September 2007


(*Apabila anda punya waktu lebih, silahkan membaca sampai habis. Kalau ndak ada. Yaa…maap. Saya turut berduka cita. Hehe*)

Beberapa waktu lalu, ada teman saya, teman lama tidak jumpa, melakukan kecerobohon. Kecerobohannya sebenarnya sederhana, yaitu mungkin melupakan paramater tertentu dalam penyusunan input data yang sedang dia lakukan.

Sayang sekali, kecerobohan itu, apabila diendus oleh pihak yang termasuk golongan pendekar sakti berwatak jahat, dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyalahgunaan data hingga pelecehan massal. Sebab data yang sedang di input tidak tanggung-tanggung, yaitu data pribadi intelektual Indonesia yang tersebar di penjuru dunia (*Katanya jumlahnya sampai ribuan loh. Hebat kan, bisa nggak keliatan gitu*).

Sambil becanda… ia saya tegur. Dengan baik-baik tentunya. Saya menceritakan pengalaman dan membeberkan dokumentasi yang saya lakukan ketika mengetahui adanya kebocoran dalam sistem yang tengah ia buat.

Tidak sampai dalam hitungan jam. Ia membalas teguran canda saya dengan komentar yang sungguh istimewa sekali. Ia memaki-maki saya di depan publik. Kalimatnya kasar. Kaget juga saya dibuatnya. Wahh, niat mau menolong kok malah diperlakukan seperti ini.

Waktu itu, saya sempat panas juga (*maklum darah muda Cilincing. Masih doyan emosi. Huehehe*). Sempat berfikir buruk mengenai teman saya itu. Dua hari, saya sampai capek memikirkan, bagaimana memberitahu beliau dengan cara yang bisa ia terima. Sebab sebaik-baiknya worst scenario kebocoran ini, adalah serangan SPAM yang bertubi-tubi. Dan itupun sudah cukup menjengkelkan dan memalukan.

Akhirnya, saya lupakan emosi sejenak. Saya balas saja kalimatnya dengan canda. Toh logikanya, kalau sama-sama bisa tersenyum menanggapi tragedi ini, mengapa tidak kita lakukan?

Maka itu saya balas kalimatnya dengan canda. Saya tidak mau bermusuhan dengannya. Ia salah seorang teman terbaik yang pernah saya punya. Teman yang dulu bersedia menampung saya secara fisik dan kejiwaan ketika saya membutuhkan pertolongan.

Saya tidak mau kehilangan teman lama.

Namun tindakan itu malah jadi blunder. Seperti bumerang bagi saya. Ketika saya meminta maaf dan mengajak rekonsiliasi menanggapi tindakan yang harus diambil mengenai lemahnya sistem yang tengah dibuatnya, saya malah diketawain.

Saya ditertawakan ia dan teman-temannya. Saya dianggap lemah. Baru begitu aja udah minta maap. Saya di anggap sok tahu (*walaupun agak aneh, karena saya memang sudah membeberkan dokumentasi kelemahan sistemnya*).

Pendek kata, apabila di internet ada istilah “on internet everyone knows you’re a dog”. Maka saya adalah anjing kecil dengan gonggongan lemah yang sedang bingung menatap kiri-kanan. Jujur saja… saya kebingungan.

Beberapa hari kemudian setelah kejadian tersebut, beberapa teman akrab saya mengirimkan pesan. Isinya sederhana. Mereka berduka atas apa yang tengah saya alami. Di sisi lain, mereka meminta saya membuka mata. Bahwa waktu telah merubah perilaku manusia. Dan saya diminta untuk menerima kenyataan tersebut.

Benarkah waktu merubah menusia?
Haruskah saya menerima hal kenyatan tersebut?

Ahh, saya jadi inget cerita jadul waktu saya ke Puncak Pass bersama Udin Petot.

Begini ceritanya; (lebih…)

Iklan

Jeda antara satu tulisan dengan tulisan lain, di blog saya, sungguh panjang. Kadang seminggu atau bahkan kadang sebulan lebih. Sebenarnya saya tidak mengalami writers block, kebuntuan dalam menulis. Saya mengalami gejala Apasia akhir-akhir ini. Apasia dapat digolongkan sebagai penyakit.

Apakah penyakit Apasia itu?
Penyakit Apasia adalah penyakit ketika manusia selalu bertanya “Apa sih yaa?” pada kondisi apapun juga. Apabila rekan kerja anda suka bertanya kepada anda “Eh, ini hari apa sih yaa? Kapan gajian yaa?”, atau “Eh, buka puasa menit lagi sih yaa?”, atau “Aduh, gue sebenernya lagi ngapain sih yaa?”, maka hampir dapat dipastikan ia sedang mengalami gejala awal Apasia.

Apa penyebab Apasia?
Apasia dapat disebabkan dari trauma (mungkin karena kejedot tiang listrik karena ngelirik cewek cantik di bulan puasa atau kecebur got gara-gara menghindar tatapan publik ketika diem-diem masuk warteg ketika orang lain puasa atau trauma lainnya). Apasia juga dapat disebabkan oleh kesibukan terus menerus tiada henti, saking sibuknya, ketika orang-orang bertanya “Sedang sibuk yaa?” Maka ia bingung untuk menjawab, sebab ia tidak tahu apa maksud kalimat sibuk, karena rutinitas harian hidupnya benar-benar full sibuk. Sebab lain Apasia juga dapat dikarenakan akibat kekurangan glukosa, kekurangan kafein, kekurangan nikotin atau kekurangan zat additif berbahaya. Sebab lain Apasia adalah keturunan. Contoh, apabila ayah penderita Apasia sering bertanya “Apa sih yaa?” pada istrinya, umumnya anak-anaknya akan mengikuti jejak sang bapak.

Apa efek Apasia?
1. Orang yang ada disekeliling penderita Apasia akan merasa jengkel, sebab sedikit-sedikit ditanya “Apa sih yaa?”
2. Karena orang-orang sudah males menjawab, maka penderita Apasia mulai lengket dengan mesin pencari atau enslikopedia.
3. Penderita Apasia umumnya dekat dengan penderita Apasia lainnya. Mereka biasanya mendirikan semacam klub semacam Apasia Fans Club. Klub ini menyediakan sarana jawaban untuk para penderita Apasia baru ataupun akut.
4. Penderita Apasia kronis, tidak lengket dengan mesin pencari. Tapi lengket dengan orang yang mampu menjawab pertanyaannya. Entah betul atau tidak. Selama bisa menjawab pertanyaannya, itu cukup untuk dijadikan pegangan hidup.

Siapa pengidap Apasia?
Apasia dapat di idap oleh siapa saja. Apabila situasi, kondisi, toleransi, pantauan dan jangkauan (*Saya tidak akan menyingkat istilah ini*) seseorang memungkinkan, maka ia akan mengidap Apasia. Seperti halnya virus HIV, Apasia tidak memandang umur, gender, tingkat kesalihan, strata sosial, maupun latar belakang politik. Ia menyerang siapa saja.

Apa hubungan Apasia dengan Cilincing?
Apabila anda terlahir sebagai anak Cilincing (dan sekitarnya), anda beresiko tinggi mengidap Apasia. Sebab Apasia ini sunguh menular. Mirip latah. Apabila anda bukan anak Cilincing, bercakap-cakap dengan orang Cilincing akan membuat anda tertular. Hati-hati.

Berbahayakah Apasia?
Tergantung situasi, kondisi, toleransi, pantauan dan jangkauan (*Lagi-lagi saya tidak akan menyingkat istilah ini*). Apasia berbahaya, apabila anda admin server lalu ditanya mengenai XSS anda menjawab “Jangan toakuut server gue amaan suraman. eh BTW, XSS itu apa sih yaa?”. Apasia lebih berbahaya lagi ketika anda menjadi seorang petinggi lalu ketika ditanya mengenai perdagangan anak-anak dan perempuan di Indonesia anda menjawab “Penjajahan dan perbudakan itu tidak sesuai dengan UUD 45. Perdagangan manusia itu perbudakan. Eh kamu tanya apa? Oooh iya, tanya human traffic di Indonesia yaa? Eh maap, human traffic itu apa sih yaa?”.
Namun, Apasia tidak berbahaya apabila anda bertanya “Buka puasa dengan ciuman itu boleh ga sih yaa?”. Tidak berbahaya, namun cukup membuat orang yang ditanya merah mukanya karena malu.

Adakah penyalahgunaan Apasia?
Jawabnya, ada! Apa dong? (*ahh kamu apasia yaa nanya-nanya mulu*)

Apakah Apasia menyebabkan kehamilan?
Aduh, gimana sih? Kok Apasia menyebabkan kehamilan? Yang menyebabkan kehamilan itu buka puasa dengan ciuman tau!

Apa hubungannya Apasia dengan Orang Indonesia
Ssstt.. ini rahasia kita berdua saja yaa. Katanya banyak orang Indonesia mengidap Apasia. Tapi umumnya pura-pura sehat. Aneh kan, bagaimana mungkin ia bisa pura-pura seperti itu. Pepatah kuno Cilincing mengatakan “Tong, lo bisa pura-pura kaya… Lo bisa pura-pura ganteng… Tapi lo kaga bakal bisa pura-pura pinter!”

Artikel yang tidak terkait
Aphasia
Kennel Apasia
Omong Kosong

Ketidakkreatifan saya menyambut bulan puisi, membuat saya memajang puisi Chairil Anwar yang berjudul Kerawang-Bekasi. Puisi ini, setiap dibaca, entah dalam hati atau diucapkan lisan, selalu membuat buku kuduk saya merinding. Puisi ini bagaikan mantra magis. Menyerap semua sisi jiwa hingga bagian terdalam. Puisi ini bagaikan raungan rakyat Indonesia yang berontak ketika disiksa jiwa dan raganya.

Ini petikan puisi dahsyat Chairil Anwar itu;

KARAWANG BEKASI
Kami yg kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak Merdeka dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yg tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yg berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan.

Puisi itu membawa saya ke peristiwa Rawagede. Bung Chairil, sang penulis puisi, katanya dirundung kepedihan yang amat sangat akibat kehilangan 431 orang penduduk Rawagede, sebuah desa di antara Kerawang dan Bekasi yang pada tahun 1948 dibumi-hangsukan oleh pasukan belanda.

Pembantaian Rawagede malah membuat saya bertanya-tanya. Siapakah atau apakah yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap matinya orang Indonesia?

Apakah Malaikat maut (*yang masih diperdebatkan, benarkah namanya Izrail*) yang diwakili oleh agresi Militer Belanda II di Indonesia yang harus bertanggung jawab?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh Raymond Westerling yang membantai sekitar 40.000 rakyat Sulawesi pada tahun 1946?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh pemerintah orde baru yang membantai dimana-mana di seluruh negara Indonesia?
Atau malaikat maut yang mengatasnamakan politik indonesia yang katanya menimbulkan statement bahwa orang Indonesia yang mati gara-gara politik, jumlahnya dalam empat bulan setara dengan jumlah orang mati di Vietnam selama 12 tahun ?

(lebih…)