(* Ternyata Bu Dokter mbaca Blog saya dengan topik sebelumnya yang agak ‘serius’.. walhasil diomelinlah saya oleh Ibu Dokter yang manis itu. Ga boleh serius katanya. Hahaha. Ya udah, nulis yang enteng-enteng aja deh. Penontoon.. silahkan mampirrr. Tapi hati-hati loh. Tulisan ini panjang sekali*).

Sebelumnya, ijinkan saya memperkenalkan pada anda para pemain lakon yang akan menjadi korban tulisan kali ini. (*Tentu saja bukan nama sebenarnya. Sebab saya belum rela digebukin orang sekampung ketika pulang ke Cilincing nanti*)

Pelaku:

Ipul : 21 tahun. Jauh-jauh dari Flores, merantau ke Jakarta sebagai tamtama. Pangkat Prajurit Dua. Tampangnya lumayan oke lah. Biar kulitnya item, katanya item-item kreta api. Biar item banyak yang ngantri.

Junah: 19 tahun. Salah satu kembang desa Cilincing. Manis, cantik dan jago kosidah. Rebutan ABG Cilincing. Suaranya sungguh aduhai. Kalau berjalan pinggulnya bergoyang. Membuat para ABeGe jantungnya empot-empotan.

Udin Petot: Tokoh idola kita semua. Apabila ada orang ini disamping anda, maka dapat dijamin anda akan mengalami hari dan pengalaman yang cukup aneh. Walaupun bejat, cabul dan aneh, tingkat kesetiakawanannya lebih tinggi daripada teman-temannya Cliff Muntu, yang ketika temannya dikeprukin hingga mati, mereka malah memilih bungkam.

Bek Soip: Bapaknya Junah. Ganas, sadis, kumisnya baplang, mirip tokoh bandit dalam pelem-pelem 70’an dikala Rano Karno masih memulai karir jadi aktor. Cilincing aseli, tapi kelakuannya malu-maluin orang betawi. Ngaku-ngaku betawi, tapi jadi preman, memeras pedagang kecil. Kemana-mana bawa golok. Selain akibat masa mudanya bekerja sebagai jagal sapi, ia mengaku apabila bawa golok terlihat gagah perkasa. Padahal mah buat nakut-nakutin warga.

Arif alias Bangaip: Biasalah… pelengkap penderita.

Pak RW: Pensiunan perwira militer. Tokoh ini biasanya muncul belakangan. Mirip kiai dalam pelem-pelem horor Indonesia. Ketika hantu sudah merajelala, kiai dateng, baca-baca doa, hantunya bubar ketakutan. Menancapkan imaji pada anak-anak kecil bahwa kiai-kiai adalah penyelesaian instan semua masalah. Bedanya dengan kiai, Pak RW engga pake jubah, sorban, jenggot dan ga bawa tasbeh. Persamaannya= sama-sama dari instansi yang berkuasa di Indonesia, militer dan agama. (*kenapa yaa yang jadi penguasa kampung, kalo nggak tokoh agama… ya tokoh militer?*)

Haji Amir: Tokoh yang tidak kalah anehnya dengan Udin Petot. Bukan haji aseli. Tapi kemana-mana selalu pake sorban, peci putih, baju koko putih, dan sarung putih. Serba putih, niru-niru rumah sakit. Walaupun bukan haji, beliau selalu mengenalkan namanya kepada orang baru yang tak dikenal sebagai “Nama saya Amir… Haji Amir”. Begaya mirip James Bond kalo kenalan ama cewek cakep.

Ini cerita selengkapnya.

Hari sabtu sore, ba’da ashar, saya dan teman-teman nongkrong di pinggir musolah. Junah lewat. Nampaknya baru pulang latihan kosidah. Udara Cilincing yang pengap, bau, plus ditambah panas dan berdebu itu tiba-tiba terlupakan. Sosok Junah sungguh begitu menggoda. Semua yang ada di halaman musolah nampak terpesona.

Hanya sepasang mata yang terus menunduk. Matanya Ipul, anak baru. Entah kenapa, bisa sial, ditugaskan oleh komandannya ke Cilincing. Di pos penjagaan logistik. Ipul menunduk… Saya mengerti, Ipul sedang istigfar. Matanya tak kuasa menatap godaan pinggul Junah.

Ipul adalah prajurit idaman. Ganteng, gagah perwira, rajin sholat, jujur dan ga pernah lepas dzikir. Sayangnya, ia prajurit dengan urutan paling bawah. Artinya simpel, gaji kecil, tanpa tunjangan perumahan, dan masa depan yang suram. Sebab mereka-mereka inilah yang biasanya dikirim pertama ke garis depan pertempuran. Mempertaruhkan nyawa dengan bayaran tiga ratus ribu perbulan.

Ipul, walaupun gajinya kecil, tetap menjunjung tinggi kode etik yang ia percayai. Ia tidak menjadi beking diskotik, judi koprok, apalagi lokalisasi pelacuran liar yang banyak bertebaran di Cilincing. Sebagai gantinya, Ipul lebih memilih puasa senin kemis. Ipul adalah tentara yang luar biasa.

Tapi… persetan dengan Ipul. Lamunan saya sedang tertuju pada Junah.

Saat ini hanya ada Junah.. dan Junah seorang. Oh Junah… tiada hari yang indah tanpa kehadiranmu. Andai Iwan Fals pernah bertemu denganmu, pasti kau akan dijadikan tema salah satu lagu cintanya.

Disaat lamunan saya sedang berasyik-masyuk dengan Junah. Tiba-tiba Udin Petot datang, tangannya menyenggol-nyenggol lengan saya. “Bang… Bang… Cakep banget tuh anak yaa. Siapa bang? Kenalin dong?”

Astaga… Wajah Udin Petot meruntuhkan sudah semua angan-angan indah yang saya bangun sore ini.

Belum sempat saya menjawab (dan mengusir) Udin Petot. Haji Amir muncul dari serambi dalam musolah. “Rip… Din… Beliin lampu neon untuk tempat wudhu. Kalo malem gelap tuh!”.

Astaga! Haji Amir seperti tidak pernah muda saja deh! Kan saya sedang cari cara mendekatkan diri pada Junah?
Ahh tapi… Tak kuasa saya menolak permintaan Haji Amir. Kemaslahatan umat lebih utama (*ceileee, boong banget! Padahal ngarepin uang kembalian lampu buat jajan*).

Udin Petot cengar-cengir, “Bang, ayo bang. Kita ke JAYA, beli neon! Saya ikut ama abang, dibonceng dibelakang motor. Sekalian jalan-jalan sore”.

Saya sebenarnya enggan pergi ke JAYA bersama Udin Petot. Sebab JAYA adalah bioskop satu-satunya yang ada di Cilincing. Maslahanya, tidak jauh dari bioskop ini, menuju ke arah selatan, adalah lokalisasi pelacuran yang amat terkenal di Jakarta, Kramat Tunggak. Saya khawatir, niat suci Udin Petot membeli neon musolah tergelincir jatuh ke pelukan wanita penghibur.

Sesampainya di JAYA, kami ke Toko A Hong, penjual elektronik terlengkap di Cilincing. Toko ini terletak di seberang bioskop. Saya masih memilih merek lampu neon yang daya listriknya kecil dan tahan lama ketika Udin Petot tiba-tiba menyenggol lengan saya:

+ “Ada apa sih Din? Cowal-cowel gue melulu. Emangnya gue sambel?”
– “Bang…, di samping toko A Hong ada toko bagus, Bang. Sumpah deh!”
+ “E-eeh… Lo mao maen lonte lagi yaa? Insap Din! Insaap!”
– “Bang, jangan kenceng-kenceng dong. Malu nih gua”
+ “Gue udah ga mao jadi korban lo. Cukup sekali ama Chyntia Putri!”
– “Demioloh deh Bang. Sumpah. Burut dah gue kalo maen lonte!” (*Burut=hernia*)
+ “Eh bocah, ti-ati lo. Sumpah bawa-bawa nama oweloh. Emang toko apaan sih”
– “Ga tau, Bang. Tapi didepannya ada tulisan gede RAHASIA KEJANTANAN PRIA”.

Wah… Yang namanya rahasia, selalu menarik untuk diungkap. Apalagi yang berbau kejantanan pria. Naluri abege saya terusik. Naluri ingin tahu. Namanya juga abege, pasti selalu mau tahu hal-hal yang membuat ia nampak lebih perkasa dibanding abege lainnya.

Segera setelah membayar neon untuk musolah. Saya dan Udin Petot nyelonong masuk ke toko tersebut. Toko tersebut tidak terlalu besar. Ukurannya 4 x 5 meter. Nampak beberapa meja dan bangku mengisi sebagian besar ruangan ini. Seperempat bagian toko, di bagian sudut ada bar. Di bar tersebut. tertampang botol-botol beraneka warna dan toples-toples berisi cairan-cairan aneh. Seorang mas-mas penjaga nampak duduk dibelakang bar. Sementara, kipas besar menggelantung di langit-langit toko, mengusir lalat-lalat Cilincing yang beterbangan kian-kemari.

Di dinding yang berwarna biru buluk itu, terpampang tulisan ajaib bercat kuning:

RAHASIA KEJANTANAN PRIA
– Tangkur Buaya, penambah stamina pria. Asli Kalimantan. Rp 500
– Anak Menjangan, pemuas selera wanita. Asli Irian. Rp 500
– Empedu Kobra, membuat garang di ranjang. Rp 1000
– Ginseng Korea, terbukti ampuh sejak zaman dulu kala. Rp 300

Saya melirik Udin Petot dengan tatapan mata menyelidik. Udin Petot langsung mendehem dan berbisik ke telinga saya, “Demioloh deh, Bang. Abis nyoba ini gue ga bakal maen lonte. Dan abang jangan takut, gue traktir, Bang!”. Saya manggut-manggut, meniru lagak pejabat yang sidak di lapangan ketika dijelaskan oleh pimpinan pelaksana proyek.

Karena ditraktir, jelas saya harus tahu diri. Saya memesan Ginseng Korea. Paling murah sih. Tidak lama kemudian, mas-mas penjaga itu mengambil toples besar yang berisi cairan dan akar berwarna coklat tua. Menuang isinya ke gelas. Lalu menyodorkan gelas tersebut pada saya. Saya memandang jijik ke arah cairan coklat di gelas saya. Senyum Udin Petot yang mengembang, membuat saya harus menelan ludah. Dan pelan-pelan meneruskan cairan aneh itu melewati tenggorokan. Meminumnya hingga tandas.

Di samping, saya lihat, Udin Petot sudah memulai eksperimennya. Tidak tanggung-tanggung, empat gelas warna-warni berdiri menantang dimejanya. HUPPP! Udin meminumnya satu persatu. Penuh percaya diri, tanpa rasa jijik dan enggan seperti saya. Udin Petot menjadikan dirinya kelinci percobaan.

Lima menit kemudian, saya merasakan badan saya terasa lebih panas. Sementara Udin Petot masih saja sibuk dengan eksperimennya. Beragam gelas warna-warni tampak sudah memenuhi meja kami. Saya mengajak Udin pulang. Badan saya terasa panas sejak meminum Ginseng Korea. Udin pun merasakan hal yang sama. Setelah membayar eksperimen mahal ini, kami pulang, menuju musolah.

Di perjalanan, Udin tidak henti-hentinya mengeluh. Katanya badannya terasa panas sekali. Saya curiga, jangan-jangan kami diracuni mas-mas penjaga toko. Tapi untuk apa? Apa motifnya? Kenal juga nggak?

Sebentar lagi sampai musolah. Namun Udin Petot nada suaranya sudah mulai meninggi. Ia sudah tidak kuat, kepanasan.

– “Ya olooh, Bang… Panas bener nihh”
+ “Sabar Din… Bentar lagi nyampe”
– “Ya oloh ya robi, panas beneeerr”
+ “Iya Din, sabar Din. Tapi ngomong-ngomong tuh lampu neon pegang yang bener dong! Jangan nyodok-nyodok punggung gue”
– “Aduh Bang, maap. Lampunya ketinggalan di toko rahasia kejantanan pria”
+ “Loh.. apaan tuh yang nyodok-nyodok punggung gue?”.

Udin tidak menjawab. Kami diam sesaat. Hingga akhirnya saya sadar. Efek minuman Rahasia Kejantanan Pria bukan hanya badan yang terasa panas melainkan juga…

+ “Bajingan lo Din! Mundur lo duduknya! Jangan mepet-mepet ke badan gue!”
– “Aduh Bang…, jangan dong Bang… Takut jatoh nih…”

Saya makin maju duduknya. Kearah setang motor.
Sial! Semakin saya duduk maju ke depan sadel motor. Semakin kuat Udin makin mencengkram bahu saya. Semakin pula saya rasakan sodokan-sodokan aneh di punggung saya. Sial!

Sementara lolongannya panasnya makin lama makin memilukan. Akhirnya saya tidak tega. Saya bawa dia ke rumah. Untung tidak ada orang di rumah.

Udin saya suruh mandi. Mendinginkan otak dan badannya. Saya sendiri terpaksa ganti baju. Keringat sudah membahasi pakaian saya. Sebagai gantinya, saya pakai sarung.

Udin Petot keluar mandi. Jalannya agak aneh. Kaki kiri dan kaki kanan tampaknya bermusuhan. Tidak lazim berdekatan seperti biasanya.

– “Masolooh Bang. Masih panas nihh… Ya oloh ya robi, ampunilah hambamu ini”
+ “Giliran kayak gini aje lo. Inget owloh!”
– “Ya olooh, Bang. Panas bener. Pinjem sarung dong. Huhuhu…”

Saya meminjamkan sarung kepada Udin. Matanya berkaca-kaca. Ia menangis. Saya tahu, ia takut apabila harus mengalami ereksi terus-terusan. Disfungsi ereksi adalah salah satu momok yang amat menakutkan bagi pria.

Udin tiba-tiba terjatuh. Tangisnya berhenti. Mungkin sudah sedemikian stressnya. Udin jatuh pingsan. Saya membopongnya ke sofa. Mencoba memberikan alas yang lebih baik.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Nampak Junah membawa rantang berisi makanan kenduri di ambang pintu. Tangannya yang menggenggam rantang terbuka.

GLOMPRANGGGG!!! Rantang tak berdosa itu jatuh bergelontangan di lantai. Junah menatap saya dan Udin Petot dengan tatapan mata terbelalak. Saya yang sedang menaruh bantal sofa untuk kepala Udin ikut kaget. Udin Petot sudah tidak sadarkan diri.

J: “Ya olooh, Bang… Aye nggak nyangka?… MASOLOOHHH!”
B: “Jun.. tunggu dulu Jun. Abang nggak ngapa-ngapain ama Udin”

Percuma. Junah sudah lari keluar halaman. Ia shock, melihat dua laki-laki berdekatan tanpa baju dan hanya memakai sarung. Salah seorang terbaring di sofa tak sadarkan diri dengan bagian atas sarung teracung tegak menatap langit.

Saya panik (saking paniknya, lupa pakai baju)… lalu lari ke rumah Pak RW. Menceritakan kejadian selengkapnya. Sebab gawat, apabila Junah (tanpa didukung data yang lengkap) lebih dulu melapor ke bapaknya, Bek Soip, bahwa saya coba memperkosa Udin Petot. Saya bisa dijadikan kornet oleh warga Cilincing.

Pak RW manggut-manggut mendengar cerita saya. Lalu memanggil Haji Amir untuk konfirmasi berita ini. Lebih sial lagi, saya harus menjelaskan bahwa saya hanya minum segelas ginseng ketika mereka berdua bertanya “Loh kamu kok nggak kena efeknya?”. Seakan curiga akan kejantanan saya jauh lebih rendah dibawah kualitas level Udin Petot. Bah!

Pendek kata, pendek cerita. Masalah ini akhirnya berlalu sudah.

Saya dan Udin Petot gagal mendapatkan Junah.

Tidak lama kemudian, Junah bersanding naik ke pelaminan bersama Ipul. (*Kalau sudah begini, kami punya kalimat sakti ‘Jodoh, maut, rizki udah ada yang ngatur’*)

Bek Soip bangga punya menantu militer. Mengamankan posisinya di Pasar Jongkok, sebagai penguasa tunggal penarik pajak tak resmi pedagang-pedagang kecil. Para pedagang kecil sebenarnya muak bayar upeti. tapi takut dibawah tudingan golok dan kumis baplang Bek Soip.

Ipul, yang malu dan bosan dijadikan tameng oleh mertuanya, pindah menuju villa kontrakan indah sambil memboyong istri tercintanya, Junah.

Tiga bulan setelah pindah mengontrak, Ipul menyadari, gajinya sebagai tamtama selalu habis hanya untuk bayar uang kontrakan dan makan. Tidak ada lagi acara bahagia pacaran jalan beduaan ke Ancol seperti masa pacaran dahulu. Sementara Junah membawa kabar berita gembira… kehamilannya sudah berjalan tiga bulan.

Empat bulan setelah pindah mengontrak, Ipul bimbang. Ia melamar kerja di Bar Monggo Mas di Tanjung Priok sebagai tenaga keamanan. Eufimisme sebagai beking dibelakang judi dan lokalisasi terselubung. Ia harus cari uang membeli susu hamil untuk Junah yang harganya makin selangit.

Ipul, tamtama yang luar biasa… Harus menyerah kalah dalam pertempuran antara gajinya melawan harga-harga di Jakarta. Bertekuk lutut dibawah ganasnya Ibukota.

Delapan bulan lebih kemudian, pulang dari Depok. Saya bertemu Ipul di stasiun Tanjung Priok.
+ “Eh Ipul, apakabar Pul?”
– “Sepi, Bang. Sudah jarang yang mampir kesini. Sejak banyak razia”
+ “Loh kok bisa sih. Emang jatah untuk polisinya ga ada?”
– “Kalau itu selalu ada Bang. Sekarang bukan hanya polisi sih yang razia, Bang”
+ “Eh iya, omong-omong kandungan Junah gimana?”
– “Itu lah masalahnya, Bang. Pusing kita ini cari-cari selah kiri-kanan”
+ “Pul, saya pulang dulu yaa. Mampir yaa ntar ke rumah”
– “Eh Bang… Maaf Bang… Boleh hutang”
+ “Untuk apa dan berapa, Pul?”
– “Junah harus di caesar, Bang. Butuh sejuta”
+ “Waduh maap, Pul. Saya nggak punya sebanyak itu. Kalo untuk makan sehari mah ada”
– “Maap bang merepotkan”
+ “Butuh kapan, Pul”
– “Dua hari lagi”

Saya tidak bisa membantu Ipul. Tidak punya uang. Namun, dua hari kemudian saya tetap ke rumah sakit. Menjenguk Junah. Bek Soip nampak di sebelah anak satu-satunya tersebut. Di luar kamar, banyak warga kampung yang mengantri untuk membesuk.

Dari sekian banyak orang, tidak terlihat batang hidung Ipul.

Udin Petot menghampiri saya. Tangannya menyodorkan koran kuning ibukota hari ini. Di halaman depan, terpampang headline besar ‘OKNUM TENTARA RAMPOK OJEK’. Di bawah headline, poto seorang laki-laki, hanya mengenakan celana dalam, badannya biru-biru dan berlumur darah kering bekas pukulan massa.

Walaupun foto mata sang pelaku sudah ditutupi blok hitam, saya masih mengenali Ipul disana.