Agustus 2007


(*Awas, cerita ini ada bagian joroknya*).

International Airport atau Bandar Udara Internasional, atau lebih baik, saya sebut saja sebagai bandara, adalah tempat yang unik. Bagi saya, ini adalah satu-satunya tempat di dunia yang membuat saya merasa sepi dan ramai dalam waktu yang sama. Ratusan, atau bahkan ribuan manusia, dalam perjalanannya, bertemu, berkumpul, lalu bicara satu sama lain. Bahasa mereka berbeda-beda. Mengagumkan.

Saya sering merasa kesepian di bandara Internasional. Dimana batas kekuasaan sebuah negara hanya dipisahkan oleh tipisnya kaca ruang embarkasi.

Maka itu, kalau melihat ada orang Indonesia di bandara, saya jelas gembira sekali. Walaupun kadang-kadang kegembiraan saya berujung dengan kebingungan, saya tetap senang bertemu orang Indonesia di bandara. Aduh, rasanya.. gimanaaa gituuu. Sukar dilukiskan deh.

Akibat bukan pekerja bandara namun sering berada di bandara, saya punya beberapa ritual yang biasanya saya jalani. Saking seringnya melakukan ini, saya bahkan menamakannya Ritual Bandara Bangaiptop, prosedur standar operasional bangaiptop ketika di bandara. Hehehe.

Ritual utama setelah turun dari pesawat, cari toilet. Sebab sebagai manusia, saya punya banyak kelemahan. Diantaranya adalah tidak bisa buang air besar di toilet pesawat. Rasanya aneh. Setiap mencoba untuk duduk di wece umum bermesin jet itu, saya selalu membayangkan Superman. Tokoh superhero, terbang dari bumi, dengan lambaian tangan manusia yang memujanya. Lalu diam-diam, setelah sampai di angkasa, jauh dari mata manusia, sambil terbang, ia jongkok, memelorotkan celananya, buang hajat di sembarang tempat di beberapa negara sekaligus. Tanpa bunyi “Plung!”…Aneh dan jorok. (*hehe, kan sudah diperingatkan, ini cerita jorok*)

Ritual kedua, ke toko musik, membeli CD pemusik lokal. Belajar mengenali daerah yang disinggahi melalui musik mereka. Memahami budaya secara selintas. Jadi, kalau ketemu orang lokal, ada bahan percakapan. Dan musik lokal adalah topik yang mengagumkan untuk mendapatkan kenalan baru.

Ritual ketiga, cari warung yang menjual teh. Sebab sejak berhenti merokok dan minum kopi, saya ‘melarikan diri’ dengan minum teh. Sambil mendengarkan musik, minum teh, lalu plarak-plirik. Kepala mirip kipas angin. Ke kanan, ke kiri, tidak bisa diam. Memperhatikan manusia-manusia yang lalu lalang. Ada yang berwajah letih setelah seharian duduk di bangku pesawat. Ada yang sedih karena harus pergi dari yang mereka cintai. Ada yang riang gembira, pakai baju yang terbaik yang ia punya, seakan-akan tujuan baru akan meninggalkan semua beban derita yang ditanggungnya. Ada pula yang peluk-pelukan dan cium ciuman seperti akan kehilangan bibir untuk selama-lamanya.

Ritual keempat, adalah awal kesedihan. Setelah menyadari, tidak ada seorangpun yang lalu lalang itu akan duduk singgah lalu bercakap-cakap di meja saya. Saya melihat kiri kanan sepanjang manusia warung. Memperhatikan, adakah kiranya gerangan manusia yang asik dijadikan teman bicara. ‘Korban’ baru yang akan memberi informasi sambil berdebat mengenai dunia lokalnya.

Ritual kelima. Kesedihan semakin berlanjut. Yaitu saat ketika proses ritual keempat saya gagal. Saya mulai jalan-jalan mengelilingi bandara. Cari informasi tour gratis, atau promo barang gratis… atau apalah. Yang penting ada hal yang bisa saya lakukan ketika di luar bandara gelap dan suhu mulai mendekati titik beku.

Ritual keenam, titik kulminasi kesedihan. Duduk, melamun di depan tivi bandara. Menyaksikan berita dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Mengeluarkan buku dari tas. Membuat sketsa. Lalu setelah selesai, buku sketsa ini dimasukkan lagi dalam tas. Sementara badan semakin letih. Kursi bandara semakin tidak nyaman menampung badan yang ingin selonjor tidur-tiduran. Badan semakin penat. Penerbangan selanjutnya terasa semakin lama.

Setiap mengunjungi bandara internasional, saya selalu berharap hanya akan sampai ke ritual ketiga. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Sebab saya selalu dipaksa oleh kondisi menelan bulat-bulat hingga ritual keenam. Maka itu, saya selalu merasa kesepian di bandara internasional.

Jadi, dapat anda bayangkan, betapa gembiranya saya bertemu orang Indonesia. Dan ini satu cerita ketika saya bertemu orang Indonesia di bandar udara Internasional non-Indonesia.

(lebih…)

(*Diilhami oleh komentarnya Daeng Ruslee di postingan terdahulu dan tangisan Mamanya Nina beberapa tahun lalu. Ia, orang tua siswi saya. Meminta saya melakukan injeksi SQL di sebuah forum nasional ternama lalu mencopot sebuah thread yang memajang file 3GP porno anaknya. Permintaan melakukan kejahatan itu saya turuti. Sebab walaupun belum punya anak, ada 60 lebih anak jalanan yang saya urus sedang belajar melek internet dan intip-intip situs porno. Membuat hati saya ketar-ketir juga*).

Dalam sebuah pidatonya, sastrawan terkenal, Taufik Ismail menyinggung mengenai kebablasannya dunia media menyikapi dunia seks di Indonesia. Pidato itu begitu menghebohkan. Hingga dikupas oleh blogger seterkenal Herman Saksono hingga dimuat kutipan pembantahannya oleh jurnalis PANTAU Andreas Harsono. Pokoknya, heboh.

Lepas dari pro kontra mengenai pidato Opa Taufik. Ada hal yang patut dicermati, yaitu topik pidato itu sendiri, Seks.

Mengapa seks menjadi sebegitu terkenalnya? Hingga harus jadi buku best seller di tangan seorang Moamar Emka? Atau dibicarakan secara berapi-api oleh para sastrawan muda dan tua Indonesia? Atau malah menghasilkan US$ 2 miliar transaksi online di dunia internet hanya pada tahun 2006?

Jawabannya bisa anda temukan di buku The Zahir karya Paulo Coelho. Katanya, gara-gara makanan. Aneh? Kalau penasaran, bisa anda baca sendiri di halaman 200 hingga seterusnya.

Tapi sayang sekali, saya tidak akan mengupas pidato Taufik Ismail, pro kontra eksploitasi seks di media Indonesia, bisnis seks di internet atau buku Paulo Coelho.

Saya akan membicarakan budaya seks di Nusantara. Hehehe.

(*Ketika yang lain bicara Hari Kemerdekaan RI, lagu kebangsaan yang kontroversi, lambang negara yang bias gender hingga bendera nasional yang katanya hanya modal ngerobek kaen biru bendera Belanda. Saya malah bicara topik abu-abu begini. Saya sudah pasrah. Apabila dituduh bandar seks setelah posting ini. Hehe*)
(lebih…)

(Mohon dampingi anak anda ketika membaca tulisan panjang ini)

Walaupun tentu bukan konsumsi publik, saya tetap akan bercerita bahwa beberapa waktu ini kami sekeluarga dihadang banyak kesulitan dengan kesehatan. Hingga harus mengungsi ke sebuah dusun di kaki bukit. Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah lebih membaik.

Walaupun ini bukan juga hal yang besar. Namun saya bersyukur ketika silaturahmi teman-teman di komunitas seni rupa SERRUM dengan Mat Obeng (mantan selebriti blogger yang membunuh blognya. Bukan nama sebenarnya) secara personal, membuat blog-blog baru hidup. Blog yang menceritakan kehidupan para guru yang mengajar seni rupa hingga blog pribadi para pekerja seni.

Walaupun ketakterbatasan blog adalah hal yang luar biasa. Namun ternyata mampu membuat jeri hati saya ketika membaca surat seorang ibu dari dua putra;
Mas Arif, putra sulung saya sekarang kelas dua SMU. Adiknya, 15 tahun, sekarang di madrasah tsanawiyah tingkat akhir. Kami adalah pembaca setia tulisan anda. Saya berharap, agar anda lebih sopan dalam menggunakan bahasa dalam tulisan anda. Karena anak saya masih kecil“.

Saya termenung. Takut untuk menulis. Saya sadar sepenuhnya, saya tidak pandai berbahasa.

Gemetar tangan ini, ketika pensil dalam genggaman sudah ada diatas kertas.

Walaupun sungguh sepenuh hati belajar, tetap saja bahasa Indonesia saya tidak mengalami kemajuan. Tiga minggu bergelut dengan rasa takut, akhirnya saya beranikan diri untuk menyalin tulisan melalui papan ketik AZERTY. Menulis dengan bahasa Cilincing. Menulis pengalaman masa kecil. Menulis apa yang ada di otak dan di hati.

Saya menulis, untuk melawan rasa takut. Saya menulis, untuk melawan lupa.

Dan akhirnya, ini tulisan saya. Judulnya Perawan Pantai Sampur. Sebuah kisah masa kecil saya ketika weekend di rumah kakek di Sampur, sebuah desa tetangga Cilincing.

Selamat menikmati cerita yang panjang ini. Hehe.

(lebih…)