Ketidakkreatifan saya menyambut bulan puisi, membuat saya memajang puisi Chairil Anwar yang berjudul Kerawang-Bekasi. Puisi ini, setiap dibaca, entah dalam hati atau diucapkan lisan, selalu membuat buku kuduk saya merinding. Puisi ini bagaikan mantra magis. Menyerap semua sisi jiwa hingga bagian terdalam. Puisi ini bagaikan raungan rakyat Indonesia yang berontak ketika disiksa jiwa dan raganya.

Ini petikan puisi dahsyat Chairil Anwar itu;

KARAWANG BEKASI
Kami yg kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak Merdeka dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yg tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yg berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan.

Puisi itu membawa saya ke peristiwa Rawagede. Bung Chairil, sang penulis puisi, katanya dirundung kepedihan yang amat sangat akibat kehilangan 431 orang penduduk Rawagede, sebuah desa di antara Kerawang dan Bekasi yang pada tahun 1948 dibumi-hangsukan oleh pasukan belanda.

Pembantaian Rawagede malah membuat saya bertanya-tanya. Siapakah atau apakah yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap matinya orang Indonesia?

Apakah Malaikat maut (*yang masih diperdebatkan, benarkah namanya Izrail*) yang diwakili oleh agresi Militer Belanda II di Indonesia yang harus bertanggung jawab?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh Raymond Westerling yang membantai sekitar 40.000 rakyat Sulawesi pada tahun 1946?
Atau malaikat maut yang diwakili oleh pemerintah orde baru yang membantai dimana-mana di seluruh negara Indonesia?
Atau malaikat maut yang mengatasnamakan politik indonesia yang katanya menimbulkan statement bahwa orang Indonesia yang mati gara-gara politik, jumlahnya dalam empat bulan setara dengan jumlah orang mati di Vietnam selama 12 tahun ?

Dari semua jawaban diatas ada benang merah, pembunuhnya yaitu malaikat maut. Hehehe. Enak banget apabila jawabannya semudah itu. Kalau semua iblis pembantai manusia Indonesia di beri kedok malaikat maut. Kasihan dong malaikat mautnya. Beliau nanti ngambek pada orang Indonesia. Kalau beliau ngambek, bahaya. Huehehe.

Karena malas menggunakan malaikat maut sebagai kambing hitam tulisan kali ini, beberapa hari terakhir ini saya mencoba mengadakan riset kecil-kecilan. Riset ini ingin mengetahui, apa penyebab kematian utama orang Indonesia.

Namun sayang sekali, karena orang Indonesia banyak, dan data saya sedikit, maka riset saya hanya bergantung pada data yang ada. Dari sekian data yang saya punya, saya sortir, agar yang ada internet linknya saja yang dipakai. Karena, apabila ada yang ingin tahu lebih lanjut, link tersebut dapat dipakai. Selain itu, untuk memberitahu, bahwa saya bukan pakar, apalagi pakar wannabe (*contoh kalimat; pakar telematika wannabe. hehe*).
Saya hanya orang Indonesia yang ingin menulis blog dan ingin mengetahui penyebab kematian saudara sebangsanya

Riset saya, semakin dipersempit, yaitu “Apa penyebab utama kematian anak orang Indonesia? Siapa pembunuhnya?”.

Loh kok jadinya ke anak-anak? Memangnya kenapa tidak meneliti orang dewasa saja? Jawabnya simpel. Sebab katanya, orang Indonesia cinta sekali terhadap anaknya. Nyawa rela jadi taruhan, kalau sudah masalah anak. Di Indonesia, katanya, ikatan cinta orang tua terhadap anaknya, amat agung dan luar biasa. Saking luar biasanya, tiap setahun sekali, entah lebaran, entah natalan, entah itu apalah, orang tua harus ketemu anak. Begitupun anak, harus ketemu orang tua. Sungkem. Melepas rindu.
Maka itu, nulis anak-anak saja.

Riset kecil-kecilan ini membuahkan hasil (sementara) yang ternyata di luar perkiraan saya. Sebab pada 1970 hingga 1980, Biro Pusat Statistik mematenkan bahwa di Jakarta, terdapat 116 bayi yang meninggal dari seribu bayi yang lahir. Namun pada tahun 2000, ada 26 bayi yang meninggal dari seribu bayi yang lahir. Sayangnya, hal ini tidak berlaku di luar Jakarta. Tingkat kematian bayi dan anak-anak (Infant mortality rate) masih sedemikian tinggi. Setiap tahunnya, lebih dari 150 hingga 200 bayi yang meninggal. (Adair, 2004) (Studies in Family Planning, 1980)

Mereka mati muda. Jauh lebih muda daripada nyawa di puisi Kerawang-Bekasi.

Mengapa balita itu meninggal? Umumnya karena tingkat kesehatan yang rendah bagi ibu-ibu hamil. Selain itu, kurangnya perawatan dan nutrisi yang cukup pada balita. Walaupun tentu saja ada alasan-alasan lainnya, seperti bencana alam. Sebab bencana alam asli seperti tsunami di Aceh sudah banyak melumatkan anak-anak dan bayi. Selain itu, bencana alam ‘ajaib’ seperti kebakaran hutan di kalimantan, memakan korban jiwa anak-anak yang tidak sedikit pula.

Karena takjub, saya kirim surat kepada Udin Petot, teman saya. Saya bilang “Din, lo percaya ga… Ternyata pembunuh anak-anak Indonesia no.1 itu tidak tinggal di Jakarta. Tapi di kampung-kampung kumuh miskin di daerah-daerah di Indonesia”. Lalu blablabla selanjutnya. Isinya sama semua, menceritakan riset saya ini.

Udin Petot, dua hari kemudian menjawab melalui surat juga. Ia bilang, “Jangan takut, Bang. Orang Indonesia doyan bikin anak”. Jawabannya seperti biasa. Simpel. Mengesalkan. Tapi realistis.

Mengapa Udin Petot realistis? Mengapa? Karena untuk membantahnya, saya mengadakan riset lanjutan. Yaitu, sekuat apa hidup orang Indonesia?

Jawabannya lagi-lagi mengejutkan. Ternyata Indonesia mempunyai tingkat harapan hidup yang rendah. Umur prianya, rata-rata, hanya 65 tahun. Hanya satu tingkat di atas Afrika Selatan, yang menempati urutan terbawah. Sementara perempuan Indonesia, hidup lebih lama 3 tahun dari pria Indonesia. Kasihan sekali pria Indonesia. Umurnya pendek. Mungkin karena alasan inilah mereka suka kawin lagi.🙂

Namun benar kata Udin Petot. Orang Indonesia doyan bikin anak. Sebab pada tahun 2050, diprediksikan Indonesia menjadi urutan keempat negara yang menghasilkan anak terbanyak di seluruh dunia. Pada tahun 2050, orang Indonesia di Indonesia saja diperkirakan mencapai hampir 400 juta jiwa. Belum yang ada di luar negeri. Hebat bukan? Ketika penduduk dunia banyak yang sekarat akibat pemanasan global, orang Indonesia malah tambah banyak.

Kembali lagi saya kirim surat pada Udin Petot, “Din, orang Indonesia bakalan melimpah ruah tahun 2050. Sementara tanahnya tidak bertambah luas? Suplai makananannya juga tidak bertambah banyak? Gawat, Din! Gimana nih yaa?”.

Dua hari kemudian, Udin Petot kembali menjawab. Jawabannya seperti biasa. Simpel. Mengesalkan. Tapi, realistis. Dalam suratnya, ia menulis, “Santai aja, Bang. Mau diapain lagi. Orang Indonesia kan nggak doyan make kondom”.

Ahh, masa sih, benarkah orang Indonesia tidak suka memakai kondom?