(*Awas, cerita ini ada bagian joroknya*).

International Airport atau Bandar Udara Internasional, atau lebih baik, saya sebut saja sebagai bandara, adalah tempat yang unik. Bagi saya, ini adalah satu-satunya tempat di dunia yang membuat saya merasa sepi dan ramai dalam waktu yang sama. Ratusan, atau bahkan ribuan manusia, dalam perjalanannya, bertemu, berkumpul, lalu bicara satu sama lain. Bahasa mereka berbeda-beda. Mengagumkan.

Saya sering merasa kesepian di bandara Internasional. Dimana batas kekuasaan sebuah negara hanya dipisahkan oleh tipisnya kaca ruang embarkasi.

Maka itu, kalau melihat ada orang Indonesia di bandara, saya jelas gembira sekali. Walaupun kadang-kadang kegembiraan saya berujung dengan kebingungan, saya tetap senang bertemu orang Indonesia di bandara. Aduh, rasanya.. gimanaaa gituuu. Sukar dilukiskan deh.

Akibat bukan pekerja bandara namun sering berada di bandara, saya punya beberapa ritual yang biasanya saya jalani. Saking seringnya melakukan ini, saya bahkan menamakannya Ritual Bandara Bangaiptop, prosedur standar operasional bangaiptop ketika di bandara. Hehehe.

Ritual utama setelah turun dari pesawat, cari toilet. Sebab sebagai manusia, saya punya banyak kelemahan. Diantaranya adalah tidak bisa buang air besar di toilet pesawat. Rasanya aneh. Setiap mencoba untuk duduk di wece umum bermesin jet itu, saya selalu membayangkan Superman. Tokoh superhero, terbang dari bumi, dengan lambaian tangan manusia yang memujanya. Lalu diam-diam, setelah sampai di angkasa, jauh dari mata manusia, sambil terbang, ia jongkok, memelorotkan celananya, buang hajat di sembarang tempat di beberapa negara sekaligus. Tanpa bunyi “Plung!”…Aneh dan jorok. (*hehe, kan sudah diperingatkan, ini cerita jorok*)

Ritual kedua, ke toko musik, membeli CD pemusik lokal. Belajar mengenali daerah yang disinggahi melalui musik mereka. Memahami budaya secara selintas. Jadi, kalau ketemu orang lokal, ada bahan percakapan. Dan musik lokal adalah topik yang mengagumkan untuk mendapatkan kenalan baru.

Ritual ketiga, cari warung yang menjual teh. Sebab sejak berhenti merokok dan minum kopi, saya ‘melarikan diri’ dengan minum teh. Sambil mendengarkan musik, minum teh, lalu plarak-plirik. Kepala mirip kipas angin. Ke kanan, ke kiri, tidak bisa diam. Memperhatikan manusia-manusia yang lalu lalang. Ada yang berwajah letih setelah seharian duduk di bangku pesawat. Ada yang sedih karena harus pergi dari yang mereka cintai. Ada yang riang gembira, pakai baju yang terbaik yang ia punya, seakan-akan tujuan baru akan meninggalkan semua beban derita yang ditanggungnya. Ada pula yang peluk-pelukan dan cium ciuman seperti akan kehilangan bibir untuk selama-lamanya.

Ritual keempat, adalah awal kesedihan. Setelah menyadari, tidak ada seorangpun yang lalu lalang itu akan duduk singgah lalu bercakap-cakap di meja saya. Saya melihat kiri kanan sepanjang manusia warung. Memperhatikan, adakah kiranya gerangan manusia yang asik dijadikan teman bicara. ‘Korban’ baru yang akan memberi informasi sambil berdebat mengenai dunia lokalnya.

Ritual kelima. Kesedihan semakin berlanjut. Yaitu saat ketika proses ritual keempat saya gagal. Saya mulai jalan-jalan mengelilingi bandara. Cari informasi tour gratis, atau promo barang gratis… atau apalah. Yang penting ada hal yang bisa saya lakukan ketika di luar bandara gelap dan suhu mulai mendekati titik beku.

Ritual keenam, titik kulminasi kesedihan. Duduk, melamun di depan tivi bandara. Menyaksikan berita dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Mengeluarkan buku dari tas. Membuat sketsa. Lalu setelah selesai, buku sketsa ini dimasukkan lagi dalam tas. Sementara badan semakin letih. Kursi bandara semakin tidak nyaman menampung badan yang ingin selonjor tidur-tiduran. Badan semakin penat. Penerbangan selanjutnya terasa semakin lama.

Setiap mengunjungi bandara internasional, saya selalu berharap hanya akan sampai ke ritual ketiga. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Sebab saya selalu dipaksa oleh kondisi menelan bulat-bulat hingga ritual keenam. Maka itu, saya selalu merasa kesepian di bandara internasional.

Jadi, dapat anda bayangkan, betapa gembiranya saya bertemu orang Indonesia. Dan ini satu cerita ketika saya bertemu orang Indonesia di bandar udara Internasional non-Indonesia.

Beberapa tahun lalu, dari sebuah negeri yang jauh dan akan menuju negeri jauh berikutnya, saya harus singgah semalam di bandara Taoyuan, Taipei. Pesawat yang saya tumpangi mendarat pada malam hari. Keluar dari pesawat, celingak celinguk mirip maling ayam. Bingung. Sebab selain bandara ini tidak terlalu banyak orang untuk ditanya, papan pengumumannya pun tidak ramah, karena menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti.

Dengan khidmat, saya lakukan RBB alias Ritual Bandara Bangaiptop. Baru sampai ritual ketiga. Saya melihat rombongan TKW asal Indonesia. Masya Allah, rupanya ini hari keberuntungan saya. Teh cepat-cepat dihabiskan. Lalu buru-buru ke arah mereka. Ingin mengobrol. Kangen berbicara dalam bahasa Indonesia.

Mengapa saya tahu itu TKW asal Indonesia. Gampang. Sebab saya kan TKI. Sesama tenaga kerja asal Indonesia, mudah mengidentifikasi satu sama lain. Hehe. Di antara ciri khusus yang saya endus adalah, mbak-mbak itu bergerombol. Pakaiannya seragam. Kalau yang pakai jilbab, bahkan jilbabnya juga seragam. Pakai jaket tipis dengan benang obras yang jahitannya mencuat kesana-kemari. Duduk kempet-kempetan, mencoba menahan dinginnya udara bandara di musim salju. Logatnya medok. Dialeknya khas dari Jawa Timur.

Saya gembira sekali bertemu mereka. Dari jauh, saya sudah senyam-senyum menatap mereka. Sambil nenteng-nenteng gitar, saya menghampiri gerombolan mbak-mbak itu. Sudah membayangkan, mau nanya pertanyaan standar “Mbak, asalnya dari mana?”, atau “Mau kemana mbak, ramai-ramai”, pura-pura buta, tidak membaca tulisan ‘KOREA’ sebesar kepala di belakang jaket mereka. Atau pertanyaan memancing kehidupan pribadi seperti “Aduuh, enak yaa kerja di luar negeri. gajinya pasti gede. Suaminya kasian dong ditinggal?”, seakan saya sedemikian bodoh tidak tahu beratnya himpitan ekonomi mereka sehingga harus meninggalkan sanak saudara dan dusun tercinta.

Sebelum saya menghampiri, saya lihat, mereka juga senyam-senyum ke arah saya. Dintaranya bisik-bisik. Waduh, saya jadi ge-er sendiri. Membayangkan bahwa mereka tengah membicarakan saya.

Tiba-tiba, mereka bangkit ramai-ramai. Lalu menghampiri saya. Wah, saya semakin kaget. Tiba-tiba dikelilingi mbak-mbak ini. Senyum saya tambah sumringah. Ini namanya jackpot. Bukan hanya akan bicara dengan satu orang Indonesia saja, tapi banyak orang Indonesia.

Tapi kok, ini malah merubung begini? Ada yang cubit-cubit pipi saya. Ada yang megang tangan saya, mengajak salaman. Ada yang minta foto bersama. Aduh ada apa ini?

Saya baru sadar, ketika mereka mulai bertanya. “Mas Once, ngapain kok ada di sini?”, “Kok nggak sama yang lain, mas?”. Di sudut lain, yang matanya mengerling genit bertanya “Mas Once, udah punya pacar belum?”. Trus mbak yang manis yang pakai jilbab bertanya, “Mas Once, katanya Mas Dhani suka main perempuan yaa?”. Astaga!

Yaa ampuun. Saya kaget bukan kepalang. Ini mah bukan jackpot lagi. Ini mah ajaib. Saya dianggap oleh mbak-mbak ini sebagai Once, vokalis DEWA, band asal Indonesia. Buset dah!

Saya terbata-bata. Tidak bisa berkata apa-apa. Akankah saya mengaku sebagai pemuda jadul asal Cilincing? Meninggalkan euforia sebagai selebriti palsu di negara orang? Padahal rasanya jadi selebriti itu enak juga. Dirubungi mbak-mbak yang seakan memuja. Akankah saya mengaku sebagai seorang Indonesia biasa yang tengah kesepian di sebuah bandara dan hanya butuh teman bicara? Sementara saya tahu bahwa menjadi Once untuk sementara dapat menghibur mereka. Minimal, ketika menelpon sanak saudara di kampung, bisa bilang “Eh, aku ketemu Once loh. Oncee gituu, vokalis Dewa. Dia lagi sendirian di Taiwan. Duh, aku sampe colak-colek pantatnya segala”.

Bibir saya bergetar.

Setelah berfikir cukup lama akibat godaan setan narsisme. Lalu pelan-pelan, saya berkata, “Mbak-mbak. Saya bukan Once, vokalis Dewa. Saya Arif. Teman-teman manggil saya bangaip. Tapi saya jelas bukan Once”. Mata saya memandang ke sekeliling.

Mereka kaget. Ada yang diam. Ada yang bisik-bisik. Tapi ada juga yang membantah, “Halaah, Mas Once. Sombong yaa. Pake ngaku-ngaku nama samaran segala”. Lalu ada juga yang berkata, “Mentang-mentang sudah terkenal ndak mau lagi melayani fans. Mas Once payah ahh”.

Waduh. Ini jelas simalakama. Ngaku sebagai Once, yaa salah. Nggak ngaku, juga bingung. Waduh.

Baru saja saya mau membuka mulut, tiba-tiba datang mas-mas. Mukanya sangar. Pake bewok segala. Logatnya bengis, berkata pada mbak-mbak itu, “Wis ayo sini. Kumpul! Kumpul semua! Baris yang rapi!. Ayo sini! Kumpul!”. Mbak-mbak TKW, seperti terkena hipnotis, mengikuti hardikan Mas Bewok itu. Semuanya berkumpul lagi. Berbaris. Diabsen satu-satu. Lalu disuruh duduk di lantai. Dan anehnya, mbak-mbak itu menurut saja.

Pemandangan di depan saya sungguh aneh. Mbak-mbak asal Indonesia. Usia 20 hingga 40 tahun. Bergerombol. Kepalanya menunduk. Mereka duduk berselonjor di lantai. Bersimpuh. Sementara banyak sekali bangku bandara yang kosong dan dapat di gunakan. Dan saya melihat sekeliling, dimana turis-turis juga memandang para TKW itu. Dimana para keamanan bandara dan pekerja maskapai penerbangan menatap pada para TKW itu. Dan mereka terus menatap para TKW itu.

Saya bilang kepada mbak-mbak itu agar duduk di kursi bandara. Karena lebih nyaman. Tapi Mas Bewok datang menghardik saya, “Sampeyan jangan mentang-mentang sebagai artis sok tahu anak didik saya yaa!”. Waduh, situasi makin aneh saja. Saya cuekin Mas Bewok ganas itu. Saya bilang sekali lagi pada mbak-mbak itu agar duduk di kursi bandara. Sayang sekali, suara saya tidak didengar. Mereka tetap terpekur menunduk. Membisu.

Badan saya semakin letih. Tidak tahu harus berbuat apa. Saya duduk di kursi bandara. Melihat tivi dengan berita yang saya tidak mengerti. Mencoret-coret sketsa di buku. Dan menatap para mbak-mbak itu, digiring Mas Bewok ke gerbang penerbangan mereka yang selanjutnya. Mereka masih membisu. Dengan kepala menunduk pergi menuju negeri impiannya.

Dan ‘Once’ pun kehilangan kata-kata menunggu penerbangan berikutnya.

(*edit 2 sept 08: “Sodara-sodara. Saya sama sekali tidak mirip Once. Dan Once juga tidak mirip saya. Wajah kami tidak fiktif. Andai ada kesamaan, itu kiranya kebetulan belaka. Dan saya juga tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan saudara Once. Andaipun ada hubungan, kami sama-sama orang Indonesia dan sama-sama cinta Indonesia. Mohon kiranya ini diperhatikan. Untuk siapapun yang merasa wajahnya dipakai dengan semena-mena dalam tulisan ini. Mohon maaf sebesar-besarnya. Karena saya tidak dapat mengganti wajah yang telah dipakai, dengan wajah baru”. Arif Kurniawan as Bangaiptop*)