Kampung saya, Cilincing, tiba-tiba menjadi heboh… Super heboh… Sebab Mamanya Eka akan pulang kampung.

Loh mengapa menjadi heboh? Mamanya Eka toh tidak baru pulang berhaji. Sebab kan tiap orang Indonesia yang baru pulang dari naik haji, apabila pulang kampung, warga sekampung heboh. Ada yang minta oleh-oleh air zamzam. Ada yang minta kurma Arab, hingga cinderamata dari kulit onta. Ahh, mengapa harus heboh? Mamanya Eka kan bukan dari Mekkah?

Ibu saya ikut-ikutan heboh. Dua hari sebelum Mamanya Eka pulang, Ibu sudah larut bersama ibu-ibu lainnya di dapur rumahnya Eka. Bantu masak-masak, kata Ibu. Ibu lalu melanjutkan, “Kasihan Mamanya Eka, kalau tidak kita sambut. Tiga tahun di Arab, jadi pahlawan devisa kampung kita. Masak nggak ada sambutannya”.

Oo, rupanya Mamanya Eka adalah TKW sukses. Pantas saja rumahnya Eka satu-satunya rumah di kampung kami yang punya TV 21 inci. Pantas saja Eka suka memamerkan gantungan kuncinya yang berwarna keemas-emasan dan bertuliskan arab itu di sekolah (*yang sebelumnya saya kira isim, jimat dari dukun*).

Mamanya Eka adalah contoh TKW sukses. Berangkat dari kampung yang melahirkannya, Cilincing, dengan modal semangat membara. Sejak krisis ekonomi meroket hingga menusuk tulang suaminya, Bapaknya Eka, seorang nelayan kecil. Sejak Bapaknya Eka terpaksa menjual satu-satunya kapal yang dipakai untuk mencari ikan, akibat harga diesel yang membumbung tinggi. Sejak mereka sekeluarga kehilangan harapan untuk tetap bisa makan. Maka, Mamanya Eka memutuskan bertarung melawan ganasnya iklim panas Timur Tengah.

Kali ini, Mamanya Eka pulang. Semua orang heboh, menyambut sang pahlawan. Adik-adik saya ikut-ikutan heboh. Bahkan si Gugun membantu Ketut menyiapkan janur untuk dipasang di depan rumahnya Eka. Alasannya, biar keliatan kayak pesta beneran, kata si Gugun. Sebab Ketut, yang biasanya suka mencari-cari kesempatan untuk membuat janur, dengan sejumlah biaya tentunya, kali ini memberikan janur gratis. Daun kelapa yang dipakai pun bener-bener fresh. Langsung dari pantai Marunda.

Cilincing heboh… Ahh, semua orang akan pesta menyambut sang pahlawan.

Kehebohan ini makin menggila, sejak di gelar rapat akbar antara para tetua-tetua kampung di kantor RW. Isunya jelas sama, yaitu bagaimana menyambut Mamanya Eka secara pantas. Pak Kambali, kepala sekolah sebuah STM deket kampung kami bahkan punya usul luar biasa, “Bapak-bapak, bagaimana kalau Mamanya Eka kita sambut dengan Marching Band. Gratis! Wong yang main kan murid-murid saya. Kita akan memainkan lagu-lagu perjuangan deh. Diantaranya Maju Tak Gentar, Halo-Halo Bandung, Garuda Pancasila dan lain-lain. Pokoknya lagu-lagu yang mencerminkan semangat bahwa kita bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”.
Hadirin tanpa dikomando langsung bertepok-tangan. Usul yang luar biasa amazing, kata Pak Udin, ketua RT 02.

Begitu tepok tangan usai, Bapaknya Eka bertanya pada Pak Kambali, “Pak Kambali, maaf, setahu saya sekolah STM bapak kan nggak punya marching band?”
Pak Kambali bengong, lalu garuk-garuk kepala, “Iya bener.. ehhh… maaf, saya lupa, STM saya nggak punya marching band. Maap yaa,… saking semangatnya mau menyambut pahlawan devisa, sampe lupa hal itu”. (*halah, kacau banget*)

Akhirnya hari H itu tiba sudah. Mamanya Eka pulang kampung. Dijemput oleh dua metromini dan 5 angkot (angkutan perkotaan). Isinya warga kampung yang belum pernah ngeliat airport. Bu Juju, tetangga sebelah rumah Mamanya Eka, termasuk yang paling heboh. Ke bandara bawa-bawa rantang yang isinya nasi, rendang hingga sayur asem. Bahkan beliau tidak lupa membawa tiker.

Musolah hari itu libur. Bukan sholatnya yang libur, tapi TOA, pengeras suara, yang libur. Sebab TOA mendapat kehormatan, memainkan lagu-lagu gambus dari rumahnya Eka. Yang jadi DJ-nya si Amat. Perintah langsung dari Pak RW. Sebab si Amat mengerti bahasa Arab, jadi, ia yang harus memainkan dan memilih kaset lagu-lagu gambus Arab yang cocok. Logika Pak RW adalah, kalau mengerti bahasa Arab, pasti mengerti selera musik orang Arab.

Saat yang dinanti-nanti tiba sudah. The moment of truth. Rombongan penjemput, dua metromini, lima angkot, sudah datang pulang ke kampung tercinta. Anehnya, Mamanya Eka malah datang belakangan, naik taksi. Mirip kisah-kisah dalam pelem roman perjuangan, warga yang berkurumun memadati areal rumahnya Eka tanpa disuruh menyibakkan diri, memberi jalan kepada sang pahlawan untuk menjejakkan kaki di rumah yang sudah tiga tahun tidak dipijakinya.

Bapaknya Eka sudah menanti di teras rumah. Wajahnya berseri-seri mirip pelek sepeda yang digosok minyak. Super kinclong. Melihat istrinya berjalan, ia mengembangkan tangan hendak memeluk dengan mesra. Meniru adegan pilem India yang ia lihat di TPI pagi-pagi. Ketika sang jagowan bertemu dengan gadis pujaan.

Loh, kok sang istri, Mamanya Eka, membawa bungkusan yang digendong dengan kedua belah tangan? Muka Bapaknya Eka tambah sumringah. Ini pasti oleh-oleh istimewa untuk saya, katanya dalam hati. Ketika sudah dekat, Bapaknya Eka melongok ke isi bungkusan. Lalu melongo menatap Mamanya Eka yang berkata. “Mas, maafkan saya”.

Ternyata, dalam bungkusan di gendongan Mamanya Eka, terdapat seorang bayi Indonesia cantik, dengan bulu mata lentik, hidung mancung, kulitnya putih bersih. Bayi itu, anak Mamanya Eka, dengan wajah setengah Arab.

Bapaknya Eka tiba-tiba jatuh tergeletak ke tanah, pingsan.