(*Setelah sekian lama menghilang dari rimba persilatan wordpress. Saya muncul kembali, ‘bangkit dari kubur’, kayak pelem horor Indonesia tahun 80-an. Hehehe… Ngomong-ngomong, terimakasih yee untuk doa, kunjungan, support, kartu dan semua bentuk dukungan, ketika saya sakit dalam beberapa minggu ini.*)

Beberapa minggu belakangan ini, saya hanya dapat jatah online selama 2 jam per minggu. Sebenarnya mau protes, tapi karena Bu Dokter amat lihay mempengaruhi keluarga saya, untuk menjauhkan saya dari monitor, maka protes saya seperti hilang tertelan angin.

2 jam seminggu, saya manfaatkan semaksimal mungkin (Kadang diselingi dengan mencuri beberapa menit waktu online tambahan. Huh! Maling!). Diantaranya adalah berbincang-bincang dengan para selebriti dunia blogsphere yang terhormat itu. Isu yang kami bahas antara lain adalah:
A. Petisi Online IPDN, apakah itu blunder bodoh atau solusi cerdas?
B. Bagaimana mencari calon istri yang ideal? (*topik yang aneh*)
C. Peran serta Blog dalam pembangunan Indonesia. (*Lebih ajaib daripada topik B*)

Lagi seru-serunya ceting. Tiba-tiba Bu Dokter datang:
+ “Permisi Pak, waktunya sudah habis”
– “Yaa Bu, nanggung nih.. dikit lagi aja dong. ”
+ “Aduh Pak, ndak bisa. Cepat dikit dong, saya sudah ditunggu disebelah”
– “Yaaa sayang banget nih. Saya tambah bayarannya deh”
+ “Maaf Pak, waktunya habis. Terpaksa saya cabut nih”.
Setelah itu, Bu Dokter sambil mencopot steker listrik notebook saya.

Apabila obrolan diatas didengar oleh pihak-pihak yang mempunyai imajinasi liar akibat dipengaruhi media interaktif dewasa, maka konotasinya jelas beda. Hehehe…

Ok, kita kembali diskusi.

Topik A: Isu IPDN (Blunder atau Solusi?)
Pertama, saya tidak mengharuskan anda memilih. Saya belum sekejam George Bush Jr, yang berkata “If you’re not with us, you’re with them” dalam mengklasifikasikan manusia/pemerintahan dalam upaya memerangi terorisme.
Kedua, apapun jawabannya, jangan pernah lupa akan kenyataan bahwa ada 4000 mulut anak manusia yang dipaksa atau terpaksa ditutup untuk menutupi kejahatan ini. Sejarah Indonesia jelas tidak akan mencatat ini sebagai peristiwa heroik, 4000 mulut bungkam menutupi pembunuhan versus 220 juta penduduk Indonesia yang meminta penjelasan penyalahgunaan wewenang dan uang rakyat.
Ketiga, jangan pernah melupakan ini. Ini bukan topik basi. Sudah terlalu banyak orang-orang baik yang meninggal sia-sia. Sementara kita melupakan pembunuhnya dan membiarkan mereka bebas bergentayangan tertawa-tawa bahagia dengan santainya.

(alm) Cliff Muntu dan (alm) Wahyu Hidayat bukan hanya nama. Mereka adalah manusia. Punya keluarga, punya sanak saudara, punya orang-orang mencintai dan dicintai. Sama juga, seperti (alm) Munir, (alm) korban-korban Tanjung Priok 1984, (alm) Korban-korban Dili 1991, (alm) lebih dari setengah juta anak manusia dalam pembantaian 1965.
Hukum pembunuhnya…, STOP TINDAK KEKEJAMAN.
Dan menghentikan tindak kekejaman bukanlah sebuah tindakan bodoh dan sia-sia.

Namun apapun hasilnya, Petisi Online adalah sebuah fenomena. Ketika ribuan manusia, tanpa saling kenal-mengenal. Tanpa pernah bertatap muka sebelumnya. Dipertemukan oleh sebuah halaman web. Menyatukan visi dan misi mereka. Hebat euy!

Ok sekarang kita lanjut ke topik B.
Topik B: Bagaimana mencari Istri yang ideal?
Hahaha… Saya nggak bisa jawab kalo ini.
Masalah selera sihh. Hahaha.
Ada yang selera kalo ama yang berjilbab. Ada yang berselera terhadap ‘penampakan’ depan dan belakang yang menonjol aduhai. Ada yang berselera kalau seiman. Ada yang berselera kalo ortu sang calon dari keluarga ber-bobot-bibit-bebet. Ada yang berselera apabila sama-sama berkulit coklat. Ada yang berselera kalau sang istri adalah laki-laki juga.
Hehehe… Maap ga bisa jawab. Masalah selera sih.

Diantara tiga topik yang dibahas. Topik ketiga adalah topik yang paling ajaib. Mirip diskusi panel yang diselenggarkan oleh departemen pemerintahan tertentu di hotel bintang lima. Bedanya, kalo diskusi hotel bintang lima digunakan untuk memindahkan uang rakyat ke kantong pribadi. Maka diskusi kali ini, memindahkan jatah online saya ke saldo 00.00. Hehehe.

Topik C. Apa peran serta Blog dalam pembangunan Indonesia?
Ketika diskusi topik ini. Saya punya dua opsi.
Opsi pertama, pura-pura menempatkan diri saya sebagai tokoh masyarakat. Usia setengah baya. Rambut klimis memutih kanan kiri. Namun bergaya hi-tech, ditandai kepemilikan HP kamera yang berpiksel tinggi. Dihormati kanan kiri oleh masyarakat. Di-ndoro-ndoro-i oleh pembantu saya di rumah. Lalu ketika weekend, memesan villa sepi di Puncak Pass untuk memadu kasih dengan penyanyi dangdut, mengkhianati istri di rumah sambil berlegitimasi “Mendingan begini deh, daripada poligami. Malu dong, tokoh masyarakat berpoligami, nanti dihujat di-Blog. Nggak perlu beli kambing kan buat makan sate?“.

Opsi kedua, saya sebagai Bangaiptop. Bukan tokoh masyarakat. Mantan pemuda jadul Cilincing yang sedang terbaring pasrah di rumah sakit akibat Hepatitis. Rambut gondrong dan sama sekali tidak pernah di-ndoro-ndoro-i. Dan percaya terhadap kekebasan pers tidak didominasi oleh insan pers dan penerbitan besar saja.

Saya memilih opsi kedua. Karena hanya itulah opsi yang saya punya. Dengan opsi itu, saya memulai percakapan diskusi ajaib. Ini adalah cuplikan teks layar monitor ketika awal-awal diskusi:
+ “Bang, aku nggak suka kalo IPDN dibubarkan”.
– “Yaa nggak apa apa. Tiap orang kan punya alasan tersendiri. Itu sah-sah aja, Neng”
+ “Bubar… bubar… apa-apa kok maen bubar-bubar saja! POLRI yang udah terang-terangan korupsi dari dulu kok nggak dibubarin? Itu mantan KAPOLRI, pulang dari kunjungan singkat ke Colin Powell, uangnya dia korupsi, terus ketangkep jelas-jelas di kamera TV Ostrali. Ditayangin di media-media TV Luar Negeri. Kok nggak diambil tindakan apa-apa?”
– “Haduh, kalo itu ga bisa jawab. Maap yaa. Kungfu saya masih cetek. Tapi, kalo POLRI-nya kita bubarin. Itu penjahat-penjahat di tampung di rumah siapa, Neng?🙂 Lagian kan, nggak semua orang di POLRI bungkam mulutnya. Masih banyak orang baik loh Neng di POLRI. Dan mereka berjuang mati-matian demi korpsnya”

Obrolan berlanjut lagi. Kali ini menjurus-jurus ke arah pribadi. Terpaksa saya sensor demi kemaslahatan umat manusia. (*Emang paling enak deh bertindak pribadi tapi pake ‘atas nama umat’, hehe. Ga ada yang hukum. Wong, si penghukumnya juga bagian dari umat*)

+ “Kok pendapat kamu ini ga dituangkan dalam blog?”
– “Males ahh, Bang. Ga ada gunanya. Toh Pak Harto yang mengklaim membunuh para orang bertato di awal tahun 1980-an dan sponsor utama Holocaust Jawa Timur 1966 saja tetap bebas hingga saat ini”
+ “Astagfirullahaladzim, Neng. Jangan begitu ahh. Pesimis tuh namanya”
– “Blog saya isinya curhatan saja. Terkadang malu pada Pak Urip, apalagi Wadehel. Blog mereka bagus. Bener-bener niat, niat nulis demi kebaikan”
+ “Hahaha, seleb cemburu pada seleb yang lain”
– “Tapi saya juga stress, Bang. Nulis opini pribadi di koran, selalu dibredel redaktur”.
+ PYETT!!! (Efek tulisan, artinya monitor mati)

Akhir kata, kami terpaksa dipisahkan oleh tangan lentik nan halus Bu Dokter yang mencabut stop kontak dengan semena-mena. Diskusi tertunda.

Tapi diskusi kan hanya tertunda, bukan mati. Ayo kita lanjutkan diskusi kita kali ini. Topik yang aneh, yaitu “Apa peran serta Blog dalam pembangunan Indonesia?”.

Ceritakan pengalaman anda, harapan anda, curhatan anda mengenai blog yang anda buat terhadap Republik Indonesia. (*sukur-sukur bisa mbantuin mas budi dalam menulis sejarah blog Indonesia. BTW, dikenal jadul dan penyakitan sebenernya bukan niat saya untuk menulis blog, hehehe.*).

Buah mangga buah kedondong… Cerita dong?