atau membuat orang lain mengangkang agar Indonesia bisa merdeka.

Saya pulang. Membelah malam dengan taksi. Menuju Cilincing tercinta.

Beberapa hari kemudian, di koran ramai diberitakan, hibah kereta api baru lintas JABOTABEK (Jakarta Bogor Tangerang Bekasi) dari negara tetangga.

Beberapa hari kemudian, di tivi, para pejabat negara, mencoba bis baru hadiah untuk Jakarta dengan senyum terkembang.

Saya hanya meringis, sambil bertanya-tanya,
“siapa gurul yang telah dikorbankan untuk mengangkang?”