(Mohon dampingi anak anda ketika membaca tulisan panjang ini)

Walaupun tentu bukan konsumsi publik, saya tetap akan bercerita bahwa beberapa waktu ini kami sekeluarga dihadang banyak kesulitan dengan kesehatan. Hingga harus mengungsi ke sebuah dusun di kaki bukit. Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah lebih membaik.

Walaupun ini bukan juga hal yang besar. Namun saya bersyukur ketika silaturahmi teman-teman di komunitas seni rupa SERRUM dengan Mat Obeng (mantan selebriti blogger yang membunuh blognya. Bukan nama sebenarnya) secara personal, membuat blog-blog baru hidup. Blog yang menceritakan kehidupan para guru yang mengajar seni rupa hingga blog pribadi para pekerja seni.

Walaupun ketakterbatasan blog adalah hal yang luar biasa. Namun ternyata mampu membuat jeri hati saya ketika membaca surat seorang ibu dari dua putra;
Mas Arif, putra sulung saya sekarang kelas dua SMU. Adiknya, 15 tahun, sekarang di madrasah tsanawiyah tingkat akhir. Kami adalah pembaca setia tulisan anda. Saya berharap, agar anda lebih sopan dalam menggunakan bahasa dalam tulisan anda. Karena anak saya masih kecil“.

Saya termenung. Takut untuk menulis. Saya sadar sepenuhnya, saya tidak pandai berbahasa.

Gemetar tangan ini, ketika pensil dalam genggaman sudah ada diatas kertas.

Walaupun sungguh sepenuh hati belajar, tetap saja bahasa Indonesia saya tidak mengalami kemajuan. Tiga minggu bergelut dengan rasa takut, akhirnya saya beranikan diri untuk menyalin tulisan melalui papan ketik AZERTY. Menulis dengan bahasa Cilincing. Menulis pengalaman masa kecil. Menulis apa yang ada di otak dan di hati.

Saya menulis, untuk melawan rasa takut. Saya menulis, untuk melawan lupa.

Dan akhirnya, ini tulisan saya. Judulnya Perawan Pantai Sampur. Sebuah kisah masa kecil saya ketika weekend di rumah kakek di Sampur, sebuah desa tetangga Cilincing.

Selamat menikmati cerita yang panjang ini. Hehe.

PERAWAN PANTAI SAMPUR

Waktu kecil, saya punya idola (sebab katanya setiap orang butuh idola, personifikasi pahlawan pribadi). Idola saya adalah Oman. Tetangga sebelah rumah kakek. Remaja tanggung yang baru beranjak dewasa.

Oman itu kakaknya Omat, teman saya. Sedangkan Omat itu, kakaknya Ojak. Orangtua mereka punya tabiat aneh, menamai anak dengan awalan aksara serupa.

Oman jadi idola, karena ia yang paling besar diantara kami. Dan kami hanya bisa menatapnya iri, ketika ia mencuri-curi minum bir milik Encang Engkos, paman saya, kakak laki-laki Ibu yang berkerja di sebuah instansi militer.

Setiap akhir minggu, saya dan adik saya, Gugun, menginap di rumah kakek di Sampur, tidak jauh dari Cilincing. Kami menyukai Sampur. Rumah kakek luas. Kakek saya pensiunan polisi, mencari nafkah dengan buka bengkel di samping rumah. Nama bengkelnya CV Haji Ali. Di depan rumah, jalan raya, setelah itu pagar kawat. Dibalik pagar, membentang laut, pangkalan kapal super besar pengangkut tepung terigu untuk BOGASARI, pabrik mie instan terbesar di Indonesia

Kata kakek, orang Indonesia tidak suka mie instan. Mereka baru kenal mie instan, setelah pada tahun 70-an, Amerika menghadiahkan gandum luar biasa banyaknya ke Indonesia. Gandum itu, diolah kemudian menjadi mie instan yang dibantu distribusinya oleh negara. Ketika orang Indonesia mulai menyukai mie instan, sejak saat itu pula terjadi ketergantungan terhadap petani gandum Amerika.

Namun saya tidak suka berlama-lama bicara dengan kakek. Saya lebih suka nongkrong bersama Omat dan Gugun melihat Oman merokok. Kelihatannya enak sekali ia menikmati setiap hisapan tembakau itu. Kami iri. Kami juga mau menimati seperti yang ia tengah rasakan.

Nampaknya Oman sadar, mata kami semua tertuju pada rokoknya. “Mau nyobain?” ia bertanya sambil merogoh saku. Kami serempak mengangguk.

Ia melemparkan sebatang rokok ke arah kami. Gugun, yang bertangan paling sigap, meraup rokok tersebut digenggamannya. Matanya menatap Oman sekali lagi. Oman jengah.

+ “Itu… buat betiga. Lo kan masih pada kecil-kecil”
– “yaaahhh… Abang”
+ “…”
– “Bang Oman… Apinya dong”
+ “Sapa bilang boleh dibakar!”
– “Laah… Trus mao diapain dong nih rokok?”
+ “Isep aje terus ampe bego”

Saya, Omat dan Gugun menggerundel dalam hati. Tapi tidak berani melawan Oman yang sepertinya tidak menyukai ide anak kecil merokok. Aneh, bagaimana mungkin kami, anak kecil, tidak merokok ketika melihat idola kami merokok? Namun akhirnya, kami hompimpah. Pemenangnya berhak menghisap rokok pertama kali.

Gugun yang menang. Berteriak senang, namun terdiam. Ia menatap rokok dengan tatapan bingung. Menghisapnya. Lalu menatap bingung batang rokok itu lagi. Itu rokok, diputar-putar. Dipelintir. Dilihat dari berbagai sudut. Diamati secara seksama.

Hingga, setelah menjilat filternya, Gugun teriak gembira “Enak… Enak… Manis!”. Ia menemukan cara menikmati rokok tanpa membakarnya.

Sial, saya kalah, kebagian yang terakhir mencicipi. Akibat digigit-gigit Omat, filter rokok basah. Filter itu sudah mirip payudara nenek-nenek, tidak berbentuk, kendur dan menggelendot manja.

Saya menatap Oman penuh protes. Oman bertambah jengah.

+ “Mao apa lo rip! Harusnya sukur luh, udah gua kasih rokok!”
– “Yaaa Bang, pilternya udah kempot gini. Tuker dong”
+ “Cerewet lo!”
– “Tuker dong!”
+ “Bosen gue dengerin lo. Gini aja, gue punya ide bagus nih”
– “Apaan?”
+ “Lo mao liat jembut perawan ga?”
– “Hah, apaan tuh?”

Mata saya berbinar-binar, seperti koin yang baru saja dicelup coca-cola. Walaupun saya tidak mengerti apa maksud kata jembut dan perawan. Saya tetap bahagia. Sebab perawan pasti ada hubungannya dengan cewek-cewek. Hehehe.

Oman, bagaikan juru bicara kampanye, mulai memberikan instruksi. Setiap orang, pada tenggat waktu, pukul tujuh malam nanti, harus memberikan uang dua puluh lima rupiah kepadanya. Oman bilang, dengan seratus rupiah kami akan mendapat tiga batang korek api. Instruksi selanjutnya, nanti.

Pada pukul tujuh, kami ke pantai sampur. Disana, Oman bilang, tinggal seorang wanita yang dikenal sebagai perawan pantai Sampur.

Kami berempat, naik sepeda ke pantai Sampur. Hari sudah gelap. Laut berwarna hitam. Riak air memantulkan gemerlap cahaya bulan. Diantara pasir pantai, terpancang tonggak-tonggak pengikat kapal kayu. Di ujung pantai di jalan Dairi, terletak Yacht Club. Tempat kapal pesiar orang kaya Jakarta bersandar.

Oman berhenti.Ia melangkah maju, menuju deretan perahu yang terpancang dan berayun di atas air pantai. Kakinya terus melangkah, hingga terbenam air selutut. Lalu lompat ke arah salah satu perahu. Dan ia menghilang di remangnya perahu malam.

Saya, Gugun, dan Omat menghela napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tidak lama kemudian. Oman loncat lagi ke air, berjalan ke arah kami. Di belakangnya, bayangan hitam. Lebih tinggi. Dalam remang malam, kami tahu, itu perempuan.

Oman lalu berbisik kepada kami. Jangan ada yang bicara. Sebab mereka akan bertemu dengan Perawan Pantai Sampur. Begitulah sebutan para awak kapal kayu pencari ikan kepada perempuan itu. Oman bilang, ia yang akan jadi juru bicara kami.

Perempuan itu tiba di hadapan kami. Di luar pagar sudut Yacht Club. Saya tidak bisa mendeskripsikannya. Malam terlalu gelap.

Di sudut lain, kami yakin ada beberapa pasangan. Tidak yakin mereka bicara apa. Yang terdengar hanya bunyi clepak-clepok. Bunyi yang aneh. (*sekarang, saya tahu sumber bunyi itu dan darimana asalnya, hehe*)

Perempuan itu memandang kami. Ia kaget dihadapannya ada satu remaja tanggung dan tiga anak kecil.

– “Lo tau kan peraturannya. Cepek itu tiga batang?” (*cepek=seratus*)
+ “Iya… Iyaa… Gue tau. Udah cepet buruan!”
– “Kalo Nopek, lo boleh grepe-grepe” (*nopek=dua ratus*)
+ “Eeh… Eeehh… Kalo itu gue ga tau…”
– “Kalo gopek. Lo boleh nyoblos. Ini paling enak” (gopek=lima ratus*)
+ “… eeehh ….eeehhhh …ga ada lagi. Cuman segitu duitnya”

Oman menunduk malu. Namun, perawan Sampur tidak peduli. Ia mengajak kami lebih ke sudut. Mengeluarkan korek api kayu tiga batang. Korek api pertama ia nyalakan.

Dengan tangan kiri, ia memegang korek api yang menyala. Tangan kanan, menarik kausnya keatas.

Astaga ternyata ia tidak pakai beha. Wow! Cihuyyy!

Saya meneguk ludah memandangi isi kausnya. Nampaknya Omat, Gugun dan Oman juga melakukan hal yang sama.

Namun pemandangan dua bukit ajaib di balik kaus itu tidak berlangsung lama. Korek api cepat sekali dibakar oleh tiupan angin pantai.

Korek api kedua dinyalakan. Kali ini, perawan Sampur menyingkap roknya tinggi-tinggi keatas.

Dalam keremangan malam dan dibawah temaram sinar bulan, saya masih mampu melihat cahaya korek api diantara mata-mata kecil yang terbelalak kaget. Mata yang baru pertama kali dalam hidupnya melihat bulu gondrong hitam kribo menjalar kemana-mana di area selangkangan.

Hanya dalam tempo hitungan detik. Korek api kedua tandas dimakan angin.

Saya protes… Tidak jelas. Kurang deket. Perawan Sampur misuh-misuh.

Kali ini. Korek ketiga dinyalakan. Mata kami sudah membelalak gembira. Sebab kali ini kami sudah tahu, apa yang harus dilihat. CESSS… Korek api batang sulfur itu menyala.

Perawan Sampur mendekatkan korek ketiga, ke arah selangkangannya. Mata kami, dalam tempo sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelas sekarang memandangi lautan rambut tersebut. WOHOOOO…!

Tiba-tiba angin pantai bertiup lebih keras ke arah sudut tempat kami berdiri. Api bergoyang keras. Menyambar ke arah rambut bagian bawah perawan Sampur.

Astaga! Api itu merambat dari satu rambut ke rambut lainnya.

Perawan Sampur berteriak kaget. Ia melolong dan meloncat-loncat. Menepuk-nepuk selangkangannya yang berkobar-kobar. Lalu, masih teriak-teriak. Lari secepat kilat ke arah laut. Memadamkan api di selangkangannya.

Perawan Sampur, jembutnya terbakar.

Kami, sambil ketawa-ketiwi, juga lari. Ke arah sepeda. Kabur. Takut dipukulin satpam yang berlari ke arah kami.

BLARRRR!!!

Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras sekali.

Dari ujung jalan. Di depan Yacht Club. Sebuah panser merembet maju. Tiba-tiba terdengar lagi banyak bunyi ledakan. Lalu disusul oleh rentetan bunyi senapan otomatis di udara.

Secepat kilat kami mengayuh sepeda menuju rumah. Namun sial. Di ujung jalan. Ada barikade kawat berduri menghalang. Kami mengayuh sepeda berputar, ke arah Kober, pekuburan warga setempat.

Tiba-tiba, sepanjang jalan berubah bagaikan neraka. Di ujung jalan, setelah kuburan, terlihat Apotik Priok meledak dan terbakar. Malam ini berubah menjadi mimpî buruk yang nyata.

Di arah utara, laki-laki dewasa, berlarian di jalan seraya berteriak Allahu Akbar dengan sekeras-kerasnya. Mata mereka nyalang. Di tangan mereka, teracung golok seperti akan menghunjam udara.

Di selatan kuburan, terlihat orang berpakaian loreng-loreng menembakkan senjatanya ke udara. Api berkobar dimana-mana.

Rumah-rumah buruh pelabuhan di sekitar kuburan membara terbakar dimakan api.

Astaga, kami ada di tengah zona pertempuran!

Sepeda kami tinggalkan. Kami lari menuju rumah. Di rumah, wajah kakek keruh. Ibu terlihat luar biasa gembira, melihat saya dan Gugun selamat.

Situasi rumah kakek sungguh aneh. Kakek, walaupun sudah pensiun, memakai seragamnya. Encang Engkos, juga pakai seragam. Ia menyandang senjata. Bersama Encang-encang saya lainnya, mereka menjaga pagar depan rumah.

Di dalam rumah, lebih aneh lagi. Banyak orang. Tetangga-tetangga saya. Ada Koh Ahseng yang memeluk istrinya. Ada Enci Anyan beserta anak-anaknya. Aneh, kenapa keluarganya Oman nggak ada? Saya bertanya pada Ibu. Ibu menjawab “Mereka bukan Cina. Jadi nggak bakal diapa-apain”.

Ibu melarang kami keluar. Namun saya dan Gugun masih memikirkan sepeda yang kami tinggalkan di Kober. Kami takut sepeda itu dicuri orang. Saya lebih takut dimarahi Ibu kalau sepeda itu hilang. Sebab sepeda itu, sepeda BMX berwarna merah, adalah sepeda pertama yang saya dapatkan dari uang kenduri ketika saya disunat.

Saya sudah bertekad, sepeda itu harus kembali. Saya sudah menukar segumpal ujung daging di tubuh demi sepeda itu.

Pura-pura ke WC. Saya lari menuju Kober. Dalam gelapnya malam. Tersandung-sandung kuburan. Mencari sepeda saya yang tertinggal.

BLARRR!!!

Suara ledakan terdengar memekakkan telinga. Saya merunduk diantara nisan-nisan kuburan. Mengintip apa yang sedang terjadi.

Dalam gelapnya malam, cahaya api dari rumah yang terbakar tidak mampu menyembunyikan sosok Oman yang ikut-ikutan gerombolan massa berteriak-teriak Allahu Akbar di luar pagar kuburan. Ia tidak memegang golok. Hanya ikut-ikutan orang dewasa lainnya.

Mulutnya lantang teriak Allahu Akbar berulang kali.

Saya teriak-teriak memanggil Oman, namun sepertinya ia tidak mendengar.

Dari ujung jalan lainnya, segerombolan orang berpakaian loreng-loreng muncul. Mereka bertemu. Oman berteriak keras “ALLAAHUU AKBAAARRR” dan lari menerjang gerombolan loreng.

Mata saya tak berkedip ketika cahaya kobaran api memperlihatkan salah seorang loreng membidikkan laras senapannya ke arah Oman.

BLAMM!!! Cahaya terpancar dari ujung laras.

Oman tersungkur. Jatuh. Memegang dadanya, menghunjam bumi. Oman bersimbah darah meregang nyawa.

Di belakang gerombolan loreng itu. Ada truk besar. Saya lihat, tubuh Oman yang terkapar mengerang ajal, dilemparkan oleh dua orang loreng ke dalam truk.

Oman dilemparkan begitu saja. Seperti kambing kurban yang baru disembelih ketika Idul Adha. Mereka tidak hanya memungut tubuh Oman, melainkan tubuh-tubuh lainnya yang terlentang penuh luka di Jalan Dairi. Hidup atau mati. Dilemparkan ke dalam truk itu.

Di belakang truk, ada mobil blanwir, pemadam kebakaran. Merah dan berkilat di timpa cahaya api yang berkobar-kobar disepanjang jalan. Dengan selangnya, mobil itu menyemprot sisa darah di jalan-jalan. Menghilangkan sisa kekejaman terhadap Oman. Air itu, mereka anggap mampu menyucikan darah Oman yang tertumpah sia-sia.

Malam itu, 12 September 1984. Saya mengayuh sepeda cepat-cepat menuju rumah. Lari sejauh-jauhnya dari ladang pembantaian warga kampung. Lari sejauh-jauhnya dari kepengecutan saya yang tidak mampu membela Oman.

Sejak malam itu. Saya tidak pernah membicarakan Oman. Ia seperti larut dalam kenangan yang memualkan perut saya. Kenangan atas kepengecutan saya.

Malam itu, sepertinya terlupakan. Walaupun wajah kakek bertambah keruh ketika Encang Engkos dikeluarkan dari pekerjaannya. Kata Ibu, “Cang Engkos katanya udah nggak cocok lagi pake seragam gara-gara ga dines waktu temen-temennya maranin kampung kita“.

Lalu, tidak lama kemudian, Cang Engkos jadi satpam Yacht Club. Pemiliknya, teman kakek, pura-pura buta, memperkerjakan mantan ‘anggota’ yang punya tiga buletan kecil di ujung kanan KTP-nya. Tanda tidak bersih diri.

Sejak malam itu, sepertinya setiap orang bisu. Wak Alim dan Mpok Asih, tidak pernah mempertanyakan pada tetangga-tetangga, tentang hilangnya Oman, anak mereka.

Sejak malam itu, Omat dan Ojak tidak pernah lagi berteman dengan kami. Mereka pindah sekolah ke Bogor.

Sejak malam itu, hingga malam-malam beberapa minggu lalu, saya masih saja bermimpi buruk. Tentang kilatan api, nisan, dan Oman yang jatuh menghunjam bumi.

Saya sadar sepenuhnya. Menulis ini, tidak akan membuat Oman kembali.

Dan saya juga sadar sepenuhnya, bahwa sudah ada orang yang bicara, bahwa malam terkutuk itu adalah malam penuh dosa.

Dan saya juga sadar sepenuhnya, bahwa sudah ada pengadilan untuk mencari keadilan atas apa yang terjadi di malam itu. Walaupun hasilnya tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab atau harus dihukum atas kejahatan mereka terhadap Oman yang hingga kini tidak diketahui dimana kuburannya.

Namun saya tetap menulis.

Saya menulis, untuk melawan rasa takut. Saya menulis, untuk melawan lupa.

Walaupun saya menulis, sambil meneteskan air mata.